ANDRIW

Foto saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Minggu, 24 April 2011

Puisi 2005

Kuldesak Daun Basah
-- Tiwi Andayani --

Akhirnya basah
Bersama genangan lantai
Sejilid album di tepian tidur
Membayang tak kasat

Akhirnya tinggal uwuh
Gelimang peluh di atas daun basah
Lupa terbangun matahari musim kelabu
Bagi pesta ulang tahun
Tanpa tart
Tanpa kado istimewa
-- dering di sana menggetar
dan umpatan kalbu memisah rindu
; kenisbian abadi

Kuldesak daun-daun basah
Menambat perangkat usia
Dalam igauan semenjana, berlabel cinta
Punya kita berdua; membias kabut
Pandang matamu yang jauh

Grinjing, 00:05, 260105



Vacuum in Little Poetry
(LPJ UNSTRAT)

Embun masih basah dan di luar mendung. Mendung
Yang murka semalaman membelit
Kisah sewarsa saling terbaca
Mengurai dari berbagai prosesi
Bukan tinggal gelanggang

Serupa rumbia pun kami menyulut api
Siap berkobar juga siap dipadamkan
Memanas dingin apologi
Menggamit pengap hingga telanjang kata
Sel diranggas setumpuk mekanisme, melankoli arbitrer

‘Mereka’ memberi senyum batu
Malam ini tak memberi ampun sekalipun
Oleh sebuah lakon berbalut bercak
Yang mungkin diwariskan pada mereka-mereka
Lantaran rencana-rencana terus memburu

Menunduk dan ngungun. Tak ada orasi membahana
Dalam semedi, wajah-wajah mengepung
Takluk pada kesepakatan labirin malam
;ditolak (teriring sungging yang ganjil)

Karangmalang, Februari 2005




Taman Berlumut

Sore ini di sebilah puisi
Remang bergantung sepasang mendung
Merayu musim, menggoda tukang puisi
Atas taman berlumut menyongsong romantika senja

Batu betina itu masih terpuruk di sekeliling taman
Tampak lembab dihinggapi lapuk
Bersedeku di setiap penjuru meratapi langit kelabu
Hingga menderas air kali
Mungkin menuai air mata yang muncrat dari kornea
Karena redup senja membutakan angan puisinya

Prelude, vaginamu goa batu
Taman berlumut, bias nikotin
Tempat kami mengurung cinta
Lalu menyemai biji sehabis mangsa
Hanya lumut yang membuat hijau taman ini
Aroma lavender seperti menghardik
Pinggiran kali dan aliran kata yang tereja
Oleh batu yang lama disetubuhi

Kyai Langgeng, Magelang, 120305


Pedhalangan

Aku bukan Kamajaya, kasih sejati Dewi Ratih
Aku bukan Bathara Guru, penguasa cinta bermahkota Uma
Tidak juga Salya, bersanding Setyawati dari masa yang terbakar

Tapi mungkin,
Aku juga Resi Talkanda, karma wuyung Amba yang terpanah asmara
Aku juga Abiyasa, dalam buruk rupa persunting sekar kedaton
Aku juga Janaka, juru rias mempelai Banowati yang urung
bersanding
Aku juga Bratasena, asih-asuh menyusui Abimanyu
Aku juga Burisrawa, pencari kisah Bratajaya meski kalah segala rupa
Aku juga Antareja, penjilat tapak kaki senja yang tersia-sia
Aku juga Antasena, berbudi batu pengarung seatero bahari
Aku juga Parikesit, satria piningit pewaris kaca benggala
Aku juga Ramawijaya, dalam medan waktu merindu penuh cemburu
Aku juga Laksmana yang menukil kalbu dalam keperjakaan

Lakon telah paripurna, dalang mematok gunungan
Kelir hampir digulung,
Blencong telah padam, segala meredam

Begitu juga aku, telah membantah gelisah
Di antara gugur bunga. Tak sampai mekar saat jelang fajar
Bunga hampir mati pada jiwa yang membatu
; Kasih, sepotong bulan mengawang di penghabisan malam
tanda musim gugur hampir tiba

Grinjing, 17 Maret 2005//02:01




Menyimak Puisi Tuhan
: hesti

Simaklah hujan nyanyikan pujian
Membaca syair jenazah, bukan berkafan
Beku badan, tangan kaku sedeku
Tak tahu akan menulis apa

Simaklah hujan, puisi-puisi tuhan telah terurai
Seiring rerintik bertumbuk
Atas deras, jauh di seberang ruang
Tertimbun sisa waktu, sekejap embun di atas nisan
Menghimpit dalam pengap yang berat. Menimbun
Bingkai foto, kemarin tertampang dalam album
Sepanjang kenangan tinggal hikayat

Senandung panjat-Mu,
Dari dalam peti tak tedengar lagi
Isak berantak, jerit memanggil atas-Nya
Hanya tinggal meja dan dupa
Mengabadikan sesembahan

Simaklah hujan
Pekik mencabik cakrawala
Ketika iring-iringan hampir diberangkatkan
Penghormatan terakhir diagungkan

Semua pasti selesai
Perpisahan pasti kejadian

Gedongkuning, 070405




Romantisasi Senja

1)
lagu-lagu memekak nyalak
olehmu, inilah rindu yang tak jua
layu; daun-daun kering diranggas musim
dan sungai-sungai malu mengalir

lagu-lagu rindu mengesampingkan kantuk
insomnia dini hari

tidurkan pejam, sayang, pejamkan rasa

2)
lirik-lirik melirik rona, kasihku
padamu; bunga-bunga mekar, masih wangi semerbak
dan berbunga manca warna

lirik-lirik romantisasi mengirim kumbara
tresna – selaksa beethoven gandrung

wujud ganda bermakna tunggal,
mari bercinta menggapai firdaus

(fatamorgana meradang saat singgasana
saling mengutup: perpisahan abadi)

Grinjing, 08042005
17: 17


Amuk Ombak
- catatan untuk mamak -

Amuk ombak datang menyerang
Dengan buih putih perak
“Hantam aku sebelum engkau keruh. Terik begitu jalang
Bimbang mengekang dari segala penjuru.”
Riak telah bercampur dengan pasir
Hingga ada kepiting bermesraan di taman seloka
Dikelilingi aporisma kaki langit
Mengail mimpi rembulan kasmaran
Dari sejarah yang mati rasa
Sebab begitu lama perjalanan cinta
Di antara keduanya
Angin laut menggiringmu mendarat
Kuselami kejantanan lewat payudara dari pasir
Pahatan khusus atas-Mu
Saat pejam berjamaah, gaduh malam buta
Mengabar kisah dan kesah
Pedih tebing longsor atau arga gonjang-ganjing
Terik basah peluh memanggang ekspositori
Anakmu lanang tak kuasa meratap
Segala mula kenangan masa kecil menambat
Sebuah samudra bernama rumah. Berombak gemuruh galak
Membuat paha dan punggungku terbakar akas
Sebuah prolog: persembahan dan cita-cita
Apa yang dapat kau banggakan selain semat di kepala
Perjuangan untuk pengabdian? Ombak itu tengah bersajak
Sebab asah, asih, dan kasih abadi baru kularung
Di pantai kumal, terbayang kaki langit kecilku
Melayang burung rantau di kejauhan nusa
Terbang jauh menyeberangi samudra, membelah bukit pasir
Dan ombak membawaku ke sini
Ombak itu adalah Ibuku!
Parangkusumo, April 2005







Mati Sunyi

Daun gugur pagi jelang siang
Jatuh telungkup di atas rumput jalang
Layu, luka terbakar fana
Hilang bentuk, pudar warna

Ia terbaring binasa
Meratap iklim yang mewabah nestapa
Dan pagi lari mengejar kalamangsa
Bak engkau yang enggan berbagi

Mati dari matinya, distorsi mati sunyi
Riuh bertudung matahari kesiangan
Kamuflase musim meniup sukma

Selagi kering menggarang stomata
Cukup beri ia istirah
Kita kan berbagi setelah ajal memanggil
: persistirahatan (kala masih lama)

C10.103 UNY, 10:05. 26042005







Hidup untuk Sebatang Rokok
: anhay

Pedut melilit-lilit
Tapi jua tak turun hujan
Hanya gerah yang merejang ranah puisi

Abu yang kau tabur barusan
Memahat resah seisi rumah
Puntungnya mematung, prasasti tepi kali

Seberang dinding masih saja bising
Nyanyian atau lengking gitar tiada beda
Bermakna kognate di selubung malam

Asap membumbung rambah jengah
Kelabu mengukir bayang semu
Elegi setengah hidup, rekanmu
Hayatnya tinggal setengah jengkal
Dengan senyum nanar seakan dipaksakan
Terpuruk di sudut memecah ngilu
Hari-hari semangkin meretakkan kepalanya

Grinjing, 27 April 2005




A Rock The Day’s
: nDaru

seorang pejantan gontai, mabuk oleh alunan
menggetar dari membran, seperti tetesan keringat
terengah mengiringi aku yang bersimbah darah
segala irama membahana dihentakkan ketika bulan separuh
marah di tengah gelanggang. ruang pun bergaung
oleh tangan-tangan yang enggan disungkemkan

aku mabuk akan bayang-bayang bertumpuk
(alunan terhenti sebelum lakon usai)
antara detak dan gertak di pergantian babak
gontaiku di antara liuk koreografi
tiruan tarian mengejek kedwimanusiaan
meraih lelah dari lakon sekian berproses
bakal disimakkan, perayaan kami waktu lusa
rujukan sejarah kelahiran berulang
dalam mabuk yang tangguh

Karangmalang, 17052005



Bila Bulan Kembali
– Udan – Nugroho –

Bulan dalam hatimu kembali berbinar
Di antara deretan bangku berkarat
Dibasuh malam sarat makna

Ria menyanding membawa ceritera.
Kami jadi petutur
Dan bulan tersenyum hambar,
Hampir bersinggung dua sudut
Dalam rona mengembun dingin. Engkau
Tenggelam oleh serapah, begitu sayu dan lugu

Di meja ini kembali engkau bertaruh. Bulan tanpa cercah
Berselang di janggamu menghardik balik.
Dia pun beranjak;
Pengharapan kian benderang bertabur bintang
Pandang bulan kemarin
Panggil purnama padamu
Segala mimpi bisa terjadi
: Hari baru berganti
Akan ada lagi bulan baru

Bila bulan kembali esok malam
Lalu langit menitip kerdip bintang
Selubungi awan putih, lindungi dalam pelukmu
Dan kenangkan dia dalam persidangan istimewa
Memoar Karangmalang membikin kampung melambung,
Melesat bintang jatuh membelah cakrawala
Lalu para pengiring ke mana perginya
Bulanmu terperosok dalam black hole menganga

Burjo, 080605




Abimanyu

Aku kuncara
Di tengah medan perang
Di padang Kurusetra
Hajan panah seakan terhenti
(beberapa menembus pusara)

Dalam remang petang
Di tengah kungkungan
Kusaksikan tangisan sekaligus cacian
Mana kawan mana lawan
Seperti menghantarku ke haribaan Ibu Pertiwi

Grinjing, Juni 2005


Bekal Sebelum Perpisahan

Kasihku hilang
Seutas senyum dan kecup
Tuntas sudah

Menyisa bibir kelu
Yang kau pagut
Terluka
Selanjutnya air mata berderai
Tak tahu ia akan jatuh ke mana
Mungkin ke gundukan tanah merah

Grinjing, Juni 2005

Kulonprogo Akhir Juni
- RTY -

Aku kenali liku-liku.
Garis persilangan penjuru timur kotamu
Hiruk pikuk di tengah Alun-alun tua
Pemuda berkejaran ke ambang arena
Melesatkan impian yang dibangun
Oleh masa yang sama sejarahnya.
Tugu atau prasasti namanya
Menghempas sanggul lukar kebaya
Di kampung pribumi
Tumpah darah dan aliri bantaran sungai
Untuk buangan mereka
“Ini adalah kota di mana engkau dilahirkan
di perbatasan, bangun dengan keringat dan hati suci
gelar kerja hidup matimu.”

Di sini aku termangu
Menatap genangan hijau di bawah pandang
Kampung yang mencair. Sawah pun berubah bah
Sekawanan kampung tenggelam dalam bungkam
Sebab tak lebih lantang dan perkasa
Dari seonggok padas beratas nama
Tapi, Sayang
Cintaku takkan tenggelam

Aku tapaki tangga tepi samudramu
Ketika kutatap kapal nelayan hanya merapat
Tak berlayar di antara rasi bintang
Ombak mengamuk di kedalaman samudera
Bulan mati di pelelangan selalu seperti hari berlalu
Nelayan sangsi memilih terbalik kuali
Dapur tak berasap sampai tepi kali

Juni, 2005



Baron van Java

Ombak pantai
Hati tinggal sebutir pasir
Jangan sampai kecil hati
Kita ada karena kebesaran hati

Ombak berkejar gencar
Hadang laju perahu
Diterjang dengan dada lapang
Teriring tangis yang tersayang
Ketika Yang Mahasiang sembunyi di balik bukit
Lekas bentangkan layar
Angkat sauh
Agar senja yang temaram
Tak terhadang pasang gelombang

Sudah saatnya kita beranjak
Menuju biduk yang kita sewa
Hanya ini yang kita punya
Mungkin nanti bisa bermimpi
Kapal induk di belakang hari
Milik kita pribadi

Gunungkidul, 2005






Warisan

Bunga kantil ujung kampung
Membuka lembaran petang
Ketika angin membuyarkan angan tentang bunga-
bunga
Dan hitungan langkah di jalan setapak
Pekuburan tua itu
Berlarian angin pagi dan sore
Menghembus tanah merah yang menanti hari esok
Untuk siapa akan diwariskan

Tanah waris tinggal pertanda
Batu nisan menghias liang
Hilang
Rata dengan tanah dan pondasi
Disangga dari bawah
Oleh tulang-belulang yang kini jengah
Dan menguburkan mereka dalam diam

Metro, Juli 2005





Pasar Malam, Pandangan Malam

Atas nama kesepian, terbang bersama
Semburat hawa terang dari tepian tanah lapang
Di sana
Di bawah lampu pasar malam
Syair ini masih berkelana dengan kepak sayap
Ketika rembulan menjanjikan kehidupan
Dan kemarau pertengahan Juli
Membikin mlarat sebagian kota
Bumi terluka cakaran nasib
Melayang sosok kelas ini
Tanggal pertengahan, hati setengah lapang
Lubang hampir digali
Impian terlipat lembaran tahun
Hampir tiba masa tanam sebelum panen
Kapan bisa kubungkam jeritan kaki lima
Obral sandang dan kesenangan
Lampu pasar malam terbang berkejaran
Membakar lara, rengekan merajalela

Metro, Juli 2005


Syair Getir suatu Ketika
(bersama dexXa-S tee)

Syair getir ini
Lahir
Ketika layar kata tak lagi mengembang
Mengirim kabar dari surat cinta tanpa prangko balasan

Purnama berangsur pudar
Mega berarak menggugah resah
Ketika dendang malam mulai jengah
Mengiring lara hati
Hampir tuli oleh serangan kidung asmaradana

Syair ini lahir
Di rumah kata
Ketika kita, aku dan kamu
Terbang sana -- sini
Mencari bayang-bayang yang lari

Metro, Juli 2005


Cerita Perempatan Jalan

Dalam hitungan detik sambut tujumu,
Kekasih
Kapan kita terakhir terpisah? Hanya tangis lama
Waktu itu hanya basah pipimu menghujani tanah air
Di luar hanya ada malam anggarakasih
Hujan tangis baru saja pamit
Datang kemari. Datang kemari
Bawa tangismu sekali saja
(Hanya gaung dari dinding gedung)

Tinggal setengah jengkal engkau berlari
Sisakan keringat dan letih untukmu yang kini lumpuh
Sapa saja raga kering ini
Untuk tekad menapak angkara kemarau salah mangsa
Elegi terpanggang oleh panas ketiga
Hilang dalam periodisasi sunyi
Bersama alur laju langkahmu

Deru bergemuruh
Mungkin di sana menjerit tanpa rekan
Mencari sumber suara-suara asmara
Di antara dengkur bersambut
Berebut hidup di tempat berantah
Paripurna membelah hari-hari yang tak lama lagi

Jalanmu masih panjang sampai seberang
Galang hadang rintang
Bawa sepikul cita dan cinta
Untukku saja

Metro, Agustus 2005


Akhir dari Bulan Murung
---- X-A ---

Menyisir cahaya terang
Berlalu ke rontokan bintang
Sembarang bersinar
Di terawang jalang mati tanggal
Bulan murung
Merintih dalam pedih
Lebih perih dibanding sayat sembilu
Tajam bahasa puisi

Tanah membasah
Debu memancing cerita
Tapi kata tak terjaring pragmatik
Bulan bersembunyi di kerudung kelabu
Menunggu rekan hendak menghantam
Tampak murung dominasi sisa gerimis
Bulan dan bintang kelam
Kembali tenggelam dalam pelukan malam

Mungkin pagi akan menyeramkan
Sebab malam
Beringsut semakin pekat
Angin sesekali menyibak tabir
Kemana akan dibawa lari
Tapi jangan kau bawa lari puisi cintaku

Agustus 2005


Purple Rose

Adegan tangis, kuncup tersipu
Tersapu
Membanjir jambangan
Kelabu, bukan pot
Hanya pispot dari kubangan bernama paru-paru

Ungu atasmu jibaku oleh bisu cintamu
Sesaat
Mawar-mawar itu kupetiki satu persatu
Berpasang dengan puntung dari moncong
Pembuangan akhir
Yang semerbak di lekang waktu

Tiada bungaku
Tiada kuncup ungu di ruang perhitungan
Seluruh tangkai menjadi kawat tembaga
Serupa antrian di sepanjang rentang yang jalang
Lalu mereka lumpuh
Terbakar sebatang-sebatang, dari cinta
Yang tercecer di jalanan
Sebelum kuncup mekar berbagi wangi
Trotoar tempat aku barusan berpijak
Kehilangan jejak
Seketika terhenti membelah kebohongan

Pada sebuah asbak yang ditumbuhi bunga-bunga
Tak akan pernah layu
Meski bunga berkelopak tapi tak merebak, tak juga bersajak
itu hanya bunga plastik

Klaten, 27092005


Drama Sebabak
EA1

Kalian membara di selingkung puisi
Alienasi waktu
Cibir selubung hari
Vokal eksodus wajah-wajah baru
Ekspresi tak semestinya
Drama komedi yang mudah terpahami
Tak seperti bahasa puisi
Setelah teriakan demi teriakan
membahana semesta gelanggang

Memang aku salah
Tuli oleh bisikan atau telepati jaman
Saat puisi tumbuh di kata hati
Serumpun belukar kuterjang dengan parang kata
Dari sela rentang waktu dan tirai bambu
Yang terhempas di ujung penantian
Begitulah, dering beriring, rindu dan curiga bersatu
Mengendap dalam kerapuhan batu
Sementara tanda baca dari bias cahaya
Memparafrase sebuah makna paling sederhana

Bahasa rona samarkan sisa tangis atau senda
Oleh siapa? Tiba-tiba isi kepala terurai
Ribuan puisi berjatuhan oleh prahara beberapa hari

September, 2005


Jurit Malam
idl&ds

Dari alur kali
Sedari siang yang meriang, dan mereka lupa pribadinya
Di jalan batu, pematang, dan arus
Berpenghuni sekawanan rekan tak kasat
Datang memberi isyarat
Di jurang nurani melamun rembulan
Memojok dara seorang diri
Khayalmu kosong. Tak merejam kata
Tinggalah raga yang jatuh di kungkungan
Tapi igauan mengalahkan panggilan
Lalu berpasang mata tertuju padamu
Ayat-berayat turut menyambut

Yang sakral itu senantiasa mencipta keangkuhan
Dari sekeliling, beribu bulan sabit membabat kisahmu
Ayat-ayat bersahut dan berorang-orang datang
Dzikir tiada akhir, mantram merejam
Selongsong sajak mendeklamasikan iman yang ringan
Jeritan angin menggelepar bayang
Kematian senang padamu
Menempel di kegalauan hati

Ketakutan melukiskan pemandangan ngeri
Imajinasi dini hari yang hangus terbakar jerit
Mereka kembali datang dan ceracau semakin kacau
Ia berkisah tentang buih yang membawanya hanyut
Dan kami pun berkenalan, tapi hanya ilusi
Segelas air terpercik sebuah nama
Kamu lupa, padahal baru saja kalian bersatu dalam pilu

Babarsari, 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar