ANDRIW

Foto Saya
Metro-Jogja-Solo, Indonesia
Perusahaan: B.I.A.S (Badan Intelejen Asmara Sesaat) * Pendidikan Bahasa Indonesia - PPs-Universitas Sebelas Maret Surakarta. * PBSI-FBS UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), Angkatan 2001 * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Minggu, 24 April 2011

PUISI PAMAN-PAMAN TANI UTUN KARYA PIEK ARDIJANTO SUPRIADI DALAM KERANGKA STRUKTURALISME

PIEK ARDIJANTO SUPRIJADI
Paman-paman Tani Utun
buat mingun
bapakku sendiri
petani di Walikukun
daerah Ngawi

1
Paman-paman tani utun
Ingatlah
Musim labuh sawah basah
Duilah

Musim labuh kurang tidur ya paman
Kerja berjemur dalam lumpur tak makan
Sawah-sawah menggembur hancur
Merpatinya wok-wok ketekur

Cangkul luku garu sabit ya paman
Habis kerja terus ngarit di galangan
Esoknya nyebar bibit
Ya ampun berasnya sangat sulit

2
Paman-paman tani utun
Ingatlah
Musim hujan kurang nasi
Jangan mencuri

Pegang perut anak bini ya paman
Sore-sore jagung ubi yang dimakan
Besarnya sejari kaki
Esoknya lahir banyi

Malam nembang sigromilir ya paman
Meningkah perut lapar keroncongan
Dini hari kali besar
Rumah-rumah terbongkar

3
Paman-paman tani utun
Ingatlah
Hujan renyai padi tumbuh
Jangan mengeluh

Padi subur royo-royo ya paman
Lebat mengalun sebagai lautan
Cah angon-cah angon datanglah
Mari menyiangi sawah basah

Kinanti subakastawa ya paman
Cari belut di galangan terusan
Dewi sri-dewi sri jagalah sawah kami
Lenyapkanlah ama padi
4
Paman-paman tani utun
Ingatlah
Musim mareng padi berisi
Duilah

Padi runduk padi bernas ya paman
Sambil ngantuk njaga unggas- beterbangan
Cah angon-cah angon ayo nembang
Pijar hatimu main layang-layang

Di gelanggang lombok kapri ya paman
Tomat terung dan kacang lanjaran
Minah Ijah Minah Ijah mari menyayur
Nanti mlam kita tidur mendengkur

5
Paman-paman tani utun
Ingatlah
Musim kemarau padi kering
Aduh senangnya

Musim panen sudah tiba ya paman
Pesta kerja di tengah sawah kepanasan
Padi digendong Minah, dipikul Sardi
Sayangnya tidak dibawa kelumbung- sendiri

Tembang mengatruh pengganti beras ya- paman
Habis panen padi amblas aduh setan
Tuhan Dewa danghyang di gunung lawu
Inilah lagu merdu petani sendu.

(Teori dan apresiasi Puisi)








KAJIAN PUISI

BIOGRAFI
Piek Ardijanto Supriadi lahir di magetan, Jawa Timur. Pada tanggal 12 Agustus 1929. Berpendidikan SMA Negeri Yogyakarta (1952), S-1 bahasa Indonesia ( 1960) dan hingga kini mengajar di SMA Negeri Tegal, Jawa Tengah.
Sajaknya memperoleh penghargaan dari majalah sastra tahun 1962, dan sajak-sajaknya di muat di majalah Indonesia, sastra, horison, dan juga di buku angkatan 66 H.B Jassin (1968). Kumpulan puisinya berjudul Burung-burung di ladang.
Piek Ardijanto Suprijadi adalah seorang penyair yang tumbuh dan berkembang setelah generasi chairil anwar. Karyanya selalu ditandai dengan model puisi dengan kalimat yang ditulis dengan lirik murni yang manis. Untuk karya puisinya, Piek menempuh jalan dengan mengeksploitasi alam desa dan manusia desa sebagai sumber inspirasi dan objeknya. Sebagai contoh kajian puisi Piek yang akan di ambil kali ini adalah Paman-paman Tani Utun.
Dalam puisinya yang berjudul Paman-paman Tani Utun, dunia desa yang diungkapkan piek sangat khas. Kekhasan itu menjadi lebih spesifik karena dilakukan tanpa teknik rumit. Intensitas kedesaan tidak menghilangkan faktor-faktor universal yang memungkinkan karya sastra melewati batas lokal.
Piek termasuk kedalam angkatan 66 dalam periode angkatan sastra. Angkatan 66 mempunyai konsepsi manifest kebudayaan. Angkatan 66 berbicara tentang tegaknya kembali pancasila dan UUD 45, tegaknya kebenaran dan keadilan di bumi Indonesia . Pada tahun 1966 yang di bicarakan adalah jatuhnya para penyeleweng dari pancasila dan UUD 45. Terhapusnya gagasan bahwa politik adalah panglima.
Sesuai dengan latar sosialnya sebagai orang yang bersal dari daerah Tegal, Jawa Tengah, Piek membuat karyanya dengan latar daerahnya sendiri yakni Jawa Tengah. Hal ini dapat dilihat dari beberapa baris puisinya yang menggunakan bahasa jawa. Kata-kata yang mendukung puisi yang berjudul Paman-paman tani Utun ini antara lain:
1. Musim labuh : awal musim hujan
2. wok-wok ketekur : tiruan bunyi burung merpati
3. Luku : bajak
4. Garu : sisir
5. Cah angon : anak pengembala
6. Kinanti subakastawa : nama tembang
7. Musim mareng : awal musi kemarau
8. Amblas : Lenyap.


























STRUKTUR PUISI

1. FISIK/ BENTUK/ METODE

1.1 DIKSI
Diksi adalah pemilihan kata untuk mengungkapkan suatau gagasan, mengungkapkan suasanan tertentu dan digunakan untuk mencapai efek tertentu. Dalam diksi dibahas perbendaharaan kata, urutan kata (Word order) dan daya sugesti (pengimajian).
A.Perbendaharaan Kata.
Piek dalam puisinya ini sangat cermat dalam memilih kata-kata sesuai dengan ciri khasnya, dalam bait pertama bagian I isinya menceritakan tentang awal musim hujan sawah pun menjadi basah.
Paman-paman tani utun
Ingatlah
Musim labuh sawah basah
Duilah
Kata duilah diungkapkan pada baris ke empat mengungkapkan gagasan yang kesannya santai. Pada bait ke dua, di sini menceritakan keadaan petani ketika musim labuh kekurangan tidur, dan pada bait ke tiga di ceritakan tentang mulainya menyebar bibit
Pada bagian ke dua, puisi ini bercerita karena pada musim hujan belum panen, maka petani mulai kehilangan persediaann dan akibatnya petani bisa kelaparan.
Malam nembang sigromilir ya paman
Meningkah perut lapar keroncongan
Dini hari sungai besar
Rumah-rumah terbongkar
Pada bagian ke tiga menceritakan pada saat hujan reda, maka padi pun mulai tumbuh, bagian ke empat padi mulai berisi dan bagian ke lima , Piek menggambarkan petani yang tentunya sangat senang karena menghadapi musim panen, tetapi hasil panennya tak dapat dinikmati sendiri.
Musim panen telah tiba ya paman
Pesta kerja di tengah sawah
Padi digendong Minah dipikul sardi
Sayangnya tak dibawa ke lumbung sendiri

B. Urutan Kata
Cara menyusun urutan kata-kata itu bersifat khas karena pengarang yang satu berbeda caranya dari pengarang yang lainnya. Dalam puisi ini, urutan kata pertama pada bait-bait di tiap bagian selalu diawali dengan panggilan nama orang.
Paman-paman tani utun
Ingtlah

Selain itu dalam puisi ini Piek menyisipkan kata-kata dalam bahasa Jawa seperti yang telah dibahas di bagian awal tadi.

C. Daya sugesti
Ada hubungan erat antara diksi, pengimajian, dan kata konkret. Diksi dipilih harus menghasilkan pengimajian dan karena itu kata-kata menjadi lebih konkret seperti kita hanyati melalui penglihatan, pendengaran, atau citra rasa. Pengimajian dapat dibatasi dengan pengertian kata-kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Baris atau bait puisi itu seolah mengandung gema suara (imaji auditif) benda yang nampak (imaji visual), atau sesuatu yang dapat dirasakan, diraba atau disentuh (imaji taktil).
Beberapa baris dari puisi ini ada yang menunjukkan pengimajian sehingga menimbulkan imaji gerak.
Musim labuh kurang tidur ya paman
Kerja berjemur dalam lumpur
……………………………………
……………………………………
Cangkul luku garu sabit ya paman
Habis kerja teru ngarit di galanganb
Esoknya nyebar bibit
Imaji taktil yang ditunjukkan pada baris pesta kerja di tengah sawah kepanasan dalam suasana seperti ini menunjukkan bahwa dalam banyangan pembaca turut merasakan bagaimana rasanya bekrja di sawah dengan panas terik. Baris puisi yang membuat hidup keberadaannya adalah pada:
Minah Ijah Minah ijah mari menyayu
Nanti malam kita tidur mendengkur
Untuk membangkitkan imaji pembaca, pada puisi ini ada kata-kata yang diperkonkret. Dalam hal ini sesuai dengan judulnya yang dengan kata sawah, galangan,nyebar bibit, cangkul luku garu sabit serta suaranya merpati. Imaji visual yang terdapat di puisi ini dapat dilihat pada kata-kata di bawah ini:
Padi subur royo-royo
……………………..
di galangan lombok kapri ya paman
tomat terung dan kacang lanjaran.
Dalam puisi diksi terbagi atas diksi konotatif, imajinatif, konkret, asosiatif, dan antropomorfemis.
1. Diksi Konotatif.
Contoh diksi konotatif yang terdapat dalam puisi ini adalah:
Musim labuh yang bermakna awal musim hujan
Perut yang bermakna nafkah
Sungai yang bermakna sumber kehidupan
Tuhan yang bermakna sang penguasa
Lagu yang bermakna ungkapan perasaan
2. Diksi Imajinatif
Diksi imajinatif merupakan diksi yang menghadirkan gambaran suasana tertentu secara imajinatif contoh dalam puisi ini adalah sebagai berikut:
2.1 .Hancur menggambarkan suasana perpecahan atau rusak
2.2. Lapar menggambarkan suasana keinginan untuk makan
2.2 Besar menggambarkan suasana lebih dari ukuran biasanya
2.3 Hujan menggambarkan suasana turunnya air
2.4 Subur menggambarkan suasana tidak merana
2.5 Lebat menggambarkan suasana berbuah banyak
2.6 Basah menggambarkan suasana mengandung air
2.7 Ngantuk menggambarkan suasana ingin beristirahat
2.8 Malam menggambarkan suasana gelap karena tidak ada sinar matahari
2.10 Merdu menggambarkan suasana gembira
2.11 Sendu menggambarkan susana sedih.

3. Diksi Konkret.
Diksi konkret merupakan simbol yang bercirikan menghadirkan gambaran benda (referensia) atau gambaran peristiwa tertentu secara konkret . contoh dalam puisi ini adalah sebagai berikut:
Musim labuh sawah basah
………………………….
Kerja berjemur dalam lumpur tak makan
Esoknya nyebar bibit
……………………..
Habis kerja terus ngarit di galangan
Esoknya nyebar bibit
……………………..
Meningkah perut lapar keroncongan
Dini hari sungai besar
Rumah-rumah terbongkar
…………………………
Hujan renyai padi tumbuh
………………………….
Padi subur royo-royo ya paman
Lebat mengalun sebagai lautan
Sambil ngantuk njaga unggas beterbangan
……………………………………………
Pijar hatimu main layang-layang
…………………………………
Minah Ijah minah ijah mari menyayur
Nanti malam kita tidur mendengkur
…………………………………….
Musim kemarau padi kering
Aduh senangya
…………………
Musim panen sudah tiba ya paman
Pesta kerja di tengah sawah kepanasan
Padi digendong minah, dipikul sardi.

4. Diksi Asosiatif.
Diksi asosiatif adalah simbol yang bercirikan membangkitkan kesadaran pembaca akan kata-kata yang laian cotoh:
Meningkah berasosiasi pada kata memukul
Renyai berasosiasi pada kata rinai
Ama berasosiasi pada kata perusak
Kinanti berasosiasi pada kata tembang macapat
Pijar berasosiasi pada kata bercahaya/cahaya
Tembang berasosiasi pada kata nyanyi/lagu
5. Diksi Antropomorfis.
Diksi antropomorfis tidak dapat ditemukan atau contohnya tidak ada dalam puisi Paman-paman Tani Utun ini.

1.2. BAHASA KIASAN
Bahasa kiasan adalah gaya yang dilihat dari segi makna tidak dapat ditafsirkan sesuai dengan makna kata-kata yang membentuknya.Bahasa kiasan merupakan suatu gejala “pengolahan” bahasa baik berupa perbandingan, perwakilan, maupun percampuran asosiasi pengertian yang dimaksud untuk mencapai efek-efek tertentu. Bahasa kiasan yang menghiasi puisi ini adalah:
1. Smile atau persamaan
Persamaan adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Perbandingan yang bersifat eksplisit ini dimaksudkan bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Smile atau persamaan yang ada dalam puisi Paman-paman Tani Utun ini misalnya:
Lebat mengalaun sebagai lautan
2. Metafora
Metafora merupakan uangkapan yang bercirikan adanya perbandingan atau analogi. Bahasa kiasan metafora yang dapat ditemukan dalam puisi ini adalah:
Esoknya lahir banyi
3. Metonimia
Metonimia berasal dari Yunani meta yang berarti menunjukkan perubahan, onoma yang berarti nama. Dengan demikian metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan sesuatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Contoh dalam puisi adalah:
Lenyaplah ama padi.
Ama padi mengarah pada adanya penggantian ciri relasi yang dilandasi oleh adanya pertautan yang sangat dekat seperti yang telah dibicarakan di atas.
4. Personifikasi
Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak beryawa seolah-olah memeiliki sifat kemanusiaan. Piek menggunakan personifikasi ini bertujuan untuk menjadikan kesan suasana dalam puisi ini lebih hidup. Misalnya:
Malam nembang sigromilir ya paman
Meningkah perut lapar keroncongan
…………………………………….
Tembang mengatruh pengganti beras ya paman
5. Hiperbola
Hiperbola adalah semcam gaya bahasa yang mendukung suatu peryataan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Hiperbola yang dipergunakan Piek adalah:
Kerja berjemur dalam lumpur tak makan
Sawah-sawah menggembur hancur
……………………………………
Rumah-rumah terbongkar
6. Sinekdoke
Sinekdok adalah label bagi simbol berupa satuan ungkapan yang bercirikan adanya perwakilan sebagian bagi keseluruhan atau perwakilan keseluruhan bagi sebagiaan . contohnya adalah:
Paman-paman tani utun
………………………..
Selain ada bahasa kiasan dalan puisi Paman-paman Tani Utun ini terdapat juga perlambang yang berfungsi untuk memperjelas makna dan membuat nada dan suasana lebih jelasa. Contohnya:
a. Musim labuh : awal musim hujan
b. Belut : hal tau sesuatu yang sulit untuk ditangkap
c. Merpati :lambang perdamaian

Ketiga contoh di atas meupakan perlambang benda. Sedangkan perlambang suasana berupa:
Musim labuh kurang tidur ya paman
Artinya ketika awal musim hujan para petani kurang beristirahat.
Kerja berjemur dalam lumpur tak makan
Artinya bekerja keras di sawah dengan penuh susah payah makan pun tak sempat
Inilah lagu merdu petani sendu
Artinya pencurahan suasana yang dialami oleh para petani dalam sebuah
penderitaan
1.3. CITRAAN
Citraan adalah satuan anggapan yang dapat menimbulkan hadirnya kesan keindrawian atau kesan mental tertentu (imaji,citraan)
Citraan dalam puisi Paman-paman Tani Utun adalah sebagai berikut:
1. Imaji penglihatan.
Imaji penglihatan merupakan imaji yang bercirikan adanya potensi pembangkitan pengalaman visual. Contohnya:
Besarnya sejari kaki
……………………
Malam nembang sigromilir ya paman
………………………………………
Dini hari kali besar
…………………..
Padi subur royo-royo ya paman
…………………………………
Lebat mengalaun sebagai lautan
…………………………………
Pijar hatimu main layang-layang
Imaji penglihatan pembaca seolah-olah diajak oleh pengarang untuk melihat langsung tentang sesuatu yang dialami oleh pengarang yang dituangkan dalam puisinya.
2. Imaji pendengaran
Imaji yang bercirikan adanya potensi pembangkitan pengalaman auditif. Contohnya:
Merpatinya wok-wok ketekur
………………………………
Malam nembang sigromilir ya paman
………………………………………
Tembang mengatruh pengganti beras ya paman
…………………………………………………
Inilah lagu merdu petani sendu

Imaji pendengaran pembaca seolah-olah menangkap suara-suara yang tercipta di dalam puisi yang ditulis dalam kata-kata.
3. Imaji penciuman.
Imaji yang bercirikan adanya potensi pembangkitan pengalaman sensoris indera penciuman. Jenis imaji ini tidak ditemukan.
4. Imaji peraba.
Imaji yang bercirikan adanya poetnsi pembangkitan pengalaman sensoris indera peraba. Berikut ini contoh dari imaji peraba yang ada dalam puisi Paman-paman Tani Utun:
Musim labuh sawah basah
Indera peraba pembaca seolah-olah diaktifkan untuk merasakan suasana yang terdapat dalam puisi.
5. Imaji suhu.
Imaji yang bercirikan adanya potensi pembangkitan pengalaman sensoris berkaitan dengan suhu. Berikut ini contoh imaji suhu yang terdapat dalam puisi paman-paman Tani Utun:
Musim labuh kurang tidur ya paman
……………………………………
Musim hujan kurang nasi
…………………………
Musim kemarau padi kering
…………………………….
Hujan renyai padi tumbuh
…………………………..
pesta kerja di tengah sawah kepanasaan

6. Imaji gerak
Imaji yang bercirikan adanya potensi pembangkitan pengalaman akan pengamata terhadap sensari gerak. Contohnya:
Musim labuh kurang tidur ya paman
Kerja berjemur dalam lumpur tak makan
Sawah-sawah menggembur hancur
……………………………………
Habis kerja terus ngarit di galangan
Esoknya nyebar bibit
……………………..
Jangan mencuri
……………….
Hujan renyai padi tumbuh
Jangan mengeluh
………………..
Lebat mengalun sebagai lautan
……………………………….
Mari menyiangai sawah basah
………………………………
Sambil ngantuk njaga unggas beterbangan
…………………………………………..
Cah ango-cah angon ayo nembang
Pijar hatimu main layang-layang
…………………………………
Minah Ijah Minah Ijah mari menyayur
Nanti malam kita tidur mendengkur
…………………………………….
Pesta kerja di tengah sawah kepanasan
Padi digendong Minah, dipikul Sardi
Gerakan yang tercipta dalam puisi yang dituangkan dalam kata-kata pembaca turut merasakan bagaimana gerakan itu bekerja.

1.4 SARANA RETORIS
• Repetisi
Piek, dalam puisinya yang berjudul Paman-paman Tani Utun ini selau mengulang kalimat:
Paman-paman tani Untun
Ingatlah
Di setiap baitnya, pengulangan kalimat tersebut untuk memperjelas tentang perenungan sebuah kehidupan yang dialami oleh para petani di pedesaan . Selain itu Piek selalu mengulang kata musim, cah angon, duilah, ya paman, yang dianggap sebagai unsur penting untuk memberikan ciri yang khas pada puisinya Piek.
• Paralelisme
Paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang mendudukii fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Contohnya:
Musim labuh sawah basah
…………………………..
Musim labuh kurang tidur ya paman
• Klimaks
Gaya bahasa ini secara khusus diturunkan dari kalimat periodik. Dengan demikian klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran di setiap kali semakin meningkat kedudukannya dari gagasan sebelumnya, dan berakhir pada gagasan yang paling penting. Misalnya:
Pada bagian 1 bait ke 2
Musim labuh kurang tidur ya paman
Kerja berjemur dalam lumpur tak makan
Sawah-sawah menggembur hancur
Merpatinya wok-wok ketekur
Yang diakhiri dengan penampilan gagasan penting pada bait ke 3
Cangkul luku garu sabit ya paman
Habis kerja terus ngarit di galangan
Esoknya nyebar bibit
Ya ampun berasnya sangat sulit
• Anti klimaks
Bila susunan gagasan-gagasan dalam sebuah kalimat diurutkan secara terbalik dari apa yang diuraikan di atas, maka gaya bahasa tadi disebut antiklimaks. Gaya bahasa ini lahir dari sebuah kalimat yang bersifat kendur. Misalnya:
Pada bagian 5 bait ke 2
Musim panen sudah tiba ya paman
Pesta kerja ditengah sawah kepanasan
Padi digendong Minah, dipikul Sardi
Sayangnya tidak dibawa kelumbung sendiri
Yang diakhiri dengan gagasan yang bersifat mengendur atau tidak begitu penting pada bait terakhir
Tembang mengatruh pengganti beras ya paman
Habis panen padi amblas aduh setan
Tuhan dewa danghyang di gunung lawu
Inilah lagu merdu petani sendu
• Asindeton
Merupakan gaya bahasa yang bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata yang sederajat berurutan, atau klausa-klausa yang sederajat, tidak dihubungkan dengan kata sambung. Biasanya kata-kata itu dipisahkan oleh koma. Misalnya:
Padi digendong Minah, dipikul Sardi
• Polisideton
Merupakan suatu gaya bahasa yang bersifat padat mampat di mana beberapa kata yang sederajat berurutan, atau klausa-klausa yang sederajat, dihubungkan dengan kata sambung. Misalnya:
Tomat terung dan kacang lanjaran
• Pertanyaan retoris
Pertanyaan retoris adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pembicaraan tau penulisan dengan tujuan mencapai efek yang baik dan penekanan yang wajar, dan tidak menghendaki adanya suatu jawaban. Piek dalam puisinya ini tidak mempergunakan pertanyaan retoris.

1.5. TIPOGRAFI
Tipografi atau tata wajah pada puisi ini tiap bait disusun empat baris. Pada tiap bagian di awal bait ditulis dengan paman-paman tani utun kemudian disusul denagn baris kedua yang lebih pendek dengan kalimat ingatlah. Halini menunjukkan adanya kepaduan antara bait yang satu dengan yang lainnya.
Pergantian barisnya disusun oleh kata-kata yang hampir sama panjang pendeknya sehingga menimbulkan kesan tipografi yang tersusun rapi dan ringan.
1.6 VERSIFIKASI
• Rima
Jenis rima yang dipergunakan oleh pengarang berupa rima vertikal. Dengan penjelasan sebagai berikut:
Bagian 1, bait 1 : a b b b
Bait 2 : a a b b
Bait 3 : a a b b
Bagian 2, bait 1 : a b c c
Bait 2 : a a b b
Bait 3 : a a b b
Bagian 3, bait 1 : a b b b
Bait 2 : a a b b
Bait 3 : a a b b
Bagian 4, bait 1 : a b c b
Bait 2 : a a b b
Bait 3 : a a b b
Bagian 5, bait 1 : a b c d
Bait 2 : a a b b
Bait 3 : a a b b
Pengulangan bunyi yang terdapat dalam puisi Paman-paman Tani Utun diciptakan sangat
Teratur (perpaduan bunyi konsonan dan vokal) sehingga membentuk musikalitas atau orkestrasi. Persajakan yang dipergunakan Piek sebagian besar sajak berangkai dengan pola ( a a b b ).
• Irama
Dalam puisi Paman-paman Tani Utun,Piek menciptakan irama secara kreatif. Artinya banyak perpaduan unsur bunyi yang memungkinkan munculnya unsur musikalitas, selain itu ada pengulangan kata-kata tertentu untuk mengikat beberapa baris puisi. Contohnya:
Bagian 1, bait 1
Paman-paman tani utun
Ingatlah
Bagian 2, bait 1
Paman-paman tani utun
Ingatlah
Dan seterusnya.
• Bentuk intern pola puisi
a. Aliterasi
Aliterasa dapat kita lihat pada setiap barisnya yang berupa perulangan bunyi konsonan. Piek menggunakan aliterasi di setiap awal bait pada baris pertama. Misalnya:
Sawah-sawah menggembur hancur
……………………………………
Pegang perut anak bini ya paman
………………………………….
Sore-sore jagung ubi yang dimakan
…………………………………….
Ruma-rumah terbongkar
………………………….
Padi subur royo-royo ya paman
………………………………..
Cah ango-cah angon datanglah
……………………………….
Mari menyiangi sawah basah
……………………………..
Dewi sri-dewi sri jagalah sawh kami
……………………………………..
Musim mareng padi berisi
………………………….
Tomat terung dan kacang lanjaran
………………………………….
Minah ijah-Minah Ijah mari menyayur
………………………………………..
Habis panen padi amblas aduh setan
b. Asonansi
Asonansi yang dipergunakan Piek berupa:
Cangkull uku garu sabit ya paman
…………………………………...
Sore-sore jagung ubi yang dimakan
……………………………………
Dini hari kali besar
…………………..
Mari menyiangi sawah basah
……………………………..
Dewi sri-dewi sri jagalah sawah kami
………………………………………
Musim mareng padi berisi
…………………………..
Pesta kerja di tengah sawah kepanasan
………………………………………..
Inilah lagu merdu petani sendu
• Ragam bunyi metrum
a. Euphony
Euphony yang terdapat dalam puisi ini berupa kata-kata:
Kerja
Merdu
Main
Pesta
Merdu
Kata-kata tersebut merupakan kata yang mampu menuansakan aktifitas penuh gerakan dan gembira.

b. Cacaphony
Cacaphony yang terdapat dalam puisi ini berupa kata-kata:
Hancur
Meningkah
Mengeluh
Amblas
Sendu
Kata-kata tersebut merupakan kata yang mampu menggambarkan kekecewaan atau penderitaan bahkan kesedihan.
c. Anamatope
Anamatope yang terdapat dalam puisi ini berupa kata-kata:
Wok-wok : tiruan bunyi burung merpati
Keroncongan : tiruan bunyi prilaku manusia (bernyanyi).


2. BATIN/ ISI/ HAKIKAT
2.1 TEMA (THEME)
Piek dalam puisinya yang berjudul Paman-paman Tani Utun ini mengambil tema tentang kritik sosial dengan latar pedesaan. Di sisni Piek menggambarkan para petanai yang menghadapi awal musim hujan, dilanjutkan dengan menggarap sawah. Bisa dibayangkan sebagai petani kecil yang tidak memiliki lahan sendiri, mereka hanya mengandalkan hasil dari lahan milik orang lain. Mereka bersorak-sorai karena hasil panen menggembirakan, namun kemudian mereka sadar bahwa semua itu bukanlah hanya miliknya sendiri. Mereka hanya seorang buruh tani.
Kritik sosial ini ditujukan pada para pemilik lahan atau para penguasa yang selalu mengambil keuntungan besar dari masyarakat kecil yang selalu tertindas. Hal ini dapat dilihat pada bait terakhir dalam puisi.
Tembang mengatruh pengganti beras ya paman
Habis panen padi amblas aduh setan
Tuhan dewa danghyang di gunung lawu
Inilah lagu merdu petani sendu.

2.2. PERASAAN (FEELING)
Piek di sini mengeksplorasi alam dan menggambarkan manusia-manusia yang berada di desa. Situasi desa yang digambarkan dalam puisinya Piek termasuk suara burung, hal ini benar-benar keadaan pedesaan yang sifatnya masih alami dan belum terjamah oleh pengaruh suasana kota. Sajak Pike muatannya mencirikan sebagai seorang guru sastra yang selalu merenungi kehidupan.
Dalam puisinya ini, Piek menggambarkan kepeduliaanya terhadap para petani kecil, yang tentunya sebagai orang yang hidup dipedasaan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka hanya bekerja sebagai buruh tani. Dengan penuh semangat Piek memberikan dukungan kepada para petani kecil untuk terus berjuang. Pada puisi ini ada baris yang mengungkapkan:
Dewi sri-dewi sri jagalah sawah kami
Leyapkankanlah ama padi
Hal ini menunjukkan adanya mitos bahwa Dewi sri adalah penjaga padi, dewi kesuburan. Begitu besarnya rasa simpatik yang ditunjukkan kepada para petani kecil.

2.3. SUASANA DAN NADA (SENSE TONE)
Piek pada puisi ini kesannya adalah bersifat menasehati atau mengingatkan, hal ini terlihat pada kata-kata:
Paman-paman tani utun
Ingatlah

2.4. PESAN (MASSAGE).
Amanat yang hendak disampaikan Piek dalam puisinya ini mengandung makna bahawa kita harus menjalani kehidupan ini dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Ketika kita mendapatkan cobaan dari Tuhan, janganlah murka. Dengan kesabaran kita melakukan sesuatu tentu akan kita petik hasilnya dengan memuaskan, walaupun hal ini dapat kita rasakan hasilnya dalam waku yang relatif panjang.

DAFTAR PUSTAKA
Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi, Jakarta : Erlangga.
Keraf, Gorys. 1981. Diksi dan Gaya Bahasa, Jakarta : Nusa Indah Kanisius.

2 komentar:

  1. keren my friend,.. salut untuk bulir-bulir fikiran mu, sungguh membanggakan...

    BalasHapus
  2. ajari aku dengan fikiranmu mengaji diri melukis nurani terima kasih teman atas kreativitasnya

    BalasHapus