ANDRIW

Foto saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Sabtu, 04 Juni 2011

GANDRIK: SPIRIT TEATER TRADISIONAL – KONTEMPORER


James R. Brandon dalam bukunya The Cambrids, Guide to Asian Theatre” menyebutkan mengenai teater Gandrik.
Dwelling at the crossroads of town and country, Teater Gandrik leads a growing movement, centred in Java, that strives to inject contemporary theatre with the rural values of community through the malleable comic folk form of Dagelan Mataram. Its style has been coarse, some of which seems to be erased in its most recent production “tree Spirit” (Demit, 1990). Gandrik’s production unveil the personal and political greed that lurks under the cover of commercial and intellectual pretence.
Teater Gandrik, sebuah kelompok sandiwara yang didirikan pada 12 Oktober 1982 di kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta, di saat Festival Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan RI, menjadi ajang bergengsi bagi pergelaran sandiwara yang dilakukan hampir tanpa pretensi apapun, kecuali mempegelarkan karya pertunjukan teater. Nama Gandrik sendiri dilontarkan oleh Camat Mantrijeron pada waktu itu, bapak Kasiharto, di tengah latihan mengikuti Festival Pertunjukan Rakyat. Lontaran itu dimaksudkan sebagai pernyataan sang Camat bahwa kelompok teater kontingen dari Mantrijeron itu akan membuat keterkejutan masyarakatnya. "Gandrik" memang sebuah idiom dalam tradisi Jawa untuk menyampaikan keterkejutan Gandrik, di festival itu mempergelarkan lakon "Kesandung" karya Fadjar Suharno dan "Meh" karya Heru Kesawa Murti. Setelah mengikuti hingga tingkat nasional dengan kemenangan dan memperoleh berbagai predikat itu, Teater Gandrik dilanjutkan untuk tidak sekedar menjadi teater festival. Disepakati kemudian bahwa ia mesti tumbuh sebagai kelompok sandiwara profesional. Di tahun 1983 Gandrik tampil di TVRI pusat Jakarta dan Yogyakarta.
Sejak saat itu hingga sekarang, Teater Gandrik bisa dibilang telah memiliki sejarah yang cukup panjang terutama bila dibandingkan dengan kebanyakan kelompok teater di Indonesia. Teater Gandrik - didirikan Jujuk Prabowo, Heru Kesawa Murti, Susila Nugraha, S. Heryanto, Novi Budianto merupakan salah satu kelompok teater kontemporer Indonesia yang mampu mengolah bentuk dan spirit teater tradisional dengan gaya pemanggungan modern dan melewati pasang surut kreatif bahkan masa-masa vakum yang menggelisahkan. Tahun 1980-1990, bisa dibilang menjadi tahun-tahun produktif Teater Gandrik. Ditandai dengan beberapa pementasan seperti Pasar Seret (1985), Pensiunan dan Sinden (1986), Dhemit, Isyu (1987), Orde Tabung,Juru Kunci (1988), Upeti, Juragan Abiyoso (1989) yang menjadi bagian penting dari dinamika sosial politik di Indonesia pada masa itu.
Para personil Teater Gandrik tumbuh dalam lingkuangan tradisi (Jawa) yang kental. Lingkungan tradisi inilah yang kemudian banyak memberi warna pada pementasan-pementasan teater gandrik. Tradisi itu juga menjadi jalan bagi Teater Gandrik untuk mencari (dan menemukan) identitas estetiknya. Tetapi seperti dikatakan oleh Dr. Faruk HT, para personil Teater Gandrik juga mengalami modernisasi, yang mengakibatkan mereka memiliki keingingan untuk berbeda dengan generasi sebelumnya, di mana mereka kemudian memasuki “sebuah dunia baru yang bernama Indonesia”.
Teater Gandrik merupakan kelompok teater kontemporer Indonesia yang mampu mengolah bentuk spirit teater tradisional dengan gaya pemanggungan teater modern. Teater Gandrik adalah salah satu representasi teater modern yang berkembang di Indonesia.
Teater modern adalah bentuk ekpresi baru yang mereka masuki dan dan mereka pilih sebagai meda kreatif bagi para personil. Maka Teater Gandrik pun merupakan komunitas kreatif yang mereka anggap bisa mampu merefleksikan gagasan dan kegelisahan mereka sebagai pekerja teater.
Sebagai komunitas kreatif, Teater Gandrik sangat fleksibel dalam keanggotaan. Dalam pengertian keanggotaan Teater Gandrik hanya diikat” oleh kebersamaan dalam melakukan pencarian idio-idiom teatrikal yang ingin mereka capai bersama. Tidak mengherankan apabila banyak anggotanya kemudian keluar-masuk, berganti-ganti personil. Yang jelas, sampai sekarang beberapa personil Teater Gandrik harus berupaya membangun soliditas kelompok dengan terus melakukan proses bersama. Hal itu bisa terlihat melalui tiga pementasan mereka, yakni Brigade Maling, Mas Tom dan Departemen Borok. Lakon  Brigade Maling pada tahun 1999 malah sempat dipentaskan di Monash University Australia. Sebelumnya pada tahun 1990 dan 1992 Teater Gandrik juga mementaskan lakon Dhemit dan Orde Tabung di Singapura.
Para personil dan penggiat Teater Gandrik yang di kemudian hari diperkuat Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, Whani Darmawan, dan lain-lain memang tumbuh dalam lingkungan tradisi (Jawa) yang kental. Lingkungan tradisi inilah yang banyak memberi warna pada pementasan-pementasan Teater Gandrik. Tradisi itu juga menjadi jalan bagi Teater Gandrik untuk mencari (dan menemukan) identitas estetiknya. Namun begitu para personil Teater Gandrik juga mengalami modernisasi, yang mengakibatkan mereka memiliki keinginan untuk berbeda dengan generasi sebelumnya, dimana mereka kemudian memasuki “sebuah dunia baru yang bernama Indonesia”.
Salah satu upaya membangun soliditas grup dilakukan dengan menjadikan Teater Gandrik sebagai satu kelompok terbuka, di mana para anggota (yang baru maupun lama) terus melakukan proses dan pencarian bersama untuk menemukan idiom-idiom teater yang relevan dan orisinil bagi pementasan-pementasan berikutnya.
Lakon Mas Tom, yang merupakan adaptasi dari karya penulis Inggris Hendry Fielding (1707-1754) yang berjudul Tom Jones merupakan bukti betapa Teater Gandrik terus melakukan eksplorasi pencarian estetik dengan makin memperluas sumber-sumber kreatif yang bisa diolah. Begitu juga lakon terjemahan Keluarga Tot (2009) karya penulis Hungaria Istvar Orkeny yang berpijak pada mazhab realisme, memberi peluang sekaligus tantangan untuk bermain-main dalam pola teater sampakan. Bahkan di era reformasi Teater Gandrik tetap memiliki ketajaman sengatan kritiknya pada kekuasaaan dengan lakon Sidang Susila (2008). Perlu dicatat pula, bahwa sudah sejak lama Teater Gandrik dalam produksi-produksinya tidak membatasi diri dengan “media panggung” dalam pentas-pentasnya. Karena Teater Gandrik juga memproduksi beberapa lakon yang dipentaskan dan ditayangkan di TV, seperti Abiyasa, Tangis, Kera-kera, Buruk Muka Cermin Dijual, Flu, bahkan sempat memproduksi sinema elektronik (sinetron) Badut Pasti Berlalu yang bekerjasama dengan stasiun televisi Indosiar. Semua itu adalah salah satu upaya Teater Gandrik dalam memperluas dan mengembangkan dirinya.
Lakon-lakon Teater Gandrik, seperti Pensiunan, Pasar Seret, Upeti, Dhemit, Orde Tabung, dll, memang punya relevansi dengan persoalan kemasyarakatan. Setiap memilik lakon, kami memang selalu menakar soal relevansi lakon bagi masyarakat. Karena ketika hendak manggung, Teater Gandrik sesungguhnya meyakini bahwa pentas kami adalah suatu upaya untuk berbagi persoalan dengan masyarakat.”
Upaya dilakukan Teater Gandrik ialah membangun sistem internal yang lebih tertata dan terencana, dengan begitu secara manajemen Teater Gandrik bisa menjadi kelompok teater yang lebih bersifat modern. Itulah yang menjadi kesadaran dan paradigma berfikir Teater Gandrik, bahwa sebuah kelompok teater tak bisa lagi hanya berfungsi sebagai media pergaulan bersama, tetapi juga mesti mampu menjadi media yang menyediakan ruang untuk tumbuh dan berkembang bagi para personilnya.
Pementasan Gandrik harus diawali adanya dorongan “kebutuhan bersama”. Bukan kebutuhan orang per orang. Bahwa nyatanya, teman-teman Gandrik yang tua dan yg muda menunjukkan gairah untuk berproduksi bahwa semuanya itu disebabkan adanya “kebutuhan bersama” itu. Motif kebersamaan untuk menemukan kembali kegembiraan kreatif ala Gandrik, sebagai terapi kesehatan, teater sebagai ikhtiar mengartikulasikan pikiran, melakukan pengembaraan artistik, mengenal dan mempelajari estetika Gandrik, menguji kemampuan keaktoran, berbagi pengalaman untuk sebuah proses regenerasi. Hal itu bisa diartikan sebagai “kebutuhan bersama” sehingga semua bisa memberikan dedikasi secara iklhas terhadap proses penciptaan. Penciptaan kolektif dimana semuanya berlomba untuk memberikan kontribusi kreativitas.
Sandaran berkesenian Teater Gandrik adalah kerja kreatif, pergaulan yang solid, bermain sandiwara dengan perasaan bahagia (happy), berorientasi pada kesenian rakyat di Indonesia untuk diangkat dan digarap dengan pendekatan teater modern, manajemen yang terbuka dan tertata baik secara profesional. Sejak awal proses penggarapan kreatif Teater Gandrik selalu memberikan tempat utama pada proses berbagi (sharing). Siapapun yang ada di dalamnya diberi hak sepenuhnya untuk mengemukakan pendapat, opini, kritik dan masuk-masukan kreatif bagi kepentingan pengembangan mereka. Karena itu, Gandrik hampir tak pernah mengenal keangkeran sutradara sebagai penguasa estetik dan artistik dengan segala hak prerogatifnya yang serba mutlak itu. Konsep penggarapannya adalah keroyokan. Bila kemudian terjadi penyebutan secara tertulis juga lisan barangkali, sutradara di sana hanya berfungsi sebagai koordinator atau traffic lalu lalang gagasan-gagasan kreatif dari proses keroyokan itu.
Proses kreatif yang terjadi di Gandrik adalah proses yang terus menerus selalu berubah, selalu baru, selalu terjado pengembangan-pengembangan. Apa yang terjadi pada latihan sekarang akan mengalami pengembangan saat pementasan. Apa yang muncul dalam pementasan di satu kota akan mengalami pengembangan saat pergelaran di kota lain.
Teater Gandrik selalu dibakar oleh spirit canda dalam menggarap lakon-lakonnya. Bahwa di tengah canda itu muncul kritik, hal yang mendasarinya adalah respon Gandrik pada perkembangan dan persoalan aktual yang terjadi di sekelilingnya, adalah juga reaksi dari kegelisahannya dalam menyikapi pergeseran-pergeseran kultural, sosial dan politik di sekitarnya. Gandrik memang membungkus kritiknya itu dengan tawa, dengan canda, dengan olok-olok, dengan guyonan. Juga dengan sembrana parikena ; sebuah proses bercanda dalam budaya Jawa, yang kurang lebih bermakna sebuah ikhtiar idiomatik untuk main-main, untuk meledek, syukur-syukur main-mainnya, ledekannya itu, mengena, tidak pun juga tidak masalah.
Dengan begitu, Gandrik, yang dilahirkan di tengah lingkungan budaya Jawa yang kental, selalu menggunakan idiom-idiom kulturalnya itu untuk menyampaikan kritik, mengutarakan model candanya dengan konsep garapan yang sekomunikatif mungkin. Bahkan juga menggunakan idiom-idiom yang tengah populer di masyarakatnya, tak terbatas apakah itu bahasa slank, bahasa gaul, atau kebiasaan-kebiasaan yang sedang dicenderungi khalayaknya. Dengan pendekatan itu, Gandrik menjadi akrab di tengah khalayak penontonnya, hangat sebagai tempat untuk "curhat" pemirsanya, karena pertunjukan-pertunjukan Gandrik selalu digarap dengan menempatkan masyarakat penotonnya sebagai bagian integral dari pementasannya.
Komitmen untuk setia pada sastra lakon akan memperkaya pengalaman Gandrik. Minimalnya, para aktornya akan mencicipi model guyonan yang lain dan semakin menyadari bahwa pertunjukan teater bukan sekadar bentuk pemanggungan kritik verbal. Teater bukan hanya untuk memanen tawa, bukan cuma pameran keindahan seni peran, tapi juga penghormatan terhadap teks sastra dan pencermatan kepada karakter yang dilakonkan. Jika ada tawa atau kelucuan, itu adalah karena situasi dan karakter-karakternya yang menjadi kesadaran untuk terus membuat Gandrik dinamis.
Latar belakang seperti itulah yang kemudian membawa Teater Gandrik berada dalam lingkungan Yayasan Bagong Kussudiardja, yang kian memungkinkan bagi Teater Gandrik untuk terus mengembangkan diri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar