ANDRIW

Foto saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Minggu, 24 April 2011

Menulis Resensi Buku

Judul Buku : Larung
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
kpg@pacific.net.id, Fax. 5493428
Cetakan I : November 2001
Tebal : 259 halaman
Harga : Rp. 30.000,00

Seksualitas, ajaran feminisme, dan patriarkal pada “Larung “
karya Ayu Utami
Pada bagian awal novel ini pengarang mengajak pembaca untuk berimajinasi tentang dunia magis, tentang tokoh Larung yang bergulat melawan roh yang menguasai neneknya. Tokoh simbah Larung ini
Diksi, gaya bahasa dan cara mendeskripsikan kejadian demi kejadian dengan sangat detil pada setiap halaman per halaman, pembaca juga diajak membayangkan seolah sosok simbah itu sungguh-sungguh ada di dekat pembaca.
Bab berikutnya berkisah tentang “empat sekawan”: Yasmin, Sakuntala, Cok dan Laila, ditam-bah Saman. Di antara keempat tokoh perempuan itu, yang muncul dominan adalah Yasmin. Peran tokoh ini sangat menonjol dibandingkan ketiga sahabatnya, manakala aktivitas Yasmin berhubungan erat dengan Saman. Yasmin yang pengacara sukses di kota besar mendukung gerakan aktivis bawah tanah. Bahkan dia telah jatuh cinta dan menjalin affair dengan Saman, seorang aktivis Indonesia yang berhasil diselundupkan ke New York.
Dalam Larung, Yasmin masih memainkan lakon yang sama dengan yang ia mainkan dalam Saman, mengulang kisah romantis bersama Saman. Seorang perempuan-aktivis dan pengacara sukses yang mengerti persoalan advokasi, selalu bicara lantang tentang human rights dan liberalisme, mendukung aksi-aksi massa dan gerakan bawah tanah, tetapi menjadi korban atas nama kebebasan yang diperjuangkannya: perempuan tidak berkutik ketika mencium bau birahi lelaki.
Dalam berbagai kisah di antara keempat perempuan sekawan tersebut di bagian tengah Larung ada penggalan-penggalan kisah mengingatkan kita pada beberapa kejadian dalam novel Saman. Selain Saman, tokoh lama di novel pertama yang muncul lagi di novel kedua adalah Sihar dan Anson. Hanya saja di novel ini kehadiran Sihar tidak terlalu menarik dan hanya berlangsung singkat.
Anson yang misterius berpetualang dalam kisah yang dialami bersama Saman di bagian ketiga buku ini. Tokoh Larung muncul lagi di bagian Larung dan tiga orang aktivis lain.
Konflik dan klimaks alur yang dijalin dalam Larung terfokus di bab ketiga ini. Semua tokoh laki-laki kecuali Sihar, sebanyak enam orang menjadi lakon yang mengalami kisah mencekam pada bagian ini. Saman dan Larung, dibantu Anson, bertugas menyelundupkan tiga orang aktivis yang masuk black list aparat keamanan, yaitu : Wayan, Togog, dan Koba.
Tulisan ini hanya akan membahas ‘cerita yang berawal dari selangkangan’ (hlm. 71-162). Gagasan-gagasan feminisme tentu juga dapat ditemukan di bagian-bagian lain. Namun, saya akan memfokuskan pada ‘cerita yang berawal dari selangkangan’ karena bagian ini adalah bagian yang menjadi milik para perempuan.
Dalam Larung, Ayu bercerita tentang eksistensi seks perempuan. Cerita tentang perselingkuhan Yasmin dan Saman serta kecintaan Laila pada Sihar membawa tokoh-tokohnya bertualang di negeri Paman Sam. Sebuah negeri yang bisa jadi dianggap sebagai media pelarian ketertekanan seksual tokoh-tokoh dalam novel tersebut.
Masalah seks perempuan yang selama ini menjadi rahasia dan dianggap tabu dalam masyarakat Indonesia yang patriarkal, pecah dalam tingkah laku tokoh-tokoh novel ini. Wacana patriarkal adalah wacana yang mendasarkan diri pada oposisi biner 'laki-laki >< perempuan' di mana term laki-laki berada posisi mendominasi term perempuan. Dan, gerakan feminisme adalah gerakan yang berusaha pertama-tama melawan, menentang, dan membalik hirarki dalam oposisi biner 'laki-laki >< perempuan'. Mari kita berangkat dari Cok [Cokorda Gita Magaresa] yang awalnya dipanggil si Tetek, tetapi kemudian menjadi si Perek (Perempuan Eksperimen). Cok mengeluhkan bahwa umumnya 'perek' dimaknai negatif, terkait dengan kebejatan, kehinaan. Cok menunjukkan bahwa sebutan perek mengandung ketidakadilan terhadap perempuan dan sebaliknya memberikan keuntungan bagi laki-laki. Di sini 'perek' merupakan konstruksi wacana patriarkal untuk menyelamatkan laki-laki dari kebejatannya dengan melemparkan kebejatan itu pada perempuan. Ketidakadilan ini semakin mengakar mana kala perempuan pun ikut memakai kata tersebut untuk menggolongkan dirinya maupun perempuan sesamanya. Jika terjadi demikian (di sini Yasmin), perempuan pun ikut terlibat dalam dan turut memperkuat wacana patriarkal. Namun, disini Cok melawan dan membuat tafsiran lain atas kata 'perek', meski tafsiran itu hanya untuk dirinya sendiri. Bagi Cok, "Perek adalah perempuan yang suka bereksperimen" (84). Tokoh Yasmin yang sempurna, cantik, cerdas, kaya, beragama, berpendidikan, bermoral pancasila, setia pada suami menemukan kebebasan seksualnya bersama Saman, sang bekas frater. Itu karena suaminya, Lukas, tak pernah mengolah kekejaman pada dirinya meskipun hanya sebatas imajinasi. Yasmin merasa berbeda dengan para perempuan yang mengukuhkan patriarki. Kerinduan Yasmin kepada Saman lebih karena perasaan superioritasnya terhadap laki-laki ini. Yasmin juga seorang perempuan aktivis dan pengacara sukses yang mengerti persoalan advokasi, selalu bicara lantang tentang human rights dan liberalisme, mendukung aksi-aksi massa dan gerakan bawah tanah dan sebagian besar aksi-aksinya berhubungan dengan hak perempuan. Eksistensi seksualitas perempuan Indonesia yang selama ini terkungkung budaya patriarki dilibas habis oleh Ayu Utami yang merupakan pemaparan problema yang bisa jadi dialami banyak wanita. Misalnya cerita tentang bagaimana Cok melepas keperawanannya. Bagaimana mitos kesucian keperawanan membuat Cok membiarkan lelaki bermasturbasi dengan payudaranya. Ejekan atas keperawanan yang menjadi momok pengaturan laki-laki terhadap perempuan dilakukan Ayu melalui tokoh Laila meskipun sosok ini mampu melawan gender keperempuanannya. Dialah yang paling terlambat mengenal pria secara seksual. Tapi keperawanan Laila yang terjaga, seperti layaknya yang diagungkan budaya Indonesia justru menjadi problema. Ekspresi libido seks Laila terhambat. Lelaki takut padanya. Keperawanan dinilai sebagai tanggung jawab. Itu sebabnya ia tak bebas ketika telah sama-sama telanjang dengan Sihar. Tak pernah terjadi persetubuhan yang sebenarnya. Laila adalah sebuah ironi, seorang perempuan yang ingin meninggalkan keperempuanannya agar ia dapat masuk dalam dunia laki-laki, yang dengannya ia memperoleh kebanggaan dan harga diri, tetapi akhirnya menjadi perempuan yang lembek yang tergantung pada laki-laki. Ia tak dapat melupakan Sihar. Peran tokoh Shakuntala (Tala) yang mempunyai perbedaan dengan sahabat-sahabatnya yang digambarkan oleh pengarang. Kerinduan Laila pada Sihar membuatnya mampu melihat faktor lelaki pada diri Tala. Gabungan sosok Saman dan Sihar, dua lelaki yang dicintai Laila muncul pada diri Tala. Hingga akhirnya Laila melupakan Tala sebagai perempuan. Ketertarikan Laila ditanggapi Tala sehingga dalam Larung ini muncul sebuah fenomena seksual, yaitu lesbian, di mana lelaki benar-benar diabaikan. Laila menceritakan proses disiplin wacana patriarkal untuk membentuk perempuan menjadi wanita. Shakuntala bercerita tentang proses disiplin wacana patriarkal untuk membentuk laki-laki sungguh menjadi laki-laki. Ia mulai dengan menunjukkan oposisi biner, yaitu laki-laki >< perempuan beserta hierarkinya dalam kebudayaan kita.
Dalam hal ini Ayu Utami masih mencoba membela kaumnya. Tala sebenarnya bukan seorang wanita yang kelaki-lakian dan maniak. Penggambaran tentang dunia lesbian, yang belum bisa diterima kultur/budaya Indonesia dideskripsikan dengan jelas.
'Cerita yang berawal dari selangkangan' mungkin bagi pembaca akan dianggap dan akan baca sebagai cerita semi-porno atau sebagai upaya Ayu untuk mempermainkan ajaran seksualitas, feminisme, dan wacana patriarkal, atau tafsiran lain.
Dalam wacana patriarkal yang masih sedemikian kuat, emansipasi tidak cukup mengimbangi dominasi pria dalam kehidupan. Yang harus dilakukan adalah pembalikan keadaan . Dalam Shakuntala, akhirnya tetap kembali pada sifat estetis wanita bahwa perempuan lebih indah. Sementara itu pada Yasmin, perempuanlah yang menjadi pemenang.
Semua perempuan yang ditampilkan adalah perempuan yang mandiri, wanita karier, yang sebenarnya relatif lebih bebas dari kungkungan wacana patriarki.. Masih banyak perempuan lain yang mengalami kekerasan yang lebih konkret. Misal para pembantu rumahtangga, TKW, atau buruh perempuan. Mereka adalah kelompok subaltern. Persoalan ini kiranya menjadi tantangan bagi para feminis untuk berfikir, berimajinasi dan menampilkan perjuangan mereka untuk melawan penindasan wacana patriarkal. Terlepas dari persoalan itu, kiranya usaha Ayu patut dihargai. Ia telah ambil bagian dalam perjuangan feminis dan mengembalikan wacana patriarki .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar