ANDRIW

Foto Saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Minggu, 24 April 2011

FEMINISME, KEMITRASEJAJARAN WANITA DENGAN PRIA, KONSEP PATRIARKI DAN SEKSUALITAS

BAB I
PENDAHULUAN

FEMINISME
1.1 Hakikat Feminisme
Secara leksikal, feminisme adalah gerakan wanita menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum dan pria (KBBI, 1994 : 275). Feminisme adalah teori tentang persamaan antara kaum laki-laki dan wanita di bidang politik, ekonomi, dan sosial atau kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan wanita (Goete via Sugihastuti, 2000 : 37).
Senada dengan hal tersebut, menurut Bhasin dan Khan dalam Ilyas, 1997:40) feminisme merupakan suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, baik di tempat kerja atau dalam keluarga, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun laki-laki untuk mengubah keadaan tersebut.
Bagi kaum feminis, perjuangan wanita tidak hanya menentang diskriminasi saja, tetapi berjuang demi emansipasi dan pembebasan dari segala bentuk penindasan, baik oleh pemerintah, masyarakat maupun oleh kaum pria itu sendiri. Oleh karena itu, tujuan akhirnya adalah membentuk masyarakat yang adil serta sama di dalam hak dan kewajiban, baik bagi wanita maupun pria.
Dengan adanya berbagai perubahan dalam masyarakat, bentuk perjuangan pun berubah. Dan karena itu, tuntutan-tuntutan sekarang dan dahulu berbeda. Pokok persoalannya adalah bahwa perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat merupakan bagian dari perjuangan keseluruhan emansipasi wanita. Hal itu disebabkan kaum feminis berjuang demi munculnya suatu masyarakat yang di dalamnya wanita memiliki kebebasan memilih, tidak dipaksa menjadi ibu rumah tangga, tidak di dorong melakukan peran yang khas “feminim” serta pekerjaan “feminim” dengan upah rendah dan diperlakukan dengan hormat (Bhasin dan Khan, 1995: 32 – 33).


1.2 Feminisme dalam Karya Sastra
Ideologi gender dan sastra feminis dewasa ini menjadi sorotan, baik oleh kaum wanita itu sendiri maupun para pria. Gerakan feminisme di Indonesia yang dimotori oleh R.A. Kartini, mencita-citakan agar kaum wanita Indonesia tidak hanya menjadi subordinasi pria. Gerakan feminisme di Indonesia masih menempatkan etika ketimuran, masih menempatkan pria dalam kedudukan tertentu lebih tinggi daripada wanita. Hal ini berbeda dengan feminisme di Barat yang lebih radikal, yaitu segala apa yang dilakukan oleh pria harus dapat dilakukan oleh wanita. Jelas feminisme radikal ini sulit diterapkan di Indonesia.
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak saja pada perbedaan biologis, tetapi juga bersifat sosial dan budaya (Susilastuti,1993: 29 – 30). Perbedaan biologis tidak serta merta menentukan perbedaan sikap, sifat, dan prilaku. Seorang wanita berlaku lemah lembut dan bertutur kata manis bukan karena secara biologis ia wanita, melainkan karena norma. Norma masyarakat dan budayanya mengkondisikannya untuk berprilaku demikian. Demikian pula halnya dengan pemujaan figur seorang ibu yang baik, tunduk dan setia pada suami dalam masyarakat tradisional dapat menjadi jebakan agar wanita mau melakukan tugas itu yang kadang-kadang tidak membahagiakan (Nurgiyantoro, 1995: 18).
Penindasan wanita disebabkan oleh pemerintahan ayah (patriaki). Wanita dikuasai oleh kekuatan, dibatasi oleh sistem peranan kejenisan stereotif sejak muda. Istilah political sexual (Millet via Pradopo, 1991: 139). Mengacu pada pelaksanaan peranan dalam hubungan yang tidak sama antara dominasi dan subordinasi. Sistem patriarki menempatkan kedudukan wanita sebagai warga pinggiran, warga kelas dua. Penjajahan oleh patriarki terhadap wanita adalah berupa pemberlakuan norma-norma sosial tertentu, dengan tujuan norma tersebut dipandang sebagai kodrat (Nurgiyantoro, 1995: 19). Hal tersebut akan memberikan pembenaran yang dianggap sakral dan tidak dapat diganggu gugat.
Kajian wanita yang dikaitkan dengan kesusastraan dapat dipahami melalui karya sastra dan penulisannya. Memang suatu kenyataan bahwa penulis dan pengamat karya sastra kebanyakan adalah pria. Hampir semua buku yang ditulis pria menampilkan stereotif wanita sebagai istri dan ibu yang setia, berbakti, wanita manja berdasarkan pandangan tradisional. Hal itu dapat diartikan sebagai bentuk keadaan yang diinginkan oleh pria. Citra wanita demikian dianggap tidak adil dan tidak teliti. Wanita memiliki perasaan yang sangat pribadi yang hanya bisa diungkapkan oleh wanita itu sendiri (Djayanegara, 2000: 20). Misalnya, bagaimana seorang pria mampu menulis secara rinci rasa sakit, cemas serta bahagia seorang perempuan, menjelang di waktu dan setelah melahirkan bayi? Dengan demikian bila ditulis lewat sudut pandang wanita memahami karya sastra lewat tulisan pria tentu berbeda bila ditulis lewat sudut pandang wanita. Pembaca wanita membawa persepsi, dugaan, pengertian yang berbeda berdasarkan pada pengalaman membaca karya sastra apabila dibandingkan dengan laki-laki. Perlu kesadaran khusus adanya perbedaan jenis lain tentang makna karya sastra.
Nurgiyantoro (1995) dalam penelitiannya berjudul Citra Wanita dalam Novel Populer Indonesia Mutakhir dengan subyek 24 novel populer yang dikarang wanita dan pria menyimpulkan beberapa hal (1) citra perwatakan wanita dibedakan ke dalam sikap watak dan moral, baik (dan diidealkan) jauh lebih banyak daripada yang bersikap watak dan moral kesusilaan yang kurang baik, baik yang menyangkut tokoh remaja, dewasa maupun orang tua, (2) tokoh wanita yang dicitrakan berkepribadian tinggi sudah sedikit 50 %, namun secara relatif jumlah itu masih belum begitu besar. Hal itu menunjukkan masih cukup besar tokoh wanita yang kurang mandiri, masih tergantung pada tokoh lain, baik kepada pria maupun kepada sesama wanita. Namun demikian, ada beberapa tokoh wanita yang dicitrakan amat mandiri dan bahkan melebihi kemandirian tokoh pria, (3) tokoh wanita yang dicitrakan sederajat dengan kaum pria belum begitu besar, sedang yang masih mendomisili oleh pria, baik secara kuat maupun sedang masih sebesar 33 %. Hal ini berarti masih banyak wanita yang belum menikmati hidup secara sederajat dengan pria.





KEMITRASEJAJARAN WANITA DENGAN PRIA
Selain sebagai makhluk sosial, wanita juga sebagai individu yang mempunyai hak sama dengan individu lain. Sebagai individu wanita berhak mendapatkan perlakuan yang baik, antara lain mendapatkan pendidikan, layanan, dan pekerjaan yang layak serta imbalan yang sesuai dengan pekerjaannya.
Pada kenyataannya dominasi pria terhadap wanita masih juga berkembang sampai saat ini, yang akhirnya melahirkan budaya ptriarki, budaya yang cenderung menempatkan wanita pada posisi yang kurang menguntungkan, sebab masih diakui dan berkembang dalam alam pikian masyarakat. Sebagai contoh penghargaan dan penghormatan terhadap wanita tidak selamanya didapatkan kaum wanita. Hal ini disebabkan oleh pertentangan dan kesalahan konsep yang berkembang dalam masyarakat. Ada pendapat yang mendukung serta menolak tentang wanita sebagai kodratnya dan wanita memiliki persamaan derajat yang menuntut hak untuk mendapatkan kedudukan yang seimbang dengan kaum pria.
Budaya masih menempati posisi lebih tinggi dari pada alam; term rasional lebih dihargai dari pada term emosional; term laki-laki mendominasi perempuan. Meski saat ini, ada gerakkan membalikkan hirarki itu: alam, emosi, dan perempuan tak kalah penting dibanding budaya, rasio, dan laki-laki.
Penemuan oposisi biner oleh strukturalisme dan penemuan Derrida tentang hirarki yang ada dalam oposisi biner tersebut tentu dapat menjadi pijakan kokoh bagi gerakan feminisme melawan wacana patriarkal. Di sini dipakai konsep wacana dari Foucault. Bagi Foucault, wacana bukanlah sekedar pernyataan-pernyataan yang dibuat tetapi juga termasuk 'peraturan-peraturan' yang membuat kita dapat membuat pernyataan-pernyataan tersebut. Kedua hal itu berada dalam tataran diskursif. Namun wacana juga melibatkan institusi non-diskursif (seperti: sekolah, penjara, keluarga, pemerintah) yang melakukan displin-displin tertentu sehingga memungkinkan terjadinya pernyataan-pernyataan dan berlakunya 'peraturan-peraturan' dalam tataran diskursif. Dengan demikian, wacana patriarkal adalah wacana yang mendasarkan diri pada oposisi biner 'laki-laki >< perempuan' di mana term laki-laki berada posisi mendominasi term perempuan. 'Kekejaman' atau 'kekerasan' oposisi biner 'laki-laki >< perempuan' ini semakin nyata karena pada oposisi tersebut terkait oposisi-oposisi yang lain seperti 'rasional >< emosional', 'kuat >< lemah', 'aktif >< pasif', 'di luar rumah >< di dalam rumah', 'memimpin >< dipimpin', dst. Salah satu sumbangan terpenting dari strukturalisme bagi filsafat adalah penemuannya bahwa makna sebuah kata (penanda) tidak diperoleh dari hubungan penanda itu dengan apa yang ia tandakan melainkan dari perbedaannya dengan kata (penanda) yang lain. Kata hitam mempunyai makna karena ia berbeda dengan putih, berbeda dengan merah, berbeda dengan kuning. Kata meja punya makna karena ia berbeda dengan kursi, berbeda dengan almari. Selanjutnya strukturalisme menemukan bahwa kategori pemikiran manusia sebagian besar didasarkan pada oposisi biner (pasangan konsep yang saling berlawanan). Besar dipahami dalam perlawanannya dengan kecil, 'tinggi >< rendah', 'budaya >< alam', 'rasional >< emosional', 'laki-laki >< perempuan', 'kita >< mereka', 'manusia >< tuhan', dst. Sebagai seorang filsuf yang berangkat dari strukturalisme, Derrida juga menerima 'ajaran' strukturalisme mengenai oposisi biner tadi. Namun ia menambahkan sesuatu yang sungguh baru. Ia menunjukkan bahwa "hubungan dalam pasangan berlawanan (oposisi biner) tersebut bukanlah hubungan damai antara dua hal yang saling berhadapan, tetapi sebuah hirarki yang kejam. Dilihat dari perspektif dekonstruksi, gerakan feminisme adalah gerakan yang berusaha pertama-tama melawan, menentang, dan membalik hirarki dalam oposisi biner 'laki-laki >< perempuan'. Pembalikan ini amat penting mengingat bahwa oposisi biner tersebut tidak hanya berada dalam tataran konseptual (tataran diskursif) saja, tetapi terlebih mengakar dalam praktik hidup sehari-hari dengan segala institusi-institusi non-diskursif yang ada. Dan karenanya, kekerasan dan kekejaman hirarki wacana patriarkal tersebut tidak hanya terjadi pada tataran konseptual abstrak tetapi lebih-lebih terjadi dalam pengalaman hidup sehari-hari para perempuan yang konkret (blood and flesh). Mempertimbangkan hal tersebut, agar dapat sungguh mengguncang wacana lama (paradigma patriarkal), gerakan feminisme mesti radikal: membalik hirarki dalam oposisi biner 'laki-laki >< perempuan'. Namun tentang dekonstruksi, Derrida menambahkan bahwa "Sementara kita melakukan pembalikan, meninggikan apa yang dulu rendah, kita juga mesti mengembangkan 'konsep' baru, konsep yang tidak lagi menjadi bagian, dan tak pernah akan menjadi bagian dari paradigma lama." (Position, hlm. 42). Karena itu, jika setuju dengan Derrida, gerakan feminisme yang mendekostruksi wacana patriarkal mesti juga berusaha menemukan konsep 'baru' yang melampaui dan mengatasi oposisi biner 'laki-laki >< perempuan' itu. Dalam perspektif oposisi biner 'laki-laki >< perempuan' dan usaha feminisme untuk membalikkan hirarki dalam oposisi tersebut, serta upaya penemuan konsep 'baru' yang mengatasi oposisi biner 'laki-laki >< perempuan.' Dari penjelasan tersebut jelas bahwa ketidakadilan dan ketidaksejajaran peran dan kedudukan wanita dalam masyarakat bukan merupakan kodrat, tetapi merupakan sesuatu yang diciptakan atau dikonstruksikan oleh masyarakat (Wiyatmi, 1998: 8). Oleh karena itu, saya akan mencermati novel Larung karya Ayu Utami. Pembacaan novel Larung dan pembahasannya tentu akan sangat menarik. BAB II ISI FEMINISME, KEMITRASEJAJARAN WANITA DENGAN PRIA, KONSEP PATRIARKI DAN SEKSUALITAS Tulisan saya ini hanya akan membahas 'cerita yang berawal dari selangkangan' (hlm.71-162). Gagasan-gagasan feminisme tentu juga dapat ditemukan di bagian-bagian lain. Namun, saya akan memfokuskan penelitian saya pada 'cerita yang berawal dari selangkangan' karena bagian ini adalah bagian yang menjadi milik para perempuan (Yasmin, Cok, Shakuntala, dan Laila). Cok (Cokorda Gita Magaresa) Cok yang awalnya dipanggil si Tetek tetapi kemudian menjadi si Perek (Perempuan Eksperimen). Sebutan si Tetek, pangilan membanggakan Cok, diberikan oleh Shakuntala karena Cok mempunyai payudara yang besar. Namun, sebutan si Perek berasal dari Yasmin. "Aku tak tahu, apakah karena melihat pacarku yang banyak atau karena tahu apa yang kulakukan dengan mereka, Yasmin kemudian menyebut aku si Perek (83)." "Julukan itu memang diucapkan dengan akrab... tapi Perek tetap Perek. Semua perempuan punya tetek, tapi Perek Perek tentu saja punya tetek. Tetapi tidak semua perempuan menjadi perek. Cuma yang bejat dan terhina saja." (83). Cok mengeluhkan bahwa umumnya 'perek' dimaknai negatif, terkait dengan kebejatan, kehinaan. Kadang aku jengkel, apapun yang kita lakukan, yang juga dilakukan oleh lelaki, kok kita yang mendapat cap jelek. Laki-laki tidur bergantian dengan banyak cewek akan dicap jagoan. Arjuna. Tapi perempuan yang tidur bergantian dengan banyak lelaki akan dibilang piala bergilir. Pelacur. Apapun yang kita lakukan, kita selalu dianggap obyek. Bahkan oleh sesama perempuan. (83-84) Cok menunjukkan bahwa sebutan perek mengandung ketidakadilan terhadap perempuan dan sebaliknya memberikan keuntungan bagi laki-laki. Di sini 'perek' merupakan konstruksi wacana patriarkal untuk 'menyelamatkan' laki-laki dari 'kebejatannya' dengan melemparkan kebejatan itu pada perempuan. Ketidakadilan ini semakin mengakar mana kala perempuan pun ikut memakai kata tersebut untuk menggolongkan dirinya maupun perempuan sesamanya. Jika terjadi demikian, di sini Yasmin, perempuan pun ikut terlibat dalam dan turut memperkuat wacana patriarkal. Namun, disini Cok melawan dan membuat tafsiran lain atas kata 'perek', meski tafsiran itu hanya untuk dirinya sendiri. Bagi Cok, "Perek adalah perempuan yang suka bereksperimen" (84) meskipun "Tak ada yang percaya bahwa perempun eksperimen berarti perempuan yang bereksperimen." (83). Lebih lanjut Cok membalik segala konotasi yang terkait dengan kata 'perek' ini. Pengartian 'perek' sebagai subjek (bukan objek) dengan konotasi aktif (bukan pasif), ditampilkan Cok dalam hubungan Cok dengan Kucing Bersepatu Lars. Sang tentara gagah dan tampak garang dan jalang itu ternyata 'anak manis' yang dapat dipermainkan oleh Cok. Ia dipakai Cok untuk membeking usaha hotelnya. Bahkan, ia juga dipakai Cok untuk meloloskan Saman saat Saman menjadi buronan. (88-89). Cok yang berkarakter sebagai perempuan yang liar, bengal, blak-blakan,'jujur' ternyata juga mengalami kekerasan budaya patriarkal. Namun, ia melakukan perlawanan terhadapnya dengan cara membuat tafsiran alternatif terhadap kode-kode patriarkal ataupun mempermainkan kode-kode yang sudah ada. Laila Laila Gagarina, seorang fotografer, yang sedang gundah karena gagal bertemu dengan 'kekasih gelapnya, Sihar. Berbeda dengan Cok, Laila tampil sebagai sosok yang amat terkungkung oleh cintanya pada Sihar, seorang laki-laki yang sudah beristri. Ia berencana melakukan pertemuan gelap di New York, namun pertemuan gagal karena Sihar datang besama sang istri. Karena cintanya kepada Sihar, dalam hati ia tetap mengatakan: "Sihar, saya ingin katakan: kamu saya maafkan. Pernahkan kamu tak kumaafkan" (97). Peselingkuhan Laila dan juga Sihar membuat mereka menderita. Karena, perselingkuhan itu selalu 'membahayakan' dan 'menjadi acaman' bagi keluarga. Hal ini tampak dalam perkataan: "Sihar, jangan cemas. Saya tak akan mengganggu perkawinanmu." Jawaban Sihar, "Sebab aku bukan orang yang bisa tidak melibatkan perasaan dalam hubungan lelaki-perempuan. Aku akan tergantung padamu, kamu akan tergantung padaku. Itu berbahaya. Aku punya keluarga." (98). Apa yang mau ditampilkan di sini Seorang perempuan begitu tergantung dengan laki-laki sehingga seolah 'mengemis cinta' dari laki-laki itu Ataukah seorang perempuan yang begitu tegar dan berani melawan nilai-nilai masyarakat (perkawinan, keluarga) dihadapkan pada seorang laki-laki yang penuh kebimbangan dan tidak dapat memilih antra istri dan selingkuhan; laki-laki yang ingin mendapat untung ganda dari sang istri maupun selingkuhannya Apakah di sini Ayu mengajak kita merenungkan lagi tentang komitmen dan kesetiaan Atau ia sekali lagi mengajak kita melihat realitas lain dari perspektif perempuan) tentang perselingkuhan yang membuat mereka ada dalam dilema Saya tidak memperoleh jawaban yang pasti. Kata Laila peselingkuhan membuat ia "ada dalam sebuah dilema, untuk membuat dua luka, bahkan tiga. Dia [Sihar] penah menulis kepada saya: Jangan kamu kira, Laila, bahwa hanya kamu yang sedih dalam hubungan ini. Atau cuma kamu dan istriku. Saya pun bersedih karena kita tidak boleh saling bertemu." (101). Tulis Laila lagi, beselingkuh adalah 'mana kala untuk mencinta sesorang ia harus menyakiti orang lain.' (102). Apa usaha untuk menyelesaikan dilema, atau bahkan trilema dari perselingkuhan ini Sihar mengusulkan: putus hubungan. Laila keberatan. "Tidak, Sihar. Saya tidak menuntut kamu berkorban. Tidak bisakah kita biarkan perasaan-perasaan ini mengalir" (102). Cok mengusulkan kepada mereka mengenai kelanjutan hubungan mereka, "Persetan dengan laki-laki. Apa lagi yang sudah kawin." (117). Sebelum menunjukkan apa yang dipilih Laila, Ayu Utami mengisahkan bagaimana wacana patriarkal mendisiplinkan perempuan (Laila). Yang menjadi pelaku tindakan pendisiplinan ini adalah Ibu. “Ibu yang erat membebat dadaku dengan stagen agar kuncup payudaraku yang sedang tumbuh tak terlihat orang. Dan jika aku di rumah kerap sore ibu menggiling dadaku dengan botol seperti adonan pada telenan agar payudaraku tidak tumbuh terlalu dini. Aku mengeluh, sakit sekali. Ibu, sesak dan ngilu. Katanya, tahanlah. Sebab dengan begini kamu tidak membuat teman dan gurumu, bahkan orang di jalan tergoda. Sebab bagi mereka tubuh wanita begitu menawan. Itu berbahaya. Biarkan kamu menjadi anak-anak sampai tiba saatnya menjadi dewasa (104-105). Yang dilakukan ibu ini sejajar dengan apa yang dilakukan Yasmin terhadap Cok dengan kata 'perek'-nya. Ini merupakan bagian dari disiplin wacana patriarkal yang memaksa perempuan untuk melakukan 'kekerasan' terhadap perempuan. Bahkan kekerasan itu, dinaungi oleh sebuah lembaga keluarga, hubungan ibu dengan anak perempuan. Tindakan ibu ini dilatarbelakangi wacana patriarkal yang berpandangan bahwa perempuan itu adalah penggoda. Rupanya pendidikan dan disiplin dari sang Ibu membuat Laila justru menjadi seorang gadis menyangkal 'kegadisannya'. Saat sekolah ia ikut naik gunung, berkemah, turun tebing, cross country, menyusur kebun teh, berenang-jenis olah raga kelompok yang kebanyakan anggota-anggotanya anak laki-laki. Juga tidur bersisihan dengan kawan laki-laki dalam tenda dan perjalanan. Tapi dialah yang paling terlambat mengenal pria secara seksual. Pada saat itu ada rasa bangga bahwa dia memasuki dunia laki-laki, yang dinamis, tidak domestik, menjelajah alam, meninggalkan Barbie, tak segera tersentuh kosmetik. kemungkinan besar tidak diakuinya bahwa ia menyangkal buah dadanya sendiri juga menstruasinya. Ia pantang mengeluhkan keletihan atau nyeri ketika datang bulan. Ia selalu siap dengan banyak pembalut sehingga darah itu tak pernah rembes ke pakaian luar. Ia akan selalu segera mencuci bersih celana dalam yang tercemar sehingga tak satu pun akan melihat jejak yang memalukan itu.) Tidak semua perempuan bisa melakukan itu, menyangkal hal-hal yang lembek, dan ia merasa ada supremasi pada dirinya. Kini dia telah jauh dari aktivitas itu. Tak bisa lagi masuk ke dalam dunia pria dewasa. (118). Laila adalah sebuah ironi, seorang perempuan yang ingin meninggalkan keperempuanannya agar ia dapat masuk dalam dunia laki-laki, yang dengannya ia memperoleh kebanggaan dan harga diri, tetapi akhirnya menjadi perempuan yang amat tergantung pada laki-laki. Ia tak dapat melupakan Sihar. Shakuntala Shakuntala bercerita tentang proses disiplin wacana patriarkal untuk membentuk laki-laki sungguh menjadi laki-laki. Di sini, Shakuntala tidak memakai kata perempuan tetapi wanita. Aku mempunyai kakak lelaki. Dia anak pertama ayah-ibuku. Orangtuaku percaya bahwa laki-laki cenderung rasional dan wanita emosional. Karena itu, pria akan memimpin dan wanita mengasihi. Pria membangun dan wanita memelihara. Maka Bapak mengajari abangku menggunakan akal untuk mengontrol dunia, juga badan. Aku tak pernah dipaksanya untuk hal yang sama, sebab ia percaya pada hakikatnya aku tak mampu. WANITA DICIPTAKAN DARI IGA. KARENA ITU IA DITAKDIRKAN MEMILIKI KECENDERUNGAN UNTUK BENGKOK SEHINGGA HARUS DILURUSKAN OLEH PRIA. (SURAT XIV, 1266), (136) Saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan Surat XIV, 1266. Apakah memang ada surat yang demikian itu Jika ada akan jauh lebih menarik jika kita tahu. Namun, kalaupun surat itu melulu hasil imajinasi Ayu, surat tersebut tetap merupakan representasi sah mengenai stereoptipe terhadap perempuan dalam wacana patriarkal yaitu emosional, mengasihi, memelihara, tak bisa mengontrol badan (apalagi dunia), dan juga cenderung bengkok (tak sempurna). Ayah Shakuntala selalu mengagung-agungkan laki-laki untuk mengajarkan bahwa laki-laki mesti di atas "Tempat laki-laki............ adalah DI ATAS" (137) Sang Bapak mendisplinkan, mengajar dan memaksa anaknya untuk memanjat pohon. Sebelum menjadi panglima, seorang prajurit akan menjadi pengintai di menara. Maka, wahai satria, jadikalah pohon kelapa ini menjadi menaramu, tempat kamu melindungi adik-adikmu perempuan sepuluh dari para raksasa yang mengendus di kejauhan hutan. (137). Shakuntala menampilkan konstruksi laki-laki sebagai pelindung dan perempuan sebagai yang dilindungi. Laki-laki ditampilkan sebagai yang kuat, sementara perempuan sebagai yang lemah. Sebenarnya sang kakak menolak konstruksi ini: "Biar saja adik-adik menjaga diri sendiri." Namun ia tidak mampu melawan ayahnya. Ia dipaksa menerima konstruksi patriarkal ini. Pendidikan kelelakian ini keras dan kejam. Karena "kangmasku menangis geru-geru sebab pohon itu begitu tinggi." Tetapi sang Bapak segera memberikan ajaran berikutnya: Tangis itu milik perempuan. Milikmu adalah keberanian!" "Kalau kamu berteriak pada dirimu sendiri, berulang kali, 'Berhenti nangis! Berhenti nangis! Berhenti ...' maka kamu akan berhenti nangis, Nak. Kalau kamu berseru pada dirimu, 'Berani! Berani! Berani! ...' kamu akan berani. Kangmasku menurut. Setahap semi setahap. Ia menzikirkan keberanian, meski airmatanya masih mengalir dan pipinya merah dan pelupuknya sembab (138). Saat memanjat pohon ternyata ia digigit tokek tetapi ia tidak lagi menangis. "Lalu Bapak menyeringai puas, sebab kangmasku telah berhenti menangis. (Barangkali ia berhenti menangis untuk seumurhidupnya." (139). Begitulah Shakuntala menceritakan kelelakian kakaknya. Tampak heroik tetapi juga kejam, menyingkirkan segala tangis, keluhan, rasa sakit dari dunia laki-laki dan Shakuntala membedakan kedudukan dirinya dirinya dengan kakaknya. Sang kakak dapat memerintah tubuhnya bagaikan seorang komandan memerintah batalyon dan kompi, sedang ia adalah kebalikannya. Seperti dalam kutipan: "Keputusan-keputusanku diperintah oleh dorongan tubuh untuk menari." (141). Ia memikirkan dan berusaha untuk merasakan serta merenungkan tentang kelaki-lakian seorang perempuan."Laila, pernah nggak kamu merasa bahwa kamu adalah laki-laki Anak laki" "Nggak." "Kenapa" Ia menatap saya. "Kamu dulu tomboy. Temanmu lebih banyak laki." "Tapi saya kan bukan laki sungguhan." ..."Apa itu'sungguhan' Mereka juga bukan lelaki sungguhan." "Siapa" "Mereka semua. Dan kita juga bukan perempuan sungguhan. Kita semua jadi-jadian." "Tala. Kerena itu kamu bisa menari sebagai lelaki dan perempuan! " Dalam pertunjukkan yang ia lakukan, Sakuntala dapat menarikan peran laki-laki maupun perempuan: Rama, Rahwana, tetapi juga Sinta. (126). "Ya. Aku ini perempuan juga lelaki." (129).11 Dalam percakapan itu, Shakuntala mulai mempertanyakan referensi lelaki dan perempuan. Keduanya bukanlah esensi tetapi sebuah konstruksi yang dapat bertukar satu sama lain seenaknya. Di sini Shakuntala menggugat hubungan statis dan beku antara tanda laki-laki dan 'perempuan dan konsep laki-laki dan keperempuanan yang ditandakannya.. Saat Shakuntala dan Laila menari Spanish tango, Laila semakin menemukan sosok laki-laki dalam diri Shakuntala. Seperti dalam kutipan: Dalam wajah Shakuntala, ia menemukan wajah Sihar dan terkadang Saman. Lalu saya, Laila, menemukan wajah saya telah bersandar pada siku lehernya. Dan saya menangis. Sebab sesungguhnya saya tahu saya terluka oleh sikap Sihar. Sebab kini saya tak tahu lagi siapa dia. Apakah Tala apakah Saman apakah Sihar. Apakah perempuan, apakah laki-laki. Hangat nafasnya terasa. Cahaya rendah. (132). Apakah laki-laki, apakah perempuan, keduanya adalah konstruksi. Shakuntala menawarkan sebuah 'konsep' yang melampaui atau paling tidak berbeda dengan konsep oposisi laki-laki perempuan. Namaku hanya satu: Shakuntala. Tapi sering ada dua dalam diriku. Seorang perempuan, seorang laki-laki, yang saling berbagi dalam sebuah nama yang tak mereka pilih. Seperti dalam kutipan: Aku lupa sejak kapan kutahu bahwa aku anak perempuan, sama seperti kita lupa kapan kita pertama kali ingat. Aku curiga bahwa ayah dan ibuku mengatakan kepadaku terus-menerus-kamu perempuan-sejak aku belum bisa bicara. Dan bagaimanakah aku bisa membantah jika aku tak bisa bicara. Tetapi lelaki dalam diriku datang suatu hari. Tak ada yang memberi tahu dan ia tak memperkenalkan diri, tapi kutahu dia adalah diriku laki-laki. Ia muncul sejak usiaku amat muda, ketika itu aku menari baling-baling (133). Inilah pendapat Shakuntala, Seperti dalam kutipan: "Manusia tidak terdiri dari satu." (134). Peryataan Shakuntala bahwa dalam dirinya ada laki-laki dapat saja dianggap sebagai ilusi belaka. Karena itu, untuk ia juga memikirkan oposisi ilusi dengan kenyataan. Kasus pokoknya adalah Laila yang tak dapat melupakann Sihar. Seperti dalam kutipan: "Lama-lama aku berkesimpulan bahwa ia bukan tak bisa melainkan, seperti kata Yasmin, tak mau. Ia tak mau kehilangan ilusi itu." (140-141). "Apa bedanya ilusi dengan kenyataan" (141). Saat itu ibu Shakuntala terguncang karena berhadapan dengan kenyataan bahwa anak laki-lakinya, yaitu kakak Shakuntala meninggal karena kecelakaan. Setelah menagis seharian penuh, pada hari berikutnya ia berilusi, Seperti dalam kutipan: "Dia tidak mati." Tak tahan dengan ibunya yang terus menerus menyatakan bahwa-anaknya-tidak-mati sebagai 'kenyataan', Shakuntala mengatakan, "Ibu, ada beberapa kenyataan. Pertama, dia sudah mati. Kedua, aku ternyata juga laki-laki. Ketiga, Tuhan itu tak ada, Ibu." Ibu terkejut, lalu tertawa. "Dia tiadak mati. Tuhan ada. Dan kamu anak perempuan, Sayang." Akhirnya aku mengalah. Baiklah, Ibu, aku tak aku tak membantahmu lagi. Kalau itu membuatmu bahagia (142). "Apa kenyaataan Apakah ia bagimu dan bagiku Jika ayah ayahmu memperkosa kamu ketika kamu begitu muda, pantaskah kamu disebut bodoh sebab kamu tidak maju ke muka kelas dan menyatakan [membuat nyata] bahwa ayahmu telah melanggar kamu. Bahkan jika kelas itu kosong dan tak ada murid atau guru mendengarmu. Jika pun kelas itu sebuah ruang dalam hatimu." Apakah kita dapat begitu saja menerima 'kenyataan' pahit sebagai kenyataan Atau sesungguhya kenyataan itu adalah sesuatu yang membuat bahagia Lalu ilusi menjadi kenyataan jika ia memberikan kebahagiaan terhadap Yasmin yang lebih menyukai kenyataan daripada ilusi. Shakuntala menggumam, "Kamu hanya mempunyai segala yang menyenangkan di dunia ini. Tak ada susah bagimu" (146), Hal itu tidak sulit bagi Shakuntala untuk mengatakan segala yang nyata di dunia ini sebagai kenyataan. Kata Shakuntala, Seperti dalam kutipan: "Yasmin, kamu punya segalanya. Sementara Laila punya ilusi. Apakah kamu masih juga mau merenggut ilusi itu dari dia untuk melemparkannya ke tong sampah" (147). Sebuah kata-kata yang amat pahit. Kepahitan ini tidak hanya bagi Laila tetapi juga Shakuntala. Tapi apakah sebuah bayang-bayang itu selalu membahagiakan dan karenanya dapat dianggap sebagai kenyataan. Shakuntala berikutnya mempersalahkan konsep bahwa ilusi itu 'melulu' membahagiakan. Ibu menilai Shakuntala berilusi karena ia menganggap dirinya sebagai laki-laki. Seperti dalam kutipan: "Tapi aku tetap percaya bahwa ibuku yang berilusi bahwa anak laki-lakinya tidak mati, bukan aku. Sebab aku tahu pasti ada diriku lelaki dan itu tidak membuatku lebih bahagia." (142). Bagi Shakuntala ilusi tidak selalu membahagiakan, tetapi kenyataan selalu tidak membahagiakan. Karena itu, ia percaya bahwa dalam dirinya memang nyata ada laki-laki. Seperti dalam kutipan: "Ibuku tak percaya, aku juga laki-laki." Saat itu Shakuntala ingin membuktikan bahwa dalam dirinya kepada sang ibu kelaki-lakiannya tidak datang. Ia menemukan kelelakiannya kembali saat belajar pada seorang sinden. Suatu malam, ketika aku duduk dalam sebuah ruang dan mengagumi dia menyanyi tanpa pengiring, lelaki dalam diriku muncul dari belakang tubuhku seperti energi yang terlepas. Aku tidak bicara dengannya tetapi si pesinden melihatnya lalu mereka menembang bersama. Lalu mereka berdekatan, berdekapan. Mereka saling melepas kain masing-masing dan saling berlekatan. Setelah itu mereka saling berkata, "Betapa indahnya, kita sama-sama punya payudara." (149). Kata-kata "Betapa indahnya, kita sama-sama punya payudara" dapat diartikan sebagai pilihan untuk kembali ke oposisi biner dengan menempatkan perempuan dalam hirarki lebih tinggi. Pilihan ini dapat dipandang sebagai kegagalan tetapi juga dapat dilihat sebagai sebuah strategi untuk mendobrak wacana lama secara tuntas. Yasmin Moningka Kenapa kita menyebut "kenyataan" hanya untuk sesuatu yang bertentangan dengan keinginan" (154). "...Tapi bagaimana aku mendamaikan serempak kenyataan yang saling bertentangan Realita dari sesuatu yang kuimpikan dan yang kuingin tolak dari yang lampau, yang sekarang, dan yang mungkin" (155) Yasmin Moningka, "berwajah baik dan benar, barangkali baku seperti Bahasa Indonesia. Pengacara. Dia seumpama lukisan realis di mana tak satu garis pun melenceng sehingga tak ada sisa bagi kita untuk menafsir" (135), "yang dulu waktu di SMA, terasa sekali mempunyai kompleks primadona. Dia selalau mau jadi nomor satu. Dalam hal prestasi, kecantikan, maupun moral." (82). Yasmin ternyata mempunyai fantasi seksual yang teramat liar. Yasmin mempunyai khayalan seksual masa kanak-kanak yang aneh. Saat di kelas nol ia mulai tertarik pada teman laki-lakinya yang bernama Julian. Seperti dalam kutipan: "Aku selalu bersemangat untuk melihatnya keluar-main. Dan, aku selalu membayangkan penis di balik celana pendeknya, pada pangkal kakinya yang ramping." Yasmin mengutip Frued untuk yang melihat periode itu sebagai tahap fallis, "saat anak tertarik ada alat kelaminnya. Anak lelaki bangga sementara anak perempuan cemburu dan merasa tidak lengkap karena tidak memiliki penis" (157). Namun, Yasmin tidak menerima teori itu mentah mentah. Seperti dalam kutipan: "Apakah aku cemburu atau minder aku tak ingat. Yang aku ingat adalah aku tertarik pada penis Julian. Dan tak cuma itu. Bentuk ketertarikanku adalah keinginan untuk mengkastrasinya, menyunatnya, melakukan sesuatu sehingga ia kesakitan. Kenikmatan seksual awalku adalah menghkayalkan Julian merintih di tangan para musuhnya yang bersekongkol dengan orang-orang dewasa, yang menangkapnya, memapar dan menyakiti kelaminnya." (158). Waktu Yasmin masih kecil, "seks tak pernah datang bersama kasih sayang dalam fantasi kanak-kanakku. Seks, yang belum sempat terdefinisikan waktu itu, berhubungan dengan kekekerasan, penaklukan, dan rasa sakit."Lalu ia mulai masuk ke budaya patriarkal. Seperti dalam kutipan: Menjelang akil balig aku mulai malu atas fantasi-fantasiku dan kesenangan seksual yang dihasilkannya. Lalu suatu pergeseran yang aneh terjadi. Adakah aku menghukum diriku sendiri, ataukah ini datang bersama masa awalku memasuki dunia patriarkal yang tak kuketahui, dunia di luarku yang memaksakan diri, di mana wanita adalah obyek seksual. Aku kehilangan kesubyekan pada diriku dan menempatkan diri sebagai obyek. Aku kehilangan keperempuananku dan menjadi wanita. Dalam proses yang tak kumengerti, aku mulai menempatkan diriku sebagai si terhukum, wanita yang terkutuk karena kewanitaannya (158). Lalu, ia mulai berefleksi dengan Deluze, seorang poststrukturalis dari Prancis, tentang masokisme15. Dalam masokisme, superego (nilai-nilai, kontrol dari luar misal dari orang tua yang sudah diinternalisasi sehingga menjadi nilai dan kontrol diri) digeser ke luar diri hingga menjadi bagian dunia eksternal. Deluze lebih banyak berbicara masokisme pada laki-laki. Dan ia melihat masokisme (pada laki-laki) merupakan penyimpangan. Pada wanita masokisme merupakan sesuatu yang natural. Sebab, superego, figur ayah, aparat pendisiplin, memang telah tampil di luar diri wanita dalam konstruksi sosial yang patriarkal. Kami tidak perlu melakukan pembalikan. Kami hanya perlu ikut dalam permainan dominasi lelaki, yang derajat tingginya adalah selera sadisme heteroseksual pria. Apa bedanya idealisasi terhadap pengorbanan istri, poligami, dengan masokisme Semuanya adalah internalisasi ketidakadilan. Wanita menyelamatkan diri dengan mengambil ke dalam dirinya dominasi pria (sebagaimana yang dikukuhkan banyak agama) dan menganggapnya agung. Karena itu, aku katakan, sembilan puluh persen wanita di dunia ini adalah masokis. (159) itu pula yang dialami Yasmin ketika sudah mulai masuk ke dunia patriarkal. Ia merindukan penghukuman. Ia merindukan dominasi. Kerinduannya itu bertentangan dengan citra yang ia bangun selama ini: Yasmin yang mandiri, yang selalu punya keputusan rasional, pengacara yang cukup dihormati, aktivis hak asasi manusia (dan di dalamnya adalah hak hak asasi perempuan). Inikah kesulitan yang dihadapi oleh para perempuan yang memperjuangkan feminisme Namun Yasmin tetap merasa membedakan aku dari para wanita yang mengukuhkan patriarkal adalah aku melokalisasinya [kerinduan akan dominasi itu] pada fantasi seksual. Mereka menerima dominasi pria sebagai suatu Ide yang total dan murni, suatu ideal. Mereka menerimanya sebagai nilai moral, aku sebagai nilai estetik." (160)."Kadang [fantasi] itu begitu menakutkan aku. Bagaimana aku bisa mendamaikan estetika seksualku dengan pedoman nuraniku tentang keadilan" (161). Bagaimana aku dapat memperjuangkan hak dan keadilan perempuan sementara aku menginginkan dominasi dan penindasan Ambivalensi ini mungkin juga menjadi persoalan sentral bagi para feminis. Namun untunglah Saman menyelamatkan Yasmin dari keinginan untuk didominasi laki-laki. Kamu membangkitkan kembali khayal kanak-kanakku yang lama kukhianati. Tanpa kamu ketahui terlepaslah keperempuananku [bukan kewanitaan] yang telah dipenjarakan hampir dua puluh tahun. Kini ia datang dengan memori purba. Seakan ingatan primitif dari masa oral16, ketika tubuhku belum diracuni oleh kekuatan luar yang mengagung-agungkan fallus dan memitoskan kesucian wanita. Ia datang dengan agresivitas yang murni, polos, inosen, yaitu dorongan untuk memakan, menghisap, mengconsume, mengexploit, memasukkan ke dalam dirinya benda-benda yang menarik hatinya. Juga kelamin laki-laki. Saat itu, tidak ada penis envy. Yang ada hanyalah dorongan untuk menelan benda asing, the Other, sesuatu yang mirip namun berbeda dari dirinya....Jika ia dibiarkan tumbuh alamiah, terjauhkan dari male chauvinisme, maka ia akan melalui masa klitoral dan agina-bukan masa fallis-ketika ia menemukan mulut keduanya, yang dengannya ia mau menelan penis. Ia tak mengenal kata 'intrusi'. Ia hanya mengenal "konsumsi". Dan ia tidak cemas. (162) Yang ditulis Yasmin sejajar dengan apa yang ditulis Shakuntala. SEBAB VAGINA ADALAH SEJENIS BUNGA KARNIVORA SEBAGAIMANA KANTONG SEMAR. NAMUN IA TIDAK MEGUNDANG SERANGGA, MELAINKAN BINATANG YANG LEBIH BESAR, BODOH, DAN TAK BERTULANG BELAKANG, DENGAN MANIPULASI AROMA LENDIR SEBAGAIMANA YANG DILAKUKAN BAKUNG BANGKAI. SESUNGGUHNYA, BUNGA KARNIVORA BUKAN MEMAKAN DAGING MELAINKAN MENGHISAP CAIRAN DARI MAKLUK YANG TERJEBAK DALAM RONGGA DI BALIK DINDINGNYA YANG KEDAP. DAN PERMUKAAN LIANGNYA YANG BASAH AKAN MEMERAS BINATANG YANG MASUK, DALAM GERAKAN YANG BERULANG-ULANG, HINGGA BUNGA INI MEMPEROLEH CAIRAN YANG IA HAUSKAN. NITROGEN PADA NEPENTHES. SPERMA PADA VAGINA. TAPI KLITORIS BUNGA INI TAHU BAGAIMANA MENIKMATI DIRINYA DENGAN GETARAN YANG DISEBABKAN ANGIN. (153) Dan itulah yang dilakukan Yasmin pada Saman sehingga ia terbebas dari masokisme yang menjangkiti sembilan puluh persen wanita. Saman, tubuhmu yang sederhana adalah tentara spiritual yang ditempa disiplin abstinens. Kegagahanmu adalah kesendirianmu, manusia yang selibat dalam realm yang religius maupun sekular. Aku seperti tahu kamu akan senantiasa sendiri. Selalu dalam kesunyian dan ketakmemilikian. Kejatuhanmu dalam dosa perzinahan adalah kejatuhan si pemanggul salib yang takkan henti mendaki. Meski barangkali ia hanya sisifus yang tahu atau tak tahu bahwa puncak itu takkan tercapai, barangkali tak ada. Tapi kuperkosa kamu oleh karena keangkuhan solitermu. Kumenangkan diriku atas kamu.17 (162) Tidakkah ini dekonstruksi, pembalikan radiakal oposisi biner 'laki-laki >< perempuan', 'yang mendominasi >< yang didominasi'. Perempuan ditampilkan sebagai yang agresif, aktif, menyerang, kasar, kejam, dan akhirnya mengalahkan laki-laki, dan tidak lagi sebagai yang memilihara, mengasihi, lembut. Dalam Yasminlah terjadi momen puncak pembalikan hirarki 'laki-laki >< wanita' sehingga sang wanita kembali menjadi perempuan, menjadi sang pengempu, yang menguasai, dan bukan lagi wanita, yang merangsang. Pembalikan oposisi 'laki-laki >< wanita' ini disertai pembalikan oposisi biner yang lain 'kenyataan >< ilusi', 'aktif >< pasif', 'kehidupan >< kematian', 'menguasai >< dikuasai'. Akhirnya apakah 'cerita yang berawal dari selangkangan' akan baca sebagai cerita semi-porno atau sebagai upaya Ayu untuk 'mempermainkan' dan mendekonstruksi wacana patriarkal, atau tafsiran lain, tentu pilihan ada pada pembaca. Namun di sini saya telah menunjukkan kecerdasan dan kelincahan Ayu memakai kata-kata dan imaginasi untuk melihat secara lain hal-hal yang kita anggap sudah pasti. Ayu menampilkan Cok yang melakukan perlawanan dengan 'mempermainkan' kode-kode wacana patriarki. Ayu juga menampilkan bagaimana 'kekerasan' wacana patriarkal membentuk "laki-laki" (ini pada kisah Shakuntala) maupun "wanita" (ini pada Laila). Ayu juga menampilkan kesulitan perjuangan perempuan pada Laila yang terperangkap, terkungkung oleh cintanya pada Sihar dan juga pada Yasmin yang ambivalen, mempunyai kerinduan untuk didominasi. Ditampilkan juga kesulitan Shakuntala mencoba mencari alternatif 'konsep' yang melampaui oposisi biner yaitu bahwa dalam setiap orang ada kelelakian atau pun keperempuanan. Namun, agaknya Ayu mesti mengambil posisi. Dalam wacana patriarkal yang masih sedemikian kuat, emansipasi tidak cukup. Yang harus dilakukan adalah penggocangan dan pembalikan. Dalam Shakuntala, akhirnya tetap kembali pada pinjakan bahwa perempuan lebih indah. "Betapa indahnya, Kita sama-sama punya payudara." Sementara itu pada Yasmin, perempuanlah yang menjadi pemenang Sekedar catatan. Semua perempuan yang ditampilkan adalah perempuan yang mandiri, wanita karier, yang sebenarnya relatif lebih bebas dari kungkungan wacana patriarki. Akibatnya perjuangan mereka lebih banyak berada dalam tafsir ulang "makna", tekstual, dan bahkan seksual. Masih banyak perempuan lain yang mengalami kekerasan yang lebih konkret. Misal para pembantu rumahtangga, TKW, atau buruh perempuan. Mereka adalah kelompok subaltern. Persoalan ini kiranya menjadi tantangan bagi para feminis untuk berimaginasi dan menampilkan perjuangan mereka yang subaltern ini melawan penindasan wacana patriarkal. Terlepas dari persoalan itu, kiranya usaha Ayu patut dihargai. Ia telah ambil bagian dalam perjuangan feminis mendekonstruksi wacana patriarki yang memang harus dilakukan baik dalam tataran tekstual maupun tataran konkret, dalam dunia.

BAB III
KESIMPULAN

Bagi kaum feminis, perjuangan wanita tidak hanya menentang diskriminasi saja, tetapi berjuang demi emansipasi dan pembebasan dari segala bentuk penindasan, baik oleh pemerintah, masyarakat maupun oleh kaum pria itu sendiri. Oleh karena itu, tujuan akhirnya adalah membentuk masyarakat yang adil serta sama di dalam hak dan kewajiban, baik bagi wanita maupun pria. Dengan adanya berbagai perubahan dalam masyarakat, bentuk perjuangan pun berubah. Dan karena itu, tuntutan-tuntutan sekarang dan dahulu berbeda. Pokok persoalannya adalah bahwa perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat merupakan bagian dari perjuangan keseluruhan emansipasi wanita.
Gerakan feminisme yang telah diekspos oleh Ayu Utami dalam novelnya merupakan salah satu perwujudan pergerakan Marxisme, sebagai pembelaan terhadap kaumnya. mendobrak berbagai tabu di Indonesia baik mengenai represi politik, toleransi beragama, dan seksualitas perempuan. . Ada pihak-pihak yang mengeritik novel tersebut karena dianggap terlalu berani dan panas dalam membicarakan persoalan seks. Tetapi banyak pula yang memujinya karena penggambaran isi novel tersebut apa adanya, polos, tanpa kepura-puraan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar