Senin, 28 Maret 2011

Definisi Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi

1. Epistemologi
Berasal dari kata Yunani, Episteme dan Logos. Episteme artinya adalah pengetahuan. Logos artinya teori. Epistemologi adalah sebuah kajian yang mempelajari asal mula, atau sumber, struktur dan metode pengetahuan. Epistemologi berusaha menjawab bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara atau tehnik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
2. Ontologi
Ontologi adalah analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan, yaitu hal-hal atau benda-benda empiris. Ontologis membahas tentang apa yang ingin diketahui. Ontologi menganalisa tentang objek apa yang diteliti ilmu? Bagaimana wujud yang sebenar-benarnya dari objek tersebut? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (misalnya: berpikir, merasa dan mengindera) yang menghasilkan pengetahuan?.
3. Aksiologi
  • Aksiologi membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Aksiologi ilmu terdiri dari nilai-nilai yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan seperti yang dijumpai dalam kehidupan, yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik ataupun fisik material (Koento, 2003: 13).
  • Definisi Kattsoff (2004: 319), aksiologi sebagai ilmu pengetahuan yang menyelediki hakekat nilai yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan.
  • Scheleer dan Langeveld (Wiramihardja, 2006: 155-157)
-Scheleer mengontraskan aksiologi dengan praxeology, yaitu suatu teori dasar tentang tindakan tetapi lebih sering dikontraskan dengan deontology, yaitu suatu teori mengenai tindakan baik secara moral.
-Langeveld berpendapat bahwa aksiologi terdiri atas dua hal utama: etika dan estetika. Etika merupakan bagian filsafat nilai dan penilaian yang membicarakan perilaku orang, sedangkan estetika adalah bagian filsafat tentang nilai dan penilaian yang memandang karya manusia dari sudut indah dan jelek.
Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?
Teori Agenda Setting dalam tiga perspektif: Epistemologi, Ontologi, Aksiologi
Teori Agenda Setting pertama dikemukakan oleh Walter Lippman (1965) pada konsep “The World Outside and the Picture in our head”,penelitian empiris teori ini dilakukan Mc Combs dan Shaw ketika mereka meniliti pemilihan presiden tahun 1972. Mereka mengatakan antara lain walaupun para ilmuwan yang meneliti perilaku manusia belum menemukan kekuatan media seperti yang disinyalir oleh pandangan masyarakat yang konvensional, belakangan ini mereka menemukan cukup bukti bahwa para penyunting dan penyiar memainkan peranan yang penting dalam membentuk realitas sosial kita, ketika mereka melaksanakan tugas keseharian mereka dalam menonjolkan berita.
Pada teori ini, media tidak menentukan what to think, tetapi what to think about. Teori ini berdiri atas asumsi bahwa media atau pers does not reflect reality, but rether filters and shapes it, much as a caleidoscope filters and shapes it (David H. Heaver, 1981). Dari sekian peristiwa dan kenyataan sosial yang terjadi, media massa memilih dan memilahnya berdasarkan kategori tertentu, dan menyampaikan kepada khalayak - dan khalayak menerima - bahwa peristiwa x adalah penting.
Dalam teori ini ada 3 tahapan utama, yaitu:
- media agenda
- public agenda
- policy agenda
Segi Epistemologi
Teori ini berasal dari kajian di saat seorang Walter Lippman berpikir mengenai pentingnya sebuah ”picture in our head”. Bagaimana media massa menciptakan gambaran-gambaran di dalam pikiran kita, dan para pembuat kebijakan harus mengetahui gambaran-gambaran ini. Lippman menangkap bahwa publik tidak merespon isu yang aktual di lingkungan mereka, tetapi lebih pada apa yang ada di gambaran benak mereka. Di sinilah kemudian media massa mengambil peran dalam mengkomstruksi ”gambaran” melalui outline-outline sajian mereka.
Segi Ontologi
Teori ini mengkaji bagaimana media massa mampu mempengaruhi pikiran-pikiran audiensnya, di mana dari apa yang disajikan oleh media massa, mampu menjadi sebuah agenda publik yang kekuatannya akan mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang akan muncul.
Berkaitan dengan apa yang dirasakan orang melalui media massa, di mana sajian media massa dengan segala sesuatunya (struktur pesan/pemberitaan, frekuensi, visualisasi, dll) akan mampu mempengaruhi orang untuk berpikir isu-isu apa saja yang ada di dekat mereka, yang menjadi mereka pedulikan, mengkonstruksi maknanya, sehingga para pembuat kebijakan harus menyadari hal ini untuk menentukan kebijakan yang akan dipilih dan diterapkan.
Segi Aksiologi
Dalam bukunya, Littlejohn menjelaskan bahwa Agenda Setting ini berfungsi dalam menetapkan isu yang menonjol dan gambaran-gambaran di dalam pikiran audiensnya. Dalam fungsinya ini, teori ini dapat bermanfaat untuk memudahkan pengambil kebijakan untuk menetapkan kebijakan yang akan diterapkan. Selain itu, dari teori ini, maka menegaskan pentingnya peran media massa dalam kehidupan sebuah sistem dalam sebuah negara atau pemerintahan.
Teori ini mempunyai nilai yang baik manakala media massa dapat menjalankan fungsinya sebagai sebuha sarana informasi edukasi dengan benar. Sehigga media massa sebagai filter dari segala isu dengan outline yang mereka sajikan dapat mengkonstruksi sebuah gambaran yang benar di dalam publiknya.
Dennis Mc Quail , Teori Komunikasi Massa : Suatu Pengantar, edisi kedua, Erlangga: Jakarta.
Tim Dosen Filsafat Ilmu, Filsafat Ilmu, 2003, Liberty: Yogyakarta.
Miller, Katherine. Communication Theories: perspective, process, and contexts. 2002. McGraw- Hill:USA. Hal 257-264.
Littlejoh, Stephen W. Theories of Human Communication, 7th edition. 2001.Wadsworth: USA. Hal 391-321.

Model Pembelajaran Menulis Drama dengan Konversi Cerpen

Konversi Cerpen

Strategi yang efektif untuk memotivasi siswa dalam menulis naskah drama, yaitu strategi konversi cerpen. Strategi konversi cerpen memberikan kesempatan kepada siswa untuk meningkatkan kemampuan menulis naskah drama melalui: (1) penentuan tokoh dan penokohan, (2) penentuan latar, (3) penentuan alur, (4) penentuan tema, dan (5) penentuan amanat. Dalam penelitian ini dilalui 3 tahapan, yaitu (1) tahap pramenulis, (2) tahap menulis, (3) tahap pascamenulis
Tahap pramenulis melalui dua kegiatan, yaitu (1) pembangkitan skemata, dan (2) pemahaman cerpen. Pembangkitan skemata pada tahap pramenulis adalah film, lagu anak, membaca gambar dan cerita. Hasil yang diperloleh dalam pembangkitan skemata yang dilakukan adalah memberikan motivasi kepada siswa untuk dapat belajar memahami cerpen. Dengan memahami cerpen, siswa dapat menulis naskah drama. Pemahaman cerpen adalah kegiatan siswa untuk mengenal dan memahami cerpen, agar siswa dapat menulis naskah. Dengan memahami cepen melalui identifikasi struktur cerpen, menjadikan pembelajaran siswa meningkat dalam menulis naskah drama.
Tahap menulis dirancang melalui teknik pengubahan kartu strukur yang telah diindentifikasi ke bentuk draf naskah drama. Pelaksanaan menulis naskah drama dipandu dan bimbingan guru untuk menulis draft naskah melalui hasil pengerjaan kartu struktur. Tahap pascamenulis  ditandai dengan kegiatan diskusi kelompok, penyajian hasil diskusi, pengeditan, revisi, dan publikasi.
Pada tahap pramenulis, disarankan kepada guru dapat:
a.       menggunakan media gambar yang lengkap,
b.       kartu struktur diharapkan memiliki panduan yang jelas, agar dapat dipahami siswa dalam mengidentifikasi cerpen.
Tahap menulis, guru disarankan
a.       guru dapat mendesain langkah-langkah menulis naskah drama melalui Strategi Konversi Cerpen, dengan panduan menulis naskah drama yang lebih kreatif,
b.      pemodelan naskah drama yang lebih lengkap dan terperinci, misalnya penjelasan setiap adegan dari tokoh/perwatakan, serta naskah yang memiliki gambar,
c.       guru berupaya membimbing dan melatih siswa menggunakan ejaan,tanda baca, dan kalimat yang benar,
d.      guru diharapkan memandu dan membimbing siswa dalam memahami cerita atau menulis naskah drama.
Tahap pascamenulis, guru diharapkan:
a.       memperhatikan dan memotivasi siswa untuk dapat berdiskusi,
b.      memperhatikan hasil revisi dan perbaikan menulis naskah drama,
c.       mementaskan hasil naskah untuk dipertunjukkan,
d.      memperhatikan penilaian proses dan hasil dari setiap siswa, dan
e.       memperhatikan alokasi waktu, disarankan kepada guru untuk merencanakan alokasi waktu secara fleksibel.

Model Pembelajaran Menulis Naskah Drama - Pembelajaran Kreatif dan Produktif


Orientasi dan Eksplorasi
       Garis besar tugas dan penilaian
       Cari, baca, bacakan, dengarkan, saksikan.
a.       Kegiatan ini diawali dengan pemberian tugas kepada mahasiswa untuk mencari dan membaca dongeng atau cerita rakyat dari daerah masing-masing yang dilakukan secara individual. Pencarian tidak terbatas pada dongeng yang sudah dibukukan, tetapi juga meliputi dongeng yang beredar dari mulut ke mulut. Untuk dongeng yang beredar dari mulut ke mulut, mahasiswa dapat merekam dongeng tersebut. Tugas diberikan seminggu sebelum pertemuan tatap muka yang membahas cerita rakyat. Cerita rakyat yang sudah dibaca atau didengarkan dibawa ke kelas pada pertemuan berikutnya. Setelah membaca, setiap mahasiswa diminta mencari ungkapan klise yang terdapat dalam dongeng tersebut.
b.      Pertemuan tatap muka pertama diawali dengan pengantar singkat dari dosen tentang pentingnya dongeng bagi pembentukan moral anak-anak, kemudian diikuti oleh kegiatan berbagi pengalaman mencari dongeng secara klasikal, dan akhirnya mahasiswa bekerja dalam kelompok, berbagi hasil pencarian dongeng/cerita rakyat, membacakan dongeng kepada kelompok atau mendongeng langsung untuk dongeng yang belum dibukukan, serta memilih salah satu dongeng yang akan ditampilkan di kelas.

Interpretasi
       Bahas, hayati karakter, gali tema dan nilai
a.       Secara individual, kegiatan ini dilakukan di luar kegiatan tatap muka dengan membaca dan menafsirkan pesan moral yang terdapat dalam dongeng yang dibaca atau didengar (bagi dongeng yang belum dibukukan).
b.      Kegiatan berupa pertemuan tatap muka berlangsung secara kelompok dan klasikal. Dalam kegiatan kelompok mahasiswa bertanya jawab tentang isi dongeng yang sudah dipilih oleh kelompok, menemukan ungkapan klasik, serta menyimpulkan pesan moral dari dongeng yang dibahas. Benda-benda yang terkait dengan dongeng, baik yang berupa benda sesungguhnya atau gambar dapat disiapkan untuk ditampilkan pada kegiatan klasikal.
c.       Kegiatan kelompok dilanjutkan dengan kegiatan klasikal, yaitu tiap wakil kelompok membacakan dongeng yang dipilih, menyampaikan ungkapan klasik serta pesan moral dalam dongeng tersebut, disertai dengan penampilan benda-benda yang terkait dengan dongeng tersebut. Mahasiswa lain dapat menanggapi presentasi dari setiap kelompok.

Re-kreasi
       Gubah dalam bentuk drama, tampilkan
a.       Kegitan tatap muka pada tahap interpretasi diakhiri dengan memberi tugas merekreasikan dongeng atau bagian dongeng yang dibaca atau didengar menjadi bentuk lain seperti: puisi, drama, gambar seri atau komik. Tugas dikerjakan secara individual di luar kelas dan akan ditampilkan dalam kegiatan tatap muka minggu berikutnya.
Pertemuan tatap muka diawali dengan kegiatan kelompok untuk berbagi hasil re-kreasi, memilih re-kreasi yang paling menarik untuk ditampilkan di kelas kemudian memajang seluruh hasil re-kreasi di dinding kelas.

Model Pembelajaran Menulis Drama dengan 1. Pendekatan Kontekstual Pemodelan

Pendekatan Kontekstual Pemodelan


Maksud komponen pemodelan dalam pembelajaran adalah dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu ada model yang ditiru. Dengan demikian, guru memberi model tentang ‘bagaimana cara belajar’ (Depdiknas 2002: 16).
Pemodelan adalah teknik menyampaikan pembelajaran melalui contoh-contoh teks drama, rekaman pementasan drama atau menyaksikan pementasan drama secara langsung. Sebagai contoh, berikut disajikan proses pembelajaran menulis kreatif drama menggunakan model berupa teks drama. Di sini siswa diperlihatkan contoh teks drama sehingga siswa dapat melihat secara langsung bentuk teks drama. Setelah itu siswa diminta untuk berlatih membuat teks drama.
a.       Perencanan
Guru menyusun rencana pembelajaran yag berisi 1) judul, yang meliputi jenis mata pelajaran, jenjang pendidikan, tema, kelas, semester, alokasi waktu, 2) skenario pembelajaran, meliputi kegiatan, pendahuluan, kegiatan inti, penutup, 3) alat dan bahan 4) strategi pembelajaran, 5) sarana dan sumber belajar 6) metode.

b.      Tindakan
Langkah awal tahap ini adalah guru mengadakan kegiatan apersepsi singkat dengan menceritakan yang berhubungan dengan drama, bertanya jawab dan menyampaikan tujuan pembelajaran serta memberitahukan kompetensi yang harus dicapai siswa. Kegiatan selanjutnya guru memberikan materi tentang unsur-unsur drama. Kemudian guru meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil.
Setelah itu guru membagikan teks drama kepada tiap-tiap kelompok. Selanjutnya, siswa diminta untuk mendiskusikan isi drama tersebut. Langkah selanjutnya guru meminta siswa untuk mendiskusikan tema yang akan ditulis oleh anggota kelompok. Setelah itu guru menugasi tiap-tiap anggota kelompok untuk menulis sebuah teks drama sesuai dengan tema yang sudah didiskusikan secara individu. Bagian-bagian yang masih sulit dipahami oleh siswa menjadi perhatian peneliti untuk ditindaklanjuti.
Guru lebih memfokuskan pada masalah penokohan dan konflik dan guru menugasi siswa untuk meyusun teks drama dengan memperhatikan kesalahan yang pernah dilakukan siswa sebelumnya. Sebelum pembelajaran berakhir guru memberitahukan manfaat yang diperoleh dari kegiatan menuli teks drama kepada siswa.

c.       Observasi
Perilaku siswa diamati  selama proses pembelajaran berlangsung, yaitu mengamati sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis teks drama, keaktifan siswa dalam bertanya dan menanggapi pendapat teman serta keseriusan dalam mengikuti pembelajaran menulis teks drama dari awal sampai akhir.

d.      Refleksi
Hasil pengamatan dianalisis dengan berdasarkan hasil menulis teks drama dan perilaku belajar siswa selama mengikuti proses kegiatan menulis teks drama. Siswa aktif berinteraksi antara guru dengan siswa atau siswa dengan siswa dan kemampuan intelektual siswa dalam memahami teks drama.

Penelitian Kausal Komparatif (Ex Post Facto)

BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Masalah Dalam penelitian pendidikan setidaknya dikenal dua jenis penelitian , ya itu penel...