ANDRIW

Foto Saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Minggu, 05 Juni 2011

PERIODE ANGKATAN PUJANGGA BARU SANUSI PANE, STRUKTUR DAN MAKNA PUISI “TERATAI”

PERIODE ANGKATAN PUJANGGA BARU
1930-1945
2.1 Latar Belakang
Buku Pujangga Baru, Prosa dan Puisi yang disusun oleh H.B Jasin adalah sebuah bunga rampai (antologia) dari para pengarang dan penyair yang oleh penyusunnya digolongkan ke dalam Angkatan Pujangga Baru. Seperti diketahui, oleh para ahli dan para penyusun buku-buku pelajaran sastra Indonesia, perkembangan sastra Indonesia dibagi-bagi menjadi angkatan-angkatan. Angkatan Pujangga Baru biasanya ditempatkan sebagai angkatan kedua, yaitu setelah angkatan Balai Pustaka dan mendahului kelahiran angkatan ‘45. Tetapi kita lihat pembagian sejarah sastra Indonesia dalam angkatan-angkatan ini, tidaklah disertai dengan alasan-alasan yang bisa kita terima. Tidak sedikit pula para sastrawan yang menolak atau tidak mau dimasukan dalam sesuatu angkatan, mereka memilih masuk angkatan yang disukainya. Misalnya Achdiat K. Mihardja pernah menyatakan bahwa ia lebih suka digolongkan kepada angkatan Pujangga Baru, padahal para ahli telah menggolongkannya kepada angkatan ‘45.
Di masa kolonialisme, pengaruh itu tampak dalam karya sastra, baik yang memiliki semangat antikolonialisme di zaman Belanda maupun berkembangnya simbolisme di zaman Jepang akibat situasi yang sangat represif. Di masa pemerintahan Soekarno, perbedaan ideologi yang demikian tajam nasionalisme, agama, komunisme juga berdampak langsung terhadap perkembangan sastra Indonesia, yakni dengan merasuknya ideologi dalam diri sastrawan maupun dalam karya sastra yang dihasilkannya.
Sutan Takdir Alisjahbana, yang pada 1935 berusia 27 tahun, menghentak kalangan intelektual Indonesia dengan pemikirannya yang radikal melalui sebuah artikel berjudul Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru yang dimuat di majalah yang didirikan dan dipimpinnya sendiri, Pujangga Baru. Dalam tulisannya itu, Sutan Takdir Alisjahbana membedakan kebudayaan praIndonesia (yang berlangsung hingga akhir abad ke-19) dan kebudayaan Indonesia (yang dimuali pada awal abad ke-20).
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana, perjuangan Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Imam Bonjol, dan lain-lain bukanlah untuk Indonesia. Demikian pula dengan pembuatan Candi Borobudur dan Prambanan yang tidak ada kaitannya dengan Indonesia. Semuanya itu termasuk dalam kebudayaan praIndonesia. Kebudayaan Indonesia, menurut Sutan Takdir Alisjahbana, bukanlah sambungan kerajaan Mataram, Sriwijaya, atau Majapahit. Kebudayaan Indonesia yang dimaksud Sutan Takdir Alisjahbana adalah kebudayaan yang terlepas dari kebudayaan praIndonesia dan harus berorientasi ke Barat. Karena, masyarakat Indonesia yang statis harus diubah menjadi dinamis. Untuk itu, kita harus mencontoh negara-negara yang dinamis, yakni negara-negara Barat. Dan, sejatinya, kaum terpelajar Indonesia generasi pertama dapat berorganisasi, berpolitik, mendirikan Budi Utomo pun karena pendidikan Barat. Semangat muda yang dipancarkan Sutan Takdir Alisjahbana itu sebenarnya mengikuti jejak pendahulunya yang menggelar kongres pemuda pada 28 Oktober 1928.
Beliau mencetuskan idenya yang kemudian disebut sebagai Polemik Kebudayaan yang ujungnya adalah menganjurkan rakyat untuk memikirkan masa depan dunia, karena Indonesia adalah bagian daripada dunia. Ide ini secara gamblang diilustrasikan dalam novelnya yang berjudul Layar Terkembang, dimana tema yang ditonjolkan adalah pelepasan diri dari ikatan budaya tradisional dan kemasyarakatan lama serta menderap bersama budaya dan masyarakat modern. Oleh sebab itu, kemudian Sutan Takdir Alisjahbana dituduh kebarat-baratan dan dianggap mengingkari budaya bangsa sendiri. Lalu ada juga Salah Asuhan karya Abdul Moeis yang menceritakan perubahan paradigma seorang anak Melayu yang berenang dalam pendidikan Belanda.
Gagasan yang dilontarkan Sutan Takdir Alisjahbana di atas mendapat reaksi dari rekan dan seniornya. Sanusi Pane, yang saat itu berusia 30 tahun, tidak sependapat dengan Sutan Takdir Alisjahbana. Ia tidak setuju dengan pembagian sejarah semacam itu. Menurut Sanusi Pane, pada zaman Majapahit, Pengeran Diponegoro, Borobudur, dan ain-lain sudah mempunyai ciri keindonesiaan, yang belum ada hanyalah ciri natie atau nation (bangsa) Indonesia. Zaman sekarang, kata Sanusi Pane, merupakan terusan dari zaman dahulu. Ia juga menyarankan agar kebudayaan Indonesia menyatukan Faust yang didominasi pemikiran, akal (Barat) dan Arjuna yang didominasi perasaan, nurani (Timur).
Peradaban yang telah dibangun secara perlahan oleh nenek moyang kita menjadi runtuh dan tak berarti apa-apa jika kita mengikuti pola pikir Sutan Takdir Alisjahbana. Dengan memutuskan mata rantai sejarah, Sutan Takdir Alisjahbana seolah-olah menafikan kekayaan rohani dan kekayaan batin bangsa kita yang terekam dan tercatat dengan baik dalam karya sastra klasik yang diciptakan sejak abad ketujuh masehi. Meskipun demikian, kita wajib bersyukur dengan adanya pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana seperti itu, yang menjadi shock therapy bagi bangsa Indonesia untuk lebih serius memikirkan masa depan kebudayaannya.

2.2 Sejarah
Pada mulanya, Pujangga baru adalah nama majalah sastra dan kebudayaan yang terbit antara tahun 1933 sampai dengan adanya pelarangan oleh pemerintah Jepang setelah tentara Jepang berkuasa di Indonesia. Adapun pengasuhnya antara lain Sultan Takdir Alisjahbana, Armein Pane , Amir Hamzah dan Sanusi Pane. Jadi, Pujangga Baru bukanlah suatu konsepsi ataupun aliran. Namun demikian, orang-orang atau para pengarang yang hasil karyanya pernah dimuat dalam majalah itu, dinilai memiliki bobot dan cita-cita kesenian yang baru dan mengarah kedepan.
Barangkali, hanya untuk memudahkan ingatan adanya angkatan baru itulah maka dipakai istilah Angkatan Pujangga Baru, yang tak lain adalah orang-orang yang tulisan-tulisannya pernah dimuat didalam majalah tersebut. Adapun majalah itu, diterbitkan oleh Pustaka Rakyat, Suatu badan yang memang mempunyai perhatian terhadap masalah-masalah kesenian. Tetapi seperti telah disinggung diatas, pada zaman pendudukan Jepang majalah Pujangga Baru ini dilarang oleh pemerintah Jepang dengan alasan karena kebarat-baratan. Namun setelah Indonesia merdeka, majalah ini diterbitkan lagi (hidup 1948 s/d 1953), dengan pemimpin Redaksi Sutan Takdir Alisjahbana dan beberapa tokoh-tokoh angkatan 45 seperti Asrul Sani, Rivai Apin dan S. Rukiah. Mengingat masa hidup Pujangga Baru ( I ) itu antara tahun 1933 sampai dengan zaman Jepang , maka diperkirakan para penyumbang karangan itu paling tidak kelahiran tahun 1915-an dan sebelumnya. Dengan demikian, boleh dikatan generasi Pujangga Baru  adalah generasi lama. Sedangkan angkatan 45 yang kemudian menyusulnya merupakan angkatan bar yang jauh lebih bebas dalam mengekspresikan gagasan-gagasan dan kata hatinya.
 Ketika sastra Indonesia dikuasai oleh angkatan Pujangga Baru, masa-masa tersebut lebih dikenal sebagai Masa Angkatan Pujangga Baru. Masa ini dimulai dengan terbitnya majalah Pujangga Baru pada Mei 1933. Majalah inilah yang merupakan terompet serta penyambung lidah para pujangga baru. Penerbitan majalah tersebut dipimpin oleh tiga serangkai pujangga baru, yaitu Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Sutan Takdir Alisjahbana. Dalam manivestasi pujangga baru dinyatakan bahwa fungsi kesusastraan itu, selain melukiskan atau menggambarkan tinggi rendahnya suatu bangsa, juga mendorong bangsa tersebut ke arah kemajuan.
Sebenarnya para pujangga baru serta beberapa orang pujangga Siti Nurbaya sangat dipengaruhi oleh para pujangga Belanda angkatan 1880 (De Tachtigers). Hal ini tak mengherankan sebab pada jaman itu banyak para pemuda Indonesia yang berpendidikan barat, bukan saja mengenal, bahkan mendalami bahasa serta kesusastraan Belanda. Di antara para pujangga Belanda angkatan 80-an, dapat kita sebut misalnya Willem Kloos dan Jacques Perk. J.E. Tatengkeng, seorang pujangga baru kelahiran Sangihe yang beragama Protestan dan merupakan penyair religius sangat dipengaruhi oleh Willem Kloos.
Lain halnya dengan Hamka. Ia pengarang prosa religius yang bernafaskan Islam, lebih dipengaruhi oleh pujangga Mesir yang kenamaan, yaitu Al-Manfaluthi, sedangkan Sanusi Pane lebih banyak dipengaruhi oleh India daripada oleh Barat, sehingga ia dikenal sebagai seorang pengarang mistikus ke-Timuran.
Pujangga religius Islam yang terkenal dengan sebutan Raja Penyair Pujangga Baru adalah Amir Hamzah. Ia sangat dipengaruhi agama Islam serta adat istiadat Melayu. Jiwa Barat itu rupanya jelas sekali terlihat pada diri Sutan Takdir Alisyahbana. Lebih jelas lagi tampak pada Armijn Pane, yang boleh kita anggap sebagai perintis kesusastraan modern. Pada Armijn Pane rupanya pengaruh Barat itu menguasai dirinya secara lahir batin. Masih banyak lagi para pujangga baru lainnya seperti Rustam Effendi, A.M. Daeng Myala, Adinegoro, A. Hasjemi, Mozasa, Aoh Kartahadimadja, dan Karim Halim. Mereka datang dari segala penjuru tanah air dengan segala corak ragam gaya dan bentuk jiwa serta seninya.
Mereka berlomba-lomba, namun tetap satu dalam cita-cita dan semangat mereka, yaitu semangat membangun kebudayaan Indonesia yang baru dan maju. Itulah sebabnya mereka dapat bekerjasama, misalnya saja dalam memelihara dan memajukan penerbitan majalah Pujangga Baru.

2.3 Karakteristik Karya Angkatan Pujangga Baru
1.      Dinamis
2.      Bercorak romantik/idealistis, masih secorak dengan angkatan sebelumnya, hanya saja kalau romantik angkatan Siti Nurbaya bersifat fasip, sedangkan angkatan Pujangga Baru aktif romantik. Hal ini berarti bahwa cita-cita atau ide baru dapat mengalahkan atau menggantikan apa yang sudah dianggap tidak berlaku lagi.
3.      Angkatan Pujangga Baru menggunakan bahasa Melayu modern dan sudah meninggalkan bahasa klise. Mereka berusaha membuat ungkapan dan gaya bahasa sendiri. Pilihan kata, Penggabungan ungkapan serta irama sangat dipentingkan oleh Pujangga Baru sehingga dianggap terlalu dicari-cari
4.      Ditilik bentuknya, karya angkatan Pujangga Baru mempunyai ciri-ciri:
a.       Bentuk puisi yang memegang peranan penting adalah soneta, disamping itu ikatan-ikatan lain seperti quatrain dan quint pun banyak dipergunakan. Sajak jumlah suku kata dan syarat-syarat puisi lainnya sudah tidak mengikat lagi, kadang-kadang para Pujangga Baru mengubah sajak atau puisi yang pendek-pendek, cukup beberapa bait saja. Sajak-sajak yang agak panjang hanya ada beberapa buah, misalnya ”Batu Belah” dan ”Hang Tuah” karya Amir Hamjah.
b.      Tema dalam karya prosa (roman) bukan lagi pertentangan faham kaum muda dengan adat lama seperti angkatan Siti Nurbaya, melainkan perjuangan kemerdekaan dan pergerakan kebangsaan, misalnya pada roman Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana
c.       Bentuk karya drama pun banyak dihasilkan pada masa Pujangga Baru dengan tema kesadaran nasional. Bahannya ada yang diambil dari sejarah dan ada pula yang semata-mata pantasi pengarang sendiri yang menggambarkan jiwa dinamis.
Genre prosa Angkatan 33 (Pujangga Baru) berupa:
a.      R O M A N
Roman pada angkatan 33 ini banyak menggunakan bahasa individual, pengarang membiarkan pembaca mengambil simpulan sendiri, pelaku-pelaku hidup/ bergerak, pembaca seolah-olah diseret ke dalam suasana pikiran pelaku- pelakunya, mengutamakan jalan pikiran dan kehidupan pelaku-pelakunya. Dengan kata lain, hampir semua buku roman angkatan ini mengutamakan psikologi.
Isi roman angkatan ini tentang segala persoalan yang menjadi cita-cita sesuai dengan semangat kebangunan bangsa Indonesia pada waktu itu, seperti politik, ekonomi, sosial, filsafat, agama, kebudayaan.Di sisi lain, corak lukisannya bersifat romantis idealistis.
Contoh roman pada angkatan ini, yaitu Belenggu karya Armyn Pane (1940) danLayar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana. Di samping itu, ada karya roman lainnya, diantaranya Hulubalang Raja (Nur Sutan Iskandar, 1934), Katak Hendak Menjadi Lembu (Nur Sutan Iskandar, 1935), Kehilangan Mestika (Hamidah, 1935), Ni Rawit (I Gusti Nyoman, 1935), Sukreni Gadis Bali (Panji Tisna, 1935), Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka, 1936), I Swasta Setahun di Bendahulu (I Gusti Nyoman dan Panji Tisna, 1938), Andang Teruna (Soetomo Djauhar Arifin, 1941), Pahlawan Minahasa (M.R.Dajoh, 1941).

b.      N O V E L / C E R P E N
Kalangan Pujangga Baru (angkatan 33) tidak banyak menghasilkan novel/cerpen. Beberapa pengarang tersebut, antara lain:
(1). Armyn Pane dengan cerpennya Barang Tiada Berharga dan Lupa.
Cerpen itu dikumpulkan dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Kisah Antara Manusia (1953).
(2). Sutan Takdir Alisyahbana dengan cerpennya Panji Pustaka.

c.       E S S A Y DAN K R I T I K
Sesuai dengan persatuan dan timbulnya kesadaran nasional, maka essay pada masa angkatan ini mengupas soal bahasa, kesusastraan, kebudayaan, pengaruh barat, soal-soal masyarakat umumnya.Semua itu menuju keindonesiaan. Essayist yang paling produktif di kalangan Pujangga Baru adalah STA.Selain itu, pengarang essay lainnya adalah Sanusi Pane dengan essai Persatuan Indonesia, Armyn Pane dengan essaiMengapa Pengarang Modern Suka Mematikan, Sutan Syahrir dengan essaiKesusasteraan dengan Rakyat, Dr. M. Amir dengan essai Sampai di Mana KemajuanKita.

d.      D R A M A
Angkatan 33 menghasilkan drama berdasarkan kejadian yang menunjukkankebesaran dalam sejarah Indonesia. Hal ini merupakan perwujudan tentang anjuran mempelajari sejarah kebudayaan dan bahasa sendiri untuk menanam rasakebangsaan. Drama angkatan 33 ini mengandung semangat romantik dan idealisme, lari dari realita kehidupan masa penjjahan tapi bercita-cita hendak melahirkan yang baru.
Contoh:
Sandhyakala ning Majapahit karya Sanusi Pane (1933)
Ken Arok dan Ken Dedes karya Moh. Yamin (1934)
Nyai Lenggang Kencana karya Arymne Pane (1936)
Lukisan Masa karya Arymne Pane (1937)
Manusia Baru karya Sanusi Pane (1940)
Airlangga karya Moh. Yamin (1943)

e.       P U I S I
Puisi Pujangga Baru adalah awal puisi Indonesia modern. Untuk memahami puisi Indonesia modern sesudahnya dan puisi Indonesia secara keseluruhan, penelitian puisi Pujangga Baru penting dilakukan. Hal ini disebabkan karya sastra, termasuk puisi, tidak lahir dalam kekosongan budaya (Teeuw, 1980:11), termasuk karya sastra. Di samping itu, karya sastra itu merupakan response (jawaban) terhadap karya sastra.
Karya sastra, termasuk puisi, dicipta sastrawan. Sastrawan sebagai anggota masyarakat tidak terlepas dari latar sosial–budaya dan kesejarahan masyarakatnya. Begitu juga, penyair Pujangga Baru tidak lepas dari latar sosial-budaya dan kesejarahan bangsa Indonesia. Puisi Pujangga Baru (1920-1942) itu lahir dan berkembang pada saat bangsa Indonesia menuntut kemerdekaan dari penjajahan Belanda. Oleh karena itu, perlu diteliti wujud perjuangannya, di samping wujud latar sosial-budayanya.
Untuk memahami puisi secara mendalam, juga puisi Pujangga Baru, perlu diteliti secara ilmiah keseluruhan puisi itu, baik secara struktur estetik maupun muatan yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada penelitian puisi Pujangga Baru yang tuntas, sistematik, dan mendalam. Sifatnya penelitian yang sudah ada itu impresionistik, yaitu penelaahan hanya mengenai pokok-pokoknya, tanpa analisis yang terperinci, serta diuraikan secara ringkas.
Puisi merupakan struktur yang kompleks. Oleh karena itu, dalam penelitian puisi Pujangga Baru digunakan teori dan metode struktural semiotik. Kesusastraan merupakan struktur ketandaan yang bermakna dan kompleks, antarunsurnya terjadi hubungan yang erat (koheren). Tiap unsur karya sastra mempunyai makna dalam hubungannya dengan unsur lain dalam struktur itu dan keseluruhannya Akan tetapi, strukturalisme murni yang hanya terbatas pada struktur dalam (inner structure) karya sastra itu mengasingkan relevansi kesejarahannya dan sosial budayanya. Oleh karena itu, untuk dapat memahami puisi dengan baik serta untuk mendapatkan makna yang lebih penuh, dalam menganalisis sajak dipergunakan strukturalisme dinamik , yaitu analisis struktural dalam kerangka semiotik. Karya sastra sebagai tanda terikat kepada konvensi masyarakatnya. Oleh karena itu, karya sastra tidak terlepas dari jalinan sejarah dan latar sosial budaya masyarakat yang menghasilkannya, seperti telah terurai di atas.
Di samping itu, untuk memahami struktur puisi Pujangga Baru, perlu juga diketahui struktur puisi sebelumnya, yaitu puisi Melayu lama yang direspons oleh puisi Pujangga Baru.

2.4 Angkatan Pujangga Baru dan Karyanya
1. Sutan Takdir Alisjahbana
Orang besar ini dilahirkan di Natal (Tapanuli) pada 11-02-1908. Setelah
menamatkan HIS di Bengkulu ia memasuki Kweekschool di Bukitinggi dan kemudian HKS di Bandung. Setelah itu ia belajar untuk Hoof Dacte di Jakarta dan juga belajar pada Sekolah Hakim Tinggi. Selain itu belajar pula tentang filsafat dan kebudayaan pada Fakultas sastra. Pendidikan yang beraneka ragam yang pernah dialaminya serta cita-cita dan keinginan yang keras itu, menyebabkan keahlian yang bermacam-macam pula pada dirinya. Karangannya mempunyai bahasa yang sederhana tetapi tepat. Karya-karyanya antara lain:
a.       Tak Putus Dirundung Malang (roman, 1929)
b.      Dian Tak Kunjung Padam (roman, 1932)
c.       Anak Perawan Disarang Penyamun (roman, 1941)
d.      Layar Terkembang (roman tendenz, 1936)
e.       Tebaran Mega (kumpulan puisi/prosa lirik, 1936)
f.       Melawat Ke Tanah Sriwijaya (kisah, 1931/1952)
g.      Puisi Lama (1942)
h.      Puisi Baru (1946)

2. Amir Hamzah
Amir Hamzah yang bergelar Pangeran Indera Putra, lahir pada 28-2-1911 di Tanjungpura (Langkat), dan meninggal pada bulan Maret 1946. Ia keturunan bangsawan, kemenakan dan menantu Sultan Langkat, serta hidup ditengah-tengah keluarga yang taat beragama Islam. Ia mengunjungi HIS di Tanjungpura, Mulo di Medan, dan Jakarta AMS, AI (bagian Sastra Timur) di Solo. Ia menuntut ilmu pada Sekolah Hakim Tinggi sampai kandidat. Amir Hamzah lebih banyak mengubah puisi sehingga mendapat sebutan “Raja Penyair” Pujangga Baru. Karya-karyanya antara lain:
a.       Nyanyi Sunyi (kumpulan sajak, 1937)
b.      Buah Rindu (kumpulan sajak, 1941)
c.       Setanggi Timur (kumpulan sajak, 1939)
d.      Bhagawad Gita (terjemahan salah satu bagian mahabarata)

3. Sanusi Pane
Sanusi Pane lahir di Muara Sipongi, 14-11-1905. Ia mengunjungi SR di Padang Sidempuan, Sibolga, dan Tanjungbalai, kemudian HIS Adabiyah di Padang, dan melanjutkan pelajarannya ke Mulo Padang dan Jakarta, serta pendidikannya pada Kweekschool Gunung Sahari Jakarata pada tahun 1925. Pada tahun 1928, ia pergi ke India untuk memperdalam pengetahuannya tentang kebudayaan India. Sekembalinya dari India ia memimpin majalah Timbul. Di samping sebagai guru pada Perguruan Jakarta, ia menjabat pemimpin surat kabar Kebangunan dan kepala pengarang Balai Pustaka sampai tahun 1941. Pada jaman pendududkan Jepang menjadi pegawai tinggi Pusat Kebudayaan Jakarta dan kemudian bekerja pada Jawatan Pendidikan Masyarakat di Jakarta.
Karya-karyanya antara lain:
a.       Pancaran Cinta (kumpulan prosa lirik, 1926)
b.      Puspa Mega (kumpulan puisi, 1927)
c.       Madah Kelana (kumpulan puisi, 1931)
d.      Kertajaya (sandiwara, 1932)
e.       Sandyakalaning Majapahit (sandiwara, 1933)
f.       Manusia Baru (Sandiwara, 1940)

4. Muhamad Yamin, SH.
Prof. Muhammad Yamin, SH. dilahirkan di Sawahlunto, Sumbar, 23 agustus 1905. Setelah menamatkan Volkschool, HIS dan Normaalschool, ia mengunjungi sekolah-sekolah vak seperti sekolah pertanian dan peternakan di Bogor. Kemudian menamatkan AMS di Jogyakarta pada tahun 1927. Akhirnya ia memasuki Sekolah Hakim di Jakarta hingga bergelar pada tahun 1932. Pekerjaan dan keahlian Yamin beraneka ragam, lebih-lebih setelah Proklamasi Kemerdekaan 19’45, ia memegang jabatan-jabatan penting dalam kenegaraan hingga akhir hayatnya (26 Oktober 1962). Ia pun tidak pernah absen dalam revolusi.
Karya-karyanya antara lain:
a.       Tanah Air (kumpulan puisi, 1922)
b.      Indonesia Tumpah Darahku (kumpulan puisi, 1928)
c.       Menanti Surat dari Raja (sandiwara, terjemahan Rabindranath Tagore)
d.      Di Dalam dan Di Luar Lingkungan Rumah Tangga (Terjemahan dari Rabindranath Tagore)
e.       Ken Arok dan Ken Dedes (sandiwara, 1934)
f.       Gajah Mada (roman sejarah, 1934)
g.      Dipenogoro (roman sejarah, 1950)
h.      Julius Caesar (terjemahan dari karya Shakespeare)
i.        6000 Tahun Sang Merah Putih (1954)
j.        Tan Malaka (19’45)
k.      Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (sandiwara, 1957)

5. J.E. Tatengkeng
Lahir di Kalongan, Sangihe, 19 Oktober 1907. Pendidikannya dimulai dari SD kemudian pindah ke HIS Tahuna. Kemudian pindah ke Bandung, lalu ke KHS Kristen di Solo. Ia pernah menjadi kepala NS Tahuna pada tahun 1947. Karya-karyanya bercorak religius. Dia juga sering melukiskan Tuhan yang bersifat Universal. Karyanya antara lain Rindu Dendam (kumpulan sajak, 1934).

6. Hamka
Hamka adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908. Dia putera Dr. H. Abdul Karim Amrullah, seorang teolog Islam serta pelopor pergerakan berhaluan Islam modern dan tokoh yang ingin membersihkan agama Islam dari khurafat dan bid’ah. Pendidikan Hamka hanya sampai kelas dua SD, kemudian mengaji di langgar dan madsrasah. Ia pernah mendapat didikan dan bimbingan dari H.O.S Tjokroaminoto. Prosa Hamka bernafaskan religius menurut konsepsi Islam. Ia pujangga Islam yang produktif.
Karyanya antara lain:
a.       Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)
b.      Di Dalam Lembah kehidupan (kumpulan cerpen, 1941)
c.       Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (roman, 1939)
d.      Kenang-Kenangan Hidup (autobiografi, 1951)
e.       Ayahku (biografi)
f.       Karena Fitnah (roman, 1938)
g.      Merantau ke Deli (kisah;1939)
h.      Tuan Direktur (1939)
i.        Menunggu Beduk Berbunyi (roman, 1950)
j.        Keadilan Illhi
k.       Lembaga Budi
l.        Lembaga Hidup
m.    Revolusi Agama

7. M.R. Dajoh
Marius Ramis Dajoh lahir di Airmadidi, Minahasa, 2 November 1909. Ia
berpendidikan SR, HIS Sirmadidi, HKS Bandung, dan Normaalcursus di Malang. Pada masa Jepang menjabatat kepala bagian sandiwara di kantor Pusat Kebudayaan. Kemudian pindah ke Radio Makasar. Dalam karya Prosanya sering menggambarkan pahlawanpahlawan
yang berani, sedang dalam puisinya sering meratapi kesengsaraan masyarakat.
Karyanya antara lain:
a.       Pahlawan Minahasa (roman; 1935)
b.      Peperangan Orang Minahasa dengan Orang Spanyol (roman, 1931)
c.       Syair Untuk Aih (sajaka, 1935)

8. Ipih
Ipih atau H.R. adalah nama samaran dari Asmara Hadi. Dia lahir di Talo,
Bengkulu, tanggal 5 September 1914. Pendidikannya di HIS Bengkulu, Mulo Jakarta, Bandung serta Mulo Taman Siswa Bandung. Lebih dari setahun ia ikut dengan Ir. Soekarno di Endeh. Setelah menjadi guru, ia menjadi wartawan dan pernah memimpin harian Pikiran Rakyat di Bandung. Dalam karyanya terbayang semangat gembira dengan napas kebangsaan dan perjuangan. Karya-karyanya antara lain:
a.       Di Dalam Lingkungan Kawat Berduri (catatan, 1941)
b.      Sajak-sajak dalam majalah

9. Armijn Pane
Armijn Pane adalah adik dari Sanusi Pane. Lahir di Muarasipongi, Tapanuli Selatan, 18 Agustus 1908. Ia berpendidikan HIS, ELS, Stofia Jakarta pada tahun 1923, dan pindah ke Nias, Surabaya, dan menamatkan di Solo. Kemudian menjadi guru bahasa dan sejarah di Kediri dan Jakarta serta pada tahun 1936 bekerja di Balai Pustaka. Pada masa pendudukan Jepang menjadi Kepala Bagian Kesusastraan di Kantor Pusat Kebudayaan Jakarta, serta memimpin majalah Kebudayaan Timur.
Karyanya antara lain:
a.       Belenggu (roman jiwa, 1940)
b.      Kisah Antara Manusia (kumpulan cerita pendek, 1953)
c.       Nyai Lenggang Kencana (sandiwara, 1937)
d.      Jiwa Berjiwa (kumpulan sajak, 1939)
e.       Ratna (sandiwara, 1943)
f.       Lukisan Masa (sandiwara, 1957)
g.      Habis Gelap Terbitlah Terang (uraian dan terjemahan surat-surat R.A Kartini, 1938)

10. Rustam Effendi
Lahir di Padang, 18 Mei 1905. Dia aktif dalam bidang politik serta pernah
menjadi anggota Majelis Perwakilan Belanda sebagai utusan Partai Komunis. Dalam karyanya banyak dipengaruhi oleh bahasa daerahnya, juga sering mencari istilah-istilah dari Bahasa Arab dan Sansakerta. Karyanya antara lain:
a.       Percikan Permenungan (kumpulan sajak, 1922)
b.      Bebasari (sandiwara bersajak, 1922)

11. A. Hasjmy
A. Hasjmy nama sebenarnya adalah Muhammad Ali Hasjmy. Lahir di Seulimeun, Aceh, 28 Maret 1912. Ia berpendidikan SR dan Madrasah Pendidkan Islam. Pada tahun 1936 menjadi guru di Perguruan Islam Seulimeun.
Karya-karyanya antara lain:
a.       Kisah Seorang Pengembara (kumpulan sajak, 1936)
b.      Dewan Sajak (kumpulan sajak, 1940)

12. Imam Supardi
Karya-karyanya antara lain:
a.       Kintamani (roman)
b.      Wishnu Wardhana (drama, 1937)

Sastrawan dan penyair lainnya dari angkatan Pujangga Baru:
13. Mozasa, singkatan dari Mohamad Zain Saidi
14. Yogi, nama samaran A. Rivai, kumpulan sajaknya Puspa Aneka
15. A.M. DG. Myala, nama sebenarnya A.M Tahir
16. Intojo alias Rhamedin Or Mandank


Sanusi Pane


LATAR BELAKANG KELUARGA:
Kakak kandung Armijn Pane ini dilahirkan di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan pada tanggal 14 November 1905, tiga tahun lebih tua dari adiknya.
Kalau kita tilik latar belakang kehidupan Sanusi Pane akan kita peroleh jawaban mengapa dia tampak tidak bisa dipisahkan dengan alam. Dalam polemiknya dengan Sutan Takdir Alisyahbana (Pujangga Baru. April 1937) dia mengatakan bahwa di dunia Barat orang harus bekerja keras untuk menaklukkan alam. Orang harus berusaha mempertahankan diri untuk mengusai alam itu. Akibatnya, orang lebih mengutamakan jasmani sehingga timbul materialisme dan individualisme. Tidak demikian halnya dengan di Timur. Orang tidak usah bersusah payah berupaya untuk menaklukkan alam karena alam di Timur tidak sekeras di Barat. Di Timur manusia sudah merasa satu dengan alam sekelilingnya. Intelektualisme dan individualisme tidak begitu penting. Orang Timur tidak mementingkan segi jasmani. Hal ini bukan berarti bahwa derajat bangsa yang setinggi-tingginya itu dapat dicapai oleh “lapisan yang berpusatkan kenyataan: manusia bersatu dengan alam harus meniadakan keinginan jasmaninya dan membersihkan jiwanya." Pandangan hidup Sanusi Pane seperti itulah yang mencoraki hampir semua karyanya.
Kehidupan Sanusi Pane sehari-hari memperlihatkan betapa kuatnya pendiriannya itu mewarnai sikapnya terhadap hal-hal yang bersifat jasmani. Oleh karena sikapnya yang demikian itu pengarang ini tidak pernah membanggakan apa yang telah ia perbuat. Dia selalu bersifat merendah, meskipun sebenarnya hasil karyanya itu patut untuk dibanggakan. Ketika J.U. Nasution ingin menulis buku tentang karyakarya Sanusi Pane Ia tidak berhasil mewawancarainya. meskipun Nasution telah berulang-ulang mencobanya, Sanusi Pane selalu mengatakan. “Saya bukan apa-apa... ... saya bukan apa-apa... " ..." Itulah jawaban yang diberikan oleh Sanusi Pane (Nasution. 1963). Jawaban itu menggambarkan bahwa Sanusi Pane merasa dirinya belum berbuat sesuatu yang patut dihargai.
Menurut istri Sanusi Pane pada waktu presiden Soekamo akan memberikan Satya Lencana Kebudayaan kepada suaminya, Sanusi Pane menolak. Tentu saja sang istri terkejut bukan kepalang. Sanusi Pane memberikan jawaban sebagai berikut:
"Indonesia telah memberikan segala-galanya bagiku. Akan tetapi, aku merasa belum pernah menyumbangkan sesuatu yang berharga baginya. Aku tidak berhak menerima tanda jasa apa pun untuk apa-apa yang sudah kukerjakan. Karena itu adalah semata-mata kewajibanku sebagai putera bangsa."
Penghargaan semacam itu adalah kebanggaan yang bersifat jasmani yang justru harus dihindari dalam upaya mencapai manusia tingkat tinggi. Dengan kata lain, jika manusia tidak mampu melepaskan diri dari hal-hal yang bersifat dumawi dia tidak akan dapat mencapai kebahagiaan yang sejati dalam alam baka nanti.
Keyakinan semacam itu sebenarnya adalah keyakinan orang Hindu. Sehagaimana petikan di atas telah diuraikan bahwa dunia ini hanyalah maya belaka. Bahkan, secara ekstrim dikatakan bahwa dunia ini jahat. Oleh karena itu. manusia harus berjuang untuk keluar dari belenggu itu. Tampaknya agama Hindu sudah merasuk ke dalam sanubari Sanusi Pane meskipun dia dilahirkan dari keluarga yang beragama Islam bahkan adiknya, Prof. Drs. Lafran Pane, adalah pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ketika Sanusi Pane akan meninggal dia berpesan agar jenazahnya diperabukan sebagai pujangga-pujangga Hindu yang telah terdahulu. Sudah tentu permintaan itu tidak dikabulkan oleh keluarganya karena menyalahi ajaran agama Islam.
Selama kurang lebih dua tahun inilah Sanusi Pane menemukan jalan hidupnya untuk mencapai kebahagiaan sejati. Dia menyaksikan hahkan mengalami sendiri kehidupan tanah asal agama Hindu itu. Dia hidup di tanah “mulia". menurut Sanui Pane, penuh kedamaian sehingga ajaran Hindu benar-benar merasuk ke dalam hatinya. Tidak heran kalau dia pernah pantang makan daging karena agama Hindu mengajarkan untuk menyayangi sesama makhluk, termasuk binatang. Kalau orang menyayangi binatang sebagai konsekuensinya harus pantang makan dagingnya. Hal ini benar-benar diamalkan Sanusi Pane dalam kehidupan sehari-hari.
Ajaran agama Hindu itu begitu lekatnya dengan kehidupan Sanusi Pane sehingga masalah keduniaan tidak begitu ia perhatikan.

LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:
Sanusi pane mengawali pendidikannya di Hollands Inlandse School (HIS) di Padang Sidempuan dan Tanjungbalai. Setelah itu. ia melanjutkan ke Europeesche Lager School (ELS) di Sibolga dan kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang dan di Jakarta. Ia tamat dari MULO pada tahun 1922. Selanjutnya, dia belajar di Kweekschool ‘Sekolah Pendidikan Guru' Gunung Sahari. Jakarta sampai tamat tahun 1925 dan langsung diangkat menjadi guru di sekolah itu sampai tahun 1931. Pernah pula Ia mengikuti kuliah di Rechtshogeschool ‘Sekolah Tinggi Kehakiman’ selama satu tahun. Pada tahun 1929--1930 dia melawat ke India untuk memperdalam kebudayaan Hindu (Nasution. 1963).
Sebagaimana telah disebut di muka, begitu lulus dari Kweekschool ‘Sekolah Pendidikan Guru’ pada tahun 1925. Sanusi langsung diangkat menjadi guru di sekolah tersebut. Pekerjaan mengajar itu dijalaninya selama lebih kurang enam tahun (1925--1931).

LATAR BELAKANG PEKERJAAN:
Pada waktu dia bekerja di Balai Pustaka dia menolak untuk diantarjemput. Dia memilih berjalan kaki saja. Segala tawaran yang berkaitan dengan kariernya dibiarkan begitu saja tanpa jawaban. Sering dia membiarkan jatah berasnya membusuk di gudang tanpa diambil. Bahkan, selama bekerja dia tidak pernah mengurus kenaikan pangkatnya sehingga tetap berada dalam pangkat yang sama sampai pensiun. Pada suatu ketika istrinya merasa cemas dengan kehidupan Sanusi Pane yang harus membiayai enam orang anak. Istrinya mencoba menyadarkan Sanusi Pane agar memikirkan nasib anaknya pada masa datang. Sanusi Pane selalu menjawab, “Kita toh belum kelaparan. kita toh belum jadi gelandangan, kita toh masih bisa berpakaian.”
Sanusi Pane tampak tenang dalam kehidupan sehari-hari tidak mudah terpengaruh oleh kesibukan dunia sekelilingnya.

LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:
Selain itu. Sanusi juga dikenal sebagai salah seorang pendiri majalah Pudjangga Baroe. Di majalah tersebut, ia duduk sebagai pembantu utama. Di samping itu, ia pun pernah bekerja di Balai Pustaka.
Sebagai seorang sastrawan sebelum perang. tokoh Sanusi Pane memang tidak setenar adiknya, Armijn Pane, dan Sutan Takdir Alisyahbana. Nama Armijn Pane cukup terkenal lantaran romannya Be!enggu; Sutan Takdir Alisyabbana namanya harum karena Layar Terkembang. Meskipun tidak setaraf dengan kedua pengarang itu, Sanusi Pane sebagai penulis drama, menurut J.U. Nasution. adalah penulis terbesar pada masa sebelum perang atau masa Angkatan Pujangga Baru. Selain penulis drama, Sanusi Pane juga dikenal sebagai penulis puisi meskipun tidak setenar Amir Hamzah. Amir Hamzah mendapat julukan Raja Penyair, tidak demikian halnya dengan Sanusi Pane.
Nama Sanusi Pane tetap terukir dalam sastra Indonesia, khususnya pada masa sebelum Perang Dunia II, baik sebagai penulis puisi maupun penulis drama. Di samping itu, dia termasuk salah seorang tokoh pendiri Angkatan Pujangga Baru. Kalau Armijn Pane menjabat Sekretaris majalah Pujangga Baru, Sanusi Pane adalah sebagai salah seorang pembantu utamanya.
Pada masa gerakan Pujangga Baru pandangan orang terhadap kebudayaan Indonesia pada umumnya ada perubahan yang cukup mencolok dibandingkan dengan angkatan sebelumnya. Perbedaan pandangan terhadap kebudayaan itu menimbulkan polemik yang cukup seru. Polemik itu melibatkan tokoh-tokoh kenamaan seperti Ki Hadjar Dewantara, Purbatjaraka, Sutomo, M. Amir, Adinegoro, Sutan Takdir Alisyahbana, dan tidak ketinggalan Sanusi Pane, Karangan yang muncul dalam polemik para ahli kebudayaan itu dikumpulkan oleh Achdiat Karta Mihardja (1977) menjadi sebuah buku yang berjudul Polemik Kebudayaan.
Dalam banyak hal Sanusi Pane bertentangan dengan Sutan Takdir Alisyahbana. Takdir yang lebih banyak condong ke Barat mempunyai semboyan bahwa hidup harus selalu berjuang. hidup harus bekerja keras. Tanpa menyadari dan melaksanakan hal itu orang tidak akan maju, tidak akan bisa menjadi manusia yang modern. Sanusi Pane lehih mengutamakan ketenangan dan kedamaian. Justru hal inilah oleh Takdir dianggap hal yang melembekkan. Semboyan tenang dan damai membelenggu orang menjadi tidak maju.
Tampaknya aliran pikiran Hindu menyatu dalam diri Sanusi Pane. Orang Hindu beranggapan bahwa dunia ini adalah maya, kosong belaka. Untuk apa orang harus berlomba-lomba menguasai dunia yang sebenarnya hanya semu belaka. Mereka beranggapan bahwa ruh manusia di dunia ini diciptakan dari ruh dunia, ruh yang universal. Dia akan meresap kembali dengan ruh dunia itu. Di sanalah kebahagiaan itu akan dicapai manusia jika ia berhasil memisahkan diri dengan hal-hal yang bersifat materi.
Semboyan Sanusi Pane yang lebih mengutamakan ketenangan dan kedamaian itu tampaknya terjelma pada hampir semua hasil karyanya, baik yang berupa puisi maupun drama. Itulah sebabnya dia dikenal sebagai pengarang romantik. Dia merenungi kejayaan dan kemegahan serta kedamaian masa lampau. Dia merenungi kedamaian yang didendangkan alam sekitar. Alam tidak hanya sebagai lambang, tetapi juga sebagai objek pengubahan sajak-sajaknya yang mendendangkan alam, misalnya, “Sawah, “Teja”, “Menumbuk Padi”.
Keindahan sawah menyentuh kalbu sang pujangga. Padi yang sedang menguning melambai-lambai; suara seruling petani sejuk terdengar mendamaikan hati. Sekelompok anak bercanda-ria, berkejarkejaran karena kegirangan mandi di sungai yang jernih. Langit cerah berwarna biru menawarkan ketenangan dan kedamaian. Di kejauhan tampak seekor burung elang melayang-layang di udara menikmati alam nan permai. Suara berdesik dari dedaunan berbisik merdu karena terbuai angin nan lembut. Sayup-sayup terdengar suara kokok ayam menambah kedamaian jiwa yang mendengarnya.
Sanusi Pane melihat alam dengan penuh gembira. Alam yang merupakan sumber yang tak kering-keringnya untuk dinikmati secara terus-menerus. Terkadang jiwa Sanusi Pane mengembara jauh ke masa silam; dia mendambakan kejayaan masa lampau yang gemilang.
Paham romantik masih tetap mengalir dalam jiwa Sanusi Pane. Dalam buku kumpulan sajaknya yang kedua berjudul Madah Kelana, jiwa keromantikan itu masih tetap mewarnainya. Banyak kita jumpai sajak-sajak percintaan yang cukup romantis, “Angin”, “Rindu”, “Bagi kekasih”, ‘Kemuning”, dan “Bercinta”. Sajak yang terbesar yang terdapat dalam Madah Kelana yakni “Syiwa Nataraja” adalah sajak yang melukiskan keinginan pengarang untuk bersatu dalam alam. Tampaknya ketika dia menciptakan sajak ini dia mengeluarkan segala kekuatannya sehingga menghasilkan sajak yang sebesar itu. Di samping itu, masib banyak lagi kita jumpai sajak-sajaknya yang senafas dengan itu. misalnya, “Awan”, “Penyanyi”. “Pagi”, “Damai", dan “Bersila”. Hal ini membuktikan keyakinan Sanusi Pane bahwa manusia harus bersatu dengan alam. Hal ini masih tetap mewarnai karya-kanya puisinya yang terkumpul dalam Madah Kelana ini.
Sanusi Pane di samping sebagai penyair juga sebagai penulis drama. Sebagai penulis drama dia adalah penulis terbesar pada masa sebelum perang, sebagaimana telah diuraikan di atas. Dia telah menulis dua drama dalam bahasa Belanda yang berjudul Air Langga dan Enzame Garoedavlucht dan tiga buah dramanya dalam bahasa Indonesia yang berjudul Kertajaya, Sandyakala Ning Majapahit. serta Manusia Baru.
Drama Sanusi Pane. yang berjudul Kertajaya merupakan cerita tragedi yang mengingatkan kita pada cerita Romeo and Juliet karya pujangga Inggris Shakespeare. Dalam kesusastraan Jawa kita jumpai tragedi semacam itu pula yakni cerita Pranacitra dan Rana Mendut, di Bali kita jumpai cerita Jayaprana dan Layonsari. Drama itu ditutup dengan matinya dua tokoh utama, Dandang Gendis (Kertajaya) dan Dewi Amisani dengan cara bunuh diri. Suatu penyelesaian yang sangat berbeda kalau kita bandingkan dengan fakta sejarah. Memang, ada pula perbedaan fakta yang dikemukakan oleh ahli sejarah tentang nasib Kertajaya sebagai raja Kediri. Stutterheim, misalnya. menyatakan bahwa Kertajaya mengasmgkan diri sebagai petapa. Lain halnya dengan Krom, dia mengatakan, setelah Kertajaya kalah dalam pertempuran di Garner dia hilang, tidak jelas ke mana, mungkin mati atau melarikan diri.
Sastrawan mempunyai kebebasan dalam menafsirkan suatu peristiwa. Sastrawan bukan pencatat peristiwa-peristiwa sejarah. Sebagaimana sastrawan Sanusi Pane memberi tafsiran yang berbeda dengan kedua ahli sejarah di atas. Dia memilih jalan sendiri untuk mengakhiri cerita itu dengan mematikan tokoh utamanya. Kedua tokoh utama dalam cerita itu mati dengan cana bunuh diri. Apa yang diceritakan oleh Sanusi Pane dapat kita maklumi karena dia adalah pengarang yang berjiwa romantik. Fantasi romantiknya yang mendorong pengarang untuk mengakhiri ceritanya dengan tetesan air mata. Hal yang sama dilakukannya pula dalam dramanya yang berjudul Sandyakala Ning Majapahit.
Adegan pertama dalam drama Sanusi Pane yang berjudul Kertajaya sudah menunjukkan kekhasan Sanusi sebagai pengarang romantik. Dialog-dialog antara kedua tokoh utama cerita itu merupakan wujud lahir jiwa romantik sang pengarang. Pengambilan latar di lereng gunung Wilis, dihiasi kicauan bunung, suara angin yang berhembus, ayam yang berkokok sangat mendukung suasana romantis yang diingini pengarang. Dari jawaban Dandang Gendis (Kertajaya) atas pertanyaan Dewi Amisani itu kita ketahui bahwa lukisan tentang cinta seperti itu terlalu dilebih-lebihkan pengarang. Orang bersusah payah mencari nirwana melalui buku atau guru yang sampai mati pun sering tidak menemukannya. Akan tetapi, Dandang Gendis menemukan nirwana itu di mata kekasihnya, Dewi Amisani. Dandang Gendis menyamakan nirwana dengan kekaksihnya. Meskipun drama itu ditulis tahun 1938 (drama ini dimuat pertama kali pada majalah Poedjangga Baroe, tahun VI, No. 3, bulan Desember 1938) lukisan semacam itu tetap terasa berlebihan. Hal ini justru membuktikan pengaruh romantik sangat kuat dalam diri Sanusi Pane.
Dorongan hati untuk menciptakan cerita yang mengharukan. yang dapat mencucurkan air mata bagi pembaca atau penonton masih terlihat dalam drama Sanusi Pane yang berjudul Sandyakala Ning Majapahit. Akhir cerita drama ini lain sama sekali dengan buku yang dijadikan dasar pembuatan cerita itu yakni Serat Damarwulan. Sanusi Pane mengatakan bahwa sebagai dasar pembuatan drama Sandyakala Ning Majapahit adalah Serat Damarwulan dan cerita Raden Gajah yang terdapat dalam Pararaton.
Cerita Damar Wulan diakhiri dengan happy ending. Keberhasilan Damar Wulan membawa kepala Menak Jingga ke Majapahit menyebabkan dia menduduki tahta kerajaan serta dinikahkan dengan sang ratu. Damar Wulan bergelar Prabu Brawijaya serta hidup dengan kejayaannya. Sebaliknya, Sandyakala Ning Majapahir diakhiri dengan peristiwa yang tragis. Di samping Damar Wulan tidak dinikahkan dengan ratu Majapahit dia juga dituduh sebagai pengkhianat. Tuduhan itu begitu hebatnya sehingga hukuman mati bagi Damar Wulan tak terelakkan lagi. Sepeninggal Damar Wulan kerajaan Majapahit diporakporandakan balatentara dari kerajaan Bintara.
Drama Sanusi Pane yang terakhir berjudul Manusia Baru. Drama ini dibuat pertama kali dalam majalah Poedjangga Baroe, tahun VIII, No. 5. November 1940. Tujuh tahun setelah dramanya yang berjudul Sandhyakala Ning Majapahit, Sanusi Pane menghasilkan dramanya Manusia Baru itu. Masa kurang lebih tujuh tahun sudah cukup bagi Sanusi Pane untuk menghasilkan ide-ide baru yang berbeda dengan ide-ide yang dituangkannya dalam puisi maupun drama sebelumnya. Dalam kurun waktu itu pula dia berhasil mengungkapkan konsep “manusia barunya"-nya. Manusia yang dapat mencapai kebahagiaan lahir batm, kebahagiaan dunia akhirat atau “insan kamil".
Manusia semacam itu, menurut Sanusi Pane, tidak hanya mementingkan hal-hal yang bersifat rohani belaka. Dunia tidak lagi dianggap “jahat” yang perlu dijauhi dan dihindari, sebab menghindari dunia, hidup tidak bisa dipertahankan. Manusia hidup pada zaman modern ini harus bekerja keras dan mau menaklukkan dunia seperti tokoh Faust ciptaan Gothe. Akan tetapi, manusia modern harus tetap memiliki budi yang luhur, religius, dan cinta sesama manusia sebagaimana dimiliki oleh Arjuna ciptaan Empu Kanwa. Jika manusia belum dapat memadukan dua pribadi itu dalam dirinya dia bukan manusia modern yang diidealkan Sanusi Pane.
Di dalam Manusia Baru Sanusi Pane tidak lagi tenggelam ke dalam kejayaan dan kemegahan pada masa silam. Dia tidak lagi mengagungkan apa yang telah dicapai oleh nenek moyang sementara dirinya tidak berprestasi. Hal ini bukan berarti mengabaikan dan tidak mencintai karya agung warisan leluhur kita. Yang lama tetap agung dan berharga. Akan tetapi, manusia sekarang harus hidup pada masa sekarang serta mampu memandang kehidupan jauh ke depan. Dari yang lama manusia sekarang dapat mengambil manfaatnya selama dapat dimanfaatkan. Manusia sekarang harus pandai menyaring pengaruhpengaruh dari warisan lama termasuk budaya dari asing. Inilah “Manusia baru” yang diidealkan oleh Sanusi Pane dalam dramanya yang berjudul Manusia Baru. Tokoh Rama atau Rama Rao adalah simbol seniman pada umumnya masih terpesona keagungan masa silam. Dia berhasil disadarkan oleh Das atau Surendranath Das untuk bangkit sebagai manusia baru, seniman baru yang harus hidup penuh semangat memandang jauh ke masa depan. Seniman yang masih terikat oleh masa silam akan menghasilkan karya yang “layu, beku, kabur, mati, dan tidak berjiwa.”
Ide manusia yang ditampilkan Sanusi Pane dalam drama ini mencakup pula emansipasi wanita. Emansipasi ini tampak pada akhir ceritanya. Tokoh Saraswati atau Saraswati Wadia anak ketua Perkumpulan Industri Tenun Madras bangkit dari kungkungan adat lama. Adat lama mengatur bahwa anak gadis harus ditunangkan sejak kecil. Demikian juga Saraswati, dia ditunangkan sejak masih balita, sejak masih berumur empat tahun, peristiwa yang sama sekali tidak dikehendaki oleh Saraswati. Dia tidak mau hidup bagaikan dalam sangkar, sebentar dilepaskan kemudian dimasukkan kembali. Dia memberontak semua itu. Pertemuan antara Saraswati dengan seorang penganjur pemogokan kaum buruh, Surendranath Das, menyadarkan jiwanya untuk ikut bangkit sebagai manusia baru. Saraswati mengagumi watak dan pemikiran Surendranath Das. Bahkan, dia mencintai Das dan harus meninggalkan tunangan lamanya. Sudah barang tentu keluarganya tidak menyetujui hubungan itu, karena dalam peristiwa pemogokan kaum buruh itu Das adalah musuh keluarga Saraswati. Ketika Das akan pergi meninggalkan Madras, Sarswati bertekat akan tetap mengikuti ke mana Das pergi. Dia meningalkan adat lama; dia meninggalkan keluanga. ayah dan ibunya tersayang. Dia lakukan semua itu demi cintanya kepada Das, demi kemajuan bangsanya, demi kemajuan manusia, manusia baru.
Menarik sekali kisah cinta Sarswati dan Das yang ditampilkan Sanusi Pane dalam dramanya Manusia Baru ini karena kisah cinta kedua tokoh itu sangat mirip dengan kisah cinta sang pengarang. Ketika Sanusi Pane melamar sang bidadari pujaan hatinya, pihak keluarga perempuan meminta boli (mahar) sebesar tiga ribu gulden. Permintaan itu terlalu besar sehingga tidak terbayar oleh Sanusi Pane. Sebenarnya permintaan boli sebesar itu adalah penolakan secara halus. Apa reaksi Sanusi Pane atas permintaan itu? Sanusi Pane mengajak kekasihnya untuk melakukan marlojong (kawin lari). Kesepakatan telah dicapai: niat akan dilaksanakan sang mertua mengetahui tekad kedua anak manusia itu. Boli sebesar tiga nibu gulden pun dibatalkan dan hanya diminta membayar boli sebesar tiga ratus gulden. Perkawinan dilaksanakan dengan boli sebesar tiga ratus gulden walaupun akhirnya diketahui bahwa uang sebesar itu hasil Sanusi Pane meminjam. Sang mertualah yang pada akhirnya pula membayar hutang menantunya itu.
Dari keseluruhan karyanya dapat disimpulkan bahwa Sanusi Pane tidak hanya menganut satu aliran. Karya-karyanya, sebelum Manusia Baru, terwarnai alinan romantik yang sangat kuat. Dramanya yang berjudul Manusia Baru ini sudah mencerminkan sifat realistis pengarang. Pengarang benar-benar telah menemukan dirinya sebagai manusia baru, yang harus hidup pada masa sekanang. Untuk menemukan manusia baru itu diperlukan perenungan yang cukup panjang. Seperti pengakuan dalam esai tentang Timur dan Barat sebagai berikut. “Pengembaraan kami dalam berbagai-bagai kebudayaan membentuk semangat yang tertentu dalam diri kami. Semangat itu minta bahasa dan kesusastraan bam untuk wujudnya."
Sanusi Pane telah tiada. Ketika fajar mulai menyingsing tanggal 2 Januari 1968 sang Pujangga dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Dia pergi penuh kedamaian; telah banyak yang dilakukannya untuk kemaslahatan manusia. Dia mengabdikan dirinya dengan tulus ikhlas untuk kemanusian. Semoga dia dapat mencapai kebahagiaan “petala nirwana”. Sanusi Pane meninggalkan seorang istri dan enam orang anak tanpa meninggalkan kekayaan yang berupa materi sedikit pun, bahkan rumahpun tak dimilikinya.
    
KARYA:
Karya Sanusi Pane, antara lain:
a. Prosa Lirik
(1) Pancaran Cinta (kumpulan prosa lirik, 1926).

b. Puisi
(1)   Puspa Mega (kumpulan), Jakarta: Balai Pustaka, 1927.
(2)   Madah Kelana (kumpulan), Jakarta: Balai Pustaka I, 1931, 111950, Proyek Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan Daerah, 1978.

c. Drama
(1)   Airlangga (berbahasa Belanda), 1928.
(2)   Eenzame Garoedavlucht (berbahasa Belanda), 1929
(3)   Kertajaya, Jakarta: Balai Pustaka, 1932, Pustaka Jaya I 1971, IV 1987.
(4)   Sandyakala Ning Majapahir, Jakarta: Balai Pustaka, 1933, dan Pustaka Jaya 1974
(5)   Manusia Baru, Jakarta: Balai Pustaka, 1940.

d. Terjemahan
Arjuna Wiwaha. Jakarta: Balai Puistaka I, 1940, II 1949 dan Proyek Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan daerah, 1978.

e. Bunga Rampai
Bunga Rampai dari Hikayat Lama. 1946. Jakarta: Balai Pustaka

f. Sejarah
(1)   Sejarah Indonesia. 1942, 4 jilid.
(2)   Sejarah Indonesia Sepanjang Masa, 1952.


STRUKTUR DAN MAKNA PUISI “TERATAI”
TERATAI
Kepada Ki Hajar Dewantoro

Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu

Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun berseri Laksmi mengarang

Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia
Teruslah O Teratai Bahagia
Berseri di kebun Indonesia

Biar sedikit penjaga taman
Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat
Engkau pun turut menjaga zaman

Dari: Madah Kelana

Karya sastra yang beraliran impresionisme pada umumnya terdapat pada masa angkatan Pujangga Baru, masa Jepang, yang pada masa itu kebebasan berekspresi tentang cita-cita, harapan, ide belum dapat disalurkan secara terbuka. Semua idealisme disalurkan melalui bentuk yang halus yang maknanya terselubung. Pengarang Indonesia yang karyanya bersifat impresif antara lain ialah Sanusi Pane, dengan puisi-puisinya Candi, Teratai, Sungai, Abdul Hadi W.M., dan W.S Rendra.  Impresionisme berarti aliran dalam bidang seni yang lebih mengutamakan kesan tentang suatu objek yang diamati dari pada wujud objek itu sendiri. Aliran ini bermula di Perancis pada akhir abad ke-l9.. Di dalam seni sastra, aliran impresionisme tidak berbeda dengan aliran realisme, hanya pada impresionisme yang dipentingkan adalah kesan yang diperoleh tentang objek yang diamati penulis. Selanjutnya, kesan awal yang diperoleh pengarang diolah dan dideskripsikan menjadi visi pengarang yang sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu.
Ode adalah Puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, sesuatu keadaan. Yang banyak ditulis adalah pemujaan terhadap tokoh-tokoh yang dikagumi. “Teratai” Sanusi Pane, “Diponegoro” Chairil Anwar, dan “Ode Buat Proklamator” Leon Agusta merupakan contoh ode yang bagus.

PARAFRASE
TERATAI
Kepada Ki Hajar Dewantoro
“Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga"
“ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
("di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung")

Dalam kebun di tanah airku
Kebun merupakan sebidang tanah yg ditanami beraneka ragam pohon atau tanah luas yg ditanami kopi, karet, dan hal yang berubungan dengan tumbuhan yang menghasilkan serta berdaya guna. Kebun diidentikkan dengan Indonesia yang subur, dihuni oleh berbagai jenis karakter, jiwa, manusia,suku, seni, budaya, bahasa suatu bangsa.

Tumbuh sekuntum bunga teratai
Telah lahir bunga indah sebagai lambang ketulusan, kejujuran, ketulusan. Teratai yang tumbuh di air yang sangat berlumpur (kotor, coklat), warna bunganya lebih cemerlang. bunga teratai tersebut tetap menawan dan suci tidak kena pengaruh oleh lumpur. Demikian juga orang bijaksana akan bekerja apapun sebagai darma di dunia.

Tersembunyi kembang indah permai
Keindahan yang tidak disombongkan dan tidak dinampakkan. Suatu kebaikan yang tidak ditinjilkan, tapi biarlah orang lain yang menilai kebaikan tersebut.


Tidak terlihat orang yang lalu
Kebaikan, keyakinan, kejujuran, kesucian, keharuman, dan ketulusan yang tidak akan dapat dirasakan, dimengerti jika tidak menyelami lebih dalam terhadap diri dan pribadi Ki Hajar Dewantara sebagai tulus dan suci adalah persembahan kepada Tuhan guna menyelamatkan alam beserta isinya.

Akarnya tumbuh di hati dunia
Hasil kerja, usaha, dan jerih payah Ki Hajar telah mendunia, tidak hanya di tanah airnya saja. Dalam studinya di negeri Belanda, Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.
“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun”.
Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun".

Daun berseri Laksmi mengarang
Dewi Lakshmi digambarkan sebagai suatu Ibu jujur, dengan empat lengan, berpakaian bagus dan permata-permata mahal, menganugerahkan koin-koin dari kemakmuran dan diapit oleh gajah-gajah menandakan kuasa. Fitur paling mencolok dari ilmu arca dari Lakshmi adalah bunga teratai. Arti dari bunga teratai dalam hubungan dengan Shri Lakshmi mengacu pada kemurnian dan kuasa rohani. Dewi Laksmi dilukiskan sebagai perempuan yang cantik berkulit keemasan, dengan empat tangan, duduk atau berdiri di atas bunga teratai yang sedang mekar dan memegang setangkai bunga teratai, yang bermakna kecantikan, kesuburan dan kemurnian.
Duduk dalam lumpur tetapi bunga di atas air, dengan sepenuhnya tidak terjangkit oleh lumpur, bunga teratai mewakili kesempurnaan upacara agama dan otoritas yang naik di atas pencemaran duniawi. Dewi Laksmi disebut juga Dewi Uang. Ia juga disebut "Widya", yang berarti pengetahuan.

Biarpun dia diabaikan orang
Diabaikan dalam baris ini adalah kekuatan dan pengaruh Ki Hajar Dewantara mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu, Ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka  dan bersama kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Dengan demikian, ia seakan terabaikan oleh masyarakat Indonesia saat itu.

Seroja kembang gemilang mulia
Seroja = teratai. Ia harum namanya berkat pandangan beliau dari muda sampai konsep tut wuri handayani. Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Hanya ungkapan tut wuri handayani saja yang banyak dikenal dalam masyarakat umum. Arti dari semboyan ini secara lengkap adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan.

Teruslah O Teratai Bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Nama Ki Hajar Dewantara akan tetap harum dan dikenang oleh setiap masyarakat Indonesia dari anak-anak sekolah sampai Profesor, Doktor, mentri bahkan presiden sekalipun. Beliau dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia dan wajahnya bisa dilihat pada uang kertas pecahan Rp20.000. Nama beliau diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Selain itu, sampai saat ini perguruan Taman Siswa yang beliau dirikan masih ada dan telah memiliki sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Ia diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional

Biar sedikit penjaga taman
Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat
Diabaikannya nilai luhur bangsa seperti budi pekerti menjadikan sistem pendidikan di Indonesia tidak mengajarkan anak didik mampu menghargai atau menghormati orang lain, atau bersikap tenggang rasa. Anak sekolah cenderung mendapat contoh atau teladan buruk tidak saja dari lingkungannya, tetapi juga dari guru sendiri. Ibarat ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’. Bagaimana guru bisa melarang murid tidak merokok kalau dia sendiri secara sembunyi-sembunyi keluar dari ruang kelas untuk merokok?"
Pelaksanaan pendidikan lebih didasarkan pada minat dan potensi apa yang perlu dikembangkan pada anak didik, bukan pada minat dan kemampuan apa yang dimiliki oleh pendidik. Apabila minat anak didik ternyata akan ke luar atau pengembangan potensi anak didik di jalan yang salah maka pendidik berhak untuk meluruskannya.

Engkau pun turut menjaga zaman
Ia memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Belajar bukan sekedar teori dan praktik disekolah, tetapi juga belajar menghadapi realitas dunia. Sekolah dan Dunia menurut konsep ini berarti tidak terpisah. Dengan itu, diharapkan para guru mengajarkan ilmu teori serta praktek di dunia dan juga kepada siswa jika tidak sungkan-sungkan menanyakan apa saja hal yang tidak diketahuinya tentang dunia kepada guru mereka masing-masing. Tujuan dari konsep ini, agar para lulusan sekolah dapat mampu hidup dan bisa berbuat banyak setelah lulus dari sekolah.
Budi pekerti merupakan nilai-nilai luhur budaya kita sendiri yang sudah diajarkann jauh-jauh hari oleh bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantara dan para pendiri bangsa ini.

PEMBAHASAN
            Sajak Sanusi Pane “Teratai” menyimbolkan Ki Hajar Dewantara yang menjaga bumi Indonesia dengan ajarannya yang bersifat kebangsaan, dengan semangat keindonesiaan asli. Adapun bagi Sanusi Pane, Indonesia itu datang dari dalam diri (melalui sejarah) karena sang budayawan berpandangan bahwa  Indonesia adalah sambungan sejarah Nusantara yang terus berdialektika semenjak jaman Sriwijaya dan Majapahit. Puisi ini memuja Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh yang pantas untuk diteladani. Ia dibandingkan dengan bunga teratai yang tidak menonjolkan diri namun namanya termasyur di seluruh penjuru dunia. Kekaguman penyair kepada Ki Hajar Dewantara lebih nyata dengan baris terakhir "Engkau turut menjaga zaman".
Puisi sering-sering mengungkapakan cerita yang isinya dimaksudkan untuk memberikan nasihat tentang budi pekerti dan agama. Jenis alegori yang terkenal adalah parable yang juga disebut dongeng perumpamaan. Dalam kitab suci banyak kita jumpai dongeng-dongeng perumpamaan yang maknanya dapat kita cari dibalik yang tersurat. Puisi "Teratai" karya Sanusi Pane boleh dikatakan sebagai puisi alegori, karena kisah bunga teratai itu digunakan untuk mengisahkan tokoh pendidikan. Kisah tokoh pendidikan yang dilukiskan sebagai teratai itu digunakan untuk memberi nasihat kepada generasi muda agar mencontoh teladan 'teratai' itu.
Teratai merupakan tanaman air yang unik. Teratai yang tumbuh di air yang sangat berlumpur (kotor, coklat), warna bunganya lebih cemerlang. Warna bunga bila putih lebih putih, bila merah lebih merah, bila merah muda makin terang dan indah warnanya. Betatapun kotornya tempat dia hidup, tapi keindahannya tetap terjaga dengan baik. Bahkan lingkungannya yang ingin merusak dirinya, bunga teratai tetap tumbuh tanpa merusak lingkungannya. Kehidupan juga ibaratkan bunga teratai yang hidup di lingkungan yang terkadang dan bahkan tidak bersahabat. Alam sekitar memaksa untuk menerima dan menyesuaikan dengan lingkungannya. Begitu juga manusia, manusia dilahirkan sebagai makhluk dengan keindahan dan kesempurnaan yang akan membawa kebaikan bagi lingkungan dan alam sekitarnya. Keindahan manusia akan terlihat dari seberapa besar pengaruh lingkungan terhadap dirinya. Banyak orang yang tidak menyadari, bahwa dirinya yang indah dipengaruhi oleh lingkungan yang menjadikannya tidak lagi indah dan bersahaja. Banyak orang yang tadinya merupakan panutan bagi orang lain, tapi menjadi parasit kemudian.
Bunga teratai (padma) yang berhelai delapan tepat pula sebagai simbol delapan kemahakuasaan Sanghyang Widhi Wasa sebagai Bhatara Siwa yang disebut Asta-Aiswarya. Asta-Aiswarya ini juga menguasai delapan penjuru mata angin. Keistimewaan bunga padma adalah: puncak atau mahkotanya bulat, daun bunganya delapan, tangkainya lurus, dan tumbuh hidup di tiga lapisan: lumpur, air, dan udara. Hal-hal ini memenuhi simbol unsur-unsur filsafat Ketuhanan atau Widhi Tattwa, yakni keyakinan, kejujuran, kesucian, keharuman, dan ketulusan.
Tetapi bunga teratai tersebut tetap menawan dan suci tidak kena pengaruh oleh lumpur. Demikian juga orang bijaksana akan bekerja apapun sebagai swadharma, serta tidak terikat akan hasilnya. Orang yang terikat oleh hasil kerja sesungguhnya adalah penderitaan dan dikatakan budak dari pekerjaan tersebut. 
Hukum kerja mengatakan, setiap pekerjaan akan mendapatkan pahala karma, besar dan kecilnya tergantung dari kerja tersebut. Tidak ada perbuatan yang tidak mendatangkan hasil. Dalam kehidupan sekarang banyak orang mengingkari makna kerja, bahkan mengedepankan hasil dari pada melaksanakan tugas dan fungsinya, orang yang melalaikan kerja sesungguhnya menyia-nyiakan kehidupan. Kerja yang tulus dan suci sesungguhnya adalah persembahan kepada Brahman/Tuhan, guna menyelamatkan alam beserta isinya. Dalam filsafat Hindu dinyatakan seperti bunga teratai yang tumbuh dalam air dan lumpur.
Tampaknya aliran pikiran Hindu menyatu  dalam diri pribadi Sanusi Pane. Hal ini terbukti bahwa ia sebagai penganut paham Orang Hindu meskipin beragama Islam yang beranggapan bahwa dunia ini adalah maya, kosong belaka. Orang tidak harus berlomba-lomba menguasai dunia yang sebenarnya hanya semu belaka. Mereka beranggapan bahwa ruh manusia di dunia ini diciptakan dari ruh dunia, ruh yang universal. Dia akan meresap kembali dengan ruh dunia itu. Di sanalah kebahagiaan itu akan dicapai manusia jika ia berhasil memisahkan diri dengan hal-hal yang bersifat materi.
Semboyan Sanusi Pane yang lebih mengutamakan ketenangan dan kedamaian itu tampaknya terjelma pada hampir semua hasil karyanya, baik yang berupa puisi maupun drama. Itulah sebabnya dia dikenal sebagai pengarang romantik. Dia merenungi kejayaan dan kemegahan serta kedamaian masa lampau. Dia merenungi kedamaian yang didendangkan alam sekitar.
Citraan adalah efek yang ditimbulkan oleh kata atau susunan kata dalam puisi terhadap pancaindera manusia. Jika kata-kata dalam puisi itu. Citraan adalah gambaran angan yang muncul di benak pembaca puisi. Lebih lengkapnya, citraan adalah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya.. Citraan yang terdapat dalam “Teratai” adalah hanya pada citraan penglihatan saja.
Citraan penglihatan :
a.       tersembunyi kembang indah permai
b.      tidak terlihat oleh yang lalu
c.       biarpun engkau tidak terlihat



Majas/gaya bahasa
Pemajasan (figure of thought) merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan, yang maknanya tidak menunjuk pada makna harafiah kata-kata yang mendukungnya melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang tersirat. Gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum.
1.      Majas personifikasi, Personifikasi merupakan penggambaran dari sebuah ide, objek atau binatang yang seolah-olah berlaku seperti manusia. personifiaksi menyatakan sebuah bentuk dari perbandingan dan membuat penyair mampu untuk menggambarkan dengan tenaga dan vitalitas dari yang semestinya tidak hidup. Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda mati atau barang yang tak bernyawa seolah-olah dapat bertingkah laku seperti manusia.
-          Akarnya tumbuh di hati dunia
-          Daun berseri
-          Berseri di kebun

2.      Metafora, gaya bahasa perbandingan yang sifatnya tidak langsung dan implisit. analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat dengan kias perwujudan. Hubungan antara sesuatu yang dinyatakan pertama dengan yang kedua hanya bersifat sugesti, tidak ada kata-kata petunjuk perbandingan eksplisit.
-          Engkau pun turut menjaga zaman

3.      Repetisi bentuk gaya pengulangan dengan menampilkan pengulangan kata atau kelompok kata yang sama. Kata atau kelompok kata yang diulang ke dalam repetisi bisa terdapat dalam satu kalimat atau lebih, dan berada pada posisi awal, tengah, atau di tempat lain.
-          Biarpun engkau tidak dilihat
-          Biarpun engkau tidak diminat

4.      Aliterasi, gaya bahasa dengan menggunakan pengulangan konsonan. Diksi yang dipilih adalah kata-kata yang memiliki wujud fisik hampir mirip, beberapa konsonan sama, memiliki makna seiring yang bisa dipadukan satu sama lain sehingga menimbulkan arti yang dalam dan suara yang indah. Diksi aliterasi mengedepankan bentuk dan fonologi untuk mendapatkan efek estetis.
-          Seroja kembang gemilang mulia
-          Tumbuh sekuntum bunga teratai
-          Teruslah O Teratai Bahagia

5.      Sinekdoke, adalah menyebutkan sebagian untuk maksud keseluruhan (pars pro toto) atau menyebutkan keseluruhan untuk sebagian (totem pro parte).
-          Berseri di kebun Indonesia
-          Dalam kebun di tanah airku

6 komentar:

  1. terima kasih sudah post ttg pujangga baru.. keren dan lengkap sekali :D

    BalasHapus
  2. woke. . . . semoga bermanfaat. . . itu cm comot sana-sini kuq. . .

    BalasHapus
  3. mmaanntteepp ..

    BalasHapus
  4. sumber referensinya drmn ajaaa yaaa??? info please. tks

    BalasHapus
  5. terimakasih...
    kalo bisa kasih sumbernya

    BalasHapus
  6. kereeen
    sangat membantu
    makasih yah... Visit My Blog ^_^

    BalasHapus