ANDRIW

Foto Saya
Metro-Jogja-Solo, Indonesia
Perusahaan: B.I.A.S (Badan Intelejen Asmara Sesaat) * Pendidikan Bahasa Indonesia - PPs-Universitas Sebelas Maret Surakarta. * PBSI-FBS UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), Angkatan 2001 * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Senin, 21 Februari 2011

TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK BAHASA ALAY

TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK BAHASA ALAY

DALAM KONSTELASI KEBAHASAAN SAAT INI


Disusun oleh:

ANDRI WICAKSONO

(NIM S841008003)

PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

PROGRAM PASCASARJANA S-2

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2010

Judul:

Tinjauan Sosiolinguistik Bahasa Alay dalam Konstelasi Kebahasaan Saat Ini

BABI

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ikrar yang dikenal dengan nama “Sumpah Pemuda” ini butir ketiga berbunyi Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia” yang diperingati setiap tahun oleh bangsa Indonesia ini juga memperlihatkan betapa pentingnya bahasa bagi suatu bangsa. Bahasa sebagai alat komunikasi yang paling efektif, mutlak dan diperlukan setiap bangsa. Tanpa bahasa, bangsa tidak akan mungkin dapat berkembang. Bahasa menunjukkan identitas bangsa. Bahasa sebagai bagian kebudayaan dapat menunjukkan tinggi rendahnya kebudayaan bangsa. Pada perjalanan selanjutnya, bahasa Indonesia tidak lagi sebagai bahasa persatuan, tetapi juga berkembang sebagai bahasa negara, bahasa resmi, dan bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi.

Setelah Indonesia merdeka, bahasa Indonensia berkembang dengan baik dan meluas. Bangsa Indonesia telah merasakan betapa perlunya membina dan memperhatikan perkembangan bahasa Indonesia. Minat bangsa Indonesia untuk mau mempelajari bahasa Indonesia dengan baik setiap tahun terus bertambah. Akibatnya, bahasa Indonesia mengalami kemajuan yang pesat.

Bahasa Indonesia mempunyai empat kedudukan, yaitu sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, bahasa negara, dan bahasa resmi. Dalam perkembangannya lebih lanjut, bahasa Indonesia berhasil mendudukkan diri sebagai bahasa budaya dan bahasa ilmu. Keenam kedudukan ini mempunyai fungsi yang berbeda, walaupun dalam praktiknya dapat saja muncul secara bersama-sama dalam satu peristiwa, atau hanya muncul satu atau dua fungsi saja.

Dalam kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, bahasa Indonesia bukan saja dipakai sebagai alat komunikasi timbal balik antara pemerintah dan masyarakat luas, dan bukan saja dipakai sebagai alat perhubungan antardaerah dan antarsuku, tetapi juga dipakai sebagai alat perhubungan formal pemerintahan dan kegiatan atau peristiwa formal lainnya. Misalnya, surat-menyurat antarinstansi pemerintahan, penataran para pegawai pemerintahan, lokakarya masalah pembangunan nasional, dan surat dari karyawan atau pagawai ke instansi pemerintah.

Bahasa Indonesia berfungsi pula sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari lembaga pendidikan terendah (taman kanak-kanak) sampai dengan lembaga pendidikan tertinggi (perguruan tinggi) di seluruh Indonesia, kecuali daerah-daerah yang mayoritas masih menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Di daerah ini, bahasa daerah boleh dipakai sebagai bahasa pengantar di dunia pendidikan tingkat sekolah dasar sampai dengan tahun ketiga (kelas tiga). Setelah itu, harus menggunakan bahasa Indonesia. Karya-karya ilmiah di perguruan tinggi (baik buku rujukan, karya akhir mahasiswa – skripsi, tesis, disertasi, dan hasil atau laporan penelitian) yang ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia harus dibina dan dikembangkan dengan baik karena bahasa Indonesia itu meruoakan salah satu identitas atau jati diri bangsaIndonesia. Setiap orang Indonesia patutlah bersikap positif terhadap bahasa Indonesia, janganlah menganggap remeh dan bersikap negatif. Setiap orang Indonesia mestilah berusaha agar selalu cermat dan teratur menggunakan bahasa Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, mestilah dikembangkan budaya malu apabila meraka tidak memperguanakn bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Anggapan bahwa penggunaan bahasa Indonesia yang dipenuhi oleh kata, istilah, dan ungkapan asing merupakan bahasa Indonesia yang “canggih” adalah anggapan yang keliru. Begitu juga, penggunaan kalimat yang berpanjang-panjang dan berbelit-belit, sudah tentu memperlihatkan kekacauan cara berpikir orang yang menggunakan kalimat itu. Apabila seseorang menggunakan bahasa dengan kacau-balau, sudah tentu hal itu menggambarkan jalan pikiran yang kacau-balau pula. Sebaliknya, apabila seseorang menggunakan bahasa dengan teratur, jelas, dan bersistem, cara berpikir orang itu teratur dan jelas pula. Oleh sebab itu, sudah seharusnyalah setiap orang Indonesia menggunakan bahasa Indonesia yang teratur, jelas, bersistem, dan benar agar jalan pikiran orang Indonesia (sebagai pemilik bahasa Indonesia) juga teratur dan mudah dipahami orang lain.

Apabila yang muncul adalah sikap yang negatif, tidak baik, dan tidak terpuji, akan berdampak pada pemakaian bahasa Indonesia yang kurang terbina dengan baik. Mereka menggunakan bahasa Indonesia “asal orang mengerti”. Muncullah pemakaian bahasa Indonesia sejenis bahasa prokem, bahasa plesetan, dan bahasa jenis lain yang tidak mendukung perkembangan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mereka tidak lagi memperdulikan pembinaan bahasa Indonesia. Padalah, pemakai bahasa Indonesia mengenal ungkapan “Bahasa menunjukkan bangsa”, yang membawa pengertian bahwa bahasa yang digunakan akan menunjukkan jalan pikiran si pemakai bahasa itu. Apabila pemakai bahasa kurang berdisiplin dalam berbahasa, berarti pemakai bahasa itu pun kurang berdisiplin dalam berpikir.

Sikap bangsa Indonesia terhadap bahasa Indonesia cenderung ambivalen, sehingga terjadi dilematis. Artinya, di satu pihak kita menginginkan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern, dan dapat mengikuti perkembangan zaman serta mampu merekam ilmu pengetahuan dan teknologi global, tetapi di pihak lain kita telah melunturkan identitas dan citra diri itu dengan lebih banyak mengapresiasi bahasa asing sebagai lambang kemodernan (Warsiman, 2006:42-43). Atas dasar itu, tidak heran jika para remaja masa kini lebih cenderung menggunakan bahasa asing atau bahasa gaul sebagai bagian dari hidupnya jika mereka tidak ingin disebut ketinggalan zaman.

Interaksi global dalam berbagai bidang dewasa ini tidak bisa dihindari. Akibatnya proses transaksi nilai-nilai global dengan sendirinya juga akan terjadi. Bagaimana masyarakat kita dengan segala hasil budidayanya, termasuk bahasa Indonesia.

Pada saat ini, dalam lingkungan pergaulan telah dikenal dan berkembang bahasa alay (anak lebay). Bahasa alay itu mencampur aduk antara tulisan, lisan, dan gambar, sehingga semuanya menjadi kacau. Kekacauan bahasa itu terlihat karena peletakan gambar yang seenaknya dan kadang emosi juga diungkapkan secara tidak tepat. Bahasa yang rusak itu justru dianggap sebagai kreatifitas. Penutur bahasa dalam dunia maya memang kreatif, tapi kalau rusak-rusakan tidak dapat dibilang kreatif. Kerusakan bahasa dan mudahnya perubahan identitas itu melahirkan generasi yang berani bersikap dan asosial atau individualis.

Sebenarnya penggunaan kata anak muda dirasa kurang pas, karena penggunaan bahasa alay ini marak dipopulerkan oleh anak-anak ABG (anak baru gede) seumuran SMP, maupun SMU. Bahasa ini sangat tidak lazim bagi orang-orang sehat dan normal. Anak ABG selalu berhasil menciptakan sebuah image baru mengenai dirinya walaupun hal tersebut banyak menabrak rambu-rambu yang telah ada. Tidak terkecuali dengan bahasa alay ini, yang menggabungkan huruf dengan angka, memperpanjang atau memperpendek pemakaian huruf atau memvariasi huruf besar dan kecil membentuk sebuah kata dan kalimat. Bagi orang dewasa yang masih berinteraksi dengan anak-anak ABG (baca = alay) tersebut, tentunya akan sangat menyusahkan bila mereka menuliskan sesuatu (SMS/email misalnya).

Keberadaan bahasa alay dianggap kaum muda sebagai alat komunikasi dalam pergaulan sehari-hari. Baik lisan maupun tulisan, bahasa ini dianggap sebagai media berekspresi. Namun, tanpa disadari, lama kelamaan bahasa alay bisa mengancam eksistensi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan karena semakin jauh berbeda dengan kaidah-kaidah bahasa yang baik dan benar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, agar penelitian ini jelas dan lebih terarah maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimanakah wujud pemakaian bahasa Alay dalam pergaulan?

2. Hal-hal apa sajakah yang melatarbelakangi pemakaian bahasa Alay?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan deskripsi yang jelas mengenai:

1. Wujud Pemakaian bahasa Alay dalam pergaulan.

2. Hal-hal yang melatarbelakangi pemakaian bahasa Alay.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah teori yang berhubungan dengan penggunaan bahasa Alay.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi :

a. Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada mahasiswa mengenai adanya faktor-faktor sosiolinguistik yang di terapkan pada pemakaian bahasa Alay.

b. Bagi Pengguna bahasa Alay

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai bahasa Alay digunakan dalam pergaulan.

c. Peneliti Lain

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan inspirasi maupun bahan pijakan kepada peneliti lain untuk melaksanakan penelitian lanjutan.

E. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan observasi ke lapangan secara langsung dengan teknik pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan konteks suatu percakapan, merekam tuturan, dan wawancara. Setelah data tersebut terkumpul kemudian penulis mentraskripsi data lalu mengklasifikasi data berdasarakan domainnya. Setelah diklasifikasi, penulis melakukan analisis dengan menggunakan teori di atas dengan tujuan mencari gejala-gejala kebahasaan yang dapat menjadi indikator pergeseran atau pemertahanan bahasa, serta mencari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran atau pemertahanan bahasa.


BAB II

LANDASAN TEORI

Bahasa adalah alat komunikasi yang dipakai oleh masyarakat untuk mengekspresikan gagasan yang telah menjadi konsesus bersama. Ekspresi bahasa tersebut menggambarkan kecendrungan masyarakat penuturnya. Oleh karenanya, untuk mempelajari dan menjelaskan bahasa niscaya harus melibatkan aspek-aspek sosial yang mencitrakan masyarakat tersebut (Harimurti Kridalaksana, 1985: 4), seperti tatanan sosial, strata sosial, umur, lingkungan dan lain-lain. Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Chomsky bahwa bahasa adalah asosial karena mengabaikan heterogenitas yang ada dalam masyarakat, baik status sosial, pendidikan, umur, jenis kelamin latar belakang budayanya, dan lain-lain (Silal Arimi, 2008).

Chomsky (dalam Wardhaugh, 1986: 10) memilah antara bahasa di satu sisi dan budaya di sisi lain. Dalam mempelajari bahasa yang berhubungan dengan sosial budaya akan menghasilkan empat kemungkinan. Pertama, struktur sosial dapat mempengaruhi dan menentukan struktur atau perilaku bahasa. Kedua, struktur dan perilaku bahasa dapat mempengaruhi dan menentukan struktur sosial. Ketiga, hubungan keduanya adalah timbal balik. Keempat, struktur sosial dan struktur bahasa sama sekali tidak berhubungan, inilah yang dianut oleh Chomsky.

Peranan bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkomunikasi antara manusia yang satu dengan yang lain dalam suatu masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Mustakim (1994 : 2) bahwa bahasa sebagai alat komunikasi digunakan oleh anggota masyarakat untuk menjalin hubungan dengan masyarakat lain yang mempunyai kesamaan bahasa.

Dengan bahasa, manusia dapat saling berhubungan dengan manusia lainnya, walaupun latar belakang sosial dan budayanya berbeda. Oleh karena itu, fungsi bahasa yang paling mendasar adalah untuk berkomunikasi (P.W.J. Nababan, 1993 : 40), yaitu alat pergaulan dan perhubungan sesama manusia sehingga terbentuk suatu sistem sosial atau masyarakat. Bahasa sebagai bagian dari masyarakat merupakan gejala sosial yang tidak dapat lepas dari pemakainya. Sosiolinguistik sebagai cabang ilmu bahasa merupakan interdisipliner ilmu bahasa dan ilmu sosial, berusaha menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakaian di dalam masyarakat.

Aspek pemakai bahasa berkaitan dengan mutu dan keterampilan berbahasa seseorang. Aspek pemakaian bahasa mengacu pada bidang-bidang kehidupan yang merupakan ranah pemakaian bahasa (Hasan Alwi dan Sugono, 2000). Dalam menghadapi era globalisasi diperlukan suatu rumusan ketentuan mengenai penggunaan bahasa Indonesia. Hal ini mengingat bahwa masalah kebahasaan di Indonesia sangat rumit. Di Indonesia terdapat lebih dari 728 bahasa daerah. Bahasa-bahasa daerah itu hidup dan berkembang serta dipergunakan dengan setia oleh penuturnya. Selain itu, di Indonesia terdapat bahasa asing. Walaupun kedudukan dan fungsi bahasa daerah dan bahasa asing itu sudah diatur penggunaannya, tetap saja pemakaian bahasa daerah dan bahasa asing (Inggris) dipergunakan semaunya oleh pemakainya. Kenyataan itu akan menyudutkan penggunaan bahasa Indonesia. Seperti dikatakan oleh Hudson (1980) ragam bahasa itu bergantung pada who, what, when, where, why. Dengan demikian, dalam situasi formal tentulah ragam formal yang dipilih, sedangkan dalam situasi nonformal tentu pula ragam nonformal yang digunakan.

Untuk pemilihan ragam nonformal tidaklah perlu dipermasalahkan. Penggunaan bahasa Indonesia yang bercampur kode dengan bahasa gaul, prokem, slang, ataupun bahasa daerah selagi tidak tidak dipakai dalam situasi formal tidaklah perlu dirisaukan. Namun, yang menjadi kerisauan kalau ragam formal bahasa Indonesia (baku) itu digunakan tidak sebagaimana mestinya. Variasi atau ragam formal itu digunakan, antara lain, dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat dinas, ceramah keagamaan, buku pelajaran, karya ilmiah (Nababan, 1993).

Menurut Fishman (dalam Chaer & Agustina, 1995: 204) untuk mengkaji pemilihan bahasa dapat dilakukan dengan menggunakan konteks institutional tertentu yang disebut dengan domain, yang di dalamnya menunjukkan kecenderungan menggunakan satu variasi tertentu daripada variasi lain. Domain dipandang sebagai konstelasi faktor-faktor seperti lokasi, topik, dan partisipan, seperti keluarga, tetangga, teman, transaksi, pemetintahan, pendidikan, dsb. Misalnya jika seorang penutur berbicara dalam lingkungan keluarga maka dikatakan berada dalam domain keluarga. Analisis domain ini biasanya terkait dengan analisis diglosia, sebab ada domain yang formal dan domain yang tidak formal. Di masyarakat yang diglosia untuk domain yang tidak formal dapat digunakan bahasa ragam rendah (low language), sedangkan dalam domain yang formal dipakai bahasa ragam tinggi (high language). Maka pemilihan satu bahasa atau ragam bahasa tergantung domainnya.

Menurut Fasold (1984: 213-214) pergeseran dan pemertahanan bahasa merupakan hasil dari proses pemilihan bahasa dalam jangka waktu yang sangat panjang. Pergeseran bahasa menunjukkan adanya suatu bahasa yang benar-benar ditinggalkan oleh komunitas penuturnya. Hal ini berarti bahwa ketika pergeseran bahasa terjadi, anggota suatu komunitas bahasa secara kolektif lebih memilih menggunakan bahasa baru daripada bahasa lama yang secara tradisional biasa dipakai. Sebaliknya, dalam pemertahan bahasa para penutur suatu komunitas bahasa secara kolektif memutuskan untuk terus menggunakan bahasa yang mereka miliki atau yang secara tradisional biasanya digunakan.

Gejala-gejala yang menunjukkan terjadinya pergeseran dan pemertahan bahasa pun dapat diamati. Misalnya, ketika ada gejala yang menunjukkan bahwa penutur suatu komunitas bahasa mulai memilih menggunakan bahasa baru dalam domain-domain tertentu yang menggantikan bahasa lama, hal ini memberikan sinyal bahwa proses pergeseran bahasa sedang berlangsung. Akan tetapi, apabila komunitas penutur bahasanya monolingual dan secara kolektif tidak menggunakan bahasa lain, maka dengan jelas ini berarti bahwa komunitas bahasa tersebut mempertahankan pola penggunaan bahasanya.

Pemertahanan bahasa bukan hanya terjadi di dalam komunitas tutur yang

monolingual, tetapi terjadi pula dalam masyarakat bilingualisme serta multilingualisme. Namun, hal semacam ini hanya terjadi ketika komunitas penutur bahasanya diglosia. Sistem pemertahanan bahasa dalam komunitas bahasa yang multilingul seperti ini menunjukkan gejala bahwa para penuturnya menggunakan suatu bahasa tertentu dalam domain-domain tertentu dan menggunakan bahasa lain dalam domain-domain yang lain. Oleh karena itu, dalam komunitas semacam ini terjadi dinamika penggunaan bahasa.

Beberapa kondisi cenderung diasosiasikan dengan pergeseran bahasa. Akan tetapi, kondisi yang paling mendasar adalah bilingualisme, meskipun bilingualisme bukan satu-satunya hal yang mendorong terjadinya pergeseran bahasa. Menurut Lieberson (dalam Susi Yuliawati, 2008: 11) hampir semua kasus pergeseran bahasa dalam masyarakat terjadi melalui peralihan intergenerasi. Dengan kata lain, peralihan bahasa terjadi melalui beberapa generasi dalam satu masyarakat dalam jangka waktu yang cukup panjang. Namun, ada juga komunitas selama berabad-abad sehingga ini berarti bahwa keberadaan masyarakat tidak berarti akan terjadinya pergeseran bahasa. Beberapa faktor lain yang menjadi pemicu pergeseran bahasa.

Faktor-faktor tersebut antara lain migrasi, baik yang dilakukan oleh kelompok kecil ke wilayah yang menyebabkan bahasa mereka tidak lagi digunakan, maupun oleh kelompok besar yang memperkenalkan populasi lokal dengan bahasa baru; industrialisasi dan perubahan ekonomi; sekolah bahasa dan kebijakan pemerintah; urbanisasi prestise yang lebih tinggi; dan jumlah populasi yang lebih sedikit untuk bahasa yang mengalami pergeseran. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Holmes (2001) bahwa faktor-faktor yang medorong pergeseran bahasa adalah fakor ekonomi, sosial, politik, demografis, perilaku, dan nilai dalam suatu komunitas.

Bahasa Alay

Alay berasal dari kata Anak Layangan. Bahasa Alay bisa dikatakan bahasa kampungan, karena memang bahasa tersebut sungguh-sungguh tidak memngenal etika berbahasa dan biasanya yang bermain layangan adalah anak-anak kampung (orang kota juaga sering, namun kota pinggiran). Apabila kita menggunakan bahasa Alay secara tidak langsung telah melecehkan lawan bicara kita baik secara tulisan ataupun lisan. Pada umumnya bahasa alay lebih nampak dalam bentuk tulisan (8studio-desainmultimedia.blogspot.com).

Alay, Alah lebay, Anak Layu, atau Anak keLayapan yang menghubungkannya dengan anak Jarpul (Jarang Pulang). Tapi yang paling santer adalah anak layangan. Dominannya, istilah ini untuk menggambarkan anak yg sok keren, secara fashion, karya (musik) maupun kelakuan secara umum. Konon asal usulnya, alay diartikan “anak kampong” karena anak kampung yang rata-rata berambut merah dan berkulit sawo gelap karena kebanyakan main layangan.

Berikut adalah pengertian alay menurut beberapa ahli (Wahyu Adi Putra Ginting, 2010):

Koentjara Ningrat: "Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya diantara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya (baca: Pengguna internet sejati,
kayak blogger dan kaskuser). Diharapkan Sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar.

Selo Soemaridjan: "Alay adalah perilaku remaja Indonesia, yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat diantara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan ramah. Faktor yang menyebabkan bisa melalui media TV (sinetron), dan musisi dengan dandanan
seperti itu."

Salah satu ciri dari alay tersebut adalah tulisannya yang aneh dan di luar nalar serta akal sehat. Di sini, saya akan mengklasifikasikan alay-alay ke beberapa tingkatan atau strata menurut dari tulisan mereka (di sini saya bukan mau ngebahas alay dari wajah atau penampilannya, wajah adalah pemberian dari Tuhan yang merupakan anugerah untuk kita. Kalo tulisan kan emang biasanya dibuat oleh para alay itu sendiri).

Bahasa Alay muncul pertama kalinya sejak ada program SMS (Short Message Service) atau pesan singkat dari layanan operator yang mengenakan tarif per karakter yan berfungsi untuk menghemat biaya. Namun dalam perkembangannya kata-kata yang disingkat tersebut semakin melenceng, apalagi sekarang sudah ada situs jejaring sosial. Dan sekarang penerapan bahasa Alay sudah diterapkan di situs jejaring sosial tersebut, yang lebih parahnya lagi sudah bukan menyingkat kata lagi, namun sudah merubah kosa katanya bahkan cara penulisannya pun bisa membuat sakit mata orang yang membaca karena menggunakan huruf besar kecil yang diacak ditambah dengan angka dan karakter tanda baca. Bahkan arti kosakatanya pun bergeser jauh dari yang dimaksud. Semua kata dan kalimat ‘dijungkirbalikkan’ begitu saja dengan memadukan huruf dan angka. Penulisan gaya alay atau anak lebay tidak membutuhkan standar baku atau panduan khusus, semua dilakukan suka-suka dan bebas saja.

Sepertinya inilah tren generasi alay. Tulisan gaya alay bisa dengan mudah ditemukan di blog dan forum di internet. Semua kata dan kalimat ‘dijungkirbalikkan’ begitu saja dengan memadukan huruf dan angka. Penulisan gaya alay atau anak lebay tidak membutuhkan standar baku atau panduan khusus, semua dilakukan suka-suka dan bebas saja. Sepertinya inilah tren generasi alay. Tulisan gaya alay bisa dengan mudah ditemukan di blog dan forum di internet.

Seiring perkembangan zaman, alay sering diidentifikasikan menjadi
narsis, fotogenic, sok gaul, emo, dan lain-lain. Secara garis besar, mungkin karena salah pergaulan, maka yang merupakan ciri-ciri alay adalah sebagai berikut.

1. Selalu ngerasa paling tau tentang sepeda dan kegiatan bersepeda. Padahal jarang banget gowes,,, sekalinya gowes palingan pas ada Event atau ada liputan aja untuk memburu Goodie Bag atau sekedar Narsis.com

2. Tongkrongannya di pinggir pinggir jalan

3. Ketika sedang berkumpul, membawa handshet untuk mendengerkan lagu dari handphone sehingga terkesan pamer. Mereka bergaya bertelfon dan ber-SMS. Kondisi terparah adalah suka menunjukkan SMS dari cewek/cowok kepada temannya agar dibilang pacarnya
perhatian.

4. Terkesan EMO, tapi ketika ditanya sejarah EMO tidak tahu.

5. Terkesan ingin 'gaul' mengikuti tren yang sekarang tapi terlalu LEBAY (contoh: padu-padan pakaian tetapi tidak serasi; baju hijau,celana kotak kotak, sepatu merah, kacamata biru!)

6. Dimana-mana selalu berfoto-foto narsis (entah itu di track sepeda, WC, mobil, kamar, stasiun , angkot, dan lain-lain).

7. Foto bergaya aneh

8. Kalu cewek, setiap hari membahas pacar. (contoh: eh tau ga si A tadi gini loh sama gue hahaha lucu bgt ya?

9. Buat cowok, tiap hari cari musuh (ribut) sama agar dianggap keren

10. Pada account facebook atau friendster, bagi yang cewek di album fotonya memajang cowok-cowok ganteng meskipun tidak kenal supaya dianggap cantik dan gaul. Untuk yang cowok, majang foto cewek semua walau tidak kenal agar disangka cowok ganteng.

11. Suka ngirim ‘status’ tidak jelas di yahoo, Friendster atau facebook :"akko onlenndh dcnniih" ato "ayokk perang cummendh cmma saiia"

12. Menganggap dirinya eksis di friendster atau Facebook atau Multiply (kalau comments banyak berarti anak gaul, menjadi lomba banyak-banyakan comment)

13. Kalau ada org yang hanya melihat profil user di jejaring sosial,lalu mengirim testimonial: "hey cuman view nih?" ataau "heey jgn cuman view doang,add dong!

14. Jejaring sosial dipenuhi glitter-glitter norak yang pastinya bisa merusak retina mata

15. Nama profil jejaring sosial mengagung-agungkan diri sendiri, seperti: pRinceSs cuTez,sHa luccU, cAntieqq, dan lain-lain.

16. Kata/singkatan selalu diakhiri huruf z/s

17. Foto di jejaring sosial bisa mencapai 300 lebih padahal hanya foto DIRINYA SENDIRI

18. Diam-diam mengidolakan : kangen band, st12, radja

19. Suka menghina orang lain yang tidak sama seperti dia.


BAB III

PEMBAHASAN

- kaMI pUtra daN PUtri Indonesia, menjunjuNg tinGgi BaHaSa persatuan, baHasA iNDonESia

- K4m1 putr4 dan putr1 1nd0n3514, m3njunjung t1n661 b4ha54 p3r54tu4n, b4h45a 1nd0ne514

- Kmi putr dn ptri Indns, mnjunjng tngg bhs prstan, bhs Indns

1n5y4 4JJl N4nt1 50re ud 4d4 4cr4. p0kUqnY 5e3p b3ud..

QuWwh gag biCa cuKa aMa cO aGiih, uWawAnthi c0 bgdZ deCh

Tulisan di atas sama sekali bukan kode bahasa rahasia intelijen. Tapi sekadar gaya bahasa tulis yang sedang populer di kalangan anak muda sekarang ini. Gaya bahasa ini mudah dijumpai di SMS yang ada di handphone mereka, atau pada status dan wall Facebook/Twitter atau situs jejaring sosial lainnya. Bagi orang yang bukan sesusia atau bukan dari kalangannya akan langsung merasa sebal atau malah pusing membacanya. Namun, jika sudah bisa menebak artinya, jangan keburu senang dulu. Sebab tidak selamanya langsung bisa paham maksudnya. Persoalannya, tidak ada kaidah tetap untuk bahasa-bahasa ini. Satu-satunya aturan adalah justru ketidakaturan itu sendiri. Jangan dibahas apa rumusnya “gue” bisa menjadi: gw, W, atau malah G saja. Belum lagi untuk menyatakan ekspresi, kemungkinannya semakin tidak terbatas. Contohnya untuk tertawa, jika Anda hanya mengenal hehehe… atau he3x, sekarang ada wkwkwk, xixixi, haghaghag, dan sebagainya. Jangan bayangkan pula bagaimana ini mau diucapkan secara lisan, karena untunglah ini hanya bahasa tulis.

Awal mula kemunculan bahasa rumit ini tak lepas dari perkembangan SMS atau layanan pesan singkat. Namanya pesan singkat, maka menulisnya jadi serba singkat, agar pesan yang panjang bisa terkirim hanya dengan sekali SMS. Selain itu juga agar tidak terlalu lama mengetik dengan tombol handphone yang terbatas. Awalnya memang hanya serba menyingkat. Kemudian huruf-huruf mulai diganti dengan angka, atau diganti dengan huruf lain yang jika dibaca kurang lebih menghasilkan bunyi yang mirip.

Belakangan, bukannya disingkat malah dilebih-lebihkan, seperti “dulu” menjadi “duluw”. Ketika jejaring sosial lewat internet datang sebagai media baru yang mewabah, budaya menulis pesan singkat ini terbawa dan makin hidup di situ. Lambat laun ini menjadi semacam sub budaya dalam cara berkomunikasi anak muda yang kemudian disebut sebagai Anak Alay, dengan Bahasa Alay sebagai intangible artefact-nya.

Ada sumber yang menyebutkan, alay ini berasal dari singkatan “anak layangan”, yang punya asosiasi pada anak muda tukang kelayapan, atau anak kampung yang berlagak mengikuti tren fashion dan musik. Ada lagi yag sekadar merujuk pada anak muda yang demi mendapatkan pengakuan di tengah lingkungan pergaulan akan melakukan apa saja, dari meniru gaya pakaian, gaya berfoto dengan muka yang sangat dibuat-buat, hingga cara menulis yang dibuat “sok” kreatif dan rumit seperti di atas.

Fenomena bahasa alay itu sendiri mengingatkan pada fenomena bahasa gaul yang hampir selalu ada pada setiap generasi anak muda. Bahasa-bahasa gaul yang tidak serta merta hilang terkubur dibawa peralihan generasi. Seperti “bokap” atau “nyokap”, jejak bahasa prokem yang tentu Anda masih sering dengar dalam bahasa percakapan saat ini.

Menengok lebih jauh lagi ke belakang, generasi eyang-eyang yang besar di kawasan segitiga Yogyakarta-Solo-Semarang era tahun empatpuluhan sampai limapuluhan pernah menciptakan apa yang mereka namakan bahasa rahasia, dengan menyisipkan “in” di antara huruf mati dan huruf hidup. Jadi jika ingin mengatakan “mambu wangi” (bau harum) akan menjadi “minambinu winangini”. Untuk yang advance, bahasa “in” ini dibuat lebih sulit lagi dengan memenggal bagian belakang. Sehingga “mambu wangi” cukup menjadi “minam winang”.

Di era delapanpuluhan, bahasa rahasia ini nyaris punah. Peninggalannya hanya tersisa pada bahasa lisan para eyang. Meski demikian melalui media radio sempat ada upaya reproduksi bahasa ini untuk penyebutan “cewek” jadi “cinewine”. Ingat? Di era delapanpuluhan ini yang lebih terkenal adalah bahasa prokem. Rumusnya adalah menyisipkan bunyi “ok” dan penghilangan suku kata terakhir. Seperti “bapak” jadi “bokap”. Dibandingkan bahasa rahasia Jawa, aturan atau rumus untuk bahasa “okem” ini lebih tidak beraturan lagi. Kaidahnya jadi irregular seperti “mobil” jadi “bo’il”, atau “dia” jadi “doi” atau “doski”, atau yang termasuk jauh, “makan” jadi “keme”.

Di era sembilanpuluhan anak muda Yogyakarta membuat bahasa walikan, yaitu menukar huruf-huruf dalam urutan alfabet Hanacaraka. Rumusnya, ha-na-ca-ra-ka bertukar dengan pa-dha-ja-ya-nya, sementara da-ta-sa-wa-la bertukar dengan ma-ga-ba-tha-nga. Akibatnya, huruf “m” jadi “d”, huruf “t” jadi “g”. Contohnya, “matamu” menjadi “dagadu”, seperti merek industri kaos terkenal yang digemari anak muda di Yogya. Bahasa walikan ini awalnya muncul sebagai bahasa gaul di lingkungan kampus, sebagai respon terhadap masuknya pengaruh kultur baru yang dibawa para mahasiswa dari luar kota Yogyakarta.

Jika bahasa walikan adalah respon kultural anak muda terhadap perubahan yang datang dari luar, dan bahasa prokem punya konteks perlawanan anak muda urban kelas menengah terhadap hipokrisi orang dewasa, maka bahasa alay saat ini lebih mencerminkan kultur yang arbitrer, serba acak dan suka suka. Penyebabnya, teknologi komunikasi dan informasi dengan jejaring informasi betul-betul membuat dunia lebih datar, seolah-olah tiap individu bebas untuk mengusung produk budaya masing-masing. Sehingga de facto tidak ada aturan yang benar-benar dianut secara baku seperti tampak dari bentuk bahasa alay yang tidak beraturan itu. Buat Anda generasi dewasa jangan merasa tertinggal jika Anda tidak mampu mengejar istilah-istilah baru ini. Karena semakin dikejar, semakin banyak yang muncul lebih aneh lagi, sama banyak dengan yang tersisih karena dianggap lawas dan “jadul”.

Bahasa Inggris sebenarnya lebih banyak alaynya daripada Bahasa Indonesia. Seperti LOL (laughing out loud), ROFL (rolling on the floor laughing) misalnya, FYI (For your Information) atau CMIIW (correct me if I'm wrong) misalnya. Masalahnya pengguna Bahasa Inggris berasal dari berbagai negara sehingga tiap-tiap negara menciptakan aksen dialek (british, american, australian, russian, indian, chinese, dan lain-lain) dan belum lagi dicampur dengan kosakata dari anak muda. Jadi, keberadaan bahasa alay itu normal karena artinya ada akulturasi budaya.

Berikut adalah kata-kata yang lazim dipakai oleh komunitas alay:

Add : Et, Ett (biasanya minta di add friendster/facebook/twitter)

Aja : Ja, Ajj

Aku : Akyu, Akuwh, Akku, q.

Anak : Nax, Anx, Naq

Apa : Pa, PPa (PPa ???)

Banget : Bangedh, Beud, Beut

Baru : Ru

Belum : Lom, Lum

Bokep : Bokebb

Boleh : Leh

Buat : Wat, Wad

Cakep : Ckepp

Cape : Cppe, Cpeg

Cewek : Cwekz

Chat : C8

Cowok : Cwokz

Cuekin : Cuxin

Curhat : Cvrht

Deh : Dech, Deyh

Dong : Dumz, Dum

Dulu : Duluw

Gitu : Gtw, Gitchu, Gituw

Gue : W, Wa, Q, Qu, G

Hai : Ui

Halo : Alow

Imut : Imoetz, Mutz

Ini : Iniyh, Nc

Kakak : Kakagg

Kalau : Kaluw, Klw, Low

Kalian : Klianz

Kamu : Kamuh, Kamyu, Qmu, Kamuwh

Kan : Khan, Kant, Kanz

Karena/Soalnya : Coz, Cz

Kenal : Nal

Keren : Krenz, Krent

Ketawa : wkwkwk, xixixi, haghaghag, w.k.k.k.k.k., wkowkowkwo

Khusus : Khuzuz

Kok : KoQ, KuQ, Kog, Kug

Kurang : Krang, Krank (Crank?)

Lagi : Ghiy, Ghiey, Gi

Lo/kamu : U

Loh : Loch, Lochkz, Lochx

Love : Luph, Luff, Loupz, Louphh

Lucu : Luthu, Uchul, Luchuw

Lupa : Lupz

Maaf : Mu’uv, Muupz, Muuv

Main : Men

Makan : Mumz, Mamz

Manis : Maniezt, Manies

Masuk : Suk, Mzuk, Mzug, Mzugg

Mengeluh : Hufft

Nggak : Gga, Gax, Gag, Gz

Nih : Niyh, Niech, Nieyh

Nya, contoh : misalnya, jadi misalna, misal’a, misal.a

Paling : Plink, P’ling

Pasti : Pzt

Punya : Pya, P’y

Reply : Repp (ini yang paling sering ditemukan di dunia maya)

Rumah : Humz, Hozz

Salam : Lam

Sayang : Saiank, Saiang

Sempat : S4

Setiap : Styp

Siapa : Sppa, Cppa, Cpa, Spa

Sih : Siech, Sieyh, Ciyh

SMS : ZMZ, XMX, MZ

Sorry : Cowwyy, Sowry

Tapi : PPi

Tau : Taw, Tawh, Tw

Telepon : Tilp

Tempat : T4

Terus : Rus, Tyuz, Tyz

Tiap : Tyap

Tuh : Tuwh, Tuch

Udah : Dagh

Ya/Iya : Yupz, Ia, Iupz

Yang : Iank/Iang, Eank/Eang (ada juga yang iiank/iiang)

Yuk : Yuq, Yuqz, Yukz

Contoh kalimat alay:
Aq 4L4Y — QM Maw Ap4h?!

QmO dLaM iDopQhO (kamu dalam hidupku..)

q tWo……… (aku tau……)

qMo mANk cLiD wAd cYanK m qHo (kamu memang sulit buat sayang sama aku)

tPhE qMo pLu tHwO„„„ (tapi kamu perlu tau….)

mY LuPi”…… (my love, cintaku, lupi lupi di kuping gue kedengerannya kayak permen yupi) aLwaYs 4’U……… (always for you, cuman buat kamu)

cO’nA cMa qMo YaNk Co WaD qHo cYuM… (soalnya cuma kamu yang cowo buat aku senyum -oke ni si ophi jelas jelas tidak mengikuti kaidah yang benar dalam membuat struktur kalimat)

k’tHwA„„„„„„„ ��„„ (ketawa…)

cNeNk…………….. (dan senang)

tHanKz b’4„„„„„„ (thanks before, terimakasih sebelumnya)

yOz aLaWAiCe d bEzT……… (you always the best, kamu selalu yang terbaik -ALAWAICE? WTF?)

iN meYe heArD„„„„„„, (in my heart, dalam hatiku)

tHo_tHo…… (dadah -ini dadah)

LupHz yOu„„ (love you, sayang kamu)

bU_bU„„„ (tidur)

I’m ReGrEeEeeEEeeEet nOw……………. (aku menyesal sekarang)

naFaZ„„„„„„„„ ��, (napas)

bNcHi qOh nGmBAnK………………. (benci aku ngambang)

hOeKkkKKk…………….. (sound effect muntah, HOEEEKK).

nPhA jDe gnE????????? ?????? (mengapa jadi begini?)

i dOn’t LiKe tHaT………….. (I don’t like that, aku tidak suka itu)

qOh g Mo iDoP dLAM kmNfqAn………. (aku ga mau hidup dalam kemunafikan)

tHiZ iZ buLLsHiT!!!! !!!!!!! (this is bullshit!, ini semua omong
kosong!!! -penuh amarah membara)

sHiT!!!!!!!! !!!!!!!!! !!!!! !!!!!!!!!!!! !!!! (shit!!!!!! TA* )

SADAM WITHOUT WORD!!!!!!!! !!!!!!!!! !! (sadam without word, sadam tanpa kata -WTF tiba tiba bawa sadam? ato DIAM maksudnya? oh diam deh kayaknya)

HAifTf……………… (huff)

TaKe mE 2 yOuR hEaRtZzz???? ????????? ????? (take me to your heart, bawa aku ke dalam hatimu)

cXnK qMoh tO cKiDnAAAAaaaAaAaaaa……. (sayang kamu tuh sakitnya…)

m_tHa apOn YoH……………… (minta ampun ya…)

qoH tLuZ”aN uCHA bWaD tTeP qEqEUh cXnK qMo………. (aku terus terusan berusaha buat tetep kekeuh sayang kamu…)

bUD„„„„„„„„„ , (but, tetapi…)

UhuHuHfTFTf………….. .. (huft huft -ehem ophi centil deh)

cIa” adJA………………… (sia sia aja -CIA? yang di amerika?)

shIt???????? ???? (TA*??????)

maYbe??????? ???????? (maybe, mungkin????? )

ckIdDDdddDDDd„„„„„ , „„„„„„„„„„ „„„ „„ (SAKIIIIIIT! -ini ngomong sakitdoang kayak suara ban ngerem ehm)

pGEn qOh tO bLanK……………………. . (pengen aku tuh bilang)

U bLOkE mY hEaLtH!!!!!! !!!!!!!!! ! (you bloke my health, kamu cowokesehatanku, atau kamu merusak kesehatanku? -HAHAHAHAHA YOU BROKE MY HEART KOK JADI YOU BLOKE MY HEALTH? jauh gitu artinyaaaa! LOL)

i tHinK…………….. (aku pikir…)

it’Z DISGUSTING vOiCE……………….. (itu suara menjijkan -ga nyambung)

anDeE…………………. (andaiii…)

adJA g2 dRe wAL…………….. (aja gitu dari awal)

qTaH gAg mKeN dIEM”aN gNe tOh???!?@??@ ?@??@@?@? (kita ga makin diem dieman gini tho’?)

Sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekedar sarkasme tak bertanggung jawab dapat dilakukan dalam mengkaji fenomena ini. Di situs jejaring sosial semacam Facebook sendiri telah lama terbentuk Grup Anti Alay. Dan tindakan-tindakan ‘anti’ semacam ini telah berujung pada tindakan aniaya-karakter. Bukankah jauh lebih berharga bila mencurahkan energi untuk berbuat sesuatu terhadap gejala tindakan fasis seperti ini, dan bukan cuma dengan gagap dan latah mengatakan bahwa bahasa alay merusak bahasa nasional Indonesia.

Kalangan pendidik hendaknya tidak perlu gelisah berlebihan karena menganggap perkembangan "Bahasa Alay" dapat merusak Bahasa Indonesia.
Bahasa alay yang banyak digunakan oleh generasi muda Indonesia hanya mempunyai syarat mengancam dan merusak bahasa Indonesia apabila digunakan pada media yang tidak pada tempatnya. Bahasa kawula muda itu akan mengancam Bahasa Indonesia jika digunakan pada forum resmi seperti seminar, perguruan tinggi, sekolah atau dalam tata cara surat menyurat resmi di perkantoran.

Tapi, jika hanya diigunakan sebagai bahasa pergaulan di media baru yang memilih cara interaksi baru seperti SMS, jejaring sosial facebook atau twitter, tak ada alasan untuk mengkhawatirkan Bahasa Alay. Bahasa gaul itu berinteraksi pada tempatnya. Keberadaannya dapat memperkaya kajian para ahli linguistic yang tengah menyusun skripsi/tesis/disertasi mengenai penggunaan bahasa gaul bahasa SMS atau jejaring sosial yang marak digunakan oleh generasi muda. Oleh karena itu, tidak perlu mengambil langkah berlebihan dalam melindungi Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia justru akan teruji dan berkembang sesuai jamannya, dengan adanya berbagai variasi bahasa di sekitarnya.

Bahasa yang digunakan telah membuka cara baru tentang bagaimana orang menggunakan bahasa dalam komunikasi. Sebuah genre baru dalam penggunaan bahasa yang tidak dapat dikategorikan sebagai penggunaan bahasa yang benar, baik lisan atau bahasa tertulis telah muncul. Cara baru menggunakan bahasa di kalangan anak muda yang menggunakan bahasa alay sebagai sarana komunikasi mereka menunjukkan karakteristik menarik:

1. Sebuah penggunaan kreatif dan acak menulis kalimat dengan simbol, singkatan, akronim, emoticon, modal dan penggunaan kreatif lainnya kombinasi huruf.

2. Perbedaan antara apa yang benar dan apa yang tidak benar yang kabur. Sulit untuk membedakan apa yang dianggap serius dan yang hanya komentar periang dan karena itu tidak benar.

3. Apa yang sering dianggap tidak sopan dan kasar dalam komunikasi kehidupan nyata dapat diterima dengan mudah saat dikirim di Facebook. Wajah tidak lagi merupakan masalah ketika orang melempar komentar satu sama lain. Semakin kreatif respon, umpan balik lebih kreatif mereka dapatkan.

4. Perbedaan Gender tidak menjadi masalah dalam komunikasi dapat. Beberapa stereotip perempuan dan laki-laki kabur atau menyeberang.

Orang-orang yang menulis atau menggubah cara eja alay berpikir mereka kreatif karena mereka memang kreatif. Dan gaya eja itu menunjukkan kompetensi penuh atas ortografi Bahasa Indonesia. Gaya eja alay bekerja pada tataran linguistik bahasa. Perhatikan saja: bukankah gaya eja itu menggunakan anasir-anasir serupa homofon, atau bahkan semiotika? Gaya eja alay memperlakukan abjad, tanda baca, dan bilangan sebagai simbol yang memanifestasikan bunyi atau huruf tertentu sehingga dapat menikmati kekreatifan linguistik semacam ini. Gaya eja alay justru memecahkan sandi yang digunakan dalam penulisan. Tulisan alay adalah sebagai sandi dan hanya butuh sedikit kesabaran dan waktu untuk terbiasa dengannya dan untuk mampu memecahkannya.

Pengguna gaya eja alay pun telah mempraktikkan gaya ejanya di tempat yang semestinya. Mereka berbahasa alay bukan dalam laporan ilmiah atau pidato resmi. Mereka berbahasa alay dalam ruang-ruang bahasa yang sifatnya lebih santai seperti di situs jejaring sosial, obrolan pribadi, dan pesan singkat.


BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan yang dapat diajukan dari pembahasan ini adalah:

1. Ciri dari alay tersebut adalah tulisannya yang aneh dan di luar nalar serta akal sehat. Di sini, saya akan mengklasifikasikan alay-alay ke beberapa tingkatan atau strata menurut dari tulisan mereka.

2. Bahasa Alay muncul pertama kalinya sejak ada program SMS (Short Message Service) atau pesan singkat dari layanan operator yang mengenakan tarif per karakter yan berfungsi untuk menghemat biaya

3. Tulisan gaya alay bisa dengan mudah ditemukan di blog dan forum di internet.

4. Kalangan pendidik hendaknya tidak perlu gelisah berlebihan karena menganggap perkembangan "Bahasa Alay" dapat merusak Bahasa Indonesia.
Bahasa alay yang banyak digunakan oleh generasi muda Indonesia hanya mempunyai syarat mengancam dan merusak bahasa Indonesia apabila digunakan pada media yang tidak pada tempatnya.


DAFTAR PUSTAKA

Fasold, Ralph.1984. The Sociolinguistics of Society. England: Basil Blackwell Publisher.

Hasan Alwi dan Sugono, Dendy. 2000. Politik Bahasa: Risalah

Hudson. R.A. 1980. Sociolinguistics. Cambridge: Cambridge

Kridalaksana, Harimurti. 1985. Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa. Flores: Nusa Indah.

Mustakim. 1994. Membina Kemampuan Berbahasa: Panduan ke Arah Kemahiran Berbahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Nababan, P.W.J. (1993) Sosiolinguistik: suatu pengantar/P.W.J. Nababan. Jakarta Gramedia Pustaka Utama 1993.

Penggunaan Bahasa.” (http://www2,kompas. com.htm, diakses 10 September 2008).

Seminar Politik Bahasa. Jakarta: Pusat Bahasa. Chaer, A. & Agustina, L. 1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Silal Arimi, “Sosiolinguistik” http://i-elisa.ugm.ac.id./ inex.php?app=komunitas_ home diakses pada 15 April 2008.

Susi Yuliawati. 2008 Situasi Kebahasaan di Wilayah Pangandaran: Suatu Kajian “Sosiolinguistik tentang Pergeseran dan Pemertahanan Bahasa”. Makalah. Bandung: Fakultas Sastra Unpad University Press. Kompas, 22 Agustus 2005. ”Mengatur

Wardhaugh, Ronald. 1986. An Intriduction to Lingusitics. New York: Basil, Blackwell

Warsiman. 2007. Kaidah bahasa Indonesia yang Benar: untuk Penulisan Karya Ilmiah (Laporan-Skripsi-Tesis-Desertasi). Bandung: Dewa Ruchi.

12 komentar:

  1. membantu sekali...saya ingin mengambil materi bahasa alay juga sebagai skripsi mas...

    BalasHapus
  2. Mas, kalau boleh ada nomer atau jejaring sosial yang bisa saya hubungi? Saya mahasiswi BSI UNY 2008...kalau bersedia sharing bisa hubungi saya di fb @laura jonggrang atau twitter @laura_is1

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita tetangga dong. hehe

      Hapus
  3. nice gan sangat sngat membantu

    BalasHapus
  4. seru nihhh,,, jadi pengen bikin skripsi tentang bahasa alay masa kini hahahaaa

    BalasHapus
  5. Silakan dibikin cef
    Kripcinya ea...... Chiusss miyapha???
    By andriew

    BalasHapus
  6. yg ane paling gak suka kalo bahasa Alay itu terjadi di Surat Kabar , artikel2 serius n kaya berita2 gitu , apalagi tiap penulis yg mempunyai ciri khas masing2 ,, wah kalo bikin surat kedinasan bisa2 get out nih bahasa Alay :D

    BalasHapus
  7. serius aku moco iki malah jadi ngakak :D nice post!

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  9. saya juga sdg mengkaji bahasa alay di facebook :)

    BalasHapus
  10. tertarik bwngt pngen buat skrip tntang bahasa alay
    tp msh bngung mau buat jdul'a sprti apa...
    :/

    BalasHapus