ANDRIW

Foto Saya
Metro-Jogja-Solo, Indonesia
Perusahaan: B.I.A.S (Badan Intelejen Asmara Sesaat) * Pendidikan Bahasa Indonesia - PPs-Universitas Sebelas Maret Surakarta. * PBSI-FBS UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), Angkatan 2001 * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Senin, 27 Juni 2011

Analisis Teks: Kohesi dan Koherensi Unsur-unsur Gramatikal Pos Pembaca di Solopos


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Media masa merupakan bagian yang tak terpisahkan di dalam masyarakat. Media masa merupakan bagian yang penting dalam memberikan informasi dan pengetahuan di dalam masyarakat. Rubrik yang ada di dalam media masa sangat beragam dan memiliki kekhasan yang berbeda-beda. Salah satu rubrik yang ada di dalam media masa adalah “pos pembaca”.  Pos pembaca hadir setiap hari di media masa khususnya Solopos. Di dalam rubrik ini biasanya digunakan oleh masyarakat untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai berbagai macam masalah atau berbagai macam hal yang dihadapi oleh masyarakat. Selain informasi di dalam pos pembaca juga dapat digunakan sebagai media pengumuman, sebagai kolom untuk mengkritik dan lain sebagainya. Dalam rubrik ini sering digunakan oleh masyarakat untuk mengungkapkan permasalahan yang sering dihadapi oleh masyarakat sehari-hari.
Istilah “pos pembaca” memang tepat karena isi dari rubrik ini diperuntukan untuk tulisan-tulisan dan masalah-masalah yang dihadapi oleh pemabaca. Mengacu pada asal kata “pos pembaca” yang merupakan kolom atau rubrik yang disediakan pihak redaksi untuk masyarakat, di dalam perkembangannya “pos pembaca” tidak hanya digunakan untuk pengumuman dan pengaduan, tetapi “pos pembaca” juga dapat digunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasan dan ide-ide dari pembaca selain di rubrik atau kolom lain yang disediakan oleh redaksi.
Sebagai bagian dari pengungkapan ide dari penulisnya “pos pembaca” harus memiliki kesatuan atau keutuhan wacana atau tulisan yang dapat mencerminkan ide atau permasalahan yang ingin diungkapkan oleh penulis. Sehingga informasi atau hal-hal yang ingin diungkapkan oleh penulis dapat dimengerti dengan mudah oleh pembaca yang tertidri dari berbagai macam latar belakang yang berbeda-beda. Karena suatu wacana dituntut memiiki keutuhan struktur. Keutuhan itu sendiri dibangun oleh komponen-komponen yang terjalin di dalam sutau organisasi kewacanaan (Mulyana, 2005: 25). Keutuhan tulisan ini dapat mencakup kohesi, koherensi dan unsur-unsur gramatikal yang ada di dalam tulisan yang ada di dalam “pos pembaca”. Kohesi dan kohernsi merupakan bagian yang mutlak yang harus ada di dalam suatu tulisan. Karena kohesi dan koherensi ini akan mencerminkan isi dari tulisan yang akan di baca oleh pembaca. Serta kohesi dan koherensi dapat menjadikan tulisan yang dibaca bermakna atau memliki ide atau informasi yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca. Selain kohesi dan koherensi di dalam suatu tulisan juga harus memperhatikan unsur gramatikalnya, seperti: referensi, subtitusi, ellipsis, paralelisme, dan konjungsi.
Data “pos pembaca” yang digunakan dalam pemabahasan ini adalah “pos pembaca” edisi Senin 4 April 2011 hingga Sabtu 9 April 2011  yang ditulis oleh masyarakat pembaca Solopos yang terdiri dari berbagai macam latar belakang sosial yang berbeda. Dalam pembahasan ini diasumsikan bahwa “pos pemaca” ada unsur kohesi dan koherensinya, serta mengungkapkan unsur gramatikalnya. Metode yang digunakan dalam pembahasan ini adalah tekstual deskriptif kualitatif.

B.       Rumusan Masaalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana kohesi dan koherensi dalam pos pembaca di Solopos (edisi 4 April s.d. 9 April 2011)?
2.      Bagaimana unsur-unsur gramatikal yang muncul dalam pos pembaca di Solopos (edisi 4 April s.d. 9 April 2011)?

C.      Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan:
1.      Kohesi dan koherensi dalam pos pembaca di Solopos (edisi 4 April s.d. 9 April 2011).
2.      Unsur-unsur gramatiak yang muncul dalam pos pembaca di Solopos (edisi 4 April s.d. 9 April 2011).

D.      Manfaat Penelitian
Hasil dari pembahasan ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun praktis. Pada tingkat manfaat teoretis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman baru bagi pembaca dalam menganalisis wacana suatu kolom atau rubrik di dalam sebuah media masa yang ditinjau dari segi keutuhan wacana (baik kohesi, koheransi, dan unsur gramatikal) yang ada di dalam wacana tersebut dalam hal ini adalah “pos pembaca”. Sedangkan manfaat praktis yang dapat diambil dari pembahasan ini adalah diharapkan pemabca dapat memberikan kontribusi yang positif dalam bidang tulis-menulis agar memperhatikan keutuhan suatu wacana supaya orang lain yang membaca tulisan yang ditulis dapat dengan mudah memahami dan mengerti tentang apa yang tertulis di dalam kolom atau rubrik tersebut.
















BAB II
LANDASAN TEORI

A. Hakikat Kohesi dan Koherensi
            Kohesi dan koherensi tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lainnya. Dua istilah ini merupakan satu kesatuan yang selalu melekat. Sebuah teks terutama teks tulis memerlukan unsur pembentuk teks. Kohesi merupakan salah satu unsur pembentuk teks yang penting. Menurut Mulyana (2005: 26) menyatakan bahwa kohesi dalam wacana diartikan sebagai kepaduan bentuk yang secara struktural membentuk ikatan sintaktikal. Sejalan dengan hal tersebut Anton M. Moeliono (dalam Mulyana, 2005: 26) menyatakan bahwa wacana yang baik dan utuh menayaratkan kalimat-kalimat yang kohesif. Kohesi wacana terbagi di dalam dua aspek, yaitu kohesi gramatika dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal antara lain adalah referensi, subtitusi, ellipsis, konjungsi, sedangkan yang termasuk kohesi leksikal adalah sinonimi, repetisi, kolokasi.
            Sejalan dengan pendapat di atas Yayat Sudaryat (2008: 151) menyatakan bahwa kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam organisasi sintaksis, wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Sedangkan Abdul Rani, Bustanul arifin, Martutik (2006: 88) menyatakan bahwa kohesi adalah hubungan antarbagian dalam teks yang ditandai oleh penggunaan unsure bahasa. Gutwinsky (dalam Yayat Sudaryat, 2008: 151) menyatakan bahwa kohesi mengacu pada hubungan antarkalimat dalam wacana, baik dalam tataran gramatikal maupun tataran leksikal. Agar wacana itu kohesif, pemakai bahasa dituntut untuk mengetahui pemahaman tentang kaidah bahasa, realitas, penalaran (simpulan sintaksis). Oleh karena itu, wacana dikatakan kohesif apabila terdapat kesesuaian bentuk bahasa baik dengan ko-teks (situasi dalam bahasa) maupun konteks (situasi luar bahasa). Konsep kohesi pada dasarnya mengacu pada hubungan bentuk. Artinya, unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh. Menurut H. G. Tarigan (dalam Mulyana, 2005: 26) mengemukakan bahwa penelitian mengenai kohesi menjadi bagian dari kajian aspek formal bahasa. Oleh karena itu, organisasi dan struktur kewacanaanya juga berkonsentrasi dan bersifat sintaktik gramatikal.
            Brown dan Yule (dalam Abdul Rani, dkk, 2006: 87) menyatakan bahwa unsur pembentuk teks itulah yang membedakan sebuah rangkaian kalimat itu sebagai sebuah teks atau bukan teks. Hal tersebut juga diperkuat lagi dengan pendapat Anton M. Moeliono ( dalam Sumarlam, dkk, 2009: 173) bahwa kohesi merupakan hubungan semantik atau hubungan makna antara unsur-unsur di dalm teks dan unsur-unsur lain yang penting untuk menafsirkan atau menginterpretasikan teks; pertautan logis antarkejadian atau makna-makna di dalamnya; keserasian hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana sehingga terciptalah pengertian yang apik. Maka untuk memperoleh wacana yang baik dan utuh diharapkan kalimat-kalimatnya harus utuh. Hanya dengan hubungan kohesif seperti itulah suatu unsur dalam suatu wacana dapat diinterpretasikan, sesuai dengan ketergantungan unsur-unsur lainnya. Hubungan kohesif dalam wacana sering ditandai oleh kehadiran penanda khusus yang bersifat lingual formal.
            Kohesi dapat dibedakan atas beberapa jenis. Pembedaan tesebut dapat di jabarkan dalam kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal dan leksikal ini merupakan bagian dari kohesi endosentris. Karena kohesi dibagi menjadi dua ada kohesi endosentrsi dan kohesi eksosentris. Kohesi gramatikal terdiri dari: referensi, subtitusi, ellipsis, paralelisme, dan konjungsi. Sedangkan konjungsi leksikal terdiri dari: sinonimi, antonimi, hiponimi, kolokasi, repetisi dan ekuivalensi.
            Untuk membentuk wacana yang baik dan padu tidak cukup hanya mengandalkan hubungan kohesi. Menurut Cook (dalam Adul Rani, dkk, 2006: 872) menyatakan bahwa penggunaan alat kohesi itu memang penting untuk membentuk wacana yang utuh, tetapi tidak cukup meggunakan penanda katon tersebut. Ada faktor lain seperti relevansi dan faktor tekstual luar (extratextual factor) yang ikut menentukan keutuhan wacana. Kesesuaian antara teks dan dunia nyata dapat membantu menciptakan suatu kondisi untuk membantuk wacana yang utuh. Faktor lain seperti pengetahuan budaya yang juga membantu dalam menciptakan koherensi teks. Agar wacana yang kohesif baik, maka perlu dilengkapi dengan koherensi. Menurut Abdul Rani, dkk (2006:89) yang dimaksud koherensi adalah kepaduan hubungan maknawi antara bagian-bagian dalam wacana.
            Mulyana (2005: 30) di dalam bukunya yang berjudul “Kajian Wacana” banyak mengutip pendapat-pendapat ahli berkaitan dengan koherensi. Adapun pendapat tersebut adalah sebagai berikut, menurut H. G. Tarigan (1987) istilah koherensi mengandung makna pertalian, dalam konesp kewacanaan berarti pertalian makna atau isi kalimat. Gorys Keraf (1984) menyatakan bahwa koherensi juga berarti hubungan timbal balik yang serasi antarunsur dalam kalimat. Sejalan dengan pendapat tersebut Wahjudi (1989) berpendapat bahwa hubungan koherensi keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh. Sedangkan Samiati (1989) berpendapat bahwa wacana yang koheren memiliki cirri-ciri: susunanya teratur dan amanatnya terjalin rapi, sehingga muda diintepretasikan. Pendapat-pendapat tersebut diperkuat oleh pendapat Brown dan Yule (dalam Mulyana, 2006: 30) yang menegaskan bahwa berarti keterpaduan dan keterpahaman antarsatuan dalam suatu teks atau tuturan.
            Dalam sebuah wacana aspek koherensi sangat diperlukan keberadaannya untuk menjaga pertalian batin antara proposisi yang satu dengan lainnya untuk mendapatkan keutuhan. Keutuhan yang koheren tersebut dijabarkan oleh adanya hubungan-hubungan makana yang terjadi antarunsur (bagian) secara semantik. Hubungan tersebut kadang terjadi melalui alat bantu kohesi, namun kadang-kadang terjadi tanpa bantuan alat kohesi. Secara keseluruhan hubungan makna yang bersifat koheren menjadi bagian dari organisasi semantis.
            Halliday dan Hasan (dalam Mulyana, 2005: 31) menegaskan bahwa struktur wacana pada dasarnya bukanlah struktur sintaktik, melainkan struktur semantic, yakni semantic kalimat yang di dalamnya mengandung proposisi-proposisi. Sebab beberapa kalimat hanya akan menjadi wacana sepanjang ada hubungan makna (arti) di antara kalimat-kalimat itu sendiri. Keberadaan unsure koherensi sebetulnya tidak hanya pada satuan teks semata (scara formal), malainkan pada kemampuan pembaca atau pendengar dlam menghubungkan dan menginterpretasikan suatu bentuk wacana yang diterimanya. Maka dari pendapat tersebut diperkuat dan disimpulkan oleh Mulyana (2005:31) hubungan koherensi adalah sutau rangkaian fakta dan gagasan yang teratur yang tersusun secara logis. Koherensi dapat terjadi secara implisit (terselubung) karena berkaitan dengan bidang makna yang memerlukan interpretasi. Pendapat tersebut juga diyakini oleh Yayat Sudaryat (2008: 152) koherensi adalah kekompakan hubungan antar kalimat dalam wAcana. Meskipun begitu, interpretasi wacana berdasarkan struktur sintaksis dan leksikal bukan satu-satunya cara. Maka koherensi merupakan bagian dari suatu wacana, sebagai organisasi semantic, wadah gagasan yang disusun dalam urutan yang logis untuk mencapai maksud dan tuturan yang tepat.

B. Hakikat Unsur Gramatikal
1. Referensi
            Menurut Yayat Sudaryat (2008:153) menyatakan bahwa referensi atau pengacuan merupakan hubungan antara kata dengan acuan. Kata-kata yang berfungis sebagai pengacu disebut deiksis sedangkan unsur-unsur yang diacu disebut antesede. Referensi dapat berupa eksosentris (situasional) apabila mengacu ke anteseden yang ada di luar wacana, dan bersifat endoforis (tekstual) apabila yang diacuanya terdapat di dalam wacana. Diperkuat dengan pendapat Mulyana (2005: 27) juga menyatakan bahwa referensi (penunjukan) merupakan bagian kohesi gramatikal yang berkaitan dengan penggunaan kata taua kelompok kata untuk menunjuk kata atau kelompok kata atau satuan gramatikal lainnya.
2. Subtitusi
             Harimurti Kridalaksana (dalam Mulyana, 2005:28) menyatakan bahwa subtitusi (penggantian) adalah proses dan hasil penggantian oleh unsure bahasa oleh unsure lain dalam satuan yang lebih besar. Penggantian dilakukan untuk memperoleh unsure pembeda atau menjelaskan strukur tertentu. Proses subtitusi merupakan hubungan gramatikal, dan lebih bersifat hubungan kata dan makna. Sejalan dengan pendapat tersebut Yayat Sudaryat (2008: 154) menyatakan bahwa subtitusi mengacu pada penggantian kata-kata dengan kata lain. Subtitusi mirip dengan referensi. Perbedaanya, referensi merupakan hubungan makna sedangkan subtitusi merupakan hubungan leksikan atau gramatikal. Selain itu, subtitusi dapat berupa proverb, yaitu kata-kata yang digunakan untuk menunjukan tidakan, keadaan, hal, atau isi bagian wacana yang sdauh disebutkan sebelum atau sesudahnya juga dapat berupa subtitusi kalusal.
3. Elipsis
            Yayat Sudaryat (2008: 155) ellipsis merupakan penghilangan satu bagian dari unsure kalimat. Sebenarnya ellipsis sama dengan subtitusi, tetapi ellipsis disubtitusi oleh sesuatu yang kosong. Ellipsis biasanya dilakuakn dengan menghilangkan unsure-unsur wacana yang telah disebutkan sebelumnya. Sedangkan pendapat harimurti Kridalaksana (dalam Mulyana, 2005:280 elipsis (penghilangan/pelesapan) adalah proses penghilangan kata atau sataun-satuan kebahasaan lain. Bentuk atau unsure yang dilesapkan dapat diperkirakan ujudnya dari konteks bahasa atau konteks luar bahasa.
4. Paralelisme
            Menurut Yayat Sudaryat (2008: 155) paralelisme merupakan pemakaian unsure-unsur gramatikal yang sederajat. Hubungan antara unsure-unsur itu dituturkan langsung tanpa konjungsi.
5. Konjungsi
            Yayat Sudaryat (2008: 155) menyatakan bahwa konjungsi merupakan kata-kata yang digunakan untuk menghubungkan unsure-unsur sintaksis (frasa, kalusa, kalimat) dalam satuan yang lebih besar. Harimurti Kridalaksana dan H. G. Tarigan dalam (Mulyana, 2005: 29) menyatakan bahwa konjungsi atau kata sambung adalah bentuk atau satuan kebahasaan yang berfungsi sebagai penyambung, perangkai, atau penghubung angtara kata dengan kata, frasa dengan frasa, kalusa dengan klausa, kalimat dengan kalimat dan seterusnya. Konjungsi disebut juga sarana pernagkai unsure-unsur kewacanaan. Sebagai alat kohesi, berdasarkan perilaku sintaksisnya konjungsi dapat dibedakan sebagai berikut:
  1. Konjungsi koordinatif yang menghubungkan unsure-unsur sintaksis yang sederajat seperti dan, atau, tetapi;
  2. Konjungsi subordinatif yang menghubungkan unsure-unsur sintaksis yang tidak sederajat seperti waktu, meskipun, jika;
  3. Konjungsi korelatif yang posisinya terbelah, sebagian terletak di awal kalimat, dan sebagian legi di tengah kalimat seperti baik, ….maupun, ..meskipun,…tapi…;
  4. Konjungsi antarkalimat yang menghubungkan kalimat-kalimat dalam sebuah paragraph. Konjungsi ini selalu ada di depan kalimat seperti karena itu, oleh sebab itu, sebaliknya, kesimpulannya, jadi

C. Hakikat Media Massa Cetak
            Komunikasi menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan masyarakat, baik yang bersifat audio, visual, audiovisual, sampai media cetak. Hal tersebut tidak lain dijadikan sebagai media dalam menyampaikan pesan dalam dan oleh masyarakat. Menurut Rhenald Kasali (1995:26) media cetak adalah media yang statis dan mengutamakan pesan visual. Media ini terdiri dari lembaran dari jumlah kata, gambar atau foto warna dan halaman putih. Sedangkan menurut Husein Junus dan Aripin Banasuru (1996: 28) media massa cetak diartikan sebagai media massa yang mempergunakan alat percetakan sebagai mediumnya, misalnya buku, majalah, surat kabar, brosur dan lainnya yang sejenis. Menurut Jafar H Assegaf (1985: 128-129) media massa adalah sarana penghubung dengan masyarakat seperti surat kabar, majalah, buku, radio dan televisi.
            Surat kabar atau media massa cetak merupakan salah satu alat yang dijadikan masyarakat sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhannya akan informasi yang berada di sekitarnya atau tidak berada di sekitarnya. Surat kabar oleh masyarakat awam sering disebut dengan istilah pers. Onong Uchjana Effendy (1990: 145) menyatakan bahwa:
                        Pada hakikatnya istilah “pers” berasal dari bahasa Belanda, yang dalam bahasa inggris berarti Press. Secara harfiah pers berarti cetak dan secara maknawiah berarti penyiaran secara cetak atau publiksai secara dicetak (Printed publication). Dalam perkembangan pers mempunyai dua pengertian, yakni pers dalam pengertian luas dan pers dalam pengertian sempit. Pers dalam pengertian luas meliputi penerbitan, bahkan termasuk media elektronik, radio siaran, dan televisi siaran, sedangkan pers dalam pengertian sempit hanya terbatas pada media massa cetak, yakni surat kabar, majalah, dan buletin kantor berita.

            Berdasarkan pengertian media massa cetak yang telah dijabarkan di atas maka dapat disimpulkan bahwa media massa cetak adalah salah satu bentuk sarana media massa yang dicetak dan diterbitkan secara berkala sebagai alat atau sarana komunikasi yang resmi untuk menyebarkan berita atau pesan kepada masyarakat luas, yang di dalamnya berisi berita, pengumuman, laporan, pemikiran yang aktual, serta mengangkat permasalahan-permasalahan lokal, nasional, maupun internasional.
            Media cetak merupakan salah satu sarana untuk menyampaikan informasi atau pesan yang efektif karena komunikator tidak perlu berhadapan secara langsung dengan komunikan. Ragam atau media mementingkan kepadatan isi, kesederhanaan bentuk, menarik dan mudah dipahami. Hal ini disebabkan oleh sasaran yang akan dicapai, yaitu seluruh masyarakat luas dengan latar belakang pendidikan yang berbeda.
PT. Aksara Solopos adalah sebuah perusahaan penerbitan yang berkantor di Griya Solopos Jl. Adisucipto 190 Solo yang menerbitkan surat kabar umum yaitu Harian Umum "Solopos". Persiapan penerbitan Solopos telah dilakukan sejak tanggal 1 April 1997 dan diintensifkan lagi setelah Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) turun pada tanggal 12 Agustus 1997. Dalam SIUPP disebutkan Solopos terbit 7 kali seminggu, untuk edisi Minggu telah terbit pertama kali pada tanggal 28 Juni 1998. Berbeda dengan koran-koran di daerah lain yang umumnya mengklaim diri sebagai koran nasional yang terbit di daerah, Solopos justru menempatkan diri sebagai koran daerah yang terbit di daerah. Pasalnya koran ini ingin menjadi besar di daerah bersama dengan kian meningkatnya dinamika masyarakat Surakarta yang bakal menjadi kota internasional. Dalam pengelolaan sehari-hari, Solopos dikendalikan oleh Sukamdani S. Gitosardjono sebagai Pemimpin Umum, Danie H Soe'oed sebagai Wakil Pemimpin Umum, Mulyanto Utomo sebagai Pemimpin Redaksi dan Bambang Natur Rahadi sebagai Pemimpin Perusahaan. (Solopos online, 2011).
BAB III
PEMBAHASAN

A. Kohesi dan koherensi dalam pos pembaca di Solopos (edisi 4 April s.d. 9 April 2011).
            Dari beberapa data yang dianalisis kohesi dan koherensinya didapatkan data sebagai berikut.
Kohesi dan koherensi data pada hari Senin, tanggal 4 April 2011

Reuni Besar SMP N 12 Surabaya
            Panitia Reuni Besar Rolas mengajak alumni SMP Negeri 12 Surabaya tahun masuk 1978 dan lulus 1981 untuk bergabung dalam kegiatan Reuni Besar yang digelar Minggu (10/4) di Sekolah Jl. Ngegel Kebonsari dan di Hotel Garden Palace Jl. Yos Sudarso. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi hendy Adriyanto (0811302990) atau Retno Asri (081553445506).
Panitia Reuni Besar Rolas,
Retno Asri
(DT. 1 PP)

            Dari data di atas didapatkan bahwa “Pos Pembaca” yang berjudul Reuni Besar SMP N 12 Surabaya bahwa kohesi dan koherensinya sudah tampak, karena terjadi kepaduan dan adanya ide pokok yang akan disampaikan oleh pengirim yaitu bahwa wacana tersebut mengungkapkan ide atau pengumuman bahwa akan diadakan reuni yang akan dilaksanakan pada hari Minggu 10 April 2011. Wacacana tersebut ditujukan untuk alumni SMP N 12 Surabaya, jadi yang menyelenggrakan acara tersebut adalah alumni SMP N 12 Surabaya yang masuk tahun 1978 dan lulus tahun 1981. Serta acara tersebut akan dilaksanakan di SMP N 12 Surabaya serta alamatnya juga lengkap. Disamping itu jika ada pertanyaan atau ada alumni yang akan mendaftar juga sudah ada 2 orang panitia yang dapat dihubungi setiap saa.
            Kohesi dan koherensi yang ada di dalam wacana “Pos Pembaca” pada hari Selasa tanggal 5 April 2011. Adapun data tersebut adalah sebagai berikut:
Orang meninggalkan rumah
            Telah meninggalkan rumah, seorang ibu-ibu bernama Suwarni, dengan alamat Purbayan RT 02/RW I, Singopuran, Kartasura, Sukoharjo. Dia pergi dari rumah sejak Rabu (30/3) malam. Cirri-cirinya, berkulit hitam, berbaju daster orange, rambut beruban diurai, penampilan kumal. Dia juga mempunyai ganguan kejiwaan dan suka membawa sampah. Bagi pembaca yang mendapai yang bersangkutan, mohon menghubungi 081393870006/085642043900.
Budi,
Gumpang RT 01/III Kartasura, Sukoharjo
(DT. 2 PP)

            Data kedua ini juga sudah kohesi dan kohereni antara kalimat satu dengan kalimat yang lainnya. Karena ide atau permasalahan pokok yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca sudah terungkap secara tekstual atau tertulis. Di dalam wacana tersebut diungkapkan wacana pengumuman bahwa ada sesorang yang meninggalkan rumah dan belum kembali. Orang tersebut bernama Suwarni, serta penulis juga mendiskripsikan cirri-ciri fisik dari Suwarni yaitu kulit hitam, berbaju daster orange, rambut beruban diurai, penampilan kumal. Disamping itu juga dideskripsikan tentang kejiwaannya yaitu mengalami ganguan jiwa. Sehingga ide atau permasalahan yang akan diungkapkan sduah mewakili atau sudah dapat tersampaikan setelah membaca wacana tersebut. Dalam wacana “Pos Pembaca” tersebut juga disampaikan orang atau keluarga yang dapat dihubungi apabila menemukan orang yang dicarai tersebut. Jadi wacana tersebut sudah kohesi dan koherensi, karena sudah mengungkapkan ide dalam wacana tersebut.
            Kohesi dan koherensi yang ada di dalam wacana “Pos Pembaca” pada hari Rabu tanggal 6 April 2011. Adapun data tersebut adalah sebagai berikut:
Remaja tinggalkan rumah
            Pada hari Kamis, 13 Agustus 2009 pukul 18.30, anak laki-laki yang bernama Antonius Lingga Adventyono, 18, meninggalkan rumah tanpa pamit dan hingga sekarang belum juga pulang. Anak tersebut dalam kondisi terganggu jiwanya dan masih dalam perawatan RSJ Solo.
            Saat itu, dia memakai kaos oblong warna oranye dan celana pendek hitam. Adapun cirri-cirinya tinggi 160 cm, kulit sawo matang, rambut lurus dan punggung kanan menonjol (bungkuk). Kepda yang menenmukan atau yang mengasuh anak tersebut, harap menghubungi keluarga atau bila memungkinkan bias diambil gambarnya terlebih dahulu dan dikirim via email widigda_madiun@yahoo.co.id atau gepenk.soeradja@gmail.com. Terima kasih.
Prijatna,
Jl. Bali Gang I No. 9, RT 29/VII Madiun telp. 085853314516
(DT. 3 PP)
           
            Wacana ketiga ini juga sudah kohesi dan koherensi karena informasi yang akan disampaikan karena ide dan gagasan yang ingin disampaikan sudah terungkapkan dengan jelas. Wacana ini juga mengungkapkan pengumuman sesorang yang meninggalkan rumah dan belum kembali. Diungkapkan mulai dari nama, hari dan tanggal meninggalkan rumah, umur dan cirri-ciri dari orang yang meninggalkan tersebut secara jelas. Walaupun di wacana tersebut hanya menyampaikan email untuk dapat berhubungan atau berinteraksi, namun di alamat pengirim sudah diungkapkan nomor telepon yang dapat dihubungi, walaupun informasi tersebut berada diluar tulisan tersebut namun wacana ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Jadi sudah kohesi dan koherensi wacana dimuat pada Rabu tanggal 6 april 2011.  
            Kohesi dan koherensi yang ada di dalam wacana “Pos Pembaca” pada hari Kamis tanggal 7 April 2011. Adapun data tersebut adalah sebagai berikut:
Rusaknya jalan masuk
            Sudah cukup lama jalan masuk ke kawasan Jaten Permai, karanganyar rusak karena hujan mengguyur terus-menerus, juga karena kondisi aspel yang sudah cukup tua. Jalan itu butuh perawatan dan pengaspalan baru.
            Mohon DPU Karanganyar segera memfasilitasi dan memberikan solosi tepat agar setiap pengguna jalan di Jaten bias nyaman berkendara atau jogging pagi.
            Menurut Bupati Rina, Nguwongke uwong lebih berharga nilainya daripada membiarkan situasi yang serba tenang tapi menghanyutkan.
Willy Soenarya,
Jl. Puspanyidra 17, Jaten, Karanganyar
(DT. 4 PP)
           
            Wacana di atas di paragraf satu dan paragraf kedua terjadi kohesi dan koherensi secara tekstual. Karena ide atau maksudnya dapat diungkapkan secara tertulis dan dapat dimengerti oleh pembaca. Namun paragraph ketiga tidak kohesi dan koherensi karena idenya atau pemilihan katanya dan idenya tidak kohesi dan koherensi dengan kata atau paragraph di atasnya.
Kohesi dan koherensi yang ada di dalam wacana “Pos Pembaca” pada hari Jumat tanggal 8 April 2011. Adapun data tersebut adalah sebagai berikut:
Halte BST jangan diorek-orek
            Pembangunan halte Bus Trans Batik Solo (BST) di seluruh penjuru kota Solo sekarang ini sunguh-sungguh sangat berguna bagi para pengguna jasa angkutan tersebut. Namun saying seribu saying, halte yang cukup bagus, indah bentuknya, joglo dan mahal harganya itu, dipilok entah siapa yang berbuat. Saya lihat itu di daerah Gumpang, Kartasura, dekat SMK Harapan Kartasura dekat RM Madukoro.
            Eman-eman bangunan masih bagus kinyis-kinyis sudah kotor, mbok jangan begitu ya, kok tidak menghargai jeri payah orang orang sudah susah payah membangunnya. Kalau ingin orek-orek silahkan di tempat sendiri semisal di atas kain-kain kanvas yang lebar sepuas-puasnya, untuk menyalurkan bakat ngorek-ngorek (vandalism)
Suwandi Atmojo,
Jl. Pepaya 48, Jahidan, Ngadirejo, Kartasura
(DT. 5 PP)

            Wacana di atas sudah kohesi dan koherensi karena antara paragraf pertama dan paragraf kedua sudah ada keterjalinan, serta antara kalimat satu dengan kalimat yang lainnya juga mengungkapkan ide yang tepat pula. Dalam wacana ini mengungkapkan keprihatinan dan himbauan penulis kepada masyarakat untuk menjaga halte bus BST dijaga dan tidak diorek-orek karena ini sarana pemerintah dan merusak keindahan halte tersebut. Jadi penulis mencoba mengugah kepedualian para pembaca dan masyarakat untuk menjaga kebersihan dari halte bus BST supaya tetap indah. Jadi wacana ini sudah kohesi dan koherensi.
            Kohesi dan koherensi yang ada di dalam wacana “Pos Pembaca” pada hari Sabtu tanggal 9 April 2011. Adapun data tersebut adalah sebagai berikut:
Perempuan tinggalkan rumah
            Kami mencari saudara kami bernama Sri Nuraini (Yani) dengan cirri-ciri umur 31 tahun, jenis kelamin perempuan, tinggi lebih kurang 150 cm, warna kulit sawo matang, rambut lurus sebahu dan kesehatan normal.
            Waktu meninggalkan rumah Kedungtunggkul RT 5/ RW VII Mojosongo, jebres, Solo pada hari Minggu (3/4) pukul 19.00 WIB, yang bersangkutan memakai kaus putih, celana pendek kotak-kotak.
            Apabila pemabaca melihat atau menemukan saudara kami, kami sekeluarga mohon bantuan untuk menghubungi Rhomat (082137730535) atau Si Sri (085728601900)
Rohmadi,
Bibis Baru RT 1/RW 23, Nusukan
Banjarsari, Solo
(DT. 6 PP)

            Wacana di atas juga sudah kohesi dan koherensi karena sudah mengungkapkan pengumuman bahwa ada seorang yang meninggalkan rumah. Di dalam wacana tersebut juga sudah mengungkapkan ide dan gagasan yang ingin disampaikan yaitu nama, cirri-ciri fisik dari orang yang dicari. Dari mulai ciri fisik hingga kondisi kejiwaan dari orang yang dicari. Disamping itu juga mengungkapkan keluarga atau seseorang yang dapat dihubungi apabila menemukan seseorang yang dicari. Maka wacna di atas sudah kohesi dan koherensi.

B. Unsur-unsur gramatiak yang muncul dalam pos pembaca di Solopos (edisi 4 April s.d. 9 April 2011).
1. Referensi
            Referensi yang muncul dalam  “Pos pembaca” pada hari Senin 4 april 2011 sampai hari Sabtu 9 April 2011. Wacana yang pertama hari Seni 4 April 2011 tidak ada refensinya. Wacana kedua pada hari Selasa 5 april 2011 ada referensinya, adapun data tersebut adalah sebagai berikut:

     Telah meninggalkan rumah, seorang ibu-ibu bernama Suwarni, dengan alamat Purbayan RT 02/RW I, Singopuran, Kartasura, Sukoharjo. Dia pergi dari rumah sejak Rabu (30/3) malam. Cirri-cirinya, berkulit hitam, berbaju daster orange, rambut beruban diurai, penampilan kumal. Dia juga mempunyai ganguan kejiwaan dan suka membawa sampah. Bagi pembaca yang mendapai yang bersangkutan, mohon menghubungi 081393870006/085642043900. (DT. 2 PP)

            Kata dia pada data di atas menunjukan referensi anaforis yaitu menggantikan atau sebagai pengganti kata Suwarni.
            Wacana yang berikutnya yaitu data yang ke tiga wacana hari Rabu tanggal 6 April 2011:

Pada hari Kamis, 13 Agustus 2009 pukul 18.30, anak laki-laki yang bernama Antonius Lingga Adventyono, 18, meninggalkan rumah tanpa pamit dan hingga sekarang belum juga pulang. Anak tersebut dalam kondisi terganggu jiwanya dan masih dalam perawatan RSJ Solo.
            Saat itu, dia memakai kaos oblong warna orange dan celana pendek hitam. Adapun cirri-cirinya tinggi 160 cm, kulit sawo matang, rambut lurus dan punggung kanan menonjol (bungkuk). Kepada yang menenmukan atau yang mengasuh anak tersebut, harap menghubungi keluarga atau bila memungkinkan bias diambil gambarnya terlebih dahulu dan dikirim via email widigda_madiun@yahoo.co.id atau gepenk.soeradja@gmail.com. Terima kasih. (DT. 3 PP)

            Referensi anak tersebut dan dia menggatikan kata Antonius Lingga Adventyono.
            Data yang berikutnya adalah data yang keempat yaitu hari Kamis tanggal 7 April 2011. Adapun data tersebut adalah sebagai berikut.

     Sudah cukup lama jalan masuk ke kawasan Jaten Permai, Karanganyar rusak karena hujan mengguyur terus-menerus, juga karena kondisi aspel yang sudah cukup tua. Jalan itu butuh perawatan dan pengaspalan baru. (DT. 4 PP)

     Wacana di atas ada refensinya, yaitu kata jalan itu yang mereferensikan kata jalan masuk ke kawasan Jaten Permai karanganyar.
            Data yang berikutnya adalah data hari Jumat tanggal 8 April 2011. Adapun data tersebut adalah sebagai berikut. Dalam wacana ini tidk terdapat referensi.
     Wacana yang berikutnya adalah wacana hari Sabtu tanggal 9 April 2011.
     ……………………………..
            Waktu meninggalkan rumah Kedungtunggkul RT 5/ RW VII Mojosongo, jebres, Solo pada hari Minggu (3/4) pukul 19.00 WIB, yang bersangkutan memakai kaus putih, celana pendek kotak-kotak.
………………………………….
            Kata yang bersangkutan dalam wacana tersebut merupakan referensi dari nama Sri Nurani (Yuni).
2. Subtitusi
            Subtitusi atau penggantian dalam data tersebut dapat dilihat untuk data yang hari Senin tidak ada subtitusinya. Hari Selasa untuk wacna tersebut ada kata yang menunjukan adanya subtitusi, yaitu kata cirri-cirinya dan kata yang bersangkutan (DT. 2 PP). Hari Rabu yang menunjukan adanya subtitusi yaitu kata-kata anak laki-laki, saya, anak tersebut, adapun, kepada yang menemukan( DT. 3 PP). Sedangkan data pada hari Kamis mengungkapkan adanya kata-kata jalan itu (DT. 4 PP). Hari Jumat kata yang menunjukan subtitusi halte yang cukup bagus, indah bentuknya, joglo dan mahal harganya, diorek-orek kacanya entah siapa yang berbuat (DT. 5 PP). Sedangkan hari Sabtu diungkapkan dengan kata-kata kami, yang bersangkutan, pemaca (DT. 6 PP).
3. Elipsis
            Elipsis dalam wacana hari Senin ditunujukan dengan adanya kata-kata atau kalimat… untuk informasi lebih lanjut…(DT. 1 PP). hari Selasa tidak ada data tentang ellipsis. Hari Rabu ditunujkan dengan kata saat itu dia memakai kaos oblong warna orange dan celana pendek hitam (DT. 3 PP). kamis tidak ada data yang berkaitan dengan ellipsis. Hari Jumat dan Sabtu juga tidak ada data tentang ellipsis.
4. Paralelisme
            Kata atau data yang menunjukan adanya hubungan paralelisme dalam data hari Senin tanggal 4 April 2011 sampai dengan hari Sabtu tanggal 9 April 2011 tidak menunjukan data tentang paralelisme.
5. Konjungsi
            Konjungsi pada hari Senin yaitu penggunaan kata dan, atau (DT. 1 PP). data untuk hari Selasa yang menunjukan konjungsi dan (DT. 2 PP). Data hari Rabu dan, atau (DT. 3 PP). Hari Kamis juga, karena, agar, tetapi (DT. 4 PP). Hari Jumat namun, dan (DT. 5 PP). Hari Sabtu dan , waktu (DT. 6 PP).










BAB IV
PENUTUP

A.      Simpulan
1. Kohesi dan koherensi dalam pos pembaca di Solopos (edisi 4 April s.d. 9 April 2011).
            Dalam wacana di “pos pembaca” di Solopos sudah kohesi dan koherensi karena ide tau gagasan yang berupa pengumuman, saran, pernyataan, dan lain sebgainya sudah terungkapkan secara baik dan dapat diterima oleh pemaca dengan baik pula, maka wacana tersebut sudah kohesi dan koherensi.
2. Unsur-unsur gramatika yang muncul dalam pos pembaca di Solopos (edisi 4 April s.d. 9 April 2011).
            Unsur gramatika yang sering muncul dalam wacana “pos pembaca” adalah referensi, subtitusi, ellipsis, dan konjungsi. Sedangkan paralelisme tidak muncul dalam wacana “pos pembaca”.

B. Saran
1.      Kepada penulis yang menulis di kolom “pos pembaca’ harus memperhatikan ide atau gagasan supaya dapat diterima pembaca dengan baik.
2.      Penulis harus memperhatiakn keefetifan pengungkapan ide dan gagasan dalam tulisannya.
3.      Kepada redaksi supaya lebih teliti dalam mengedit dan menata kalimatnya supaya dapat dimengerti dengan baik oleh pembaca.







DAFTAR PUSTAKA


Abdul Rani, Bustanul Arifin, Martutik. 2006. Analisis Wacana Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing.

Husain Junus dan Aripin Banasaru. 1996. Bahasa Indonesia: Tinjauan Sejarahnya dan Pemakaian Kalimat yang Baik dan Benar. Surabaya: Usaha Nasional.

Jaffar H Assegaf. 1985. Jurnalistik Masa Kini. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Mulyana. 2005. Kajian Wacana Teori, Metode, dan Aplikasi Prinsip-Prinsip Analisis Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana

Onong Uchjana Effendy. 1990. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Rhenald Kasali. 1995. Manajemen Periklanan, Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Jakarta; Pusaka Utama Grafiti.

Sumarlam. 2009. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Karya.

Yayat Sudaryat. 2008. Makna dalam Wacana. Bandung: Yrama Widya.



4 komentar: