ANDRIW

Foto Saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Minggu, 24 April 2011

SASTRA ANAK (Analisis Struktur Cerita Anak)

BAB I
PENDAHULUAN

Masa kanak-kanak sering disebut dengan masa kritis karena terjadi pada periode yang menentukan kehidupan seseorang di kemudian harinya. Sastra anak menawarkan pengayaan bahasa, tidak hanya berupa kosa kata namun juga ekspresi-ekspresi yang berupa kalimat atau paragraf atau dialog yang ditata dengan rasa seni dan sensitivitas yang tinggi.
Unsur instrinsik merupakan unsur yang membangun karya itu sendiri. Unsur-unsur intrinsik dalam suatu cerita merupakan unsur-unsur yang secara langsung turut serta dalam membangun cerita.
Unsur-unsur instrinsik tersebut adalah:
a. Tema
b. Plot
c. Penokohan
d. Latar
e. Sudut pandang
f. Moral
g. Bahasa












BAB II
KAJIAN TEORI

1. Tema
Tema menurut Stanton dan Keny (Nurgiyantoro, 2000 : 67) adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Sedangkan tema menurut Hartoko dan Rahmanto (Nurgiyantoro, 1995 : 67) adalah gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan menyangkut persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan. Tema sering juga disebut sebagai ide atau gagasan yang mendukung tempat utama dalam pikiran pengarang dan sekaligus menduduki tenpat utama dalam cerita.

2. Plot
Alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun secara kronologis. Alur dibangun oleh beberapa peristiwa yang biasa disebut unsur alur. Unsur-unsur alur ialah:
a. Perkenalan
b. Pertikaian/konflik
c. Puncak / klimaks
d. Peleraian
e. Akhir
Unsur-unsur alur ini tidak selalu urutannya bersusun seperti itu tetapi ada juga yang dari tengah dulu lalu kembali ke peristiwa awal, kemudian berakhir. Ada juga yang dari akhir terus menuju ke tengah, sampai ke awal cerita. Karena kedudukan unsur-unsur inilah, maka ada yang disebut alur maju, alur mundur dan alur maju mundur.



Penokohan
Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Menurut Abrams (via Nurgiyantoro, 2000 : 165) tokoh cerita adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tentang seperti yang diekspresikan dalam ucapan serta apa yang dilakukan dalam tindakan.
Pembedaan Tokoh
a. Berdasarkan keterlibatannya dalam keseluruhan cerita
1) Tokoh utama
2) Tokoh tambahan
b. berdasarkan fungsi penampilan tokoh
1) Tokoh protagonis
2) Tokoh antagonis
c. Berdasarkan watak atau karakteristiknya
1) Tokoh sederhana
2) Tokoh bulat
d. Berdasarkan berkembang atau tidaknya perwatakan
1) Tokoh berkembang
2) Tokoh statis
e. Berdasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap sekelompok manusia dari kehidupan nyata
1) Tokoh tipikal
2) Tokoh netral

Teknik Pelukisan Tokoh
a. Teknik Ekspositori
Teknik ini dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian atau penjelasan langsung
b. Teknik dramatik
Wujud penggambaran teknik dramatik adalah :
- Teknik cakapan
- Teknik tingkah laku
- Teknik pikiran dan perasaan
- Teknik arus kesadaran
- Teknik reaksi tokoh
- Teknik tokoh lain
- Teknik latar
- Teknik pelukisan fisik
Kendati pemunculan karakter tokoh tidak dapat dilepaskan dari rangkaian peristiwa, model, pengekspresian, karakter tokoh yang dipakai oleh pengarang bisa bemacam-macam.

3. Latar
Latar adalah landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan, (Nurgiyantoro, 2000 :216).
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang dan suasana tejadinya peistiwa dalam suatu karya sastra (Sudjiman, 1986 : 46 via Nurgiyantoro). Secara terperinci latar meliputi penggambaran lokasi geografis termasuk topografi, pemandangan, sampai kepada perlengkapan sebuah ruangan: pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya, musim terjadinya, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial dan emosional para tokoh.
Penggolongan latar
1.1 Latar fisik dan spiritual
1.2 Latar netral dan tipikal
Latar berhubungan langsung dan mempengaruhi pengaturan dan penokohan. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam sebuah pelataran ialah:


a. Latar sebagai metafor
Latar ini befungsi untuk menyampaikan pengertian dan pemahaman. Metafor selalu berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari
b. Latar sebagai atmosfer
Atmosfer dalam sebuah cerita merupakan udara yang dihirup pembaca sewaktu memasuki dunia rekaan. Khususnya suasana romantis, berduka, misteri, dan sebagainya. Suasana yang diciptakan tadi tidak dideskripsikan secara langsung, eksplisit, namun merupakan suatu yang tersarankan. Dengan kemampuan imajinasi dan kepekaan emosional yang dimiliki pembaca, maka mereka mampu menangkap pesan suasana.

5. Sudut Pandang
Sudut pandang adalah bentuk persona yang dipergunakan disamping mempengaruhi perkembangan cerita dan masalah yang diceritakan, juga kebebasan dan keterbatasan, ketajaman, ketelitian dan keobjektifan terhadap hal-hal yang diceritakan. Sedangkan menurut Saad (via Rachmat Djoko Pradipo, 1995 :75) sudut pandang adalah cara bercerita dari titik pandang mana atau siapa cerita itu dikisahkan, (Nurgiyantoro, 2000 : 246).
Sudut pandang menerangkan “siapa yang bercerita”, sudut padang ini penting untuk memeproleh gambaran tentang kesatuan cerita.

Penggolongan sudut pandang
Dilihat secara umum sudut pandang digolongkan menjadi dua yaitu sudut pandang orang ke tiga dan sudut pandang orang pertama. Secara lebih rinci sudut pandang dapat digolongkan:
a. Sudut pandang persona ketiga (dia)
Pencerita sebagai seseorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama atau kata gantinya. Sudut pandang ini dapat dibedakan lagi menjadi dua yaitu

1. Dia maha tahu (third person omniscien)
2. Dia tebatas sebagai pengamat (third person limited)
b. Sudut pandang pesona pertama (Aku)
Pencerita sebagai seseorang ikut terikat atau terlibat dalam cerita. Ia adalah si “Aku” tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri. Sudur pandang ini dapat dibedakan lagi menjadi dua yaitu:
1. Aku “tokoh utama”
2. Aku “tokoh tambahan”
c. Sudut pandang campuran
Dalam sebuah karya fiksi dijumpi lebih dari sebuah sudut pandang antara lain:
- Penggunaan sudut pandang persona ketiga dengan teknik dia maha tahu dan dia sebagai pengamat.
- Penggunaan udut pandang pesona ketiga dengan teknik Aku sebagai tokoh utama dan Aku tambahan atau sebagai aksi. Bahkan dapat berupa campuran antara pesona pertama dan ketiga, antara Aku dan dia sekaligus.
Pemilihan sudut pandang menajdi penting karena hal itu tak hanya berhubungan dengan masalah gaya saja, walau tak disangkal bahwa pemilihan bentuk-bentuk gramatikal dan retorika juga penting dan berpengaruh. Teknik penyajian sudut pandang tertentu akan lebih efektif jika diikuti oleh pemilihan bentuk gramatikal dan retorika yang sesuai
Sudut pandang mempunyai hubungan psikologis dengan pembaca. Pemahaman pembaa pada sudut pandang akan menentukan seberapa jauh persepsi dan penghayatan, bahkan juga penilaian terhadap novel yan bersangkutan, itulah yng dikemukakan oleh stevick (1967 : 86)
Selain itu pembedaan sudut pandang juga dilihat bgaimana kehadiran cerita itu kepada pembaca: lebih bersifat penceritaan, felling atau penunjukan, showing, naratif atau dramatik.



