ANDRIW

Foto Saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Minggu, 24 April 2011

KAJIAN UNSUR INTRINSIK SASTRA ANAK (CERITA FABEL) “MERPATI, AYAM, DAN MUSANG”

BAB I
PENDAHULUAN


Masa kanak-kanak sering disebut dengan masa emas dari pertumbuhan sepanjang kehidupan seseorang. Masa itu biasa disebut pula masa kritis, karena apa yang terjadi pada periode itu amat menentukan kehidupan seseorang di kemudian harinya (Widyastuti Purbani). Masa emas inilah masa yang tepat untuk memberikan perhatian secara khusus misalnya saja memberikan perhatian lewat pemberian bacaan yang sesuai dengan karakteristik seorang anak. Bacaan-bacaan yang diberikan kepada anak disebut dengan sastra anak.
Sastra anak menawarkan pengayaan bahasa, tidak hanya berupa kosa kata namun juga ekspresi-ekspresi yang berupa kalimat atau paragraf atau dialog yang ditata dengan rasa seni dan sensitivitas yang tinggi, yang tidak biasa (Widyastuti Purbani).
Sebuah karya fiksi termasuk sastra anak yang jadi, merupakan sebuah bangun cerita yang menampilkan sebuah dunia yang sengaja direkreasikan pengarang. Wujud formal fiksi itu sendiri “hanya” berupa kata dan kata. Dengan media menampilkan dunia dalam kata, bahasa, disamping juga dikatakan menampilkan dunia dalam kemungkinan.
Unsur-unsur yang membangun sebuah cerita yang kemudian akan bersama-sama membentuk sebuah totalitas, disamping unsur format bahasa, masih banyak lagi macamnya salah satu unsur yang dimaksud adalah unsur instrinsik.
Unsur instrinsik, merupakan unsur-unsur yang membangun karya itu sendiri unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur faktual yang akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur-unsur intrinsik dalam suatu cerita merupakan unsur-unsur yang secara langsung turut serta dalam membangun cerita. Kepaduan antar bebagai unsur instrinsik inilah yang membuat suatu cerita dapat tewujud (Nurgiyantoro, 1995: 22-23).


Unsur-unsur instrinsik yang dimaksud adalah berupa
a. Tema
b. Plot
c. Penokohan
d. Latar
e. Sudut pandang
f. Moral
g. Bahasa
Unsur-unsur intrinsik diatas, semuanya sering berkaitan dan saling mendukung tehadap penciptaan suatu cerita dalam karya sastra (sastra anak).



















BAB II
ISI

1. Tema

Hakikat Tema

Tema menurut Stanton dan Keny (via Nurgiyantoro, 2000 : 67) adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Sedangkan tema menurut Hartoko dan Rahmanto (via Nurgiyantoro, 1995 : 67) adalah gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan menyangkut persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan. Tema sering juga disebut sebagai ide atau gagasan yang mendukung tempat utama dalam pikiran pengarang dan sekaligus menduduki tenpat utama dalam cerita.

Kajian Tema

Tema yang dapat ditemukan dalam cerita fabel “Merpati, Ayam, dan Musang” adalah sebagai berikut:
1. Kebenaran dan keadilan akan mengalahkan kejahatan.
Tema ini sesuai dengan kutipan berikut: Tanpa berpikir panjang, kedua ayam itu mendekat. Begitu sampai di dekat tubuh musang, keduanya lantas menjadi santapan musang yang dengan rakus lalu melumat tubuh keduanya itu. Merpati tersentak, sadar, lalu terbang. Sambil terbang tak lupa ia berkata, terimaksih Pak Musang, jasamu tak kulupakan. (Paragraf 16). Dari kutipan di atas jelaslah bahwa setiap perbuatan yang tidak baik akan mendapatkan balasan yang tidak baik juga.
2. Kerukunan dan sikap suka bekerja keras.
Tema kerukunan dan sikap suka bekerja keras sesuai dengan kutipan dalam cerita fabelberikut: O, alanglah bahagia kedua merpati yang rukun dan damai itu. Alangkah bersemangat mereka membangun rumah untuk hari nanti. Dalam angan-angan mereka pun, sandang, pangan, tercukupi, rumah yang baik bersih, rajin, rapi, dan aman terpenuhi. Selain itu, mereka mampu menyimpan harta benda berupa makanan calon anak-anaknya kelak. (Paragraf 4).
Tema yang diangkat oleh pengarang dinilai sesuai dengan karakteristik kehidupan sosial seorang anak dan bisa dijadikan pedoman dalam kehidupannya kelak, tetapi tema yang ada dalam cerita fabel ini terlalu jelas sehingga keingintahuan anak tidak terlalu besar.

2. Plot

Hakekat Alur atau Plot

Alur atau plot kadang-kadang disebut juga dengan jalan cerita, ialah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun secara kronologis. Alur dibangun oleh beberapa peristiwa yang biasa disebut unsur alur. Unsur-unsur alur ialah:
a. Perkenalan
b. Pertiakaian
c. Pemikiran
d. Puncak / klimaks
e. Peleraian
f. Akhir
Unsur-unsur alur ini tidak selalu urutannya bersusun seperti itu tetapi ada juga yang dari tengah dulu lalu kembali ke peristiwa awal, kemudian berakhir. Ada juga yang dari akhir terus menuju ke tengah, sampai ke awal cerita. Karena kedudukan unsur-unsur inilah, maka ada yang disebut alur maju, alur mundur dan alur maju mundur.





Kajian Alur atau Plot

Peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita fabel “Merpati, Ayam, dan Musang” bersifat sederhana, karena pengarang menyusun kronologis peristiwa dengan memberi pernekanan pada hubungan kausalitas antar peristiwa dalam cerita. Cerita fabel tersebut dibagi ke dalam beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut yaitu:
a) Tahap awal
Penceritaan dimulai dari kehidupan sepasang merpati yang hidup rukun dengan membuat sarang dan menyimpan persediaan makanan untuk mereka berdua dan anak-anaknya kelak. Contoh kutipannya adalah: Konon, di tepi sebuah desa yang damai dan sejuk ada sebuah air mancur yang amat indah. Tempat itu menjadi kian menawan karena di sekitarnya tumbuh berbagai enis tanaman, yang selain elok juga menghasilkan buah yang enak. Pendek kata, selain tempatnya memang asri, tempat itu juga gemah ripah loh jinawi. Begitulah seperti sering diceritakan para dalang dalam serial pewayangan. Di tempat itu juga hidup sepasang merpati yang amat rukun dan manis-manis sedang membuat rumah. Keduanya bekerja giat, rajin, seia-sekata, dan tak kenal lelah. Keduanya tampak kian rukun, karena yakin bahwa setelah rumahnya jadi, akan segera ditempatinya dengan tenang. (Paragraf 1-2).
b) Tahap tengah
Tahap tengah sering disebut juga dengan inti cerita. Inti cerita diwarnai dengan berbagai peristiwa, konflik, bahkan klimaks. Konflik dimulai pada saat ayam jago mulai menempati rumah sang merpati dan memporak-porandakannya. Contoh kutipannya adalah: Alkisah, mulai saat itu pulalah, kedua ayam itu segera menempati rumah sang merpati. Kedua ayam yang tentu saja lebih besar itu telah memporak-porandakan rumah indah yang sudah sekian lama menjadi idam-idaman sepasang merpati. (Paragraf 9)
c) Tahap akhir
Setelah munculnya konflik dalam cerita konflik tersebut akan terselesaikan dalam klimaks yang sering disebut dengan tahap akhir cerita. Klimaks ceritanya dapat disimpulkan bahwa setiap perbuatan jahat akan terkalahkan oleh perbuatan baik. Contoh kutipannya adalah: Belum lagi kedua belah pihak ketemu Pak Kancil, tiba-tiba datanglah musang yang sebetulnya telah lama mengetahui persoalannya. Dengan tenang musang pun berjalan mendekati kedua belah pihak, terutama sangat dekat sepasang ayam, seolah-olah hendak membelanya. Coba ayam, katakan, apakah yang kalian pertentangkan itu. Agak mendekat sajalah, biar aku mendengarnya, dan merpati tidak mendengarnya. Tanpa berpikir panjang, kedua ayam itu mendekat. Begitu sampai di dekat tubuh musang, keduanya lantas menjadi santapan musang yang dengan rakus lalu melumat tubuh keduanya itu. Merpati tersentak, sadar, lalu terbang. Sambil terbang ia berkata, terima kasih Pak Musang, jasamu tak kulupakan. (Paragraf 15-16)
Berikut ini beberapa uraian kisah yang ada dalam cerita fabel “Merpati, Ayam, dan Musang”:

Satuan waktu cerita Deskripsi peristiwa Jenis peristiwa Golongan peristiwa


SWC 1
P1

P2

P3


P4


P5

SWC 2
P6

P7

P8

P9
P10

SWC 3
P11

P12


P13

SWC 4
P14

P15
P16


P17

P18
SWC 5
P19

P20


P21


P22
P23

P24

P25





Merpati yang amat rukun sedang membuat rumah.
Keduanya bekerja giat, rajin,seia-sekata.
Mereka senang memperoleh tempat bermukim yang layak dan aman.
Mereka yakin nanti akan lahir anak merpati yang sehat.
Keduanya rajin membuat rumah.

Ayam betina segera berbisik kepada ayam jago.
Aku ingin mempunyai rumah seindah itu.
Kita tempati saja rumah elok pemai itu.
Kita rebut saja.
Ayam jago menyambutnya dengan anggukan sombong.

Mereka menempati rumah sang merpati.
Mereka memporak-porandakan rumah indah milik merpati.
Ayam rakus itu menghabiskan makanan.

Sepasang merpati kembali kerumahnya.
Mereka terkejut.
Mereka marah kepada ayam yang kelihatannya mengejeknya.
Mereka melabrak ayam yang kurang ajar.
Perkelahian sengit terjadi.

Mereka diajak menghadap pak hakim kancil.
Musang datang berjalan mendekati kedua belah pihak.
Kalian mempertentangkan apa, mendekat, biarkanku mendengarnya.
Kedua ayam itu mendekat.
Keduanya menjadi santapan musang.
Merpati tersentak lalu terbang.
Merpati mengucapkan terima kasih. F K A Kernel Satelit


Keterangan:
SWC : satuan waktu cerita
P : peristiwa
F : fungsional
A : acuan
K : kaitan.

Alur yang dipergunakan dalam cerita fabel “Merpati, Ayam, dan Musang” menggunakan alur maju. Alur maju dinilai sesuai untuk karakter seorang anak, karena alur maju memancing rasa keingintahuan anak dan untuk selalu mengikuti perkembangan ceritanya.



3. Penokohan

Hakekat Penokohan

Menurut Jones (via Nurgiyantoro, 2000 : 165) penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Menurut Abrams (via Nurgiyantoro, 2000 : 165) tokoh cerita adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tentang seperti yang diekspresikan dalam ucapan serta apa yang dilakukan dalam tindakan.
Pembedaan Tokoh
a. Berdasarkan keterlibatannya dalam keseluruhan cerita
1) Tokoh utama
2) Tokoh tambahan
b. berdasarkan fungsi penampilan tokoh
1) Tokoh protagonis
2) Tokoh antagonis
c. Berdasarkan watak atau karakteristiknya
1) Tokoh sederhana
2) Tokoh bulat
d. Berdasarkan bekembang atau tidaknya perwatakan
1) Tokoh berkembang
2) Tokoh statis
e. Berdasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap sekelompok manusia dari kehidupan nyata
1) Tokoh tipikal
2) Tokoh netral

Teknik Pelukisan Tokoh
a. Teknik Ekspositori
Teknik ini dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian atau penjelasan langsung
b. Teknik dramatik
Wujud penggambaran teknik dramatik adalah :
- Teknik cakapan
- Teknik tingkah laku
- Teknik pikiran dan perasaan
- Teknik arus kesadaran
- Teknik reaksi tokoh
- Teknik tokoh lain
- Teknik latar
- Teknik pelukisan fisik
Kendati pemunculan karakter tokoh tidak dapat dilepaskan dari rangkaian peristiwa, model, pengekspresian, karakter tokoh yang dipakai oleh pengarang bisa bemacam-macam.

Kajian Penokohan

1. Tokoh utama dan tokoh tambahan.
Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam cerita. Tokoh utama yang terdapat dalam cerita febel “Merpati, Ayam, dan Musang” adalah Sepasang burung merpati yang memiliki sifat atau karakter giat, rajin, seia-sekata, tak kenal lelah, rukun, dan berani melawan pihak yang telah menindasnya walaupun fisiknya lebih kuat dari sang merpati. Kutipannya dalam cerita fabel adalah: Di tempat itu juga hidup sepasang merpati yang amat rukun dan manis-manis sedang membuat rumah. Keduanya bekerja giat, rajin, seia-sekata, dan tak kenal lelah. Keduanya tampak kian rukun, karena yakin bahwa setelah rumahnya jadi, akan segera ditempatinya dengan tenang. (Paragraf 2).
Tokoh tambahan adalah tokoh yang pemunculannya tidak dipentingkan dalam penceritaan. Tokoh tambahan yang terdapat dalam cerita febel “Merpati, Ayam, dan Musang” adalah:
• Ayam jago dan betina yang memiliki sifat atau karakter: selalu iri, dengki, sombong, suka merebut atau merampas, kurang ajar dan galak. Kutipannya dalam cerita fabel adalah: Dari sekian jenis hewan yang iri melihat rumah sang merpati, sepasang ayamlah yang paling iri melihat keindahan rumah hasil karya sepasang merpati tadi. Maka dari itu, tidak aneh kalau ayam betina segera berbisik kepada ayam jago. (Paragraf 6).
• Musang yang memiliki sifat atau karakter: penengah, suka mengelabui, dan rakus. Kutipannya dalam cerita fabel adalah: Belum lagi kedua belah pihak ketemu Pak Kancil, tiba-tiba datanglah musang yang sebetulnya telah lama mengetahui persoalannya. Dengan tenang musang pun berjalan mendekati kedua belah pihak, teutama sangat dekat sepasang ayam, seolah-olah hendak membelanya. Coba ayam, katakan, apakah yang kalian pertentangkan itu. Agak mendekat sajalah, biar aku mendengarnya, dan merpati tidak mendengarnya. Tanpa berpikir panjang,kedua ayam itu mendekat. Begitu sampai di dekat tubuh musang, keduanya lantas menjadi santapan musang yang dengan rakus lalu melumat tubuh keduanya itu. Merpati tersentak, sadar, lalu terbang. Sambil terbang ia berkata, terima kasih Pak Musang, jasamu tak kulupakan (Paragraf 14-15-16).
2. Tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tetraginis.
Tokoh protagonis merupakan tokoh yang banyak disenangi karena tokoh protagonis meiliki sifat yang baik-baik. Tokoh protagonis yang terdapat dalam cerita febel “Merpati, Ayam, dan Musang” adalah sepasang merpati. Sepasang merpati dapat dikategorikan sebagai tokoh protaginis karena sepasang merpati memiliki sifat yang baik. Contoh kutipannya dalam cerita fabel: Di tempat itu juga hidup sepasang merpati yang amat rukun dan manis-manis sedang membuat rumah. Keduanya bekerja giat, rajin, seia-sekata, dan tak kenal lelah. Keduanya tampak kian rukun, karena yakin bahwa setelah rumahnya jadi, akan segera ditempatinya dengan tenang. (Paragraf 2).
Tokoh antagonis merupakan kebalikan atau lawan dari tokoh protagonis. Tokoh antagonis yang terdapat dalam cerita febel “Merpati, Ayam, dan Musang” adalah ayam jago dan ayam betina. Ayam jago dan ayam betina dapat dikategorikan sebagai tokoh antagonis karena ayam jago dan ayam betina memiliki sifat yang jahat. Contoh kutipannya dalam cerita fabel: Dari sekian jenis hewan yang iri melihat rumah sang merpati, sepasang ayamlah yang paling iri melihat keindahan rumah hasil karya sepasang merpati tadi. Maka dari itu, tidak aneh kalau ayam betina segera berbisik kepada ayam jago. (Paragraf 6).
Tokoh tetragonis merupakan tokoh penengah diantara pertikaian yang terjadi, biasanya tokoh tetragonis hadir menjelang akhir cerita. Tokoh tetragonis yang terdapat dalam cerita febel “Merpati, Ayam, dan Musang” adalah musang. Contoh kutipannya dalam cerita fabel: Belum lagi kedua belah pihak ketemu Pak Kancil, tiba-tiba datanglah musang yang sebetulnya telah lama mengetahui persoalannya. Dengan tenang musang pun berjalan mendekati kedua belah pihak, terutama sangat dekat sepasang ayam, seolah-olah hendak membelanya. Coba ayam, katakan, apakah yang kalian pertentangkan itu. Agak mendekat sajalah, biar aku mendengarnya, dan merpati tidak mendengarnya. Tanpa berpikir panjang, kedua ayam itu mendekat. Begitu sampai di dekat tubuh musang, keduanya lantas menjadi santapan musang yang dengan rakus lalu melumat tubuh keduanya itu. Merpati tersentak, sadar, lalu terbang. Sambil terbang ia berkata, terima kasih Pak Musang, jasamu tak kulupakan. (Paragraf 14-15-16).



3. Tokoh sederhana dan tokoh bulat.
Tokoh sederhana merupakan tokoh yang hanya memiliki satu sifat dan tidak mengalami perubahan kepribadian. Tokoh sederhana yang terdapat dalam cerita febel “Merpati, Ayam, dan Musang” adalah ayam, karena ayam hanya meiliki satu sifat saja nyaitu sifat jahat terhadap sepasang merpati. Contoh kutipannya dalam cerita fabel: Dari sekian jenis hewan yang iri melihat rumah sang merpati, sepasang ayamlah yang paling iri melihat keindahan rumah hasil karya sepasang merpati tadi. Maka dari itu, tidak aneh kalau ayam betina segera berbisik kepada ayam jago. (Paragraf 6).
Tokoh bulat berbeda halnya dengan tokoh sederhana, tokoh bulat merupakan tokoh yang memiliki sifat kompleks. Sisi kepribadian yang lainnya lebih ditonjolkan. Tokoh sederhana yang terdapat dalam cerita febel “Merpati, Ayam, dan Musang” adalah Merpati dan musang. Merpati dapat dikategorikan sebagai tokoh bulat karena merpati memiliki karakter berani melawan ayam yang telah memporakporandakan sangkar atau rumahnya di akhir cerita, padahal di awal cerita merpati digambarkan sebagai tokoh yang memiliki sifat baik-baik saja. Contoh kutipannya dalam cerita fabel: Walaupun tubuh merpati lebih kecil, demi melihat perlakuan tidak adil semacam itu, mereka pun berani melabrak kedua ayam yang dinilainya telah berbuat kurang ajar. Perkelahian sengit pun terjadi. Dua merpati melawan dua ekor ayam tentunya akan tetap kewalahan. (Paragraf 12).
Musang dapat dikategorikan sebagai tokoh bulat karena musang akhirnya menerkam ayam, padahal sebelumnya musang kelihatan akan membela ayam. Contoh kutipannya dalam cerita fabel: Belum lagi kedua belah pihak ketemu Pak Kancil, tiba-tiba datanglah musang yang sebetulnya telah lama mengetahui persoalannya. Dengan tenang musang pun berjalan mendekati kedua belah pihak, teutama sangat dekat sepasang ayam, seolah-olah hendak membelanya. Coba ayam, katakan, apakah yang kalian pertentangkan itu. Agak mendekat sajalah, biar aku mendengarnya, dan merpati tidak mendengarnya. Tanpa berpikir panjang, kedua ayam itu mendekat. Begitu sampai di dekat tubuh musang, keduanya lantas menjadi santapan musang yang dengan rakus lalu melumat tubuh keduanya itu. Merpati tersentak, sadar, lalu terbang. Sambil terbang ia berkata, terima kasih Pak Musang, jasamu tak kulupakan. (Paragraf 14-15-16).
4. Tokoh statis dan tokoh berkembang.
Tokoh statis dan tokoh berkembang penjelasannya hampir sama dengan tokoh sederhana dan tokoh bulat.
5. Tokoh tipikal dan tokoh netral.
Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya dan lebih banyak ditonjolkan kualitas pekerjaan atau kebangsaannya (Altenbern dan Lewis, 1966: 60 via Nurgiyantoro). Tokoh tipikal yang terdapat dalam cerita febel “Merpati, Ayam, dan Musang” adalah kancil. Contoh kutipannya dalam cerita fabel: Setalah lama mereka berkelahi, oleh merpati jantan, mereka diajak bersama-sama menghadap hakim, Pak Kancil yang dinilai oleh kalangan penghuni hutan memiliki akal cerdik. (Paragraf 13).
Teknik pelukisan tokoh yang dipergunakan oleh pengarang dalam cerita fabel “Merpati, Ayam, dan Musang” adalah teknik ekspositori, karena seluruh tokoh langsung digambarkan atau dideskipsikan. Contoh kutipannya dalam cerita fabel: 1) Di tempat itu juga hidup sepasang merpati yang amat rukun dan manis-manis sedang membuat rumah. Keduanya bekerja giat, rajin, seia-sekata, dan tak kenal lelah. Keduanya tampak kian rukun, karena yakin bahwa setelah rumahnya jadi, akan segera ditempatinya dengan tenang. (Paragraf 2) 2) Dari sekian jenis hewan yang iri melihat rumah sang merpati, sepasang ayamlah yang paling iri melihat keindahan rumah hasil karya sepasang merpati tadi. Maka dari itu, tidak aneh kalau ayam betina segera berbisik kepada ayam jago. (Pargraf 6).
Tokoh-tokoh yang disajikan dalam cerita fabel “Merpati, Ayam, dan Musang” memiliki karater atau sifat yang dinilai tidak kompleks dan tidak terlalu asing bagi pribadi seorang anak, melainkan tokoh-tokohnya memiliki karakter atau sifat-sifat yang sudah dikenal secara meluas oleh masyarakat. Misalnya kancil memiliki sifat cerdik. Contoh kutipannya dalam cerita fabel: Setalah lama mereka berkelahi, oleh merpati jantan, mereka diajak bersama-sama menghadap hakim, Pak Kancil yang dinilai oleh kalangan penghuni hutan memiliki akal cerdik. (Paragraf 13).


4. Latar

Hakekat Latar

Latar menurut Abrams, (via Nurgiyntoro, 2000 :216) adalah landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang dan suasana tejadinya peistiwa dalam suatu karya sastra (Sudjiman, 1986 : 46 via Nurgiyantoro). Secara terperinci latar meliputi penggambaran lokasi geografis termasuk topografi, pemandangan, sampai kepada perlengkapan sebuah ruangan: pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya, musim terjadinya, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial dan emosional para tokoh. (kenney : 1966 : 40 via Nurgiyantoro)
Penggolongan latar
1.1 Latar fisik dan spiritual
1.2 Latar netral dan tipikal
Latar berhubungan langsung dan mempengaruhi pengaturan dan penokohan. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam sebuah pelataran ialah:
a. Latar sebagai metafor
Latar ini befungsi untuk menyampaikan pengertian dan pemahaman. Metafor selalu berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari
b. Latar sebagai atmosfer
Atmosfer dalam sebuah cerita merupakan udara yang dihirup pembaca sewaktu memasuki dunia rekaan. Khususnya suasana romantis, berduka, misteri, dan sebagainya. Suasana yang diciptakan tadi tidak dideskripsikan secara langsung, eksplisit, namun merupakan suatu yang tersarankan. Dengan kemampuan imajinasi dan kepekaan emosional yang dimiliki pembaca, maka mereka mampu menangkap pesan suasana.


Kajian Latar

1. Latar fisik dan spiritual.
Latar fisik yang terdapat dalam cerita fabel “Merpati, Ayam, dan Musang” adalah berupa latar tempat yang dideskripsikan dengan jelas. Contoh kutipannya dalam cerita fabel: Konon, di tepi sebuah desa yang damai dan sejuk ada sebuah air mancur yang amat indah. Tempat itu menjadi kian menawan karena di sekitarnya tumbuh berbagai enis tanaman, yang selain elok juga menghasilkan buah yang enak. Pendek kata, selain tempatnya memang asri, tempat itu juga gemah ripah loh jinawi. Begitulah seperti sering diceritakan para dalang dalam serial pewayangan. (Paragraf 1).
Latar spiritual tidak ditemukan dalam cerita fabel ini karena komposisi ceritanya sangat sederhana.

2. Latar waktu.
Latar waktu yang terdapat dalam cerita fabel “Merpati, Ayam, dan Musang” dilukiskan sangat terbatas. Contoh kutipannya dalam cerita fabel: Tatkala suatu senja sepasang merpati tersebut kembali ke rumahnya, yang didapati adalah sepasang ayam galak sedang mengobrak-abrik rumahnya dan memakan segala makanan yang terdapat di situ. Alangkah terkejutnya sepasang merpati itu. Marahlah mereka kepada sepasang ayam yang kelihatannya malah mengejeknya. (Paragraf 11).
3. Latar netral dan latar tipikal.
Latar netral dan latar tipikal sama halnya dengan latar spiritual tidak ditemukan dalam cerita fabel ini karena komposisi ceritanya sangat sederhana.
Latar yang dilukiskan oleh pengarang yang terdapat dalam cerita fabel “Merpati, Ayam, dan Musang” dinilai sudah cukup bagi karakter seorang anak, karena di dalamnya latar dilukiskan dengan sangat mendalam dan seolah-olah nyata sehingga pembaca khususnya anak-anak seolah-olah ikut atau berada di dalam cerita, selain itu latarnya dilukiskan sesuai dengan isi cerita yang diangkat.

5. Sudut Pandang

Hakekat Sudut Pandang

Sudut pandang menurut (Nurgiyantoro, 2000 : 246) adalah bentuk persona yang dipergunakan disamping mempengaruhi perkembangan cerita dan masalah yang diceritakan, juga kebebasan dan keterbatasan, ketajaman, ketelitian dan keobjektifan terhadap hal-hal yang diceritakan. Sedangkan menurut Saad (via Rachmat Djoko Pradipo, 1995 :75) sudut pandang adalah cara bercerita dari titik pandang mana atau siapa cerita itu dikisahkan.
Sudut pandang menerangkan “siapa yang bercerita”, sudut padang ini penting untuk memeproleh gambaran tentang kesatuan cerita.
Penggolongan sudut pandang
Dilihat secara umum sudut pandang digolongkan menjadi dua yaitu sudut pandang orang ke tiga dan sudut pandang orang pertama. Secara lebih rinci sudut pandang dapat digolongkan:
a. Sudut pandang persona ketiga (dia)
Pencerita sebagai seseorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama atau kata gantinya. Sudut pandang ini dapat dibedakan lagi menjadi dua yaitu
1. Dia maha tahu (third peson omniscien)
2. Dia tebatas sebagai pengamat (third person limited)
b. Sudut pandang pesona pertama (Aku)
Pencerita sebagai seseorang ikut terikat atau terlibat dalam cerita. Ia adalah si “Aku” tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri. Sudur pandang ini dapat dibedakan lagi menjadi dua yaitu:
1. Aku “tokoh utama”
2. Aku “tokoh tambahan”
c. Sudut pandang campuran
Dalam sebuah karya fiksi dijumpi lebih dari sebuah sudut pandang antara lain:
- Penggunaan sudut pandang persona ketiga dengan teknik dia maha tahu dan dia sebagai pengamat.
- Penggunaan udut pandang pesona ketiga dengan teknik Aku sebagai tokoh utama dan Aku tambahan atau sebagai aksi. Bahkan dapat berupa campuran antara pesona pertama dan ketiga, antara Aku dan dia sekaligus.
Pemilihan sudut pandang menajdi penting karena hal itu tak hanya berhubungan dengan masalah gaya saja, walau tak disangkal bahwa pemilihan bentuk-bentuk gramatikal dan retorika juga penting dan berpengaruh. Teknik penyajian sudut pandang tertentu akan lebih efektif jika diikuti oleh pemilihan bentuk gramatikal dan retorika yang sesuai
Sudut pandang mempunyai hubungan psikologis dengan pembaca. Pemahaman pembaa pada sudut pandang akan menentukan seberapa jauh persepsi dan penghayatan, bahkan juga penilaian terhadap novel yan bersangkutan, itulah yng dikemukakan oleh stevick (1967 : 86)
Selain itu pembedaan sudut pandang juga dilihat bgaimana kehadiran cerita itu kepada pembaca: lebih bersifat penceritaan, felling atau penunjukan, showing, naratif atau dramatik.

Kajian Sudut Pandang

Pengisahan cerita yang dipergunakan dalam cerita fabel “Merpati, Ayam, dan Musang” adalah sudut pandang persona ketiga gaya dia, narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh cerita dengan menyebut nama atau kata ganti seperti:
 Sepasang merpati.
 Mereka.
 Ia.
 Keduanya.
 Kedua ayam itu.
 Dan lain-lain.
Sudut pandang persona ketiga dengan gaya dia dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1. Dia mahatahu.
Sudut pandang persona ketiga dia mahatahu narator mengetahui apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh dia tersebut. Contoh kutipannya: Di tempat itu juga hidup sepasang merpati yang amat rukun dan manis-manis sedang membuat rumah. Keduanya bekerja giat, rajin, seia-sekata, dan tak kenal lelah. Keduanya tampak kian rukun, karena yakin bahwa setelah rumahnya jadi, akan segera ditempatinya dengan tenang. Mereka senang dapat memperoleh tempat bermukim yang layak, aman ,tentram, dan damai serba kecukupan hidupnya. Mereka pun yakin bahwa nantinya akan lahir sepasang anak merpati yang sehat. O, alangkah bahagianya kedua merpati yang rukun dan damai itu. Alangkah bersemangat mereka membangun rumah untuk hari nanti. Dalam angan-angan mereka pun sandang, pangan tercukupi, rumah yang baik, bersih, rajin, dan aman terpenuhi. Selain itu, mereka mampu menyimpan harta benda berupa makanan bagi calon anak-naknya kelak. (Paragraf 2-3-4).
Dari kutipan di atas narator mampu menceritakan sesuatu, baik yang bersifat fisik, dapat diindra maupun sesuatu yang ada dalam hati tokoh-tokoh, dapat mengomentari, dan menilai secara bebas pandangan, dan motivasi tokoh khususnya tokoh binatang.
2. Dia terbatas, “Dia sebagai pengamat”.
Dalam sudut pandang dia terbatas pengarang melukiskan tokoh (tokoh musang) hanya melukiskan pada apa yang dilihat, didengar, dialami, dan dirasakan oleh tokoh cerita yang hanya terbatas pada satu tuokoh itu-itu saja. Contoh kutipannya dalam cerita fabel: Belum lagi kedua belah pihak ketemu Pak Kancil, tiba-tiba datanglah musang yang sebetulnya telah lama mengetahui persoalannya. Dengan tenang musang pun berjalan mendekati kedua belah pihak, teutama sangat dekat sepasang ayam, seolah-olah hendak membelanya. Coba ayam, katakan, apakah yang kalian pertentangkan itu. Agak mendekat sajalah, biar aku mendengarnya, dan merpati tidak mendengarnya. Tanpa berpikir panjang, kedua ayam itu mendekat. Begitu sampai di dekat tubuh musang, keduanya lantas menjadi santapan musang yang dengan rakus lalu melumat tubuh keduanya itu. Merpati tersentak, sadar, lalu terbang. Sambil terbang ia berkata, terima kasih Pak Musang, jasamu tak kulupakan. (Paragragraf 14-15-16).
Pengisahan cerita yang dipergunakan dalam cerita fabel “Merpati, Ayam, dan Musang” dinilai sesuai dengan karakter atau sifat anak-anak, karena pengarang mempergunakan sudut pandang Dia. Sudut pandang Dia yang meliputi Dia mahatahu dan Dia terbatas, “Dia sebagai pengamat” dapat menimbulkan atau memancing emosi dalam diri anak-anak sehingga anak-anak dapat berlatih mengendalikan emosinya.

6. Moral

Hakekat Moral

Moral menurut Daves (1987 : 7 via Nurgiyantoro) bahwa dalam moral terkandung nilai kesusilaan yang merupakan aturan-aturan atau hukum yang membentuk larangan. Penegasan Daves, moral yang berhubungan dengan kesusilaan kaidah atau hukum lebih spesifik pada tatanan norma yang dibuat dan diciptakan manusia sebagai norma dalam pergaulan masyarakat.
Sebuah karya fiksi ditulis oleh pengarang untuk menawarkan model kehidupan yang diidealkannya. Fiksi mengandung penerapan moral dalam sikap dan tingkah laku para tokoh sesuai dengan pandangannya tentang moral melalui cerita, sikap, dan tingkah laku tokoh-tokoh usulan pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan.
1. Penggolongan moral
Wujud nilai moal dikategorisasikan menjadi 4 macam, yaitu:
a. Nilai moral yang terermin dari sikap manusia terhadap tuhan
b. Nilai moral yang terermin dari sikap manusia terhadap sesama
c. Nilai moral yang terermin dari sikap manusia terhadap diri sendiri
d. Nilai moral yang terermin dari sikap manusia terhadap lingkungan
2. Pesan religius dan kritik sosial
Pesan moral yang berwujud moral religius, di dalamnya bersifat keagamaan dan kritik sosial banyak ditemuakn dalam karya fiksi atau dalam jenis sastra yang lain. Hal itu disebabkan banyaknya masalah kehidupan yang tidak sesuai dengan harapannya.



3. Teknik penyampaian moral
Teknik penyampaian moral dikategorikan menjadi 2 macam, yaitu:
1) Teknik penyampaian bersifat langsung
Teknik ini dilakukan melalui pelukisan watak tokoh yang bersifat uraian. Pengarang menyampaiakan nilai moral secara langsung dan eksplisit. Teknik secara langsung ini bersifat mengganti pembaca. Karena pengarang secara langsung memberikan petuahnya kepada pembaca.
2) Teknik penyampaian secara tak langsung
Teknik secara tidak langsung ini dapat dilakukan melalui sikap dan tingkah laku tokoh dalam menghadapi peistiwa konflik, baik yang terlibat dalam tingkah laku verbal maupun terjadi dalam pikiran dan perasaan. Dalam teknik ini pembaca berusaha untuk menemukan, merenungkan dan menghayati nilai moral yang terkandung dalam karya sastra.

Kajian Moral

Jenis ajaran moral yang terkandung di dalam cerita fabel “Merpati, Ayam, dan Musang” berupa nilai moral yang terermin dari sikap manusia terhadap sesama, namun dalam cerita fabel ini sosok manusia digantikan dengan binatang yang seolah-olah mempunyai sifat dan sikap seperti manusia.
Cerita fabel ini mengandung pesan moral untuk anak-anak agar dalam kehudupannya anak-anak bisa berprilaku:
a) Tidak bersikap selalu iri, dengki, sombong, suka merebut atau merampas, kurang ajar dan galak seperti karakter yang dimiliki oleh ayam. Kutipannya dalam cerita fabel adalah: Dari sekian jenis hewan yang iri melihat rumah sang merpati, sepasang ayamlah yang paling iri melihat keindahan rumah hasil karya sepasang merpati tadi. Maka dari itu, tidak aneh kalau ayam betina segera berbisik kepada ayam jago.( Paragraf 6).
b) Giat, rajin, seia-sekata, tak kenal lelah, rukun seperti karakter sepasang merpati. Kutipannya dalam cerita fabel adalah: Di tempat itu juga hidup sepasang merpati yang amat rukun dan manis-manis sedang membuat rumah. Keduanya bekerja giat, rajin, seia-sekata, dan tak kenal lelah. Keduanya tampak kian rukun, karena yakin bahwa setelah rumahnya jadi, akan segera ditempatinya dengan tenang.(Paragraf 2).
c) Giat, rajin, seia-sekata, tak kenal lelah, rukun seperti karakter sepasang merpati.. Kutipannya dalam cerita fabel adalah: Belum lagi kedua belah pihak ketemu Pak Kancil, tiba-tiba datanglah musang yang sebetulnya telah lama mengetahui persoalannya. Dengan tenang musang pun berjalan mendekati kedua belah pihak, teutama sangat dekat sepasang ayam, seolah-olah hendak membelanya. Coba ayam, katakan, apakah yang kalian pertentangkan itu. Agak mendekat sajalah, biar aku mendengarnya, dan merpati tidak mendengarnya. Tanpa berpikir panjang,kedua ayam itu mendekat. Begitu sampai di dekat tubuh musang, keduanya lantas menjadi santapan musang yang dengan rakus lalu melumat tubuh keduanya itu. Merpati tersentak, sadar, lalu terbang. Sambil terbang ia berkata, terima kasih Pak Musang, jasamu tak kulupakan.(Paragraf 14-15-16).
Teknik penyampaian yang dilakukan oleh pengarang dalam menyampaikan pesan moralnya bersifat langsung. Teknik ini dilakukan melalui pelukisan watak tokoh yang bersifat uraian. Pengarang menyampaiakan nilai moral secara langsung dan eksplisit. Teknik secara langsung ini dinilai kurang bagus bagi anak-anak, karena anak-anak tidak bisa menggunakan daya pikirnya secara maksimal untuk menemukan pesan moral sesuai dengan kemampuan masing-masing anak.


7. Bahasa

Hakikat Bahasa

Bahasa merupakan system lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Bahasa dalam sastra dicirikan sebagai bahasa (yang mengandung unsur) emotif dan bersifat konotatif sebagai kebalikan bahasa nonsastra. (Wellek dan Warren, 1956: 2-3 via Nurgiyantoro).
Bahasa dalam sastra anak akan berbeda dengan bahasa sastra pada umumnya, karena sastra anak diperuntukkan bagi anak maka bahasanya pun harus disesuaikan dengan bahasa anak sehari-hari. Yang dimaksud dengan bahasa anak sehari-hari adalah bahasa yang dipergunakan oleh anak-anak pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat lugas dan mudah dicerna oleh anak.

Kajian Bahasa

Bahasa yang dipergunakan dalam cerita fabel “Merpati, Ayam, dan Musang” dinilai tidak mencerminkan bahasa anak, karena di dalamnya terdapat beberapa kata yang terlihat sulit untuk dimengerti oleh anak. Isi ceritanya memang untuk anak-anak tetapi tidak menggunakan bahasa anak-anak pada umumnya. Contoh kutipannya: Alkisah, mulai saat itu pulalah, kedua ayam itu segera menempati rumah sang merpati. Kedua ayam yang tentu saja lebih besar itu telah memporak-porandakan rumah indah yang sudah sekian lama menjadi idam-idaman sepasang merpati. (Paragraf 9).
Kata yang dicetak tebal merupakan contoh dari bahasa yang dinilai tidak sesuai dengan bahasa anak sehari-hari.








DAFTAR PUSTAKA

Djoko Pradopo Rachmat. 1995. Beberapa teori Sastra, Metode dan Penerapannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Penkajian Fiksi, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Eko Indah, Sus. 2003. Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia (Merpati, Ayam, dan Musang). Jakarta : Yudhistira.

Purbani, Widyastuti. 2004. Hand Out Perkuliahan Sastra Anak. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar