Senin, 11 Juli 2011

Teori MENULIS PUISI

A.    Hakikat Menulis
Lado (lewat Suriamiharja, dkk.  1996/1997: 1) bahwa to write is not put down the graphic sybols that represent a language one understands, so that other can read these graphic representation yang dapat diartikan bahwa menulis adalah menempatkan simbol-simbol grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dimengerti oleh seseorang, kemudian dapat dibaca oleh orang lain yang memahami bahasa tersebut besarta simbol-simbol grafisnya. Menulis adalah kemampuan seseorang dalam melukiskan lambang grafis yang dimengerti oleh penulis bahasa itu sendiri maupun orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap simbol-simbol bahasa tersebut. Jadi, dapat dilihat bahwa tujuan dari menulis adalah agar tulisan yang dibuat dapat dibaca dan dipahami oleh orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap bahasa yang dipergunakan. Dengan demikian, keterampilan menulis menjadi salah satu cara berkomunikasi, karena dalam pengertian tersebut muncul satu kesan adanya pengiriman dan penerimaan pesan.
Selain pendapat di atas, Atar Semi (2007: 14) menjelaskan hakikat menulis sebagai proses kreatif memindahkan gagasan dalam lambang tulisan. Menulis adalah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Dapat juga diartikan menulis adalah berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis. Selanjutnya, juga dapat diartikan bahwa menulis adalah menjelmakan bahasa lisan, mungkin menyalin atau melahirkan pikiran atau perasaan seperti mengarang, membuat surat, membuat laporan, dan sebagianya (Suriamiharja, dkk, 1996/1997: 2).
Menulis adalah kegiatan untuk menghasilkan tulisan. Tulisan adalah sesuatu yang diahasilkan akibat kegiatan proses kreatif penulisannya. Dengan kata lain, hasil gagasan dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh amsyarakat pembaca (Nurudin, 2007: 4).
Dengan mencermati teori-teori di atas, dapat dikemukakan bahwa menulis adalah  kegiatan menuangkan gagasan, ide atau pendapat yang akan disampaikan kepada orang lain (pembaca) melalui media bahasa tulis untuk dipahami tepat seperti yang dimaksud oleh penulis.
Tujuan menulis adalah 1) untuk menceritakan sesuatu, 2) adanya gaagasan atau sesuatu yang hendak dikomunikasikan, 3) adanya sistem pemindahan gagasan berupa sistem bahasa (Atar Semi, 2007: 14-18). Untuk lebih jelasnya sebagai berikut.
1)      Untuk menceritakan sesuatu. Pengalaman, pemikiran, imajinasi, perasaan, dan intuisi sebaiknya dituangkan dalam bentuk tulisan;
2)      Untuk memberikan petunjuk dan pengarahan. Hal ini tercermin apabila sesorang mengajari untuk mengerjakan sesuatu dengan tahapan yang benar;
3)      Untuk menjelaskan sesuatu. Bahwa tulisan dibuat untuk memberikan pengertian dan pembahasan secara mendalam tentang sesuatu;
4)      Untuk meyakinkan. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan orang terhadap pandangan yang diajukan; dan
5)      Merangkum. Dengan merangkum sesorang akan mudah dalam mempelajari isi buku dan akan lebih mudah dalam menguasai bahan.
Tahap menulis menurut Campbel Slann, Joanna (2011), Pre-writing is the act of planning for what you will eventually write. Much of pre-writing has to do with collecting and organizing your information. One of my writing teachers once explained that by pre-writing you cut your actual writing time in half. I think you can actually save more than that by having information at your fingertips when you start to write.
Penjelasan Holbrook, Sara dan Salinger, Michael (2006: 9) di bawah ini merupakan kaitan antara puisi dengan pembelajaran menulis
If we look at every poem as a mini lesson, language arts teachers can use these little jewels to teach everything from point of view and tone to inference and subject-verb agreement. Persuasion, visual and figurative language, the writing process from draft to revision, all the elements of good writing can be taught through poetry

Berdasarkan teori yang telah disampaikan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi seorang penulis yang baik harus memiliki kepekaan terhadap keadaan sekitarnya. Hal itu dilakukan agar tujuan penulisannya dapat dipahami oleh pembaca dan terlebih dahulu penulis harus menentukan maksud dan tujuan penulisannya. Selain itu,  agar pembaca memahami ke mana arah tujuan penulisan itu sendiri.

B.     Hakikat Puisi
Sastra adalah hasil kreativitas pengarang yang bersumber dari kehidupan manusia secara langsung melalui rekaan dengan bahasa sebagai medianya (Retno Winarni, 2009: 7)
Sesuatu disebut teks sastra jika (1) teks tersebut tidak melulu disusun untuk tujuan komunikatif praktis atau sementara waktu, (2) teks tersebut mengandung unsur fiksionalitas, (3) teks tersebut menyebabkan pembaca mengambil jarak, (4) bahannya diolah secara istimewa, dan (5) mempunyai keterbukaan penafsiran.
Terdapat tiga hal yang membedakan karya sastra dengan karya tulis lainnya, yaitu sifat khayali, adanya nilai-nilai seni/estetika, dan penggunaan bahasa yang khas. Karya sastra dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu (a) sastra imajinatif, dan (b) sastra non-imajinatif. Sastra imajinatif mempunyai ciri isinya bersifat khayali, menggunakan bahasa yang konotatif, memenuhi syarat-syarat estetika seni. Sastra non-imajinatif mempunyai ciri-ciri isinya menekankan unsur faktual/faktanya, menggunakan bahasa yang cenderung denotatif, memenuhi unsur-unsur estetika seni. Pengertian indah, tidak semata-mata merujuk pada bentuk, tetapi juga keindahan isi yang berkaitan dengan emosi, imaji, kreasi dan ide (Retno Winarni, 2009:8). Definisi yang cukup memuaskan hanya berkaitan dengan jenis sastra tertentu (misalnya puisi) tetapi tidak relevan diterapkan pada sastra pada umumnya (Luxemburg, 1986:3-13)
Salah satu rahasia yang sesungguhnya tetap menjadi rahasia sepanjang masa adalah puisi. Bentuk paling tua dari kesusasteraan dalam sejarah peradaban manusia adalah puisi. Dan bentuk paling agung yang senantiasa diliputi kabut rahasia dalam kesusasteraan dunia adalah puisi.
Puisi menurut Campbel Slann, Joanna (2011) adalah:
The easiest way to recognize poetry is that it usually looks like poetry (remember what they say about ducks). While prose is organized with sentences and paragraphs, poetry is normally organized into lines

Puisi merupakan karya sastra paling tua dan pertama kali ditulis oleh manusia. Menurut Herman J. Waluyo (2010: 1) puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif). Kata-kata dalam puisi benar-benar padat dan terpilih sehingga sangat indah bila dibaca.
Easterling, (2011: 99) berpendapat “Poetry was, to be sure, the acknowledged “genre of genres” of the time and found a wide audience among the literate. The prominent literarymen of the day, however,were not takenwith the pursuits of literature and poetry alone”.
Puisi memiliki teks yang mempunyai ciri-ciri kebahasaan tersendiri. Yang dimaksud dengan teks-teks puisi ialah teks-teks monolog yang isinya tidak pertama-tama merupakan alur. Selain itu teks puisi bercirikan penyajian tipografi tertentu (Luxemburg dkk. 1986:175). Puisi pengertiannya sangat beragam, tetapi beberapa ahli merumuskan pengertian puisi dengan keintian yang serupa. Slamet Muljana (lewat Rakhmat Djoko Pradopo, 2002:113) mendefinisikan puisi sebagai bentuk sastra dalam pengulangan suara atau kata yang menghasilkan rima, ritma, dan musikalitas. Puisi mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan dekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan memberi kesan.
Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang juga perlu diapresiasi. Puisi adalah karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia (Herman J. Waluyo, 2010: 1). Puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra tentunya harus mempunyai fungsi estetik yang harus ada dalam setiap penciptaan karya sastra.
Rakhmat Djoko Pradopo (2002: 7) menyatakan bahwa puisi mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan yang merangsang imajinasi panca indra dalam susunan yang berirama. Puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting dan digubah dalam wujud yang paling berkesan.  Di lain puhak, Luxemburg dkk. (1986: 175) menjelaskan bahwa teks puisi ialah teks-teks monolog yang isinya tidak pertama-tama sebuah alur.
Berkaitan dengan alur, Kenney menjelaskan bahwa :
Plot in fiction is an arrangement of events according to the casuality of relationship (Kenney, 1966: 13). 
The conflict that has been brought into, has been resolved. This section also presents the impact of the conflict to the story. Kenney adds that “any plot that has a true beginning, middle, and end and that follows the laws of plausibility, surprise, and suspense must have unity” (Kenney, 1966: 22).
  
One thiks of the contrast between Shakespeare’s “sugared sonnets” and the traditional unpleasant taste and inconveient bite of salt associated with satire. Gerge Gascoige make similar distinction between “flower (sweet) and “weed” (sour) poems, the former the lyric the satiric (Cithara, 2011: 43). Teks puisi bercirikan penyajian tipografik tertentu. Definisi ini tidak hanya mencakup jenis-jenis sastra, melainkan juga ungkapan bahasa yang bersifat pepatah, pesan iklan, semboyan politik, syair lagu-lagu pop, dan doa-doa.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa pada hakikatnya puisi itu adalah salah satu karya sastra yang mempunyai nilai estetik (seni) yang tinggi dan berasal dari interpretasi pengalaman hidup manusia yang digubah dalam wujud yang paling berkesan atau sebagai hasil imajinasi dan gagasan penyair yang dituangkan dalam bentuk tipografi yang spesifik. Puisi itu sendiri selalu berubah. Perubahan itu berdasarkan dari perkembangan evolusi selera serta perubahan konsep estetik manusia. Tetapi, satu yang tidak berubah dari puisi yaitu ketaklangsungan ucapannya. Hal inilah yang membuat puisi menjadi istimewa.
Selain pandangan hidup, renungan, dan pemikiran-pemikiran, perasaan atau emosi yang merupakan unsur pembangun puisi. Wordsworth (dalam Luxemburg, 1986:169-170), menyebutkan sebagai berikut.
“The spontaneous overflow of powerful feelings” (ungkapan spontan perasaan yang kuat), bukanlah berarti bahwa puisi dapat dianggap sebagai pelepas nafsu yang tak terkendali. Justru sebaliknya,“powerful feelings” bukanlah tujuan akhir puisi, melainkan sarana gambaran dan makna yang terkandung dalam gambaran itu menjadi lebih intensif olehnya dan dibawa kepada tujuan yang lebih luhur: yaitu mengungkapkan “the depth, and not the tumult of the soul” (kedalaman, bukan kegundahan jiwa). Bahwa perasaan dikendalikan daya imajinasi kita lihat juga dalam apa yang disebutStimmungslyriek (lirik suasana) oleh kaum romantik Jerman. Dalam Stimmungslyriek yang penting bukanlah gambaran visual atau isi kongkret melainkan suasana yang dibangkitkan.

C.    Struktur Puisi
Kenney in his book How to Analyze Fiction explains about it as follows: “To analyze a literary work is to identify the separate parts that make it up, to determine the relationship among the parts of the whole. The end of the analysis is always the understanding of the literary work as unified and complex whole” (Kenney, 1966: 5).
Adapun unsur-unsur pembangun puisi menurut Suminto A. Sayuti (2000) menyebutkan bahwa unsur-unsur yang terkandung dalam puisi meliputi bunyi dan aspek-aspeknya, diksi, citraan, bahasa kias, sarana retorik, wujud visual, dan makna puisi. Kinds of diction is classified to five groups, there are: connotative diction, denotative diction, concrete diction, associative diction, and imaginative diction (Kenney 1966:60-61,
Herman J. Waluyo (2010:27) berpendapat bahwa struktur fisik puisi terdiri dari baris-baris puisi yang bersama-sama membangun bait-bait puisi. Bait-bait itu membangun kesatuan makna di dalam keseluruhan puisi sebagai sebuah wacana. Struktur fisik merupakan medium pengungkap struktur batin puisi. Adapun unsur-unsur yang termasuk dalam struktur fisik puisi menurut Herman J. Waluyo adalah: diksi, pengimajian, kata konkret, majas (meliputii lambang dan kiasan), bersivikasi (meliputi rima, ritma, dan metum), tipografi, dan sarana retorika. Dengan demikian, ada tujuh macam unsur yang termasuk struktur fisik. Adapun struktur batin puisi terdiri atas tema, nada, perasaan, dan amanat.
Hakikat puisi terdiri dari empat hal pokok, yaitu:
1.      Sense (tema, arti)
Sense atau tema adalah pokok persoalan (subyek matter) yang dikemukakan oleh pengarang melalui puisinya. Pokok persoalan dikemukakan oleh pengarang baik secara langsung maupun secara tidak langsung (pembaca harus menebak atau mencari-cari, menafsirkan). Makna sebuah puisi dapat dipahami setelah membaca karya , arti tiap kata dan kiasan yang dipakai, juga memperhatikan unsur puisi lain yang mendukung makna (Wiyatmi, 2009: 73).
2.      Feeling (rasa)
Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisinya. Setiap penyair mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi suatu persoalan.
3.      Tone (nada)
Tone adalah sikap penyair terhadap pembaca atau penikmat karyanya pada umumnya. Terhadap pembaca, penyair bisa bersikap rendah hati, angkuh, persuatif, sugestif.
4.      Intention (tujuan)
Intention adalah tujuan penyair dalam menciptakan puisi tersebut. Walaupun kadang-kadang tujuan tersebut tidak disadari, semua orang pasti mempunyai tujuan dalam karyanya. Tujuan atau amanat ini bergantung pada pekerjaan, cita-cita, pandangan hidup, dan keyakinan yang dianut penyair
Untuk memberikan pengertian yang lebih memadai, berikut ini dikemukakan uraian mengenai unsur-unsur pembangun puisi tersebut.

1)      Diksi
Diksi atau pilihan kata mempunyai peranan penting dan utama untuk mencapai keefektifan dalam penulisan suatu karya sastra khususnya puisi. Untuk mencapai diksi yang baik seorang penulis harus memahami secara lebih baik masalah kata dan maknanya, harus tahu memperluas dan mengaktifkan kosa kata, harus mampu memilih kata yang tepat, kata yang sesuai dengan situasi yang dihadapinya, dan harus mengenali dengan baik macam corak gaya bahasa sesuai dengan tujuan penulisan.
Diksi merupakan esensi penulisan puisi yang merupakan faktor penentu kemampuan daya cipta. Penempatan kata-kata sangat penting artinya dalam rangka menumbuhkan suasana puitik yang akan membawa pembaca pada penikmatan dan pemahaman yang menyeluruh atau total (Suminto A. Sayuti, 2008:143-144).

2)      Pengimajian
Pengimajian ini berguna untuk memberi gambaran yang jelas, menimbulkan suasana khusus, membuat hidup gambaran dalam pikiran dan penginderaan, untuk menarik perhatian, untuk memberikan kesan mental atau bayangan visual penyair menggunakan gambaran-gambaran angan. Gambaran angan, gambaran pikiran, kesan mental, dan bahasa yang menggambarkannya biasa disebut dengan istilah citra atau imaji. Cara membentuk kesan mental atau gambaran sesuatu biasa disebut dengan istilah citraan (imagery). Hal-hal yang berkaitan dengan citra ataupun citraan disebut pencitraan atau pengimajian. Suminto A. Sayuti (2008:169-171) menjelaskan bahwa citraan adalah kata atau rangkaian kata yang mampu menggugah pengalaman keindahan atau menggugah indra dalam proses penikmatan (membaca dan mendengarkan).

3)      Kata Konkret
Kenney states that the analysis of diction leads to some consideration of denotations and connotations of word chosen by the author. A word denotation is simply its dictionary meaning; its connotations are the suggestions and associations arouse by it. A number of different words may have essentially the same denotations, while differing significantly in their connotations (Kenney, 1966: 60).
Kata konkret adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca. Penyair berusaha mengkonkretkan kata-kata, maksudnya kata-kata itu diupayakan dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh. Dalam hubungannya dengan pengimajian, kata konkret merupakan syarat atau sebab terjadinya pengimajian. A word’s denotation is simply its dictionary meaning (Kenney, 60-61).

4)      Bahasa Figuratif

In short, Poetry is choosing his words primarily for their connotations, for their suggestive power. His method is, in itself, as legitimate as Swift’s and as suited to the demands of his story and his temperament (Kenney, 1966: 62-63).

Bahasa figuratif atau style, is the author’s manner of using language. The best reason for being sensitive to style is that we enjoy it. We enjoy the illusion of action, vision, of thought that creates nd the author’s virtuosity with language (Stanton, Robert, 1965: 30). Gaya bahasa atau gaya adalah cara penyair menggunakan bahasa. Bahkan jika dua penulis adalah untuk menggunakan plot yang sama, karakter, dan pengaturan, hasilnya akan ada dua cerita berbeda karena gaya bahasa mereka berbeda dalam kompleksitas, irama, panjang kalimat, kehalusan, serta jumlah dan jenis gambar dan metafora.

Menurut Aminuddin (1990: 73), bahasa kias memiliki dimensi:

a)      Penutur sebagai penyampai gagasan melalui paparan bahasa,

b)      Satuan hubungan kata yang memiliki unsur dan relasi

c)      Satuan makna yang berkaitan dengan gagasan serta gambaran suasana tertentu,

d)     Relasi unit struktur bahasa kias dengan unsur lain dalam satuan teks,

e)      Nilai keindahan, dan

f)       Pembaca sebagai pemberi makna sejalan dengan gagasan yang disampaikan penulis serta efek keindahan yang dicapainya.

Bahasa figuratif oleh Herman J. Waluyo (2010: 96) disebut juga sebagai majas. Bahasa puisi dapat membuat puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa yang digunakan penyair untuk secara tidak langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasa kiasnya bermakna kias.Bahasa puisi dapat membuat puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna.
    Herman J. Waluyo (2010: 98-101) memberi pengertian mengenai gaya bahasa (kiasan). Gaya bahasa memiliki maksud yang lebih luas dengan tujuan untuk menciptakan efek lebih kaya, lebih efektif, dan lebih sugestif. Selain itu, Herman J. Waluyo membatasi bahasa figuratif pada:
1.    Metafora, metafora adalah kiasan langsung, artinya benda-benda yang dikiaskan tidak dosebutkan.
2.    Perbandingan, yaitu benda yang dikiaskan kedua-duanya ada bersama pengiasnya.
3.    Personifikasi, merupakan keadaan atau peristiwa alam yang dikiaskan sebagai keadaan atau peristiwa yang dialami oleh manusia. Benda mati dianggap sebagai manusia atau persona untuk memperjelas penggambaran dan peristiwa.
4.    Hiperbola, yaitu kiasan yang melebih-lebihkan. Penyair perlu melebih-lebihkan hal yang dibandingkan agar mendapatkan perhatian yang lebih seksama dari pembaca.
5.    Sinekdoke, adalah menyebutkan sebagian untuk maksud keseluruhan (pars pro toto) atau menyebutkan keseluruhan untuk sebagian (totem pro parte).
Ironi, yaitu kata-kata yang bersifat berlawanan untuk memberikan sindiran. Ironi dapat berubah menjadi sinisme dan sarkasme, yaitu penggunaan kata-kata yang keras dan kasar untuk menyindir atau mengkritik.
Bahasa figuratif menurut Rakhmat Djoko Pradopo (1997: 61-62) dipersamakan dengan bahasa kiasan. Bahasa figuratif dirumuskan sebagai bahasa yang menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup dan menimbulkan kejelasan gambaran angan. Gaya bahasa ialah cara menggunakan bahasa agar daya ungkap atau daya tarik atau sekaligus dua-duanya bertambah (Jakob Sumardjo dan Saini K.M., 1997: 127).
Kenney (1966: 64-65) menyebut bahasa Figuratif sebagai figurative Images atau kiasan figuratif. Simpulan pengertian bahasa figuratif adalah bahasa yang mempergunakan kata-kata yang susunan dan artinya sengaja disimpangkan dari susunan dan artinya, yang biasa dengan maksud untuk mendapatkan kekuatan ekspresi. Jakob Sumardjo dan Saini K.M. (1997: 127) menjelaskan bahwa gaya bahasa merupakan cara menggunakan bahasa agar daya ungkap atau daya tarik atau sekaligus kedua-duanya bertambah. Sadar akan hal itu, penyair tidak menyia-nyiakan dan menggunakan gaya bahasa dalam karyanya.
Rakhmat Djoko Pradopo (2002:62) menguraikan ada beberapa gaya bahasa atau majas yang sering muncul dalam puisi. Adapun beberapa majas tersebut antara lain :
a.       Perbandingan
Perbandingan atau perumpamaan atau simile, ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti: bagai, sebagai, bak, semisal, seumpama, laksana, sepantun, se, dan kata-kata pembanding yang lain.
b.      Metafora
Metafora adalah bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding, seperti bagai, laksana, seperti, dan sebagainya. Metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan yang lain yang sesungguhnya tidak sama. Metafora terdiri dari dua term atau dua bagian, yaitu term pokok (principal term) dan term kedua (secaondary term). Term pokok atau tenor menyebutkan hal yang dibandingkan sedangkan term kedua atau vehicle adalah hal yang untuk membandingkan, misalnya ‘bumi ‘adalah ‘perempuan jalang.’ ‘Bumi’ adalah term pokok, sedangkan ‘perempuan jalang’ term kedua atau vehicle. Metafora dapat diwujudkan dengan berbagai cara. selain kata benda, kata kerja pun dapat digunakan secara metoforik (Luxemburg, dkk., 1986: 188).
c.       Allegori
Allegori ialah cerita kiasan ataupun lukisan kisan. Cerita kiasan atau lukisan kisan ini mengiaskan hal lain atau kejadian lain. Allegori ini sesungguhnya metafora yang dilanjutkan. Misalnya “Menuju ke Laut”, sajak Sutan Takdir Alisjahbana. Sajak itu melambangkan angkatan baru yang berjuang ke arah kemajuan.
d.      Personifikasi
Kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir, dan sebagainya seperti manusia. Personifikasi ini banyak dipergunakan para penyir dari dahulu hingga sekarang. Personifikasi membuat hidup lukisan, disamping itu memberi kejelasan beberan, memberikan bayangan angan yang konkret.
e.       Metonimia
Metonimi ini dalam  bahasa Indonesia sring disebut kiasan pengganti nama. Bahasa ini berupa penggunan sebuah atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan dengannya untuk menggantikan objek tersebut. Metonimi yaitu sebuah gaya yang menunjukkan adanya pertautan atau pertalian. Pengertian yang satu dipergunakan untuk pengganti pengertian yang lain (Luxemburg, 1986: 189).

f.       Ironi
Ironi yaitu kata-kata yang bersifat berlawanan untuk memberikan sindiran. Ironi dapat berubah menjadi sinisme dan sarkasme, yaitu penggunaan kata-kata yang keras dan kasar untuk menyindir atau mengkritik. Ironi memungkinkan kita menemukan sesuatu kebalikan dari apa yang kita telah dituntun atau yang diharapkan (Stanton, 1965: 34).

5)      Versifikasi
Versifikasi meliputi ritma, rima, dan metrum. Secara umum, ritma dikenal sebagai irama, yakni pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Rima adalah pengulangan bunyi di dalam baris atau larik puisi, pada akhir baris puisi, atau bahkan juga pada keseluruhan baris dan bait puisi. Marjorie Boulton menyebut rima sebagai phonetic form. Jika fonetik itu berpadu dengan ritma, maka akan mampu mempertegas makna puisi. Rima ini meliputi onomatope (tiruan terhadap bunyi-bunyi), bentuk intern pola bunyi (misalnya: aliterasi, asonansi, persamaan akhir, peramaan awal, sajak berulng, sajak penuh), intonasi, repetisi bunyi atau kata, dan persamaan bunyi. Metrum adalah irama yang tetap, artinya pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu. Hal ini disebabkan oleh jumlah suku kata yang  tetap, tekanan yang tetap, dan alun suara menaik dan menurun yang tetap.

6)      Tipografi
Tipografi merupakan pembeda yang paling awal dapat dilihat dalam membedakan puisi dengan prosa fiksi dan drama. Dalam prosa (baik fiksi maupun bukan) baris-baris kata atau kalimat membentuk sebuah periodisitas. Namun, dalam puisi tidak demikian halnya. Baris-baris dalam puisi membentuk sebuah periodisitet yang disebut bait.
Tipografi sebagai aspek bentuk visual yang berupa tata hubungan, susunan baris, dan ukiran bentuk yang dipergunakan untuk mendapatkan bentuk yang menarik agar indah dipandang (Suminto A. Sayuti, 2008:329-330). Maksud penyusunan tipografi adalah untuk keindahan indrawi dan untuk mendukung pengedepanan makna, rasa, dan suasana puisi.

7)      Sarana Retorika
Dalam kaitannya dengan puisi, pada umumnya sarana retorika menimbulkan ketegangan puitis, karena pembaca harus memikirkan efek apa yang ditimbulkan dan dimaksud oleh penyairnya. Perasaan penyair ikut terekspresikan dalam puisi. Oleh karena itulah, suatu tema yang sama sering kali menghasilkan puisi yang berbeda, tergantung suasana perasaan penyair yang menciptakan puisi itu.
Dalam menulis puisi, penyair bisa bersikap menggurui, mengejek, menasihati, atau menyindir meski kadang sikap itu disamarkan melalui gaya bahasa dan sarana retorika yang dipakai dalam puisi. Amanat atau tujuan dalam puisi ialah hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya Amanat berbeda dengan tema.

D.    Menulis Puisi sebagai Proses Kreatif Karya Sastra
Jocson, Korina (2011: 156) seorang Guru besar pada Washington University menjelaskan bahwa “Poetry resonates with many individuals  in various context; its language exposes socialcrealities that are often steeped in the margins, especially for the young who are frequently attracted to reading and writing it because it is accessible to experimentation in way that prose is not”.
Selaras dengan pendapat Korina, Eagleton, Terry (1983: 20-21) berpendapat the ‘poetry’, then no longer refers simply to a technical mode of writing it has deep social, political, and philosophical implication and the sound of it the rulling class might quite literaaly reach for its gun. Literature has become a whole alternative ideology and the imagination it self as with a political force our contemporary ideas of the symbol and aesthetic experience of aesthetic harmony and the unique nature of the artefact.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat diambil intisari bahwa puisi tidak hanya mengacu pada teknik penulisan saja, melainkan interpretasi dan pengalaman estetis pengarang terhadap kondisi sosial masyarakat, politik dengan bahasa yang tajam tapi eksplisit dalam karya. Dengan demikian, Sastra telah menjadi ideologi alternatif  imajinasi  seperti halnya kekuatan politik sehingga pengajaran membaca dan menulis puisi dapat diajarkan  untuk mengekspos kemampuan interaksi sosial siswa.

Pembelajaran berpuisi dimaksudkan sebagai pembelajaran yang berkenaan dengan menulis puisi dan mempresentasikannya, dua hal yang tidak terpisahkan karena orientasi dari pembelajaran adalah kompetensi berpuisi. Jadi, konotasinya adalah kemampuan siswa dalam praktik, dengan penekanan pada aspek kinerjanya (Atit Suryati, 2011).
Melalui kegiatan menulis, sebuah gagasan akan dapat dinilai dengan mudah. Manfaat menulis yang lainnya adalah dapat memecahkan masalah dengan lebih mudah, memberi dorongan untuk belajar secara aktif, dan membiasakan diri berpikir dan berbahasa secara tertib. Mengingat kemampuan menulis merupakan sebuah keterampilan penting yang harus dikuasai oleh siswa, perlu adanya pembinaan dan pengembangan secara intensif dan berkesinambungan.
Menulis puisi merupakan salah satu bentuk menulis kreatif. Menulis puisi adalah suatu kegiatan intelektual, yakni kegiatan yang menuntut seseorang harus benar-benar cerdas, menguasai bahasa, luas wawasannya, dan peka perasaannya.
In the handbook for June Jordan's Poetry for the People, Jordan (in Williams, 1999: 38) writes that "poetry is not...a casual disquisition on the colors of the sky, a soporific daydream, or bumpersticker sloganeering." Yet, these are often the kinds of poems we get exposed to on the daily through countless greeting cards and light-rock radio, glossing over the black and white starkness of reality with pastel paint strokes.

Meski dalam pembelajaran sastra siswa telah mempelajari puisi yang rumit baik rima, irama, serta unsur kebahasaannya, untuk pembelajaran menulis puisi. Menurut Rahmanto, (dalam Keke T. Aritonang, 2009:32), puisi yang cocok sebagai model untuk latihan menulis, biasanya puisi yang berbentuk bebas dan sederhana, berisi hasil pengamatan yang berupa imbauan atau pernyataan. Puisi yang dituliskan oleh penyair merupakan tanggung jawabnya agar pembaca dapat membaca atau mengapresiasinya. Jika pembaca tidak memahami hasil pengimajian dalam bentuk puisi, hal itu adalah kesalahan penyair. Pendapat lain disebutkan oleh Modi, Mukesh, etc.( 2009: 81) bahwa It is a responsibility of poets to be reachable to the people in whose language they are writing. If any speaker of your language, by chance, happen to come across a poem by a poet and even after an attempt he does not understand it, let it be clear that the fault lies not with the reader but the writer.
Dalam kurikulum, pembelaran Penulisan Puisi termaktub dalam pelajaran bahasa nasional (Indonesia), seperti halnya yang disampaikan Holbrook, Sara dan Salinger, Michael (2006: 9).
An examination of state and national language arts standards reveals that oral communication benchmarks are set as early as the primary grades and continue right up to graduation requirements. Professional education libraries provide teachers with any number of books to support the teaching of reading and writing, but what about how to teach that mandated speech unit most language arts teachers find in the curriculum.

Pendapat serupa diungkapkan oleh Cronmiller (2007: 3) bahwa “The poetry curriculum introduces English instruction to El Sol’s third grade students by engaging their innate interest and ability in figurative, imaginative language. Modeled after university seminars in creative writing, poetry workshops  poetic work of cultural and historical significance and carefully guide the inspiration, drafting, writing and revision of their own original poetry”.
Robert Wrigley dari University of Idaho, dalam silabus pembelajrannya “Techniques of Poetry, Contemporary American Writers” memaparkan proses pembelajaran yang dilakukan dalam pembelajaran menulis puisi.
“Read a book per week in this class, al by living contemporary American poets. We will analyze and attempt to come to grips with 1) the poet’s voice and style—his or her individual poetic; 2) the shape of the book as a whole; 3) and, most subjectively perhaps, the quality of the book’s accomplishment. Students will do a great deal of writing in the course, often in the “style” or the borrowed voice of the poet under discussion, and sometimes in a critical way, in analytical prose. All students must submit, at the term’s end, a “project” consisting of a short, chapbook- length collection of original poems written as part of the course’s assignments, and accompanied by an introduction explaining the processes—the problems and challenges, the satisfactions—of its assemblage. Each student will be responsible for leading a class discussion of the week’s assigned title (Wrigley, Robert. 2010: 1-2).
Berdasarkan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator, ada dua tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran menulis puisi, yaitu tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus.
1)      Tujuan Pembelajaran Umum:
a)      Siswa mampu mendata objek yang terdapat dalam gambar peristiwa
b)      Siswa mampu menulis puisi berdasarkan gambar peristiwa dengan menggunakan pilihan kata yang tepat
c)      Siswa mampu menyunting sendiri pilihan kata puisi yang ditulis

2)      Tujuan Pembelajaran Khusus:
a)      Siswa mampu menentukan data objek yang terdapat dalam gambar peristiwa untuk dijadikan puisi.
b)      Siswa mampu mengubah data objek yang terdapat dalam gambar peristiwa menjadi sebuah puisi dengan memperhatikan sistematika, kekhasan bahasa, dan unsur-unsur puisi.
c)      Siswa mampu menyunting sendiri puisi berdasarkan gambar peristiwa dengan pilihan kata yang sesuai.
Indikator keberhasilan pelaksanaan pembelajaran difokuskan pada dua aspek, yakni aspek proses dan aspek hasil. Aspek proses ditujukan pada aktivitas proses pembelajaran yangdilakukan guru dan siswa. Pada aspek proses, hal yang diperhatikan adalah keaktifan, kerjasama, dan kreativitas. Penentuan pada aspek hasil ditekankan pada hasil yang diperoleh siswa dalam menulis puisi, penilaiannya meliputi empat komponen, yaitu isi, tipografi, pengimajinasian, dan keontetikan (Budi Prasetyo, 2007: 60).
Evaluasi terhadap keberhasilan pelaksanaan tindakan dilakukan dengan menggunakan tes, observasi dan angket. Tes digunakan untuk mengungkap keterampilan siswa dalam menulis, dan observasi digu­nakan untuk mengungkap motivasi, perhatian dan keaktifan terhadap pembelajaran menulis (Suyatinah, 2005: 416).

DAFTAR PUSTAKA
Agus Suriamiharja, Akhlah Husen, Nunuy Nurjanah. 1997. Petunjuk Praktis Menulis.   Bandung: Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni  Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan  B a n d u n g
Aminuddin. 1990. “Pendekatan Tekstual dalam Analisis Bahasa Kias Puisi”. dalam Sekitar Masalah Sastra. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh
Atar Semi. 2007. Dasar-dasar Keterampilan Menulis. Bandung: Angkasa.
Atit Suryati. 2011. “Implementasi Pendekatan Kontekstual untuk Meningkatkan Kemampuan Kreativitas Siswa”. Educare: Jurnal Pendidikan dan Budaya. http://educare.e-fkipunla.net diakses 6 Juli 2011.
Budi Prasetyo, 2007. “Peningkatan Pembelajaran Menulis Puisi dengan Strategi Pikir Plus”. Jurnal pendidikan Inovatif, volume 2, No.2, Maret 2007
Campbel Slann, Joanna. 2011. “Journaling With More Speed and Ease”. Part III: Pre-writing The Key to Faster and More Satisfying Journaling. http://www.creative-writing-now.com/definition-of-poetry.html
Cithara, John Mlryan. 2011. “The Epigrams of Sir John Harington”. Proquest Journal Sociology. Proquest.com diakses 20 Juni 2011.
Cronmiller, Sue. 2007. “Essential Poetry: Activating the Imagination in the Elementary Classroom”, Journal for Learning through the Arts: A Research Journal on Arts Integration in Schools and Communities: Vol. 3: No. 1, Article 7. http://repositories.cdlib.org/clta/lta/vol3/iss1/art7
Eagleton, Terry. 1983. Literary Theory, an Introduction. Oxford UK and Cambridge USA: Blackwell
Easterling, Stuart . 2011. Gender and Poetry Writing in the Light of Mexico’s Liberal Victory, 1867–ca. 1890 Mexican Studies/Estudios Mexicanos Vol. 27, Issue 1, Winter 2011, pages 97–142
Herman J. Waluyo. 2010. Pengkajian dan Apresiasi Puisi. Salatiga: Widyasari.
Jakob Sumardjo dan Saini K.M. 1997. Apresiasi Kesustraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Jaya.
Jocson, Korina. 2011. “Poetry in a New Race Era”. Daedalus; proquest Agriculture Journals.2011; 140,1
Keke T. Aritonang. 2009. “Pembelajaran Menulis Puisi Bebas Berdasarkan Gambar Berbagai Peristiwa yang Terdapat dalam Surat Kabar”. Jurnal Pendidikan Penabur - No.12/Tahun ke-8/Juni 2009
Kenney, William. 1966. How to Analyze Fiction. New York: Monarch Press.
Luxemburg, Mieke Bal, W.G. Weststeijn.  1986. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia
Modi, Mukesh, D. M. Patel Arts and S. S. Patel. 2009. “Contemporary Gujarati Poetry: For Whom Are They Writing? Journal. Rupkatha Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities. Summer Issue, Volume I, Number 1, 2009. URL of the journal: www.rupkatha.com/issue0109.php
Nurudin. 2007. Dasar-dasar Penulisan. Malang: UMM Press.
Rakhmat Djoko Pradopo. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Retno Winarni. 2009. Kajian Sastra.  Salatiga: Widya Sari Press.
Stanton, Robert. 1965. An Introduction to Fiction. New York: Holt, Rinehart and Watson, Inc.
Suminto A. Sayuti. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media
Suminto A. Sayuti. 2008. Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Gama Media
Suyatinah . 2005. “Peningkatan Keefektifan Pembelajaran Menulis di Kelas II Sekolah Dasar”. Jurnal. Cakrawala Pendidikan, November 2005, Th. XXIV, No. 3
Williams, Saul. 1999. Spills Words On The Hip-Hop Generation: United Tongue. Wang, OliverColorlines. Oakland: Summer 1999. Vol. 2, Edisi 2; pg. 38. http://proquest.umi.com/pqdweb?index=5&did=494717291&SrchMode=1&sid=2&Fmt=3&VInst=PROD&VType=PQD&RQT=309&VName=PQD&TS=1309962547&clientId=97884 diakses 6 Juli 2011
Wiyatmi. 2009.Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
Wrigley, Robert. 2010. Techniques of Poetry, Contemporary American Writers. Syllabus. University of Idaho

Artikel: ANALISIS WACANA KRITIS IKLAN ROKOK SAMPOERNA MILD EDISI “TANYA KENAPA?”

ANALISIS WACANA KRITIS IKLAN ROKOK SAMPOERNA MILD EDISI “TANYA KENAPA?”
Andri Wicaksono
Abstract
Secara ringkas, penelitian ini akan memaparkan bentuk pilihan kata dalam wacana iklan berbahasa Indonesia dalam iklan rokok A Mild edisi ‘Tanya Kenapa?’ dan makna acuan yang terdapat dalam pilihan kata wacana iklan berbahasa Indonesia dalam iklan rokok A Mild edisi ‘Tanya Kenapa?’.
Pendekatan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sasaran atau objek penelitian ini berupa penggalan wacana yang diambil dari wacana yang berupa wacana tulis dalam iklan. Sumber data dalam penelitian ini adalah wacana tulis dan konteks dalam iklan rokok A Mild edisi ‘Tanya Kenapa’. Metode simak merupakan cara pengumpulan data dengan menyimak penggunaan bahasa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan A-Mild memperlihatkan suatu fenomena bahwa makna itu sudah mati karena iklan A-Mild menawarkan interpretasi yang sangat terbuka bagi siapa saja yang akan menikmatinya. Makna pada sajian gambar dan teks iklan A-Mild tidak memiliki ikatan-ikatan yang ideologis, stabil dan mapan, bahkan ironis. 

Kata kunci: wacana, iklan, A Mild ‘Tanya Kenapa?”

A. PENDAHULUAN
Iklan selalu hidup dan berada kapan saja dan di mana saja dalam kehidupan kita. Iklan dirancang sebagai headline yang memenuhi halaman depan surat kabar yang terbit secara berkala. Benyamin Franklin adalah orang pertama yang memperkaya informasi iklan dengan menambah ilustrasi sehingga efek iklan semakin kuat (Ferry Darmawan, 2006: 103-114). Di Indonesia, pada masa perkembangannya, bentuk iklan ber-sandar pada bahasa verbal yang tertulis dan tercetak. 
Iklan memerlukan tampilan yang dikemas dengan bahasa membumi, kontekstual, dan ‘gaul’. Kondisi ini yang menye-babkan ada keprihatinan pada banyak kalangan. Ada yang berpendapat bahwa bahasa iklan tidak mesti sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi belum ada kriteria bagaimana sebaiknya bahasa iklan tersebut. 
Pengembangan laras bahasa iklan menjadi daya tarik untuk tujuan ekonomi dalam ranah advertising. Selain itu, diharapkan melalui penelaahan yang mendalam eksistensi bahasa iklan memberikan informasi yang positif yang dapat mengubah pola pikir, sikap, dan perilaku yang dapat menyadarkan masyarakat untuk dapat memilah mana yang diperlukan sehing-ga tidak berperilaku konsumtif. Dengan kata lain, melalui pilihan kata yang tepat diharapkan iklan dapat memberi pembelajaran yang positif pada berbagai kalangan masyarakat Indonesia untuk malu melakukan sesuatu perbuatan, pekerjaan, kebi-asaan, dan tingkah laku yang kurang baik. Melalui sindiran, ejekan yang bersifat sarkasme dan sinisme mampu mengungkapkan kondisi sosial, budaya, politik, dan lain-lain. Seperti kita ketahui bahwa iklan-iklan seri tersebut selalu berisi kritik sosial. Dalam konteks ini, iklan rokok A-Mild mengusung brand rokok yang cerdas dan kritis terhadap kondisi masyarakat. Iklan A-mild ini unik sekaligus menghibur.
Secara ringkas, penelitian ini akan memaparkan pilihan kata yang digunakan dalam bahasa iklan. Diharapkan melalui penelaahan lebih lanjut dapat ditentukan pola pilihan kata dalam wacana iklan berbahasa Indonesia seperti apa yang dapat menarik perhatian konsumen yang diungkapkan dalam bentuk yang singkat, diketahui makna acuan apa saja yang terkandung dalam wacana iklan berbahasa Indonesi. Penelitian ini adalan kajian singkat terhadap iklan berbahasa Indonesia. 
Pengambilan data dari media cetak dan audiovisual. Data media tulis, dari surat kabar, spanduk, baliho, papan reklame, sedangkan data dari media elektronik penulis ambil dari iklan. Data dipilih secara acak sesuai dengan trend masyarakat. Data dan analisisnya masih sangat sederhana sehingga temuannya pun boleh jadi baru bersifat hipotetis. Kajian lebih lanjut dengan data yang lebih memadai, dengan kedalaman analisis yang lebih baik tentu akan dapat menjelaskan temuan dalam penelitian ini. Berdasarkan paparan di atas, timbul pertanyaan: bagaimana bentuk pilihan kata dalam wacana iklan berbahasa Indonesia dalam iklan rokok A Mild edisi ‘Tanya Kenapa’?; dan makna acuan apa saja yang terdapat dalam pilihan kata wacana iklan berbahasa Indonesia dalam iklan rokok A Mild edisi ‘Tanya Kenapa’? 

B. KAJIAN TEORI
1.      Analisis Wacana Kritis
Menurut Douglas dalam Mulyana (2005: 3), istilah wacana berasal dari bahasa Sansekerta wac/wak/vak, yang artinya berkata, berucap. Kata tersebut kemudian mengalami perubahan bentuk menjadi wacana.  Jadi, wacana adalah unit linguistik yang lebih besar dari kalimat atau klausa. Menurut Kamus Linguistik Dewan Bahasa dan Pustaka (1997) dalam Tengku Silvana Sinar (2008: 5), wacana diterjemahkan sebagai discourse yaitu unit bahasa yang lengkap dan tertinggi yang terdiri daripada deretan kata atau kalimat, sama ada dalam bentuk lisan atau tulisan, yang dijadikan bahan analisis linguistik. Kata wacana berasal dari kata vacana ‘bacaan’ dalam bahasa Sansekerta. Kata vacana itu kemudian masuk ke dalam bahasa Jawa Kuna dan bahasa Jawa Baru wacana atau vacana atau’ bicara, kata, ucapan’. Kata wacana dalam bahasa baru itu kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi wacana ‘ucapan, percakapan, kuliah’ (Poerwadarminta 1976: 1144). Kata wacana dalam bahasa indonesia dipakai sebagai padanan (terjemahan) kata discourse dalam bahasa inggris. Secara etimologis kata discourse itu berasal dari bahasa latin discursus ‘lari kian kemari’. Kata discourse itu diturunkan dari kata discurrere. Bentuk discurrere itu merupakan gabungan dari dis dan currere ‘lari, berjalan kencang’ (Wabster dalam Baryadi 2002:1). Wacana atau discourse kemudian diangkat sebagai istilah linguistik. Dalam linguistik, wacana dimengerti sebagai satuan lingual (linguistic unit) yang berada di atas tataran kalimat (Baryadi 2002:2). 
Secara garis besar, dapat disimpulkan pengertian wacana adalah satuan bahasa terlengkap daripada fonem, morfem, kata, klausa, kalimat dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis ini dapat berupa ucapan lisan dan dapat juga berupa tulisan, tetapi persyaratanya harus dalam satu rangkaian dan dibentuk oleh lebih dari sebuah kalimat.
Istilah analisis wacana adalah istilah umum yang dipakai di dalam berbagai disiplin ilmu dengan berbagai pengertian.Titik singgung analisis wacana adalah studi yang berhubungan dengan pemakaian bahasa. Menurut A.S Hikam dalam Eriyanto (2001: 4) ada tiga paradigma analisis wacana dalam melihat bahasa. Pertama, pandangan positivisme-empiris; kedua, pandangan konstruktivisme; dan ketiga pandangan kritis. 
Analisis wacana kritis menyediakan teori dan metode yang bisa digunakan untuk melakukan kajian empiris tentang hubungan-hubungan antara wacana dan perkembangan sosial dan kultural dalam domain-domain sosial yang berbeda (Jorgensen dan Philips, 2007: 114). Tujuan analisis wacana kritis adalah menjelaskan dimensi linguistik kewacanaan fenomena sosial dan kultural dan proses perubahan dalam modernitas terkini (Jorgensen dan Philips, 2007: 116). 
Dengan demikian, analisis wacana kritis merupakan teori untuk melakukan kajian empiris tentang hubungan-hubungan antara wacana dan perkembangan sosial budaya. Untuk menganalisis wacana, yang salah satunya bisa dilihat dalam area linguistik dengan memperhatikan kalimat-kalimat yang terdapat dalam teks (novel) bisa menggunakan teori analisis wacana kritis. Teori analisis wacana kritis memiliki beberapa karakteristik dan pendekatan. 
Wacana memiliki dua unsur utama, yaitu unsur dalam (internal) dan unsur luar (eksternal). Unsur internal wacana berkaitan dengan aspek formal kebahasaan, sedangkan unsur eksternal wacana berkaitan dengan unsur luar bahasa, seperti latar belakang budaya pengguna bahasa tersebut. Kedua unsur itu membentuk suatu kepaduan dalam satu struktur yang utuh dan lengkap (Paina, 2010: 53).
Unsur internal wacana terdiri atas satuan kata atau kalimat. Yang dimaksud satuan kata ialah tuturan yang berwujud satu kata. Untuk menjadi susunan wacana yang lebih besar, satuan kata atau kalimat tersebut akan bertalian dan bergabung (Mulyana, 2005 : 9). Unsur eksternal wacana adalah sesuatu yang juga merupakan bagian wacana, tetapi tidak eksplisit, sesuatu yang berada di luar satuan lingual wacana.
Konteks adalah sesuatu yang menjadi sarana untuk memperjelas suatu maksud. Sarana yang dimaksud ialah bagian ekspresi yang mendukung kejelasan maksud dan situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian. Konteks yang berupa bagian ekspresi yang dapat memperjelas maksud disebut ko-teks (co-text). Konteks yang berupa situasi yang berhubungan dengan kejadian lazim disebut konteks (context) (Rustono, 1999 : 20). 
Konteks wacana dibentuk oleh berbagai unsur, yaitu situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode, saluran (Hasan Alwi 1998: 421). Konteks wacana meliputi:
a.       konteks fisis (physical context) yang meliputi tempat terjadinya pemakaian bahasa pada suatu komunitas, objek yang disajikan dalam peristiwa komunikasi itu dan tindakan atau perilaku dari pada peran dalam peristiwa komunikasi itu.
b.      konteks epistemis (epistemic context) atau latar belakang pengetahuan yang sama-sama diketahui oleh para pembicara maupun pendengar.
c.       Konteks linguistik (linguistic context) yang terdiri atas kalimat-kalimat atau tuturan-tuturan yang mendahului satu kalimat atau tuturan tertentu dalam peristiwa komunikasi.
d.      Konteks sosial (social context) yaitu relasi sosial dan latar setting yang melengkapi hubungan antara pembicara (penutur) dengan pendengar (mitra tutur).
2.      Iklan 
Informasi melalui iklan dinilai berpengaruh langsung maupun taklangsung terhadap persepsi, pema-haman, dan tingkah laku masyarakat (Ferry Darmawan, 2006). 
Kata iklan didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berita pesanan untuk mendorong, membujuk kepada khalayak ramai tentang benda dan jasa yang ditawarkan; iklan dapat pula berarti pemberitahuan kepada khalayak ramai mengenai barang atau jasa yang dijual, dipasang didalam media massa seperti surat kabar dan majalah (KBBI, 2008: 322).
Fenomena-fenomena sosial-budaya seperti fashion, makanan, furniture, arsitektur, pariwisata, mobil, barang-barang konsumer, seni, desain dan iklan dapat dipahami berdasarkan model bahasa (Yasraf Amir Piliang, 1995: 27). Menurut ancangan semiotik apabila keseluruhan praktek sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, maka semuanya juga dapat dianggap sebagai "tanda-tanda" (signs).
Studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. Pragmatik merupakan tataran yang ikut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa.  Yule (1996:3) menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (a) bidang yang mengkaji makna pembicara; (b) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (c) bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasi-kan oleh pembicara; (d) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Thomas (1995:2) memandang pragmatik dari dua sudut pandang, (1) sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara speaker meaning; (2) sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran utterance interpretation. Ujaran yang bertujuan mendeskripsi-kan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran, benar-salah (truth condi-tion) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Asim Gunarwan, 2004: 8). 
Leech (1993:162) membagi tindak ilokusi dalam empat kategori, yaitu kompetitif, tujuan ilokusi bersaing dengan tujuan sosial, misalnya: 
a.       memerintah, meminta, menuntut, dan mengemis; 
b.      menyenangkan, tujuan ilokusi sejalan dengan tujuan sosial, misalnya menawarkan, mengajak/mengundang, menyapa, mengucapkan terima kasih, dan mengucapkan selamat; 
c.       bekerja sama, tujuan ilokusi tidak menghiraukan tujuan sosial, misalnya menyatakan, melapor, mengumumkan, dan mengajarkan; 
d.      bertentangan, tujuan ilokusi bertentangan dengan tujuan sosial, misalnya mengancam, menuduh, menyumpahi, dan memarahi.

C. METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sasaran atau objek penelitian ini berupa penggalan wacana yang diambil dari wacana yang berupa wacana tulis dalam iklan. Sumber data dalam penelitian ini adalah wacana tulis dan konteks dalam iklan rokok A Mild edisi ‘Tanya Kenapa’. Pemilihan wacana dalam iklan rokok A Mild edisi ‘Tanya Kenapa’ sebagai sumber data dalam penelitian dengan pertimbangan, yaitu Indonesia di banjiri oleh beragam bentuk iklan rokok A-Mild. Metode simak merupakan cara pengumpulan data dengan menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993: 133). 
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode agih, yaitu metode yang alat penentunya merupakan bagian dari bahasa yang bersangkutan, yaitu berupa wacana tulis yang dibentuk dengan menggunakan bahasa. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik bagi unsur langsung yaitu cara yang digunakan pada awal kerja analisis dengan membagi satuan lingual data menjadi beberapa bagian atau unsur, dan unsur-unsur yang bersangkutan dipandang sebagai bagian yang langsung membentuk satuan lingual yang dimaksud (Sudaryanto 1993: 31).

IV. PEMBAHASAN
A Mild merupakan produk rokok keluaran sampoerna yang mempunyai pangsa pasar besar di Indonesia khususnya konsumen para remaja ,banyak dari mereka menginginkan produk rokok dengan kadar nikotin rendah serta kemasan menarik tanpa mengurangi rasa kenikmatan itulah kesan yang ingin ditonjolkan dari produk rokok A Mild sehingga menjadi icon rokok mild di Indonesia Kompetisi persaingan semakin ketat antara perusahaan rokok dalam berebut pangsa pasar rokok mild baik dari segi rasa, kemasan serta iklannya dibuat semenarik mungkin. 
Sampoerna tidak hanya bergerak di bidang rokok saja tetapi sudah bergerak dalam bisnis sponsor, tujuannya untuk mengenalkan produk di international serta untuk memperluas pasar, serta ada tujuan lain yang berkaitan dengan kasino, lain di Indonesia melalui produk mildnya sampoerna cukup dengan mempertahan kan image produk A Mild dalam benak konsumen melalui iklannya, seperti yang dapat kita lihat iklannya sekarang ini, iklannya tidak lagi gencar membujuk konsumen untuk membeli produknya tetapi cenderung hanya mengingatkan produknya kepada konsumen tentunya dengan kata-kata yang mudah diingat konsumen khususnya para perokok setia A mild, pokoknya kalau merokok harus A mild, kalau konsumen sudah begitu produk mild yang lain susah untuk menggeser posisi produk A mild pada konsumen.
Iklan A Mild telah membuka kemungkinan multi-interpretasi dengan sangat terbuka. Teks tersebut, iklan A Mild menekankan pada ketidakstabilan makna-makna. Berbeda dengan tanda lampu lalu-lintas yang memiliki makna ideologis yang mapan, tanda-tanda post-modern digunakan secara ironis, bahkan cenderung anarkis dan "tak bertanggung-jawab". Masyarakat konsumer saat ini justru senang bermain-main dengan tanda dan "makna" yang ironis cenderung dibeli ketimbang nilai utilitas (nilai guna). Sebuah iklan A Mild ternyata tidak semata-mata mempunyai fungsi untuk mendorong, membujuk kepada khalayak ramai tentang benda dan jasa yang ditawarkan. Iklan rokok A Mild tidak hanya mempunyai "nilai-guna sebuah iklan" saja, melainkan iklan ini menghadirkan sebuah perspektif dari fragmen-fragmen, dari suara-suara, dari teks-teks lain, kode-kode lain. Tampilan iklan A Mild bukanlah sebuah produk yang dihasilkan melalui suatu aturan atau kode yang kaku dan bukan model yang tunggal.
Dengan mengacu pada interpretasi saja, iklan A Mild memiliki arti yang beragam dan membawa pesan-pesan filosofis. Iklan A Mild tidak hanya bermakna tunggal atau pesan pengarang, melainkan sebuah ruang multidimensional yang didalamnya bercampur aduk dan berinteraksi berbagai macam tulisan dan tidak satu pun diantaranya orisinil. Teks adalah sebuah jaringan kutipan-kutipan yang diambil dari berbagai pusat nilai budaya yang tak terhitung jumlahnya. 
Dalam suatu dimensi kebangsaan, iklan tersebut mempertunjukan bagaimana suatu teks post-modern bersikap. Iklan-iklan tersebut tidak berbicara pada nilai utilitas sebagai suatu iklan yang mengundang masyarakat untuk membeli produk rokoknya yang meluas dan menembus pada dimensi-dimensi politik, kebangsaan, persatuan dan kesatuan bangsa. Pesan tersebut mudah ditemukan dan terlihat di mana-mana. Pesan tersebut merupakan bentuk pemasaran iklan yang dibuat oleh salah satu merek dari produk rokok terkenal, A Mild. Redaksi pesan tersebut hanyalah salah satu dari sekian banyak pesan yang disampaikan oleh A Mild. Sebut saja yang lainnya, “Jalan Pintas Dianggap Pantas”, “Gali Lubang Tutup Lupa”, “Kalo Masih Banyak Celah Kenapa Harus Nyerah”, “Terus Terang, Terang Ga Bisa Terus-terusan”, “Mau Pintar Ko’ Mahal?”, “Susah Ngeliat Orang Seneng, Seneng Ngeliat Orang Susah” atau pesan berbau religius ketika di bulan Ramadhan, seperti “Ngobrol Jangan Cuma Setahun Sekali!” atau “Malu Sama Yang di Atas!” yang semua itu diakhiri dengan kalimat, “Tanya Kenapa?”
Jika iklan A Mild dibaca, resapi, dan pahami, pesan-pesan tersebut merupakan bentuk kritik moral terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah ataupun kepada sikap manusia sehari-hari. Pesan-pesan yang ringan, santai dan tidak menggurui tetapi memiliki makna yang tajam dan mendalam. Tajam karena bersifat menggugat sesuatu yang umum terjadi atau sering dilakukan, justru merupakan sikap yang harus diubah. Redaksional iklan A Mild berarti mendalam karena sangat menyadarkan hati dan pikiran dan dengan perkataan akhir “Tanya Kenapa(?)” akan menjadikan orang yang membaca berintropeksi diri dan terbuka hati nurani.
Dalam iklan A mild Tanya kenapa versi banjir, dalam iklan itu terdapat teks kalimat “tenang-tenang banjir segera tiba” dengan visualisasi orang berseragam pemerintah hanya melambaikan tangan seakan-akan merepresentasikan kurang pedulinya orang-orang di pemerintahan dalam mengatasi masalah banjir di negara ini.

A.    Iklan A Mild dengan tema Tanya Kenapa? Versi “Siang Dipendam Malam Balas Dendam” 
 “Siang dipendam malam balas dendam”. Demikian wacana iklan yang tertulis di sebuah media iklan. Iklan ini sungguh menarik. Tulisan berada di atas, di bawahnya tergambar sejumlah mangkuk, piring, gelas yang terbuat dari kaca tampak kosong. Tapi itu saat saya melintasinya di siang hari. Waktu malam harinya saya kembali melewati media iklan tersebut, tampak berbagai mangkuk dan piring tersebut penuh dengan berbagai makanan yang menggiurkan. Teknik iklan seperti itu dimungkinkan dengan penggunaan dua poster dalam satu iklan tersebut. Dimana poster yang berisi makanan berada di dalamnya akan menampilkan makanan apabila tersorot oleh lampu neon dari dalam. Ketika siang hari, dimana intensitas cahaya matahari tinggi, dan otomatis lampu neon di dalam iklan tersebut dimatikan, poster yang akan tampil adalah poster luar dimana yang ditampilkan hanyalah piring-piring kosong saja. Teknik untuk membuat poster iklan A-mild yang kreatif tersebut dapat diasosiasikan pesan yang tertulis itu dengan suasana puasa ramadhan yang menyindir umat muslim yang sedang berpuasa di siang hari, tapi sering malah berpesta pora di malam harinya, dengan alasan balas dendam. Masyarakat diharapkan menemukan jalan hakikat puasa dan bukan menyerang dan merusak perusahaan iklan yang terkait.
Iklan-iklan dari perusahaan yang terkait dengan iklan itu selalu menarik. Iklan dari rokok yang mengusung bendera “bukan basa-basi” dan “tanya kenapa” ini sejak dahulu tampil konsisten dengan tagline yang tajam menyindir dan mudah diasosiasikan oleh pembaca iklannya. Entah berapa persentase pembaca iklan yang terpengaruh oleh iklan ini dan berapa pula yang terkonversi menjadi pembeli bahkan menjadi customer loyal seperti halnya saya.
Iklan ini diasosiasikan dengan Sampoerna A Mild, salah satu varian produk dari HM Sampoerna Tbk, perusahaan rokok dari Surabaya yang kini telah dimiliki oleh Philip Morris International. Awal 2000-an, rokok ini harganya masih di kisaran seribu rupiah dan kini telah berlipat lebih dari sepuluh kalinya. Cukainya pun senilai 40 persen. Tinggal hitung saja berapa rupiah yang sudah disisihkan ke negara. 
Bagi perusahaan rokok yang kian lama kian dimusuhi oleh publik, penampilan iklan semacam yang ditampilkan Sampoerna A Mild ini secara konsisten sejak bertahun-tahun yang lalu dan hingga sekarang saat berganti kepemilikan pun, akan tampil menyegarkan dan cerdas. Ketika iklan rokok tidak boleh tampil di publik lagi, orang akan senantiasa ingat akan iklan itu. Orang akan senantiasa ingat bahwa masih ada segelintir orang cerdas dan kreatif yang senantiasa mengingatkan rakyat negerinya bahwa kita sering berperilaku keliru. Berbeda dengan produk rokok lain, yang lebih menonjolkan keperkasaan, kegantengan, bahkan sebagai gaya hidup. 
“Siang dipendam malam balas dendam”. Sindiran tagline ini sebenarnya tidak saja bagi pelaku puasa yang belum menemukan jalan hakekat puasa. Sindiran ini juga berlaku bagi masyarakat kita yang banyak berperilaku dua topeng. Saat bertemu muka berbaik muka. Saat tak ada di muka, kita lebih suka mengomel di belakang, bahkan mengambil jalan hitam yang culas, jahat dan penuh aroma balas dendam.
Pandangan masyarakat tidak tentu positif, ada saja yang menganggap iklan itu sangat tidak etis dan menyudutkan umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Dalam membaca iklan itu harus secara komplit bahwa di iklan itu ditulis Siang Dipendam Malam Balas Dendam, Tanya Kenapa ? ini yang sering kali kata-kata "Tanya Kenapa" atau "Bukan Basa Basi" tidak dibaca sebagai satu kesatuan. Maksud iklan itu justru kalau kita mau jujur berkata pada diri sendiri bahwa dalam menjalankan ibadah dibulan puasa apa mengerti arti dari nilai-nilai ramadhan atau hanya ikut-ikutan saja. Nilai-nilai ramadhan itu adalah Kesederhanaan, Berbagi dan Kumpul dengan keluarga. Kalau diperhatikan, “Siang Dipendam Malam Balas Dendam” bahkan menjadi fenomena berbuka puasa. Di tempat-tempat tertentu pada saat berbuka puasa justru ramai dan menimbulkan biaya yang tinggi sehingga nilai kesederhanaan malah tidak tampak di bulan ramadhan. Intinya Inilah cermin masyarakat. Tanya Kenapa ? Jika masyakarat mengamati iklan-iklan A Mild selalu mengandung kata-kata dan selalu mempunya arti "bersayap" dan selalu menyadarkan orang bahwa ada nilai di balik iklan itu sendiri. Iklan tersebut tidak ada maksud untuk mendiskreditkan agama Islam" .

B.     Iklan A Mild dengan tema Tanya Kenapa? Versi “Gampang kok di bikin susah”.
Dalam versi tersebut, di ceritakan ada seorang warga yang datang ke kantor kecamatan untuk mengurus administrasi. Ketika dia bertemu dengan staf kantor tersebut paras muka sang staf tersebut menunjukkan ekspresi yang tidak ramah, dan warga tersebut menyodorkan berkas administrasi untuk di sahkan. Namun yang terjadi adalah staf tersebut tidak langsung melayani permohonan tersebut, tetapi malah menunda dengan alasan yang tidak jelas, sehingga karena terlalu lama menunggu sampai-sampai warga tersebut tertidur. Di gambarkan staf kantor kecamatan melakukan kegiatan yang memperlambat proses administrasi tersebut, seperti makan, minum, baca koran, sampai di tinggal tidur. Padahal hanya dengan memberikan stempel, proses tersebut tidak memakan waktu yang lama, mungkin hanya beberapa menit saja proses tersebut dapat terselesaikan.
Dalam proses penyampaian pesan pada iklan tersebut tedapat hal yang unik dan menarik. Dalam memasarkan produknya iklan rokok tersebut menggunakan pesan yang tidak biasanya digunakan oleh iklan-iklan rokok yang lain. Jika biasanya iklan rokok identik dengan petualangan, sosok seorang lelaki perkasa, dan hal-hal yang meningkatkan adrenalin. Iklan rokok A Mild menggunakan pesan yang mengkritisi realitas sosial dalam masyarakat. Hal ini sesuai dengan salah satu dari tujuh tradisi dalam Teori Komunikasi, yaitu tradisi kritis. Dalam tradisi tersebut dikemukakan bahwa pesan-pesan yang disampaikan cenderung berkaitan dengan ideologi, dialektika, penindasan, kebangkitan kesadaran, resistansi, dan emansipasi.
Iklan A mild Tanya kenapa versi permohonan setempel dengan visualisasi orang sampai ketiduran sewaktu meminta stempel serta tingkah yang konyol dilakukan oleh pemberi setempel iklan ini merepresentasikan masyarakat yang tidak berdaya dan otoritas orang yang mempunyai wewenang dengan tingkah laku seenaknya pada pemohon stempel. Betapa susahnya untuk meminta setempel dengan birokrasinya yang dipersulit “harusnya gampang di bikin susah” yang sering terjadi dinegara ini. Jika orang kaya atau orang yang mempunyai kekuasaan meminta setempel harusnya susah malah dibikin gampang. Untuk pengucapan slogan “Tanya kenapa?” suara narator, pengucapannya diganti dengan tanyaken kenapa kata ‘ken’ ini merupakan tanda bahasa yang dapat menimbulkan makna mengingatkan kita pada jaman orde baru mantan Presiden Soeharto dalam pengucapannya sering mengganti morfem atau suku kata ‘kan’ menjadi ‘ken’ sebagai bentuk alih kdoe ke ragam fonem bahasa Belanda. Dari situ dapat dilihat bahwa iklan A Mild versi Tanya kenapa merepresentasikan mengenai masih adanya kebiasaan-kebiasan di jaman orde baru, menginterpretasi realitas dimana sampai saat ini belum ada perubahan di dalam birokrasi pemerintahan. Sungguh ide luar biasa yang diciptakan pada iklan A Mild untuk sebuah iklan kreatif dan unik.
Pesan yang sangat dominan pada iklan A Mild versi “Gampang kok di bikin susah” tersebut ialah tentang penindasan dan dominasi kekuasaan. Penindasan dapat kita lihat dari adanya adegan seorang warga yang dipersulit saat meminta pengesahan dari staf kantor camat tersebut. Sedangkan dominasi kekuasaan dapat dilihat dari adanya staf yang merasa memiliki kewenangan dan kekuasaan dalam memberikan pelayanan kepada warga, sehingga warga di anggap tidak memiliki eksistensi. 
Dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, sering ditemukan kejadian-kejadian seperti kasus di atas. Instansi-instansi pemerintah yang sangat buruk terhadap pelayanan masyarakat. Masyarakat cenderung harus melalui prosedur yang berbelit-belit sehingga menyusahkan warga. Hal ini berkaitan dengan adanya birokrasi yang terlalu rumit sehingga memerlukan waktu yang lama dalam mengurus suatu kepentingtan. Pada dasarnya birokrasi yang berbelit tersebut dapat dihilangkan atau dipotong dengan adanya kebijakan dari pemerintah pusat sehingga masyarakat dapat menerima pelayanan yang bagus dan tidak berbelit-belit. Dengan demikian, citra dari instansi pemerintah akan bagus di mata masyarakat.
Hal yang perlu untuk ditekankan adalah bahwa pemerintah seharusnya jangan terlalu sewenang-wenang terhadap masyarakat sehingga masyarakat dapat merasakan kemudahan-kemudahan pada setiap pelayanan. Mentalitas dari orang-orang di pemerintahan harus bersih dan profesional.

C.    Iklan A Mild versi “Taat Cuma Kalo Ada Yang Liat”
Peneliti mencoba memilih iklan A Mild versi “Taat Cuma Kalo Ada Yang Liat” karena disamping ada unsur humor yang digunakan untuk menarik perhatian audiens juga terdapat makna pesan-pesan yang ditampilkan secara tersembunyi yaitu mengenai kritik social pada perilaku pelanggaran. 
Iklan A Mild dengan tema Tanya Kenapa? Versi "Taat Cuma Kalo Ada yang Liat". Iklan Sampoerna A Mild di televisi memang merepresentasikan permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Presentasi tersebut mengandung ideologi tentang sistem kapitalisme yang menindas kaum terdominasi. Dengan mengangkat permasalahan-permasalahan sosial A Mild telah berhasil menciptakan pemikiran kritis di kalangan konsumennya.
Iklan rokok A Mild versi “Taat Cuma Kalo Ada Yang Liat” mengandung makna bahwa telah terjadi banyak pelangaran yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia khususnya dari kalangan kelas social yang tinggi beserta pelanggaran yang dilakukan oleh aparat penegak hukum itu sendiri yang menyalahgunakan wewenang untuk kepentingan pribadi. Itu bisa dilihat dari tanda yang terdapat pada iklan saat aparat dengan sengaja menjebak seseorang untuk melakukan pelanggaran sementara dia penegak hukum itu sendiri bukannya mencegah terjadinya pelanggaran melainkan membuat seseorang untuk melakukan pelanggaran. Sementara si pelanggar sendiri melakukan pelanggaran jika tidak ada saksi.
Iklan sampoerna A Mild “Tanya kenapa” versi “Taat Cuma kalo ada yang liat” ini , visualisasi iklan menceritakan tentang seorang gadis yang membawa mobil Honda Jazz. Sekilas gadis itu tampak ragu apakah akan berbelok atau tidak, sementara di depannya terpampang dengan jelas rambu lalu lintas “dilarang berputar“. Akhirnya si gadis tersebut dengan beberapa pertimbangan yang dibuatnya, dia pun nekat berputar arah. Setelah berputar, tiba-tiba saja dari balik semak-semak ada suara peluit. Peluit siapa itu? Ya tidak lain dan tidak bukan (atau bukan sulap bukan sihir?) adalah peluit polisi lalu lintas. Dan muncullah sosok polisi tersebut. Memang sikapnya baik seperti kebanyakan polisi yang menegur pengendara yang “nakal”. 
Polisi : ”Siang Mbak….. Nggak lihat rambunya?” 
Gadis : “Lihat” 
Polisi : ”Lalu kenapa masih dilanggar?” 
Gadis : “ 
Kan…nggak ada yang jaga…..” 
“Tanya Kenapa…Tanya Kenapa…..“ 
Berdasarkan visualisasi iklan rokok Sampoerna A Mild “Tanya Kenapa” versi “Taat Kalo Cuma Ada Yang Liat” ini dapat kita ambil beberapa hal, yaitu :
1.      Masih banyak pelanggar lalu lintas di negeri ini. Tingkat kesadaran berlalu lintas di negeri kita ini masih sangat sangat rendah. Setiap hari dapat melihat bahwa ada saja yang melanggar lalu lintas. Dari mulai kendaraan umum yang berhenti tidak pada tempatnya
2.      Banyak aparat kepolisian yang memanfaatkan keadaan ini.
3.      Masyarakat Indonesia jika tidak ada polisi yang menjaganya, “hukum rimba” berlaku.

V. KESIMPULAN
Iklan A-Mild memperlihatkan suatu fenomena bahwa makna itu sudah mati karena iklan A-Mild menawarkan interpretasi yang sangat terbuka bagi siapa saja yang akan menikmatinya. Makna pada sajian gambar dan teks iklan A-Mild tidak memiliki ikatan-ikatan yang ideologis, stabil dan mapan, bahkan ironis.
Efek-efek kelucuan atau absurditas biasanya dihasilkan dari distorsi atau plesetan ungkapan yang ada. Meskipun parodi adalah suatu bentuk imitasi, akan tetapi imitasi yang ditandai oleh kecenderungan ironik.
Sampoerna A Mild mengajak konsumennya untuk tidak ragu bersikap kritis terhadap berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat. Hanya saja, dalam iklan-iklannya tersebut Sampoerna A Mild cenderung menghindari efek negatif rokok bagi konsumen sehingga fakta bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan konsumen tertutupi dengan citra kritis yang melekat erat dengan produk tersebut. Kendati demikian, sekritis apapun iklan tetap menyembunyikan kepentingan tertentu. Di balik wacana kritis yang dikumandangkan, terselubung ideologi dan kepentingan terkait dengan kapitalisme. Dengan cara ini diharapkan akan semakin memantapkan citra positif perusahaan di benak masyarakat luas yaitu sebagai sebuah institusi yang mempunyai tanggung jawab sosial, citra positif perusahaan tersebut diharapkan juga akan melekat pada produk Sampoerna A Mild di benak masyarakat sehingga dapat meningkatkan penjualan produk.



DAFTAR PUSTAKA

Asim Gunarwan. 2004. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja. 
Baryadi Praptomo. 2002. Dasar-dasar Analisis Wacana dalam Ilmu Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Gondhosuli.
Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKIS 
Ferry Darmawan. “Posmodernisme Kode Visual dalam Iklan Komersial”. Jurnal Komunikasi Mediator. 2006. 
Hasan Alwi. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi 3. Jakarta: Balai Pustaka.
Jorgensen, Marianne W. dan Louise J. Philips. 2007. Analisis Wacana Teori dan Metode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta : UI Press. 
Mulyana. 2005. Kajian Wacana: Teori, Metode dan Aplikasi Prinsip-Prinsip Analisis Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Paina. 2010. “Tindak Tutur Komisif Bahasa Jawa: Kajian Sosiopragmatik”. Disertasi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Poerwadarminta, W. J. S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Rustono. 1999. Pokok-pokok Pragmatik. Semarang: CV IKIP Semarang Press.
Silvana Sinar, Tengku. 2008. Teori dan Analisis Wacana : Pendekatan Sistematik Fungsional. Medan: Pustaka Bangsa Press.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press
Thomas, Linda., & Shan Wareing. 2007. Bahasa Masyarakat dan Kekuasaan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 
Tim Redaksi KBBI Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa, Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Yasraf Amir Piliang. 1995. Jurnal Seni Rupa. Volume I/95, hal.27.
Yoce Aliah. 2009. Analisis Wacana Kritis. Bandung: Yrama
Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford. Oxford University Press. 

Penelitian Kausal Komparatif (Ex Post Facto)

BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Masalah Dalam penelitian pendidikan setidaknya dikenal dua jenis penelitian , ya itu penel...