ANDRIW

Foto Saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Minggu, 24 April 2011

Andre Hardjana KRITIK SASTRA: SEBUAH PENGANTAR

BAB I
Kritik Sastra: Sebuah Pengantar
Pertama kali dilancarkan oleh Xenophanes dan Heraclitus, tahun 500 sebelum Masehi, ketika mereka mengecam keras pujangga besar Humerus yang gemar yang senang mengemukakan cerita senonoh. Istilah kritik berasal dari kata krities : untuk menyebutkan hakim. Buku kritik yang pertama dan lengkap, yang kemudian dipandang sebagai sumber dari pengertian kritik modern, berjudul Criticus dan ditulis oleh Julius Caesar Scaliger.
Bacon mengadakan pembedaan tradisi ilmu pengetahuan yang menjadi dua, yakni: the one critical other pedantical. Adapun kategori pertama memiliki cirri-ciri:
1. Berpaut dengan perbaikan penerbitan karya para pujangga
2. Berpautan dengan pembeberan dan penguraian karya-karya pujangga
3. Berpautan dengan jaman yang kerap kali dapat memberikan petunjuk yang tepat untuk dapat mengadakan penafsiran secara benar
4. Berpautan dengan penghakiman dan penentuan nilai karya para pujangga secara singkat
5. Berpautan dengan sintaksis (tata kalimat) dan penjelasan-penjelasannya..
Dalam sastra Inggris abad XVII istilah critic dipakai untuk menunjuk orang yang melakukan kritik (kritikus) atau kritik itu sendiri . Istilah dan pengertian kritik sastra baru dikenal setelah para sastrawan Indonesia memperoleh pendidikan menurut system Eropa pada awal abad XX ini.
Kapan tepatnya istilah kritik sastra dipergunakan pertama kali dalam pengetahuan sastra di Indonesia, sejarah Indonesia belum membuat catatan yang cukup teliti. Tetapi kemudian istilah kritik sastra dan pengertiannya menjadi kokoh terutama setelah H.B.Jassin menerbitkan buku terkenalnya, kesusastran Indonesia modern dalam kritik dan essay yang kemudian dikembangkan dan sdiperluas wilayahnya hingga mencapai empat buah jilid dengan judul kesusastraan Indonesia modern dalam kritik dan essay.

• Sastra dan Kritik Sastra
Sastra sebagai pengungkapan baku dari apa yang telah disaksikan orang dalam kehidupan, apa yang telah dialami orang tentang kehidupan, apa yang telah dipermenungkan, dan dirasakan orang mengenai segi-segi hakekatnya adalah suatu pengungkapan kehidupan lewat bentuk bahasa. Karya sastra terbagi menjadi dua bentuk yaitu, sastra lisan dan sastra tulis. Dalam sastra lisan sering terjadi kesalahan dalam penyampaiannya oleh karena itu dalam penyampaian sastra lisan terdapat proses kritik sastra yang berfungsi sebagai pembangun karya sastra.
Hakekat dari penghayatan para pengarang, yang utuh dan khas dan oleh karenanya berbeda satu sama lain, disebut poetika. Penghayatan keindahan seorang kritikus bermula dari pengamatan dan pencernaan jiwanya atas suatu karya. Apabila penghayatan estetika terjadi seorang kritikus akhirnya sadar kembali akan pribadinya dan menjelaskan bagaimana sebuah karya yang ia baca telah dia hayati, bagaimana penghayatan itu terjadi, dan mengapa penghayatan itu terjadi.
Dalam kritik sastra yang menyeluruh dan tajam sekalipun terasa terlalu sempit untuk mencakup seluruh dunia karya sastra sehingga dirasakan ada hal-hal dalam karya sastra yang terasa hilang dalam kritik sastra. Seorang kritikus yang baik dalam mencari, menunjukkan, dan menentukan nilai baik dengan analisa maupun perbandingan secara teoritis tidaklah berada jauh dari poetika pengarang, sehingga sastra dan kritik sastra tidaklah saling bertentengan.

• Peranan Kritik Sastra
Dalam memberikan penilaian karya sastra dan memberikan ujud pada tulisannya, seorang kritikus sastra dipengaruhi oleh pandangannya tentang hakekat sastra dengan segala keruwetan pengertian yang terkandung dalam istilah itu.
Berdasarkan kenyataan, kritikus sastra melakukan tiga peranan sekaligus. Yakni: menjelaskan self disiplin pribadinya sebagai jawaban terhadap karya sastra tertentu, bertindak sebagai pendidik yang berurusan dengan kesehatan dan sikap kejiwaan suatu masyarakat: dan bertindak sebagai hakim yang membangkitkan kesadaran dan menyalakan / menghidupkan suatu hati nurani.
Setiap kritikus merasa sadar bahwa apa yang dinilai dan seluruh kariernya merupakan proses mendisiplinkan daya-daya kemampuannya, ia tidak hanya mempertinggi cita perasaanya, tetapi mendisplinkan kesadaran suara hati nurani sendiri, dan ia tidak hanya tertarik pada kondisi yang lebih baik daripada dirinya sendiri.
Fungsi utama kritik sastra adalah memelihara dan menyelamatkan pengalaman manusiawi serta menjalinkan menjadi suatu proses perkembangan susunan-susunan atau struktur yang bermakna. Fungsi ini jauh lebih penting dan berfaedah daripada membuat kategori-kategori yang bias dilakukan orang atas sastra, meskipun kategori-kategori itu juga berfaedah. Kritik sastra sebagi usaha untuk mengukuhkan nilai-nilai manusiawi dan dasar-dasar kehidupan masyarakat berbudaya memang diperlukan secara lebih mendesak. Kritik sastra yang baik menyangkut tradisi kebudayaan, membentuk suatu tempat pijak buat cita rasa yang benar, melatih kesadaran, dan secara benar mengarahkan pengertian tentang makna dan nilai kehidupan. Dengan kata lain fingsi krtik sastra adalah untuk mengangkat manusia kepada martabat yang sebenarnya.

• Aspek-Aspek Kritik Sastra
Sebuah karya sastra, sebagimana setiap karya seni lainnya, merupakan suatu kebulatan yang utuh, khas, dan berdiri sendiri. Merupakan satu dunia keindahan dalam ujud bahasa yang dari dirinya sendiri telah dipenuhi dengan kehidupan dan realitas. Tetapi juga merupakan satu fenomena atau gejala sejarah yakni sebagai hasil karya seseorang seniman tertentu, dari aliran tertentu, jaman tertentu ,dan kebudayaan tertentu pula yang tidak lepas dari rangkaian sejarah.
Ada tiga aspek kritik sastra yakni: kritik histories secara tegas mempunyai tugas untuk mencari dan menentukan hakekat dan ketajaman pengungkapan karya itu di dalam jalinan historisnya. Kritik kreatif tugasnya adalah dengan daya angan-angannya lewat jawaban artistik yang telah dihasilkan oleh kehalusan hatinya , menemukan apa yang telah diungkapkan oleh pengarang itu dengan benar-benar berhasil di dalam satu bentuk karya tertentu. Kritik penghakiman tugasnya adalah untuk menentukan nilai dari pada sebuah karya sastra yang dibacanya.

• Kritik Sastra Dan Masyarakat Sastra
Istilah masyarakat sastra di sini merangkum sekalian orang yang mengembangkan kesusastraan, memanfaatkan kesusastraan, dan menyerap kesusastraan. Jadi orang-orang tersebut adalah para sarjana dan ahli sastra, para pencipta baik penulis prosa maupun penyair yang langsung berurusan dengan penciptaan sastra, dan para pencipta sastra yang menerima dan meresapkan karya sastra yang dibacanya.
Kritik sastra secara jelas dan cemerlang mampu menunjukkan nilai karya sastra tertentu, meniadakan persoalan-persoalan yang sulit dan rumit yang menyeliputi karya tersebut karena adanya penjelasan, uraian bahkan juga penafsiran. Dalam bidang pendidikan wawasan sastra sangatlah penting karena harus diusahakan adanya satu kategori yang sesuai untuk macam-macam tingkatan pembaca. Dalam hal ini nilai moral yang kerap kali mendapatkan perhatian khusus hingga dengan membaca karya sastra pembaca tidak semakin merosot melainkan selalu dipertinggi kebudayaannya.

• Pengalaman dan Imajinasi Dalam Kritik Sastra

Pengalaman dan imajinasi merupakan dua elemen pokok dalam karya sastra, khususnya puisi. Oleh karenanya layak mendapatkan perhatian khusus dari setiap orang yang hendak berurusan dengan puisi. Seorang penyair dengan sajaknya memberikan ujud nyata daripada pengalaman, atau rangkaian pengalamannya. Dengan pengalaman dimaksud pengarang mempunyai pengalaman poetika merupakan satu penghayatan yang mencengkram utuh daya-daya insani seorang penyair yang akhirnya menganggap, bahwa tanpa mendapatkan bentuk, kata pengalaman tersebut akan terus membiusnya dan tidak sempurna.
Proses penulisan puisi pada hakekatnya adalah proses penyempurnaan pengalaman poetika juga. Untuk itulah daya imajinasi memainkan peranan pokok. Sebab dengan imajinasi pengalaman tidak hanya akan sempurna dan nyata bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain.

• Explication De Texte: Suatu Metode Kritik Sastra

Secara harafiah explication de texte berarti pengudaraan karya sastra. Oleh karena itu jelaslah bahwa dengan metide ini seorang pembaca langsung berdialog dari hati ke hati dengan karya yang dihadapinya. Ruang lingkupnya meliputi tiga hal yaitu: pengarang, pengamatan yang teliti dan terperinci tentang naskah karya, pengelompokkan dan penggabungan pengamatan-pengamatan secara terperinci lengkap dan penafsirannya.



Metode ini sangat bermanfaat dan dapat memberikan hasil yang layak bilamana digunakan orang dengan daya tangkap yang tajam bagi peka dan rasa simpatik yang tajam. Ajaran utama yang perlu diketahui oleh calon peneliti sasra adalah karya-karya sastra itu sendiri, baru kemudian ajaran tentang karya-karya sastra.

• Psikologi Dalam Kritik Sastra

Munculnya pendekatan psikologi dalam kritik sastra disebabkan oleh meluasnya perkenalan sarjana-sarjana sastra dengan ajaran-ajaran Freud yang mulai diterbitkan dalam bahasa Inggris, terutama The interpretation of dreams (tafsiran mimpi) dan The contribution to a theori of sex (tiga sambungan ke arah teori seks) dalam dekade menjelang perang dunia.
Psikologi masuk ke dunia sastra melalui beberapa jalan yakni: pembebasan tentang proses penciptaan sastra, pembahasan psikologi terhadap pengarangnya (baik sebagai suatu tipe maupun sebagai seorang pribadi), pembicaraan tentang ajaran kaidah psikologi yang dapat ditimba dari karya sastra, dan pengaruh karya sastar terhadap pembacanya.

• Sosiologi Dalam Kritik Sastra

Hubungan antara ilmu sosiologi dan kritik sastra pada dasarnya mirip dengan hubungan antara ilmu psikologi dan kritik sastra. Asumsi yang harus dipegang sebagai pangkal tolak kritik sastra aliran sosiologi adalah bahwa karya sastra tidaklah lahir dari kekosongan social (social Vacum). Pemahaman akan sejarah kemasyarakata suatu lingkungan social tertentu, dalam kurun waktu tertentu, memang dapat menolong memudahkan pencernakan karya roman dengan cita rasa yang lebih baik. Pendekatan psikologik, pembahasan sastra secara sosiologik tidak dapat menentukan makna dan nilai suatu roman sebagai karya sastra.
Pembahasan sastra secara sosiologik dapat mengembangkan kecenderungan lain secara lebih jauh lagi, yakni kecenderungan untuk menafsirkan tokoh-tokoh khayalan dengan lingkungannya itu sebagai identik dengan tidak lain dan tidak bukan adalah atau mewakili tokoh-tokoh dalam suatu kelompok social tertentu dan lingkungan hidup kelompok tertentu.

• Agama Dan Sastra Dalam Renungan Kritik Sastra

Setiap renungan kritik sastra atas persoalan agama dan sastra akan menyangkut dua masalah pokok, yakni: hubungan antara kritikus dengan sastra, dan hubungan antara sastra dengan realitas pribadi, kebudayaan, atau kerohanian yang diungkapkan dalam karya tersebut. Bagi pembaca / kritikus keagamaan yang memilki negative capability sastra keagamaan menunjukkan dimensi serba kemungkinannnya sastra dan dapat bicara padanya dengan caranya sendiri.
Karya sastra menampilkan dua segi makna apabila: karya itu menampilkan persoalan-persoalan keagamaan sedemikian dalam dan azasinya hingga tidak hanya dapat berbicara dan bermaksud bagi para pembaca yang seagama dengan pengarangnya, tetapi sekalian pula dengan pembaca di luar formal agama baik yang berbeda agama maupun mereka yang tidak mempunyai tautan pada suatu agama tertentu.
Peneliti sastra dalam meneliti sastra keagamaan menemukan masalah-masalah berikut: penelitian atas karya itu sendiri sebagai suatu kesatuan yang utuh, penelitian atas semua karya pengarang yang sama baik karya-karya yang ditulis sebelum maupun sesudah karya itu, dan penelitian atas jiwa, cita rasa, nafas dan lingkungan karya tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar