BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Dalam penelitian pendidikan setidaknya
dikenal dua jenis
penelitian, yaitu penelitian
kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif adalah deskriptif dan data
yang dikumpulkan lebih mengambil bentuk kata-kata atau gambar daripada
angka-angka. Sedangkan, penelitian kuantitatif adalah analisis statistik dan
data yang dikumpulkan lebih mengambil bentuk yang dapat dihitung (numeric). Pada
penelitian kuantitatif terdapat beberapa jenis penelitian. Penelitian
kuantitatif terbagi menjadi penelitian eksperimen, deskriptif korelasional,
evaluasi dan kausal komparatif.[1]
Penelitian korelasional dan kausal komparatif sukar dibedakan karena kedua
penelitian ini mempunyai manipulasi dan hal yang sama mengenai interpretasi
hasil. Akan tetapi, terdapat pula perbedaan antara keduanya. Studi kausal komparatif
biasanya melibatkan dua atau lebih kelompok dan satu variabel bebas.[2]
Penelitian kausal komparatif memiliki kesamaan dengan
penelitian korelasi; merupakan penelitian yang bersifat ex post facto, yaitu
penelitian yang variabel-variabelnya telah
terjadi ketika peneliti mulai dengan pengamatan variabel terikat dalam suatu
penelitian. Di lain pihak, penelitian
korelasi (correlational research) adalah suatu penelitian yang melibatkan
tindakan pengumpulan data guna menentukan apakah ada hubungan dan tingkat
hubungan antara dua variabel atau lebih. Pada penelitian
kausal komparatif, peneliti mengambil satu atau lebih akibat dan menguji data tersebut
dengan menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari sebab, hubungan, dan
maknanya. Pendekatan dasar kausal komparatif melibatkan kegiatan peneliti yang
diawali dari mengidentifikasi pengaruh variabel satu terhadap variabel lainnya
kemudian berusaha mencari kemungkinan variabel penyebabnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki kemungkinan
hubungan sebab-akibat yang berdasarkan pada pengamatan terhadap akibat yang terjadi
dan mencari kembali faktor penyebab melalui data tertentu.
Dalam makalah ini akan dijelaskan
pengertian penelitian kausal komparatif, tujuan penelitian kausal komparatif, ciri-ciri penelitian kausal komparatif,
keunggulan dan kekurangan penelitian kausal komparatif, contoh penelitian kausal komparatif, dan langkah-langkah penelitian kausal komperatif
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian, tujuan, dan ciri-ciri penelitian
kausal komparatif?
2.
Apakah keunggulan dan kelemahan
penelitian kausal komparatif?
3.
Bagaimanakah contoh penelitian kausal komparatif?
4.
Bagaimana langkah kerja penelitian kausal komparatif?
Tujuan
1.
Mendeskripsikan pengertian penelitian kausal komparatif.
2.
Mendeskripsikan keunggulan dan kelemahan
penelitian kausal komparatif.
3.
Mendeskripsikan contoh penelitian kausal
komparatif.
4.
Mendeskripsikan langkah kerja penelitian
kausal komparatif.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian, Tujuan, dan Ciri Penelitian Kausal Komparatif (Ex Post
Facto)
Nama ex post facto[3]
berasa dari bahasa latin yang artinya “ dari sesudah fakta,“ menujukkan bahwa
penelitian itu dilakukan sesudah perbedaan-perbedaaan dalam variabel- bebas itu
terjadi karena perkembangan kejadian itu secara alami.
Penelitian
kausal komparatif merupakan penelitian yang diarahkan untuk
menyelidiki hubungan sebab-akibat berdasarkan pengamatan terhadap akibat yang
terjadi dan mencari faktor yang menjadi penyebab melalui data
yang dikumpulkan. Dalam penelitian ini pendekatan dasarnya adalah dimulai
dengan adanya perbedaan dua kelompok dan kemudian mencari faktor
yang mungkin menjadi penyebab atau akibat dari perbedaan tersebut. Dalam hal ini
ada unsur yang membandingkan antara dua atau lebih variabel.[4]
Sementara itu,
menurut Kerlinger[5]
penelitian kausal komparatif (causal comparative research) yang disebut juga
penelitian ex post facto adalah
penyelidikan empiris yang sistematis di mana peneliti tidak mengendalikan
variabel bebas secara langsung karena keberadaan dari variabel tersebut telah
terjadi atau karena variabel tersebut pada dasarnya tidak dapat dimanipulasi.
Kemudian, Gay[6]
mengemukakan bahwa studi kausal komparatif atau ex post facto adalah penelitian yang berusaha menentukan penyebab
atau alasan, untuk keberadaan perbedaan dalam perilaku atau status dalam
kelompok individu. Dengan kata lain, penelitian kausal komparatif adalah
penelitian yang diarahkan untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat berdasarkan
pengamatan terhadap akibat yang terjadi dan mencari faktor yang menjadi
penyebab melalui data yang dikumpulkan. Dalam penelitian ini pendekatan
dasarnya adalah memulai dengan adanya perbedaan dua kelompok dan kemudian
mencari faktor yang mungkin menjadi penyebab atau akibat dari perbedaan
tersebut. Gay, Mills, Airasian[7]
mencontohkan, sebagai
suatu penjelasan yang mungkin tentang bukti perbedaan dalam penyesuaian sosial di
kalangan siswa kelas 1 SD, seseorang peneliti dapat membuat
hipotesis bahwa partisipasi dalam pendidikan prasekolah yang merupakan
faktor utama dalam memberikan
kontribusi. Jika kelompok pendidikan prasekolah memperlihatkan tingkat
penyesuaian sosial tinggi, hipotesis
peneliti akan didukung.
Pendapat berbeda
mengenai penelitian komparatif dipaparkan oleh Sugiyono[8]
bahwa masalah penelitian dalam hubungan kausal termasuk dalam rumusan
asosiatif, bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.
Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab-akibat. Jadi, di sini ada
variabel independen (variabel yang dipengaruhi) dan dependen (variabel yang
dipengaruhi).
Di lain pihak, Donald
Ary, dkk.[9] memaparkan bahwa penelitian kausal komparatif merupakan
jenis penelitian ex post facto,
yaitu penelitian tersebut dilakukan setelah perbedaan-perbedaan
dalam variabel bebas itu terjadi karena perkembangan kejadian
itu secara alami. Semua kejadian yang dipersoalkan sudah
berlangsung lewat sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan treatment sebagaimana dalam penelitian
eksperimen memberikan batasan tentang penelitian ex post facto, yakni penyelidikan empiris yang
sistematis.
Ilmuwan tidak mengendalikan
variabel bebas secara langsung karena
perwujudan variabel tersebut telah terjadi atau karena
variabel tersebut pada dasarnya memang tidak
dapat dimanipulasi. Kesimpulan hubungan di antara
variabel - variabel itu
dilakukan tanpa intervensi langsung, tapi berdasarkan
perbedaan yang mengiringi variabel
bebas dan variabel terikat itu. Peneliti dalam
membandingkan dan mencari hubungan sebab-akibat dari variabelnya tidak dapat melakukan
treatment dan
penelitian ini cenderung mengandalkan data kuantitaif.
Peneliti tidak
memulai prosesnya dari awal, melainkan langsung melihat hasilnya. Dari hasil
yang diperoleh tersebut peneliti mencoba mencari sebab-sebab terjadinya
peristiwa itu.[10]
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki kemungkinan hubungan
sebab-akibat berdasarkan atas pengamatan terhadap akibat yang ada, dan mencari
kembali fakta yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.
Ciri ciri pokok
penelitian kausal komparatif bersifat ex
post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang
dipersoalkan berlangsung (telah lalu). Penelitian mengambil satu atau lebih
akibat (sebagai “dependent variables”) dan menguji data itu dengan menelusuri
kembali ke masa lampau untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan dan maknanya
dan cenderung mengandalkan data kuantitatif.
B. Keunggulan dan Kelemahan Penelitian Kausal
Komparatif
Ritz[11]
mengindentifikasikan beberapa keunggulan dan kelemahan penelitian kausal komparatif. Keunggulan dan kelemahan
penelitian ini sebagai berikut.
1. Keunggulan
Penelitian kausal komparatif
a.
Metode kausal komparatif adalah suatu
penelitian yang baik untuk berbagai keadaan jika
metode eksperimen tak dapat digunakan, yaitu:
1)
Apabila tidak memungkinkan untuk
memilih, mengontrol dan memanipulasikan faktor-faktor yang perlu untuk
menyelidiki hubungan sebab-akibat secara langsung.
2)
Apabila pengontrolan terhadap semua
variabel kecuali variabel bebas sangat tidak realistis dan dibuat-buat, yang
mencegah interaksi normal dengan lain-lain variabel yang berpengaruh.
3)
Apabila kontrol di laboratorium untuk
berbagai tujuan penelitian adalah tidak praktis, terlalu mahal, atau dipandang
dari segi etika diragukan/ dipertanyakan.
b.
Studi kausal-komparatif menghasilkan
informasi yang sangat berguna mengenai sifat-sifat gejala yang dipersoalkan:
apa sejalan dengan apa, dalam kondisi apa, pada perurutan dan pola yang
bagaimana dan yang sejenis dengan itu.
c.
Perbaikan-perbaikan dalam hal teknik,
metode statistik, dan rancangan dengan kontrol parsial, pada akhir-akhir ini
telah membuat studi kausal-komparatif itu lebih dapat dipertanggungjawabkan.
2. Kelemahan
Penelitian Kausal Komparatif
a.
Kelemahan utama setiap rancangan ex post facto adalah tidak adanya
kontrol terhadap variabel bebas. Dalam batas-batas pemilihan yang dapat
dilakukan, peneliti harus mengambil fakta-fakta yang dijumpainya tanpa
kesempatan untuk mengatur kondisi-kondisinya atau memanipulasikan
variabel-variabel yang mempengaruhi fakta-fakta yang dijumpainya itu. Untuk
dapat mencapai kesimpulan yang sehat, peneliti harus mempertimbangkan segala
alasan yang mungkin ada atau hipotesis-hipotesis bandingan
yang diajukan dimungkinkan mempengaruhi hasil-hasil yang dicapai. Sejauh
peneliti dapat dengan sukses membuat justifikasi kesimpulannya terhadap
alternatif-alternatif lain itu, dia ada dalam posisi yang secara relatif kuat.
b.
Sulit untuk memperoleh kepastian bahwa
faktor-faktor penyebab yang relevan telah benar-benar tercakup dalam kelompok
faktor-faktor yang sedang diselidiki.
c.
Kenyataan bahwa faktor penyebab bukanlah
faktor tunggal, melainkan kombinasi dan interaksi antara berbagai faktor dalam
kondisi tertentu untuk menghasilkan efek yang disaksikan sehingga masalah
menjadi sangat kompleks.
d.
Suatu gejala mungkin tidak hanya
merupakan akibat dari sebab-sebab ganda, tetapi dapat pula disebabkan oleh
suatu sebab pada kejadian tertentu, oleh
lain sebab, dan pada kejadian lain.
e.
Apabila hubungan antara dua variabel
telah ditemukan, mungkin sulit untuk menentukan mana yang sebab dan mana yang
akibat.
f.
Kenyataan bahwa dua atau lebih faktor yang saling
berhubungan tidaklah selalu memberi implikasi terhadap adanya
hubungan sebab-akibat. Kenyataan itu mungkin hanyalah karena faktor-faktor
tersebut berkaitan dengan faktor lain yang tidak diketahui atau tidak
terobservasi.
g.
Menggolong-golongkan subjek ke dalam
kategori dikotomi (misalnya: golongan pandai dan golongan bodoh) untuk tujuan
pembandingan, menimbulkan persoalan-persoalan karena kategori-kategori seperti
itu bersifat kabur, bervariasi, dan tidak
mantap. Seringkali penelitian yang demikian itu tidak menghasilkan penemuan yang
berguna.
h.
Studi komparatif dalam situasi alami
tidak memungkinkan pemilihan subjek secara terkontrol. Menempatkan kelompok
yang telah ada mempunyai kesamaan dalam berbagai hal,
kecuali pada variabel bebas yang dianggap sulit.
C. Contoh Penelitian Kausal Komparatif
Seorang dosen
mata kuliah Apresiasi Puisi mewajibkan mahasiswa tingkat III
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia untuk membaca puisi di hadapan teman-temannya. Berdasarkan tes performansi di kelas, ternyata ada
yang terampil dalam membaca dan
ada pula yang tidak atau belum
mampu dengan maksimal, khususnya dalam interpretasi teks, penjiwaan, dan vokalisasi. Berdasarkan temuan tersebut, dapat diambil rancangan penelitian/judul “Pengaruh Minat Membaca Puisi dan Pemahaman Struktur Puisi
terhadap Keterampilan Membaca Puisi Mahasiswa
Tingkat III Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.”
1. Identifikasi
masalah:
Penelitian beranggapan bahwa ada
hubungan kausal antara ketiga faktor (membaca puisi,
kebiasaan membaca puisi, dan pemahaman
struktur puisi) di atas
terhadap keterampilan membaca puisi.
2. Variabel
bebas :
a. Minat Membaca Puisi
b. Pemahaman Struktur Puisi
3. Variabel
terikat: Keterampilan Membaca Puisi
4. Rumusan
Masalah:
Apakah faktor minat membaca puisi dan pemahaman struktur
puisi
berpengaruh terhadap keterampilan
membaca puisi mahasiswa
tingkat V
program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia?
5. Hipotesis
:
Faktor minat
membaca puisi
dan pemahaman struktur puisi berpengaruh
terhadap keterampilan membaca puisi mahasiswa
tingkat III program studi
pendidikan bahasa dan sastra Indonesia.
D. Langkah Kerja Penelitian Kausal Komparatif
Penelitian ex post facto merupakan
penelitian, di mana rangkaian variabel-variabel bebas telah terjadi, ketika
peneliti mulai melakukan pengamatan terhadap variabel terikat. Penelitian causal comparative merupakan kegiatan penelitian
yang berusaha mencari informasi tentang mengapa terjadi hubungan sebab-akibat
dan peneliti berusaha melacak kembali hubungan tersebut. Penelitian ex post
facto
mempunyai langkah penting sebagai berikut.
1. Mengidentifikasi
adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode ex post facto.
2. Membatasi
dan merumuskan permasalahan secara jelas.
3. Menentukan
tujuan dan manfaat penelitian.
4. Melakukan
studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan penelitian
5. Menentukan
kerangka berpikir, pertanyaan penelitian,
dan hipotesis penelitian.
6. Mendesain
metode penelitian yang hendak digunakan termasuk dalam ini menentukan populasi,
sampel, teknik sampling, menentukkan instrumen pengumpul data, dan menganalisis
data.
7. Mengumpulkan,
mengorganisasi, dan menganalisis data
dengan menggunakan perhitungan statistik
yang relevan
8. Membuat
laporan penelitian.
Metode Penelitian Kausal Komparatif (ex post facto)
1. Desain Penelitian

2. Pengajuan Hipotesis
a. Ada
pengaruh positif antara minat membaca puisi terhadap keterampilan membaca puisi
b. Ada pengaruh
positif antara pemahaman struktur puisi terhadap keterampilan membaca puisi
c. Ada
pengaruh positif antara minat membaca puisi dan pemahaman struktur puisi
terhadap keterampilan membaca puisi
3. Pra Analisis Data (Uji Statistik Asumsi Klasik)
a.
Normalitas
Bertujuan
untuk mengukur apakah data dalam penelitian berdistribusi normal atau tidak.
Dengan kata lain, keadaan data berdistribusi normal merupakan sebuah
persyaratan yang harus dipenuhi, perhitungannya menggunakan tipe goodeness-of fit, yaitu tes binomial,
tes satu sampel analisis Chi Kuadrat
(χ2), atau tes satu sampel Kolmogorov-Smirnov.
Berikut langkah
perhitungan liliefors.
Langkah-langkah:
1) Tentukan
nilai galat baku (Y- Ŷ)
2) Susun
galat baku dengan nilai berurut dan tentukan Nilai L hitung maksimum
No,
|
Xi
|
F
|
Fkum
|
Zi
|
Z tabel
|
F(Zi)
|
S(Zi)
|
|F(Zi) - S(Zi)|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Xi = Skor
data galat baku taksiran (Y - Ŷ)
Zi = Skor baku ( diperoleh
)

F(Zi) = Harga peluang
·
Jika
nilai Zi negatif, F(Zi)= 0,5 -
nilai Z tabel
·
Jika nilai Zi positif, F(Zi)=
0,5 + nilai Z tabel
3) S(Zi)
= Harga proporsi (F kum/N)
b.
Uji Heteroskedatisitas
Bertujuan
untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residu satu
pengamatan ke pengamatan yang lain dengan metode uji glejser. Jika variabel
independen secara signifikan secara statistik tidak mempengaruhi variabel
dependen, maka tidak terdapat indikasi terjadi heteroskedastisitas. Hal ini
dapat dilihat apabila dari probabilitas signifikansinya di atas tingkat kepercayaan
5% (Imam Ghozali, 2009: 129).
Glejser menyarankan
untuk meregresi nilai absolut dari ei terhadap variabel X (variabel
bebas) yang diperkirakan mempunyai hubungan yang erat dengan δi 2 dengan
menggunakan rumus perhitungan sebagai berikut.
![Rounded Rectangle: [ei] = β1 Xi + vI](file:///C:/Users/User/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image004.gif)
Di mana:
[ei] merupakan penyimpangan
residual dan Xi merupakan variabel bebas.
c.
Uji Multikolinearitas
Bertujuan
untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi
antarvariabel bebas (independen) dengan melihat nilai Tolerance Value dan
Variance Inflation Factor (VIF). Tolerance Value mengukur variabilitas variabel
independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen
lainnya. Jadi, nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi karena
VIF = 1/Tolerance Value). Nilai yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya
mulitkolonieritas adalah nilai Tolerance Value < 0,01 atau sama dengan nilai
VIF > 10 maka tidak terjadi multikolineritas antara variabel independennya
(Imam Ghozali, 2009: 96). Uji hipotesis dapat dilakukan apabila koefisien
antarvariabel bebas mempunyai harga di bawah 0, 80 (tidak terjadi
kolinieritas).
d.
Uji
Autokorelasi
Uji autokorelasi merupakan pengujian
asumsi dalam regresi dimana variabel dependend tidak berkorelasi dengan dirinya
sendiri. Maksud korelasi dengan diri sendiri adalah bahwa nilai dari variabel
dependen tidak berhubungan dengan nilai variabel itu sendiri, baik nilai
variabel sebelumnya atau nilai periode sesudahnya (Santoso & Ashari, 2005).
Dasar pengambilan keputusannya adalah sebagai
berikut:
·
Angka
D-W di bawah -2 berarti ada autokorelasi positif.
·
Angka
D-W diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi.
·
Angka
D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif.
e.
Uji Linearitas
Untuk mengetahui
hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat bersifat linier atau tidak.
Pengujian ini menggunakan uji F dari Sutrisno Hadi (2000: 14).
F = 

Keterangan:
F =
Harga bilangan untuk garis regresi
RK reg = Rerata kuadrat regresi
RK res = Rerata kuadrat residu
Selanjutnya
untuk interpretasinya, yaitu :
- Jika F hitung lebih besar dari F tabel maka berarti
kontribusi antara variabel bebas dan linier.
- Jika F lebih kecil dari F tabel maka berarti kontribusi
antara variabel bebas dan terikat bersifat tidak linier.
Adapaun
kriteria pengujian linieritas adalah regresi dikatakan linier jika
Fhitung < Ftabel, selain itu data dapat dikatakan linier jika nilai
signifikansi lebih besar dari alpha yang ditentukan yaitu 5% (Imam Ghozali,
2009: 154).
4. Uji Hipotesis
a. Analisis
Regresi Linear Sederhana Regresi sederhana didasarkan pada hubungan fungsional
ataupun kausal satu variabel independen dengan satu variabel dependen. Analisis
ini digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel independen (X1) dan
(X2) terhadap variabel dependen (Y). Berikut adalah langkah-langkah dalam
analisis regresi sederhana:
1) Membuat
garis regresi sederhana
Y = a + bX
Keterangan :
Y : subjek dalam variabel dependen yang
diprediksi.
a : harga Y, bila x = 0 (harga
konstanta).
b : angka arah/koefisien regresi yang
menunjukkan peningkatan atau penurunan variabel dependen. Apabila b positif (+)
= naik dan bila b minus (-) =turun.
X : subjek pada variabel independen yang
mempunya nilai tertentu. (Sugiyono,
2009: 188)
2) Mencari
kofisien determinasi (r2) antara prediktor X1 dengan Y dan prediktor X2 dengan
Y


Keterangan:
r2(x1y)
= Koefisien determinasi antara X1 dengan Y
r2(x2y)
= Koefisien determinasi antara X2 dengan Y
a1 = Koefisien prediktor X1
a2 = Koefisien prediktor X2
ΣX1Y
= Jumlah produk X1 dengan Y
ΣX2Y
= Jumlah produk X2 dengan Y
ΣY2
= Jumlah kuadrat kriterium Y
(Sutrisno Hadi, 2004: 22)
3) Menguji
signifikansi dengan uji t Menguji koefisien garis regresi digunakan uji
statistik t. Uji t dilakukan untuk menguji signifikansi konstanta tiap variabel
independen akan berpengaruh terhadap variabel dependen dengan rumus sebagai
berikut.

Keterangan:
t : t hitung
r : koefisien korelasi
n : jumlah ke-n (Sugiyono, 2009: 184)
Uji
statistik t pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh variabel independen
secara individual dalam mnerangkan variasi variabel dependen. Dalam mengambil
keputusan dilakukan dengan membandingkan nilai antara t hitung dan t tabel
dengan taraf sinifikansi 5%. Apabila nilai statistik t lebih tinggi
dibandingkan nilai t tabel maka variabel independen secara individual memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen (Imam Ghozali, 2009:
88-89).
b.
Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis
regresi berganda digunakan untuk memprediksi pengaruh dua variabel bebas atau
lebih
terdapat
satu variabel terikat. Langkah-langkah dalam analisis regresi berganda sebagai
berikut.
1) Membuat
persamaan garis regresi dua prediktor dengan rumus:
Y
= a1X1 + a2X2 + K
Keterangan:
Y = Kriterium
X1
= Prediktor 1
X2
= Prediktor 2
a1
= Bilangan koefisen
prediktor X1
a2
= Bilangan koefisien prediktor X2
K = Bilangan konstanta (Sutrisno Hadi,
2004:18)
2) Mencari
koefisien determinasi (R2) antara prediktor X1 dan X2 dengan kriterium Y, menggunakan
rumus:

Keterangan:
R2y(x1x2)=
Koefisien determinasi antara Y dengan X1 dan X2
a1
= koefisien prediktor X1
a2
= koefisien prediktor X2
ΣX1Y = Jumlah produk X1 dengan Y
ΣX2Y = Jumlah produk X2 dengan
Y
ΣY2 = Jumlah kuadrat kriterium Y (Sutrisno Hadi, 2004: 22)
Koefisien
determinasi (R2) merupakan proporsi atau persentase dari total variasi Y yang
dijelaskan oleh garis regresi. Koefisien determinasi adalah kuadrat koefisien
korelasi. Koefisien determinasi ini digunakan untuk mengetahui presentasi
pengaruh yang terjadi dari variabel bebas terhadap variabel terikat.
3)
Menguji keberartian regresi ganda, dengan rumus:

Keterangan:
F = Harga F regresi
N = Cacah kasus
M = Cacah prediktor
R2
= Koefisien determinasi antara
kriterium dengan prediktor-prediktor. (Sutrisno Hadi, 2004: 23)
Pengujian
ini pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan
dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen.
Setelah diperoleh perhitungan, kemudian F hitung dikonsultasikan dengan F tabel
pada taraf signifikansi 5%.
Apabila harga F hitung ≥ harga F tabel berarti seluruh variabel independen
secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Apabila
Fhitung < Ftabel berarti seluruh variabel independen secara bersama-sama
tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependen.
4)
Mencari besarnya sumbangan setiap variabel prediktor terhadap kriterium
a.
Sumbangan Relatif (SR%)
Sumbangan
relatif digunakan untuk mencari perbandingan relatifitas yang diberikan suatu
variabel bebas kepada variabel terikat dengan variabel bebas lain yang diteliti, dihitung
dengan rumus :

Keterangan
:
SR % : sumbangan relatif dari suatu prediktor 13
a : koefisien prediktor
xy : jumlah produk antara X dan Y
JKreg
: jumlah kuadrat regresi (Sutrisno Hadi,
2004: 37)
b.
Sumbangan Efektif (SE%)
Sumbangan
efektif digunakan untuk mengetahui besarnya sumbangan secara efektif setiap
prediktor

BAB III
PENUTUP
Berdasarkan
pembahasan mengenai penelitian kausal komparatif, berikut dapat disimpulkan
beberapa hal sebagai berikut.
1.
Penelitian kausal komparatif merupakan
jenis penelitian ex post facto, yaitu penelitian tersebut dilakukan
setelah perbedaan-perbedaan dalam variabel bebas yang tidak memungkinkan untuk
dilakukan treatment sebagaimana dalam
penelitian eksperimen memberikan batasan tentang penelitian ex post facto, yakni penyelidikan
empiris yang sistematis.
2.
Keunggulan penelitian kausal komparatif,
yaitu suatu penelitian yang baik untuk berbagai keadaan jika metode eksperimen
tak dapat digunakan; menghasilkan informasi yang sangat berguna mengenai
sifat-sifat gejala yang dipersoalkan; perbaikan dalam hal teknik, metode
statistik, dan rancangan dengan kontrol parsial sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
Kelemahan penelitian kausal komparatif, yaitu tidak adanya kontrol terhadap
variabel bebas; sulit untuk memperoleh kepastian, faktor penyebab bukanlah
faktor tunggal; dua atau lebih faktor yang saling berhubungan tidaklah selalu
memberi implikasi terhadap adanya hubungan sebab-akibat; kategori dikotomi
untuk tujuan pembandingan, menimbulkan persoalan-persoalan.
3.
Langkah kerja penelitian kausal komparatif
secara umum adalah mengidentifikasi dan merumuskan masalah, studi pustaka,
menentukan kerangka berpikir, hipotesis penelitian, desain penelitian,
menentukan populasi, sampel, teknik sampling, menentukkan instrumen pengumpul
data, dan menganalisis data dengan menggunakan perhitungan statistik yang relevan kemudian menyusun
laporan penelitian secara menyeluruh.
[2] Emzir, 2013, Metodologi Penelitian Pendidikan (Kuantitatif & Kualitatif,
Jakarta: Rajawali, hlm. 120)
[3] Gay, Mills,
Airasian, 2011, Educational Research,
New Jersey: Pearson, hlm. 228 (bdk. Emzir, op.cit. hlm. 119-220; Subana dan Sudrajat, op.cit. hlm.
42)
[8] Sugiyono,
2009, Metode Penelitian Pendidikan
(Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), Bandung: Alfabeta, hlm. 57-59)