ANDRIW

Foto saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Minggu, 24 April 2011

Puisi 2007

Senandung Putus Cinta 2
--Tiwi Andayani--

Lilin kecil belum sempat berpadam
Desir cemara belum lama berpuja
Serasa kornea enggan terpejam
Sebab layar kata lama terperam
Ada kata yang berkaca-kaca
Dan jawaban singkat, tepat, padat, bangsat
Menyeka igau semenjana tanggal bermula

Tangis atau canda tiada beda
Hanya isak mendesak serak
Mungkin membanjir jatuh yang kini rapuh
Dalam rona jingga mengaliri anak sungai
Entah untuk kali ke berapa

Dalam jarak berbeda
Kulihat di sana biduk terantuk ombak
Sedang di sini pasang gelombang berpasang datang
Bersanding di riak dan gurat bukit pasir
Sambang di pantai tujuan mereka
Tidak untuk kita
Tapi sayang, tak rupa lagi biduk yang aku kamu banggakan

Telah tanggal sebuah kalender
Ketika pagi buta berkeputusan
Seutas temali tak kuasa terpancang di galangan
Bagilah biduk terhuyung di lautan
Luluh lantak ia kini dihempas-hempas pasang
Tinggal cerita bagi mereka yang kelak ada
Ditiadakan...

DIY, 010107

Wanita yang Terluka oleh Sebilah Puisi
-teew-

Ada barisan kata tanya di kerut kening
Seperti beberapa hari berlalu yang lalu
Hujat dan caci bertalu bergenderang
Wanita terpuruk dalam kotak kata-kata
Bukan salahmu, kasihku yang tadi, frasa yang
Kulafalkan ibarat firman pendosa setia
Sebagai adab atau azab berbeda
Sekalipun seribu bahasa mengartikannya

Tubuhnya terluka oleh sebaris kata
Belum sempat saya balut lukanya
Ada sebuah sekat sarat kata berkarat
Tapi kumencari-cari lubang kunci
Sebab akan saya teropong kedalaman lukanya

Lalu saya masuki lubang itu
Ada sebuah lorong yang sama masa
Dan separuh hati isi kasih di meja makan
Tapi ada pula bunga layu terpuruk di jendela
Sebilah cermin retak berserak (mungkin cermin itu
Adalah siluet hati yang tak abadi dan kini pecah sudah)

Saya lelaki yang bernama laki-laki memilih pergi
Untuk menunjukkan setia saya kepada-Nya
Bahwa tak ada duanya yang satu itu
Seperti sebutir debu, Ia kini menusuk dalam mata hatimu
“Kesakitan itu memang kau cari, kau cari, cari kau!!!
Gentayangan dalam ulu hatimu
Menghunjam rindu membunuh kasih-ku
Persajakan terbakar di jaringan lambung dan ususnya
Terburai oleh sebilah puisi prahara berhari-hari
Jogja, Januari 2007

The 24th Anniversary
Tiwi Andayani

Setiap kupandang jalanan yang riuh ini
Dari seberang matahari masih ada bulan sendiri
Berganti, sedang kita tersisih dari bayang sepi
Mimpi yang lain lagi
Sepercik cerita tersembul kekecewaan
Denyut hari kenangan, bukan juga kemenangan
Yang mengirimmu pada sebuah pesan
Seakan memanggangmu dalam mega-mega kepedihan
Senantiasa, serta iba dan kasih terpadamkan
Diam-diam hilir mudik itu menghempasmu perlahan

Adalah tentangmu, gadis bersolek bayang ungu
Berpayung rindu, untukku kala itu. Terlindung ragu
Terik, deras hujan musim ini, kaumurkai burung berkicau
Hingga kau dan aku diterpa gaharu

Segumpal sisa pembakaran udara tabu
Menerbangkan bagaskara menjorok ke barat, asal-usulmu
Sesaat hinggap di reranting kering di tanah gersang itu
Bertahun lamanya ia menunggu dukamu semenjana
Seperti rawa-rawa berlumpur tempat segalanya bermuara
Atau samudra di sana tempat kita memakan kelana senja

Sepoi angin Januari mengemasi sajak akhir
Sebelum sempat kudatangi reruntuhan cahaya, rimba sepi
Semakin dalam tersembunyi lorong-lorong usia
Sebab sepenggalah matahari menghabiskan cerita kita. dan
Sibakan sapu tangan darimu mengutupkan
Sayang, tapi tidak untuk ceritamu selanjutnya

Sepertinya ada sebabak skenario tuhan mesti kaulakonkan
Sebagai epilog sebelum malam menjumpai-Mu dalam kelam
Terban GK V/455, Ykt, 26 Januari 2007
Lady’s for Indonesian Republic
--gie—
Girang berona nyalang
Impian datang remang-remang
Engkau enggan berbagi degub jantung
__
Meregang jalang berulang-ulang
Akan tak berakhir tegang
Rupa lelaki sebangsa dan sesama di seberang
Lewat ujung sembilu, bayang kota menggelinjang
Esok hari berangsur jalang
Yang jauh dari peradaban, percintaan gemilang

Setiap sudut kota mengajakmu ke situ
Persinggahan bersama. Entah dengan siapa
Mereka penghambaan batu berlubang sembilan
Mengganjilkan pesonamu .Hadir sebisik peri dalam angan

Perempuan pengembara. Berkelana mencari apa
Tak akan pernah bosan.Sampai gingsul dan nanar senyummu
Jadi bahan bergunjing sampai kini. Orang terpinggir ke tepian
Terjatuh merengkuh peluh
Ia punya sebangsa. Sawah dan ladang letak membajak
Sungai dan pantai, ngarai dan hutan
Melukis untukmu dalam suatu bahasa
Entah apa namanya. Tanya saja hatimu
Seperti reranting patah
Sejauh-jauh langkah hendak kembali ke tanah
Sebab tersihir perempuan sewaktu rebah
Nama-nama pendatang bersaing pada siang
Sedang aku terlempar ke roda-roda seberang
Seperti tak hendak beranjak, takkan terkungkung
Sampai berabad-abad menyusuri serpihan mega
Bawa segenggam senyum segala penyuka rahasia
Yang kini terhalau musim tanpa nama
Jogjakarta, Februari 2007

Seorang Gadis Memeluk Bulan dalam Pejam
: R. Manon
Lelah menjamah bulan
Letih menidurkan awan di pangkuan
Dibuai dengan tamparan angin
Datang bertubi menahan desah, gelisah
Sepokok gadis di antara ruang
Mengintip sepasang bintang yang sedang bercinta
Dalam remang malam, engkau hendak pejam
Lalu berpamitan memimpi matahari

Engkau tenggelam dalam selimut hitam
Sungging di sudut bibir hendak berkata apa
Beringsut sedikit memaling diri
Sekejap dan hilang. Kembali sunyi aku sendiri
Pada goresan-goresan maya di barisan kata, untukmu saja

Igaumu meghentak bumi
Serasa bergetar kaki langit
Atasmu, memeluk purnama tenggelam
Lara dalam kedalaman katup kelopakmu
Bukan putik binasa, hanya merah mata membara
Membakar kesunyian semenjana jemari menghadang duka
Menggenggam bara untuk kau taburkan sebagai mimpi
Lalu bersemi di parit nurani bersama tanah rekah musim ini

Udara bergeser memberi jalan
Sebab ada sesuatu yang halus menyapa perlahan
Dengan berbisik menghentak warna langit, jangkrik ngerik
Kemana perginya mimpi-mimpimu?

Aku masih di sini menulis sepi
Dan para pemimpi masih menunggu datang esok pagi
Sedang malam masih berdendang dengan iramanya sendiri

Karangmalang, 4 Februari 2007, 03: 30


Prahara Kapan Selesai?

Terlalu banyak cita-cita
Terlalu banyak sejarah terlupa jati dirinya
Terlalu banyak soal membutuhkan jawab sekenanya
Terlalu banyak masalah menumpuk di kotak sampah
Terlalu banyak mereka kehilangan ratap dan harap
Percaya pada noda karat malam berkabut
Sedang ini kali kita tak bisa kenali arah cuaca

Tapi, masih sempat kita singkirkan ombak
Ke samudra
Sebab kita baru saja melangkah di hamparan pasir putih
Yang seolah riak demi riak menarik simpati
Dan kita turut jalan ke tepian pantai
Lalu, ombak pun mengombangambingkan tubuh
Terhempas
Terkurung
Terpuruk dalam palung bernama dunia binasa kita

Dan lelaki sepertiku hanya pasir di pantai
Yang basah disapu buih
Membukit dihempas angin
Tenggelam terinjak-injak
Dan engkau
Wanita yang tersesat di sebuah taman indah
Bernama neraka

Masih bisa kita bermimpi
Bahkan lebih nyata melebihi isi bait puisi
Yang tak akan pernah terlahir ke dunia. Kali ini

13 Maret 2007

05.50/270506

Kadang hujan kadang mendung
kadang berdendang kadang menari
Bumi berbagi tragedi
Sedang matahari belum lama beranjak dari sarang
Tanah ini rekah, bergerak kerak memaknai duka lagi
Sedang di utara atas sana sedang bergejolak galak pula
Sama gelisahnya
Dan jerit berderit, tangis mengaliri tepian lautan

Berapa raga terkubur di lubang masal itu
Di sana, di bawah reruntuhan usang seorang tua
Dengan lambai. Kaku dan kelu
Menahan rasa atau mengiba. Tak bisa berkata apa

Malam mencekam
Kita seperti kembali ke peradaban sunyi
Tanpa penerangan atau binar rembulan
Rerintik gerimis meminggirkan yang renta itu
Tulang rapuh, sendi tak lagi bisa berlari

Rata yang benar-benar rata
Sungguh tak pernah diimpikan yang nyaman ini
Rumah-rumah tua, kubur tua, dan orang-orang tua
Berserak rebah mendepa tanah. Berhitung satu sampai berapa
Akan didirikan dengan apa mereka…
Sedang pelepah pisang pun tak lebih kokoh dari rerumputan

Korban nyawa beribu, harta tak terkira
Tak sebanding dengan ikhlasmu
Dan mereka terima dengan mensujudi setitik Kun-Mu.
Terima kasih, tuhan

Imogiri, Mei 2007

Tiga Bulan Terakhir Kehilangan Induk Semang

Mak, ini anakmu lanang sudah purna dari terbang layang
Melayang - - - terperosok dalam tebing curam
Di antara belukar resah dan sampah tak sopan
Jangan kau sesali jika anakmu lanang yang mungkin kau sayang
Memporak-porandakan sayap deritamu akan luka semakin lara
Melabuhkan sungkem dan sembah bektiku
Di setiap harap menyulut temaram cahaya di tiap ruang
Rumah cintamu itu menyemai beribu harap agar bisa
Kaupanenkan di musim salah mangsa ini
Tapi, badai senja itu menghancurkan pesona bulan petang nanti
Ruang batin terbuang di retakan tembok pagar
Meledak puncak pegunungan. Hasrat sesat melesat di tepian laut

Mak, ini anakmu lanang hilang terbang. Kembali ke pangkuan. Akan kau timang atau kau telantarkan. Dalam kedalaman jiwamu, kepasrahan egomu. Dalam keriuhan yang tadi. Jajaran usia di keriput senja. Keperakan rambut dan alismu maknakan ganda. Betapa kau rasa. Wujud tunggal yang berhati tak satu itu. Aku turut terjaga di sana.
Anakmu lanang akan bercerita. Dimulai dari sebuah jarak antarmuka kita. Sungkan mengembun. Pada iba tiap cerita sebab tak ada cinta di sana. Hamparan neraka yang bisa biasa amat berbisa. Dan betapa dalam tereja kata-kata.

Yang sampai pada telinga dan hatimu bukan kicauan
Genderang tangis dan rasa berkepanjangan
Sisa dari kepedihan yang lara. Betapa kau terus terjaga
Ia pun heran kehilangan kata. Geram atau gumam tak beda
Jua gerangan kau kenangkan. Rasa dan karsa berkecamuk
Akan dibawa kemana rasa. Lara seperti kalimat putus cinta
Akan berakhir di sana. Perjalanan pungkasan
Sementara resah menjamah sedang hati terbakar matahari
Senja celaka kala itu
Terban, GK V/455, Juni 2007

Rindu yang itu
- wulan -

Berapa aksara dan ujaran
Aku lafalkan dan akan diikrarkan
Bukan merayu wanita kumbara di sana
Tapi, yang terjadi dengan panorama itu
Telah tertinggalkan oleh bulan di seberang
Dan hanya sisa bayang semu senyum terakhir
Dalam album foto dan sesobek wajah dalam dompetku

Metro, Juni 2007


Rindu; pagi, siang, dan malam

Bulan berpayung mega-mendung
Luruh ke bumi menyisir kabut
Horison semakin kabur
Gadis di seberang tinggal dikenang
Sebab daun kenanga jatuh menguning
Terjuntai di tanah basah
Dan bunganya layu di dahan

Aku rindu dalam sedu itu
Sedang engkau sedan pula
Tenggelam dalam rindu yang sama rasanya
Yang tertahan di anak tekak
Yang hampir beranak ini
Lantaran hari belum juga tiba
Menggiring kita ke pertemuan abadi
Seperti daun kenanga berguguran itu
Hatiku kering kerontang merambang kabar

Metro, Juli 2007


Kepulangan

Sengaja aku pulang, sejenak istirah
Ke rumahku yang dulu di timbunan usia mata
Melihat jelaga di langit-langit
Hitam berkerak seperti hatiku yang keram
Menyeret langit tua ke dalam sini

Langit belingsatan kehujanan gelisah
Dan seperti biasanya
Aku rajut lagi sejarah sarang laba-laba
Yang belum selesai. Cita yang terbakar
Di tungku sengketa itu
Sejarah yang belum tertuju atas sana
Ketika kerlip bintang tak ada gelora
Ketika angin akan pergi membawa cerita ke serambi;
Ruang tamu; kamar pengantin kita; kini
Tinggal sisa gaung saja di kejauhan cahaya

Aku datang sengaja
Kembali belajar mengeja batu-bata
Menghitung luas rumah kata-kasta
Membaca sasmita daun jendela
Terbukalah belantara. Aku akan ke sana
Panorama kehidupan hina raya
Dengan segera jemput angin. Bawa cakrawala
Diantarkan pada penawar siapa suka
Lewat huruf, kata, dan frasa sebelum senjakala

Metro, 27 Juni 2007


Obituari Anggrek Bulan

Angin mengundang kepulangan
Ketika langit bangun
Tanah lama tak terjamah oleh impian
Taman masih sepi
Hanya sisa tetesan embun
Yang bercerita bahwa jagad raya sedang berduka
Ketika bunga itu layu sebelum masa
Pesonamu terbang ke langit itu
Kejar mimpiku bersama ribuan kumbang kinantan
Yang dulu mungkin pernah ziarah di kelopakmu
Aku pun pasrah. Sayapku patah sudah
Ketika salah satu lebih dulu menggapaimu
Kuikhlaskan keindahan. Aku terpuruk
Terkubur sejarah

Tak ada lagi panorama itu; bunga anggrek
Bulan gugur tanpa pesan
Hikmat oleh peradaban suatu masa
Di atas batu-batu
Awal derita kumbang jantan
Terkapar di sudut taman pekuburan

Juli, 2007


Tiga Rupa Bunga

Kembang setaman di lekuk batu nisan
Mengumbar sesaji dan pedupaan
Untuk mereka yang dahulu pergi
Ada kenanga, mawar merah jambu, dan irisan pandan
Juga rencana sederhana yang lama tertunda
Penggusuran itu. Kau curi lelah lelap mereka
Dari pertama bermula tertanam
Sebab mereka hanya kenangan
Tak akan protes ataupun demonstrasi
Di hadapan barikade pohon kamboja

Di tebaran bunga, kau bakar berkas rencana
Sebagai kemenyan dan dupa. Kau pun lupa
Tulang belulang, sisa jasad mereka
Terpasung menikmati jelaga. Rinci dan terpuji
Dari pembaringan yang membenamkan sengketa
Terhadap siapa petak
sangat sempit
sangat sederhana
Ini diwariskan

Mereka adalah sisa tragedi bunga tiga rupa
Mereka adalah pondasi dari megah tata kota

Metro, 2007


Bocah Penggembala 2

Bocah penggembala menjaring mendung
Sebab mentari sembunyi rupa padanya
Dengan bercaping gerimis dan pelangi senja hari
Berkaki bulir padi dan kecipak irigasi
(imajinasi)
Mendung itu tak hendak beranjak
Ia turun ke bumi menulis puisi
Cakrawala senja kala. Penggembala pulang kandang
Menjemput cinta yang hilang

Semburat sulih warna cahaya dunia berkejaran
Dengan hitam malam dan kokoh Bulan
Bulan buta binar
Bumi manusia telah ubah rupa
Jalan kehilangan persimpangan
Tinggi bukit kehilangan lanskap keindahan
Mata air menjadi air mata mereka
Sebab rumput tak sempat tumbuh di dataran ini
Mereka pun beranjak dengan kekosongan

Barangkali perlu dibangun pabrik rumput instan
Untuk robot herbivora

Metro, 2007


Puisi Bunga Kamboja

Gugur bunga kamboja tak sempat kering dan layu
Di sini
Malam itu, kulihat bulan mencipta bayang
Dari balik dahan. Bayangmu sendiri
Seperti puisi yang tercuri
Kutulis di atas batu nisan untukmu saja
Lalu kukirim lewat kerlip bintang dan angin malam
Sebagai sisa harum bunga di tanah berdarah

Aku bisa merasa
Jika segala impian kita
Lebih mencekam dari malam di kuburan

Metro, September 2007


Puisiku

Puisi mini
Sudah pasti
Dan tentu

Aku orang kecil
Tak tinggi hati
Tak meniti tangga obsesi
Sumarah pada sejarah

2007


Kebebasan Bulan

Tulis saja bulan dalam malamku
Gapai kasih kerlip antara bintang
Simpan rahasia malam
Dengan dingin angin akhir musim
Awan-awan pergi beringsut
Kelelawar membentangkan sayap
Hitam, di tengah lintasan bulan
Bulan pun pucat tak menjawab reruntuhan cahaya
Tak seperti dulu
Senantiasa ia tak enggan berbagi
Serupa panah pasopati , melesat tepat
Di jantung kelelawar itu
Hingga bercahaya wajah pertiwi

Jika bulan enggan membuka jalan kelana
Bintang pun tak tahu arah
Tersesat di balik mega. Memetik rerintik
Hujan berkali turun. Dengan seksama lepas jerat

Bulan punah sudah, menyembunyikan kebebasan
Di antara angin dan bintang
Berpelukan kencang

Oktober 2007


Kesendirian yang Kau Pilih
....wln....

Kesendirian rumah cahaya inilah yang kau pilih
Sebagai pengembara dan pemimpi
Diam di rumah gulita
Tafakur dan bersujud dalam senyap
Dan pintu rumah ini
Telah menjelma bibir bungkam
Dan bingkai jendela sepasang berukir bangkai
Tertutup rapat, lapar binar

Ia lebih suka sendiri
Sunyi tanpa cinta
Berdikari pada punyanya
Tak membakar gelora

Daun jendela berkasih
Pintu tetangga senggama
Pada rumah hampa tak berhati
Bukan untuk hidup
Tapi, yang di seberang sana
Orang-orang memanggang bulan dengan bintang bara
Ketika yang di sini tak hendak mengobar pula
Dengan darah yang kau cuci sendiri
Agar tetap tanpa ucap seumpama
Sebentuk sejarah sembunyi nama

23:16, 24092007

Senandung Putus Cinta 3
– Wulan Ristanti – (131007)
Angin perantara kita
Sebuah ucapan ditulis dengan sisa cinta
Sekedar saja. Kata berhembus sekenanya
Akan ke awan pula terbaca

Ia bangkit saat penat.Menyisa isak dan gema
Dalam satu tiupan tumpah ruah
Gelombang cinta menjelma air mata
Hempas beribu debu jadi suguhan ruang tamu
Dan embun di mana pun menguap santun

Jika gelap hati mewarnai bulan baru
Seorang perempuan berselendang ragu
Langkahnya goyah terjerat kesumat
Seperti noda di paruh tubuh
Suar-suara bingung. Ia pun memilih diam
Kata atau sejenisnya urung terhubung
Lepas sudah saat tahun berulang menjelang

Tinggal kawan tanggal kasihku
Subuh telah lebih separuh berlabuh
Sisa embun yang tadi menggigilkan hati ibu jari
Hanya tak tau rasa. Terbata di petak batu bata
Angin luruh angan runtuh
Sebuah hayalan tingkat tinggi diserang perang
Perang dingin, sangat dingin
Sampai tak ada desah gelisah, nafas jelas
Tak lari dari realitas. Hari jauh sedari
Bulan yang itu, terasa mencekam
Hampir saja. Tangis kehilangan air mata
Terima kasih. Kau ajari aku menangis
Dan maaf

06:01, 1 Syawal 1427 H


Bukan Piala Bergilir

Di podium
Sebuah piala cantik dan berhasrat
Juarajuara mangkat saat singkat
Bertahan sebagai jawara. Giliran tiba
Telah berpeluh tubuh ini kelewat mangsa
Membangga cemas dan sangsi
Sedang kabar kepalang sabar
Pecinta ini pun sadar
Menunggu waktu haru
Dengan setia di bangku tak baru

Sunyi getar. Ia pindah tangan
Telah kumal, Sayang. Sesak kemudian
Hadiah pemimpi jadi pajang
Etalase dilarang dipandang
Apalagi dipegang. Aduh sayang…

Depan Pasar, November 2007


Semoga Teman Sebiduk

Aku akan ke seberang
Ini ceritera bermula dari sarang
Ada yang bilang ada pialang
Hitung punya hitung rembang sebayang-bayang

Mencari isi hati
Sebegini carik kertas dikoyak tiada terperi
Bunga gadis sesubur pertiwi
Dan jemari di seberang melambai.
Dengan dayung tak berukir ini
Kuajak akan ia kembali. Tidak pada deras arus kali
Mengalir ke muara seperti.
Bintang panjar hari menunjuk sepi
Segala hanya bisa seiring meniti
Selebihnya setelah bintang menghilang dari kami
Jelajah negeri mendayung tiada henti
Dan akan kita galang biduk ke tepi

Di sanakah tepi bagimu. Laut tak memuara garamnya
Yang suka bukan tanpa rasa masin airmata
Pasti ada gulir air juga. Tenang, riang, sarat frasa
Barangkali tajam karang tak berasa
Bahwa petualang di sana penyuka rahasia
Memecah buih; menuju dermaga dengan atas nama
Sepasukan burung camar sempat membuat sengketa
Berebut menjemput lambaian sang jelita
Sebelum di peluk kabut kelam karena apa

Batas kedalaman lebih rapat berjabat
Kerudung dan dagu kerucut
Bukan tempat tali pancang biduk bertaut
Pelayaran pungkasan. Dan semoga dayung bersambut
Metro Selatan, 2007


Memoar Mawar Plastik
: ike andriani
Pada vas bunga mejameja hampir bundar
Bangkai mawar tak lagi berbinar
Andriani bantai puisi. Andri mati posisi
Warna pudar; mereka menolak sajak kami

Aroma di dalam dan di luar berirama
Sekarang kurasa sapamu lantang
Dalam vas bunga yang tak pas.
Beda kita takkan mengaburkan semerbaknya
Sebuah kisah yang dimulai dari setangkai bunga
Harum tentu bukan diharap sebab
Ia tak bersekutu dengan baubau

Angin terlalu cepat beringsut
Tak berasa akar memegahkannya sebagai jelita
Seiring sarkasme begini menyisa duri
Dari tajam katakata. Hawa beda masa
Menjadikan sejati perempuan
Dan aku lelaki dengan bunga imitasi
Tak begitu dengan pijak bumi ini
Kehilangan bulan yang kau bilang tak perawan

Jauh darimu mestinya beribu jenis bunga merebak salam
Jadi pandangan dan pemandangan siang malam
Membuka cakrawala harihari. Harum pelataran
Di hadapan jalan penyuka kedamaian

Bagaimana cara merangkai mawar di mejameja
Terpisah sekian laksa. Menjauh dari genggaman, dan
Ruh ini belum pernah kuasa akan frasa
Adam tak berani hidup di bumi
Tanpa hawa yang berbunga dari iga
03112007

Senyum Ganjil suatu Senja
: nerry
Yang tak baru bisa tersipu pandang antarmuka
Pandangan jauh lindasan aspal
Meneguk lelahnya senja musim bercinta
Baru saja kurasa cakrawala beda rupa
Jalanan aspal basah. Tangis siang kabur ke mendung
Bagi pengukuhan yang satu itu

Bincang tak bimbang. Pandang yang dalam jelang pulang
Sebelumnya. Saat gerimis tumbang di tebing curam
Aku terkunci kaki di pintu belakang
Menikmati cuaca dan berlindung dari kejam cuaca
Meraba frasa seadanya dari lembab titik kaca jendela
Terlukis kata sederhana di sana
Rentetan usia singkat hujan
Sempatkan engkau menyapa lembab udara
Dan kuhalang terjang kecipak segala tergenang
Pandang matamu jauh di utara
Entah pada siapa sapanya. Kala kata enggan terbaca
Entah di musim mana bisa bersapa. Hanya lirik
Puisi lusuh sisa titik air kaca jendela
Kenang saja dalam sajak kita
Orang berhambur. Lari dari cuaca rahasia
Yang terlukis lanskap perbukitan. Akan
Kujauhkan rentang usia singkat hujan dan tinggi hati
Kudekatkan arah pandang fatamorgana
Jarak sempurna. Tak jelas selalu saja
Nanar binar mentari senja
Dalam kerendahan senantiasa. Tereja kerjap mata
Isyarat atau tanda serupa tiada ada bedanya
Oleh kisah yang bergegas seumpama
Seutas berita buram. Lambaian tangan menyudutkan frasa
Melari olehnya waktu menua; menuai puisi sepuisinya

Bandarlampung, 19 Desember 2007


Jumatan Ketiduran

Siang telentang menjelang sembahyang
Hadang awang-awang tak berbayang
Imajinasi sepi lelaki mumi sepagi tadi
Berbalut mimpi terbujur ke tepi
Dan sobekan nurani menjadi sumbu
Yang membakar air mata sebagai abu
Dalam kamar berdebu, ruhku beranjak ragu
Di antara daun-daun waktu bergerak maju

Sebab panggilan masih fana, lama pula
Dan tidurku tak pejam menganggur
Dalam terik di kaca jendela
Dalam jaringan yang kabur
Kuletakkan rupa cahaya
Mentari kelam terkungkung syair getir

Kamar ini adalah arena persemaian
Mungkin iblis, malaikat tak malu mengadu pada tuannya
Mereka bertarung dalam dada sungguh siapa kira
Segala aduan serupa adzan masa perhitungan
Saat sujud mendekat terwujud. Sejenak sadar
Dosa membayang keranda diusung
Lelaki ini melucuti pagi pasi
Pergi ke sumur mencuci cemar. Mandi puisi
Sekali sepekan kembali berketuhanan

Metro Selatan, 2007


Rupamu Tak Kuasa Bercinta

Telah terbaca sajak tentang cinta dan sakit hati
Juga segelintir luka menganga. Sedang liku itu
Akan selalu begitu yang selalu pedih
Tiada duga kecewa mana berkisah
Menutup jalan pertemuan
Temuan hati pada tubuh rubuh
Yang sering kau rawati
Agar selalu tegap menatap lelangit

Kita beda dimensi
Kurindukan masa yang dibangga
Dengan luka mana lagi
Ketika hunjam belati mencabik
Singgasana kita
Telah aku pesankan pada Hyang Wenang

Sebab tak sama semua tentang kita
Pengharapan hati satu. Kesatuan yang
Di bagi penyebut, datang menghalang jalan setapak
Telah pula aku lebarkan sekian depa
Sedang jejak langkah membentuk bidang
Adalah sebuah perhitungan ekonomis dalam drama
Percintaan Burisrawa yang berakhir nestapa

Metro Selatan, 2007


Cinta Bersyarat

Pujawati pemuja mimpi purnamasidhi
Ada sajak terselip di balik kutangnya
Di helai selendang dan sisa air mata
Tentang kejatuhan. Sangat menyakitkan
Separuh tubuh . Antara malam hampir fajar

Pertapa pun melari. Hari mencari hati untukmu
Hanya bagimu ia mengangkasa bersama udara nestapa
Bumi bergelimang bingung, angkasa tak menjawab aksara

Tegakan tanah airmu mencuri mendung paling murung
Sebab terusir dari singgasana jagadraya
Berpulang pertanda mimpi padamu
Persembahan hari anggarakasih
Bagaskara berganti hati
Semedi dalam puji kematian

Bocah bajang diasuh dengan kasih
Melari sulih jiwa pada cintanya
Lalu gontai sebab raga tak kuasa
Pun mantera menjelma jantera tabularasa
Menghadang perang masa bersua di argasoka
Tunggu saja kobar api asmara
Menceburkanmu tak ragu
Dan kesetiaan terbang layang bersama jelaga

Tiada duka. Mereka binasa karena kesetiaan cinta

2007


Lirik pendek penghuni lapas
dalam empat hari

Pagi lari
Siang salang tunjang
Malam tenggelam dalam kejam

Pagi kembali posisi
Siang merejang garang
Malam mencekam

Pagi di balik jeruji
Siang sidang
Malam bersajak kelam

Pagi puisi mati
Siang terbayang sarang
Malam dalam kalam kitab hitam dendam

2007


Ada Puisi di Segelas Teh

Ada sela di depa kedekatan kita
Segala tersudut menjadi segi tiga
Obrolan kemalaman yang singkat
Semenjana bergulir kata pada ruang seadanya
Sebelum sempat aku pamit

Di sana mendung datang menghadang
Sebelum aku—kamu berbagi cerita
Ijinkan aku menopang dagu
Agar pesonamu tak terjerambab ke lantai
Dengan angan sejuntai
Kupungut berpasang-pasang sebagai
Penghantar silang hati dan wajah sembunyi
Kala jumpa lain peristiwa yang tak kau harapi

Aku petutur, kamu penutur. Tak mengapa
Masih bisa kita simakkan
Roman picisan ia lafalkan
Sedang aku sibuk dengan kepul dan kepal
Juga sisa segelas teh yang kau suguhkan
Sebagai jeda di awal jumpa rupa
Baris percakapan dapat digarisbawahi
Sebab ada sela kata pada sublim titik didih

Aku memaling badan
Langkah mengarah. Aku enggan pulang
Dan ini. Segulung cerita masa lalu
Dalam album kata. Yang kelak kau
Kenang dalam sisa isi gelas kaca
Untukku saja. Jika tak terpaksa

Sukadamai, 2007


Serupa Abu

Bulan tak juga menyatukan malam dengan siang
Pada serangkaian bunga tak layu
Secercah pun takkan berpaling dari kobaran
Aku yang bagai kayu bakar
Terbakar ruang
Langit belum menyala lagi
Yang menenggelamkan bulan
Serupa abu, vas bunga itu
Haya menyimpan arang
Yang patah sudah

Meja sepi
Mungkin taplak, asbak, korek api, sebungkus rokok
Yang meributkan abu. Yang terduduk tersipu
Mengobarkan cahaya bulan juga
Kepul asap kemarin mengaburkan malam

Meja sepi, kapan lagi
Genggaman jemari beda warna
Menyatu dalam ujaran samar
Terlena malam bersapa bulan bintang
Yang datang dengan pesan
Tanpa balasan
Tanpa penantian

Natar, 2007


Sepertinya Pejam Malam
-- yossy --

Seperti melukis puisi dengan sapuan hujan
Aku di atas kanvas
Yang mungkin kau kenali rupa-rupa
Serupa cakrawala wanita di hadapan
Membentang luas sepuisinya
Satu frasa tertulis sadar sebagai laki-laki
Dengan kuas di tangan Aku melukis; hanya satu gadis

Kulukiskan gadis sebelum senja
Setelah sekian panorama. Alam punah romansa
Keinginan pun punah oleh bidikan malam
Hari terlampaui dalam dingin dan gelap
Mata buta, jarak tuju tanpa alamat
Terarah sekenanya di pusat tata bahasa

Dan begitu dilukiskan angan
Sebuah gadis dalam kegelapan
Membakar kanvas sebagai dian
Malam diam, cahaya berhamburan
Tanpa langkah kaki. Jalan pikiran
Hilang terang rupa bulan
Sedang aku mati cahaya. Tak terlihat bayangan
Yang tersisa hanya hati tak ternyatakan

Metro, 2007


Pada Sebuah Jawaban

Pagi kuajakkan ia
Melangkahi hari. Menapak di pijak kaki
Pada seruas jalanan kota
Sedikit saja tak mengada
Ia yang sebagai sebatang pisang
Tumbang di sebelah pekarangan kosong
Diam tak merejang, bersemedi di perigi

Di tepian jalan
Segala awan terusik
Dan harap sempat menyapa
Mendung masih sempurna kelam
Hujan pun turun berhamburan

Sedikit pada kicau burung esok hari
Sebuah kabar riuh jalan
Dengan anggukan dan siul kecil
Akan kubimbing dalam gandengan
Tapi, ia telah menghilang dari sapa
Sebelum sempat menghalang cuaca

Metro, November 2007


Jembatan Menepi ke Jalan
-- ke yossi --
Aku kembali akan pesona tunda pesan
Berbalik ke seberang. Ini kali mengabarkan kesangsian deras
Luapan air mata, kedukaan sajak serta puisi luka
Genangan air merabunkan pandang: sebuah jembatan
Baja dingin menghunjam tepian hati
Mungkin meredam erosi luap emosi
Di ujung jembatan, aku di antara dua jalan
Seberang atau arus tak biasanya
Terpana sekalipun embun berangsur turun
Hawa udara tetap menyala dalam batin sebagai bara
Engkau menyulut kesumat. Memanggang radang
Kali mati untuk kali ini dan kali ke berapa
Sendiri di atasnya. Ia bernama mendung
Seperti kamu terpuruk lunglai dihempas seberang sungai
Jalan dan kata itu seakan dikelilingi padas keras juga tangis
Aku katakan, trotoar sempit ini mencari teman
Sebab tak pernah orang termenung di atasnya

Usai salam gerimis dan persinggahan itu, apa
Sajak sempat berkabar di atas jembatan. Tak ada pesan
Perempuan dengan kesakitan bulan
Sisa petak-petak nafas, redup pilu. Ratap mengutup
Aku menggigil ganjil. Di hadap lanskap gerimis atis
Salang tunjang menerjang ke seberang
Malam menjelang. Udara di sana menulis puisi
Hanya aku tersisih merindu hisap nafas
Aku, arus kali menghempas inti batu
Untuk sekedar membaca, mendengar, melihat, dan
Bukan lantaran kegelapan dan cuaca hujan
Dengan alamat di penghabisan perjalanan
Sempat hilang di sepanjang jembatan
Yang ditelan demikian tabah sekian kali
Transfield Bengawan, 19:40 – 21:10, 171207

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar