ANDRIW

Foto saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Minggu, 24 April 2011

SINOPSIS NOVEL/ROMAN INDONESIA (Andri Wicaksono)

BEKISAR MERAH
Karya Ahmad Tohari

Darsa adalah seorang penyadap nira di desa karang Soga yang mempunyai istri bernama Lasi. Sebagian besar penyadap nira di desa Karang Soga menjual gula mereka kepada Pak Tir, seorang tengkulak gula kelapa
Suatu hari Darsa memanjat pohon kelapa untuk mengambil pongkor dan ia terjatuh dari pohon kelapa itu. Nyawa Darsa dapat tertolong, namun Darsa mengalami impotent. Tetapi karena tidak ada biaya perawatan maka Darsa dirawat di rumah seorang tukang pijat sekaligus dukun bayi, yaitu Bunek. Setelah beberapa bulan dirawat Bunek, Darsa mengalami kemajuan bahkan bisa sembuh. Namun Bunek juga memanfaatkan hal itu agar Sipah, anak gadisnya yang cacat agar bisa kawin. Bunek menyuruh Darsa membuktikan kejantanannya kepada Sipah hingga akhirnya Sipah hamil.
Peristiwa tersebut adalah awal kehancuran rumah tangga Darsa. Lasi yang mengetahui hal itu lalu pergi ke Jakarta dengan menumpang truk Pak Tir yang hendak mengangkut gula ke Jakarta. Di Jakarta Lasi dititipkan di warung Bu Koneng, akan tetapi tak disangka ternyata Lasi dijual secara halus oleh Bu Koneng kepada Bu Lanting, kemudian oleh Bu Lanting Lasi diantarkan kepada Pak Handarbeni, lelaki enam puluh tahun yang seorang overstepurnawira yang mencari bekisar untuk dijadikan gundik. Istilah bekisar dinisbatkan kepada Lasi yang ternyata adalah keturunan Jepang.
Lasi tak bisa menolak tawaran Bu Lanting untuk menjadikannya sebagai gundik Handarbeni karena ia merasa mempunyai hutang budi. Dengan bantuan Handar beni, Lasi dapat dengan gampang bercerai dengan Darsa. Sebenarnya, sebelum bertemu dengan Handarbeni, Lasi telah bertemu dengan Kanjat yang menyusulnya bersama Pardi. Kanjat rupanya sempat menaruh hati pada Lasi, mengajak Lasi pulang. Akan tetapi Lasi menolak ajakan Kanjat, mereka pun berpisah dengan hanya meninggalkan foto masing-masing.
Setelah menikah dengan Handarbeni, Lasi merasa bahwa perkawinan itu hanya main-main. Handarbeni yang telah berusia 60 tahun itu, sudah tidak mempunyai kekuatan untuk memuaskan Lasi. Malah , Handar beni memintanya untuk mencari laki-laki lain, asal dia tetap menjadi istrinya. Karena bosan, Lasi pergi ke desanya Karang Soga. Disana dia membangun rumah emaknya. Ia juga ingin membangun surau Eyang Mus yang dianggap agamanya kuat oleh warga Karang Soga. Namun niat baik Lasi ditolak dan Eyang Mus malah menganjurkan Lasi untuk membantu Kanjat saja yang tengah mengadakan penelitian untuk kemakmuran kaum penyadap nira. Lasi pun segera menemui Kanjat. Setelah bertemu, ternyata Kanjat malah mengurungkan niatnya itu sebab telah banyak rintangan yang harus dihadapinya. Hal ini diperburuk dengan akan diadakannya jaringan listrik di Karang Soga, sehingga banyak pohon kelapa penduduk yang ditebang dan yang paling banyak adalah pohon kelapa milik Darsa. Situasi seperti ini membuat Kanjat bingung, terhadap niatnya untuk meraih kebahagiaan bersama Lasi akan tetapi dia pasti akan selalu dibayangi penderitaan keluarga Darsa yang terpuruk dalam kemiskinan.

CANTING
Karya Arswendo Atmowiloto

Raden Ngabehi Sastro Kusumo adlah seorang bangsawan di Keraton Solo mengawini Tuginem seorang buruh Pabrik. Sesungguhnya tindakan Pak Bei menyimpang dari tradisi Keraton. Semula tindakan yang diambil Pak Bei mendatangkan sikap antipati, tetapi sejalan dengan waktu rumah tangga Pak Bei berjalan dengan baik. Sekarang Tuginem sendiri merasa bahagia dapat dipanggil Bu Bei.
Dari perkawinan dengan Tuginem, Pak Bei mempunyai dua putra dan dua putri yang telah menginjak dewasa. Tiba-tiba saja terdengar kabar bahwa Bu Bei mengandung lagi. Pak Bei sangsi apakah bayi yang dikandung Bu Bei itu adalah anaknya karena Pak Bei sendiri merasa tidak yakin akan kemampuannya yang telah memasuki masa senja, hingga akhirnya Pak Bei berkata. Jika anakanya lahir dan besar menjadi buruh batik seperti ia memang anak buruh batik. Sampai akhirnya lahirlah anak yang dikandung Bu Bei, bayi perempuan yang bernama Subandini Dewaputri Sestrokusuma ini sangat berbeda dengan kelima saudaranya. Pipinya yang montok dan kulitnya yang terlihat hitam mengandung perhatian lebih dalam keluarga. Sejak kecil ini sudah dijauhkan dari segala sesuatu yang berhubungan dengan batik.
Bu Bei dalam usianya 32 tahun masih rutin dengan kegiantannya berjualan batik di pasar Klewer. Disini Bu Bei tampil sebagai wanita karier. Bu Bei sepenuhnya mengabdi untuk kepentingan keluarga dan sebagai wanita karier yang berani tampa ragu dalam memutuskan dua masalah yang sulit.
Peran inilah yang dapat mengantarkan putra-putrinya kepada cita-cita masing-masing. Wahyu Dewa Brata menjadi dokter, Lintang Dewanti menjadi istri kolonel, Bayu Dewasunu menjadi dokter gigi, Ismaya Dewakusuma menjadi insinyur, Wening Dewamurti menjadi dokterranda dan Subandi Dewa putri menjadi sarjana farmasi.
Saat perayaan tumbuk Ageng Yuswa Raden Ngabehi, diadakan selamatan dan pesta di kediaman. Di saat keenam putra Pak Bei hadir inilah, Ni mengumumkan keputusannya untuk menjadi juragan batik, seperti ibunya. Mendengar hal itu Bu Bei langsung pingsan hingga harus dirawat di rumah sakit. Darah tinggi dan penyakit gulanya meningkat. Hingga akhirnya Bu Bei pun meninggal dunia dengan sikap bijaksananya, Bu Bei menyakinkan bahwa kematian Bu Bei bukan salah siapa-siapa.
Ni dengan sifatnya yang pantang menyerah tetap berniat melanjutkan usaha batik yang pernah dirintis oleh ibunya, meskipun batik canting semakin tergeser oleh batik printing. Ia bahkan yakin merasa mampu untuk menghidupkannya lagi. Namun kenyataan berbicara lain, batik canting semakin tenggelam digantikan batik printing. Sampai akhirnya Ni jatuh sakit.
Setelah sembuh Ni menikah dengan Himawan tepat pada selamatan setahun meninggalnya Bu Bei. Kemudian Ni melahirkan anak pertamanya yang diberi nama Canting Daryono.


BURUNG-BURUNG MANYAR
Karya YB. Mangun Wijaya

Keluarga Teto adalah keluarga yang terpandang. Oleh karena itu Teto bebas bergaul dengan orang Belanda ataupun Indo-Belanda walaupun pada waktu kecil ia sering bermain dengan anak-anak kolong. Teto adalah anak yang sangat berani apalagi ayahnya adalah orang berpangkat dalam ketentaraan KNIL Belanda Letkol Brajabesuki, Ayah Teto waktu itu menjabat sebagai seorang kepala gernisun devisi II Magelang. Masa kecil Teto hidup dalam kekangan orang tuanya hingga ayahnya ditangkap dan disiksa oleh tentara Jepang dan ibunya terpaksa dijadikan gundik pimpinan tentara Jepang atau nyawa ayah Teto melayang bila tidak bersedia.
Untuk melampiaskan dendam kepada Jepang, Teto masuk dalam pasukan KNIL dan dalam waktu singkat, Teto diangkat menjadi seorang komandan patroli dengan pangkat Letnan dua. Karena beban batin yang tidak tertahankan, Ibu Teto akhirnya menjadi gila dan menjadi pasien tetap rumah sakit jiwa di Bogor.
Setelah kedudukan Belanda di Indonesia terdesak, tentara KNIL pulang ke negerinya. Dengan kekalahan ini Teto malu terhadap Larasati, teman sepermainan Teto dan juga kekasih Teto yang membela bangsanya sendiri. Karena frustasi, Teto kemudian memutuskan meninggalkan Indonesia dan masuk Universitas Hevard Jurusan komputer di Amerika. Setelah lulus dan mendapat gelar doctor, Teto bekerja di Pasific Oil Wells Comany sebagai analisis komputer dan kemudian menikah dengan Barbara, anak salah satu direktur di perusahaan itu. Tetapi perkawinan ini tidak berlangsung lama, karena Teto merasa tidak mempuntai kecocokan lagi dengan Barbara. Disaat seperti inilah Teto merindukan Ibunya dan Larasati. Akhirnya Teto kembali ke Indonesia setelah mengetahui adiknya kecurangan perhitungan komputer yang dilakukan oleh perusahaannya terhadap pihak Indonesia dan setelah menceraikan Barbara.
Setibanya di Indonesia Teto sangat ingin bertemu dengan Larasati. Secara diam-diam Teto hadir dalam acara presentasi tesis untuk meraih gelar doktor yang akan dilakukan Larasati di Jakarta. Teto berusaha keras menahan hasratnya untuk bertemu dengan Larasati namun nasib berkata lain. Esok harinya tanpa diduga Larasati bersama Janakatamsi, suaminya yang merupakan anak direktur Rumah Sakit Jiwa keramat, tempat Ibu Teto dirawat, mengunjungi tempat Teto menginap.
Hubungan Teto dengan keluarga Larasati semakin hangat saja dan Janakatamsi mendukung niat Teto untuk membongkar kasus kecurangan yang terjadi dalam perusahaan Pasific Oil Wells Copany. Kasus itu pun berhasil dibongkar akibatnya Teto dan Janakatamsi dikeluarkan dari perusahaannya. Masih dalam situasi hati yang sedih, muncul musibah seru, Larasati dan Janakatamsi mengalami kecelakaan pesawat pada waktu berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji. Keduanya meninggal dunia dan untuk membalas kebaikan keluarga Larasati, Teto memutuskan untuk mengangkat dan mengasuh ketiga anak hasil perkawinan Larasati dan Janakatamsi sebagai anaknya.


JALAN TAK ADA UJUNG
Karya Mochtar Lubis

Guru Isa adalah seorang guru sekolah dasar tamatan sekolah guru HIK di Bandung yang secara tak sengaja terlibat dalam pergolakan revolusi yang sedang terjadi. Ia adalah sosok seseorang yang tak menyukai kekerasan dan ia mempunyai rasa takut yang teramat besar. Hal ini tentu saja bertentangan dengan keadaan disekitarnya, yang saat itu terjadi penindasan yang dilakukan oleh Jepang. Hal ini membuat jiwanya lemah dan menjadi seorang lelaki yang impoten. Sehingga dia mengadopsi anak bernama Salih. Sebenarnya Guru Isa tidak tertarik ikut dalam arus revolusi. Ia hanya ikut menjaga keamanan dan ditunjuk sebagai penasehat keamanan rakyat hingga berkenalan dengan pemimpin perjuangan yang bernama Hazil. Pertemuan inilah yang membawa guru Isa sedikit demi sedikit masuk ke arus revolusi dan tanpa disadari, guru Isa telah terjun ke medan perjuangan secara tak langsung. Hazil dan guru Isa bersama-sama berjuang dalam alur revolusi melawan Belanda. Bedanya, guru Isa berjuang karena perasaan terpaksa dan takut sedangkan Hazil berjuang karena cita-cita pribadinya.
Perjuangan bagi guru Isa adalah hal yang sangat mengerikan. Revolusi semakin membanjir dan segala ketakutan sekarang mengancam dimana-mana. Ketakutan guru Isa pun berlipat ganda, apalagi rakhmat memintanya untuk memegang dalam perjuangan. Guru Isa pun bingung dan takut. Bila ketakutannya telah menjadi-jadi maka penyakit malarianya kambuh. Hasil pun sering menjenguk ke rumahnya. Tanpa sepengetahuan guru Isa ternyata Hazil dan Fatimah (isteri guru Isa) melakukan hubungan intim secara diam-diam karena Fatimah tak sanggup menahan derita karena suaminya impoten. Hubungan itu akhirnya terbongkar ketika guru Isa menemukan pipa rokok Hazil yang tertinggal dibawah bantal. Ia sangat marah sekali dengan isterinya. Namun, emosinya melemah karena guru Isa menyadari kekurangan dirinya yang tak berdaya melakukan tugas sebagaimana layaknya suami.
Pada malam mingggu, guru Isa, Hazil dan Rahmat mendapat tugas melempar granat di bioskop Rex. Pekerjaan itu berjalan dengan baik mengakibatkan dua serdadu Belanda luka-luka. Sejak itulah guru Isa dibayangi mimpi-mimpi yang menakutkan. Dengan teror-teror yang diciptakannya sendiri. Malam hari guru Isa sakit hingga kemudian guru Isa ditangkap oleh tentara Belanda. Ia disiksa untuk mengakui perbuatanya, tetapi rasa takut kembali menutup mulutnya. Di sana ia dipertemukan dengan Hazil. Guru Isa sangat terkejut, sosok yang kuat, bersemangat menyala dan selalu tegar ternyata membuatnya buka mulut, hanya dengan sebuah tempelengan dikepalanya sudah tanpa diduga, Hazil telah mengkhianati temannya. Setelah menyadari bahwa Hazil dikalahkankan oleh kelemahannya sendiri, guru Isa berusaha menguasai dirinya sendiri agar dia tak merasa takut lagi. Guru Isa telah damai dengan takutnya dan dia telah belajar bagaimana harus hidup dengan takutnya. Bagi guru Isa, jalan baru dimulai yaitu jalan tak ada ujung. Begitulah, kesadaran guru Isa dalam mengatasi ketakutan yang mengganggu jiwanya hingga berdampak pulihnya kejahatan guru Isa.

RONGGENG DUKUH PARUK ( Catatan Buat Emak )
Karya Ahmad Tohari


Nama desa itu Dukuh Paruk. Sebuah pedukuhan yang kering kerontang dan menyendiri itu berisikan penduduk yang merupakan keturunan Ki Secamenggala. Ki Secamenggala adalah seorang bromocorah yang dianggap moyang mereka.
Kehadiran Srintil , seorang bocah yang berumur sebelas tahun, memberikan kehidupan kembali dan mengembalikan citra pedukuhan yang sebenarnya. Dukuh Paruk dikatakan lengkap apabila ada ronggeng bersama pangkal calungnya.
Sejak kecil, Srintil diasuh oleh kakek dan neneknya. Orang tua Srintil meninggal akibat bencana tempe bongkrek di tahun 1946 yang membuat sebagian besar warga Dukuh Paruk meninggal. Tak terkecuali pembuat makanan itu, yaitu orang tua Srintil. Rasus Darsun dan Warta adalah teman bermain Srintil. Mereka senang sekali melihat Srintil menari. Meskipun Srintil masih kecil, Srintil telah mampu menari dengan baik seperti layaknya seorang ronggeng. Rasus juga kerap mengiringi Srintil ketika Srintil menari. Rasus melihat sosok emaknya pada diri Srintil. Oleh karena itu Rasus sangat menyayangi Srintil. Sakarya, kakek Srintil, yakin bahwa Srintil telah kerasukan indang ronggeng yang telah direstui oleh arwah Ki Secamenggala ketika kerap melihat Srintil menari dengan gemulai. Seorang ronggeng tidak akan menari dengan bagus tanpa dirasuki indang, karena indang ronggeng adalah semacam wangsit yang di muliakan dalam dunia peronggengan dan Srintil mempunyai itu.
Tahap – tahap yang harus dilalui Srintil untuk menjadi ronggeng tidaklah mudah. Setelah diserahkan kepada Kertareja yang seorang dukun ronggeng, Srintil juga harus dimandikan didepan cungkup makam Ki Secamenggala. Dan terakhir, Srintil harus melewati tahap bukak klambu, dimana Srintil harus menyerahkan keperawanannya kepada lelaki yang mampu memberi sejumlah uang sebagai syaratnya.
Rasus, yang sejak kecil menaruh hati kepada Srintil hanya bisa cemburu dan sakit hati karena tidak bisa melawan hukum yang telah menakdirkan Srintil menjadi ronggeng yang juga berarti bahwa Srintil adalah milik umum. Rasus hanya dapat mendengarkan pertengkaran Dower pemuda Pecikalan dan Sulam yang sedang memperebutkan keperawanan Srintil. Tetapi Srintil lebih memilih menyerahkan keperawanannya kepada Rasus, dan Rasus tak kuasa menolaknya. Tetapi semenjak memjadi ronggeng, Srintil semakin jauh dari Rasus. Rasus pun merasa kehilangan sosok emaknya. Dan Rasus lebih memilih menyingkir ke Dusun Dawuan yang jauh dari Dukuh Paruk. Ia mulai membenci Srintil yang telah menjadi ronggeng yang sesungguhnya yang tak pernah lagi menepis tangan laki – laki yang menggerayanginya.
Di Dusun Dawuan inilah yang telah mengubah pandangan Rasus tentang kehidupan. Disini ia dapat menepis bayang – bayang Srintil. Oleh karena itu, ketika Rasus diminta Srintil untuk menjadi suaminya, ia menolak. Rasus telah sepenuhnya meninggalkan Dukuh Paruk, meninggalkan keramatnya Ki Secamenggala, meninggalkan seloroh cabul dan sumpah serapah serta meninggalkan ronggeng bersama perangkat calungnya.


KOMENTAR
Novel ini menggambarkan adanya sebuah tradisi yang turun – temurun yang memaksa Srintil harus mau menjadi ronggeng untuk menyemarakkan kembali Dukuh Paruk.
















JANTERA BIANGLALA
Karya Ahmad Tohari

Dukuh Paruk mulai bernafas kembali ketika Sakarya, Kartareja dan lainnya telah kembali setelah ditahan selama dua minggu. Geger politik yang menyebabkan hampir musnahnya Dukuh Paruk di tahun 1965 adalah peristiwa dahsyat sepanjang perjalanan dukuh itu. Tetapi semuanya itu belum sempurna karena kepulangan Sakarya dan lainnya tanpa Srintil. Srintil masih dalam tahanan.
Tak lama kemudian, Srintil kembali ke Dukuh Paruk. Tetapi sejak kepulangannya, sikapnya berubah, ia hanya diam dan tidak mau menceritakan pengalamannya kepada siapa pun. Walaupun sudah keluar dari tahanan, Srintil masih tetap harus melapor ke Dusun Dawuan, tempat dimana ia ditahan. Ketika Srintil melihat Gonder, anak Tampi, Srintil bertekad untuk menjadi seorang ibu rumah tangga, dan ia ingin membuktikan bahwa ia mampu menjadi seorang ibu. Oleh karena itu Srintil mengasuh Gonder.
Kedatangan Bajus, seorang pekerja proyek pembangunan irigasi, sempat mengusik hati Srintil. Ia menaruh harapan impiannya sebagai ibu rumah tangga dapat terwujud bersama Bajus, seorang yang sangat baik hati terhadap Srintil walaupun tanpa menyentuhnya. Rasa simpatik itulah yang membuat Srintil merasa yakin bahwa Bajus lah yang akan merubah jalan hidupnya. Tetapi harapan itu sirna , impian hanya impian. Bahkan Bajus menawarkan Srintil kepada pak Blengur, atasannya. Bajus juga marah dan memaki Srintil ketika Srintil menolak pak Blengur. Tekanan batin yang begitu berat ini lah yang menyebabkan Srintil kehilangan akal sehatnya. Karena tak kuasa menerima kenyataan hidup yang pahit.
Ketika Rasus pulang dari Kalimantan usai menjalankan tugas ketentaraannya, Rasus sangat terkejut saat didapatinya Srintil telah kehilangan akal sehatnya. Srintil pun dibawa ke rumah sakit jiwa. Prihatin dengan peristiwa – peristiwa yang menimpa tanah kelahirannya, Rasus bertekad untuk membantu Dukuh Paruk untuk hidup dinamis dengan sang pencipta

KOMENTAR
Novel ini merupakan novel trilogi karya Ahmad Tohari. Jadi untuk dapat memahami tokoh dan alur novel ini, perlu membaca novel sebelumnya.




PENGAKUAN PARIYEM
Karya Linus Suryadi, AG


Wanita itu bernama Pariyem, Maria Magalena Pariyem lengkapnya, Iyem panggilan sehari – harinya. Lahir di Gunung kidul dari rahim seorang ledhek dan ayahnya adalah seorang pemain ketoprak ulung di Gunung Kidul
Setelah dewasa Pariyem bekerja pada Ndoro kanjeng Cokro Sentono dan Ndoro Ayu Cahyo Wulaningsih sebagai babu di Ndalem Suryamentaraman. Ndoro kanjeng mempunyai seorang putra dan seorang putri, yaitu Raden Bagus Ario Atmojo, mahasiswa UGM jurusan Ilmu Filsafat dan Ndoro putri Wiwit setyowati, mahasiswi Sarjana Wiyata.
Raden Bagus Ario mengatakan akan tinggal di rumah saja ketika keluarganya mengajak pergi ke kebun binatang Gembira Loka. Rupanya Den Bagus Ario telah terpikat oleh indahnya tubuh Pariyem. Dan tinggal dia dan Pariyem saja yang ada dirumah itu. Akhirnya terjadilah hubungan suami isteri yang seharusnya tidak dilakukan Pariyem dan Den Bagus Ario. Pariyem merasa rela melakukan hal itu. Ia menikmatinya tanpa rasa menyesal, karena hal itu bukan yang pertama kalinya bagi Pariyem. Sebelum Pariyem melakukan hubungan dengan Den Bagus Ario, ia juga pernah melakukan hubungan suami isteri dengan Sokidi Kliwon, pacarnya di Wonosari.
Beberapa bulan kemudian Pariyem ternyata hamil. Pengadilan keluarga Ndalem Suryamentaraman pun dibuka. Ndoro kanjeng Cokro Sentono sebagai hakim, Ndoro Ayu dan Ndoro Putri sebagai pembela serta menghadirkan Den Bagus Ario bersama Pariyem sebagai tersangka. Dalam persidangan itu telah diambil keputusan bahwa Pariyem di pulangkan ke Wonosari untuk merawat si bayi yang akan lahir. Di Wonosari, semua kebutuhan Pariyem di penuhi, dan setiap sebulan sekali Den Bagus Ario menjenguk Pariyem.
Setelah beberapa bulan berlalu, Pariyem pun melahirkan anak perempuan dengan selamat. Bayi itu cantik parasnya. Bayi itu diberi nama oleh ndoro kanjeng Cokro Sentono sebuah nama yang cantik, yaitu “ Endang Sri Setianingsih”. Setelah berumur satu tahun, Endang dibawa ke Ndalem Suryamentaraman dan disambut dengan antusias. Pariyem pun cukup puas dengan menjadi seorang babu di rumah keluarga Cokro Sentono. Dan ia merasa bahagia dengan hidupnya yang serba tercukupi.


KOMENTAR
Disini Linus menggambarkan seorang babu yang tidak lepas dalan renungannya terhadap hidup. Linus menghadirkan tokoh Pariyem sebagai sosok yang lugu dan berpengetahuan yang dangkal serta pasrah. Menurut Pariyem, toh kehidupan ini sudah ada yang mengaturnya. Walaupun Agama dipandangnya sebagai sesuatu yang membingungkan.





SAMAN
Karya Ayu Utami


Nama kecilnya bukan Saman, anak seorang pegawai BRI yang hidup selalu bepindah – pindah karena ayahnya sering di pindah tugaskan. Saman adalah anak tunggal Karena dia adalah satu – satunya anak yang berhasil dilahirkan ibunya dengan selamat.
Ketika Saman sekeluarga pindah ke Prabumulih, umurmya baru empat tahun. Waktu itu ibunya tengah mengandung adiknya yang pertama. Ketika kandungan itu berusia tujuh bulan, tiba – tiba bayi yang ada dalam kandungan ibunya itu hilang begitu saja dan entah kemana tanpa ada pendarahan sedikit pun. Hal itu juga berulang pada adiknya yang kedua. Saat ibunya tengah mengandung adiknya yang ketiga, bayi itu dapat lahir dengan selamat. Akan tetapi, ketika adiknya baru berumur tiga hari, Saman mendengar adiknya menagis dengan kuat, dan ia juga mendengar suara laki – laki yang bukan suara ayahnya di kamar ibunya. Dan Saman kerap mendengar suara itu yang dipahaminya datang dari hutan. Suara itu selalu saja datang, sampai akhirnya ibu Saman meninggal akibat kanker rahim.
Setelah dewasa, Saman lebih dikenal dengan nama Pastor Wisanggeni, dan ia meminta agar dirinya dapat ditempatkan di Prabumulih. Ia hendak mengenang kembali masa kecilnya di Prabumulih. Tapi rumah yang dulu ditempatinya sekarang telah menjadi milik seorang Manager Area sebuah perusahaan penambangan, yang telah menjadi sahabatnya. Suatu hari Wisanggeni diberi kepercayaan untuk menjaga rumah itu, sementara isteri sahabatnya melahirkan di luar kota. Tiba – tiba saja ia mendengar suara aneh yang sering ia dengar dulu. Disangkanya suara itu adalah suara adiknya yang meninggal dulu. Tetapi ternyata suara itu milik seorang gadis yang cacat mental. Ketika Saman menghampirinya, gadis itu berlari ke dalam hutan dan terjatuh ke dalam sumur.
Wisanggeni lalu menolong gadis itu yang diketahuinya bernama Upi. Wisanggeni mulai mengenal keluarga dan masyarakat di daerah tempat tinggal Upi di sebuah perkebunan karet Sri Kembang. Yang akhirnya membuat Wisanggeni tertarik untuk menanamkan modal untuk pengembangbiakan karet. Hingga akhirnya Wisanggeni terlibat dalam masalah, yaitu saat pemerintah ingin mengganti kebun karet yang telah tidak produktif lagi dengan kelapa sawit.. Penolakan warga Sri Kembang, menjadikan teror di desa itu. Terjadilah kerusuhan yang mengakibatkan Upi dan isteri Ansor, kakak Upi diperkosa. Mereka juga membakar perkampungan hingga Upi ikut mati terbakar. Wisanggeni ditangkap dan disiksa. Ia dipaksa mengaku sebagai pemberontak ekstrim kiri yang bermaksud menggulingkan pemerintahan yang sah dan mengkristenkan masyarakat. Tetapi Wisanggeni dapat berhasil melarikan diri berkat bantuan teman – temannya. Tetapi wisanggeni menjadi buronan yang kemudian mengganti identitasnya menjadi Saman.
Laila yang dulu sempat jatuh cinta pada Wisanggeni semasa SMP, kini terlibat asmara dengan Sihar, pekerja pertambangan. Laila dan Sihar bertemu ketika Laila yang berprofesi sebagai Fotografer meliput di pertambangan. Sebenarnya laila dan Sihar telah memutuskan untuk berkencan di New york. Tetapi Sihar justru mendahului pergi ke New York bersama isterinya.
Wisanggeni yang menjadi buronan teryata berhasil melarikan diri ke New York berkat bantuan Yasmin dan Cok. Disana Wisanggeni yang telah berganti nama menjadi Saman, teryata berselingkuh dengan Yasmin yang sudah bersuami.


KOMENTAR
Ada yang menganggap Ayu Utami terlalu menonjolkan seks dan pergaulan bebasnya. Tetapi bagi saya, itulah kelebihan novel Saman dari Novel lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar