ANDRIW

Foto saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Sabtu, 26 Februari 2011

Tahapan Perkembangan Moral Anak Taman Kanak-kanak


Tahapan Perkembangan Moral Anak
Taman Kanak-kanak

Tidak ada manusia yang memiliki hati nurani atau skala lahir saat lahir. Akibatnya, tiap bayi yang baru lahir dapat dianggap amoral atau nonmoral (Fawzia A.: 1999:75). Kemuliaan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya terletak pada keagungan yang menjunjung tinggi moralitas dalam kehidupannya.
Hal terpenting dalam pendidikan moral adalah menjadi pribadi yang bermoral dalam arti seorang anak dapat belajar apa yang diharapakan kelompok dari anggotanya. Tujuan akhir dari pendidikan adalah agar kelak anak-anak memiliki perilaku/moralitas. Anak memiliki perilaku yang haya standa sosial, tetapi pada akhirnya dilakukan secara sukarela. Hal itu dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa ia harus berperilaku tanpa pengawasan (Dini P.D.: 1996:2).

  1. Kajian Teori Perkembangan Moral Anak Menurut Pakar (Umum)
  1. Perkembangan Moral Anak Menurut Piaget
Piaget memfokuskan pada aspek cara berpikir anak tentang isu-isu moral dengan mengamati dan mewancarai kelompok anak usia 4 – 12 tahun yang terlibat dalam suatu permainan. Ia mempelajari anak menggunakan aturan. Pertanyaan yang diajukan berkisar pada isu-isu moral, seperti pencurian, berbohong, hukuman, dan keadilan.
Anak berpikir tentang moralitas dalam 2 cara/tahap, yaitu cara heteronomous (usia 4 – 7 tahun), anak menganggap keadilan dan aturan sebagai sifat dunia/lingkungan yang tidak berubah dan lepas dari kendali manusia dan cara automous (usia 10 tahun ke atas), anak telah menyadari bahwa aturan-aturan dan hukum itu diciptakan oleh manusia.
Anak ysng berpikir heteronomous meyakini keadilan sebagai sesuatu yang tetap ada (immanent justice), yaitu jika aturan dilanggar maka hukuman akan ditimpakan segera. Kejahatan terkait dengan hukuman. Otonomus menganggap hukuman sebagai alat sosial yang bisa dialami dan bisa tidak, tergantung pada kondisinya.
Saat anak berkembang, mereka mengalami kemajuan dalam pemahaman tentang masalah sosial. Pemahaman sosial muncul melalui interaksi teman sebaya. Pengalaman merupakan kondisi yang kondusif bagi pengembangan moral anak.

  1. Perkembangan Moral Anak Menurut Kohlberg
Kohlberg mempelajari alasan yang mendasari respon moral. Kohlberg memilih mendalami struktur proses berpikir yang terlibat dalam penalaran moral. Kohlberg merancang serangkaian cerita imajibatif yang memuat dilema moral untuk mengukur penalaran. Cerita ini menempatka orang pada situasi konflik yang memberikan alternatif ysng dapat diterima.
Penalaran moral menurut responden:
Level 1:
Penalaran moral prakonvensional, meliputi tahap: orientasi hukuman dan kepatuhan, tahap orientasi individualisme dan orientasi instrumental.
Level 2:
Penalaran moral konvensional, meliputi tahap: orientasi konformitas interpersonal dan tahap orientasi hukum dan aturan.
Level 3:
Penalaran moral pascakonvensional, meliputi tahap orientasi kontrak sosial dan tahap orientasi etis universal.

Penalaran moral prakonvensional, anak belum menunjukkan internalitas nilai moral. Penalaran dikendalikan oleh faktor eksternal, yaitu ganjaran yang bersifat fisik. Sesuatu dianggap baik atau benar jika menguntungkan bagi dirinya.
a.       Pengertian orientasi hukuman dan kepatuhan
Didominasi oleh penalaran moral yang mengacu pada kepatuhan atau hukuman oleh figur yang berkuasa.
b.      Pengertian orientasi individualisme dan orientasi tujuan instrumentasi
Acuan moral anak masih terhadap peristiwa eksternal fisik. Tindakan dinilai benar bila berkaitan dengan kejadian yang memuaskan kebutuhan dirinya atau orang dekatnya. Penalaran moral secara lambat laun mengarah pada peralihan perspektif, yaitu yang melibatkan orang lain.
            Pengetahuan tentang poerkembangan anak yang diaplikasikan dalam pendidikan dini usia dan disebut sebagai pendidikan yang memperhatikan perkembangan serta cara belajar anak dan kurikulumnya disebut kurikulum yang sesuai dengan perkembangan anak (developmentally appropriated curriculum). Artinya, mendidik anak dengan cara yang sesuai dengan cara anak belajar dan perkembangan anak.
            Anak dilatih untuk memilih dan memfokuskan perhatian pada tugas yang menarik dan bermakna (zone of proximal development), fasilitator dijadikan tempat bertanya untuk meningkatkan kemampuan.
Area perkembangan pendidikan anak Taman Kanak-kanak menurut Fawzia yang perlu ditingkatkan dalam kegiatan pengembangan atau pendidikan usia prasekolah, yaitu perkembangan fisik, sosial emosional, kognitif, dan bahasa.
  1. mengetahui diri sendiri dan hubungannya dengan orang lain, teman sebaya ataud dewasa
  2. bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang lain
  3. berperilaku sesuai dengan perilaku prsosial

c.       Perkembangan moral anak ditinjau dari ilmu agama
Identik pada pemahaman anak akan keberadaan Tuhan. Guru dapat memahami dan menyesuaikan metode pengajran untuk mengenalkan anak dengan Tuhannya.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar