ANDRIW

Foto Saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Sabtu, 30 April 2011

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN DENGAN METODE AUDIO VISUAL SISWA KELAS X SMA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sastra dibangun menurut daya angan (imajinasi), yaitu daya tangkap batin yang secara intuitif memperoleh tanggapan atau visi yang benar dari pengalaman dan kenyataan konkret. Imajinasi dibedakan dari fantasi. Angan dibedakan dari khayal tanpa disertai penjelasan sama sekali, tetapi serentak dengan itu. Fantasi adalah imajinasi yang diteruskan (dikembangkan) yang mengatasi struktur kenyataan sehari-hari. Fantasi merupakan contoh pertama dari kesadaran imajinatif.
Pengimajian dalam sastra berguna untuk memberi gambaran yang jelas, menimbulkan suasana khusus, membuat hidup gambaran dalam pikiran dan pengindraan. Selain itu, untuk menarik perhatian dan memberikan kesan mental atau bayangan visual penyair. Gambaran angan, gambaran pikiran, kesan mental, dan bahasa yang menggambarkannya biasa disebut dengan istilah citra atau imaji. Adapun cara membentuk kesan mental atau gambaran sesuatu biasa disebut dengan istilah citraan (imagery).
Kenyataan yang dilahirkan sastra, dalam hubungan ini adalah suatu karya imajiner "a reflected reality" (realitas yang direfleksikan)." Imajiner artinya hanya terdapat dalam angan-angan, atau khayalan, sebutan lain untuk 'fantasi' (Ignas Kleden).
Sastra adalah cabang seni. Seni sangat ditentukan oleh faktor manusia dan penafsiran, khususnya masalah perasaan, semangat, kepercayaan. Dengan demikian, sulit sekali dibuat batasan atau definisi sastra di mana definisi tersebut dihasilkan dari metode ilmiah.
Karya sastra melekat dengan situasi dan waktu penciptaannya. Karya sastra tahun 1920-an tentu berbeda dengan karya sastra tahun 1966. Kadang-kadang definisi kesusastraan ingin mencakup seluruhnya sehingga mungkin tepat untuk satu kurun waktu tertentu tetapi ternyata kurang tepat untuk yang lain.
Beberapa definisi sastra, yaitu sastra sebagai seni berbahasa. Sastra adalah ungkapan spontan dari perasaan yang mendalam. Sastra adalah ekspresi pikiran (pandangan, ide, perasaan, pemikiran) dalam bahasa. Sastra adalah inspirasi kehidupan yanag dimateraikan dalam sebuah bentuk keindahan. Sastra adalah buku-buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang mendalam dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan, dan bentuk yang mempesona. Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakainan dalam suatu bentuk gambaran kongkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.
Sesuatu disebut teks sastra jika (1) teks tersebut tidak melulu disusun untuk tujuan komunikatif praktis atau sementara waktu, (2) teks tersebut mengandung unsur fiksionalitas, (3) teks tersebut menyebabkan pembaca mengambil jarak, (4) bahannya diolah secara istimewa, dan (5) mempunyai keterbukaan penafsiran.
Terdapat tiga hal yang membedakan karya sastra dengan karya tulis lainnya, yaitu sifat khayali, adanya nilai-nilai seni/estetika, dan penggunaan bahasa yang khas. Karya sastra dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu (a) sastra imajinatif, dan (b) sastra non-imajinatif. Sastra imajinatif mempunyai ciri isinya bersifat khayali, menggunakan bahasa yang konotatif, memenuhi syarat-syarat estetika seni. Sastra non-imajinatif mempunyai ciri-ciri isinya menekankan unsur faktual/faktanya, menggunakan bahasa yang cenderung denotatif, memenuhi unsur-unsur estetika seni.
Dengan demikian, kesamaan antara sastra imajinatif dan non-imajinatif adalah masalah estetika seni. Unsur estetika seni meliputi keutuhan (unity), keselarasan (harmony), keseimbangan (balance), fokus/pusat penekanan suatu unsur (right emphasis). Perbedaannya terletak pada isi dan bahasanya. Isi sastra imajinatif sepenuhnya bersifat khayal/fiktif sedangkan isi sastra non-imajinantif didominasi oleh fakta-fakta. Bahasa sastra imajinatif cenderung konotatif sedangkan bahasa sastra non-imajinatif cenderung denotatif.
Kegiatan apresiasi terhadap karya sastra merupakan suatu bentuk kegiatan mendalami karya sastra secara sungguh-sungguh dan berulang kali. Untuk itu, nantinya diharapkan dapat menimbulkan kesadaran terhadap nilai seni yang dikandungnya, kepekaan pikiran dan perasaan, dan penghargaan terhadap karya sastra.
Karya sastra adalah hasil ciptaan sastrawan, tidak begitu saja datang sendiri. Sastrawan berasal dari masyarakat, dan menyadari perlunya berkomunikasi dengan manusia lain. Dengan demikian, sastrawan memerlukan pembaca untuk membaca hasil karyanya sebagai salah satu bentuk komunikasi. Sehubungan dengan hal itu, sastrawan berusaha menciptakan dunia rekaan berdasarkan kemampuan daya khayalnya. Dunia rekaan itu tentu saja harus bisa dikenal oleh pembaca, sebab jika tidak, komunikasi tidak akan berlangsung. Pembaca layaknya sastrawan juga merupakan anggota masyarakat yang tentunya menyadari pentingnya berkomunikasi. Di dalam proses komunikasi semacam itu, sastrawan adalah pengirim pesan lewat karya sastranya sedangkan pembaca adalah penerima pesan. Dalam proses tersebut, pembaca adalah penerima yang pasif sedangkan sastrawan pengirim pesan yang aktif, namun kenyataannya tidaklah demikian.
Dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, siswa diharapkan memiliki keterampilan berbahasa yang terdiri dari menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan dasar tersebut saling berkaitan dan merupakan satu kesatuan. Keterampilan berbahasa yang satu akan mempengaruhi keterampilan berbahasa yang lain, terutama yang tingkatannya lebih tinggi. Menyimak dan membaca termasuk dalam kegiatan reseptif, sedangkan berbicara dan menulis merupakan kegiatan produktif. Hal tersebut tidak berarti berbicara dan menulis merupakan kegiatan yang lebih baik karena bersifat produktif atau menghasilkan. Sebenarnya, dalam menyimak dan membaca ada kerja otak untuk menyerap berbagai informasi dan pengetahuan yang ada di dalamnya.
Di antara keempat keterampilan berbahasa tersebut, menulis berada pada tataran yang paling tinggi. Menulis merupakan kegiatan yang kompleks dan produktif. Oleh karena itu, untuk keterampilan menulis, ketiga keterampilan di bawahnya haruslah mendukung. Alur berpikir seseorang dapat dilihat dari hasil tulisannya.
Teknologi pendidikan merupakan suatu bidang pengetahuan terapan yang diharapkan dapat memberikan sumbangan pada perkembangan pendidikan di Indonesia, untuk itu diperlukan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi modern dalam upaya untuk mengembangkan pendidikan. Upaya pemanfaatan teknologi dalam bidang pendidikan hendaknya terus dilakukan karena media pendidikan mempunyai peranan penting dalam komunikasi. Mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah merupakan suatu program pengembangan pengetahuan, keterampilan berbahasa dan sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia.
Audio visual merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen. Media ini dapat membantu siswa dalam belajar menulis cerpen karena media audio visual yang digunakan dalam penelitian ini berupa video compact disc merupakan perpaduan antara media suara (audio) dan media gambar (visual) yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajarannya dan dapat digunakan untuk merangsang daya imajinasi siswa sehingga siswa dapat dengan mudah menuangkan gagasan-gagasan dan ide-idenya ke dalam sebuah rangkaian kata-kata indah hingga menjadi sebuah cerita yang dapat dinikmati.
Dengan adanya media audio visual yang menampilkan gambar beserta suaranya akan mempermudah siswa untuk menangkap informasi yang dibutuhkan dalam mengembangkan inspirasi maupun gagasan yang akan dituangkan dalam menulis sebuah cerpen. Selain itu proses belajar mengajar akan terasa lebih hidup dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan menggunakan media audio (suara), pembelajaran menulis cerpen yang menggunakan media audio (suara) kurang maksimal digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen karena penggunaan media audio hanya menampilkan sebuah suara yang kurang memaksimalkan potensi siswa dalam menangkap informasi yang sangat dibutuhkan untuk mengembangkan inspirasi dan ide-idenya yang akan digunakan untuk menulis sebuah cerpen.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah seberapa besarkah penggunaan media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dapat meningkatkan keterampilan menulis cerpen pada siswa kelas X SMA ?


BAB II
KAJIAN TEORI

A.Kemampuan Apresiasi Cerpen
1.Hakikat Apresiasi
Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Dick Hartoko dan Brahmanto, 1985: 17), bahwa kata apresiasi dipinjam dari bahasa Inggris appreciation yang artinya penghargaan. Apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap karya sastra.
Rusyana mengutip pendapat Hornby (1995: 6) menyatakan bahwa apresiasi bersal dari bahasa Inggris yang artinya pemahaman dan pengenalan yang tepat; pertimbangan; penilaian; pernyataan yang memberikan penilaian. Dalam hubungan psikologi pendidikan, apresiasi diterangkan sebagai recognition of worth in the realm of the higher values yang lebih lanjut diterangkan oleh Rusyana (1995: 6) apresiasi merupakan jawaban seseorang yang lebih tinggi sehingga ia siap untuk melihat dan mengenal nilai dengan tepat, dan menjawabnya dengan hangat dan simpatik.
Dalam konteks yang lebih luas, istilah apresiasi menurut Gove (lewat Aminuddin, 2002: 34) mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman serta pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Pada sisi lain, Squire dan Taba (lewat Aminuddin, 2002: 34) mengemukakan tiga unsur inti apresiasi, yakni (1) aspek kognitif, (2) aspek emotif, dan aspek evaluatif. Aspek kognitif berkaitan dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik. Aspek emotif berkaitan dengan unsur emosi dalam upaya menghayati unsur keindahan sastra yang dihadapi. Aspek evaluatif berkaitan dengan penilaian baik buruk, indah tidak indah, sesuai tidak sesuai, dan sebagainya.
Pengertian apresiasi yang lain disampaikan oleh Natawidjaja (1982: 1) adalah penghargaan dan pemahaman atas suatu hasil seni atau budaya. Selain itu, (Natawidjaja, 1982: 2) mengemukakan bahwa kegiatan apresiasi mengalami beberapa tingkatan. Tingkat pertama yaitu tingkat penikmatan yang bersifat menonton dan merasa senang, tingkat kedua yaitu tingkat penghargaan yang bersifat pemilikan dan kekaguman akan sesuatu hal yang dihadapinya, tingkat ketiga yaitu tingkat pemahaman yang bersifat studi, mencari pengertian apa sebenarnya yang dihadapi itu, tingkat keempat yaitu tingkat penghayatan yang bersifat menyakini apa dan bagaimana hakikat produk itu, dan tingkat kelima, yaitu tingkat implikasi yang bersifat makrifat, memperoleh daya tepat guna, bagaimana dan untuk apa.
Selanjutnya, Jacob Sumarjo dan Saini (1997: 173) menerangkan bahwa kata apresiasi mengandung pengertian memahami, menikmati, dan menghargai atau menilai. Apresiasi sastra meliputi tiga kegiatan atau langkah, yaitu langkah pertama keterlibatan jiwa, langkah kedua tingkat penghayatan yang tepat, dan langkah ketiga pembaca dapat merelevansikan pengalaman yang ia dapat dari karya sastra dengan pengalaman kehidupan nyata yang dihadapi Sumarjo dan Saini (1997: 174-175).
Dengan mencermati teori-teori di atas, dapat diketahui bahwa apresiasi adalah suatu kegiatan pengamatan, penilaian, dan penghargaan terhadap karya sastra secara sungguh-sungguh dan berulang kali.

2.Hakikat Kemampuan Apresiasi
Kemampuan apresiasi menurut Burton yang dikuti oleh Akhmadi (1981: 13) adalah persepsi arti serta memberikan pertimbangan secara kritis terhadap keterampilan teknik terwujudnya sebuah hasil karya seni. Pendapat lain mengenai hal tersebut dikemukakan oleh Chamdiah (1981: 7) yang menyatakan bahwa kemampuan apresiasi merupakan kesanggupan menanggapi karya-karya sastra, prosa, puisi, drama baik secara subjektif maupun objektif. Kemampuan subjektif pada umumnya merupakan bawaan secara pribadi, sedangkan kesanggupan objektif didapat karena belajar secara teoritis.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan aparesiasi adalah kemampuan untuk melakukan pengamatan, penilaian, dan penghargaan terhadap karya sastra secara sungguh-sungguh dan berulang kali.

3.Hakikat Cerpen
Membaca cerita pendek merupakan aktivitas komunikasi yang kompleks, karena di dalamnya terdapat kegiatan menerjemahkan simbol untuk mengetahui isi yang tersurat ataupun yang tersirat di dalam cerpen yang ditulis oleh pengarang. Ada banyak pengertian cerpen yang dikemukakan oleh para ahli, salah satunya adalah Suminto A. Sayuti (2000: 10) menyatakan bahwa cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression ‘pemadatan’, concentration ‘pemusatan’, dan intensity ‘pendalaman’, yang semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang diisyaratkan oleh panjang cerita itu.
Pendapat lain mengenai cerpen dikemukakan oleh Strong yang dikutip oleh Tarigan (1991: 176), cerpen menimbulkan minat masyarakat yang cukup besar untuk membacanya. Hal itu disebabkan sifat cerpen yang singkat dan lengkap. Sastrawan sebagai pencipta sastra dapat menulis dan mengemukakan pikiran dan sikapnya terhadap sesuatu dengan cepat dan simpel. Demikian juga pembaca dapat menikmati karya sastra itu dengan tidak perlu mengorbankan waktu tertalu lama.
Burhan Nurgiyantoro (2002: 11) menyatakan bahwa kelebihan cerpen yang khas adalah kemampuannya mengemukakan secara lebih banyak-jadi, secara implisit-dari sekedar apa yang diceritakan. Selain Nurgiyantoro, Sumardjo dan Saini menerangkan bahwa cerpen memiliki beberapa ciri, yaitu ceritanya bersifat pendek, bersifat rekaan, dan bersifat naratif. Keutuhan atau kelengkapan sebuah cerpen dapat dilihat dari segi-segi unsur yang membentuknya. Adapun unsur-unsur itu adalah peristiwa cerita (alur atau plot), tokoh cerita (karakter), tema cerita, suasana cerita (mood dan atmosfir cerita), latar cerita (setting), sudut pandang penceritaan (point of view), dan gaya (style).
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa cerpen merupakan suatu cerita fiksi berbentuk prosa yang singkat dan pendek yang unsur ceritanya terpusat pada suatu peristiwa pokok. Jumlah dan pengembangan pelaku terbatas dan keseluruhan cerita memberikan kesan tunggal.
Burhan Nurgiyantoro (2002: 11) menyatakan bahwa kelebihan cerpen yang khas adalah kemampuannya mengemukakan secara lebih banyak-jadi, secara implisit-dari sekedar apa yang diceritakan. Selain Burhan Nurgiyantoro, Jacob Sumardjo dan Saini menerangkan bahwa cerpen memiliki beberapa ciri, yaitu ceritanya bersifat pendek, bersifat rekaan, dan bersifat naratif. Keutuhan atau kelengkapan sebuah cerpen dapat dilihat dari segi-segi unsur yang membentuknya.
Adapun unsur-unsur itu adalah peristiwa cerita (alur atau plot), tokoh cerita (karakter), tema cerita, suasana cerita (mood dan atmosfir cerita), latar cerita (setting), sudut pandang penceritaan (point of view), dan gaya (style).
Unsur-unsur-unsur intrinsik tersebut sebagai berikut.
1. Tema cerita
Tema dipandang sebagai dasar arti atau gagasan dasar umum sebuah karya. Tema menjadi unsur cerita yang memberikan makna dan kekuatan sekaligus unsur pemersatu semua fakta dan sarana cerita (Sugihastuti dan Suharto, 2005: 45).
Tema disaring dari motif- motif yang terdapat dalam karya yang bersangkutan yang menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasi tertentu. Tema dalam banyak hal bersifat ”mengikat” kehadiran atau ketidakhadiran peristiwa, konflik serta situasi tertentu termasuk berbagai unsur intrinsik yang lain.

2. Alur Cerita
Sebuah cerpen menyajikan sebuah cerita kepada pembacanya. Alur cerita ialah peristiwa yang jalin-menjalin berdasar atas urutan atau hubungan tertentu. Sebuah rangkaian peristiwa dapat terjalin berdasar atas urutan waktu, urutan kejadian, atau hubungan sebab-akibat. Jalin-menjalinnya berbagai peristiwa, baik secara linear atau lurus maupun secara kausalitas, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh, padu, dan bulat dalam suatu prosa fiksi.
Lebih lanjut Stanton mengemukakan bahwa plot ialah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.Plot ialah peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab-akibat.
Dengan demikian, alur cerita ialah jalinan peristiwa yang melatari sebuah prosa fiksi yang dihubungkan secara sebab-akibat.

3. Penokohan
Dalam pembicaraan sebuah cerita pendek sering dipergunakan istilah-istilah seperti tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisasi secara bergantian dengan menunjuk pengertian yang hampir sama. Tokoh cerita ialah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama , yang oleh pembaca ditafsirkan memilki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diespresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Sedangkan penokohan ialah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Dengan demikian, istilah penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh atau perwatakan, sebab penokohan sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita.

4. Latar
Latar menurut Kenney (dalam Sugihastuti dan Suharto, 2005: 54) merupakan atmosfer karya sastra yang mendukung masalah tema, alur, dan penokohan. Latar meliputi penggambaran geografis, termasuk topografi, pemandangan, perincian perelengkapan sebuah ruang.
Sebuah cerita pada hakikatnya ialah peristiwa atau kejadian yang menimpa atau dilakukan oleh satu atau beberapa orang tokoh pada suatu waktu tertentu dan pada tempat tertentu. Menurut Burhan Nurgiyantoro (2002: 227- 233) unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, antara lain sebagai berikut.
a. Latar Tempat
Latar tempat mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu serta inisial tertentu.
b. Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah ” kapan ” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah ”kapan” teersebut biasanya dihubungkan dengan waktu
c. Latar Sosial
Latar sosial mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.

5. Sudut Pandang
Sudut pandang (point of view) merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu.
a. Siapa yang berbicara kepada pembaca (pengarang dalam persona ketiga atau pertama, salah satu pelaku dengan ”aku”, atau seperti tak seorang pun)?
b. Dari posisi mana cerita itu dikisahkan (atas, tepi, pusat, depan atau berganti-ganti)?
c. Saluran informasi apa yang dipergunakan narator untuk menyampaikan ceritanya kepada pembaca (kata-kata, pikirn, atau persepsi pengarang; kata-kata, tindakan, pikiran, perasaan, atau persepsi tokoh)?
d. Sejauh mana narator menempatkan pembaca dari ceritanya (dekat, jauh, atau berganti-ganti)? Selain itu, pembedaan sudut pandang juga dilihat dari bagaimana kehadiran cerita itu kepada pembaca: lebih bersifat penceritaan, telling, atau penunjukan, showing, naratif atau dramatik. Pembedaan sudut pandang yang akan dikemukakan berikut berdasarkan pembedaan yang telah umum dilakukan orang yaitu bentuk persona tokoh cerita: persona ketiga dan persona pertama.
1) Sudut pandang persona ketiga : ”Dia”
Pengisahan cerita yang menpergunakan sudut pandang persona ketiga gaya ”Dia”, narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti. Hal ini akan mempermudah pembaca untuk mengenali siapa tokoh yang diceritakan atau siapa yang bertindak.
Sudut pandang ”dia”dapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang terhadap bahan ceritanya. Di satu pihak, pengarang, narator dapat bebas menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh ”dia”, jadi bersifat mahatahu, di lain pihak ia terikat, mempunyai keterbatasan ”pengertian” terhadap tokoh ”dia” yang diceritakan itu, jadi bersifat terbatas, hanya selaku pengamat saja.
a) ”Dia” mahatahu
Dalam sudut pandang ini, cerita dikisahkan dari sudut ”dia”, namun pengarang, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh ”dia” tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. Ia bebas bergerak dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindah-pindah dari tokoh ”dia”yang satu ke ”dia” yang lain, menceritakan atau sebaliknya ”menyembunyikan” ucapan dan tindakan tokoh, bahkan juga yang hanya berupa pikiran, perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya ucapan dan tindakan nyata.
b) ”Dia” terbatas, ”Dia” sebagai pengamat
Dalam sudut pandang ”dia” terbatas, seperti halnya dalam”dia”mahatahu, pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun terbatas hanya pada seorang tokoh saja atau terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas. Tokoh cerita mungkin saja cukup banyak, yang juga berupa tokoh ”dia”, namun mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama.

2) Sudut Pandang Persona Pertama: ”Aku”
Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona pertama (first person point of view), ”aku”. Jadi: gaya ”aku”, narator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si ”aku” tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan, yang diketahui,dilihat, didengar,dialami dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si ”aku” tersebut.
(a) ”Aku” tokoh utama
Dalam sudut pandang teknik ini, si ”aku” mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam diri sendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya. Si ”aku”menjadi fokus pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu yang di luar diri si ”aku”, peristiwa, tindakan, dan orang, diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, di samping memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan diceritakan. Dalam cerita yang demikian,si ”aku” menjadi tokoh utama (first person central).
(b) ”Aku” tokoh tambahan
Dalam sudut pandang ini, tokoh ”aku” muncul bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan (first pesonal peripheral). Tokoh ”aku” hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian ”dibiarkan” untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama habis, si ”aku”tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah. Dengan demikian, si ”aku” hanya tampil sebagai saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si ”aku” pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita.

6. Gaya Bahasa dan Nada
Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya
Latar menurut Kenney (dalam Sugihastuti dan Suharto, 2005: 54) merupakan atmosfer karya sastra yang mendukung masalah tema, alur, dan penokohan. Latar meliputi penggambaran geografis, termasuk topografi, pemandangan, perincian perelengkapan sebuah ruang.

B. Menulis cerpen
1. Hakikat Menulis
Menulis merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa. Keterampilan ini sangat didukung oleh keterampilan membaca. Membaca adalah sarana utama menuju ke keterampilan menulis (Murahimin, 1994: 6). Sementara itu, pengertian menulis telah banyak di kemukakan oleh para ahli Widyamartaya (1994: 4) mengemukakan bahwa menulis dapat kita pahami sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami tepat seperti yang dimaksud oleh pengarang. Menulis bisa juga diartikan sebagai usaha untuk berkomunikasi yang mempunyai aturan main serta kebiasaanya sendiri (Murahimin, 1994: 13).
Menulis adalah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Dapat juga diartikan menulis adalah berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis. Selanjutnya, juga dapat diartikan bahwa menulis adalah menjelmakan bahasa lisan, mungkin menyalin atau melahirkan pikiran atau perasaan seperti mengarang, membuat surat, membuat laporan, dan sebagianya (Suriamiharja, dkk1996/1997: 2).
Dengan mencermati teori-teori di atas, dapat dikemukakan bahwa menulis adalah kegiatan menuangkan gagasan, ide atau pendapat yang akan disampaikan kepada orang lain (pembaca) melalui media bahasa tulis untuk dipahami tepat seperti yang dimaksud oleh penulis.

2. Menulis cerpen
Menulis adalah kegiatan menuangkan gagasan, ide atau pendapat yang akan disampaikan kepada orang lain (pembaca) melalui media bahasa tulis untuk dipahami tepat seperti yang dimaksud oleh penulis. Gagasan, ide atau pendapat yang akan disampaikan kepada orang lain (pembaca) oleh penulis melalui media bahasa tulis dapat berbentuk cerpen. Berdasarkan bentuknya, Weaver yang dikutip oleh (Tarigan, 1985: 27) membuat klasifikasi tulisan menjadi empat bentuk, di antaranya adalah mencakup urutan waktu, motif, konflik, titik pandang, dan pusat minat.
Dengan mencermati teori-teori di atas, dapat diketahui bahwa menulis cerpen merupakan kegiatan menuangkan ide atau pendapat bahkan imajinasi ke dalam bentuk tulisan (cerpen) yang isinya menceritakan sesuatu kejadian berdasarkan urutan waktu dan ada tokoh yang mengalami konflik.

C. Pembelajaran dengan Media Audio Visual
Penggunaan media audio visual dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan memunculkan ide yang sangat menarik di benak siswa, membangkitkan motivasi dan rangsangan dalam proses belajar mengajar, serta dapat mempengaruhi psikologi siswa. Oleh karena itu media audio visual dapat digunakan secara tepat, secara nyata membantu dan mempermudah proses belajar mengajar.
Tindakan yang hendak dilakukan dalam proses pembelajaran menulis cerpen, yaitu pembelajaran dengan menggunakan media audio visual yang memerlukan persiapan yang matang. Pembelajaran menulis cerpen didahului dengan pemutaran VCD.
Setelah pemutaran VCD, Posisi duduk siswa diatur pada posisi yang nyaman dan enak, guru memberi penjelasan tata tertib selama pemutaran VCD, siswa dapat mencatat hal-hal yang dianggap perlu. Kemudian pembelajaran menulis cerpen dilakukan setelah siswa menyaksikan pemutaran film dengan media audio visual. Guru menugasi siswa untuk menulis cerita pendek sesuai ide yang didapat setelah menyaksikan pemutaran film dan mengandaikan dirinya sebagai salah satu tokoh dalam film yang dapat memudahkan siswa dalam menulis sebuah cerpen.
1. Perencanaan
Alat peraga pelajaran yang digunakan adalah media audio visual dengan CD film remaja. Metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab,pemutaran film dan penugasan. Jenis penilaian yang digunakan adalah nontes yaitu pengamatan (observasi) terhadap kinerja siswa selama proses pembelajaran dan penilaian terhadap hasil menulis cerpen para siswa. Hasil menulis cerpen siswa diobservasi meliputi isi, kesesuaian judul, panjang cerpen, alur cerita, pemilihan dan pengembangan karakter tokoh.

2. Tindakan
Tindakan yang dilakukan oleh guru adalah mengadakan apresiasi berupa tanya jawab tentang berbagai macam film remaja yang digemari para siswa. Tujuan dari apresiasi ini adalah menggali pengetahuan dan pengalaman siswa tentang berbagai macam film remaja yang pernah dilihat dan memberikan penjelasan mengenai kegiatan belajar mengajar yang hendak dilaksanakan, yaitu mengenai menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual.

3. Pengamatan atau Observasi
Kinerja siswa diamati selama pembelajaran berlangsung, keaktifan dalam melaksanakan kegiatan dan antusiasme menulis cerpen. Hasil menulis cerpen siswa juga diobservasikan berdasarkan isi, panjang cerita, alur, pemilihan dan pengembangan karakter tokoh dalam cerita.

4. Refleksi
Guru menganalisis hasil pengamatan terhadap kinerja siswa dan penilaian hasil kerja siswa.


DAFTAR PUSTAKA

Akhmadi, Mukhsin, dkk. 1981. Kemampuan Mengapresiasi Prosa Murid SPG di Jawa Timur. Jakarta: DEPDIKBUD Pusat Pembinaan dan Pengembagan Bahasa.

Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Algesindo.

Burhan Nurgiyantoro. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Chamdiah, Sri, dkk. 1981. Kemampuan Mengapresiasi Siswa SMA DKI. Jakarta: DEPDIKBUD Pusat Pembinaan dan Pengembagan Bahasa.

Dick Hartoko dan B. Rahmanto. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Jacob Sumardjo dan Saini K.M. 1997. Apresiasi Kesustraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Jaya.

Murahimin Ismail. 1994. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya Press.

Natawijaya, Suparman. 1982. Apresiasi Sastra dan Budaya. Jakarta: Intermasa.

Rusyana, Yus, dkk. 1995. Kegiatan Apresiasi Sastra Indonesia Murid SMA Jawa Barat. Jakarta: DEPDIKBUD Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Sugihastuti dan Suharto. 2005. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suminto A. Sayuti. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media

Suriamiharja, dkk. 1996/1997. Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta: DEPDIKBUD Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah bagian Proyek Penataran Guru SLTP Stara D III.

Tarigan, Henry Guntur. 1985. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 1991. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
Widyamartaya, A. 1992. Seni Membaca untuk Studi. Yogyakarta: Kanisius.

1 komentar: