ANDRIW

Foto saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Minggu, 24 April 2011

Permasalahan Seksualitas dan Feminisme dalam novel “Saman”

Novel “Saman” hasil tulisan Ayu Utami penuh dengan aspirasi dan juga rasa amarah terhadap institusi patriaki terhadap wanita. Novel ini bercerita mengenai perjuangan seorang muda bernama Saman, yang dalam perjalanan karirnya sebagai seorang pastor harus menyaksikan penderitaan penduduk desa yang ditindas oleh negara melalui aparat militernya.
Saman akhirnya menanggalkan jubah kepastorannya itu, dan menjadi aktivis buron. Sebagai seorang aktivis, Saman mengembangkan hubungan seksual dengan sejumlah perempuan. Ke empat tokoh perempuan dalam novel itu Shakuntala, Laila, Cok, dan Yasmin, merupakan empat sekawan. Mereka muda, berpendidikan, dan berkarir. Sebagai layaknya sahabat, mereka saling bertukar cerita mengenai pengalaman-pengalaman cinta, keresahan dan pertanyaan-pertanyaan mereka dalam meredifinisikan seksualitas perempuan.
Novel “Saman” mendobrak berbagai tabu di Indonesia baik mengenai represi politik, toleransi beragama, dan seksualitas perempuan. Ada pihak-pihak yang mengeritik novel tersebut karena dianggap terlalu berani dan panas dalam membicarakan persoalan seks. Tetapi banyak pula yang memujinya karena penggambaran isi novel tersebut apa adanya, polos, tanpa kepura-puraan.
Selain masalah seksal yang dikupas tuntas tanpa kepura-puraan dalam novel ini dibahas juga tentang penindasan yang dihadapi oleh penduduk Sei Kumbang adalah negara dan aparat militernya, yang merupakan cerminan dari rejim orde baru pada waktu novel tersebut ditulis.








Permasalahan Seksualitas dan Feminisme dalam novel “Saman”

Seksualitas dalam novel ini merupakan tema paling hangat yang sebelumnya belum pernah ada dalam konteks masyarakat Indonesia, dan merupakan permasalahan utama yang akan dibahas di sini. Dilihat pada permukaannya, pengakuan akan seksualitas dari semua tokoh dalam novel ini, khususnya keempat tokoh perempuannya, merupakan tantangan nyata terhadap penindasan seksualitas di luar perkawinan yang lazim terjadi di Indonesia.
Perbuatan seksual sendiri digunakan dengan cara yang lebih simbolik untuk merujuk permasalahan spesifik tentang sejarah, asal-usul serta gerak maju dari sistem patriarki ini. Sebagian dari simbolisme ini sangat metaforik; khususnya dalam fantasi-fantasi para tokoh perempuannya, hubungan antara Wis dengan Upi, seorang gadis yang mengidap keterhambatan mental, dan penulisan kembali Yasmin tentang kisah penciptaan di halaman-halaman akhir buku ini.
Ayu Utami juga berani membentuk watak wanita biseksual dalam masyarakat yang dibesarkan dalam lingkungan homophobia dan represif terhadap tema-tema "penyimpangan moral". Dan dalam 'Larung' novel kesinambungan untuk 'Saman', watak Larung jelas menyimpan rasa minat terhadap tubuh lelaki yang kekar. Watak-watak yang mungkin akan menimbulkan persoalan moral ini terus-menerus dihidupkan Ayu untuk mewarnai novel-novelnya. Kutipannya: “Namaku Shakuntala. Ayah dan kakak-perempuanku menyebutku sundal. Sebab aku telah tidur dengan beberapa lelaki dan beberapa perempuan. Meski tidak menarik bayaran” (115).
Alinea-alinea yang penuh cerita dan kompleks ini membawa kita untuk menelusuri sejarah perjuangan feminis. Dimulai dengan kisah yang sangat klasik, dan sangat khas di Indonesia, yakni krisis Leila, yang terluka hatinya karena cintanya kepada seorang lelaki yang telah menikah dan penghormatannya terhadap nilai-nilai orang tuanya. Kutipannya: “Lalu cinta menjadi sesuatu yang salah. Karena hubungan ini tidak tercakup dalam konsep yang dinamakan perkawinan. Ia sering merasa berdosa pada istrinya”(26).
Adegan seksual yang dilukiskan Ayu Utami memberikan gebrakan baru sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan seksual wanita di luar pernikahan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh perempuan dalam cerita.
Peran perempuan dalam kesusastraan Indonesia secara tradisional mencerminkan standar-standar masyarakat yang patriarkal, yang telah lama mendominasi seluruh wilayah kepulauan ini, khususnya di Jawa. “Konsep kodrat” wanita, yakni sifat feminin yang melekat pada perempuan serta peran perempuan sebagai istri dan ibu. Kutipannya: “ Tahukah kamu bahwa kisah itu telah menginspirasikan keputusan-keputusan yang tidak adil bagi perempuan selama berabab-abad? Kita hidup dalam kegentaran seks, tetapi laki-laki tidak mau dipersalahkan sehingga kami melemparkan dosa itu kepada perempuan” (183).
Para perempuan yang mencapai posisi kekuasaan seksual, personal ataupun politik, terutama jika mereka melakukannya secara bersatu, dipandang sebagai ancaman terhadap tatanan sosial yang wajar, sebuah mitos yang dilekatkan terus-menerus pada Gerwani saat terjadi kudeta Komunis 1965. Kutipannya:. "Masalah perempuan dianggap masalah yang khas kaumnya, yang laki-laki tak perlu bertanggungjawab, padahal seluruh penindasan terhadap perempuan bersumber dari patriaki tadi .Trulin memberi contoh marital rape, yang selama ini dianggap sebagai persoalan privet dan domestik. Keengganan mengakui maritial rape sebagai masalah seluruh manusia adalah kegagalan mengakui hak asasi wanita sebagai hak asasi manusia" (180).
Unsur seksual bagi perempuan dalam kesusastraan Indonesia modern sangat berbeda dengan tulisan-tulisan sastra tradisional yang berkutat dalam topik itu dengan ‘keterus-terangan dan semangat’.Pelukisan seks dalam kesusastraan mencerminkan suatu sikap sosial yang tersebar luas di Indonesia. Seks jarang diakui sebagai sebuah aspek dari kehidupan sehari-hari, melainkan lebih sebagai wilayah sakral pasangan yang menikah atau dalam konteks kebejatan moral berupa pornografi. Simbolisme seksual yang digunakan Ayu Utami dalam tulisannya itu merupakan sebuah tantangan yang tepat pada waktunya serta jujur lagi menyegarkan terhadap sikap-sikap ini.
Di awal novel ini, Leila sedang berada di Central Park, New York, menunggu rendezvous dengan Sihar, lelaki yang sudah menikah yang kepadanya dia jatuh cinta. Di akhir cerita, Leila merasa terbebaskan dari tanggung jawab terhadap orang tuanya dan terhadap istri Sihar. Jarak geografis menciptakan sebuah ruang psikologis antara dirinya dan pengharapan-pengharapan kultural dan sosial Indonesia, akhirnya dia merasa sepenuhnya dan seorang diri memegang kontrol atas tubuhnya. Kutipannya: “Dan kita di New York. Beribu mil dari Jakarta. Tak ada orangtua, tak ada istri. Tak ada dosa. Kecuali pada Tuhan, barangkali. Tapi kita bisa kawin sebentar, lalu bercerai. Tak ada yang perlu ditangisi”(30). Kita dapat melihat bahwa Leila telah menjaga keperawanannya bukan melulu berdasarkan pertimbangan religius. Kenyataannya dia nampaknya kurang peduli tentang berdosa pada Tuhan dibandingkan rasa berdosanya terhadap orang-orang yang dekat dengan orang tuanya dan istri Sihar, sesungguhnya terhadap masyarakatnya. Hal ini cukup berbeda dengan langkah-langkah para penulis Indonesia modern lainnya yang menggunakan berbagai cara untuk melepaskan tokoh-tokoh peremmpuan mereka dari kebobrokan seksualitasnya.
Sifat seksual yang terbuka dari dialog di sepanjang novel ini sungguh menyegarkan, sebuah cerita yang realistis dan tidak sungkan-sungkan tentang hubungan-hubungan di kalangan kelas menengah muda Indonesia, khususnya para perempuannya.
Tokoh Tala dalam novel menawarkan suatu penolakan yang bermuatan seksual. Sebagai seorang perempuan muda Tala mengatakan kepada kita bahwa dia pernah punya affair dengan seorang raksasa, yang mana dengan raksasa itulah dia kehilangan keperawanannya. Tala tidak pernah menjelaskan kepada kita perwujudan dari raksasa itu.
Novel ini menampilkan sebuah bahasa yang mungkin sebenarnya sangat tidak familiar bagi banyak orang Indonesia, dan tentu saja bukan bahasa yang disajikan dalam bentuk klise, bukan pula bahasa orang-orang tertindas pada masa pemerintahan yang tak bebas Akan tetapi, kata-kata dan kumpulan konsep yang diungkapkan dalam dialog ini juga-lah yang melawan norma-norma masyarakat Indonesia, dan langsung menantang pikiran-pikiran patriarkal tentang banyak hal, di antaranya tentu saja seks. Kutipannya: “Ketika Sihar akhirnya membawa Leila ke sebuah kamar hotel, teman-teman Leila berkumpul di tempat lain untuk mengantisipasi telepon pasca-senggama. “Mereka tidak berhubungan seks!” tukas Yasmin. “Siapa bilang? Pokoknya, semua tindakan saling merangsang, atau menimbulkan rangsangan pada organ-organ seks adalah hubungan seks. Apalagi sampai berorgasme. Soal masuk atau tidak, itu cuma urusan teknis.”(130).
Sebuah unsur yang seringkali diabaikan pada permasalahan feminis, khususnya di Indonesia, diangkat di sini. Sekarang ini, permasalahan seks sudah bukan monopoli majalah-majalah pria saja. Banyak majalah wanita yang memuat masalah tersebut. Hampir semua media baik cetak maupun elektronik memiliki rubrik khusus mengenai seks.
Dalam novel ini dijelaskan secara biologis perempuan lebih banyak dirugikan dalam hubungan persanggamaan ketimbang laki-laki, misalnya resiko hamil dan tidak gampangnya perempuan mencapai kepuasan dalam berhubungan seks. Di sini Ayu berpendapat bahwa dieksploitasinya seks, atau lebih tepatnya teknik-teknik seks akan merugikan perempuan nantinya. "Pembicaraan teknik seks tidak akan menyelesaikan masalah dalam hubungan pria-perempuan, tapi itu tidak berarti buruk. Justru apabila seks itu dibicarakan dari kaca mata perempuan, hal itu memungkinkan perempuan untuk menjadi subyek dan bukan obyek seks." Ketidak seimbangan dalam relasi jender harus diselesaikan dengan cara lain misalnya melalui pendidikan.
Pada akhirinya permasalahan seksualiatas dan feminisme yang banyak terjadi harus di atasi dengan pendidikan. Novel ini merupakan salah satu perwujudan karya sastra yang di dalamnya memberikan begitu banyak pengetahuan seks dan feminisme sebagai pendidikan bagi para penikmatnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar