ANDRIW

Foto saya
Metro-Jogja-Solo-Jakarta, Indonesia
* S3 Pendidikan Bahasa - Universitas Negeri Jakarta * S2 Pendidikan Bahasa Indonesia - Universitas Sebelas Maret Surakarta. * S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Yogyakarta, * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Minggu, 24 April 2011

PENOKOHAN, SEKSUALITAS, DAN FEMINISME NOVEL SAMAN DAN LARUNG KARYA AYU UTAMI KAITANNYA DENGAN KEMUTAKHIRAN SASTRA INDONESIA Oleh: Andri Wicaksono (012124056)*

Deskripsi Umum “Saman”
Dimulai dengan kisah yang sangat kontemp orer, sangat khas Indonesia, yakni krisis Leila, yang terluka hatinya karena cintanya kepada seorang lelaki yang telah menikah dan penghormatannya terhadap nilai-nilai orang tuanya, dan berakhir dengan sebuah kisah penciptaan yang orisinil, dimana kita menemukan bahwa iblis-lah yang bertanggung jawab sampai terjadinya kesengsaraan akibat sistem yang patriarkal ini. Ketika menjelaskan interpretasi saya mengenai Saman, saya berharap untuk membuktikan bahwa penggunaan adegan seksual oleh Ayu Utami bukan hanya memberikan sebuah pukulan yang tepat waktunya terhadap penindasan seksualitas oleh tatanan yang mapan, melainkan juga menimbulkan suatu subversi yang disengaja terhadap sikap-sikap tradisional baik secara umum,
maupun yang spesifik dalam konteks Indonesia.
Di awal novel ini, Leila sedang berada di Central Park, New York, menunggu rendezvous dengan Sihar, lelaki yang sudah menikah yang kepadanya dia jatuh cinta. Di akhir cerita, Leila merasa terbebaskan dari tanggung jawab terhadap orang tuanya dan terhadap istri Sihar. Jarak geografis menciptakan sebuah ruang psikologis antara dirinya dan pengharapan-pengharapan kultural dan sosial Indonesia, akhirnya dia merasa sepenuhnya dan seorang diri memegang kontrol atas tubuhnya:
“Dan kita di New York. Beribu mil dari Jakarta. Tak ada orangtua, tak ada istri. Tak ada dosa. Kecuali pada Tuhan, barangkali. Tapi kita bisa kawin sebentar, lalu bercerai. Tak ada yang perlu ditangisi.”( 30).

Setelah itu, kemudian beranjak masuk ke kisah Wisanggeni serta keterlibatannya dengan komunitas penyadap karet di Sumatera Selatan, tempat dia menghabiskan sebagian besar dari masa kanak-kanaknya. Bagian ini penuh dengan mitologi yang prima, dan garis antara hal-hal magis di belantara hutan dan realitas kehidupan dikaburkan secara ekstrem. Perjalanan Wis mencari saudara-saudara kandungnya membawanya ke pedalaman-pedalaman hutan dimana dia bertemu dengan Upi, si ‘orang gila’ putri transmigran miskin. Dorongan seksualnya yang tak terkendali dan terkadang sifatnya yang agresif membuat Upi sekaligus mudah diserang dan berbahaya. Keluarganya mengurung Upi dalam sebuah kandang kecil di belakang rumah mereka. Kandang Upi dapat dengan mudah ditafsirkan sebagai suatu parodi tentang sejarah peran kaum perempuan dalam patriarki Indonesia; transisi dari sangkar lama ke sangkar yang baru, kandang yang direkonstruksi merupakan simbol dari konsesi-konsesi yang dibuat sampai ke seruan bagi emansipasi feminis. Wis menyesalkan adanya kebutuhan kandang untuk mengontrol Upi, sebagai kaum marginal dam tertindas.

Deskripsi Umum “Larung”
Dalam Larung, Yasmin masih memainkan lakon yang sama dengan yang ia mainkan dalam Saman, mengulang kisah romantis bersama Saman. Seorang perempuan-aktivis dan pengacara sukses yang mengerti persoalan advokasi, selalu bicara lantang tentang human rights dan liberalisme, mendukung aksi-aksi massa dan gerakan bawah tanah, tetapi menjadi korban atas nama kebebasan yang diperjuangkannya: perempuan tidak berkutik ketika mencium bau birahi lelaki.
Dalam berbagai kisah di antara keempat perempuan sekawan tersebut di bagian tengah Larung ada penggalan-penggalan kisah mengingatkan kita pada beberapa kejadian dalam novel Saman. Selain Saman, tokoh lama di novel pertama yang muncul lagi di novel kedua adalah Sihar dan Anson. Hanya saja di novel ini kehadiran Sihar tidak terlalu menarik dan hanya berlangsung singkat.
Anson yang misterius berpetualang dalam kisah yang dialami bersama Saman di bagian ketiga buku ini. Tokoh Larung muncul lagi di bagian Larung dan tiga orang aktivis lain.
Pada bagian awal novel ini, pengarang mengajak pembaca untuk berimajinasi tentang dunia magis, tentang tokoh Larung yang bergulat melawan roh yang menguasai neneknya. Tokoh simbah Larung ini.
Diksi, gaya bahasa dan cara mendeskripsikan kejadian demi kejadian dengan sangat detil pada setiap halaman per halaman, pembaca juga diajak membayangkan seolah sosok simbah itu sungguh-sungguh ada di dekat pembaca.
Bab berikutnya berkisah tentang “empat sekawan”: Yasmin, Sakuntala, Cok dan Laila, ditam-bah Saman. Di antara keempat tokoh perempuan itu, yang muncul dominan adalah Yasmin. Peran tokoh ini sangat menonjol dibandingkan ketiga sahabatnya, manakala aktivitas Yasmin berhubungan erat dengan Saman. Yasmin yang pengacara sukses di kota besar mendukung gerakan aktivis bawah tanah. Bahkan dia telah jatuh cinta dan menjalin affair dengan Saman, seorang aktivis Indonesia yang berhasil diselundupkan ke New York.
Dalam Larung, Yasmin masih memainkan lakon yang sama dengan yang ia mainkan dalam Saman, mengulang kisah romantis bersama Saman. Seorang perempuan-aktivis dan pengacara sukses yang mengerti persoalan advokasi, selalu bicara lantang tentang human rights dan liberalisme, mendukung aksi-aksi massa dan gerakan bawah tanah, tetapi menjadi korban atas nama kebebasan yang diperjuangkannya: perempuan tidak berkutik ketika mencium bau birahi lelaki.
Dalam berbagai kisah di antara keempat perempuan sekawan tersebut di bagian tengah Larung ada penggalan-penggalan kisah mengingatkan kita pada beberapa kejadian dalam novel Saman. Selain Saman, tokoh lama di novel pertama yang muncul lagi di novel kedua adalah Sihar dan Anson. Hanya saja di novel ini kehadiran Sihar tidak terlalu menarik dan hanya berlangsung singkat.
Anson yang misterius berpetualang dalam kisah yang dialami bersama Saman di bagian ketiga buku ini. Tokoh Larung muncul lagi di bagian Larung dan tiga orang aktivis lain.
Konflik dan klimaks alur yang dijalin dalam Larung terfokus di bab ketiga ini. Semua tokoh laki-laki kecuali Sihar, sebanyak enam orang menjadi lakon yang mengalami kisah mencekam pada bagian ini. Saman dan Larung, dibantu Anson, bertugas menyelundupkan tiga orang aktivis yang masuk black list aparat keamanan, yaitu : Wayan, Togog, dan Koba.


Penilaian terhadap Karakter Novel
a. Kewajaran
Bila dilihat sepintas novel Larung tidak wajar, banyak berbicara tentang seks, pertentangan dominasi laki-laki, tentang mitos kiri yang lebih baik dai kanan, tentang konsep suara, dan sebagainya. Seperti dalam kutipan:
- Lalu ia lebih bersemangat bercerita kenapa kiri lebih baik dai kanan, dan kenapa pembagian vertikal lebih masuk akal ketimnang hoisontal. Kalian mengaja tabik dengan tangan kanan dan menyebutnya sopan, tetapi manusia cukup dengan sisi kirinya saja sebab jantung di dada kii dan cebok lebih penting ketimbang salaman, sebab yang pertama adalah demi kebersihan dan yang terakhir demi basa-basi(27).
- “Orang percaya bahwa kemampuan bicara ada di otak tengah dan kemampuan visual di otak belakang, tetapi kataku kemahian visual dan kecakapan bahasa menjadi satu dalam tulisan. Maka, di sini huruf tidak tidak melambangkan bunyi, namun menggambakan pengertian sehingga tidak ada ejaan……(29 – 30).
- Menjelang akil balig aku mulai malu atas fantasi-fantasiku dan kesenangan seksual yang dihasilkannya. Lalu suatu pergeseran yang aneh terjadi. Adakah aku menghukum diriku sendiri, ataukah ini datang bersama masa awalku memasuki dunia patriarkal yang tak kuketahui, dunia di luarku yang memaksakan diri, di mana wanita adalah obyek seksual. Aku kehilangan kesubyekan pada diriku dan menempatkan diri sebagai obyek. Aku kehilangan keperempuananku dan menjadi wanita. Dalam proses yang tak kumengerti, aku mulai menempatkan diriku sebagai si terhukum, wanita yang terkutuk karena kewanitaannya (158).
- Lalu, kupikir-pikir kenapa aku haus menderita untuk menjaga selaput daaku sementara…..(79)

Ayu Utami beusaha membeikan wacana kewajaran bau dalam kehidupan ini lewat tokoh cucu Supihatin dan Bambang Sembodo menggugat norma etika yang mengagungkan kanan sebagai simbol sopan santun, budi pekerti yang mensahihkan bagian kanan lebih baik dai pada kiri.
Ayu Utami juga menyodorkan wacana tentang gender, melalui tokoh Cok yang ditampilkan selalu aktif berhadapan dengan laki-laki terutama prilaku seksual. Cok tampak menikmati petualangan seksnya.
b. Kesepertikehidupan
Novel tersebut sepeti kehidupan di dunia ini. Di sini kita menjumpai kekeluagaan, persahabatan, perselingkuhan, pembunuhan, penculikan yang kesemuanya merupakan bumbu kehidupan di dunia.

c. tokoh rekaan versus tokoh nyata
Novel ini menampilkan tokoh-tokoh yang nyata, antara lain: Pangdam Jaya Mayjen . Sutiyoso, KASAD Jenderal R Hatono, Brigjen. Prabas Sasmoyo, dan Lettu. Bram Marsudi. Seperti dalam kutipan:
….”Tak pernah sadar, hingga Pangdam Jaya Mayjen. Sutiyoso menyatakan perintah tembak di tempat dua pekan lalu dan KASAD Jenderal R. Hartono menyatakan kaomando itu berlaku nasional (235).
Tokoh Gita Indah Sari yang ditangkap, diibaratkan teman seperjuangan Wayan Togog dan teman-temannyayang sama-sama memperjuangkan buruh dan pembantu rumah tangga.
Seperti dalam kutipan:
…..”Saya simpati, sebab tak banyak yang memperhatikan pembantu. Sesungguhnya mereka tidak berhubungan dengan PD, selain beberapa aktivisnya pernah demo bersama-sama di Surabaya tanggal 8 Juli, aksi buruh itu menyebabkan Gita Indah Sari dan Coen Husai Pontoh ditangkap (183).

Tiga aktivis ini seolah bekenalan dengan Budiman Sudjatmiko dan peristiwa 27 Juli.
Seperti dalam kutipan:
…..Setelah kerusuhan 27 Juli, begitu pemerintah dan militer menjadikan PRD maupun Solidarlit ikut dalam persembunyian. Saya tidak tahu di mana Budiman dan kawan-kawan, tapi anak-anak Solidarlit ada pada kami (183).
Tokoh-tokoh lainnya seperti Larung, Saman, Shakuntala, Wayan togog, dan lain-lain merupakan tokoh rekaan dari pengarang.

Pembedaan Tokoh
a. Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh ke dalam sebuah cerita dibedakan menjadi dua, yaitu:
1). Tokoh utama, yaitu tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel. Ia merupakan tokoh yang paling banyak muncul atau diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Dalam novel Larung ini tokoh utamanya dibedakan menjadi tokoh utama yang utama dan tokoh utama tambahan.
a). Tokoh utama yang utama, antara lain:
- Larung
Tokoh larung diceritakan pertama kali mulai halaman 1 – 74 berkaitan dengan masa lalunya dan usaha untuk membunuh neneknya. Ke dua dai halaman 91 – 95 lewat penceritaan Cok pada Yasmin. Setelah kenal dengan Larung dan Yasminingin membuat kerja sama dengan Larung. Juga ketika menyelamatkan tiga aktivis Solidarlit melibatkan Larung pula (205 – 259).

- Saman
Tokoh Saman diceritakan mulai halaman 77 – 132 dengan percakapan Cok dan Yasmin, pertemuan langsung dengan Sihar, dan lewat lamunan Laila. Pada halaman 154 – 259, saman diceritakan lewat hubungan e-mail dengan Yasmin dan pertemuannya dengan Larung dan aktivis Solidarlit.

Feminisme, Konsep Patriarki, dan Seksualitas
Dalam subbahasan ini, saya hanya mengambil sampel dari novel Larung saja karena saya kira sudah mewakili semua unsur pembahasan dari sederetan kisah Saman.
Tulisan ini hanya akan membahas 'cerita yang berawal dari selangkangan' (hlm.71-162). Gagasan-gagasan feminisme tentu juga dapat ditemukan di bagian-bagian lain. Namun, saya akan memfokuskan penelitian saya pada 'cerita yang berawal dari selangkangan' karena bagian ini adalah bagian yang menjadi milik para perempuan (Yasmin, Cok, Shakuntala, dan Laila).
Cok (Cokorda Gita Magaresa)
Cok yang awalnya dipanggil si Tetek tetapi kemudian menjadi si Perek (Perempuan Eksperimen). Sebutan si Tetek, pangilan membanggakan Cok, diberikan oleh Shakuntala karena Cok mempunyai payudara yang besar. Namun, sebutan si Perek berasal dari Yasmin.
"Aku tak tahu, apakah karena melihat pacarku yang banyak atau karena tahu apa yang kulakukan dengan mereka, Yasmin kemudian menyebut aku si Perek (83)." "Julukan itu memang diucapkan dengan akrab... tapi Perek tetap Perek. Semua perempuan punya tetek, tapi Perek Perek tentu saja punya tetek. Tetapi tidak semua perempuan menjadi perek. Cuma yang bejat dan terhina saja." (83).

Cok mengeluhkan bahwa umumnya 'perek' dimaknai negatif, terkait dengan kebejatan, kehinaan.
Kadang aku jengkel, apapun yang kita lakukan, yang juga dilakukan oleh lelaki, kok kita yang mendapat cap jelek. Laki-laki tidur bergantian dengan banyak cewek akan dicap jagoan. Arjuna. Tapi perempuan yang tidur bergantian dengan banyak lelaki akan dibilang piala bergilir. Pelacur. Apapun yang kita lakukan, kita selalu dianggap obyek. Bahkan oleh sesama perempuan. (83-84)
Cok menunjukkan bahwa sebutan perek mengandung ketidakadilan terhadap perempuan dan sebaliknya memberikan keuntungan bagi laki-laki. Di sini 'perek' merupakan konstruksi wacana patriarkal untuk 'menyelamatkan' laki-laki dari 'kebejatannya' dengan melemparkan kebejatan itu pada perempuan. Ketidakadilan ini semakin mengakar mana kala perempuan pun ikut memakai kata tersebut untuk menggolongkan dirinya maupun perempuan sesamanya. Jika terjadi demikian, di sini Yasmin, perempuan pun ikut terlibat dalam dan turut memperkuat wacana patriarkal. Namun, disini Cok melawan dan membuat tafsiran lain atas kata 'perek', meski tafsiran itu hanya untuk dirinya sendiri. Bagi Cok,
"Perek adalah perempuan yang suka bereksperimen" (84) meskipun "Tak ada yang percaya bahwa perempun eksperimen berarti perempuan yang bereksperimen." (83).

Lebih lanjut Cok membalik segala konotasi yang terkait dengan kata 'perek' ini. Pengartian 'perek' sebagai subjek (bukan objek) dengan konotasi aktif (bukan pasif), ditampilkan Cok dalam hubungan Cok dengan Kucing Bersepatu Lars.
Sang tentara gagah dan tampak garang dan jalang itu ternyata 'anak manis' yang dapat dipermainkan oleh Cok. Ia dipakai Cok untuk membeking usaha hotelnya. Bahkan, ia juga dipakai Cok untuk meloloskan Saman saat Saman menjadi buronan. (88-89).

Cok yang berkarakter sebagai perempuan yang liar, bengal, blak-blakan,'jujur' ternyata juga mengalami kekerasan budaya patriarkal. Namun, ia melakukan perlawanan terhadapnya dengan cara membuat tafsiran alternatif terhadap kode-kode patriarkal ataupun mempermainkan kode-kode yang sudah ada.

Laila
Laila Gagarina, seorang fotografer, yang sedang gundah karena gagal bertemu dengan 'kekasih gelapnya, Sihar. Berbeda dengan Cok, Laila tampil sebagai sosok yang amat terkungkung oleh cintanya pada Sihar, seorang laki-laki yang sudah beristri. Ia berencana melakukan pertemuan gelap di New York, namun pertemuan gagal karena Sihar datang besama sang istri. Karena cintanya kepada Sihar, dalam hati ia tetap mengatakan:
"Sihar, saya ingin katakan: kamu saya maafkan. Pernahkan kamu tak kumaafkan" (97).

Peselingkuhan Laila dan juga Sihar membuat mereka menderita. Karena, perselingkuhan itu selalu 'membahayakan' dan 'menjadi acaman' bagi keluarga. Hal ini tampak dalam perkataan:
"Sihar, jangan cemas. Saya tak akan mengganggu perkawinanmu."
Jawaban Sihar,
"Sebab aku bukan orang yang bisa tidak melibatkan perasaan dalam hubungan lelaki-perempuan. Aku akan tergantung padamu, kamu akan tergantung padaku. Itu berbahaya. Aku punya keluarga." (98).

Apa yang mau ditampilkan di sini Seorang perempuan begitu tergantung dengan laki-laki sehingga seolah 'mengemis cinta' dari laki-laki itu Ataukah seorang perempuan yang begitu tegar dan berani melawan nilai-nilai masyarakat (perkawinan, keluarga) dihadapkan pada seorang laki-laki yang penuh kebimbangan dan tidak dapat memilih antra istri dan selingkuhan; laki-laki yang ingin mendapat untung ganda dari sang istri maupun selingkuhannya Apakah di sini Ayu mengajak kita merenungkan lagi tentang komitmen dan kesetiaan Atau ia sekali lagi mengajak kita melihat realitas lain dari perspektif perempuan) tentang perselingkuhan yang membuat mereka ada dalam dilema Saya tidak memperoleh jawaban yang pasti.
Kata Laila peselingkuhan membuat ia
"ada dalam sebuah dilema, untuk membuat dua luka, bahkan tiga. Dia [Sihar] penah menulis kepada saya: Jangan kamu kira, Laila, bahwa hanya kamu yang sedih dalam hubungan ini. Atau cuma kamu dan istriku. Saya pun bersedih karena kita tidak boleh saling bertemu." (101).
Tulis Laila lagi, beselingkuh adalah 'mana kala untuk mencinta sesorang ia harus menyakiti orang lain.' (102).

Apa usaha untuk menyelesaikan dilema, atau bahkan trilema dari perselingkuhan ini Sihar mengusulkan: putus hubungan. Laila keberatan.
"Tidak, Sihar. Saya tidak menuntut kamu berkorban. Tidak bisakah kita biarkan perasaan-perasaan ini mengalir" (102).

Cok mengusulkan kepada mereka mengenai kelanjutan hubungan mereka,
"Persetan dengan laki-laki. Apa lagi yang sudah kawin." (117).
Sebelum menunjukkan apa yang dipilih Laila, Ayu Utami mengisahkan bagaimana wacana patriarkal mendisiplinkan perempuan (Laila). Yang menjadi pelaku tindakan pendisiplinan ini adalah Ibu.
“Ibu yang erat membebat dadaku dengan stagen agar kuncup payudaraku yang sedang tumbuh tak terlihat orang. Dan jika aku di rumah kerap sore ibu menggiling dadaku dengan botol seperti adonan pada telenan agar payudaraku tidak tumbuh terlalu dini. Aku mengeluh, sakit sekali. Ibu, sesak dan ngilu. Katanya, tahanlah. Sebab dengan begini kamu tidak membuat teman dan gurumu, bahkan orang di jalan tergoda. Sebab bagi mereka tubuh wanita begitu menawan. Itu berbahaya. Biarkan kamu menjadi anak-anak sampai tiba saatnya menjadi dewasa (104-105).

Yang dilakukan ibu ini sejajar dengan apa yang dilakukan Yasmin terhadap Cok dengan kata 'perek'-nya. Ini merupakan bagian dari disiplin wacana patriarkal yang memaksa perempuan untuk melakukan 'kekerasan' terhadap perempuan. Bahkan kekerasan itu, dinaungi oleh sebuah lembaga keluarga, hubungan ibu dengan anak perempuan. Tindakan ibu ini dilatarbelakangi wacana patriarkal yang berpandangan bahwa perempuan itu adalah penggoda.
Rupanya pendidikan dan disiplin dari sang Ibu membuat Laila justru menjadi seorang gadis menyangkal 'kegadisannya'. Saat sekolah ia ikut naik gunung, berkemah, turun tebing, cross country, menyusur kebun teh, berenang-jenis olah raga kelompok yang kebanyakan anggota-anggotanya anak laki-laki. Juga tidur bersisihan dengan kawan laki-laki dalam tenda dan perjalanan. Tapi dialah yang paling terlambat mengenal pria secara seksual. Pada saat itu ada rasa bangga bahwa dia memasuki dunia laki-laki, yang dinamis, tidak domestik, menjelajah alam, meninggalkan Barbie, tak segera tersentuh kosmetik. kemungkinan besar tidak diakuinya bahwa ia menyangkal buah dadanya sendiri juga menstruasinya.
Ia pantang mengeluhkan keletihan atau nyeri ketika datang bulan. Ia selalu siap dengan banyak pembalut sehingga darah itu tak pernah rembes ke pakaian luar. Ia akan selalu segera mencuci bersih celana dalam yang tercemar sehingga tak satu pun akan melihat jejak yang memalukan itu.). Tidak semua perempuan bisa melakukan itu, menyangkal hal-hal yang lembek, dan ia merasa ada supremasi pada dirinya. Kini dia telah jauh dari aktivitas itu. Tak bisa lagi masuk ke dalam dunia pria dewasa. (118).

Laila adalah sebuah ironi, seorang perempuan yang ingin meninggalkan keperempuanannya agar ia dapat masuk dalam dunia laki-laki, yang dengannya ia memperoleh kebanggaan dan harga diri, tetapi akhirnya menjadi perempuan yang amat tergantung pada laki-laki. Ia tak dapat melupakan Sihar.

Shakuntala
Shakuntala bercerita tentang proses disiplin wacana patriarkal untuk membentuk laki-laki sungguh menjadi laki-laki. Di sini, Shakuntala tidak memakai kata perempuan tetapi wanita.
Aku mempunyai kakak lelaki. Dia anak pertama ayah-ibuku. Orangtuaku percaya bahwa laki-laki cenderung rasional dan wanita emosional. Karena itu, pria akan memimpin dan wanita mengasihi. Pria membangun dan wanita memelihara. Maka Bapak mengajari abangku menggunakan akal untuk mengontrol dunia, juga badan. Aku tak pernah dipaksanya untuk hal yang sama, sebab ia percaya pada hakikatnya aku tak mampu.
WANITA DICIPTAKAN DARI IGA. KARENA ITU IA DITAKDIRKAN MEMILIKI KECENDERUNGAN UNTUK BENGKOK SEHINGGA HARUS DILURUSKAN OLEH PRIA. (SURAT XIV, 1266), (136)

Ayah Shakuntala selalu mengagung-agungkan laki-laki untuk mengajarkan bahwa laki-laki mesti di atas
"Tempat laki-laki............ adalah DI ATAS" (137)
Sang Bapak mendisplinkan, mengajar dan memaksa anaknya untuk memanjat pohon. Sebelum menjadi panglima, seorang prajurit akan menjadi pengintai di menara. Maka, wahai satria, jadikalah pohon kelapa ini menjadi menaramu, tempat kamu melindungi adik-adikmu perempuan sepuluh dari para raksasa yang mengendus di kejauhan hutan. (137).

Shakuntala menampilkan konstruksi laki-laki sebagai pelindung dan perempuan sebagai yang dilindungi. Laki-laki ditampilkan sebagai yang kuat, sementara perempuan sebagai yang lemah. Sebenarnya sang kakak menolak konstruksi ini: "Biar saja adik-adik menjaga diri sendiri." Namun ia tidak mampu melawan ayahnya. Ia dipaksa menerima konstruksi patriarkal ini. Pendidikan kelelakian ini keras dan kejam. Karena “kangmasku menangis geru-geru sebab pohon itu begitu tinggi.” Tetapi sang Bapak segera memberikan ajaran berikutnya:
Tangis itu milik perempuan. Milikmu adalah keberanian!" "Kalau kamu berteriak pada dirimu sendiri, berulang kali, 'Berhenti nangis! Berhenti nangis! Berhenti ...' maka kamu akan berhenti nangis, Nak. Kalau kamu berseru pada dirimu, 'Berani! Berani! Berani! ...' kamu akan berani. Kangmasku menurut. Setahap semi setahap. Ia menzikirkan keberanian, meski airmatanya masih mengalir dan pipinya merah dan pelupuknya sembab (138).

Saat memanjat pohon ternyata ia digigit tokek tetapi ia tidak lagi menangis.
"Lalu Bapak menyeringai puas, sebab kangmasku telah berhenti menangis. (Barangkali ia berhenti menangis untuk seumurhidupnya." (139).

Begitulah Shakuntala menceritakan kelelakian kakaknya. Tampak heroik tetapi juga kejam, menyingkirkan segala tangis, keluhan, rasa sakit dari dunia laki-laki dan Shakuntala membedakan kedudukan dirinya dirinya dengan kakaknya.
Sang kakak dapat memerintah tubuhnya bagaikan seorang komandan memerintah batalyon dan kompi, sedang ia adalah kebalikannya. Seperti dalam kutipan:
"Keputusan-keputusanku diperintah oleh dorongan tubuh untuk menari." (141).
Ia memikirkan dan berusaha untuk merasakan serta merenungkan tentang kelaki-lakian seorang perempuan."Laila, pernah nggak kamu merasa bahwa kamu adalah laki-laki Anak laki"
"Nggak."
"Kenapa" Ia menatap saya. "Kamu dulu tomboy. Temanmu lebih banyak laki."
"Tapi saya kan bukan laki sungguhan."
..."Apa itu'sungguhan' Mereka juga bukan lelaki sungguhan."
"Siapa"
"Mereka semua. Dan kita juga bukan perempuan sungguhan. Kita semua jadi-jadian."
"Tala. Kerena itu kamu bisa menari sebagai lelaki dan perempuan! " Dalam pertunjukkan yang ia lakukan, Sakuntala dapat menarikan peran laki-laki maupun perempuan: Rama, Rahwana, tetapi juga Sinta. (126).
"Ya. Aku ini perempuan juga lelaki." (129).11
Dalam percakapan itu, Shakuntala mulai mempertanyakan referensi lelaki dan perempuan. Keduanya bukanlah esensi tetapi sebuah konstruksi yang dapat bertukar satu sama lain seenaknya. Di sini Shakuntala menggugat hubungan statis dan beku antara tanda laki-laki dan 'perempuan dan konsep laki-laki dan keperempuanan yang ditandakannya..
Saat Shakuntala dan Laila menari Spanish tango, Laila semakin menemukan sosok laki-laki dalam diri Shakuntala. Seperti dalam kutipan:
Dalam wajah Shakuntala, ia menemukan wajah Sihar dan terkadang Saman. Lalu saya, Laila, menemukan wajah saya telah bersandar pada siku lehernya. Dan saya menangis. Sebab sesungguhnya saya tahu saya terluka oleh sikap Sihar. Sebab kini saya tak tahu lagi siapa dia. Apakah Tala apakah Saman apakah Sihar. Apakah perempuan, apakah laki-laki. Hangat nafasnya terasa. Cahaya rendah. (132).

Apakah laki-laki, apakah perempuan, keduanya adalah konstruksi. Shakuntala menawarkan sebuah 'konsep' yang melampaui atau paling tidak berbeda dengan konsep oposisi laki-laki perempuan. Namaku hanya satu: Shakuntala. Tapi sering ada dua dalam diriku. Seorang perempuan, seorang laki-laki, yang saling berbagi dalam sebuah nama yang tak mereka pilih. Seperti dalam kutipan:
Aku lupa sejak kapan kutahu bahwa aku anak perempuan, sama seperti kita lupa kapan kita pertama kali ingat. Aku curiga bahwa ayah dan ibuku mengatakan kepadaku terus-menerus-kamu perempuan-sejak aku belum bisa bicara. Dan bagaimanakah aku bisa membantah jika aku tak bisa bicara. Tetapi lelaki dalam diriku datang suatu hari. Tak ada yang memberi tahu dan ia tak memperkenalkan diri, tapi kutahu dia adalah diriku laki-laki. Ia muncul sejak usiaku amat muda, ketika itu aku menari baling-baling (133).

Inilah pendapat Shakuntala, Seperti dalam kutipan:
"Manusia tidak terdiri dari satu." (134).
Peryataan Shakuntala bahwa dalam dirinya ada laki-laki dapat saja dianggap sebagai ilusi belaka. Karena itu, untuk ia juga memikirkan oposisi ilusi dengan kenyataan. Kasus pokoknya adalah Laila yang tak dapat melupakann Sihar. Seperti dalam kutipan:
"Lama-lama aku berkesimpulan bahwa ia bukan tak bisa melainkan, seperti kata Yasmin, tak mau. Ia tak mau kehilangan ilusi itu." (140-141).
"Apa bedanya ilusi dengan kenyataan" (141).

Saat itu ibu Shakuntala terguncang karena berhadapan dengan kenyataan bahwa anak laki-lakinya, yaitu kakak Shakuntala meninggal karena kecelakaan. Setelah menagis seharian penuh, pada hari berikutnya ia berilusi, Seperti dalam kutipan:
"Dia tidak mati." Tak tahan dengan ibunya yang terus menerus menyatakan bahwa-anaknya-tidak-mati sebagai 'kenyataan', Shakuntala mengatakan, "Ibu, ada beberapa kenyataan. Pertama, dia sudah mati. Kedua, aku ternyata juga laki-laki. Ketiga, Tuhan itu tak ada, Ibu."
Ibu terkejut, lalu tertawa. "Dia tiadak mati. Tuhan ada. Dan kamu anak perempuan, Sayang." Akhirnya aku mengalah. Baiklah, Ibu, aku tak aku tak membantahmu lagi. Kalau itu membuatmu bahagia (142).

Apa kenyaataan Apakah ia bagimu dan bagiku Jika ayah ayahmu memperkosa kamu ketika kamu begitu muda, pantaskah kamu disebut bodoh sebab kamu tidak maju ke muka kelas dan menyatakan bahwa ayahmu telah melanggar kamu. Bahkan jika kelas itu kosong dan tak ada murid atau guru mendengarmu. Jika pun kelas itu sebuah ruang dalam hatimu. Apakah kita dapat begitu saja menerima kenyataan pahit sebagai kenyataan Atau sesungguhya kenyataan itu adalah sesuatu yang membuat bahagia Lalu ilusi menjadi kenyataan jika ia memberikan kebahagiaan terhadap Yasmin yang lebih menyukai kenyataan daripada ilusi. Shakuntala menggumam,
"Kamu hanya mempunyai segala yang menyenangkan di dunia ini. Tak ada susah bagimu" (146),

Hal itu tidak sulit bagi Shakuntala untuk mengatakan segala yang nyata di dunia ini sebagai kenyataan. Kata Shakuntala, Seperti dalam kutipan:
"Yasmin, kamu punya segalanya. Sementara Laila punya ilusi. Apakah kamu masih juga mau merenggut ilusi itu dari dia untuk melemparkannya ke tong sampah" (147).

Sebuah kata-kata yang amat pahit. Kepahitan ini tidak hanya bagi Laila tetapi juga Shakuntala. Tapi apakah sebuah bayang-bayang itu selalu membahagiakan dan karenanya dapat dianggap sebagai kenyataan. Shakuntala berikutnya mempersalahkan konsep bahwa ilusi itu 'melulu' membahagiakan. Ibu menilai Shakuntala berilusi karena ia menganggap dirinya sebagai laki-laki. Seperti dalam kutipan:
"Tapi aku tetap percaya bahwa ibuku yang berilusi bahwa anak laki-lakinya tidak mati, bukan aku. Sebab aku tahu pasti ada diriku lelaki dan itu tidak membuatku lebih bahagia." (142).

Bagi Shakuntala ilusi tidak selalu membahagiakan, tetapi kenyataan selalu tidak membahagiakan. Karena itu, ia percaya bahwa dalam dirinya memang nyata ada laki-laki. Seperti dalam kutipan:
"Ibuku tak percaya, aku juga laki-laki."
Saat itu Shakuntala ingin membuktikan bahwa dalam dirinya kepada sang ibu kelaki-lakiannya tidak datang. Ia menemukan kelelakiannya kembali saat belajar pada seorang sinden.
Suatu malam, ketika aku duduk dalam sebuah ruang dan mengagumi dia menyanyi tanpa pengiring, lelaki dalam diriku muncul dari belakang tubuhku seperti energi yang terlepas. Aku tidak bicara dengannya tetapi si pesinden melihatnya lalu mereka menembang bersama. Lalu mereka berdekatan, berdekapan. Mereka saling melepas kain masing-masing dan saling berlekatan. Setelah itu mereka saling berkata, "Betapa indahnya, kita sama-sama punya payudara." (149).
Kata-kata "Betapa indahnya, kita sama-sama punya payudara" dapat diartikan sebagai pilihan untuk kembali ke oposisi biner dengan menempatkan perempuan dalam hirarki lebih tinggi. Pilihan ini dapat dipandang sebagai kegagalan tetapi juga dapat dilihat sebagai sebuah strategi untuk mendobrak wacana lama secara tuntas.

Yasmin Moningka
Kenapa kita menyebut "kenyataan" hanya untuk sesuatu yang bertentangan dengan keinginan" (154).
"...Tapi bagaimana aku mendamaikan serempak kenyataan yang saling bertentangan Realita dari sesuatu yang kuimpikan dan yang kuingin tolak dari yang lampau, yang sekarang, dan yang mungkin" (155)
Yasmin Moningka, "berwajah baik dan benar, barangkali baku seperti Bahasa Indonesia. Pengacara. Dia seumpama lukisan realis di mana tak satu garis pun melenceng sehingga tak ada sisa bagi kita untuk menafsir" (135), "yang dulu waktu di SMA, terasa sekali mempunyai kompleks primadona. Dia selalau mau jadi nomor satu. Dalam hal prestasi, kecantikan, maupun moral." (82).

Yasmin ternyata mempunyai fantasi seksual yang teramat liar. Yasmin mempunyai khayalan seksual masa kanak-kanak yang aneh. Saat di kelas nol ia mulai tertarik pada teman laki-lakinya yang bernama Julian. Seperti dalam kutipan:
"Aku selalu bersemangat untuk melihatnya keluar-main. Dan, aku selalu membayangkan penis di balik celana pendeknya, pada pangkal kakinya yang ramping." Yasmin mengutip Frued untuk yang melihat periode itu sebagai tahap fallis, "saat anak tertarik ada alat kelaminnya. Anak lelaki bangga sementara anak perempuan cemburu dan merasa tidak lengkap karena tidak memiliki penis" (157).

Namun, Yasmin tidak menerima teori itu mentah mentah. Seperti dalam kutipan:
"Apakah aku cemburu atau minder aku tak ingat. Yang aku ingat adalah aku tertarik pada penis Julian. Dan tak cuma itu. Bentuk ketertarikanku adalah keinginan untuk mengkastrasinya, menyunatnya, melakukan sesuatu sehingga ia kesakitan. Kenikmatan seksual awalku adalah menghkayalkan Julian merintih di tangan para musuhnya yang bersekongkol dengan orang-orang dewasa, yang menangkapnya, memapar dan menyakiti kelaminnya." (158).

Waktu Yasmin masih kecil, "seks tak pernah datang bersama kasih sayang dalam fantasi kanak-kanakku. Seks, yang belum sempat terdefinisikan waktu itu, berhubungan dengan kekekerasan, penaklukan, dan rasa sakit."Lalu ia mulai masuk ke budaya patriarkal. Seperti dalam kutipan:
Menjelang akil balig aku mulai malu atas fantasi-fantasiku dan kesenangan seksual yang dihasilkannya. Lalu suatu pergeseran yang aneh terjadi. Adakah aku menghukum diriku sendiri, ataukah ini datang bersama masa awalku memasuki dunia patriarkal yang tak kuketahui, dunia di luarku yang memaksakan diri, di mana wanita adalah obyek seksual. Aku kehilangan kesubyekan pada diriku dan menempatkan diri sebagai obyek. Aku kehilangan keperempuananku dan menjadi wanita. Dalam proses yang tak kumengerti, aku mulai menempatkan diriku sebagai si terhukum, wanita yang terkutuk karena kewanitaannya (158).

Lalu, ia mulai berefleksi dengan Deluze, seorang poststrukturalis dari Prancis, tentang masokisme15. Dalam masokisme, superego (nilai-nilai, kontrol dari luar misal dari orang tua yang sudah diinternalisasi sehingga menjadi nilai dan kontrol diri) digeser ke luar diri hingga menjadi bagian dunia eksternal. Deluze lebih banyak berbicara masokisme pada laki-laki. Dan ia melihat masokisme (pada laki-laki) merupakan penyimpangan. Pada wanita masokisme merupakan sesuatu yang natural. Sebab, superego, figur ayah, aparat pendisiplin, memang telah tampil di luar diri wanita dalam konstruksi sosial yang patriarkal. Kami tidak perlu melakukan pembalikan. Kami hanya perlu ikut dalam permainan dominasi lelaki, yang derajat tingginya adalah selera sadisme heteroseksual pria. Apa bedanya idealisasi terhadap pengorbanan istri, poligami, dengan masokisme Semuanya adalah internalisasi ketidakadilan.
Wanita menyelamatkan diri dengan mengambil ke dalam dirinya dominasi pria (sebagaimana yang dikukuhkan banyak agama) dan menganggapnya agung. Karena itu, aku katakan, sembilan puluh persen wanita di dunia ini adalah masokis. (159).

Itu pula yang dialami Yasmin ketika sudah mulai masuk ke dunia patriarkal. Ia merindukan penghukuman. Ia merindukan dominasi. Kerinduannya itu bertentangan dengan citra yang ia bangun selama ini: Yasmin yang mandiri, yang selalu punya keputusan rasional, pengacara yang cukup dihormati, aktivis hak asasi manusia (dan di dalamnya adalah hak hak asasi perempuan). Inikah kesulitan yang dihadapi oleh para perempuan yang memperjuangkan feminisme. Namun Yasmin tetap merasa berbeda dengan perempuan lain.
"Yang membedakan aku dari para wanita yang mengukuhkan patriarkal adalah aku melokalisasinya [kerinduan akan dominasi itu] pada fantasi seksual. Mereka menerima dominasi pria sebagai suatu Ide yang total dan murni, suatu ideal. Mereka menerimanya sebagai nilai moral, aku sebagai nilai estetik." (160).
"Kadang [fantasi] itu begitu menakutkan aku. Bagaimana aku bisa mendamaikan estetika seksualku dengan pedoman nuraniku tentang keadilan" (161). Bagaimana aku dapat memperjuangkan hak dan keadilan perempuan sementara aku menginginkan dominasi dan penindasan Ambivalensi ini mungkin juga menjadi persoalan sentral bagi para feminis.
Namun untunglah Saman menyelamatkan Yasmin dari keinginan untuk didominasi laki-laki. Kamu membangkitkan kembali khayal kanak-kanakku yang lama kukhianati. Tanpa kamu ketahui terlepaslah keperempuananku [bukan kewanitaan] yang telah dipenjarakan hampir dua puluh tahun. Kini ia datang dengan memori purba. Seakan ingatan primitif dari masa oral, ketika tubuhku belum diracuni oleh kekuatan luar yang mengagung-agungkan fallus dan memitoskan kesucian wanita. Ia datang dengan agresivitas yang murni, polos, inosen, yaitu dorongan untuk memakan, menghisap, mengconsume, mengexploit, memasukkan ke dalam dirinya benda-benda yang menarik hatinya. Juga kelamin laki-laki. Saat itu, tidak ada penis envy. Yang ada hanyalah dorongan untuk menelan benda asing, the Other, sesuatu yang mirip namun berbeda dari dirinya....Jika ia dibiarkan tumbuh alamiah, terjauhkan dari male chauvinisme, maka ia akan melalui masa klitoral dan vagina-bukan masa fallis-ketika ia menemukan mulut keduanya, yang dengannya ia mau menelan penis. Ia tak mengenal kata 'intrusi'. Ia hanya mengenal "konsumsi". Dan ia tidak cemas. (162)

‘Cerita yang berawal dari selangkangan’ mungkin bagi pembaca akan dianggap dan akan baca sebagai cerita semi-porno atau sebagai upaya Ayu untuk mempermainkan ajaran seksualitas, feminisme, dan wacana patriarkal, atau tafsiran lain. Penjajahan oleh patriarki terhadap wanita adalah berupa pemberlakuan norma-norma sosial tertentu, dengan tujuan norma tersebut dipandang sebagai kodrat (Nurgiyantoro, 1995). Emansipasi tidak cukup mengimbangi dominasi pria dalam kehidupan, yang harus dilakukan adalah pembalikan keadaan.
Dalam wacana patriarkal yang masih sedemikian kuat, emansipasi tidak cukup mengimbangi dominasi pria dalam kehidupan. Yang harus dilakukan adalah pembalikan keadaan . Dalam Shakuntala, akhirnya tetap kembali pada sifat estetis wanita bahwa perempuan lebih indah. Sementara itu pada Yasmin, perempuanlah yang menjadi pemenang.
Semua perempuan yang ditampilkan adalah perempuan yang mandiri, wanita karier, yang sebenarnya relatif lebih bebas dari kungkungan wacana patriarki.. Masih banyak perempuan lain yang mengalami kekerasan yang lebih konkret. Misal para pembantu rumahtangga, TKW, atau buruh perempuan. Mereka adalah kelompok subaltern. Persoalan ini kiranya menjadi tantangan bagi para feminis untuk berfikir, berimajinasi dan menampilkan perjuangan mereka untuk melawan penindasan wacana patriarkal. Terlepas dari persoalan itu, kiranya usaha Ayu patut dihargai. Ia telah ambil bagian dalam perjuangan feminis dan mengembalikan wacana patriarki .

Novel Saman dan Larung Kaitannya dengan Kemutakhiran Sastra Indonesia
Novel Saman karya Ayu Utami diterbitkan pada tahun 1998. sebaliknya, novel Larung sebagai bingkai dari Saman terbit pada tahun 2001. Karya Saman hasil tulisan Ayu Utami merupakan sebuah karya yang saya tunggu-tunggu selama ini. Saman adalah pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Pada mulanya, novel Saman ini akan ditulis sebagai sebuah novel yang berjudul Laila tak Mampir di New York, tetapi dalam proses menyiapkan novel ini, plot novel berkembang, maka Ayu mendapati novel ini perlu dibagi menjadi dua bagian yang bersinggungan. Lanjutan novel 'Saman' bertajuk Larung, dan novel ini pula telah diterbitkan pada tahun 2001.
Setelah novel Saman terbit langsung mendapat sorakan kritis dan mendapatkan penghargaan bergengsi meski klaim-klaim yang mengatakan bahwa Saman bisa meruntuhkan rezim Orde Baru mungkin agak berlebihan, namun pandangan tersebut ternyata memang mengandung suatu kekayaan simbolisme yang digunakan oleh Ayu Utami untuk secara langsung maupun tak langsung mengkritik sistem patriarkal yang menjadi landasan REZIM Orde Baru semenjak berkuasa sampai novel ini terbit di era ‘REFORMNASI’ segala bidang. Dengan kata lain, lahirnya novel ini merupakan tonggak sejarah baru lahirnya karya-karya sastra yang ‘uwal’ dari kungkungan kekuasaan. Pengangkatan tema feminisme dan seksualitas yang dideskripsikam secara vulgar dan penuh berisi memberikan imajinasi bagi kita untuk lebih memahami awal kemuktahiran dalam hal tema dan teknik penceritaan karya sastra.
Seksualitas dalam naskah tersebut barangkali merupakan tema paling hangat yang sebelumnya belum pernah ada dalam konteks masyarakat Indonesia, dan merupakan isu utama yang akan dibahas di sini. Dilihat pada permukaannya, pengakuan akan seksualitas dari semua tokoh dalam novel ini, khususnya keempat tokoh perempuannya, merupakan tantangan nyata terhadap penindasan seksualitas di luar perkawinan yang lazim terjadi di Indonesia. Status mereka yang independen, berorientasi karir dan tidak punya anak menempatkan mereka jauh di luar ideal perempuan Orde Baru. Perbuatan seksual sendiri digunakan dengan cara yang lebih simbolik untuk merujuk isu-isu spesifik tentang sejarah, asal-usul serta gerak maju dari sistem patriarki ini. Sebagian dari simbolisme ini sangat metaforik; khususnya dalam fantasi-fantasi para tokoh yang disublimasikan lewat bahasa puitis Ayu Utami.
Keindahan kedua novel ini mampu mewarnai imaginasi pembaca. Dalam proses penafsiran cerita, pembaca harus mencoba menyelami dunia si penulis. Dalam Saman dan Larung, perkara ini sering berlaku apabila hidup watak terserap masuk ke dalam jiwa pembaca dengan baik. Perlu diingatkan juga di sini bahwa novel Saman dan Larung jelas sebuah novel untuk pembaca-pembaca dewasa. Ada yang mengatakan bahwa penerapan unsur seks dalam novel ini agak keterlaluan, tetapi Ayu mempertahankannya dengan mengatakan bahawa beliau menampilkan permasalahan seks sebagai masalah perempuan yang tidak akan habis dikupas dunia fantasinya.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar