Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Februari 2014

PANDUAN TEKNIS LOMBA BACA PUISI TINGKAT SMA/SMK SE-LAMPUNG

PETUNJUK TEKNIS
 LOMBA BACA PUISI TINGKAT SMA/SMK SE-LAMPUNG
STKIP-PGRI BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014

I.      SEKILAS TENTANG PERLOMBAAN
Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang ada dan selalu berkembang di Indonesia. Melalui puisi, seseorang dapat mengekspresikan keadaan serta perasaan yang sedang dialami, perasaan senang, sedih, haru, dan lain-lain. Selain itu, banyak orang beranggapan bahwa melalui sastra khususnya puisi, mereka dapat mewujudkan kehidupan sosial yang berkembang di masyarakat dan menemukan kepuasan serta keindahan dalam hidup.
Pembelajaran bahasa Indonesia yang di dalamnya menyangkut pembelajaran sastra, dan tidak lupa jenis sastra, yaitu puisi juga turut diberikan sebagai materi pembelajaran. Dalam materi pembelajaran puisi mencakup pada standar kompetensi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis puisi. Namun, pembelajaran apresiasi karya sastra (membaca puisi) disinyalir kurang diperhatikan bagi kalangan pendidikan di Indonesia khususnya di Lampung. Oleh karena itu, kami akan mengadakan kegiatan lomba membaca puisi yang bertujuan untuk menumbuhkan minat dan kecintaan terhadap sastra, khususnya dalam bidang membaca puisi. Terlebih lagi bahwa sebuah puisi, setelah ditulis oleh sastrawan akan lebih sempurna lagi ketika dibaca dan dibacakan di depan khalayak umum, tidak hanya cukup dibaca dalam hati saja. Selain itu, kegiatan ini diselenggarakan untuk menampung dan menyalurkan bakat serta kemampuan siswa dalam membaca puisi.
Penyelenggaraan lomba membaca puisi bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan praktik siswa dalam menumbuhkan apresiasi terhadap sastra, khususnya baca puisi.

II.    INFORMASI KEGIATAN
A.        Nama Kegiatan
Lomba Baca Puisi Tingkat SMA/SMK se-Lampung.
B.        Tema Kegiatan
“Puisi ‘Memperoleh Tubuh yang Lengkap’ Jika Setelah Ditulis, Dibaca di Depan Orang”
C.        Waktu Pelaksanaan
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 10 Februari 2014.
D.       Tempat Pelaksanaan.
Aula gedung I Kampus STKIP-PGRI Bandar Lampung Jl. Khairil Anwar No. 79 Tanjungkarang Pusat Bandar lampung.

III.  KETENTUAN UMUM
A.       Dasar Pelaksanaan Kegiatan
1.      Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2.      Peraturan Pemerintah No 60 Tahun 1999 tentang Sistem Pendidikan Tinggi
3.      Tri Dharma Perguruan Tinggi.
4.      Visi Misi STKIP-PGRI Bandar Lampung.
5.      Surat Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung No. 197/ D5/Kep/2014 tanggal 8 januari 2014 tentang Pelaksanaan Lomba Baca Puisi Tingkat SMA/SMK se-Lampung yang diselenggarakan STKIP-PGRI Bandar Lampung

B.        Tujuan
1.      Meningkatkan dan mengembangkan apresiasi seni di kalangan siswa untuk memperkaya seni budaya bangsa Indonesia yang dapat memperkuat daya saing bangsa
2.      Turut berperan aktif dalam masyarakat dan menambah kreativitas serta kecintaan akan ilmu pengetahuan dalam bidang sastra khususnya membaca puisi
3.      Menampung dan menyalurkan bakat sastra, khususnya dalam bidang membaca puisi  bagi siswa dan siswi SMA/SMK se-Lampung
4.      Menumbuhkan apresiasi terhadap sastra khususnya dalam bidang membaca puisi serta menjalin tali silaturahmi antar pelajar SMA/SMK se-Lampung

C.        Peserta
1.      Lomba Baca Puisi Tingkat SMA/SMK se-Lampung tahun 2014 diikuti oleh siswa SMA/SMK di Lampung
2.      Persyaratan peserta sebagai berikut.
a.      Siswa SMA/SMK di Lampung yang berstatus siswa aktif di SMA atau SMK yang dibuktikan dengan Kartu Siswa atau bukti syah lainnya.
b.      Peserta harus mendapatkan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Kepala/Wakil Kepala Bidang Kesiswaan/Guru Bahasa dan Indonesia/Pembina Ekstrakurikuler masing-masing.
c.       Dalam perlombaan, peserta mewakili SMA/SMK atau utusan sekolah yang bersangkutan.
d.      Setiap SMA atau SMK diharapkan mengikutsertakan minimal satu pasang sebagai peserta (putra dan putri)
e.      Biaya Pendaftaran perpasang (putra-putri) Rp 50.000,00 (lima puluh ribu rupiah)
f.        Pendaftaran ditutup pada 8 Februari 2014 saat technical meeting
g.      Peserta tidak boleh diganti siswa lain apabila sudah mendapat pengesahan dari panitia
h.      Siswa peserta yang telah memenuhi persyaratan sebagai peserta maka panitia harus memberikan ID Card
i.        Setiap peserta akan mendapatkan sertifikat atau piagam penghargaan
j.        Peserta dinyatakan gugur apabila tidak memenuhi persyaratan seperti yang tercantum dalam panduan ini.
k.       Peserta dapat didampingi oleh official, yang merupakan personal yang mempunyai tugas tertentu dalam menunjang keperluan peserta lomba
l.        Official dapat  berasal dari kalangan siswa  atau  guru pembimbing.

D.                   Sistem Lomba dan Penentuan Pemenang
1.      Penentuan Finalis
a.   Juri menentukan peserta yang memperoleh nilai tertinggi sebagai finalis dengan melalui tahap final
b.   Jika terdapat dua orang atau lebih peserta yang nilainya sama, maka ketentuan finalisnya didasarkan pada nilai tertinggi bidang penilaian pertama. Jika masih sama, didasarkan pada nilai tertinggi bidang penilaian urutan kedua, dan seterusnya.

2.      Penentuan Juara Tetap
a.      Berdasarkan rangking nilai para finalis yang ditentukan oleh Tim Juri, maka peserta yang mendapat nilai tertinggi dinyatakan sebagai pemenang pertama, dan seterusnya sesuai dengan ranking.
b.      Apabila dua atau lebih finalis yang memperoleh nilai yang sama maka pemenangnya ditetapkan berdasarkan ketentuan yang telah diatur dalam penentuan finalis.
c.       Predikat juara tetap terdiri dari:
ü  Pemenang pertama (tropi dan uang pembinaan Rp 00.000)
ü  Pemenang kedua (tropi dan uang pembinaan Rp 00.000)
ü  Pemenang ketiga (tropi dan uang pembinaan Rp 0.000)

3.      Penentuan Juara Umum
a.      Juara umum ditetapkan oleh Dewan Juri yang berhak memperoleh tropi bergilir Ketua STKIP-PGRI Bandar Lampung
b.      Juara umum adalah sekolah yang memperoleh juara dari semua pembacaan puisi yang diperlombakan (kategori putra-putri)
c.       Apabila nilai juara umum ada yang sama maka juaranya ditetapkan berdasarkan urutan juara. Apabila masih terjadi kesamaan maka penentuan berdasarkan nilai tertinggi dan seterusnya sesuai dengan urutan pada lomba.
4.      Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat

IV. KETENTUAN KHUSUS
1.      Setiap sekolah boleh mengirimkan peserta lebih dari 2 (dua) orang (satu putra dan satu putri).
2.      Dalam pembacaan (lomba) tidak boleh menggunakan alat pengiring, baik yang dimainkan  sendiri maupun yang dimainkan orang lain.
3.      Lomba dibagi dalam 2 (dua) babak, yaitu babak penyisihan dan babak final.
4.      Pada babak penyisihan maupun babak final peserta hanya membacakan satu puisi dari 10 judul yang disediakan panitia.
5.      Puisi yang dibacakan pada babak final berbeda dengan yang dibacakan pada babak penyisihan.
6.      Finalis diambil sebanyak 12 pasang (putra-putri).
7.      Puisi yang dibacakan diambil salah satu dari judul-judul sebagai berikut.

No
Judul
Penyair
1
Aku
Chairil Anwar
2
Membaca Tanda-tanda
Taufiq Ismail
3
Gadis Perminta-minta
Toto Sudarto Bachtiar
4
Gugur
WS. Rendra
5
Perjalanan Kubur
 Sutardji Calzoum Bachri
6
Sembahyang Rumputan
Ahmadun Yosi Harfanda
7
Selamat Pagi Indonesia
Sapardji Djoko Damono
8
Sajak Palsu
Agus R. Sarjono
9
Tanah Air Mata
 Sutardji Calzoum Bachri
10
Nyanyian Kemerdekaan
Ahmadun Yosi Harfanda

8.      Penilaian:
a.      Penjiwaan (interpretasi teks)
b.      Vokal
1)      Artikulasi
2)      Intonasi
3)      Karakter Suara
4)      Tempo
5)      Kekuatan (Power) Suara
c.       Gerak  (Mimik dan Gesture)
d.      Totalitas (Penyajian secara lisan, ekspresi, fisik, keutuhan).

V.   PANDUAN TEKNIS
A.       Registrasi
Jadwal registrasi peserta dilakukan pada:
Ø  Tanggal         : 08 Februari 2014 (atau ketika perlombaan berlangsung)
Ø  Jam                : 08.00 – 15.00 WIB
Ø  Tempat          : Sekretariat Lomba Baca Puisi
                        Front Office atau BAAK Lantai Dasar   
Syarat-syarat yang harus dibawa peserta pada saat registrasi langsung:
1.   Surat Tugas dari sekolah masing-masing
2.   Kartu Tanda siswa
3.   Pas foto ukuran 3 x 4 = 2 lembar

B.        Technical Meeting
Technical meeting dilaksanakan pada:
Hari/tanggal                 :  Sabtu, 8 Februari 2014
Jam                               :  15.00 – selesai
Tempat                         :  Aula Lt.1 Gedung I
Technical Meeting dihadiri oleh peserta lomba atau official/pendamping. Bagi yang tidak hadir dianggap setuju dengan apa saja yang telah disepakati dan hasil keputusannya dapat dilihat di andriew.blogspot.com

C.        Dewan Juri
Ketua               : Andri Wicaksono, M.Pd
Sekretaris        : Fransisca S.O. Dedi, M.Pd
Anggota           : Asrul,
Bandar Lampung, 6 Januari 2013
Panitia Pelaksana Lomba Membaca Puisi
STKIP-PGRI Bandar Lampung
Ketua Panitia,

Dra. Fransisca S.O. Dedi, M.Pd
NIP 19601117 198503 2 001
Sekretaris,

Andri Wicaksono, M.Pd.
NIDN 0214108303
Mengetahui,
Ketua STKIP-PGRI Bandar Lampung



Drs. H. Dailami Zain

Minggu, 24 April 2011

KEBUDAYAAN JAWA NOVEL PARA PRIYAYI DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI PENGARANG

1. Esai

Lewat pendekatan sosiologi sastra, keberadaan pengarang dan karyanya sering tak bisa dilepaskan dari lingkungan dan jamannya. Padahal, ada saja pengarang yang tidak terikat oleh perubahan lingkungan, termasuk momentum penting dalam perubahan politik.
Tiap-tiap pilihan tak lain adalah simpul konsep kepengarangan. Seberapa jauh seorang pengarang terikat oleh lingkungan dan jamannya, sebetulnya juga ditentukan antara lain oleh konsep kepengarangannya.
Pendekatan sosiologi sastra dapat mengungkapkan latar belakang pengarang, karena dalam kajiannya mempelajari tentang keberadaan manusia (baik dari segi pengarang atau segi hasil karyanya) dalam lingkungan masyarakat.
Lingkungan masyarakat merupakan atmosfer yang akan dihirup oleh pengarang dalam menghasilkan karyanya. Sehingga pada akhirnya akan terlihat sejauh mana pengarang terlibat dalam lingkungannya dan pembelaannya terhadap lingkunggannya.
Sastra sebenarnya tak bisa dilepaskan dari kajian sosiologi, karena pada hakikatnya menunjukkan sastra berfungsi pragmatis bagi kehidupan sosial masyarakat. Sastra itu hadir di tengah kehidupan masyarakat.
Masyarakatlah yang menginginkannya untuk mengemban sejumlah fungsi kemasyarakatan, yaitu fungsi melestarikan, menguatkan, menggali, mengajarkan, tetapi juga mempertanyakan nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat.
Sastra dapat dipandang sebagai bagian integral dari kehidupan sosial budaya masyarakat yang melahirkannya. Karya sastra dapat tampil dengan menawarkan alternatif model kehidupan yang diidealkan berupa berbagai aspek kehidupan, seperti cara berpikir, bersikap, merasa, bertindak, cara memandang dan memperlakukan sesuatu. Sastra ditanggapi sebagai suatu fakta sosial yang menyimpan pesan yang mampu menggerakkan emosi pembaca untuk bersikap atau berbuat sesuatu.
Sastra memang tidak lahir dalam situasi kekosongan budaya. tetapi, pasti muncul pada masyarakat yang telah memiliki tradisi, adat istiadat, keyakinan, pandangan hidup, cara hidup, cara berpikir, pandangan tentang estetika, dan lain-lain, yang semuanya itu dapat dikategorikan sebagai wujud kebudayaan.
Dapat dikatakan pula bahwa sastra muncul karena masyarakat menginginkan keterangan kehidupan sosial budayanya. Tepatnya keterangan keberadaan kehidupannya. Sehingga munculah pesan-pesan dalam karya sastra, sebagai bentuk nilai moral yang hendak disampaikan oleh pengarang. Nilai-nilai yang ada berhubungan dengan nilai-nilai yang terdapat pada latar belakang sosial budaya masyarakat ketika pengarang hidup dan menjadi salah seorang anggotanya.
Di sisi lain faktor subjektivitas pengarangnya akan menentukan bentuk karya sastra yang akan dihasilkan. Contoh dalam lingkup masyarakat Jawa, seni budaya pewayangan merupakan salah satu fakta sosial budaya yang sudah memasyarakat, sehingga kehadirannya dapat dirasakan siapa pun dalam novel Para Priyayi karya Umar Kayam.
Gaya penulisannya juga sederhana, bernarasi Jawa yang akrab, mudah dicerna, dengan kritik-kritik yang segera mengajak pembaca membuat perenungan, yang sebenarnya memiliki kandungan makna dan filosofi kehidupan.
Selain budaya pewayangan yang banyak diekspos dalam novel Para Priyayi, Umar Kayam juga menghadirkan para tokoh yang sangat mencerminkan orang-oarng Jawa kebanyakan. Tokoh-tokoh tersebut dilahirkan dari latar tempat, sosial, dan waktu yang memang benar-benar mencerminkan kebudayaan Jawa. Latar tersebut merupakan latar tipikal.
Bahkan Umar Kayam mewarnai novelnya dengan beberapa penggal tembang kinanti yang merupakan perwujudan kesenian jawa di bagian tengah dan akhir novel. Tokoh dalam novel yang terlahir dari latar budaya Jawa terlihat sangat kental terutama dalam dialognya. Uamar Kayam banyak menggunakan dialog dengan berbahasa Jawa.
Bahasa Jawa yang disajikan Umar Kayam dalam novelya ada tiga bahasa Kromo Inggil (sangat halus) ,Kromo (halus) , dan Ngoko (kasar). Misalnya pada saat Lantip berbicara pada Sastrodarsono, Lantip menggunakan bahasa yang terkesan begitu halus dan berbeda pada saat Lantip berbicara dengan orang yang statusnya sama atau sebaya dengan lantip. Contoh kutipannya” wah, Ndoro. Nuwun sewu, mohon maaf.” dan biasanya bahasa seperti kromo inggil tersebut dipakai oleh yang muda ke yang tua apapun strata sosialnya , sedang kalau yang muda ngomong ke yang muda lagi atau yang setara umur nya , biasanya pakai ngoko.
Tiga puluh satu tokoh ditampilkan oleh Umar Kayam dalam meramaikan novelnya (Para Priyayi). Misalnya tokoh Sastrodarsono yang diceritakan sebagai anak tunggal Mas Atmokasan, seorang pertani desa Kedungsiwo. Sastrodarsono barasal dari keluarga Islam, dan dia juga beragama Islam. Setelah menjadi guru Sastrodarsono dijodohkan dengan Siti Aisyah atau Dik Ngaisah. Mereka mempunyai tiga orang anak, yaitu Noegroho, Hardojo, dan Soemini. Sastrodarsono dan Dik Ngaisah bertekad membangun keluarga Sastrodarsono sebagai keluarga besar priyayi.
Status priyayi merupakan status yang banyak terlahir dalam suasana kehidupan orang-orang Jawa. Bahkan orang-orang Jawa pada jaman dahulu di saat memilih menantu mereka lebih memberatkan pada calon menantu yang memiliki status priyayi.
Bagi orang-orang Jawa status memang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi Umar Kayam menyajikan pemahaman tentang priyayi yang sebenarnya dalam novel, bahwa priyayi itu bukan dari darah birunya, bukan dari posisi dan jabatannya, melainkan dari sikap kesungguhannya untuk melayani dan mengayomi rakyat banyak. Hal ini disampaikan pada bagian terakhir saat tokoh Lantip berpidato pada pemakaman eyangnya. Lantip dalam pidatonya memaparkan dengan jelas tentang keberadaan Eyangnya selama masih hidup dalam mengayomi rakyat banyak terutama di bidang pendidikan.
Tokoh Sastrodarsono merupakan tokoh yang berkarakter baik dan setia pada orangtua, mempunyai perhatian besar terhadap kemajuan pendidikan, dan bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Sedangkan tokoh Dik Ngaisah sebagai seorang istri Sastrodarsono berkarakter setia terhadap suami, sabar dan mampu berpikir positif, bijaksana, berpikir optimis, dan pandai bersyukur. Dik Ngaisah adalah putri dari Romo Mukaram, yang masih termasuk saudara jauh Mas Atmokasan, ayah Sastrodarsono suaminya.
Sebagai istri, Dik Ngaisah terlihat amat tulus mengabdi kepada suami. Melayani segala kebutuhan suami dan menomorduakan kebutuhan sendiri. Suami merupakan orang yang harus dihormati, diabdi, dipenuhi segala keinginan dan dimengerti semua tingkah lakunya. Hal ini merupakan perwakilan dari tokoh tipikial perempuan Jawa, bahkan Umar Kayam menyakinkan pembaca dengan memasukkan prinsip perempuan Jawa pada halaman 207 yang berbunyi “ Orang Jawa mengatakan istri adalah garwa, sigarane nyawa, yang berarti belahan jiwa. Maka sebagai belahan jiwa bukankah saya tidak boleh berpisah dari belahan yang satu lagi?”
Menurut kepercayaan orang-orang Jawa tokoh istri yang setia itu merupakan tokoh reinkarnasi dan transformasi dari tokoh Woro Sembodro, yakni istri Arjuna di dunia pewayangan
Kesetiaan tidak hanya dimiliki oleh tokoh Dik Ngaisah terhadap suaminya Sastrodarsono tetapi dimiliki juga oleh tokoh Lantip. Lantip adalah putra Ngadiem dengan Soenandar, meskipun sebenarnya mereka tidak menikah. Namun Lantip tidak pernah bertemu dengan ayahnya itu, karena ayahnya meninggal saat Lantip masih dalam kandungan. Lantip kemudian diasuh oleh Sastrodarsono dan akhirnya diangkat sebagai anak oleh Hardojo. Lantip begitu setia dan berbakti kepada keluarga Sastrodarsono karena Lantip merasa telah berhutang budi kepada keluarga Sastrodarsono. Karakter Lantip sangat mencerminkan karakter oarng Jawa kebanyakan. Orang Jawa yang telah merasa berhutang budi terhadap seseorang, dirinya akan selalu mengabdi dan setia kepada orang yang telah menolongnya.
Melalui novel Para Priyayi , pembaca Indonesia yang berlatar belakang bukan Jawa akan dapat mengenal dan memahami sebagian kehidupan sosial budaya Jawa. Tingkah laku tokoh-tokoh dalam novel tersebut tampak sangat terikat dan sekaligus mengikatkan diri dengan penuh kesadaran terhadap aturan kelembagaan masyarakat Jawa. Hal ini merupakan pencerminan latar belakang kehidupan pengarang khususnya Umar Kayam sebagai seorang sastrawan dalam perspektif sosiologi kepengarangan.

2. Eksistensi Karya sastra dalam Perspektif Strukturalisme Genetik, Serta Contoh Kasus Pada Karya Sastra.

Strukturalisme genetik merupakan teori yang dikemukakan oleh Goldmann yang di dalamnya ia mempercayai bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur. Akan tetapi struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal karya satra yang bersangkutan. Untuk memperkokoh teorinya tersebut Goldmann mengkategorikan strukturalisme genetik menjadi: fakta kemanusiaan, subjek kolektif, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan.
Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktivitas atau perilaku manusia baik yang verbal mapun yang fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Fakta itu dapat berwujud aktivitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi cultural seperti filsafat, seni rupa, seni musik, seni patung, dan seni sastra. Subjek kolektif merupakan perwujudan dari fakta kemanusiaan yang bersifat kolektif dan bukan individu. Pandangan dunia merupakan istilah yang kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan, yang menghubungkan secara bersama-sama anggota-anggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannya dengan kelompok-kelompok sosial yang lain. Pemahaman adalah usaha untuk mengerti identitas bagian itu, sedangkan penjelasan adalah usaha untuk mengerti makna bagian itu dengan menempatkannya dalam keseluruhan yang lebih besar.
Eksistensi karya sastra merupakan suatu keberadaan karya sastra. Dalam strukturalisme genetik eksistensi karya sastra dipandang berbeda-beda menurut paham dan tokohnya. Ada yang memandang karya sastra sebagai suatu pencerminan segala sesuatu yang terjadi di lingkungan baik lingkungan sosial, ekonomi, polotik, dan budaya. Serta ada juga yang menganggap bahwa karya sastra merupakan sesuatu yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan dari unsur pembentuknya.
Beberapa pendapat mengenai karya sastra dalam pandangan strukturalisme genatik:
1) Menurut kaum formalis Rusia antara lain Roman Jakobson dan Tomashevsky menganggap bahwa, keberadaan karya sastra sebagai satu-satunya bahan untuk pengkritikan. Hal ini bertujuan untuk menempatkan status sastra sebagai objek kultural yang otonom. Dengan demikian mereka jelas menolak gagasan sastra sebagai cermin yang pasif. Sastra dianggap oleh mereka secara aktif “merusakan” kehidupan sosial dengan menggunakan “peralatan artistik”. Peralatan artistik itulah yang menjadi urusan meraka. Setiap peralatan berada dalam satu sistem estetis : dalam sistem itulah menjalankan fungsinya.
2) Menurut Goldmann, karya sastra harus dipahami sebagai totalitas yang bermakna. Ia berpendapat bahwa karya utama sastra dan filsafat memiliki kepaduan total, dan bahwa unsur-unsur yang membentuk teks itu mengandung arti hanya apabila bisa memberikan suatu lukisan lengkap dan padu tentang makna keseluruhan karya tersebut. Teks sastra diperlakukan sebagai sasaran utama penelitian, dan dianggap sebagai suatu totalitas yang tidak sekedar terdiri dari unsurs-unsur yang lepas. Goldmann juga mengemukakan dua pendapat mengenai karya sastra pada umumnya. Pertama, bahwa karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner. Kedua, bahwa dalam usahanya mengekspresikan pandangan dunia itu pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek, dan relasi secara imajiner.
Selain itu dalam pandangan strukturalisme genetik dapat memberikan petunjuk terhadap karya sastra. Pertama ia bisa menunjukkan berbagai pandangan dunia yang ada pada suatu jaman tertentu, dan yang kedua menunjukkan beberapa kemajuan beberapa langkah dalam perkembangan sosiologi sastra.
Contoh kasus pada karya sastra yang akan di bahas yaitu novel “Saman”. Novel “Saman” hasil tulisan Ayu Utami penuh dengan aspirasi dan juga rasa amarah terhadap institusi patriaki terhadap wanita. Novel ini bercerita mengenai perjuangan seorang muda bernama Saman, yang dalam perjalanan karirnya sebagai seorang pastor harus menyaksikan penderitaan penduduk desa yang ditindas oleh negara melalui aparat militernya.
Saman akhirnya menanggalkan jubah kepastorannya itu, dan menjadi aktivis buron. Sebagai seorang aktivis, Saman mengembangkan hubungan seksual dengan sejumlah perempuan. Ke empat tokoh perempuan dalam novel itu Shakuntala, Laila, Cok, dan Yasmin, merupakan empat sekawan. Mereka muda, berpendidikan, dan berkarir. Sebagai layaknya sahabat, mereka saling bertukar cerita mengenai pengalaman-pengalaman cinta, keresahan dan pertanyaan-pertanyaan mereka dalam meredifinisikan seksualitas perempuan.
Novel “Saman” mendobrak berbagai tabu di Indonesia baik mengenai represi politik, toleransi beragama, dan seksualitas perempuan. Ada pihak-pihak yang mengeritik novel tersebut karena dianggap terlalu berani dan panas dalam membicarakan persoalan seks. Tetapi banyak pula yang memujinya karena penggambaran isi novel tersebut apa adanya, polos, tanpa kepura-puraan.
Selain masalah seksal yang dikupas tuntas tanpa kepura-puraan dalam novel ini dibahas juga tentang penindasan yang dihadapi oleh penduduk Sei Kumbang adalah negara dan aparat militernya, yang merupakan cerminan dari rejim orde baru pada waktu novel tersebut ditulis.
Seksualitas dalam novel ini merupakan tema paling hangat yang sebelumnya belum pernah ada dalam konteks masyarakat Indonesia, dan merupakan permasalahan utama yang akan dibahas di sini. Dilihat pada permukaannya, pengakuan akan seksualitas dari semua tokoh dalam novel ini, khususnya keempat tokoh perempuannya, merupakan tantangan nyata terhadap penindasan seksualitas di luar perkawinan yang lazim terjadi di Indonesia.
Perbuatan seksual sendiri digunakan dengan cara yang lebih simbolik untuk merujuk permasalahan spesifik tentang sejarah, asal-usul serta gerak maju dari sistem patriarki ini. Sebagian dari simbolisme ini sangat metaforik; khususnya dalam fantasi-fantasi para tokoh perempuannya, hubungan antara Wis dengan Upi, seorang gadis yang mengidap keterhambatan mental, dan penulisan kembali Yasmin tentang kisah penciptaan di halaman-halaman akhir buku ini.
Ayu Utami juga berani membentuk watak wanita biseksual dalam masyarakat yang dibesarkan dalam lingkungan homophobia dan represif terhadap tema-tema "penyimpangan moral". Dan dalam 'Larung' novel kesinambungan untuk 'Saman', watak Larung jelas menyimpan rasa minat terhadap tubuh lelaki yang kekar. Watak-watak yang mungkin akan menimbulkan persoalan moral ini terus-menerus dihidupkan Ayu untuk mewarnai novel-novelnya. Kutipannya: “Namaku Shakuntala. Ayah dan kakak-perempuanku menyebutku sundal. Sebab aku telah tidur dengan beberapa lelaki dan beberapa perempuan. Meski tidak menarik bayaran” (115).
Alinea-alinea yang penuh cerita dan kompleks ini membawa kita untuk menelusuri sejarah perjuangan feminis. Dimulai dengan kisah yang sangat klasik, dan sangat khas di Indonesia, yakni krisis Leila, yang terluka hatinya karena cintanya kepada seorang lelaki yang telah menikah dan penghormatannya terhadap nilai-nilai orang tuanya. Kutipannya: “Lalu cinta menjadi sesuatu yang salah. Karena hubungan ini tidak tercakup dalam konsep yang dinamakan perkawinan. Ia sering merasa berdosa pada istrinya”(26).
Adegan seksual yang dilukiskan Ayu Utami memberikan gebrakan baru sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan seksual wanita di luar pernikahan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh perempuan dalam cerita.
Peran perempuan dalam kesusastraan Indonesia secara tradisional mencerminkan standar-standar masyarakat yang patriarkal, yang telah lama mendominasi seluruh wilayah kepulauan ini, khususnya di Jawa. “Konsep kodrat” wanita, yakni sifat feminin yang melekat pada perempuan serta peran perempuan sebagai istri dan ibu. Kutipannya: “ Tahukah kamu bahwa kisah itu telah menginspirasikan keputusan-keputusan yang tidak adil bagi perempuan selama berabab-abad? Kita hidup dalam kegentaran seks, tetapi laki-laki tidak mau dipersalahkan sehingga kami melemparkan dosa itu kepada perempuan” (183).
Para perempuan yang mencapai posisi kekuasaan seksual, personal ataupun politik, terutama jika mereka melakukannya secara bersatu, dipandang sebagai ancaman terhadap tatanan sosial yang wajar, sebuah mitos yang dilekatkan terus-menerus pada Gerwani saat terjadi kudeta Komunis 1965. Kutipannya:. "Masalah perempuan dianggap masalah yang khas kaumnya, yang laki-laki tak perlu bertanggungjawab, padahal seluruh penindasan terhadap perempuan bersumber dari patriaki tadi .Trulin memberi contoh marital rape, yang selama ini dianggap sebagai persoalan privet dan domestik. Keengganan mengakui maritial rape sebagai masalah seluruh manusia adalah kegagalan mengakui hak asasi wanita sebagai hak asasi manusia" (180).
Unsur seksual bagi perempuan dalam kesusastraan Indonesia modern sangat berbeda dengan tulisan-tulisan sastra tradisional yang berkutat dalam topik itu dengan ‘keterus-terangan dan semangat’.Pelukisan seks dalam kesusastraan mencerminkan suatu sikap sosial yang tersebar luas di Indonesia. Seks jarang diakui sebagai sebuah aspek dari kehidupan sehari-hari, melainkan lebih sebagai wilayah sakral pasangan yang menikah atau dalam konteks kebejatan moral berupa pornografi. Simbolisme seksual yang digunakan Ayu Utami dalam tulisannya itu merupakan sebuah tantangan yang tepat pada waktunya serta jujur lagi menyegarkan terhadap sikap-sikap ini.
Di awal novel ini, Leila sedang berada di Central Park, New York, menunggu rendezvous dengan Sihar, lelaki yang sudah menikah yang kepadanya dia jatuh cinta. Di akhir cerita, Leila merasa terbebaskan dari tanggung jawab terhadap orang tuanya dan terhadap istri Sihar. Jarak geografis menciptakan sebuah ruang psikologis antara dirinya dan pengharapan-pengharapan kultural dan sosial Indonesia, akhirnya dia merasa sepenuhnya dan seorang diri memegang kontrol atas tubuhnya. Kutipannya: “Dan kita di New York. Beribu mil dari Jakarta. Tak ada orangtua, tak ada istri. Tak ada dosa. Kecuali pada Tuhan, barangkali. Tapi kita bisa kawin sebentar, lalu bercerai. Tak ada yang perlu ditangisi”(30). Kita dapat melihat bahwa Leila telah menjaga keperawanannya bukan melulu berdasarkan pertimbangan religius. Kenyataannya dia nampaknya kurang peduli tentang berdosa pada Tuhan dibandingkan rasa berdosanya terhadap orang-orang yang dekat dengan orang tuanya dan istri Sihar, sesungguhnya terhadap masyarakatnya. Hal ini cukup berbeda dengan langkah-langkah para penulis Indonesia modern lainnya yang menggunakan berbagai cara untuk melepaskan tokoh-tokoh peremmpuan mereka dari kebobrokan seksualitasnya.
Sifat seksual yang terbuka dari dialog di sepanjang novel ini sungguh menyegarkan, sebuah cerita yang realistis dan tidak sungkan-sungkan tentang hubungan-hubungan di kalangan kelas menengah muda Indonesia, khususnya para perempuannya.
Tokoh Tala dalam novel menawarkan suatu penolakan yang bermuatan seksual. Sebagai seorang perempuan muda Tala mengatakan kepada kita bahwa dia pernah punya affair dengan seorang raksasa, yang mana dengan raksasa itulah dia kehilangan keperawanannya. Tala tidak pernah menjelaskan kepada kita perwujudan dari raksasa itu.
Novel ini menampilkan sebuah bahasa yang mungkin sebenarnya sangat tidak familiar bagi banyak orang Indonesia, dan tentu saja bukan bahasa yang disajikan dalam bentuk klise, bukan pula bahasa orang-orang tertindas pada masa pemerintahan yang tak bebas Akan tetapi, kata-kata dan kumpulan konsep yang diungkapkan dalam dialog ini juga-lah yang melawan norma-norma masyarakat Indonesia, dan langsung menantang pikiran-pikiran patriarkal tentang banyak hal, di antaranya tentu saja seks. Kutipannya: “Ketika Sihar akhirnya membawa Leila ke sebuah kamar hotel, teman-teman Leila berkumpul di tempat lain untuk mengantisipasi telepon pasca-senggama. “Mereka tidak berhubungan seks!” tukas Yasmin. “Siapa bilang? Pokoknya, semua tindakan saling merangsang, atau menimbulkan rangsangan pada organ-organ seks adalah hubungan seks. Apalagi sampai berorgasme. Soal masuk atau tidak, itu cuma urusan teknis.”(130).
Sebuah unsur yang seringkali diabaikan pada permasalahan feminis, khususnya di Indonesia, diangkat di sini. Sekarang ini, permasalahan seks sudah bukan monopoli majalah-majalah pria saja. Banyak majalah wanita yang memuat masalah tersebut. Hampir semua media baik cetak maupun elektronik memiliki rubrik khusus mengenai seks.
Dalam novel ini dijelaskan secara biologis perempuan lebih banyak dirugikan dalam hubungan persanggamaan ketimbang laki-laki, misalnya resiko hamil dan tidak gampangnya perempuan mencapai kepuasan dalam berhubungan seks. Di sini Ayu berpendapat bahwa dieksploitasinya seks, atau lebih tepatnya teknik-teknik seks akan merugikan perempuan nantinya. "Pembicaraan teknik seks tidak akan menyelesaikan masalah dalam hubungan pria-perempuan, tapi itu tidak berarti buruk. Justru apabila seks itu dibicarakan dari kaca mata perempuan, hal itu memungkinkan perempuan untuk menjadi subyek dan bukan obyek seks." Ketidak seimbangan dalam relasi jender harus diselesaikan dengan cara lain misalnya melalui pendidikan.
Pada akhirinya permasalahan seksualiatas dan feminisme yang banyak terjadi harus di atasi dengan pendidikan. Novel ini merupakan salah satu perwujudan karya sastra yang di dalamnya memberikan begitu banyak pengetahuan seks dan feminisme sebagai pendidikan bagi para penikmatnya.

3. Eksistensi Karya Sastra dalam Persfektif Teori Hegemoni Sastra Gamscian.

Hegemoni oleh Gramscian didefinisikan sebagai sesuatu yang komplek, yang sekaligus bersifat ekonomik dan etis-polotis. Dalam hal hegemoni harus diperhatikan interes-interes kelompok dan kecenderungan-kecenderungannya, yang terhadapnya hegemoni itu dihadapkan. Di dalam hegemoni suatu keseimbangan kompromis antar interes-interes tersebut harus dibentuk atau, dengan kata lain, bahwa kelompok pemimpin harus membuat pengorbanan-pengorbanan tertentu. Akan tetapi, pengorbanan tersebut tidak dapat menyentuh yang esensial, yaitu interes ekonomi, sebab walaupun hegemoni bersifat etis-politis, ia juga harus bersifat ekonomik, harus didasarkan pada fungsi yang menentukan, yakni inti aktivitas ekonomi.
Teori hegemoni Gramscian membuka dimensi baru dalam studi sosiologi mengenai kesusastraan. Kesusastraan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai gejala kedua yang tergantung dan ditentukan oleh masyarakat kelas sebagai infrastruktur, melainkan dipahami sebagai kekuatan sosial, politik, dan kultural yang berdiri sendiri, yang mempunyai sistem tersendiri, meskipun tidak terlepas dari infrastruktur. Ada cukup banyak studi sastra yang mendasarkan diri pada teori hegemoni tersebut, di antaranya studi sastra dari Raymond Williams.
Menurut William bahwa konsep hegemoni melampaui konsep ideolologi dengan tekanannya pada kesepakatan dengan tatanan sosial yang berkuasa yang diamankan lewat cara yang di dalamnya proses sosial lebih dihayati dari pada dipaksakan dengan pemaksaan gagasan atau kesadaran oleh siatu kelas terhadap kelas yang lain.
Ada juga pendapat lain yang dikemukakan oleh Tony Davies yang menganggap bahwa kesusastraan tidak hanya merupakan reproduksi atau cermin pasif dari bahasa standar yang menjadi bahasa nasional tersebut, melainkan secara aktif membentuknya, kesusastraan berfungsi untuk mendidik massa untuk tidak radikal, kasar, melainkan berperasaan dan berpikiran yang halus dan anggun, kesusastaraan juga sekaligus berfungsi sebagai pembangun citra kesatuan imajiner dari suatu formasi sosial yang disebut sebagai suatu bangsa, suatu negara kebangsaan.

Sabtu, 26 Februari 2011

Tuladha Pranatacara


Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb,

Dhumateng panjenenganipun para pepundhen, para sesepuh pinisepuh ingkang hanggung mastuti dhumateng pepoyaning kautaman ingkang pantes pinundhi, para pangemban pangembating praja satriyaning negari minangka pandam pandoming para kawula dasih ingkang sinuba ing pakurmatan, para sarjana, para sujana sujananing budi ingkang sampun wenang hanampi wahyuning kasutapan ingkang satuhu bagya mulya, nun inggih brayat ageng baraya wira wiyata, baraya wira tamtama, para puma karya labet praja ingkang mahambeg luhuring darma, para alim, para ulama ingkang rinten dalu tansah sumandhing kitab suci wahyuning Ilahi minangka panuntun keblating panembah ingkang satuhu luhuring budi, panjenenganipun para satya wredha, carana madya, para tamu kakung sumawana putri ingkang pantes nampi pakurmatan satuhu pantes lamunta sinudarsana.
Mradapa awit saking keparengipun Bp ___________  sekalihan garwa, kula ingkang kapitedhan sinaraya hambuka wiwaraning suka, wenganing wicara, dwaraning kandha pinangka jejering pambiwara ngaturaken urut reroncening tata upacara ingkang sampun rinakit, rinancang dening para kulawangsa ingkang tartamtu kewala kaeneraken wonten ing pawiwahan prasaja ing hari kalenggahan punika, nun inggih panjenenganipun
Bp ___________  netebi darmaning asepuh hangrakit sekar cepaka mulya, miwaha siwi mahargya suta. Kanthi raos panalangsa ingkang hamengku karsa nyuwun wonten ngarsanipun Gusti ingkang akarya loka, miwah nyuwun donga pangestunipun para lenggah, mugi kaleksananing sedya ing hari kalenggahan punika purwa madya wasana tansah pinaringan rahayu wilujeng tebih ing sambekala.
Para rawuh saha para lenggah saderengipun kula ngaturaken urut reroncening tata upacara ing ri kalenggahan punika mugi sageta jumbuh kalihan kuncaraning bangsa nuswantara ingkang linambaran luhur sarta agunging Pancaslia sumangga nun dhumateng para rawuh saha para lenggah langkung – langkung para pinisepuh ingkang sampun handungkaping yuswa ingkang ateges sampun pana ing pamawas, keblating panembah saha lebda ing pitutur kula dherekaken manungku puja hastawa puji hastuti wonten ngarsanipun Gusti purbaningrat, karana agung barokah saha rahmatipun ingkang rumentah dhumateng panjenengan sadaya dalasan kula ingkang sarta mugi lampahing tata upacara pahargyan prasaja ing ri kalenggahan punika tansah winantu ing suka basuki rahayu nir ing sambekala.
Para rawuh saha para lenggah, sampun dumugi wahyaning mangsa kala binuka hing tata upacara;
- Tinarbuka sowaning putra temanten saking sasana busana kepareng
humarak sowan lenggah wonten ing sasana rinengga dening para
ingkang piniji.
- Pasrah panampining putra temanten kakung dening para tetuwangga
ingkang piniji.
- Panggihing putra temanten kalajengaken upacara sungkem.
- Atur pambagya yuwana saking ingkang hamengku karsa.
- Ingkang salajengipun sowaning putra temanten sekalihan inggih
winastan upacara kirab angka I winastan Kirab Kanarendran.
- Kirabing putra temanten ingkang angka II winastan kirab kasatriyan.
- Wondene pratandha cetha paripurnaning pahargyan prasaja ing mangke
hambok bilih sampun wonten pratandha saking kulawarga minangka
paran para.
Panjenenganipun para rawuh saha para lenggah, makaten menggah urut reroncening tata upacara pahargyan prasaja ing ri kalenggahan punika, mila hawit saking punika mugi wontena suka lilaning panggalih kasuwun tansah lelenggahan kanthi mardu mardikaning panggalih sarwi paring puja hastawa puji hastuti saengga paripurnaning pahargyan prasaja ing hari kalenggahan punika.
Para rawuh saha para lenggah, jumbuh kalian urut reroncening tata upacara ingkang sarta karana sampun paripurna sri atmaja temanten putri anggenya hangadi salira mulas wadana, keparenging sedya sri atmaja temanten putri badhe humarak sowan wonten ngarsa panjenengan sadaya lenggah wonten ing sasana rinengga, wondene jengkaring sri atmaja temanten putri saking sasana busana kakanthi panjenenganipun
Ibu ___________  saha Ibu ___________  hambok bilih sampun samekta ing gati murih rahayuning sedya kasumanggakaken dhumateng para – para ingkang piniji, jengkaring temanten putri binarung ungeling Ketawang Puspawarna kanthi laras slendro pathet manyura, sumangga, nun nuwun.
Tuladha Aturipun Panatacara Badhe Jengkaring
Temanten Kakung Saking Wisma Palereman
Binarung swaraning pradangga hangrangin hambabar ketawang Puspawarna, ana ganda hangambar arum katiyubing samirana manda, kawistara jengkaring sri atmaja temanten putri mijil saking tepas wangi, tepas mengku werdi papan wangi wus hangarani ateges mijil saking panti busana nedya humarak sowan wonten ngarsanipun para rawuh manjing salebeting sasana rinengga kinanthenan Ibu ___________  saha
Ibu ___________
Sri temanten putri hangagem busanaa ingkang sarwa retna hangemba busananing garwa nata, katon pating galebyar pating pancurat lamun kasaru sunaring pandam kurung ingkang hangrenggani sasana adi, pan yayah kartika hasilih prenah.
Hangagem puspito rinonce ing ukelira, sinampiraken wonten ing pamidhangan kanan, lamun katiyubing samirana manda kongas gandane hangebegi wisma pawiwahan, endah edining busana hamimbuhi gandes luwes solah bawane, lamunta cinandra ical sipating janma sawantah pan yayah Bathari ___________  tumurun.
Tindakira sri atmaja temanten putri hamucang kanginan, lengkeh – lengkeh pindha singa lupa, sapecak mangu satindak kendel pangudasmaraning driya ingkang dereng kawijiling lesan hangrantu praptaning mudha taruna minangka gegantilaning nala.
Wus handungkap prapta hunggyan ingkang tinuju, putra temanten putri nulya kalenggahaken wonten ing sasana rinengga hangrantu laksitaning adicara ingkang sampun tinamtu.
Para rawuh saha para lenggah, kawistara sri atmaja temanten putri sampun lenggah hanggana raras wonten sasana adi inggih ing sasana rinengga ingkang ateges lenggah piyambakan lamun cinitra ing ukara semu kuciwa ing wardaya kaya – kaya hangrantu praptaning satriya mudha ingkang dadya gegantilaning nala, memaniking netra kang lagya labuh nagara.
Nun inggih para rawuh saha para lenggah, laksitaning tata upacara salajengipun sowaning putra temanten kakung saking wisma palereman ingkang kakanthi panjenenganipun Bp ___________  saha
Bp ___________  wondene ingkang hamboyong sekar cepaka mulya inggih kembar mayang panjenenganipun Ibu ___________  ,
Ibu ___________  ingkang sarta Ibu ___________  minangka panyongsongipun, jengkaring caraka pamethuking temanten kakung kabiwaldha ungeling ladrang kapang – kapang laras pelog pathet 6 sumangga nun, nuwun.
Tuladha Aturipun Panatacara Badhe Jengkaring
Temanten Kakung Saking Wisma Palereman
Nun inggih panjenenganipun para rawuh saha para lenggah, caraka pamethuking putra temanten kakung inggih panjenenganipun
Bp ___________  saha Bp ___________  sampun dumugi sasana ingkang tinuju nulya hanjengkaraken Sri atmaja temanten kakung, jengkaring putra temanten kakung ginarubyug para kadang wandawa binarung ungeling ladrang wilujeng laras pelog pathetbarang,
nuwun.

Tuladha Panyandra Sowaning Putra Temanten Kakung
Saking Wisma Palereman
Binarung swaraning gangsa ingkang hangrangin hambabar ladrang wilujeng, kawistingal jengkaring putra temanten kakung saking wisma palereman ing pangajab mugi tansah manggih kawilujengan kalis hing sambekala, gumebyar busananing putra temanten kakung hangagem busana ingkang tinaretes benang sotya, ngagem kuluk kanigara hangemba busananing nata.
Dhampyak – dhampyak para kadang wandawa ingkang samya hangayab tindakipun putra temanten kakung, temanten kakung hanggenya lumaksana lengkeh – lengkeh pindha singa lupa, riak hanggajah ngoling sapecak mangu satindak kendel semu hangungun hanguningani endah edining swasana ingkang hangrenggani tawinging wiwara.
Wus handungkap unggyan ingkang tinuju gya kendel tindakira wonten sangajenging wiwara, keparenging sedya hangrantu laksitaning adicara salajengipun.
 Tuladha Aturipun Panatacara
Badhe Upacara Pasrah Temanten
Wus tinata titi tataning gati, nun inggih putra temanten kakung sampun jumeneng wonten sangajenging wiwara kepareng badhe hanetebi upacara pasrah, wondene ingkang kepareng hamasrahaken panjenenganipun
Bp ___________  minangka sulih salira panjenenganipun
Bp ___________  (ingkang mengku gati, menawi temanten saking wisma palereman) Bp ___________  (Besan, menawi putra temanten saking dalemipun piyambak).
Wondene ingkang piniji hanampi panjenenganipun Bp ___________  jumenengipun Bp ___________  ingkang kepareng hanjajari panjenenganipun Bp ___________  ingkang sarta
Bp ___________  hambok bilih sampun samekta ing samudayanipun saha swasana kasumanggakaken dhumateng para – para ingkang piniji, sumangga nun nuwun.

Tuladha Atur Pasrah Temanten Kakung
Assalamu alaikum Wr. Wb.Kasugengan saha sih nugrahaning Gusti ingkang akarya loka mugi tansah kajiwa kasarira wonten panjenengan sadaya dalasan kula. Panjenenganipun Bp ___________  (ingkang nampi) keparenga kula matur minangka sulih saliranipun Bapak saha Ibu (besan) kula kinen masrahaken putra temanten kakung pun Bagus ___________  mugi katur panjenenganipun Bapak saha Ibu ___________   (ingkang mengku gati).
Wondene kalampahanipun mekaten, kala wau wanci tabuh ___________ temanten kakung kula pendhet saking dalem ___________  (alamatipun besan), saking wisma palereman (menawi sampun kapondhokan) kanthi kairing para sepuh, kulawangsa sanak kadang pawong mitra sawetawis, kula bekta / kanthi sowan ing dalem pawiwahan mriki kanthi gangsar, lancar rahayu wilujeng nir ing sambekala.
Pramila ngemban dhawuh ___________  wigatosing sedya, keparenga hing mangke temanten kakung kula pasrahaken tuwin kula sumanggakaken dhumateng panjenengan minangka sulih saliranipun Bp ___________  (ingkang mengku gati) cundhuk kalihan lampahing adicara.
Ing wasana hambok bilih anggen kula nindakaken ayahan punika kirang ndadosaken pirenaning penggalih mugi diagung pangaksama panjenengan, nuwun, nuwun maturnuwun.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Tuladha Aturipun Panatacara Sasampunipun
Pasrah Temanten Kakung Ngancik Panampi
Nun inggih, paripurna atur pasrah temanten kakung panjenenganipun (ingkang pasrah) gya tinampi panjenenganipun Bp ___________  (ingkang nampi) minangka talanging basa panjenenganipun
Bp ___________  (mengku gati) ing wasana wekdal kasumanggakaken.Nuwun.


Tuladha Atur Panampi Pasrah Temanten Kakung
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.Dhumateng panjenenganipun Bp ___________   (ingkang pasrah) ingkang hangemban wajib luhur ing madyaning bebrayan ageng ingkang sinuba ing pakurmatan.
Nun inggih saderengipun kula nampi wosing gati rawuh panjenengan kanthi hangirid para kadang panekaring putra temanten kakung, mboten kekilapan kula ugi ngaturaken puji syukur wonten ngarsa dalem Gusti purbaningrat, awit panjenengan sadaya dalasan kula tansah dipun keparengaken kempal manunggal saperlu netepi darmaning agesang wonten madyaning bebrayan ageng, mugi Gusti Ingkang Maha Kawasa tansah paring suka basuki rahayu ingkang sarwi ginayuh.
Panjenengartipun Bp ___________   (ingkang pasrah) menggah lekasing pangandika panjenengan hamasrahaken putra temanten kakung kula tampi kanthi sae, handadosaken suka bingahing manah, salajengipun badhe kula aturaken dhumateng panjenengariipun Bp ___________   (ingkang mengku gati) karana badhe kapanggihaken miturut tata cara adat widi widana ingkang sampun sinengker, mugi laksitaning upacara panggihing putra temanten ing mangke tansah manggiha rahayu wilujeng nir ing sambekala sarta karoban sihing Gusti ingkang Maha Agung. Pungkasaning atur kula minangka talanging basa saking panjenenganipun Bp ___________   (mengku gati) tansah tumadhah lubering pangaksama, karana kiranging suba sita, kalentuning basa sastra anggen kula matur kalebet anggen kula nampi panjenengan sarombongan.
Kajawi saking punika panjenengan sarombongan taksih kula suwun hanjenengi panggihing sri penganten ngantos dumugi purnaning pawiwahan ing wekdal punika.
Ing wasana Wabillahi taufiq wal hidayah Wassalamu ‘alaikum Wr


Tuladha Aturipun Panatacara Sasampunipun
Pasrah Panampining Putra Temanten Kakung
Paripurna pasrah panampining putra temanten kakung dening para ingkang piniji kanthi lulus raharja nir ing sambekala.
Panjenenganipun para rawuh saha para lenggah, wus dumugi wahyaning mangsa kala laksitaning upacara salajengipun inggih panggihing putra temanten sekalihan, menggah ingkang piniji manggihaken putra temanten nun inggih Ibu ___________    minangka panganthining putra temanten putni Ibu ___________    ingkang sarta Ibu ___________   wondene ingkang nyamektakaken uba rampening panggih Ibu ___________   dhumateng panjenenganipun Ibu ___________   minangka pangembaning sekar cepaka sasele mugi keparenga hamapag jengkaning putra temanten putri saking sasana adi, jengkaring putra temanten putri ingkang sarta panggihing putra temanten sekaliyan binarung ungeling gangsa Kodhok Ngorek, kalajengaken Ketawang Larasmaya, laras pelog pathet barang sumangga nun, nuwun.

Tuladha Panyandra Panggihing Temanten
Wus dumugi wahyaning mangsakala dhumawahing kodrat, sri atmaja temanten hanetebi tata upacara adat widi widana ingkang sampun sinengker wonten talatah ________________ nun inggih upacara panggih, adat mengku werdi tata cara, widi werdinipun Gusti, winengku werdi luhur wondene dana mengku werdi paweweh dados adat widi widana hamengku werdi tata cara paringipun Gusti ingkang linangkung, punapa ta werdinipun panggih inggih punika pangudi gambuhing panggalih, mila mboten mokal wonten titahing Gusti ingkang asipat jalu lawan wanita ingkang sumedya hanetepi jejering agesang, hangancik ing alam madya, mastuti ila – ila ujaring kina ingkang cinandhi hing akasa jinempana ing maruta, sarta mulat edi endahing budaya tulus.
Budaya ateges laku pangolahing budi, wondene titikanipun tiyang ingkang budaya punika
1. landhep panggraitane,
2. tanggap ing sasmita,
3. susila hanuraga,
punika ingkang saget hambabar pakarti budi luhur, ingkang nyata mengku werdi tansah hangesthi Hayu – Hayom – Hayem – Hangayomi gesanging bebrayan agung.
Saya caket tindakira temanten kekalih, gya samya apagut tingal, tempuking catur netra handayani pangaribawa ingkang hambabar manunggaling nala ingkang tumanem ing sanubari, nulya kumlawe astane temanten putri sarwi hambalang gantal mring temanten kakung ingkang winastan gondhang kasih, temanten kakung gumanti hambalang gondhang tutur, punapa ta wujud miwah werdinipun gantal, gantal dumadi saking suruh ingkang lininting tinangsulan lawe wenang, pinilih suruh ingkang tinemu rose, ingkang mengku werdi : Suruh lamun dinulu beda lumah lawan kurebe yen ginigit tunggal rasane, mengku pralampita dhumateng putra temanten mugi tansah manunggal cipta, rasa miwah karsane suruh asung pitedah sumurupa nganti weruh, bisoa nganti tekan raosing rasa inggih rasa sejati.
Sanadyan ingkang sajuga jejer priya kang sawiji putri, lamun bisa manunggalake tekat lan rasane, pinesthi dadi jatu kramane.
Werdinipun priya saking tembung pari ingkang linangkung, hoya ateges kuwat utawi santosa, wondene tembung putri mengku werdi haywa supe ing pametrinira marang badanira priyangga.
Tinangsulan lawe wenang werdinipun tinangsulan lan akrami kaiket ing prasedya luhur, mugi anggenya mangun bebrayan mboten nalisir saking hangger paugeraning kautaman.
Paripurna titilaksitaning upacara panggih, putra temanten sekalihan gya siningeban sindur dening ingkang rama, asung pralampita putra temanten tansah tinuntun ing reh kautaman anggenipun ngancik ing alam madya tansah pinaringan karaharjan miwah kabagaswarasan, hanjayeng bawana salaminya.
Para rawuh saha para lenggah, wus handungkap prapteng unggyan ingkang tinuju, sung sasmita panganthining temanten, gya kalenggahaken ing sasana wisudha tama hangrantu laksitaning tata upacara ingkang sampun tinata, nuwun.



Tuladha Pranata Cara Panggih Pinanganten

Diposkan oleh ( Poenk)

PAMBUKA
Sampun dumugi wahyaning mangsa kala dhumawahing kodrat, sri atmaja temanten hanetepi upacara adhat widhi widana ingkang sampun sinengker wonten tlatah dusun  Ngajum Kadipaten Malang.
Nun inggih upacara panggih, adhat mengku werdhi tata cara, widhi werdhinipun Gusti. Winengku werdhi luhur tata cara peparingipun Gusti ingkang Maha Agung, ingkang dados pratandha werdhinipun panggih punika pangudi gambuhing panggalih. Mila mboten mokal  wonten titahing Gusti ingkang asipat Jalu lawan wanita ingkang sumedya hanetepi jejering agesang.

 ING NGARSA REGOL

 Wondene temanten putri sampun jengkar saking tepas wangi pinurwaka kembar mayang sakembaran, dasar putrinipun Bapak Moh. Nabillah
Ingkang  dinama-dama , putra sulistya ing warni tinambahan ngagem busana putri praja nambahi sulistyaning warna, saengga ing dalem pasamuan kadya katingal surem katanding endah gumebyaring temanten putri.

HAMBALANG GANTAL
Saya caket tindakira putra temanten kekalih, gya samya apagut tingal, tempuking catur netra handayani pangaribawa ingkang hambabar manunggaling nala kang tumanem ing sanubari.
Sekar mayang temanten kakung dalah temanten putri sampun niliroaken.
nulya kumlawe astane tenganten putri sarwi hambalang gantal mring temanten kakung ingkang winastan gondhang kasih, temanten kakung gumanti hambalang gondhang tutur, ingkang makaten punapa ta wujud miwah werdhinipun gantal? Gantal dumadi saking suruh ingkang lininting tinangsulan lawe wenang, pinilih suruh ingkang tinemu rose ingkang mengku werdi
Suruh : lamun dinulu beda lumah lawan karebe yen ginigit tunggal rasane. Mugya temanten kekalih tansah rumaket manunggal cipta, rasa miwah karsa. Tinangsulan lawe wenang werdhinipun tinangsulan lan akrami, kaiket ing prasedya luhur, mugi anggenya mangun bebrayan mboten nalisir saking hangger paugeraning kautaman.

 HAMIDHAK KUNTOLO

Ni mas temanten putri sampun lenggah sowan ing ngarsa dalem temanten kakung dalah hanglepas tepak alas sukunipun temanten kakung. Lumantar astanipun temanten putri, temanten kakung tumindak hamidhak kuntolo kanti remuk gumebyar miwah alas siti.
Ingkang punika paring sasmita bilih temanten kakung sampun gilig ing manah, badhe lujar saking gesang ambujang, ngrasuk hamengku gesang bebyaran.

 

GANDHENG ASTA

Temanten kakung pareng candhak bahunipun temanten putri kaajak jumeneng sesarengan .
Sasampunipun tinemu catur netra temanten kekalih,  ing madya para rawuh dipun pandhegani dening pini sepuh juru paes, astanipun temanten kekalih kagandheng ajawat asta, kanthi pinaringan dunga mugi-mugi tansah tinebiha bala rubeda nir ing sambikala.

TUMUJU DAMPAR KENCANA

Tindakira sri atmaja temanten kekalih gya siningeban  sindur dening ingkang rama kakung kinasih,
Wodene rama kakung temanten putri jumeneng ing ngarsa temanten kakalih  kagandheng  dipun singepi sendhur, ingkang wonten sawingking ipun keparenga biyung kinasih dalah astanipun tumangkep wonten  pundak temanten kekalih. Lumampah tumuju dampar kencana.

 SUNGKEMAN

Adicara ingkang candak inggih punika adicara sungkem temanten kekalih dumateng Tiyang sepah, ingkang punika paring sasmita ngaweruhi wujud bektinipun temanten dumateng tiyang sepah kekalih.Sarana sungkem ing saandhap tapak suku rama kakung dalah biyung putri.
Pinanganten :
Rama kakung dalah Ibu biyung kinasih, luhuring budi ingkang hangukir jiwa raga ingkang agung pangurbanan paring pitedah luhur rina wengi tansah ngangesti mrih rahayuning putra lulus kang ginayuh sadaya ribet rubeda linambaran kanthi sabaring panggalih tuhu pantes sinambah .
Bapa biyung :

Duh angger putraku kinasih sun tampa panyungkemira mugya antuk berkahing Hyang Widhi angonira jejodhoan. Piwelingku aja nganti lali anggon ira hambangun bak wisma runtut  atut sakarone-adohno tukar padu –tansah eling sabaring ati – kuwat nampa panandhang – tan gampang amutung dadiya tepa tuladha – uripira migunani mring sesami – hayu-hayu pinanggiha

 

KACAR-KUCUR

Kalampahan adicara ingkang candak inggih punika kacar-kucur.
Iarupi, wos, saha kacang-kacangan
Ingkang taksih rupi wiji, ingkang punika paring sasmita bilih temanten kekalih menika taksih bakalan, mugya wiji ingkang bade katandur sageta dados wiji ingkang sae, sahengga temanten saget nglampai gesang bebrayan milai babat alas dumugi gesang kaken ninen ninen.

UNJUK TIRTA WENING
Wondene Ing ngriki panjenengan ipun Ibu biyung ingkang hamengku gati paring unjukan tirta wening dumateng temanten kekalih. Ingkang punika paring sasmita mbok bilih sedaya tindak tanduk ipun temanten ingkang badhe kalampahan supadasa  linambarana kanthi weninge penggalihing temanten kekalih.

DHAHAR SEKUL KUNING

Kacandhakaken adicara dhahar sekul kuning : Bapa biyung paring dedhaharan sarana sarining bumi kang arupi sekul kuning kang aran sekul panjang ilang, paring sasmita mugya temanten anggeneya nglampahi gesang wonten ing alam bebrayan , temanten kakung anggadhahi  kewajiban hanyekapi sedaya kabetahanipun gesang sampun ngantos kirang tedhan tumuju dumateng angen-angenipun kara harjan.
Kanthi Pangajapipun Rama dalah biyung  biyung : Mugi gampila gebyaring husada , anggenya ngupadi, sanguning gesang, ambyaring kuntala ingkang tumiba wonten pelatan, panggiha bagya mulya sembada kang jinangka basuki kang kaesti. Amin !

RAWUHING BESAN

Samekta rawuhipun kadang besan sarimbit saking tlatah ................. bapak ............. sarimbit ngaturaken sugeng rawuh mugi sageta ndadosaken raketing pasederekan.
Sasampunipun katampi rawuhipun Bapak .......... sarimbit hangaturaken salam taklim kanti hamasrahaken rawuhipun kaki dalah nini pinanganten kekalih ingkang badhe marak seba nyuwita dumateng ngarsa Bapa  biyung kInasih, inggih punika Bapak Tukiyat dalah biyung Tumi kinasih.

ATUR PASRAH TEMANTEN
Nuwun para rawuh ingkang tuhu kinurmatan, langkung rumiyin keparenga kula nuwun agunging pangaksami, hambok bilih kula kagalih sangeting degsura saha cumantaka, dene kumawantun sumela atur tuwin nyandet keparenging para rawuh ingkang taksih gayeng among sabda wonten ing pepanggihan punika.
Ingkang makaten kala wau, sarehning kula ingkang kadhapuk dados pranata adicara kajibah matitisaken titi laksana ning adicara punika.
Minangka purwaning atur keparenga kula ngaturaken sungkeming pangabekti ing sa-andhap pepadha kunjuk dalem Gusti ingkang Maha Agung, ingkang tansah paring kanugrahan dumateng kita sedaya saha paring idi palilah ugi pengayoman dumateng ingkang hamengku karsa, nun inggih BapakTukiyat sarimbit.
Ingkang wedal puniko saget ngawontenaken pepanggihan ing dinten menika kanti rahayu widodo mboten kirang satunggaling punapa.
Kajawi saking punika, katur asmanipun ingkang hamengku karsa keparenga  kula ngaturaken pambage sugeng rawuh saha ngaturaken sanget panuwun ingkang tanpa pepindan wondene panjenengan  sedaya sampun kersa minangkani atur ingkang sampun kapacak wonten ing serat atur undangan, ingkang sampun kunjuk dumateng panjenengan sedaya. Inggih punika bilih ing samangke panjenenganipun Bapak Budi sarimbit kagung an kersa badhe andhaup aken putri kinasihipun ingkang paring asma Visi Triastutik kapundhut garwa dening anakmas Moh. Hantono putra kakung ingkang minulya bapak Muchid - Gatot saking tlatah Batu
Para rawuh saha para lenggah ingkang kinur matan.
Kepareng matur bilih samangke sarawuhipun pinanganten kakung, para lenggah katuran jumeneng minangka paring pakurmatan saha paring berkah pangawasta dumateng pepanggihan pinanganten kekalih.
Sinambi  ngrantos dhawah wanci rawuhipun pinanganten kakung, keparenga ken para rawuh anglajengaken anggenipun kepareng among sabda saprayoginipun sinambi angresepi dhedaharan ingkang sampun cumawis ing ngarso panjenengan sedaya. Nuwun !
Sampun dumugi mangsa kala mbok bilih pinanganten kakung sampun tindak saking dalem palereman, kadherekaken para kadang sentana puri kakung. Gebyar-gebyar cahyaning dasar gagah pidhegsa kathik karengga busananing putra praja gung binantara kang sarwa mobyor-mobyor adamel cingaking para pandulu ing samarga-marga, jer sampun dados giliging tekating pribadi badhe hamengku garwa ingkang dados gemblenging raos katresnan mila katingal jumangkah mantep tan kemba ing panggalih nambahi gagah prakasa.

Penelitian Kausal Komparatif (Ex Post Facto)

BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Masalah Dalam penelitian pendidikan setidaknya dikenal dua jenis penelitian , ya itu penel...