6. Moral
Moral menurut Daves (1987 : 7 via Nurgiyantoro) bahwa dalam moral terkandung nilai kesusilaan yang merupakan aturan-aturan atau hukum yang membentuk larangan. Penegasan Daves, moral yang berhubungan dengan kesusilaan kaidah atau hukum lebih spesifik pada tatanan norma yang dibuat dan diciptakan manusia sebagai norma dalam pergaulan masyarakat.
Sebuah karya fiksi ditulis oleh pengarang untuk menawarkan model kehidupan yang diidealkannya. Fiksi mengandung penerapan moral dalam sikap dan tingkah laku para tokoh sesuai dengan pandangannya tentang moral melalui cerita, sikap, dan tingkah laku tokoh-tokoh usulan pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan.
1. Penggolongan moral
Wujud nilai moal dikategorisasikan menjadi 4 macam, yaitu:
a. Nilai moral yang terermin dari sikap manusia terhadap tuhan
b. Nilai moral yang terermin dari sikap manusia terhadap sesama
c. Nilai moral yang terermin dari sikap manusia terhadap diri sendiri
d. Nilai moral yang terermin dari sikap manusia terhadap lingkungan
2. Pesan religius dan kritik sosial
Pesan moral yang berwujud moral religius, di dalamnya bersifat keagamaan dan kritik sosial banyak ditemuakn dalam karya fiksi atau dalam jenis sastra yang lain. Hal itu disebabkan banyaknya masalah kehidupan yang tidak sesuai dengan harapannya.
3. Teknik penyampaian moral
Teknik penyampaian moral dikategorikan menjadi 2 macam, yaitu:
a. Teknik penyampaian bersifat langsung
Teknik ini dilakukan melalui pelukisan watak tokoh yang bersifat uraian. Pengarang menyampaiakan nilai moral secara langsung dan eksplisit. Teknik secara langsung ini bersifat mengganti pembaca. Karena pengarang secara langsung memberikan petuahnya kepada pembaca.
b. Teknik penyampaian secara tak langsung
Teknik secara tidak langsung ini dapat dilakukan melalui sikap dan tingkah laku tokoh dalam menghadapi peistiwa konflik, baik yang terlibat dalam tingkah laku verbal maupun terjadi dalam pikiran dan perasaan. Dalam teknik ini pembaca berusaha untuk menemukan, merenungkan dan menghayati nilai moral yang terkandung dalam karya sastra.

7. Bahasa
Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Bahasa dalam sastra dicirikan sebagai bahasa (yang mengandung unsur) emotif dan bersifat konotatif sebagai kebalikan bahasa nonsastra. (Wellek dan Warren, 1956: 2-3 via Nurgiyantoro).
Bahasa dalam sastra anak akan berbeda dengan bahasa sastra pada umumnya, karena sastra anak diperuntukkan bagi anak maka bahasanya pun harus disesuaikan dengan bahasa anak sehari-hari, dipergunakan oleh anak-anak pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat lugas dan mudah dicerna.


BAB III
PEMBAHASAN

Kajian Tema
Tema yang dapat ditemukan dalam cerita “Ndaru dan Kekar”adalah:
1. Kasih sayang dan cinta yang memerlukan pengorbanan
Perasaan sayang yang dirasakan oleh kedua tokoh, yaitu Ndaru dan Kekar, seperti dalam kutipan:
…Aku sayaaaaang..sekali pada si Ndaru. Ia anak tunggal dan sering kesepian.
….jangan tinggalkan aku! Ia pasti begitu sedih.
….siap mengorbankan apapun untuk orang yang dicintai.
Dari kutipan di atas jelas bahwa keduanya memiliki cinta kasih yang sama meski berbeda, Ndaru sangat sedih ketika ia menyebabkan anjing kesayangannya, Kekar pingsan ketika ditabrak sepedanya. Sebaliknya, Kekar rela berkorban kakinya pincang demi sayangnya kepada Ndaru.
2. Setiap perbuatan akan mendapat balasan yang setimpal
Ndaru yang dikenal sebagai anak yang bandel dan ceroboh serta suka membantah nasehat orangtuanya akhirnya mendapatkan hukuman rumah oleh orangtuanya dan akhirnya mengalami kecelakaan ketika sedang balap lari dengan Kekar, anjingnya dan menyebabkan Kekar pincang akibat kakinya masuk di jeruji sepeda Kekar. Seperti dalam kutipan:
…ia menabrak seorang anak umur 5 tahun. Ibu anak itu minta ganti rugi.
….melindas kaki penjual koran. Kau juga sering memecahkan barang di rumah ini.
….rupanya ia terpental. Wajahnya berdarah dan berurai air mata.

Kajian Alur
Alur yang dipakai sebagai dasar penceritaan adalah berupa alur maju atau kronologis. Alur maju dinilai cocok untuk mempengaruhi sifat keingintahuan anak dan untuk selalu mengikuti perkembangan ceritanya dari awal hingga cerita itu berakhir.
Peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita pendek “Ndaru dan Kekar” bersifat sederhana, karena pengarang menyusun kronologis peristiwa dengan memberi pernekanan pada hubungan kausalitas antar peristiwa dalam cerita.
Cerita pendek “Ndaru dan Kekar” dibagi ke dalam beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut yaitu:
a) Tahap awal
Penceritaan dimulai dari monolog si “Aku” Kekar yang sayang dan selalu menemani tuannya, Ndaru saat belajar dan bermain.
Seperti dalam kutipan:
Namaku Kekar. Sudah tiga bulan ini aku tinggal bersama Ndaru, tuanku, anak laki-laki kelas 4 SD.
Setiap Ndaru pulang sekolah, biasanya kami makan siang bersama….lalu kami puas bermain sampai sore. Paling asyik adalah lomba adu cepat. Ini permainan yang diusulkan Ndaru, (paragraf 1 – 2).
b) Tahap tengah
Tahap tengah sering disebut juga dengan inti cerita. Inti cerita diwarnai dengan berbagai peristiwa, konflik, bahkan klimaks.
Konflik dimulai pada saat Ndaru dinasehati oleh ibunya karena nakal dan kurang berhati-hati hingga kemudian dihukum tidak boleh main sepeda selama seminggu.
Contoh kutipannya adalah:
…ia menabrak seorang anak umur 5 tahun. Ibu anak itu minta ganti rugi, melindas kaki penjual koran. Kau juga sering memecahkan barang di rumah ini.
Kau ibu hukum, tak boleh main sepeda selama seminggu.
Dari peristiwa-peristiwa di atas kemudian berkembang menjadi klimaks ketika Ndaru selesai melewati masa hukumannya kemudian merayakannya dengan adu cepat bersama Kekar berkeliling kota hingga terjadi kecelakaan.
Seperti dalam kutipan:
Ndaru semakin memacu sepedanya, kami menukik tajam.
“Ayo, buktikan kalau kau lebih dariku!” teriaknya. Darahku bergolak…kukerahkan seluruh kemampuanku…tiba-tiba…AAAAA!....Detik terakhir yang kuingat adalah kakiku tertekuk demikian dalam oleh sesuatu yang sekeras baja, (pararaf 13- 15).

c) Tahap akhir
Setelah munculnya konflik dalam cerita konflik tersebut akan terselesaikan dalam antiklimaks yang sering disebut dengan tahap akhir cerita. Antiklimaks ceritanya dapat disimpulkan bahwa setiap perbuatan akan mendapat balasan yang setimpal dengan apa yang pernah diperbuat dahulu dan kasih sayang tau perasaan cinta kepada sesuatu atau seseorang pasti memerlukan pengorbanan.
Contoh kutipannya adalah:
Susah payah kubuka mataku. Kulihat Ndaru sedang berjuang merangkak Ke arahku. Rupanya ia terpental.
Anjing memang hewan yang setia, ingat? Siap mengorbankan apapun untuk orang yang dicintai. Sejak kejadian itu, Ndaru betul-betul berubah menjadi anak yang hati-hati. Pengorbanan yang tidak sia-sia?

Satuan waktu cerita Deskripsi peristiwa Jenis peristiwa Golongan peristiwa


SWC 1
P1
P2

SWC 2
P3

P4
P5
P6

P7


SWC 3
P8

P9

P10
P11

P12
P13

P14
P15

P16
P17

P18

P19

P20
P21

P22

P23
P24
P25
SWC 4
P26
P27

P28
P29

P30
P31

SWC 5
P32

P33

P34
P35
P36

P37


Aku sayang sekali pada si Ndaru.
Kami makan siang bersama


Ia menabrak seorang anak berusia 5 tahun
Ibu anak itu menuntut ganti rugi
Malamnya Ndaru disidang
Ndaru menyesal dan tidak akan mengulangi lagi
Ndaru dihukum tidak boleh main sepeda selama seminggu.


Ndaru benar-benar menjaga gerakannya
Ibu tersenyum karena gelas dan piring tidak ada yang pecah lagi.
Aku berlari dan Ndaru bersepeda
Kami sangat ceria tapi ibu tampak cemas
Kakiku kupacu sekuat tenagaku
Ndaru semakin memacu sepedanya
Kami menukik tajam
Beberapa anak menatap kagum
Para pengagum mengikuti kami dari belakang
Kami berdua bagai mabuk pujian
Kami sampai di lapangan yang penuh anak-anak
Aku lebih konsentrasi dan berhenti bergaya
Ia malah melepas tangan dan dan berzig-zag
Aku menggonggong marah
Ndaru menganggap gonggonganku sebagai tantangan
Darahku bergolak. Aku tak bisa tinggal diam
Aku menyusulnya
Kukerahkan seluruh kemampuanku
Tiba-tiba....AAA!

Ini pasti mimpi
Kakiku tertekuk demikian dalam oleh sesuatu yang sekeras baja
Susah payah kubuka mataku
Ia terpental. Wajahnya berdarah dan berurai air mata
Ia begitu sedih
Ndaru terus merintih, memanggil-manggil namaku

Dengan terpincang-pincang kudekati makananku
Kupandang Ndaru dengan penuh terima kasih
Kakiku takkan pernah sembuh lagi
Aku takkan pernah bisa berlomba lagi
Menemani Ndaru belajar sebenarnya sudah cukup membuatku bahagia
Siap mengorbankan apapun untuk orang yang dicintainya F K A Kernel Satelit


Keterangan:
SWC : satuan waktu cerita
P : peristiwa
F : fungsional
A : acuan
K : kaitan

Kajian Penokohan
1. Tokoh utama dan tokoh tambahan
Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam cerita. Tokoh utama yang terdapat dalam cerita pendek “Ndaru dan Kekar” adalah Kekar dan Ndaru karena tokoh-tokoh tersebut yang paling banyak diceritakan dan yang mengembangkan dan membangun alur.
a. Ndaru
Ndaru merupakan tokoh utama yang memiliki sifat:
1) Anak laki-laki kelas 4 SD, ia anak tunggal dan sering kesepian
Sudah 3 bulan aku tinggal bersama Ndaru, tuanku, anak kelas 4 SD…Ia anak tunggal dan sering kesepian
2) Ceroboh, bandel, dan tidak hati-hati
Tapi ada satu kekurangan Ndaru. Ia ceroboh dan tidak hati-hati..
Tapi Ndaru memang bandel, sih.
3) Tak pernah sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu
Ia sering berjanji akan berhati-hati, tapi tak pernah bersungguh-sungguh melaksanakan
4) Ingin selalu dipuji
…anak-anak menatap kagum dan mulai bersorai..
…sambil terus berteriak dan memberi semangat
5) Penyayang
…Jangan tinggalkan aku!Ia pasti begitu sedih.
Wajah Ndaru memerah. Matanya mulai merebak air.
6) Ceria
Sore ini kami berdua sangat ceria
b. Kekar
Kekar adalah seekor anjing peliharaan Ndaru yang memiliki sifat:
1) Penyayang dan rela berkorban demi cinta
Aku sayaaang …sekali pada si Ndaru.
Siap mengorbankan apapun untuk orang yang dicintai
2) Ceria
Sore ini kami berdua sangat ceria
2. Tokoh tambahan
Yang termasuk dalam tokoh tmbahan adalah:
a. Ibu Ndaru
1) Ibu yang baik, suka menasehati anaknya jika berbuat salah
Kamu karus lebih berhati-hati saat bermain bersama Kekar. Sudah banyak yang mengeluh
2) Cemas
Tapi ibu tampak cemas
3) Tegas dalam bertindak
Setiap kali kau berkata seperti itu kau ibu hukum, tak boleh main sepeda selama seminggu.
b. Dea, teman-teman Ndaru, penjual koran.

3. Tokoh sederhana dan tokoh bulat
Tokoh sederhana, adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas ifat tertentu. Dalam cerpen “Ndaru dan Kekar” tokoh sederhananya adalah:
a. Ibu Ndaru
Dari awal hingga akhir penceritaan masih tetap pada pendirian sifatnya, yaitu:
1) Ibu yang baik, suka menasehati anaknya jika berbuat salah
Kamu karus lebih berhati-hati saat bermain bersama Kekar. Sudah banyak yang mengeluh
2) Cemas
Tapi ibu tampak cemas
3) Tegas dalam bertindak
Setiap kali kau berkata seperti itu kau ibu hukum, tak boleh main sepeda selama seminggu.
b. Ndaru
Dari awal hingga akhir penceritaan masih tetap pada pendirian sifatnya, yaitu:
1) Penyayang dan rela berkorban demi cinta
Aku sayaaang …sekali pada si Ndaru.
Siap mengorbankan apapun untuk orang yang dicintai
2) Ceria
Sore ini kami berdua sangat ceria
Tokoh bulat/kompleks, adalah tokoh yang menampilkan watak dan prilaku yang dapat bermacam-macam. Misalnya, tokoh Ndaru termasuk tokoh kompleks karena tokoh ini mengalami pergantian karakter tokoh. Pada tahap awal diceritakan bahwa Ndaru adalah anak yang bandel dan ceroboh kemudian mengikuti perkembangan alur dan berganti sifat menjadi penyayang dan berubah menajdi anak yang hati-hati.

Kajian Latar

1. Latar fisik dan spiritual.
Latar fisik yang dapat ditemui dalam cerita “Ndaru dan Kekar” adalah:
a. Di rumah Ndaru, di meja makan
Ndaru makan di meja, aku makan di lantai
b. Kompleks perumahan
Toko kelontong”Meta” – blok L – blok B – memutar lapangan 5 kali, kembali Kekar rute awal.
c. Lapangan
Lapangan ini panjang dengan sudut yang melengkung tajam
Latar spiritual tidak ditemukan dalam cerita pendek “Ndaru dan Kekar” ini karena komposisi ceritanya sangat sederhana.
2. Latar waktu.
Latar waktu yang terdapat dalam cerita “Ndaru dan Kekar” adalah:
a. Sudah tiga bulan ini
b. Setiap Ndaru pulang sekolah
c. Sore hari
d. Setelah sebulan
e. Sejak kecelakaan itu

3. Latar netral dan latar tipikal.
Latar netral dan latar tipikal sama halnya dengan latar spiritual tidak ditemukan dalam cerita fabel ini karena komposisi ceritanya sangat sederhana.
Latar yang dilukiskan oleh pengarang yang terdapat dalam cerita “Ndaru dan Kekar” dinilai sudah cukup untuk seorang anak. Dalam latar dilukiskan dengan sangat mendalam dan seolah-olah nyata sehingga pembaca khususnya anak-anak usia sekolah seolah-olah ikut atau berada di dalam cerita. Latar atau setting cerita dilukiskan sesuai dengan isi cerita yang disajikan.

Kajian Sudut Pandang
Pengisahan cerita yang dipergunakan dalam cerita “Ndaru dan Kekar” adalah menggunakan sudut pandang persona pertama “Aku” tokoh utama “Kekar”. Penceritaan digambarkan menurut sudut pandang seekor anjing (Ndaru) tentang bagaimana ia menceritakan reaksi tokoh lain dalam penceritaan.
Penggunaan sudut pandang “Aku” tokoh utama”Ndaru” dinilai yang paling utama dan menyeluruh dalam penceritaan dan perkembangan plot.
1. “Aku” tokoh utama
Tokoh “Aku”, di sini adalah Ndaru mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang secara batiniah, dalam diri sendiri maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu di luar dirinya. Si “Aku” sebagai tokoh utama dan sekaligus sebagai tokoh protagonis.
Seperti dalam kutipan:
Namaku Kekar. Sudah tiga bulan aku tinggal bersama Ndaru…
2. “Aku” tokoh tambahan
Tokoh “Aku” hadir di tengah cerita untuk membawakan cerita kepada pembaca, kemudian membawakan berbagai peristiwa, tindakan dan berhubungan dengan tokoh lain.


Seperti dalam kutipan:
Tapi ada satu kekurangan Ndaru. Ia ceroboh dan tidak hati-hati.
Ndaru makin terunduk. Tapi Ndaru memang bandel, sih.

Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam penceritaan “Ndaru dan Kekar” saya kira cukup mudah dimengerti jika dibaca oleh anak usia SD, kelas 3 sampai seterusnya. Struktur kalimat yang digunakan secara keseluruhan menampilkan struktur kalimat yang sederhana. Jenis kalimat yang dipakai cenderung menggunakan jenis kalimat deklaratif (menyatakan sesuatu).

Kajian Moral
Jenis ajaran moral yang terkandung di dalam cerita “Ndaru dan Kekar” berupa nilai moral yang terermin dari sikap manusia terhadap sesama, namun dalam cerita “Ndaru dan Kekar” ini digantikan dengan menggunakan sudut pandang binatang sebagai pencerita yang seolah-olah mempunyai sifat dan sikap seperti manusia.
Cerita pendek ini mengandung pesan moral untuk anak-anak agar dalam kehidupannya dapat berprilaku:
a. Jangan kenjadi anak yang nakal, bandel, dan ceroboh seperti yang dilakukan Ndaru pada awal penceritaan
Ia ceroboh dan tidak hati-hati
Tapi Ndaru memang bandel, sih.
b. Jika mengerjakan sesuatu harus bersungguh-sungguh
Ia sering berjanji akan berhati-hati, tapi tak pernah bersungguh-sungguh melaksanakan
c. Jangan selalu mengharapkan untuk dipuji
…anak-anak menatap kagum dan mulai bersorai..
…sambil terus berteriak dan memberi semangat
d. Jadilah orang yang saling menyayangi, baik sesama manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan

Aku sayaang …sekali pada Ndaru
…Jangan tinggalkan aku!Ia pasti begitu sedih.
Wajah Ndaru memerah. Matanya mulai merebak air.
e. Rela berkorban demi cinta, bangsa dan negara
Siap mengorbankan apapun untuk orang yang dicintai
f. Harus selalu patuh terhadap nasehat orang tua, terutama Ibu karena ia yang telah melahirkan kita.
Kamu karus lebih berhati-hati saat bermain bersama Kekar. Sudah banyak yang mengeluh.

Teknik penyampaian moral disampaikan secara langsung tekstual dalam cerita “Ndaru dan Kekar” tersebut. Anak mampu menemukan sendiri amanat atau untur moral cerita tanpa perlu berimajinasi atau berfantasi tentang pesan apa yang ingin disampaikan pengarang dalam karyanya tersebut




DAFTAR PUSTAKA

Djoko Pradopo Rachmat. 1995. Beberapa teori Sastra, Metode dan Penerapannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Maya, Yuanita, Bobo. 2004. Ndaru dan Kekar. Jakarta: Gramedia Press
Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Penkajian Fiksi, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Purbani, Widyastuti. 2004. Hand Out Perkuliahan Sastra Anak 1 dan 2. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar