ANDRIW

Foto saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Minggu, 24 April 2011

KAJIAN STILE CERPEN “DALANG SEMEDI” KARYA IMAN BUDHI (Andri Wicaksono)

BAB I
KAJIAN TEORI

Secara etimologis, stylistics berkaitan dengan style (bahasa Inggris). Style artinya gaya sehingga stylistics dapat diterjemahkan sebagai ilmu tentang gaya. Gaya dalam kaitan ini mengacu pada pemakaian atau penggunaan bahasa dalam karya sastra (Sayuti via Jabrohim, 2001: 172). Menurut Nurgiyantoro (1998: 277), stile pada hakikatnya merupakan teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan diungkapkan. Teknik itu sendiri dipihak lain juga merupakan suatu bentuk pilihan, dan pilihan itu dapat dilihat pada bentuk ungkapan bahasa seperti yang dipergunakan dalam sebuah karya sastra.
Harimurti via Pradopo (1999 : 264) mengemukakan bahwa gaya bahasa berkaitan dengan pemanfaatannya atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, lebih khusus adalah pemakaian ragam bahasa tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, dan lebih luas gaya bahasa itu merupakan keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra.
Pengkajian stile sebuah teks sastra penting dilakukan untuk mengidentifikasi dan menentukan karakter karya sastra. Dengan mengetahui teks sastra tersebut, dapat dicoba untuk menganalisis efek estetis yang ingin dicapai oleh penulis. Leech & Short via Nurgiyantoro (1998: 289) mengemukakan bahwa unsur stile (ia memakai istilah stylistic categories) terdiri atas unsur (kategori) leksikal, gramatikal, figures of speech, serta konteks dan kohesi. Pengidentifikasiannya dapat dilakukan dengan mengelompokkan dan mendata frekuensi pemunculan yang dominan. Setelah diketahui, dapat dianalisis maksud yang dikandung dan efek estetis yang ingin dicapai. Unsur leksikal yang dimaksud sama pengertiannya dengan diksi, yaitu yang mengacu pada pengertian penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang. Sementara itu, gramatikal menyaran pada pengertian struktur gramatikal. Adapun retorika merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis, yakni suatu pengonkretan penyampaian sehingga lebih menggugah indrawi pembaca agar seolah-olah pembaca benar-benar ikut terlibat merasakan, melihat, dan mendengar apa yang dilukiskan pengarang. Unsur retorika meliputi: pemajasan, penyiasatan struktural, dan pencitraan (Nurgiyantoro, 1998: 296 - 305). Sementara kohesi merupakan hubungan makna antar kalimat. Berikut ini penjelasan tiap-tiap unsur tersebut:

A. Unsur Leksikal
Unsur leksikal yang dimaksud sama pengertiannya dengan diksi, yaitu yang mengacu pada pengertian penggunaan kata-kata tertentu yang disengaja dipilih oleh pengarang (Nurgiyantoro, 1998: 290). Masalah pemilihan kata menurut Chapman (via Nurgiyantoro, 1998: 290) dapat melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu:
Pilihan kata erat hubungannya dengan masalah sintagmatik dan paradigmatik. Sintagmatik berhubungan dengan hubungan kata secara linier untuk membentuk sebuah kalimat. Bentuk-bentuk kalimat yang diinginkan dan disusun, misalnya sederhana, lazim, unik, atau lain daripada yang lain, dalam banyak hal dapat mempengaruhi kata, khususnya bentuk kata. Paradigmatik berkaitan dengan pilihan kata di antara sejumlah kata yang berhubungan secara makna. Dalam hal ini, mestinya pengarang memilih kata yang berkonotasi paling tepat untuk mengungkapkan gagasannya yang mampu membangkitkan asosiasi tertentu walau kata yang dipilihnya itu mungkin dari bahasa lain (Nurgiyantoro, 1998: 291).
Menurut Nurgiyantoro 1998: 291-292), untuk tinjauan secara umum, kita dapat mengidentifikasi kata-kata dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Kata yang dipergunakan sederhana atau kompleks?
2. Kata dan ungkapan formal atau kolokial, artinya kata-kata baku bentuk dan makna ataukah kata-kata seperti dalam percakapan sehari-hari yang nonformal, termasuk penggunaan dialek?
3. Kata atau ungkapan dalam bahasa karya sastra yang bersangkutan atau dari bahasa lain apakah mempergunakan kata dan ungkapan dari bahasa Indonesia atau bahasa lain, misalnya bahasa Jawa dan bahasa Asing?
4. Bagaimanakah arah makna kata yang ditunjuk, apakah bersifat referensial ataukah asosiatif, denotasi, ataukah konotasi?
Identifikasi berikutnya adalah berdasarkan jenis kata. Identifikasi ini sebenarnya dapat langsung dikaitkan dengan yang di atas mengingat bahwa identifikasi sifat umum di atas juga dilakukan untuk tiap jenis kata. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan antara lain sebagai berikut (Nurgiyantoro, 1998: 292):
1. Apakah jenis kata yang dipergunakan itu? Kemudian diikuti pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang sesuai dengan jenis kata yang bersangkutan.
2. Kata benda, kata sederhana atau kompleks, abstrak, atau konkret? Jika abstrak menyaran pada makna apa, kejadian, persepsi, proses, kualitas moral, sosial? Jika konkret menunjuk pada apa, misalnya benda, makhluk, ataukah manusia?
3. Kata kerja, sederhana ataukah kompleks, transitif ataukah intransitif, makna menyaran pada pernyataan, tindakan ataukah peristiwa, atau yang lain?
4. Kata sifat untuk menjelaskan apa, misalnya sesuatu yang bersifat fisik, psikis, visual, auditif,referensial, emotif, ataukah evaluatif?
5. Kata bilangan, tentu ataukah tak tentu, dan untuk menjelaskan apa?
6. Kata tugas, apa wujudnya, misalnya : dan, atau, lalu, kemudian, pada tentang, yang sering dikelompokkan dalam konjungsi dan preposisi?

B. Unsur Gramatikal
Unsur gramatikal yang dimaksud menyaran pada pengertian struktur kalimat. Dalam kegiatan komunikasi bahasa, juga jika dilihat dari kepentingan stile, kalimat lebih penting dan bermakna daripada sekedar kata walau kegayaan kalimat dalam banyak hal juga dipengaruhi oleh pilihan katanya. (Nurgiyantoro, 1998: 293).
Dalam sastra, pengarang mempunyai kebebasan penuh dalam mengkreasikan bahasa sehingga adanya berbagai bentuk penyimpangan kebahasaan, termasuk penyimpangan stuktur kalimat, merupakan hal yang wajar dan sering terjadi. Penyimpangan struktur kalimat itu sendiri dapat bermacam-macam wujudnya, bisa jadi berupa pembalikan, pemendekan, pengulangan, penghilangan unsur tertentu, dan lain-lain, yang kesemuanya tentu dimaksudkan untuk mendapatkan efek estetis tertentu di samping untuk menekankan pesan tertentu (Nurgiyantoro, 1998: 293).
Kegiatan analisis kalimat, juga dapat dilakukan dengan cara-cara berikut, baik hanya diambil sebagian maupun seluruhnya, bahkan jika di pandang perlu dapat ditambahkan dengan unsur lain (Nurgiyantoro, 1998: 294-295).
1. Kompleksitas kalimat: sederhana ataukah kompleks struktur kalimat yang digunakan, bagaimana keadaannya secara keseluruhan? Berapakah rata-rata jumlah kata perkalimat? Bagaimanakah variasi penampilan struktur kalimat yang sederhana dan kompleks, sifat hubungan apakah yang menonjol, koordinatif, sub ordinatif ataukah parataksis?
2. Jenis kalimat: jenis kalimat apa sajakah yang dipergunakan; kalimat deklaratif (kalimat yang menyatakan sesuatu), kalimat imperatif (kalimat yang mengandung makna perintah atau larangan), kalimat interogatif (kalimat yang mengandung makna pertanyaan), kalimat minor (kalimat yang tak lengkap fungtor-fungtornya, mungkin berupa minor berita, perintah, tanya atau seru)? Jenis kalimat manakah yang menonjol apa fungsinya? Pembedaan jenis kalimat ini dapat juga ditinjau secara lain, misalnya aktif pasif, nominal verbal, langsung tak langsung, dan sebagainya.
3. Jenis klausa dan frase: klausa dan frase apa sajakah yang menonjol, sederhana ataukah kompleks? Jenis klausa dan frase yang ada pastilah banyak sekali, kita dapat membatasi diri dengan mengambil sejumlah di antaranya yang memang terlihat dominan.

C. Retorika
Retorika merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis. Ia diperoleh melalui kreativitas pengungkapan bahasa, yakni bagaimana pengarang menyiasati bahasa sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasannya (Nurgiyantoro, 1998: 295). Altenbernd lewat Pradopo (1999: 92) mengemukakan bahwa sarana retorika merupakan sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran. Dengan muslihat itu para penyair berusaha menarik perhatian, pikiran, hingga pembaca berkontemplasi atas apa yang dikemukakan penyair. Pada umumnya, sarana retorika ini menimbulkan ketegangan puitis karena pembaca harus memikirkan efek apa yang ditimbulkan dan dimaksudkan oleh penyairnya (Pradopo, 1999: 94).
Pembicaraan unsur retorika berikut meliputi bentuk-bentuk yang berupa pemajasan, penyiasatan struktur, dan pencitraan, dengan memasukkan contoh-contoh antara lain dari Keraf (lewat Nurgiyantoro 1998: 297-306), sebagai berikut:
a. Pemajasan
Pemajasan (figure of thought) merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan, yang maknanya tidak menunjuk pada makna harafiah kata-kata yang mendukungnya melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang tersirat. Jadi, ia merupakan gaya yang sengaja mendayagunakan penuturan dengan memanfaatkan bahasa kias. Memahami bahasa kias, kadang-kadang memerlukan perhatian yang khusus untuk menangkap pesan dari pengarang. Penggunaan bentuk-bentuk kiasan dalam kesastraan dengan demikian merupakan salah satu bentuk penyimpangan kebahasaan, yaitu penyimpangan makna.
Penggunaan stile yang berwujud pemajasan mempengaruhi gaya dan keindahan bahasa karya yang bersangkutan namun penggunaannya haruslah tepat. Artinya, ia haruslah dapat menggiring ke arah interpretasi pembaca yang kaya dengan asosiasi-asosiasi, di samping juga dapat mendukung terciptanya suasana dan nada tertentu. Selain itu, penggunaan bentuk-bentuk ungkapan itu haruslah baru dan segar, tidak hanya bersifat mengulang bentuk-bentuk tertentu yang telah banyak dipergunakan.
Gorys Keraf (1981, lewat Nurgiyantoro 1998: 298) membedakan gaya bahasa retoris dan kiasan. Gaya retoris adalah gaya bahasa yang maknanya harus diartikan menurut nilai lahirnya. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa yang mengandung unsur kelangsungan makna. Sebaliknya, gaya bahasa kiasan adalah gaya bahasa yang maknanya tidak dapat ditafsirkan sesuai dengan makna kata-kata yang membentuknya.
Pemilihan dan penggunaan bentuk kiasan bisa saja berhubungan dengan selera, kebiasan, kebutuhan, dan kreatifitas pengarang. Bentuk-bentuk pemajasan yang banyak dipergunakan pengarang adalah bentuk perbandingan atau persamaan, yaitu yang membandingkan sesuatu dengan yang lain melalui ciri-ciri kesamaan antara keduanya, misalnya yang berupa ciri fisik, sifat, keadaan, suasana, tingkah laku, dan sebagainya.
Di bawah ini akan dipaparkan beberapa pemajasan yang umum terdapat dalam puisi Indonsia, sebagai berikut (Nurgiyantoro, 1998: 299-300):
1. Simile menyarankan pada adanya perbandingan yang langsung dan eksplisit dengan mempergunakan kata-kata tugas tertentu sebagai penanda keeksplisitan seperti: bagai, bagaikan, sebagai, laksana, mirip, seperti, bak, dan sebagainya.
2. Metafora merupakan gaya bahasa perbandingan yang sifatnya tidak langsung dan implisit. Hubungan antara sesuatu yang dinyatakan pertama dengan yang kedua hanya bersifat sugesti, tidak ada kata-kata petunjuk perbandingan eksplisit. Contoh ungkapan: mengejar cita-cita, memegang kabatan, mata keranjang, dan jalan buntu. Pradopo (1999: 66) menyebut metafora sebagai bahasa kiasan seperti perbandingan (simile) tetapi tidak menggunakan kata pembanding, misalnya: “Bumi ini perempuan jalang”, “Sorga hanya permaianan sebentar”.
3. Personifikasi merupakan gaya bahasa yang memberi sifat-sifat benda mati dengan sifat-sifat seperti yang dimiliki manusia sehingga dapat bersikap dan bertingkah laku sebagaimana halnya manusia. Personifikasi haruslah manusia dan atau sifat-sifat manusia. Kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia, “Malas dan malu nyala pelita” (Pradopo, 1999: 75).
4. Metonimi yaitu sebuah gaya yang menunjukkan adanya pertautan atau pertalian. Misalnya, seseorang suka membaca karya-karya Ahmad Tohari kemudian dikatakan “Ia suka membaca Tohari”.
5. Hiperbola yaitu gaya bahasa yang melebih-lebihkan, contoh: “hatiku terbakar”, “darahku terasa mendidih”, “tangisnya menyayat hati”, dan sebagainya.
6. Perumpamaan epos ialah perbandingan yang dilanjutkan atau yang diperpanjang, yaitu dibentuk dengan cara melanjutkan sifat-sifat pembandingnya lebih lanjut dalam bentuk kalimat-kalimat atau frase-frase yang berturut-turut, misalnya (Pradopo, 1999: 69):
“Ditengah sunyi menderu rinduku,
Seperti topan. Meranggutkan dahan,
Mencabutkan akar, meranggutkan kembang kalbuku.”
7. Allegori, ialah cerita kiasan ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan atau lukisan kiasan ini mengiaskan hal lain atau kejadian lain (Pradopo, 1999: 69).
b. Penyiasatan Struktur
Dalam kaitannya dengan tujuan untuk mencapai efek retoris sebuah pengungkap, peranan penyiasatan struktur tampaknya lebih menonjol dibandingkan dengan pemajasan. Ada bermacam gaya bahasa yang terlahir dari penyiasatan strukutur kalimat. Salah satu gaya yang banyak digunakan orang adalah yang berangkat dari bentuk pengulangan, baik yang berupa pengulangan kata, bentuk kata, frase, kalimat, maupun, bentuk-bentuk yang lainnya, seperti sebagai berikut (Nurgiyantoro, 1995: 301-304):
1. Repetisi bentuk gaya pengulangan dengan menampilkan pengulangan kata atau kelompok kata yang sama. Kata atau kelompok kata yang diulang ke dalam repetisi bisa terdapat dalam satu kalimat atau lebih, dan berada pada posisi awal, tengah, atau di tempat lain.
2. Anafora menampilkan pengulangan kata-kata pada awal kalimat berupa kalimat yang berurutan.
3. Polisindenton adalah berupa pengulangan kata tugas tertentu, misalnya kata “dan” sedangkan asindenton merupakan bentuk pengulangan yang berupa penggunaan pungtasi yang berupa “tanda koma”.
4. Pertanyaan retoris menekankan pengungkapan dengan menampilkan semacam pertanyaan yang sebenarnya tak menghendaki jawaban.
5. Paradoks adalah cara penekanan penuturan yang sengaja menampilkan unsur pertentangan di dalamnya, misalnya: “ Ia merasa kesepian di tengah berjubelnya manusia metropolitan”. Paradoks yang mempergunakan penjajaran kata yang berlawanan disebut oksimoron, misalnya: “ hidup yang terbaring mati” (Pradopo, 1999: 99-100).
6. Tautologi ialah sarana retorik yang menyatakan hal atau keadaan dua kali, maksudnya supaya arti kata atau keadaan itu lebih mendalam bagi pembaca atau pendengar. Sering kata yang digunakan untuk mengulang itu tidak sama, tetapi artinya sama atau hampir sama, misalnya “silih berganti tiada berhenti”, “tiada kuasa tiada bergaya”.
7. Pleonasme (keterangan berulang) ialah sarana retorik yang sepintas lalu seperti tautologi tetapi kata yang kedua telah tersimpul dalam kata yang pertama. Dengan cara demikian, sifat atau hal yang dimaksud itu lebih terang lagi bagi pembaca atau pendengar, misalnya: “naik meninggi, turun melembah jauh ke bawah, tinggi membukit, jatuh ke bawah”.
8. Enumerasi ialah sarana retorik yang berupa pemecahan suatu hal atau keadaan menjadi beberapa bagian dengan tujuan agar hal atau keadaan itu lebih jelas dan nyata bagi pembaca atau pendengar. Dengan demikian, enumerasi juga menguatkan suatu pernyataan atau keadaan, memberi intensitas, misalnya:
“Di dalam suka di dalam duka
Waktu bahagia waktu merana,

Masa tertawa masa kecewa
Kami berdua dalam nafasmu”.
9. Paralelisme (persejajaran) ialah mengulang isi kalimat yang dimaksud tujuannya serupa. Kalimat berikut yang hanya dalam satu atau dua kata berlainan dari kalimat yang mendahului. Nurgiyantoro (1995: 302) mengatakan bahwa paralelisme menyarankan pada penggunaan bagian-bagian kalimat yang mempunyai kesamaan struktur gramatikal (dan menduduki fungsi yang sama pula) secara berurutan. Contoh majas paralelisme
“Segala kulihat segala membayang,
Segala kupegang segala mengenang”.
10. Retorik retisense sarana ini mempergunakan titik banyak untuk mengganti perasaan yang tak terungkapkan, misalnya:
“Kupandang bayang melompat-lompat
Di padang rumput ;
Kulihat daun bergerak cepat……..
O, kusuka sebut………………….”
11. Kiasmus ialah sarana retorika yang menyatakan sesuatu diulang, dan salah satu bagian kalimatnya dibalik posisinya, misalnya: “diri mengeras dalam kehidupan-kehidupan mengeras dalam diri”.

c. Citraan
Citraan ialah gambaran-gambaran dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya (Altenbernd lewat Pradopo 1999: 80) sedangkan setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Gambaran pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai (gambaran) yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata, saraf, penglihtan, dan daerah-daerah otak yang berhubungan (Pradopo, 1999: 80).
Citraan mempermudah penikmat sastra dapat memahami dan merasakan bagaimana sebuah karya sastra banyak menggambarkan setiap keadaan yang ditulis dalam karya sastra. Pencitraan merupakan gambaran yang dirasakan oleh alat indera yang kita miliki serta diungkapkan lewat kata-kata. Macam citraan meliputi kelima indera manusia: citaan penglihatan (visual), pendengaran (auditoris), gerakan (kinestik), rabaan (taktil ternal), dan penciuman (olfaktori). Namun, pemanfaatannya dalam sebuah karya tidak sama intensitasnya (Nurgiyantoro, 1995: 304-305).

d. Kohesi
Antara bagian kalimat yang satu dengan yang lain, atau kalimat yang satu dengan yang lain, terdapat hubungan yang bersifat mengaitkan antar bagian kalimat atau antara kalimat itu. Bagian-bagian dalam sebuah kalimat, atau kalimat-kalimat dalam sebuah alinea, yang masing-masing mengandung gagasan, tidak mungkin disusun secara acak (Nurgiyantoro, 1995: 306).
Ada dua macam kohesi yang terbetuk secara linear, yaitu: sambungan (linkage) dan rujuk-silang (cross reference). Sambungan merupakan alat kohesi yang berupa kata-kata sambung sedangkan rujuk silang berupa sarana bahasa yang menunjukkan kesamaan makna dengan bagian yang direferensi (Nurgiyantoro, 1995: 306-307). Selanjutnya, penanda kohesi yang berupa sambungan dalam bahasa Indonesia adalah sebagian preposisi ataupun konjungsi, yaitu berupa kata-kata tugas seperti dan, kemudian, sedangkan, tetapi, namun, bahwa, sebab, dan jika. Adapun rujuk-silang berupa pengulangan kata, pengurangan kata. Bentuk penyingkatan, pengurangan, atau penggantian yang banyak dipergunakan adalah berupa pemakaian kata-kata ganti persona.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Unsur Leksikal
Berhubungan dengan aspek paradigmatik, cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa menggunakan 1154 kata sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa terdiri atas 31 paragraf dan 168 kalimat. Jumlah kalimat tiap paragraf berbeda-beda, begitu juga dengan jumlah kata dalam tiap kalimat.
Dalam cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa tidak ditemukan kata-kata asing. Akan tetapi, cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa lebih banyak menggunakan kata dari bahasa Jawa, terutama istilah dalam bidang pedalangan, yaitu:
- talu: pertunjukan wayang dimulai
- tencep kayon: pertunjukan wayang berakhir
- suluk: sejenis tembang yang dibawakan dalang untuk menggambarkan suasana hati yang diceritakan
- bawa: semacam introduksi dalam mengawali sebuah tembang Jawa
- kesrimpung wiraga: terjerat prilaku
- mukti apa mati: hidup atau mati
- nggegulang ulah kridhaning pedhalangan: belajar seluk beluk wayang dan menjadi dalang
- babar: mementaskan
- babon: ayam betina
- biyung: ibu/emak
- permana: berhasil
- mantram: mantra
- lelaku: ritualisasi
- sengkala: gangguan yang berasal dari alam supranatural
- sabet: memainkan wayang kulit
- 0antawacana: menirukan suara (pembicaraan) masing-masing wayang sesuai karakternya
- kanuragan: kadigdayaan
- matun: menyiangi
- ngrasuk: memakai, mengenakan
- kelir: layar putih untuk pergelaran wayang kulit
- gonjang-ganjing: bergetar seperti terkena gempa
- greget-saut: pembicaraan wayang
- wirama: irama lakon
- kandha: dongeng, narasi
- wirasa: penghayatan
- gara-gara: guyonan Semar, Petruk, Gareng, Bagong
- undha-usuking: tataran kebahasaan
- tatas-titis-tetes: lancar pas dan mengena
- durung asat pupuk lempuyangi: ibarat masih bayi
- wayang ilang gapite: wayang kehilangan kerangka
- kepingin ngunduh: kepingin nanggap
- mateg aji: mengeluarkan ajian
- ambruk: jatuh terpuruk
- dan lain-lain
Penggunaan kata-kata seperti tersebut di atas diakibatkan oleh tidak adanya kosakata bahasa Indonesia yang sama persis maknanya. Selain itu, penggunaan kata-kata tersebut dapat menambah nilai estetis dibandingkan jika menggunakan kata-kata dari kosakata bahasa Indonesia. Hal itu menunjukkan pula bahwa pengarang benar-benar tahu persis dunia pedalangan dan budaya Jawa pada umumnya. Dengan demikian stile pengarang benar-benar sangat spesifik karena pengarang-pengarang lain belum tentu memiliki stile seperti ini.

B. Unsur Gramatikal
1. Jenis Kalimat
Cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa ini tersusun atas kalimat deklaratif, kalimat imperatif, kalimat introgatif, kalimat sederhana, kalimat komplek, kalimat minor, kalimat aktif, dan kalimat pasif. Kalimat deklaratif berjumlah 149, kalimat imperatif berjumlah 6, kalimat introgatif berjumlah 19, kalimat sederhana berjumlah 97, kalimat komplek berjumlah 59, kalimat minor berjumlah 67, kalimat aktif berjumlah 133, kalimat pasif berjumlah 27 buah.
Kalimat deklaratif lebih mendominasi dibandingkan dengan kalimat imperatif dan kalimat interogratif. Hal ini menunjukkan bahwa cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa disampaikan secara naratif. Artinya, pengarang cenderung ber-stile nasrasi. Dengan cara ini, pengarang lebih leluasa untuk memunculkan pesan yang akan disampaikan, tidak perlu banyak-banyak lewat tokoh dalam penceritaan. Penggunaan kalimat introgatif dan kalimat imperatif yang cenderung ini muncul dalam percakapan tokoh dan tidak memberikan andil besar dalam karakterisasi stile pengarang.

2. Kompleksitas Kalimat
Cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa lebih banyak menggunakan kalimat sederhana daripada kalimat komplek dengan perbandingan 31:19. Dengan demikian, secara umum penceritaan cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa lebih didominasi oleh kalimat sederhana. Hal ini menunjukkan bahwa pengarang memudahkan pembaca untuk memahami alur cerita sebab konsentrasi pembaca lebih ke pemahaman istilah-istilah bidang pedalangan. Jika penggunaan kalimat komplek lebih banyak maka pembaca akan merasa kesulitan untuk memahami isi cerita karena konsentrasi pembaca akan terpecah dalam menguraikan kalimat komplek dengan memahami makna istilah istilah yang ada dalam cerpen.


B. Retorika
Unsur retorika yang terdapat dalam cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa adalah: pemajasan, penyiasatan struktural, dan citraan. Perincian mengenai hal tersebut akan dikemukakan di bawah ini:
1. Pemajasan atau figure of thought
Berdasarkan hasil analisis cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa terdiri atas majas simile sebanyak 5, metafora sebanyak 9, personifikasi 1, metonimia 1, hiperbola sebanyak 4, eufimisme 2, dan majas litotes 1 buah.
a. Simile
 Mulai talu sampai tencep kayon, Semedi mendalang ibarat layang-layang tak seimbang.
 Tak disangka-sangka, setelah mau tidur panasnya badan malah memuncak.
 Karenanya, waktu berangkat ke Yogya nyaris seperti prajurit ke medan perang.
 Karenanya, waktu berangkat ke Yogya nyaris seperti prajurit ke medan perang.
 Sampai rumah, Semedi tak ubahnya wayang ilang gapite.

b. Metafora
 Jam terbangnya saja yang berbeda.
 Jika diadu dengan dalang muda se-DIY, dirinya masih dapat menandingi
 Bukan semata nggegulang ulah kridaning pedhalangan, namun juga mengasah kebatinan yang malandasi profesi ini.
 Tapi, entah bagaimana asal muasalnya, dua hari sebelum mbabar lakon jatah undiannya Kresna Duta, di rumah ada gara-gara.
 Akhirnya, Semedi yang harus turun tangan.
 Sudahlah, besarkan hatimu.
 Kepercayaan diri tinggi karena kemampuan lahir batin sudah dikantongi.
 Pokoknya siapa pun tak akan menduga kalau Semedi saat itu sedang sakit, melawan panas dingin yang terus menjepit.
 Dirinya bakal menjadi wayang.
c. Personifikasi
 Tanpa dilambari olah batin dan kanuragan, wayang yang dipegang, dimainkan, tetap terasa mati.
d. Metonimia
 Bagaimana, diminumi bodrek?
e. Hiperbola
 Itu semua karena mendalang kali ini benar-benar bertaruh nyawa.
 Sering kali malah terbelalak.
 Ternganga keheranan.
 Dahsyat kelewat-lewat.
f. Eufimisme
 Demikian juga amplopnya
 Hadiahnya dari Sri Sultan, dan sebuah amplop.
g. Litotes
 Sebab, jelek-jelek terpilih mewakili Sleman ikut Festival Dalang Muda se-Yogyakarta.
h. Epos
 Mulai talu sampai tencep kayon, Semedi mendalang ibarat layang-layang tak seimbang. Yang dijaga, dikendalikan, tak ada lain kecuali bagaimana mengikuti arah angin. Jangan sampai berpusing-pusing dan menyuruk ke bawah hingga terjerembab ke tanah. Artinya, dapat mendalang semalam suntuk jangan sampai kehilangan suluk, terjerat bawa, keserimpung wiraga, kehabisan cerita.



2. Penyiasatan struktur atau figure of speech
Berdasarkan hasil analisis, cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa terdiri dari polisindenton 1 buah, tautologi 8, pertanyaan retoris 7, dan pleonasme 2. Berikut ini contoh masing-masing penyiasatan struktur tersebut:
a. Polisedenton
 Doakan saja aku kuat sampai pagi. Sampai tancep kayon.

b. Tautologi
 Yang dijaga, dikendalikan, tak ada lain kecuali bagaimana mengikuti arah angin.
 Artinya, dapat mendalang semalam suntuk jangan sampai kehilangan suluk, terjerat bawa, keserimpung wiraga, kehabisan cerita.
 Malu sambat ke orang tua, Semedi lari ke Mbah Wandi, mantan dalang yang ilmunya yang dicecap, disadap, bertahun-tahun ini.
 Yaitu, menghirup, menyadap, energi kekuatan alam seisinya dengan cara telanjang mengelilingi desa.
 Tidak bisa hidup, tak punya ruh, greget.
 Selesai berdandan, ngrasuk busana dalang, panas yang kemarin datang lagi.
 Tak menyangka, tak bermimpi, gelar terbaik itu jatuh ke tangan Semedi.
 Bergetar, gonjang-ganjing, lalu ditarik turun, berhenti tiga kali.

c. Pertanyaan retoris
 “Tapi, sungguh?
 Kamu kuat sungguh?
 Yang jadi pikiran, apakah nanti bisa mendalang seperti waktu lomba dulu?
 “Ah, perempuan mana tahu?
 Tapi, apa lacur?
 “Jadi, benar pertanyaan si mbok-mu?
 Coba kalau sampai ambruk dan pingsan di depan kelir?

d. Pleonasme
 Jangan sampai berpusing-pusing dan menyuruk ke bawah hingga terjerembab ke tanah.
 Terpuruk lemas tak berdaya.

3. Citraan
Dalam cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa terdapat lima macam citraan, yaitu: citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan gerak, citraan penciuman, dan citraan rabaan.
Penggunaan citraan-citraan tersebut memberikan kesan lebih hidup, konkrit, dan jelas sehingga jalan cerita yang disajikan menjadi terasa lebih mudah dicerna dan diikuti. Pembaca seolah-olah benar-benar melihat, mendengar, bergerak, mencium dan meraba seperti lukisan yang dikemukakan oleh pengarang. Berikut beberapa citraan yang dikemukakan dalam cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa, yaitu:
a. Citraan perabaan (tactil termal)
 Malamnya, selesai salat Isya’ tiba-tiba badan jadi dingin.
 Namun, kalau dipegang panas.
 Sewaktu lelaku, kadang bukan hanya panas dingin.
 Demikian nasehat Mbah Wandi sambil menepuk-nepuk punggung Semedi.
 Tak disangka-sangka, setelah mau tidur panasnya badan malah memuncak.
 Tanya bapaknya sambil memegangi bahu Semedi.
 Begitu meraba dahi anaknya, dia terperanjat.
 Selesai berdandan, ngrasuk busana dalang, panas yang kemarin datang lagi.
 Menahan panas badan yang seperti membakar saja.
 Pokoknya siapa pun tak akan menduga kalau Semedi saat itu sedang sakit, melawan panas dingin yang terus menjepit.
 Badan panas campur dingin.
 Hidup mati melawan panas dingin yang menjerat, sekaligus harus berhasil mbabar lakon Kresna Duta semalam suntuk.
 Semalam suntuk bapak Semedi tak bisa memicingkan mata.

b. Citraan penglihatan (visual)
 Mata jadi berkunang-kunang.
 Siangnya, melihat Semedi tiduran, si mbok-nya khawatir.
 Tanya bapaknya gugup melihat wajah Semedi memerah, dan nafasnya mengangsur-angsur.
 Sering kali malah terbelalak.
 Tua muda sama-sama terpukau.
 Puas menyaksikan tontonan yang bermutu.

c. Citraan pendengaran (auditoris)
 Greget-saut, sabet, antawecana, bawa, wirama, suluk, kanda, wiraga, wirasa, sedap dan mantap.
 Mendengar bapak dan si mbok-nya berdebat, Semedi menutup telinganya dengan bantal.

d. Citraan penciuman (alfaktori)
 Parit mampat sedalam dua meter, yang airnya pekat kotor dan baunya amis itu, terpaksa diceburi.

e. Citraan gerak (kinestetik)
 Namun, kalau dipegang panas.
 Sambil merasakan pusing dan gemetar, Semedi pamit.
 Parit mampat sedalam dua meter, yang airnya pekat kotor dan baunya amis itu, terpaksa diceburi.
 Yaitu, menghirup, menyadap, energi kekuatan alam seisinya dengan cara telanjang mengelilingi desa.
 Lalu mengenakan pakaian lagi seperti sedia kala.
 Tanpa dilambari olah batin dan kanuragan, wayang yang dipegang, dimainkan, tetap terasa mati.
 Mendengar bapak dan si mbok-nya berdebat, Semedi menutup telinganya dengan bantal.
 Membantu bapaknya matun padi.
 Dengan gagah, wajah tengadah.
 Karena badan jadi lemas, Semedi terpaksa membaringkan diri di kamar ganti.
 Semedi menggeleng.
 Tanya bapaknya sambil memegangi bahu Semedi.
 Semedi mengangguk.
 Semedi menggedok kotak lima kali.
 Gunungan dicabut.
 Bergetar, gonjang-ganjing, lalu ditarik turun, berhenti tiga kali.
 Membuat penonton berkali-kali bertepuk tangan.
 Mungkin digigit nyamuk anopeles ketika mengambil Si Beruk di parit mampat pinggir desa.
 Ketika dibuka berisi uang dua setengah juta.
 Coba kalau sampai ambruk dan pingsan di depan kelir?

C. Kohesi
Ada dua macam kohesi yang terbentuk secara linier, yaitu sambungan (inkage) dan rujuk silang berupa sarana bahasa yang menunjukkan kesamaan makna yang direferensi. Dalam cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa ini menggunakan kohesi sambungan dan rujuk silang.
1. Kohesi sambungan (inkage)
Kalimat tersebut antara lain:
 Dari Sleman, dirinya dan Sarjuni.
 Sejak kemarin kamu nggak enak badan?
 Tak ada yang tahu dirinya mampu berbuat seperti itu karena ia merasa tengah berjuang keras.
 Menurut pemeo Jawa: mukti apa mati sebab, jelek-jelek terpilih mewakili Sleman ikut Festival Dalang Muda se-Yogyakarta.
 Demikian juga amplopnya.
 Malam Jumat Pon, persis dengan weton kelahirannya dua puluh empat tahun lalu.
 Wajar badanmu yang kalah,” komentar Mbah wandi pada Semedi yang bersila di depannya. “Jadi, sebaiknya ulangi saja.
 Bukan penyakit, tapi sengkala yang harus kamu kalahkan.
 Meskipun demikian, ia tak mau bilang siapa-siapa.

2. Kohesi rujuk silang
 Begitu meraba dahi anaknya, dia terperanjat
 Tanya bapaknya sambil memegangi bahu Semedi
 Kamu kuat sungguh?
 Syukur kalau begitu. Sudahlah, besarkan hatimu.
 Ini aku bawa…
 Tak menyangka, tak bermimpi, gelar terbaik itu jatuh ke tangan Semedi.
Penggunaan kohesi semacam ini oleh pengarang dimaksudkan untuk menciptakan kelogisan hubungan antarbagian kalimat, antarkalimat, dan antarparagraf.

BAB III
KESIMPULAN
Setelah melakukan analisis, dapat disimpulkan berbagai hal, sebagai berikut:
1. Berhubungan dengan aspek paradigmatik, cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa terdiri atas 31 paragraf , 168 kalimat, dan 1154 kata
2. Unsur gramatikal dalam cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa tersusun atas kalimat deklaratif, kalimat imperatif, kalimat introgatif, kalimat sederhana, kalimat komplek, kalimat minor, kalimat aktif, dan kalimat pasif. Kalimat deklaratif berjumlah 149, kalimat imperatif berjumlah 6, kalimat introgatif berjumlah 19, kalimat sederhana berjumlah 97, kalimat kompleks berjumlah 59, kalimat minor berjumlah 67, kalimat aktif berjumlah 133, kalimat pasif berjumlah 27 buah. Kalimat deklaratif lebih mendominasi dibandingkan dengan kalimat imperatif dan kalimat interogratif. Hal ini menunjukkan bahwa cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa disampaikan secara naratif. Perbandingan antara kalimat sederhana dengan kalimat kompleks adalah 31:19. Dengan demikian, secara umum penceritaan cerpen “Dalang Semedi” karya Iman Budhi Santosa lebih didominasi oleh kalimat sederhana. Hal ini menunjukkan bahwa pengarang memudahkan pembaca untuk memahami alur.
3. Retorika terdiri atas pemajasan, penyiasatan struktur, dan pencitraan. Pemajasan didominasi oleh majas metafora, penyiasatan struktur didominasi oleh tautologi, dan pencitraan diminasi oleh citraan gerak.






DAFTAR PUSTAKA

Keraf, Gorys. 1981. Diksi dan Gaya Bahasa. Ende-Flores: Nusa Indah.

Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universty Press.

Pradopo, Rahmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universty Press.

Santosa, Iman Budhi. 2003. Kalimantang. Yogyakarta: Jendela.

Sayuti, Suminto A. 2000.Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.
Sayuti, Suminto A. 1985. Puisi dan Pengajarannya (Sebuah Pengantar). Semarang: IKIP Semarang Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar