ANDRIW

Foto saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Minggu, 24 April 2011

STILE CERPEN "DUA ORANG LEGIUN" KARYA : A. MOCH. ROMLI. M

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam menikmati hasil teks sastra, biasanya dirasakan suatu bentuk atau cara pengungkapan yang berbeda antara teks sastra yang satu dengan yang lain. Kadangkala dirasakan nuansa yang religius, romantik, kolosal, sinis, atau santai. Nuansa yang berusaha diciptakan oleh pengarang tersebut berkaitan erat dengan stile atau gaya penulis teks sastra. Sebuah teks sastra dapat dipastikan mempunyai stile atau gaya tersendiri apabila dikaji secara tepat dan mendalam. Stile sebuah karya sastra memberikan karakter atau ciri dari teks yang diciptakan oleh seorang pengarang. Pembaca selalu beranggapan stile yang diciptakan oleh pengarang memang disengaja dengan maksud agar teks karya sastra mudah dikenal oleh masyarakat atau memberi kesan lain daripada yang lain.
Gaya atau stile karya sastra dapat diciptakan melalui penyinpangan-penyimpangan dari aspek-aspek yang membangun karya sastra, antara lain : unsur leksikal, gramatikal, sintaksis, atau sarana retorika. Stile dapat juga ditampilkan melalui penggunaan kata atau ungkapan yang lain daripada yang lain. Dalam hal ini pengarang berusaha mencari atau menggunakan pilihan kata yang tepat untuk menyampaikan makna yang dimaksud, misalnya dengan mengadopsi bahasa daerah atau bahasa asing. Objek kajian dalam makalah ini adalah cerpen "Dua Orang Legiun" karya A. Moch. Romli M. Cerpen ini dimuat dalam majalah sastra Horison edisi Januari 2001

B. Tujuan
Tujuan dari kerja kajian stile ini adalah untuk menemukan nilai estetis cerpen "Dua Orang Legiun" karya A. Moch. Romli M. melalui pengidentifikasian dan analisa unsur-unsur stile yang ada.



BAB II
KAJIAN TEORI

Secara etimologis stylistics berkaitan dengan style (bahasa Inggris). Style artinya gaya, sedangkan stylistics, dengan demikian dapat diterjemahkan sebagai ilmu tentang gaya. Gaya dalam kaitan ini tentu saja mengacu pada pemakaian atau penggunaan bahasa dalam karya sastra (Sayuti via Jabrohim, 2001: 172). Menurut Nurgiyantoro,1998: 277, stile pada hakikatnya merupakan teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan diungkapkan. Teknik itu sendiri dipihak lain juga merupakan suatu bentuk pilihan, dan pilihan itu dapat dilihat pada bentuk ungkapan bahasa seperti yang dipergunakan dalam sebuah karya sastra.
Pendapat lain dikemukakan Harimurti via Pradopo, 1999 : 264, gaya bahasa berkaitan dengan pemanfaatannya atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, lebih khusus adalah pemakaian ragam bahasa tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, dan lebih luas gaya bahasa itu merupakan keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra.
Pengkajian stile sebuah teks sastra penting untuk dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan menentukan karakter karya sastra. Dengan mengetahui teks sastra tersebut kemudian dapat dicoba untuk menganalisis efek estetis yang ingin dicapai oleh penulis. Leech & Short via Nurgiyantoro, 1998: 289, mengemukakan bahwa unsur stile (ia memakai istilah stylistic categories) terdiri dari unsur (kategori) leksikal, gramatikal, figures of speech, dan konteks dan kohesi. Pengidentifikasiannya dapat dilakukan dengan mengelompokkan dan mendata frekuensi pemunculan yang dominan. Setelah diketahui, dapat dianalisis maksud yang dikandung dan efek estetis yang ingin dicapai. Unsur leksikal yang dimaksud sama pengertiannya dengan diksi, yaitu yang mengacu pada pengertian penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang. Sementara gramatikal menyaran pada pengertian struktur gramatikal. Sedangkan retorika merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis. Pengkonkretan penyampaian sehingga lebih menggugah indrawi pembaca agar seolah-olah pembaca benar-benar ikut terlibat merasakan, melihat, dan mendengar apa yang dilukiskan pengarang. Unsur retorika ini meliputi : pemajasan, penyiasatan struktural, dan pencitraan (Nurgiyantoro, 1998: 296 - 305). Sementara kohesi merupakan hubungan makna antar kalimat. Berikut ini penjelasan masing-masing unsur tersebut :

A. Unsur Leksikal
Unsur leksikal yang dimaksud sama pengertiannyadengan diksi, yaitu yang mengacu pada pengertian penggunaan kata-kata tertentu yang disengaja dipilih oleh pengarang (Nurgiyantoro, 1998: 290. Masalah pemilihan kata menurut Chapman (via Nurgiyantoro, 1998: 290) dapat melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu :
Pilihan kata erat hubungannya dengan masalah sintagmatik dan paradigmatik. Sintagmatik berhubungan dengan hubungan kata secara linier untuk membentuk sebuah kalimat. Bentuk-bentuk kalimat yang diinginkan dan disusun, misalnya sederhana, lazim, unik, atau lain daripada yang lain, dalam banyak hal dapat mempengaruhi kata, khususnya bentuk kata. Paradigmatik berkaitan dengan pilihan kata diantara sejumlah kata yang berhubungan secara makna. Dalam hal ini mestinya pengarang memilih kata yang berkonotasi paling tepat untuk mengungkapkan gagasannya yang mampu membangkitkan asosiasi tertentu walau kata yang dipilihnya itu mungkin dari bahasa lain (Nurgiyantoro, 1998: 291).
Menurut Nurgiyantoro, 1998: 291-292, untuk tinjauan secara umum, kita dapat mengidentifikasi kata-kata dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Kata yang dipergunakan sederhana atau kompleks?
2. Kata dan ungkapan formal atau kolokial, artinya kata-kata baku bentuk dan makna ataukah kata-kata seperti dalam percakapan sehari-hari yang nonformal, termasuk penggunaan dialek?
3. Kata atau ungkapan dalam bahasa karya sastra yang bersangkutan atau dari bahasa lain, misalnya "Dalam karya fiksi Indonesia apakah mempergunakan kata dan ungkapan dari bahasa Indonesia atau bahasa lain; misalnya bahasa Jawa dan bahasa Asing?
4. Bagaimanakah arah makna kata yang ditunjuk, apakah bersifat referensial ataukah asosiatif, denotasi, ataukah konotasi?
Identifikasi berikutnya adalah berdasarkan jenis kata. Identifikasi ini sebenarnya dapat langsung dikaitkan dengan yang diatas mengingat bahwa identifikasi sifat umum di atas juga dilakukan untuk tiap jenis kata. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan antara lain sebagai berikut (Nurgiyantoro, 1998: 292) :
1. Apakah jenis kata yang dipergunakan itu? dan kemudian diikuti pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang sesuai dengan jenis kata yang bersangkutan.
2. Kata benda, kata sederhana atau kompleks, abstrak, atau konkret? jika abstrak menyaran pada makna apa, kejadian, persepsi, proses, kualitas moral, sosial? jika konkret menunjuk pada apa, misalnya benda, makhluk, ataukah manusia?
3. Kata kerja, sederhana ataukah kompleks, transitif ataukah intransitif, makna menyaran pada pernyataan, tindakan ataukah peristiwa, atau yang lain?
4. Kata sifat untuk menjelaskan apa, misalnya sesuatu yang bersifat fisik, psikis, visual, auditif,referensial, emotif, ataukah evaluatif?
5. Kata bilangan, tentu ataukah tak tentu, dan untuk menjelaskan apa?
6. Kata tugas, apa wujudnya, misalnya : dan, atau, lalu, kemudian, pada tentang, yang sering dikelompokkan dalam konjungsi dan preposisi.

B. Unsur Gramatikal
Unsur gramatikal yang dimaksud menyaran pada pengertian struktur kalimat. Dalam kegiatan komunikasi bahasa, juga jika dilihat dari kepentingan stile, kalimat lebih penting dan bermakna daripada sekedar kata walau kegayaan kalimat dalam banyak hal juga di pengaruhi oleh pilihan katanya. (Nurgiyantoro, 1998: 293).
Oleh karena dalam sastra pengarang mempunyai kebebasan penuh dalam mengkreasikan bahasa, adanya berbagai bentuk penyimpangan kebahasaan, termasuk penyimpangan stuktur kalimat, merupakan hal yang wajar dan sering terjadi. Penyimpangan struktur kalimat itu sendiri dapat bermacam-macam wujudnya, mungkin berupa pembalikan, pemendekan, pengulangan, penghilangan unsur tertentu, dan lain-lain, yang kesemuanya tentu di maksudkan untuk mendapatkan efek estetis tertentu disamping juga untuk menekankan pesan tertentu (Nurgiyantoro, 1998: 293).
Kegiatan analisis kalimat, disamping berdasarkan bentuk-bentuk penyimpangan diatas, juga dapat dilakukan terdapat hal-hal atau cara-cara berikut, baik hanya diambil sebagian maupun seluruhnya, bahkan jika di pandang perlu dapat ditambahkan dengan unsur lain (Nurgiyantoro, 1998: 294-295).
1. Kompleksitas kalimat : sederhana ataukah kompleks struktur kalimat yang digunakan, bagaimana keadaannya secara keseluruhan? Berapakah rata-rata jumlah kata perkalimat? Bagaimanakah variasi penampilan struktur kalimat yang sederhana dan kompleks, sifat hubungan apakah yang menonjol, koordinatif, sub ordinatif ataukah parataksis?
2. Jenis kalimat : jenis kalimat apa sajakah yang dipergunakan : kalimat deklaratif (kalimat yang menyatakan sesuatu), kalimat imperatif (kalimat yang mengandung makna perintah atau larangan), kalimat interogatif (kalimat yang mengandung makna pertanyaan), kalimat minor (kalimat yang tak lengkap fungtor-fungtornya, mungkin berupa minor berita, perintah, tanya atau seru)? Jenis kalimat manakah yang menonjol apa fungsinya? Pembedaan jenis kalimat ini dapat juga ditinjau secara lain, misalnya aktif pasif, nominal verbal, langsung tak langsung, dan sebagainya.
3. Jenis klausa dan frase : klausa dan frase apa sajakah yang menonjol, sederhana ataukah kompleks? Jenis klausa dan frase yang ada pastilah banyak sekali, kita dapat membatasi diri dengan mengambil sejumlah diantaranya yang memang terlihat dominan.





C. Retorika
Retorika merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis. Ia diperoleh melalui kreativitas pengungkapan bahasa yaitu bagaimana pengarang menyiasati bahasa sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasannya (Nurgiyantoro, 1998: 295). Altenbernd (1970: 22 lewat Pradopo,1999: 92) mengemukakan bahwa sarana retorika merupakan sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran. Dengan muslihat itu para penyair berusaha menarik perhatian, pikiran, hingga pembaca berkontemplasi atas apa yang dikemukakan penyair. Pada umumnya sarana retorika ini menimbulkan ketegangan puitis karena pembaca harus memikirkan efek apa yang ditimbulkan dan dimaksudkan oleh penyairnya (Pradopo, 1999: 94).
Pembicaraan unsur retorika berikut meliputi bentuk-bentuk yang berupa pemajasan, penyiasatan struktur, dan pencitraan, dengan memasukkan contoh-contoh antara lain dari Keraf (lewat Nurgiyantoro 1998: 297-306), sebagai berikut:
a. Pemajasan
Pemajasan (figure of thought) merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan, yang maknanya tidak menunjuk pada makna harafiah kata-kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang tyersirat. Jadi ia merupakan gaya yang sengaja mendayagunakan penuturan dengan memanfaatkan bahasa kias. Memahami bahasa kias, kadang-kadang memerlukan perhatian yang khusus untuk menangkap pesan dari pengarang. Penggunaan bentuk-bentuk kiasan dalam kesastraan, dengan demikian merupakan salah satu bentuk penyimpangan kebahasaan, yaitu penyimpangan makna.
Pengungkapan gagasan dalam dunia sastra sesuai dengan sifat alami sastra itu sendiri yang ingin menyampaikan sesuatu secara tak langsung banyak mendayagunakan pemakaian bentuk-bentuk bahasa kias itu. Pemakaian bentuk-bentuk tersebut di samping untuk membangkitkan suasana dan kesan tertentu, tanggapan indera tertentu, juga dimaksud untuk memperindah penuturan itu sendiri.
Penggunaan stile yang berwujud pemajasan (dalam puisi) mempengaruhi gaya dan keindahan bahsa karya yang bersangkutan, namun penggunaan bentuk-bentuk bahasa kias tersebut haruslah tepat. Artinya, ia haruslah dapat menggiring ke arah interpretasi pembaca yang kaya dengan asosiasi-asosiasi, di sampaing juga dapat mendukung terciptanya suasana dan nada tertentu. Selain itu, penggunaan bentuk-bentuk ungkapan itu haruslah baru dan segar, tidak hanya bersifat mengulang bentuk-bentuk tertentu yang telah banyak dipergunakan.
Gorys Keraf (1981, lewat Nurgiyantoro 1998: 298) membedakan gaya bahasa retoris dan kiasan. Gayaretoris adalah gaya bahasa yang maknanya harus diartikan menurut nilai lahirnya. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa yang mengandung unsur kelangsungan makna. Sebaliknya, gaya bahasa kiasan adalah gaya bahasa yang maknanya tidak dapat ditafsirkan sesuai dengan makana kata-kata yang membentuknya.
Pemilihan dan penggunaan bentuk kiasan bisa saja berhubungan dengan selera, kebiasan, kebutuhan, dan kreatifitas pengarang. Bentuk-bentuk pemajasan yang banyak dipergunakan pengarang adalah bentuk perbandingan atau persamaan, yaitu yang membandingkan sesuatu dengan yang lain melalui cirri-ciri kesamaan antara keduanya, misalnya yang berupa cirri fisik, sifat, keadaan, suasana, tingkah laku dan sebagainya.
Di bawah ini akan dipaparkan beberapa pemajasan yang umum terdapat dalam puisi Indonsia, sebagai berikut (Nurgiyantoro, 1998: 299-300):
1. Simile menyarankan pada adanya perbandingan yang langsung dan eksplisit, dengan mempergunakan kata-kata tugas tertentu sebagai penanda keeksplisitan seperti: bagai, bagaikan, sebagai, laksana, mirip, seperti, bak, dan sebagainya.
2. Metafora di pihak lain merupakan gaya bahasa perbandingan yang sifatnya tidak langsung dan implisit. Hubungan antara sesuatau yang dinyatakan pertama dengan yang kedua hanya bersifat sugesti, tidak ada kata-kata petunjuk perbandingan eksplisit. Contoh ungkapan: mengejar cita-cita, memegang kabatan, mata keranjang, dan jalan buntu. Pradopo (1999: 66) menyebut metafora sebagai bahasa kiasan seperti perbandingan (simile) tetapi tidak menggunakan kata pembanding, misalnya: “Bumi ini perempuan jalang”, “Sorga hanya permaianan sebentar”.
3. Personifikasi merupakan gaya bahasa yang memberi sifat-sifat benda mati dengan sifat-sifat seperti yang dimiliki manusia sehingga dapat bersikap dan bertingkahlaku sebagaimana halnya manusia. Personifikasi haruslah manusia dan atau sifat-sifat manusia. Kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia, “Malas dan malu nyala pelita” (Pradopo, 1999: 75).
4. Metonimi yaitu sebuah gaya yang menunjukkan adanya pertautan atau pertalian. Misalnya, seseorang suka membaca karya-karya Ahmad Tohari kemudian dikatakan “Ia suka membaca Tohari”.
5. Hiperbola yaitu gaya bahasa yang melebih-lebihkan, contoh: “hatiku terbakar”, “darahku terasa mendidih”, “tangisnya menyayat hati”, dan sebagainya.
6. Perumpamaan epos, ialah perbandingan yang dilanjutkan, atau yang diperpanjang, yaitu dibentuk dengan cara melanjutkan sifat-sifat pembandingnya lebih lanjut dalam bentuk kalimat-kalimat atau frase-frase yang berturut-turut, misalnya (Pradopo, 1999: 69):
“Ditengah sunyi menderu rinduku,
Seperti topan. Meranggutkan dahan,
Mencabutkan akar, meranggutkan kembang kalbuku.”
7. Allegori, ialah cerita kiasan ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan atau lukisan kiasan ini mengiaskan hal lain atau kejadian lain (Pradopo, 1999: 69).
b. Penyiasan struktur
Dalam kaitannya dengan tujuan untuk mencapai efek retoris sebuah pengungkap, peranan penyiasatan struktur tampaknya lebih menonjol dibandingkan dengan pemajasan. Ada bermacam gaya bahasa yang terlahir dari penyiasatan strukutur kalimat. Salah satu gaya yang banyak digunakan orang adalah yang berangkat dari bentuk pengulangan, baik yang berupa pengulangan kata, bentuk kata, frase, kalimat, maupun, bentuk-bentuk yang lainnya, seperti sebagai berikut (Nurgiyantoro, 1995: 301-304):
1. Repetisi dan anafora merupakan dua bentuk gaya pengulangan dengan menampilkan pengulangan kata atau kelompok kata yang sama. Kata atau kelompok kata yang diulang ke dalam repetisi bisa terdapat dalam satu kalimat atau lebih, dan berapada pada posisi awal, tengah, atau di tempat lain.
2. Anafora, di pihak lain menampilkan pengulangan kata-kata pada awal kalimat berupa kalimat yang berurutan.
3. Polisindenton adalah berupa pengulangan kata tugas tertentu, misalnya kata “dan” sedang pada asindenton bentuk pengulangan itu berupa penggunaan pungtasi yang berupa “tanda koma”.
4. Pertanyaan retoris menekankan pengungkapan dengan menampilkan semacam pertanyaan yang sebenarnya tak menghendaki jawaban,
5. Paradoks adalah cara penekanan penuturan yang sengaja menampilkan unsur pertentangan di dalamnya, misalnya: “ Ia merasa kesepian di tengah berjubelnya manusia metropolitan”. Paradoks yang mempergunakan penjajaran kata yang berlawanan disebut oksimoron, misalnya: “ hidup yang terbaring mati” (Pradopo, 1999: 99-100).
6. Tautologi ialah sarana retorik yang menyatakan hal atau keadaan dua kali: maksudnya supaya arti kata atau keadaan itu lebih mendalam bagi pembaca atau pendengar. Sering kata yang digunakan untuk mengulang itu tidak sama, tetapi artinya sama atau hamper sama, misalnya “silih berganti tiada berhenti”, “tiada kuasa tiada bergaya”.
7. Pleonasme (keterangan berulang) ialah sarana retorik yang sepintas lalu seperti tautology, tetapi kata yang kedua telah tersimpul dalam kata yang pertama. Dengan cara demikian, sifat atau hal yang dimaksud itu lebih terang lagi bagi pembaca atau pendengar, misalnya: “naik meninggi, turun melembah jauh ke bawah, tinggi membukit, jatuh ke bawah”.
8. Enumerasi ialah sarana retorik yang berupa pemecahan suatu hal atau keadaan menjadi beberapa bagian dengan tujuan agar hal atau keadaan itu lebih jelas dan nyata bagi pembaca atau pendengar (Slametmuljana, Tt : 25) dengan demikian, juga menguatkan suatu pernyataan atau keadaan, memberi intensitas, misalnya:
“Di dalam suka di dalam duka
Waktu bahagia waktu merana,

Masa tertawa masa kecewa
Kami berdua dalam nafasmu”.
9. Paralelisme (persejajaran) ialah mengulang isi kalimat yang dimaksud tujuannya serupa. Kalimat berikut yang hanya dalam satu atau dua kata berlainan dari kalimat yang mendahului. Nurgiyantoro (1995: 302) mengatakan bahwa paralelelisme menyarankan pada penggunaan bagian-bagian kalimat yang mempunyai kesamaan struktur gramatikal (dan menduduki fungsi yang sama pula) secara berurutan. Contoh majas paralelisme”
“Segala kulihat segala membayang,
Segala kupegang segala mengenang”.
10. Retorik retisense sarana ini mempergunakan titik banyak untuk mengganti perasaan yang tak terungkapkan, misalnya:
“Kupandang baying melompat-lompat
Di padang rumput ;
Kulihat daun bergerak cepat……..
O, kusuka sebut………………….”
11. Kiasmus ialah sarana retorika yang menyatakan sesuatu diulang, dan salah satu bagian kalimatnya dibalik posisinya, misalnya: “diri mengeras dalam kehidupan-kehidupan mengeras dalam diri”.
c. citraan
Citraan ialah gambara-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya (Altenbernd, 1970: 12 lewat Pradopo 1999: 80), sedang setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Gambaran pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai (gambaran) yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata, saraf, penglihtan, dan daerah-daerah otak yang berhubungan (yang bersangkutan) (Pradopo, 1999: 80).
Citraan mempermudah penikmat sastra dapat memahami dan merasakan bagaimana sebuah karya sastra banyak menggambarkan setiap keadaan yang ditulis dalam karya sastra. Pencitraan merupakan gambaran yang dirasakan oleh alat indera yang kita miliki serta diungkapkan lewat kata-kata. Macam citraan itu sendiri meliputi kelima indera manusia : citaan penglihatan (visual), pendengaran (auditoris), gerakan (kinestik), rabaab (taktil ternal), dan penciuman (olfaktori), namun pemanfaatannya dalam sebuah karya tidak sama intensitasnya (Nurgiyantoro, 1995: 304-305).
d. kohesi
Antara bagian kalimat yang satu dengan yang lain, atau kalimat yang satu dengan yang lian, terdapat hubungan yang bersifat mengaitkan antar bagiaan kalimat atau antara kalimat itu. Bagian-bagian dalam sebuah kalimat, atau kalimat-kalimat dalam sebuah alinea, yang masing-masing mengandung gagasan, tidak mungkin disusun secara acak (nurgiyantoro, 1995: 306).
Ada dua macam kohesi yang terbetuk secara linear, yaitu: sambungan (linkage) dan rujuk-silang (cross reference). Sabungan merupakan alat kohesi yang berupa kata-kata sambung, sedangkan rujuk silang berupa sarana bahasa yang menunjukkan kesamaan makana dengan bagian yang direferensi (Nurgiyantoro, 1995: 306-307). Selanjutnya, penanda kohesi yang berupa sambungan dalam bahasa Indonesia adalah sebagian preposisi ataupun konjungsi yaitu berupa kata-kata tugas seprti, dan, kemudian, sedang, tetapi, namun, bahwa, sebab, jika, sedangkan rujuk-silang berupa pengulangan kata, pengurangan kata. Bentuk penyingkatan, pengurangan, tau penggantian yang banyak dipergunakan adalah berupa pemakaian kata-kata bganti persona.




BAB III
PEMBAHASAN STILE CERPEN "DUA ORANG LEGIUN"
KARYA : A. MOCH. ROMLI. M

A. Unsur Leksikal
Unsur leksikal yang dimaksud sama pengertiannya dengan diksi, yaitu yang mengacu pada pengertian penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang. Masalah ketepatan itu sendiri secara sederhana dapat dipertimbangkan dari segi bentuk dan makna, yaitu apakah diksi mampu mendukung tujuan estetis karya yang bersangkutan, mampu mengkomunikasikan makna, pesan, dan mampu mengungkapkan gagasanseperti yang dimaksudkan oleh pengarang.
Pilihan kata juga berhubungan dengan masalah sintagmatik dan paradigmatik. Sintagmatik berkaitan dengan hubungan antarkata secara linier untuk membentuk sebuah kalimat. Bentuk-bentuk kalimat yang diinginkan dan disusun, misalnya sederhana, lazim, unik, atau lain dari yang lain, dalam banyak hal akan mempengaruhi kata, khususnya bentuk kata. Paradigmatik berkata dengan pilihan kata diantara sejumlah kata yang berhubungan secara makna.
Berhubungan aspek paradigmatik, dalam cerpen “Dua Orang Legiun” karya A. Moch. Romli M. digunakan 2378 kata sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Jumlah kata tersebut terbagi ke dalam 29 paragraf dengan komposisi jumlah kata yang berbeda-beda pada setiap paragrafnya. Dengan jumlah paragraf sebanyak 29 itu, alur cerita dalam cerpen tersebut cenderung berjalan cepat, namun mengandung plot regresif (flash back).
Dikatakan bahwa cerpen ini mengandung alur flash back dapat dilihat dari setiap paragrafnya. Paragraf pertama dan kedua menceritakan tentang keadaan seorang laki-laki yang sedang berada sendirian di sebuah stasiun rel kereta api. Dalam kesendiriannya itu, ditambah dukungan suasana yang tenang, membawa alam pikiran lelaki itu ke masa silam. Masa dimana dia (tokoh utama) harus berusaha untuk menyembuhkan penyakit istrinya. Sakit yang dia sendiri tidak tahu penyebabnya karena dia diberitahu oleh pembantunya bahwa istrinya sakit keras dan ditemukan orang dipinggiran hutan sekitar batas kota. Peristiwa flash back ini terkandung dalam paragraph ketiga. Dalam paagraf keempat dan kelima, lelaki itu telah kembali kea lam sadarnya, diakibatkan ada seorang wanita yang bertanya kepadanya. Paragraf keenam dan ketujuh, pembaca digiring kembali ke masa lalu dari kisah lelaki itu. Kisah mengenai keadaan istrinya. Pada paragraph kedelapan sampai selesai, alur cerita sudah kembali ke asa kini. Menceritakan keadaan lelaki itu beserta orang-orang yang berada di sekitarnya.
Kata-kata yang digunakan dalam cerpen “Dua Orang Legiun” cukup beragam. Tercatat ada sebelas jenis kata yang terdapat dalam cerpen tersebut. Keberagaman kata yang digunakan dalam cerpen “Dua Orang Legiun” disebabkan karena sebagian cerita ini berisi tentang kisah masa lalu seorang lelaki yang hidup sendirian setelah ditinggal istrinya. Penceritaan kisah masa lalu ini pun tidak terlepas dari dukungan setting yang membuat cerita semakin hidup. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut :
Pada saat lelaki itu mendesah, angina bertiup dan mengirimkan bau sampah. Dan tiba-tiba didengarnya bertanya dengan suara yang begitu dekat pada telinganya. “Maaf, jam berapa kereta beikutnya akan tiba ?”
Kutipan tersebut terdapat pada alinea 4 yang merupakan bagian dari pengisahan masa lalu si tokoh. Pada kalimat, “ Pada saat lelaki itu mendesah, angin bertiup dan mengirimkan bau sampah ……..” terdapat sejumlah kata-kata pilihan yang dapat membuat suasana penceritaan menjadi lebih hidup. Angin bertiup dan mengirimkan bau sampah merupakan sejumlah kata yang memberi arti bahwa si tokoh utama telah kembali ke alam sekitarnya, yang mana sebelumnya hati dan pikirannya mengembara ke masa lalu.
Dalam cerpen ini juga diketemukan dua buah kata asing, yakni be carefull dan travel bag. Hal ini menandakan bahwa penulis telah hidup dalam masa yang modern, yang mana kata asing banyak diungkapkan sebagai istilah ataupun terkadang diucapkan dalam bahasa sehari-hari. Selain itu penggunaan bahasa asing dalam suatu karya fiksi juga bertujuan untuk mendapat pemahaman yang sama dalam benak pembaca. Misalnya pada kata, travel bag. Semua orang umumnya mengetahui arti kata tersebut, yakni tas yang digunakan orang untuk perjalanan jauh, dan umumnya memiliki ukuran yang cukup besar sehingga memuat banyak barang. Namun, bila kata tersebut diartikan ke dalam bahasa Indonesia, travel bag = tas untuk perjalanan, bisa memiliki banyak arti, khususnya dalam hal ukuran.

B. Unsur Gramatikal
Unsur gramatikal adalah unsur yang menyaran pada pengertian struktur kalimat.. Dalam karya sastra pengarang mempunyai kebebasan penuh untuk mengkreasikan bahasa. Sebuah gagasan, pesan dapat diungkapkan melalui bentuk kalimat yang berbeda-beda.
Pengarang mengkreasikan bahasa dengan berbagai penyimpangan diantaranya termasuk penyimpangan struktur kalimat. Pengarang juga sering menggunakan jenis kalimat tertentu untuk mengedepankan dan menekankan pesan tertentu. Berikut ini akan dikaji mengenai unsure gramatikal cerpen “Dua Orang Legiun” karya A. Moch. Romli M.
1. Jenis Kalimat
Cerpen “Ðua Orang Legiun” karya A. Moch. Romli M. ini tersusun atas kalimat deklaratif, imperatif, interogatif, dan kalimat tak lengkap, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran. Dari data pada table 1 teridentiikasi jumlah dari tiap jenis kalimat yang digunakan pada cerpen tersebut, sebagai berikut: kalimat deklaratif sebanyak 161 atau 90,96%, kalimat imperatif sebanyak 2 atau 1,12%, kalimat interogatif sebanyak 9 atau 5,08%, dan kalimat tak lengkap sebanyak 5 atau 2,82%. Kalimat-kalimat yang terdapat pada cerpen ini sebagian besar berupa kalimat deklaratif.
Kalimat deklaratif adalah kalimat yang menyatakan sesuatu (Nurgiyantoro, 1998: 24). Menurut Ramlan (1996: 32) kalimat deklaratif disebut juga sebagai kalimat berita berdasarkan fungsinya yang digunakan untuk memberitahukan sesuatu pada orang lain sehingga tanggapan yang diharapkan berupa perhatian seperti tercermin pada pandangan mata yang menunjukkan adanya perhatian. Dalam cerpen “Dua Orang Legiun “ tersebut efek yang diharapkan dari penggunaan kalimat deklaratif adalah tersampainya makna atau pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Cerpen ini dipaparkan secara naratif. Dengan cara ini pengarang bisa leluasa untuk memunculkan pesan yang akan disampaikan. Contoh kalimat deklaratif dalam cerpen “Dua Orang Legiun” sebagai berikut:
 Redup senja masih menghunus sisa-sisa cahaya mentari.
Penggunaan kalimat imperatif dan interogatif dalam cerpen “Dua Orang Legiun” ini tidak banyak sehingga tidak mempengaruhi stile cerpen ini. Kalimat interogatif terdapat pada dialog antara tokoh utama dan istrinya, sebagai berikut:
 “Jam berapa?”
 “Kenapa?Ada apa?”
 “Sendiriankah anda pergi?”
 “Dengan lukaku ini, apakah tumbuh dalam dirimu rasa takut padaku?”
 “Hei, tidakkah kau ingin mengetahui lebih jauh kisah ini?”
 “Atau kau menganggapku sebagai seorang pengecut?”
 “Kini, tidakkah aku salah jika telah menyerah pada kesumatku sendiri?
Fungsi kalimat imperatif dan interogatif dalam cerpen “Dua Orang Legiun ini”hanya berfungsi sebagai salah satu bagian dari kepaduan cerita. Dalam cerpen ini tidak begitu banyak ditemukan kalimat tak lengkap. Sebagian besar terdiri atas kalimat lengkap.
2. Kompleksitas Kalimat
Kompleksitas kalimat ditentukan oleh jumlah klausa. Sebuah kalimat disebut kalimat sederhana apabila hanya mempunyai satu klausa. Apabila sebuah kalimat memiliki lebih dari satu klausa disebut sebagai kalimat kompleks. Berdasarkan pengertian tersebut, cerpen “Dua Orang Legiun” terdiri atas kalimat sederhana sebanyak 121 atau 69,14% dan kalimat komplek sebanyak 54 atau 30,85%.


Sebagian besar cerpen ini menggunakan kalimat sederhana, karena pada tiap kalimatnya hanya terdiri atas satu klausa. Berikut ini beberapa kalimat kompleks yang digunakan dalam cerpen “Dua Orang Legiun”, antara lain:
 Dari arah jauh yang berlawanan dengan pandangan lelaki itu, lamat-lamat lalu ia dengar gemuruh kereta.
 Kepanikan telah pula membuatnnya tergopoh-gopoh dan berbicara sedikit kasar terhadap pelayan rumahnya karena tidak lekas menemukan sapu tangan dan mengantar segelas air putih yang ia mintakan bagi istrinya.
 Maka ia pun terpaksa harus menyeka bulir-bulir keringat perempuan itu dengan ujung lengan baju kemejanya, lantas menutup seluruh tubuhnya degan selimut dan hanya menyisakan raut wajahnya saja yang bergetar-getar.
 Namun ia paham bahwa ketakutan tengah memagut-magut kalbu istrinya, hinggga ia pun kemudian berjaga sepanjang malam itu, menungguinya sambil mengompres kening perempuan itu dengan kain tipis setelah dicelupkan ke dalam baskom berisi air dingin-suhi yang terbaca pada termometer yang ia kepitkan pada ketiak perempuan itu 39 derjat celcius.

C. Retorika
Unsur retorika yang terdapat dalam cerpen “Dua Orang Legiun” karya A. Moch. Romli M. antara lain: pemajasan, penyiasatan struktural, dan citraan. Perincian mengenai hal tersebut akan dikemukakan di bawah ini:
1. Pemajasan atau figure of thought
Berdasarkan hasil analisis cerpen “Dua Orang Legiun” karya A. Moch. Romli M. terdiri atas majas smile sebanyak 6 atau 11,3 %, metafora sebanyak 2 atau 3,8 %, personifikasi sebanyak 12 atau 22,7 %, metonimia sebanyak 3 atau 5,7 %, hiperbola sebanyak 27 atau 51 %, perumpamaan epos tidak ditemukan, allegori sebanyak 3 atau 5,7 %. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel lampiran. Berikut ini contoh dari masing-masing majas tersebut:
Simile
 Ia lekas-lekas menghisapnya, pendek-pendek, seperti hendak sepat-sepat pula menghabiskannya. Kata seperti pada kalimat tersebut menunjukkan perbandingan secara langsung atau disebut dengan pemajasan simile.
 Namun pertemuan di danau itu diakuinya sebagai pertemuan yang indah, sehingga saat itu pula ia masih mengingatnya. Kata sebagai pada kalimat tersebut menunjukkan perbandingan secara langsung atau disebut dengan pemajasan simile.
 Ia laki-laki yang dalam mabuknya tidak bersuara gaduh atau membuat ricuh seperti beberapa lelaki lainnya Kata seperti pada kalimat tersebut menunjukkan perbandingan secara langsung atau disebut dengan pemajasan simile.
Metafora
 Kendati begitu, aku tidak ambil pusing sebab mereka akan mengeluarkan isi kantongnya untuk minuman yang kusediakan.
Personifikasi
 Redup senja masih menghunus sisa-sisa cahaya mentari. Kata menghunus merupakan indikator dari pemajasan personifikasi, karena menceriminkan benda mati diperlakukan seolah-olah hidup seperti manusia.
 Gelap yang merambat masih terlampau tipis, masih remang, dan tampak pucat. Kata merambat dan pucat merupakan indikator dari pemajasan personifikasi, karena menceriminkan benda mati diperlakukan seolah-olah hidup seperti manusia.
 Lelaki itu membanyangkan, jika kegelapan telah benar-benar menyungkup semesta, maka kekuatan cahaya lampu kereta itu niscaya sampai pula kepadanya, menerangi wajah dan yubuh-tubuh yang berkumpul di situ. Kata menyungkup merupakan indikator dari pemajasan personifikasi, karena menceriminkan benda mati diperlakukan seolah-olah hidup seperti manusia.
Metonimia
 Ia telah pula memikirkan untuk memutar nomor-nomor pada pesawat teleponnya dan memutuskan akan segera memanggil dokter jika setelah menelan pharacetamol demam istrinya masih belum juga reda. Kata pharacetamol demam menunjukkan pertautan yang sangat dekat obat demam sehingga kata pharacetamol demam dapat dikategorikan ke dalam pemajsan metonimia.
 Lalu salah seorang pemuda berambut pendek itu mengahampiri kami, dan berujar pada perempuan itu, “kutraktir kau minum sepuasnya malam ini, Mnis,” katanya, sambil diraihnya tangan perempuan itu dengan agak kasar, sedikit diseret menuju meja di mana pemuda yang satunya tengah mengisi lagi gelas-gelas dengan brendi dari botol kedua. Kata brendi menunjukkan pertautan yang sangat dekat obat demam sehingga kata brendi dapat dikategorikan ke dalam pemajsan metonimia.
Hiperbola
 Namun ia paham bahwa ketakutan tengah memagut-magut kalbu istrinya, hingga ia pun kemudian berjaga sepanjang malam itu, menungguinya sambil mengompres kening perempuan itu dengan kain tipis setelah dicelupkan ke dalam baskom berisi air dingin suhu yang terbaca pada termometer yang ia kepitkan pada ketiak perempuan itu 39 derajat celcius. Kata ketakutan tengah memagut-magut kalbu istrinya, termasuk ke dalam pemajasan hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan keadaan.
 Maka kecemasan mencengkramnya bertubi-tubi dan membuat dirinya gelagapan. Kata kecemasan mencengkramnya bertubi-tubi termasuk ke dalam pemajasan hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan keadaan.
 Ia mencium aroma yang ganjil dan kepalanya diziarahi detik-detik kepergian neneknya saat itu ia masih berusia dua puluh dua tahun dan tengah jatuh cinta pada seorang gadis yang memiliki mata redup bernama Viera. Kata diziarahi detik-detik kepergian neneknya termasuk ke dalam pemajasan hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan keadaan.
 Salah seorang tampak mengenakan T-shirt yang ketat, dan seorang lainnya membenamkan tubuhnya dalam jaket kulit berwarna hitam. Kata membenamkan tubuhnya dalam jaket kulit berwarna hitam termasuk ke dalam pemajasan hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan keadaan.
 Dengus nafasnya lantas terdengar melonjak, sepat dan pendek-pendek. Kata nafasnya lantas terdengar melonjak, sepat dan pendek-pendek termasuk ke dalam pemajasan hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan keadaan.
Allegori
 Keheranan dan kecemasan yang kembali ia telan bermetamorfosa menjadi sabut kelapa di dalam tenggorokannya, dan selanjutnya menyebari seluruh dadanya.
 Di lantai sekitar peron orang-orang tidur di atas lembaran halaman surat kabar. Dan di antara kepala mereka, kotak-kotak kardus serta travel bag bertumpuk-tumpuk tak beraturan.
Dari uraian tersebut, majas hiperbola yang paling mendominasi. Majas hiperbola merupakan gaya bahasa yang melebih-lebihkan. Tujuan digunakannya majas hiperbola dalam cerpen “Dua Orang Legiun” karya A. Moch. Romli M. untuk menciptakan suasana agar lebih hidup dan lebih artistik.
Pembaca akan lebih dapat mengimajinasikan peristiwa yang disajikan pengarang. Bila cerpen hanya menggunakan makna tersurat maka akan menjadi kurang menarik tanpa adanya sesuatu yang berlebihan yang menjadi ciri khas pengarangnya.


Penggunaan majas, harus tetap dibatasi jumlahnya. Mengenai jumlah ideal majas dalam ceroen tidak ada ketetapan khusus yang mengatur hal tersebut. Pembatasan jumlah majas tersebut dimaksudkan agar pesan-pesan yang dibawa pengarang melalui cerpannya tidak salah ditangkap oleh pembaca.

2. Penyiasatan struktur atau figure of speech
Berdasarkan hasil analisis cerpen “Dua Orang Legiun” karya A. Moch. Romli M terdiri atas 19 atau 8,8 % repetisi, 4 atau 1,9 % anapora, 130 atau 60,1 % polisindenton, 21,2 % asindenton, 10 atau 4,6 % pertanyaan retoris, 1 tau 0,5 % pleonasme, 1 atau 0,5 % paralelisme, 5 atau 2,3 % retorik retisense. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel lampiran. Berikut ini contoh masing-masing penyiasatan struktur tersebut:
Repetisi
 Gelap yang merambat masih terlampau tipis, masih remang, dan nampak pucat. Dalam kalimat tersebut terdapatnya suatu pengulangan kata masih hal tersebut dapat dikegorikan ke dalam penyiasatan struktur (repetisi).
 Suara gadis itu sedikit menjengkelkannya sebab seketika itu telah membawanya pada hiruk-pikuk kenyataan di sekitarnya, meskipun kemudian ia kembali menggiring ingatannya kepada istrinya. Dalam kalimat tersebut terdapatnya suatu pengulangan klitikka nya hal tersebut dapat dikegorikan ke dalam penyiasatan struktur (repetisi).
 Keheranan dan kecemasan yang kembali ia telan bermetamorfosa menjadi sabut kelapa di dalam tenggorokannya, dan selanjutnya menyebari seluruh dadanya. Dalam kalimat tersebut terdapatnya suatu pengulangan kata dan hal tersebut dapat dikegorikan ke dalam penyiasatan struktur (repetisi).
 Pernah suatu malam ia pun memesan minuman sejenis dan tengah malam mulai terlihat mabuk. Dalam kalimat tersebut terdapatnya suatu pengulangan kata malam hal tersebut dapat dikegorikan ke dalam penyiasatan struktur (repetisi).
 Mereka telah mengosongkan lima botol brendi dan tidak membayar penuh meskipun aku telah mengurangi untuk setiap botolnya sebanyak seribu rupish dari harga yang biasa kutawarkan terhadap yang lain. Dalam kalimat tersebut terdapatnya suatu pengulangan kata yang hal tersebut dapat dikegorikan ke dalam penyiasatan struktur (repetisi).
Anafora
 Lelaki itu agak terkejut. Di hadapannya seorang gadis telah berdiri dengan kemeja kotak-kotak dan mafela bulu berwarna biru melilit pada lehernya. Lelaki itu menyesal mengapa gadis itu bertanya kepadanya. Dari dua kalimat tersebut terdapat suatu pengulanagn kata lelaki yang terletak di awal kalimat, sehingga kalimat tersebut dapat dikategorikan ke dalam penyiasatan struktur (anafora ).
 Ia meminta padaku supaya menuangkan minuman beralkohol. Orang-orang disapa sekadarnya, tidak seperti yang biasadilakukannya. Ia Cuma mengatakan “Aku ingin minuman yang lain” pada seseorang di sampingnya, dan menghabiskan minuman dalam gelasnya dengan sekali teguk. Dari tiga kalimat tersebut terdapat suatu pengulanagn kata ia yang terletak di awal kalimat, sehingga kalimat tersebut dapat dikategorikan ke dalam penyiasatan struktur (anafora ).
Polisindenton
 Di atas kepala orang lalu-lalang disadapnya sepintas langit yang masih memedarkan cahaya kemerahan;semburat di punggung.
 Rangkaian gerbong yang merayap-rayap membuatnya tiba-tiba tersentak.
 Kepanikan telah pula membuatnya tergopoh-gopoh dan berbicara sedikit kasar terhadap pelayan rumahnya kerena tidak lekas menemukan saputangan dan mengantar segelas air putih yang ia mintakan bagi istrinya.
 Namun, malam itu, bagaimana pun ia tetap berterima kasih kepada juru rawat itu kedatangannya yang terlambat pun mampu membuat istrinya pulas sebelum hari mencapai tengah malam.
 Perempuan yang telah melahirkan ibunya itu juga bertanya begitu menjelang kematiannya.
Kata tugas yang digunakan dalam kelima contoh di atas (di, yang, dan, namun, serta juga) termasuk ke dalam polisindenton.
Asindenton
 Lelaki itu membayangkan, jika kegelapan telah benar-benar menyungkup semsta, maka kekuatan itu niscaya sampai pula kepadanya, menerangi wajah dan tubuh-tubuh yang berkerumunan di situ.
 Hingga saat ini, ia masih menyimpan bau keringat istrinya yang diambungnya ketika itu, yang deras mengucur di dahi dan seluruh tubuh perempuannya.
 Mereka, serdadu-serdadu itu, menghadiahi para lekaki, yang muda atau setengah tua, maut.
 Di tempat tidur kujumpai istriku, terbaring dengan muka begitu pucat, dan menceracau terus-menerus.
 Sehabis itu suara tawa terlepas, berderai-derai menuangi seluruh ruangan.
Pertanyaan retoris
 Dan tiba-tiba seseorang didengarnya bertanya dengan suara yang begitu dekat pada telinganya, “maaf, jam berapa kereta berikutnya akan tiba?”.
 “Jam berapa?” Perempuannya dalam nada lirih dan dengan menghela nafas yang tersengal tiba-tiba bertanya.
 Ia megap-megap dan balik bertanya, “Kenapa? Ada apa?”.
 “Maaf, apakah Anda mendengar saya? Saya bertanya jam berapa kereta berikutnya akan tiba?” Lelaki itu menghimpun banyak udara dalam rongga dadanya.
 Ia lantas bertanya pada pemuda itu, “Dengan lukaku ini, apakah tumbuh dalam dirimu rasa tajut padaku?” Pemuda itu hanya menebar sesungging senyum.
Kelima contoh di atas merupakan beberapa kalimat yang dapat dikategorikan ke dalam pertanyaan retoris, karena kalimat Tanya tersebut tidak membutuhkan jawaban.
Pleonasme
 Gelap yang pucat tak disadarinya telah beralih jadi pekat. Kata gelap yang pucat dalam kalimat tersebut dipertegas lagi maknanya dengan kata pekat di akhir kalimat hal tersebut dapat dimasukkan ke dalam penyiasatan struktur (pleonasme).
Paralel
 Aku menyimak perbincangan prajurit-prajurit itu sekejap terputus: keduanya melirik sekilas pada kami sebelum akhirnya tergeletak sambil berseru, “Kapten oleng! Kpten oleng!” Aku melihat semburat warna merah pada pipi lelaki itu sebelum ia memunguti pecahan beling. “Kapten oleng! Kpten oleng!” merupakan contoh pengulangan kalimat yang isinya serupa dan bertujuan untuk mempertegas isi kalimat.
Retorik retisense
 “Ular……, ular,” desisnya dalam tatap yang nanar.
 Tetapi, lama-kelamaan Tuhan membuatku paham akan apa yang sesungguhnya telah terjadi pada diri perempuan itu………. Bedebah!” Ia merunutuk pada akhirnya.
 Dari meja di sudut itu kemudian terdengar bunyi gelas beradu, disusul desir cairan yang mengalir ke dalam tenggorikan: glek…….. glek.
 Kini, tidakkah aku salah jika telah menyerah pada kesumatku sendiri? Aku…………hanya ingin menunjukkan sedikit pelajaran…….”.
Keempat kalimat di atas termasuk ke dalam retorik rtetisense karena dalam kalimat tersebut adanya titik-titik banyak untuk mengungkapkan perasaan yang tak terungkapkan.

3. Pencitraan
Pencitraan adalah penggunaan kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang dibuat sedemikian rupa untuk mengungkapkan gagasan pengarang secara lebih hidup, lebih konkrit, sehingga pembaca terbawa arus dalam alur cerita. Pembaca seolah-olah terlibat dan sungguh-sungguh melihat, mendengar, merasakan secara nyata apa yang dilukiskan oleh pengarang lewat kata-kata.
Dalam cerpen “Dua Orang Legiun” karya A. Moch. Romli M terdapat lima macam citraan, yaitu: citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan gerak, citraan penciuman, dan citraan rabaan. Jumlah dan prosentase dari citraan tersebut adalah sebagai berikut: citraan penglihatan sebanyak 35 atau 31,3 %, citraan pendengaran sebanyak 20 atau 17,9 %, citraan gerak sebanyak 52 atau 46,4 %, citraan penciuman sebanyak 3 atau 2,7 % dan citraan rabaab sebanyak 2 atau 1,8 %. Dari data tersebut citraan gerak yang paling mendominasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel lampiran.
Penggunaan citraan-citraan tersebut memberikan kesan yang lebih hidup, konkrit, dan jelas. Sehingga jalan cerita yang disajikan menjadi terasa lebih mudah dicerna dan diikuti. Pembaca seolah-olah benar-benar melihat,mendengar, bergerak, mencium dan meraba seperti lukisan yang dikemukakan oleh pengarang. Berikut beberapa citraan yang dikemukakan dalam cerpen cerpen “Dua Orang Legiun” karya A. Moch. Romli M:
3.1 Citraan penglihatan
 Lelaki itu terlihat menerawang pandang.
 Di atas kepala orang lalu-lalang disadapnya sepintas langit yang masih memedarkan cahaya kemerahan;semburat di punggung.
 Suatu ketika, ia mendapatkan wajah istrinya begitu pucat dengan tubuh menggigil.
 “Ular……, ular,” desisnya dalam tatap yang nanar.
 Gadis itu melabuhkan pandangannya di situ; dan lantas lekas-lekas berlalu dari hadapannya.
 Pernah suatu malam ia pun memesan minuman sejenis dan tengah malam mulai terlihat mabuk.
 Kentara rambut keduanya dipotong sangat pendek, cepak, seperti model si Antoni, calo penumpang metromini yang sekujur tubuhnya penuh dengan tato berbagai macam binatang.
Ketujuh kalimat di atas mencerminkan imaji penglihatan sebab terdapatnya kata-kata yang membuat pembaca seolah-olah menglihat secara langsung peristiwa atau kejadian yang dilkukiskan oleh pengarang.
3.2 Citraan pendengaran
 “Tidak perlu terlalu kau cemaskan aku, saying,” bisik perempuan itu, beberapa saat sehabis jam dinding berdentang dua kali.
 Dan tiba-tiba seseorang didengarnya bertanya dengan suara yang begitu dekat pada telinganya, “Maaf, jam berapa kereta berikutnya kan tiba”.
 “Maaf, apakah Anda mendengar saya? Saya bertanya jam berapa kereta berikutnya akan tiba?” Lelaki itu menghimpun banyak udara dalam rongga dadanya.
 Cerita itu ia kisahkan dengan seluruh perasaannya dialeknya datar dan tidak seperti ketika ia sedang mengisahkan cerita-cerita sebelumnya mengenai berbagai kekejaman dan penembakan yang terjadi di tempatnya.
 Dengus nafasnya lantas terdengar melonjak, cepat dan pendek-pendek.
Kelima kalimat di atas mencerminkan imaji pendengaran sebab terdapatnya kata-kata yang membuat pembaca seolah-olah mendengar secara langsung peristiwa atau kejadian yang dilkukiskan oleh pengarang.
3.3 Citraan gerak
 Rangkaian gerbong yang merayap-rayap membuatnya tiba-tiba tersentak.
 Maka ia pun terpaksa harus menyeka bulir-bulir keringat perempuan itu dengan ujung lengan baju kemejanya, lantas menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan hanya menyisakan raut wajahnya saja yang bergetar-getar.
 Namun ia paham bahwa ketakutan tengah memagut-magut kalbu istrinya, hingga ia pun kemudian berjaga sepanjang malam itu, menungguinya sambil mengompres kening perempuan itu dengan kain tipis setelah dicelupkan ke dalam baskom berisi air dingin suhu yang terbaca pada termometer yang ia kepitkan pada ketiak perempuan itu 39 derajat celcius.
 Dan ia selanjutnya merasa tidak perlu lagi untuk menempelkan kain basah ke dahi perempuan itu dokter telah membawa pergi demam itu beserta separuh ketakutan dan kecemasan dari dalam dirinya sehingga kerjanya semalam itu tidak lebih hanya sekedar berjaga, membelai-belai seluruh wajah istrinya dengan kehangatan bibirnya.
 “Maaf, apakah Anda mendengar saya? Saya bertanya jam berapa kereta berikutnya akan tiba?” Lelaki itu menghimpun banyak udara dalam rongga dadanya.
Kelima kalimat di atas mencerminkan imaji gerak sebab terdapatnya kata-kata yang membuat pembaca seolah-olah ikut bergerak secara langsung peristiwa atau kejadian yang dilkukiskan oleh pengarang.



3.4 Citraan penciuman
 Hingga saat ini, ia masih menyimpan bau keringat istrinya yang diambungnya ketika itu, yang deras mengucur di dahi dan seluruh tubuh perempuannya.
 Pada saat lelaki itu mendesah, angina bertiup dan mengirim bau sampah.
 Ia mencium aroma yang ganjil dan kepalanya diziarahi detik-detik kepergian neneknya saat itu ia masih berusia dua puluh dua tahun dan tengah jatuh cinta pada seorang gadis yang memiliki mata redup bernama Viera.
Ketiga kalimat di atas mencerminkan imaji penciuman sebab terdapatnya kata-kata yang membuat pembaca seolah-olah ikut mencium secara langsung peristiwa atau kejadian yang dilkukiskan oleh pengarang.
3.5 Citraan rabaan
 Ia menjawab sambil meneliti raut wajah dan mata perempuannya mata itu ditinggalkannya sinar yang biasa dan menjadi sedingin botol air yang baru dikeluarkan dari kulkas dengan degupan jantung yang tidak ritmis, sehingga bicaranya pun pendek-pendek.
 Dan aku tahu, bahwa tubuh mereka tidaklah sekeras bicaranya.
Kedua kalimat di atas mencerminkan imaji rabaan sebab terdapatnya kata-kata yang membuat pembaca seolah-olah ikut meraba secara langsung peristiwa atau kejadian yang dilkukiskan oleh pengarang.

D. Kohesi
Dalam suatu wacana harus ada kesatuan bagian kalimat yang satu dengan kalimat berikutnya. Antara bagian kalimat yang satu, atau kalimat yang satu dengan yang lain terdapat hubungan yang bersifat mengaitkan antar bagian kalimat atau antara kalimat itu. Ada dua macam kohesi yang terbentuk secara linier, yaitu sambungan (inkage) dan rujuk silang berupa sarana bahasa yang menunjukkan kesamaan makna yang direferensi.
Pada cerpen ’Dua Orang Legiun” karya A. Moch Romli M ini menggunakan kohesi sambungan. Dalam karya ini banyak menggunakan kata-kata tugas. Kelogisan hubungan antarkalimat ditentukan oleh penggunaan kata tugas tersebut. Kalimat tersebut antara lain:
 Kepanikan telah pula membuatnnya tergopoh-gopoh dan berbicara sedikit kasar terhadap pelayan rumahnya karena tidak lekas menemukan sapu tangan dan mengantar segelas air putih yang ia mintakan bagi istrinya. Maka ia pun terpaksa harus menyeka bulir-bulir keringat perempuan itu dengan ujung lengan baju kemejanya, lantas menutup seluruh tubuhnya degan selimut dan hanya menyisakan raut wajahnya saja yang bergetar-getar.


















BAB III
KESIMPULAN

Setelah melakukan analisis, kelompok kami dapat menarik suatu kesimpulan sebagai berikut:
1. Berhubungan aspek paradigmatik, dalam cerpen “Dua Orang Legiun” karya A. Moch. Romli M. digunakan 2378 kata sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Jumlah kata tersebut terbagi ke dalam 29 paragraf dengan komposisi jumlah kata yang berbeda-beda pada setiap paragrafnya. Dengan jumlah paragraf sebanyak 29 itu, alur cerita dalam cerpen tersebut cenderung berjalan cepat, namun mengandung plot regresif (flash back).
2. Unsur gramatikal kalimat dalam cerpen “Dua Orang Legiun” karya A. Moch. Romli M. terdiri dari kalimat deklaratif sebanyak 161 atau 90,96%, kalimat imperatif sebanyak 2 atau 1,12%, kalimat interogatif sebanyak 9 atau 5,08%, dan kalimat tak lengkap sebanyak 5 atau 2,82%. Kalimat-kalimat yang terdapat pada cerpen ini sebagian besar berupa kalimat deklaratif.
3. Retorika terbagi atas pemajasan, penyiasatan struktur, dan pencitraan. Pemaasan didominasi oleh majas hiperbola, penyiasatan struktur didominasi oleh polisidenton, sedangkan pencitraan didominasi oleh citraan gerak

3 komentar:

  1. wah mkasi bgt..bissa jadi referensi ni

    BalasHapus
  2. Makasi ya mas Andri....akhirnya dapat gambaran buat ngerjain tugasnya Mr. hehe...

    BalasHapus
  3. ni di link 1 ni jg mbahas hal yg sama
    http://andriew.blogspot.com/2011/04/kajian-stile-cerpen-dalang-semedi-karya.html

    BalasHapus