ANDRIW

Foto Saya
Metro-Jogja-Solo, Indonesia
Perusahaan: B.I.A.S (Badan Intelejen Asmara Sesaat) * Pendidikan Bahasa Indonesia - PPs-Universitas Sebelas Maret Surakarta. * PBSI-FBS UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), Angkatan 2001 * SMAN 2 Metro * SMP Kartikatama Metro * SDN 5 Metro Selatan
(HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.BAGI YANG MENGUTIP HARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS)

Sabtu, 30 April 2011

pembelajaran drama pada siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran yang saat ini cukup banyak mendapat perhatian. Hal tersebut salah satunya dikarenakan masuknya bahasa Indonesia menjadi salah satu faktor penentu kelulusan ujian nasional. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar sekolah cukup serius dalam menghadapi ujian nasional, sampai-sampai diberikan prioritas yang lebih terhadap mata pelajaran tersebut, tetapi ironisnya hanya sebatas untuk keperluan menghadapi ujian nasional.
Bahasa memiliki fungsi yang cukup penting sebagai sarana belajar. Sehingga perhatian dari elemen-elemen pembelajaran meningkat terhadap mata pelajaran ini. Namun perlu diketahui bahwa kondisi pada tataran praktis sebagian besar memberi reaksi yang kurang menguntungkan bagi tercapainya tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yang sebenarnya, yaitu termilikinya kompetensi-kompetensi berbahasa pada diri siswa.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jelas sekali bahwa banyak sekali kompetensi yang harus dicapai dari pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas atau di sekolah. Termilikinya suatu kompetensi dalam diri siswa menjadi salah satu indikator keberhasilan pembelajaran. Memang ketika merujuk pada suatu capaian yang ideal, tugas seorang guru sangatlah berat. Proses pencapaian kompetensi-kompetensi tersebut seringkali terbentur pada masalah-masalah dan keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam pembelajaran di lingkup formal (kelas atau sekolah).
Mata pelajaran bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah mencakup materi kebahasaan dan materi kesastraan. Terdapat empat aspek kompetensi dasar yang dijadikan acuan dalam proses pembelajaran, yaitu kemampuan mendengarkan, kemampuan berbicara, kemampuan membaca, dan kemampuan menulis. Empat kompetensi itu masuk dalam mata pelajaran bahasa Indonesia pada setian jenjang pendidikan. Materi bahasa dan sastra yang terdapat dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, selalu berdasar pada empat kompetensi dasar tersebut dalam proses pembelajaran yang dilakukan.
Pembelajaran bahasa Indonesia pada kurikulum terbaru yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mempunyai tujuan yaitu termilikinya kompetensi berbahasa pada siswa. Kompetensi yang dimaksudkan adalah kompetensi berbahasa reseptif dan kompetensi berbahasa produktif. Kompetensi berbahasa reseptif meliputi kemampuan mendengarkan dan membaca, dan kemampuan berbahasa produktif meliputi kemampuan berbicara dan menulis.
Banyak pengamat menilai pengajaran sastra selama ini berlangsung monoton, tidak menarik, bahkan membosankan. Siswa selama ini tidak diajak untuk menjelajah dan menggauli keagungan nilai yang terkandung dalam teks sastra drama, tetapi sekedar dicekoki dengan pengetahuan-pengetahuan tentang sastra drama yang bercorak teoritis dan hapalan. (Pusat Bahasa, www.com.pusat bahasa.go.id)
Selain itu masalah itu, banyak juga faktor-faktor lain yang juga berpengaruh terhadap proses pembelajaran materi tersebut. Di antaranya kondisi pendidik, siswa, dan penjabaran materi itu sendiri dalam pembelajaran di kelas. Elemen-elemen tersebut menjadi sangat berberperan dalan keberhasilan proses pembelajaran di kelas, terutama pembelajaran dengan kompetensi berbicara, seperti kemampuan memerankan tokoh drama atau cerita. Di sekolah-sekolah, naskah drama paling tidak diminati. Hal ini disebabkan menghayati naskah drama yang berupa dialog itu cukup sulit dan harus tekun. Dengan pementasan atau pembacaan oleh orang yang terlatih, hambatan tersebut kiranya dapat diatasi. Penghayatan naskah drama lebih sulit daripada penghayatan naskah prosa dan puisi.
Pembelajaran drama mempunyai peran yang cukup penting untuk melatih peserta didik mengasah sisi-sisi kemampuan berekspresi dalam bidang seni. Terlebih lagi dalam aspek memerankan suatu tokoh drama, dengan kemampuan memerankan tokoh drama, peserta didik (siswa) akan dapat mengasah mental mereka. Selain itu dengan memerankan suatu tokoh drama, sisiwa akan dapat menyelami berbagai karakter dari berbagai tokoh dalam drama yang diperankannya. Dengan begitu, siswa akan terlatih untuk dapat terus mengaktualisasikan diri di dalam lingkungannya.
Pembelajaran drama yang terjadi pada tataran praktis seringkali belum menghasilkan pembelajaran yang efektif. Hal tersebut terlihat dari kurangnya pemberian materi yang berkaitan tentang kemampuan memerankan tokoh drama. Seringkali guru langsung memberikan tugas pada siswa untuk membaca atau memahami suatu naskah drama, kemudian siswa diminta memerankan drama tersebut. Sehingga siswa cenderung memerankan tokoh drama tersebut dengan asal-asalan, dan cenderung hanya untuk memenuhi tugas dari guru.
Drama sebagai salah satu genre sastra mempunyai sifat yang berbeda dengan novel atau cerita prosa lainnya. Penerbit menerbitkan novel atau cerita prosa itu dengan tujuan agar dapat dinikmati oleh pembacanya. Pembaca menikmati karya-karya sastra tertulis secara individual sekali ialah dengan membacanya. Sebaliknya, karya drama ditulis dengan maksud untuk dipentaskan dan dinikmati bersama-sama. Teks drama tersebut menjadi hidup karena telah diinterpretasi oleh pelakunya dan diperagakan dalam pementasan (Gray dalam Sahid, 2000: 82).
Dalam proses tersebut, pembaca adalah penerima yang pasif sedangkan sastrawan pengirim pesan yang aktif, namun kenyataannya tidaklah demikian. Pada dasarnya, teks drama merupakan susunan huruf, kata, kalimat, dan alinea yang bisa dijadikan sebagai sarana penyampai pesan. Jika pembaca secara aktif menafsirkannya, teks drama akan menjadi sarana penyampai pesan yang dapat diciptakan kembali oleh pembaca. Jika tidak, teks drama mungkin merupakan kertas bertulisan yang bisa saja menjadi bungkus kacang.
Di sekolah-sekolah, naskah drama paling tidak dinikmati. Minat siswa dalam membaca karya sastra yang terbanyak adalah prosa, menyusul puisi, baru kemudian drama. Perbandingannya adalah: 6:3:1. Hal ini disebabkan karena menghayati naskah drama yang berupa dialog itu cukup sulit dan harus tekun. Penghayatan naskah drama lebih sulit daripada penghayatan naskah prosa atau puisi (Waluyo, 2002: 2). Keadaan yang demikian sudah tentu akan menimbulkan kesukaran bagi guru dan rasa tidak minat pelajar terhadap sastra yang dapat berakibat kepada proses pengajaran dan pembelajaran bahasa dan sastra menjadi tidak berkesan bagi siswa (http://www.cikgu.net.my/malay/berita/moreberita. php3?id, 2001 id: 331).
Dalam teater terdapat tiga macam latihan, yaitu latihan olahtubuh, olahrasa, dan olahvokal. Ketiga latihan tersebut saling terkait satu sama lainnya, serta memiliki manfaat yang sama besar dalam kegunaannya. Tanpa melakukan latihan olah tubuh seorang aktor tidak akan memiliki stamina yang cukup, serta gestur-gestur yang diperlukan dalam teater. Di samping itu, dengan latihan olahrasa atau olahsukma (konsentrasi dan relaksasi) dan latihan olahvokal seorang aktor di dalam teater dengan mudah membawakan karakter yang dibutuhkan, baik itu karakter tua, muda, anak-anak, serta psikopat sekalipun.
Faktor utama yang diperlukan agar dapat berbicara dengan baik adalah kesiapan mental, keberanian, dan penguasaan pengucapan kosakata yang meliputi tekanan artikulasi dan intonasi. Ketiga hal tersebut merupakan elemen yang berkaitan satu sama lain dan dapat ditemukan pada tiga pendekatan dalam teater.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat diperoleh suatu pengamatan dan analisis pembelajaran drama pada siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta sehingga muncul identifikasi
masalah yang diantaranya adalah:
1. Peningkatan pembelajaran drama pada siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta, baik dari segi kemampuan, menyimak, membaca, berbicara maupun menulis
2. Dalam proses belajar mengajar, guru bukan lagi sebagai pusat pembelajaran melainkan hanya sebagai fasilitator pembelajaran sehingga pembelajaran alternatif yang dikembangkan adalah Cara Belajar Siswa Aktif dan Cara Mengajar Guru Aktif.
3. Kelemahan utama dalam pembelajaran satra (drama) ialah pelaksanaan proses pembelajaran yang kurang mendorong terjadinya pengembangan siswa yang dinamis dan budaya berpikir kritis.
Sesuai dengan identifikasi masalah tersebut, maka inovasi model pembelajaran yang dalam penelitian ini adalah model pembelajaran drama secara menyeluruh dan komprehensif
.
C. Perumusan Masalah
Permasalahan yang akan dipecahkan/ dicari solusinya dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran drama pada siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta ?
2. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran drama pada siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta ?

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut :
1. Untuk memperoleh gambaran secara objektif tentang bagaimana pelaksanaan pembelajaran drama pada siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta ?
2. Untuk memperoleh gambaran secara objektif tentang bagaimana pelaksanaan kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran drama pada siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta ?

E. Manfaat Penelitian
Sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini, manfaat
yang diharapkan adalah:
1. Manfaat teoritis
a. Konsep yang dihasilkan dalam penelitian ini merupakan masukan bagi dunia pendidikan.
b. Hasil penelitian dapat menjadi sumber bahan yang penting bagi para peneliti bidang pendidikan.
c. Memberi rekomendasi para peneliti lain untuk melakukan penelitian yang sejenis atau melanjutkan penelitian tersebut secara lebih luas dan mendalam.
2. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi para guru SMAN 8 Yogyakarta sebagai bahan untuk menentukan kebijakan dan langkah-langkah efektif bidang pendidikan, terutama yang berhubungan dengan pembelajaran drama secara menyeluruh meliputi aspek menyimak, membaca, berbicara, dan menulis.


BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Drama
Drama berasal dari bahasa Yunani “dromai” yang berarti: berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan atau beraksi (Harymawan, 1993: 1).
Perkataan drama sering dihubungkan dengan teater. Sependapat dengan hal itu, Stanislavisky et all (2002:103) merumuskan tentang teater yang bertujuan untuk membuat sebuah peristiwa di mana rangkaian adegan dapat langsung muncul secara bersamaan dalam sebuah komunitas secara perlahan-lahan terpisah karena hukum alam yang mencipta setiap komunitas. Kemudian pada momen tertentu, dunia ynag terpisah ini muncul bersamaan dalam waktu tertentu. Sebenarnya perkataan “teater” mempunyai makna lebih luas karena dapat berarti drama, gedung pertunjukan, panggung, grup pemain drama, dan dapat pula berarti segala bentuk tontonan yang dipentaskan di depan orang banyak (Herman J. Waluyo, 2002:3).
Brook, dalam bukunya menjelaskan tentang kaidah drama bahwa unsur dasar suatu drama ialah dialog.
Di sana terdapat ketegangan dan anggapan bahwa dua orang yang saling tidak bersetuju. Inilah konflik, entah konflik itu bersifat halus atu kasar tidaklah penting. Bila sudut pandang bertabrakan maka sang pengarang (naskah) berkewajiban memberi masukan yang sama semacam menjaga kredibilitas keduanya. Bila ia tak mampu malakukan itu maka hasilnya akan lemah. Ia harus menjelajahi dua pendapat (opinion) yang saling bertentangan dengan pemahaman yang sama terhadap keduanya. Juga pengarang naskah itu diberkahi dengan hati yang tidak terbatas (Brook, 2002:22).
Dalam arti sempit, drama dapat ditafsirkan sebagai gambaran kisah hidup manusia yang dituangkan dalam bentuk pementasan, disaksikan banyak orang yang didasarkan pada naskah, dengan media (dialog, gerak, laku, gesture, mimik), dengan musik atau tanpa alat musik pengiring (Harymawan, 1993:2). Drama naskah merupakan merupakan salah satu genre sastra yang dapat disejajarkan dengan fiksi (cerpen atau novel) dan puisi atau dapat dapat disebut juga bentuk/rencana tertulis dari cerita drama (Harymawan, 1993:22). Drama pentas merupakan integrasi antara berbagai jenis kesenian seperti musik, seni rupa (berhubungan dengan seting panggung), seni rias, kostum, dan lain-lain (Herman J. Waluyo, 2002:2).
Dengan mencermati beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa drama merupakan imitasi dari kehidupan atau perilaku manusia yang dipentaskan dengan suatu penampilan gerak, dialog, mimik, dan gesture yang dapat dinikmati dalam pementasan.
Rizki Pradana (2009) menjelaskan mengenai akting adalah wilayah abstrak sekaligus konkret. Abstrak ketika instruksi pencariannya disampaikan sutradara pada aktor. Kata dan kalimat sutradara selalu membutuhkan kecerdasan dan daya imajinasi aktor untuk memahaminya. Konkret ketika instruksi tersebut dilakukan melalui gerak-gerik tubuh. Pada saat tubuh bergerak dan vokal aktor membentuk makna instruksi maka saat itulah akting menjadi dunia riil.
Stanislavsky memusatkan diri pada pelatihan akting dengan pencarian laku secara psikologis. Dalam tulisannya yang terkenal The Method, ia berusaha menemukan akting realis yang mampu meyakinkan penonton bahwa apa yang dilakukan aktor adalah yang sebenarnya terjadi. Pada prinsipnya, aktor harus memiliki kondisi fisik yang prima, fleksibel, aktor harus mampu mengobservasi kehidupan, aktor harus menguasai kekuatan psikisnya, aktor harus mengetahui dan memahami tentang naskah lakon, aktor harus berkonsentrasi pada imaji, suasana, dan intensitas panggung,dan aktor harus bersedia bekerja secara terus menerus serta serius mendalami pelatihan demi kesempurnaan diri dan penampilan perannya. Stanislavsky menitik beratkan pada masalah tubuh dan pikiran aktor, untuk mewadahi psikologis aktor dan karakter naskah. Stanislavsky berpendapat bahwa otentisitas keaktoran terletak pada pada kemampuannya secara sadar menciptakan kondisi as if (seandainya). Dalam pengandaian ini aktor diharapkan mampu menjelajahi kondisi psikisnya secara mimetik. Hal ini merupakan penjelajahan bawah sadar. Penjelajahan bawah sadar menjadi cara memahami bahasa subtext, yaitu retorika non-verbal yang terbentuk melalui penampilan yang asli atau otentik. Subtext dalam metode stanislavsky berbeda dengan pemahaman subtext yang biasa. Dalam metode stanislavsky mampu menampilkan makna yang letaknya tesembunyi dalam komunikasi panggung. Pencarian masa lalu yang dipertentangkan terus-menerus di atas panggung ketika berhadapan dengan penonton adalah bentuk pertunjukan seorang aktor untuk mencipta dan mencipta kembali perannya secara simultan.
Menurut Grotowski, aktor harus merancang sendiri “topeng organik” melalui otot-otot wajahnya sehingga setiap karakter menunjukkan ekspresi wajah yang sama., yaitu keputusasaan, kesakitan, kelelahan, dan penderitaan. Komposisi ekspresi wajah tersebut dengan menggunakan otot wajah, aktor harus mampu menghasilkan efek teatrikal, yang menghentakkan impuls penonton.
Grotowski mengembangkan metode pelatihannya berdasarkan sistem yang disebutnya via negativa.menurut Grotowski, sistem via negativa mampu memperkaya transformasi fisik dan batin aktor. Pada dasarnya, sistem via negativa yang menjadi acuan Grotowski memiliki makna Relijius-Spiritual. Seperti yang dikatakan oleh Brook ketika ia mengamati gagasan spiritual Grotowski, “ Bahwa spiritual adalah ketika seorang melangkah memasuki dunia dalam, dari alam yang dikenal ke alam tak dikenal.”
Kerja spiritual berdasarkan sistem via negativa membentuk keutuhan seni tersebut dapat dilacak melalui berbagai bentuk dan pemahaman yang ada dalam tahapan proses kreatif Grotowski. Via negativa menghasilkan teknik akting in-trance dan penyatuan seluruh kekuatan psikis dan tubuh aktor. Hasil yang diperoleh adalah tak adanya batas waktu antara impuls dalam dan reaksi luar sehingga impuls tersebut sudah menjadi reaksi luar. Penyatuan kekuatan psikis dan tubuh aktor adalah alat bagi aktor untuk melakukan kontak dan berada lebih dekat dengan sisi dalam batinnya. Sistem via negativa adalah sistem penyatuan unsur-unsur dalam diri aktor, yaitu tubuh, pikiran, batin.
Ada banyak hal yang disampaikan Boleslavsky (dalam Rizki Pradana, 2009), teater adalah keagungan penciptaan, kemurnian, suatu keindahan, sesuatu yang lebih besar dari kehidupan. Bagi Boleslavsky, teater adalah misteri besar, suatu misteri dimana ada penggabungan antara dua gejala abadi, yaitu :
- Keinginan pada kesempurnaan,
- Keinginan pada keabadian.
Dalam sebuah teater kreatif, sasaran seorang aktor adalah sukma manusia. Berperan di atas pentas adalah memberikan bentuk lahir pada watak dan emosi aktor, baik dengan laku ataupun ucapan. Dalam watak tersebut ada tiga bagian yang harus nampak, yaitu watak tubuh, watak emosi, dan watak pikiran.
Ajaran I : Konsentrasi
Aktor adalah orang yang mengorbanan diri. Ia menghilangkan dirinya demi menjadi orang lain sesuai peranannya. Hal pertama yang harus dia miliki untuk menjadi orang lain adalah, konsentrasi. Didalam konsentrasinya dia harus dapat memerintahkan panca indranya, dan seluruh organ dan bagian tubuhnya untuk bekerja sebagai orang lain.
Ajaran II : Ingatan Emosi
Aktor harus dapat mengingat segala emosi yang terpendam dari halaman-halaman sejarah yang telah silam. Semua itu pasti membantu akting seorang aktor, untuk mendapatkan takaran emosi yang tepat dalam berperan di atas panggung. Emosi yang dimaksud di sini bukanah semata-mata emosi yang pernah kita alami, tetapi bisa saja emosi yang kita dapati dari hasil observasi.
Ajaran III : Laku Dramatis
Jika kita sudah mendapatkan emosi, barulah kita wujudkan semua itu dalam Laku Dramatis, yaitu perbuatan yang bersifat expresif. Inilah yang merupakan instrumen dalam seni teater. Aktor harus mewujudkan yang diutarakan oleh pengarang atau sutradara dengan kata-katanya di dalam laku dramatisnya. Di sini aktor bersifat reproduktif dan kreatif.
Ajaran IV : Pembangunan Watak
Untuk mendapatkan wujud watak yang benar, kita harus melakukan berbagai pengkajian terhadap karakter yang akan diperankan dari naskah. Yang harus dilakukan adalah :
1. Menelaah Struktur Psikis Peran
2. Memberikan identifikasi
3. Mencari hubungan antara naskah dan emosi
4. Penguasaan Teknis
Ajaran V : Observasi atau pengamatan
Tugas seorang aktor selain bermain di atas pentas adalah untuk mengamati segala yang terjadi di sekitarnya. Mulai dari hal yang paling umum sampai hal yang paling detail. Kadang masih ada aktor yang melupakan observasi sebagai bagian dari tugasnya. Dan itulah yang membuat kualitas permainan seorang aktor menjadi rendah. Oleh karena itu observasi sangatlah penting, dimana kita bisa belajar untuk menjadi yang lain dari diri kita dan belajar bagaimana bertingkah laku. Dan semua ini pasti berguna di atas pentas.
Ajaran VI : Irama
Agar sebuah lakon dapat menghanyutkan penikmatnya ke arah yang di tuju, maka permainan itu harus menggunakan irama. Dalam teater didapati istilah tempo, tetapi sebetulnya kata-kata ini tidak ada hubungannya dengan irama. Irama adalah perubahan-perubahan yang teratur dan dapat diukur dari segala macam unsur yang terkandung dalam sebuah hasil seni –dengan syarat bahwa semua perubahan secara berturut-turut merangsang perhatian penonton dan menuju ke tujuan akhir si seniman. Sebuah lakon mempunyai irama. Irama itu berjalan ke arah klimaks. Tanpa irama pasti akan membosankan penonton. Aktor harus mempunya kemahiran menunjukan irama. Ia harus berlatih memikat perhatian penonton. Dari keenam ajaran diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa yaitu aktor bukanlah sebuah hobi, tapi bagian dari hidupnya.
a. Tubuh
Menurut Bolesavsky R. dalam Harymawan (1993: 30-31), olah tubuh atau latihan tubuh baik dilakukan satu setengah jam sehari. Subjek-subjeknya meliputi: (1) senam irama, (2) tari klasik dan pengutaran, (3) main anggar, (4) berbagai jenis latihan berapas, (5) latihan menempatkan suara, diksi, bernyanyi, (6) pantomim, (7) tata rias.
Impuls, perasaan, atau reaksi yang kita miliki menimbulkan energi dari dalam diri yang selanjutnya mengalir keluar, mencapai dunia luar dalam bentuk yang bermacam-macam: kata-kata, bunyi, gerak, postur, dan infleksi (perubahan nada suara). Umumnya, setiap tanda eksternal dari perasaan dan pikiran dapat disebut gestur. Demikian Sitorus (2002: 78) menyebut gestur sebagai hasil dari bentuk olah tubuh atau latihan tubuh.
Pelatihan keaktoran yang disampaikan Iman Sholeh & Rik Rik El Saptaria, Modul Workshop Keaktoran Festamasio 3, TGM, Jogjakarta, 2005, sebagai berikut.
1. Relaksasi
Relaksasi adalah hal pertama yang haru dilakukan dengan cara menerima keberadaan dirinya. Relaksasi bukan berarti berada dalam keadaan pasif (santai) tetapi keadaan dimana semua kekangan yang ada di tubuh terlepas. Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh aktor adalah kebutuhan untuk relaksasi. Baik itu di dalam kelas, dalam latihan, di atas panggung, maupun paska produksi. Relaksasi adalah hal yang sangat penting bagi semua performer. Relaksasi bukanlah keadaan menta dan fisik yang tidak aktif, melainkan keadaan yang cukup aktif dan positif. Ini memungkinkan seorang aktor untuk mengekspresikan dirinya saat masih didalam kontrol faktor-faktor lain yang bekerja melawan cara pemeranan karakter yang baik. Jadi, relaksasi adalah hal yang penting dalam upaya mencapai tujuan utama dari seorang performer.
Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian ataupun yang mencampuri konsentrasi seorang aktor atas sebuah karakter, cenderung dapat merusak relaksasi. Aktor pemula biasanya tidak dapat dengan mudah merespons sebuah perintah untuk relak, hal ini disebabkan berkaitan dengan aspek-aspek fisik kepekaan dan emosi akting ketika berada dihadapan penonton. Dengan kata lain, dalam keadaan rileks, aktor akan menunggu dengan tenang dan sadar dalam mengambil tempat dan melakukan akting. Untuk mencapai relaksasi atau mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik diatas panggung, konsentrasi adalah tujuan utama. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. Seorang aktor harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat dengan pengertian atas tubuh dan alasan bagi perilakunya. Langkah awal untuk menjadi seorang aktor yang cakap adalah sadar dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien.


2. Ekspresi
Kemampuan Ekspresi merupakan pelajaran pertama untuk seorang aktor, dimana ia berusaha untuk mengenal dirinya sendiri. Si aktor akan berusaha meraih ke dalam dirinya dan menciptakan perasaan-perasaan yang dimilikinya, agar mencapai kepekaan respons terhadap segala sesuatu. Kemampuan ekspresi menuntut teknik-teknik penguasaan tubuh seperti relaksasi, konsentrasi, kepekaan, kreativitas dan kepunahan diri (pikiran-perasaan-tubuh yang seimbang) seorang aktor harus terpusat pada pikirannya.
Kita menggunakan cara-cara non linguistik ini untuk mengekspresikan ide-ide sebagai pendukung berbicara. Tangisan, infleksi nada, gesture, adalah cara-cara berkomunikasi yang lebih universal dari pada bahasa yang kita mengerti. Bahkan cukup universal untuk disampaikan kepada binatang sekalipun.
3. Gesture
Gesture adalah impuls (rangsangan), perasaan atau reaksi yang menimbulkan energi dari dalam diri yang selanjutnya mengalir keluar, mencapai dunia luar dalam bentuk yang bermacam-macam; ketetapan tubuh, gerak, postur dan infleksi (perubahan nada suara, bisa mungkin keluar dalam bentuk kata-kata atau bunyi). Sitorus (2002: 81-82) juga membagi gestur menjadi 4 kategori umum, yaitu sebagai berikut.
a) Ilustratif atau imitatif, adalah gestur yang disebut “pantomimik” ketika mencoba mengkomunikasikan informasi spesifik.
b) Gestur indikatif, dipakai untuk menunjuk (“di sebelah sana”).
c) Gestur empatik, memberikan informasi yang subyektif daripada objektif, berhubungan bagaimana orang merasakan sesuatu.
d) Gestur autistik, (arti harfiahnya “kepada diri”) tidak dimaksudkan untuk komunikasi sosial tetapi lebih diutamakan untuk komunikasi dengan diri sendiri.
4. Gestikulasi
Bahasa tubuh adalah media komunikasi antar manusia yang menggunakan isyarat tubuh, postur, posisi dan perangkat inderanya. Dalam media ini, kita akan memahami bahasa universal tubuh manusia dalam aksi maupun reaksi di kehidupan sehari-hari.
5. Olah Mimik
Perangkat wajah dan sekitarnya, menjadi titik sentral yang akan dilatih. Dalam olah mimik ini, kita akan memaksimalkan delikan mata, kerutan dahi, gerakan mulut, pipi, rahang, leher kepala, secara berkesinambungan. Mimik merupakan sebuah ekspresi, dan mata merupakan pusat ekspresi. Perasaan marah, cinta, dan lain-lain akan terpancar lewat mata. Ekspresi sangatlah menentukan permainan seorang aktor. Meskipun bermacam gerakan sudah bagus, suara telah jadi jaminan, dan diksi pun kena, akan kurang meyakinkan ketika ekspresi matanya kosong dan berimbas pada dialog yang akan kurang meyakinkan penonton, sehingga permainannya akan terasa hambar. Diksi merupakan esensi penulisan puisi yang merupakan faktor penentu kemampuan daya cipta. Penempatan kata-kata sangat penting artinya dalam rangka menumbuhkan suasana puitik yang akan membawa pembaca pada penikmatan dan pemahaman yang menyeluruh atau total (Suminto A. Sayuti, 2008:143-144).
Tubuh yang lentur dengan stamina yang tinggi akan membuat seorang pendekar silat mampu berkelit dan sekaligus menyerang pada kondisi yang sulit sekalipun. Itu semua berkat keterlatihan seluruh organ tubuh yang ia dapatkan dengan susah payah dalam latihan jurus-jurus sekian lamanya. Demikian juga seorang pemeran akan membawakan laku peranannya dengan baik seolah tidak ada beban teknis sebab ia dengan kesadaran yang penuh telah melatih seluruh peralatan pemeranannya. (Catur J. Wibisono, 1999: 5)
Olah tubuh atau latihan tubuh menurut Herman J. Waluyo (2002: 117) adalah latihan ekspresi secara fisik. Berusaha agar fisik dapat bergerak secara fleksibel, disiplin, dan ekspresif. Artinya gerak-gerik dapat luwes tetapi disiplin terhadap peran, dan ekspresif sesuai watak dan perasaan aktor yang dibawakan. Beberapa teater, sering diberikan latihan dasar akting, berupa menari, balet, senam, bahkan ada yang merasa latihan silat itu dapat juga melatih kelenturan, kedisiplinan, dan daya eskpresi jasmaniah.

a. Suara/Olah vokal
Menurut Herman J. Waluyo (2002: 117), olah vokal atau latihan suara dapat diartikan latihan mengucapkan suara secara jelas dan nyaring, dapat juga berarti latihan penjiwaan suara. Warna suara bagaimana yang tepat, harus disesuaikan dengan watak peran, umur peran, dan keadaan peran sosial itu. Nada suara juga harus diatur, agar membantu membedakan peran yang satu dengan peran yang lain. Secara lebih detail, aksen orang-orang yang berasal dari daerah tertentu, perlu juga diwujudkan dalam latihan suara ini. Yang harus mendapatkan perhatian seksama, adalah suara itu hendaklah jelas, nyaring, mudah ditangkap, komunikatif, dan diucapkan sesuai daerah artikulasinya.
Suara sebagai salah satu media pengungkapan ekspresi pemeran. Dalam hal ini media penyampai informasi melalui dialog. Informasi mencakup tentang alur cerita, kejadian, watak, peran, sikap emosi peran, kondisi serta usia peran, dan lain-lain, hendaknya tersampaikan secara jelas melalui keterampilan pemeran dalam melontarkan dialog. (Catur J. Wibisono, 1999: 3)
Selanjutnya Wibisono mengemukakan, bahwa olah vokal merupakan salah satu teknik produksi suara yang berhubungan erat dengan pengolahan alat-alat produksi suara dan pembentukkan suara. Hal ini mencakup pernapasan, fonasi, gema suara (resonansi), pengucapan (artikulasi), dan proyeksi.
Penguasaan suara dalam seni acting pada dasarnya adalah penguasaan diri secara utuh, karena kedudukan suara dalam hal ini hanyalah merupakan salah satu alat ekspresi dan totalitas diri kita sebagai seorang pemain (aktor). Pengertian ‘penguasaan diti secara utuh’ menuntut suatu keseimbangan seluruh aspek serta alat-alatnya, baik yang menyangkut kegiatan indrawi, perasaan, pikiran atau yang bisa disebut segi-segi dalam dari seni acting, maupun yang menyangkut segi-segi luarnya seperti tubuh dan suara. Ketimpangan akan menghasilkan ketimpangan.
a) Pernapasan Dada
Dalam melakukan pernapasan dada akan terjadi perubahan pada dada, sehingga ketika rongga dada dibusungkan, bahu serta bagian leher pasti akan sedikit menegang akibat suara yang keluar sedikit kurang bebas. Teknik ini akan menguras banyak tenaga, di samping itu juga akan menganggu penampilan, kualitas suara pun kurang dan paru-paru menanggung beban berat. Hal tersebut akan menghasilkan efek samping yaitu merasa gatal-gatal di tenggorakan dan disusul kemudian dengan penampilan suara yang serak parau.
b) Pernapasan Perut
Ciri-ciri pernapasan perut adalah perut akan mengembang disaat nafas dihisap dan kemudian mengempis kembali saat nafas dikembangkan. Pernapasan ini memang tidak menimbulkan ketegangan-ketegangan pada alat pernapasan maupun peralatan suara. Tetapi pernapasan ini kurang mempunyai daya untuk mendukung pembentukan volume suara. Bahaya lain dari pernapasan ini adalah apabila kekuatan nafas pada bagian rongga perut yang terlalu bawah dihimpun, maka disaat kita menggunakan kekuatan penuh dengan tempo yang relatif lambat akan terasa adanya dorongan kearah bawah. Dan ini dirasakan akan mendorong otot dubur untuk bergerak keluar.
c) Pernapasan Diafragma
Otot-otot akan berkembang dan menegang ketika kita menghisap napas, hanya bagian inilah yang tegang. Otot-otot samping bagian punggung pun ikut pula mengembang lalu mengempis saat napas dihembuskan kembali. Posisi diafragma adalah diantara rongga dada dan rongga perut. Pernapasan melalui diafragma inilah yang dirasakan paling menguntukan dalam berolah vocal, sebab tidak mengakibatkan ketegangan pada peralatan pernapasandan peralatan suara dan juga mempunyai cukup daya untuk pembentukan volume suara. Keuntungan lain yang diperoleh adalah pada saat ita menahan napas otot-otot diafragma tersebut tegang, ketegangan otot ini justru melindungi bagian lemah badan kita yakni ulu hati. Pernapasan ini sangat baik dalam usaha menghimpun “tanaga dalam” yang mengolah vibrasi, karena pernapasan diafragma akan memudahkan kita dalam mengendalikan dan mengatur penggunaan pernapasan. Pernapasan diafragma yang rasa paling menguntungkan dalam berolah vokal, sebab tidak mengakibatkan ketegangan pada peralatan pernapasan dan peralatan produksi suara serta mempunyai cukup daya untuk pembentukkan volume suara (Catur J. Wibosono, 1999: 27-28).
Berlatih pernapasan banyak ragam dan caranya. Latihan pernapasan bisa dilakukan dengan berbagai cara, dari cabang-cabang beladiri seperti pencak silat, karate, atau berenang sekalipun. Namun ada beberapa catatan penting yang harus dilakukan untuk tujuan pernapasan dalam pemeranan (acting), yaitu:
- Berbaring rata di lantai dan bernapaslah pada posisi tersebut, rasakan tubuh betul-betul rileks.
- Berbaring dilantai, rasakan daya beratnya, pusatkan pikiran kea rah telapak kaki kita, ke ujung-ujung jari, rasakan seluruh pergelangan kaki terlepas.
- Bayangkan seluruh nadi terisi udara, engsel-engsel lututpun terisi udara biarkanlah tulang paha kita rileks sehingga daging dan otot-otot menjadi satu dengan tulang-tulang.
- Bayangkan sendi-sendi pinggang dan tuang paha berisi udara sehingga seluruh tubuh tidak lagi memberatkan kaki.
- Biarkan otot punggung dan perut kita meleleh seperti air, biarkan punggung rileks dan tidak usah memaksakan tulang punggung menjadi rata, biarkan otot-otot seluruh tubuh dan kepala sampai rahang di samping telinga kita rileks hingga gigi kita tidak terkunci juga lidah tidaklah lengket pada bagian atas mulut, rahang menjadi seperti jatuh demikian juga dengan lidah yang tidak saling menyentuh.
- Biarkan wajah kita terasa berat pada tulang tulang wajah, biarkan pipi, bibir, pelupuk mata seluruhnya rileks.
- Rasakan tubuh kita di lantai melorot rileks tariklah napas secara penuh untuk merasakan sensasi-sensasi yang terjadi pada tubuh kita saat di lantai akibat pernapasan yang alami itu. Ulangi itu terus menerus dengan intens.

c. Jiwa/olah sukma/rasa
Aktor tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai aktor jika ia tidak mempunyai sukma atau rasa yang telah masak begitu rupa hingga, atas setiap perintah kemauan, segera dapat melaksanakan setiap laku dan perubahan yang telah ditentukan. Dengan kata lain aktor harus mempunyai sukma atau rasa yang dapat hidup dalam setiap situasi. (Bolesavsky R. dalam Harymawan 1993: 31).
Subjek-subjek dari latihan sukma atau olah rasa adalah sebagai berikut.
a) Penguasaan seluruhnya dari kelima pancaindera dalam segala situasi yang dapat dibayangkan.
b) Penumbuhan ingatan perasaan, ingatan ilham atau penembusan, penumbuhan kepercayaan dan penghayalan itu sendiri, penumbuhan naivitas, penumbuhan daya untuk mengamati, penumbuhan kekuatan kemauan, penumbuhan untuk menambahkan keragaman pada pernyataan emosi, penumbuhan rasa pada humor dan tragedi.
c) Ingatan visual (Bolesavsky R. dalam Harymawan 1988: 31-32).
Menurut Brocket dalam Herman J. Waluyo (2002: 117) olah rasa atau olah sukma (konsentrasi dan relaksasi), diarahkan untuk melatih aktor dalam kemampuan membenamkan dirinya sendiri ke dalam watak dan pribadi tokoh yang dibawakan, dan ke dalam lakon itu. Motivasi memegang peranan penting dalam penjiwaan peran dan dalam gerak yakin. Jika pikirannya terganggu akan hal lain, dengan kekuatan konsentrasinya, aktor bisa memusatkan diri pada pentas. Konsentrasi atau olah rasa sudah harus dimulai sejak latihan pertama. Konsentrasi harus pula diekspresikan melalui ucapan, gestur, movement, dan intonasi ucapannya.
Proses pertama transformasi atau penjiwaan terhadap peran, adalah memberi focus kepada energi yang sudah dimiliki oleh si aktor. Dia harus mengendalikan dirinya menuju satu tujuan tertentu. Usaha memfokuskan energi itu adalah usaha menyerahkan diri sepenuhnya kepada aksi dramatis sesuai tuntutan naskah, dimana ia mampu menentukan pilihan-pilihan aksi selaras dengan keyakinannya terhadap tokohnya.
1) Konsentrasi
Konsentrasi secara harfiah berarti memfokus, sehingga dalam konsentrasi, kepekaan si aktor dapat mengalir bebas menuju satu titik atau bentuk tertentu. Seorang aktor harus punya pusat perhatian (konsentrasi) dan bahwa pusat ini seyogyanya tidak berada di tengah tempat latihan. Makin menarik pusat perhatian, makin sanggup ia memusatkan perhatian. Jelas sekali, sebelum anda sanggup menetapkan titik perhatian yang sedang dan yang jauh, terlebih dahulu anda harus belajar bagaimana caranya memandang dan melihat benda-benda di area set. Aktor yang berada di area set, menghayati suatu kehidupa yang sejati atau imajiner. Kehidupan abstrak ini perhatian dalam diri kita. Tapi ia tidak mudah untuk dimanfaatkan, karena ia sangat rapuh. Seorang aktor harus juga seorang pengamat, bukan saja dalam memainkan peran di atas pentas atau sebuah film, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan keseluruhan dirinya ia harus memusatkan pikirannya pada segala yang menarik perhatiannya . Ia harus memandang sebuah objek, bukan lain, tapi betul-betul dengan mata yang tajam. Jika tidak, maka seluruh metode kreatifnya akan ternyata mengembang dan tidak punya hubungan dengan kehidupan. Umumnya orang tidak tahu bagaimana caranya mengamati tarikna wajah, sorotan mata seseorang dan nada suara untuk dapat memahami pikiran lawan bicara mereka. Mereka tidak bisa secara aktif memahami kebenaran kehidupan secara kompleks dan juga tidak sanggup mendengar kan sedemikian rupa, hingga mereka dapat memahami apa yang mereka dengar. Jika mereka dapat melakukan ini, kehidupan ini akan jauh lebih baik, lebih mudah dan kerja kreatif mereka akan lebih kaya, lebih halus dan lebih dalam. Aktor harus belajar melihat, menyimak dan mendengarkan sesuatu yang indah. Kebiasaan itu akan mencerdaskan jiwa mereka dan melahirkan perasaan yang akan meninggalkan jejak-jejak yang dalam pada ingatan emosi mereka.
Terakhir, aktor harus bisa mengontrol kecenderungan bahasa nonverbalnya yang mungkin saja tidak cocok dengan karakter yang diperankannya.
2) Observasi dan Empati
Observasi atau mengamati berarti tanggap akan hal apa saja yang terjadi dalam kehidupan. Tentang masyarakat, tempat, objek dan segala situasi yang menambah kedalaman tingkat kepekaan seorang aktor. Ketika mengamati orang-orang aktor seharusnya membuat catatan-catatan ini bisa menjadi dasar karakter yang akan ditemukannyadimasa dating. Ini dapat membantu saat dibutuhkan untuk menciptakan sebuah karakter lengkap dalam sebuah struktur permainan. Sekali sebuah karakter mendarah daging dalam diri sang aktor, hubungan langsunga dapat terjadi antara aktor dan penonton. Penonton merasakan apa yang diperankan oleh sang aktor. Sebagai contoh, saat seorang teman kehilangan seseorang yang dicintainya, respons empatinya adalah kita ikut merasakan penderitaannya. Kekuatan dari pengamatan (observasi) adalah gabungan antara empati dan perhatian intelektual. Ini artinya seorang aktor harus mengembangkan sesitifitas pada indera: melihat, menyentuh, mencium, mendengar, dan merasakan.
Mengenal dan mengingat suatu perasan dalam aktifitas keseharian adalah sangat penting. Untuk mengamati secara benar seseorang harus dapat meraksan dan mengkatagorikan inderanya. Jadi, indera (senses), perasaan (feelings), dan pengamatan (observation) bergabung menjadi suatu mata rantai sebagai alat pembentuk sebuah karakter. Seorang aktor harus menggunakan kekuatan observasi untuk tujuan-tujuan sebagai berikut:
a) Untuk mempelajari karakter manusia dalam berjalan, gesture, berbicara dan duduk yang nantinya dapat ditiru saat berada di atas panggung.
b) Untuk menstimulasi kreatifitas imajinasi.
c) Untuk menggabungkan beberapa kualita yang dapat dipelajari saat mengamati bintang. Keanggunan seekor kucing adalah salah satu contoh dari karakter binatang.
3) Aksi dan Emosi
Pengertian: Emosi adalah segala aktivitas yang mengekspresikan kondisi disini dan sekarang dari organisme manusia dan ditujukan ke arah duniannya di luar. “Emosi timbul secara otomatis” dan terikat dengan aksi yang dihasilkan dari konfrontasi manusia dengan dunianya. Aktor tidak menciptakan emosi karena emosi akan muncul dengan sendririnya lantaran keterlibatannya dalam memainkan peran sesuai dengan naskah.
4) Motivasi
Pengertian peran apapun yang dimainkan harus memiliki tujuan dan motivasi. Dalam keadaan bagaimanapun adalah mustahil untuk melakukan sesuatu yang secara langsung diarahkan untuk mencetuskan suatu perasaan demi perasaan itu sendiri. Kalau hal ini tidak diindahkan, maka anda tidk akan memperoleh apapun. Hanya kedangkalan saja. Jika kita memilih suatu tindakan atau perbuatan jangan menggunakan perasaan dan bathin anda. Jangan mencoba memperlihatkan aksi cemburu atau menyatakan cinta, semata hanya untuk kepentingan perasaan itu aja. Semua perasaan itu adalah akibat dari sesuatu yang terjadi sebelumnya. Cobalah ingat kejadian sebelumnya itu dalam-dalam dan hasilnya akan datang sendiri. Penggambaran nafsu yang palsu, yang menggunakan gerakan-gerakan konvensional, semuanya ini merupakan kesalahan-kesalahan yang kerap terjadi.
5) Imajinasi
Imajinasi adalah suatu cara bagi seorang aktor untuk mendekati pikiran dan perasaan karakte yang akan dimainkan sehingga dia dapat menempatkan dirinya dalam situasi si karakter. Metode ini merupakan proses imajinasi dimana di aktor melakukan identifikasi dengan karakter tokohnya. Di setiap identifikasi dengan karakter tokohnya, si aktor harus melihat pengalaman hidupnya dan pengalaman hidup yang paling relevan untuk ditransver ke pengalaman hidup yang dimiliki si karakter. Si aktor harus mampu menyelidiki asal mula dirinya sendiri untuk dapat tulus dan jujur pada realita eksistensi dirinya yang baru. Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi, sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada, yan tidak pernah ada. Tapi siapa tahu, suatu hari kesemuanya itu mungkin ada. Bagi seorang aktor, proses kreatif ini dipimpin oleh imajinasinya.
Dari uraiaan di atas dapat disimpulkan bahwa, latihan olah tubuh dan olah rasa memiliki peranan penting dalam latihan olah vokal. Melalui latihan olah vokal kita dapat menghasilkan pengucapan kosakata yang baik, yaitu meliputi artikulasi, tekanan, dan intonasi. Di samping itu dengan melakukan olah tubuh dan olah rasa secara rutin, dapat menimbulkan keberanian dan kesiapan mental yang diperlukan ketika berbicara, baik berdiskusi maupun berbicara di depan umum.
Secara lebih sederhana, Didin Widyartono, 2010 menyatakan mengenai model pembelajaran membaca puisi dengan latihan dasar teater bahwa Dalam membacakan puisi, dikenal dengan tiga gaya, yaitu gaya poetry reading, gaya deklamatoris, dan gaya teaterikal. Teknik pembelajaran membacakan puisi yang akan diuraikan adalah teknik membacakan puisi dengan gaya poetry reading. Teknik pembelajaran membacakan puisi ini dilakukan secara berkesinambungan. Teknik ini dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan struktural dan metafisika. Keduanya merupakan perpaduan yang diperlukan dalam membacakan puisi. Kedua pendekatan ini dipalikasikan dalam bentuk latihan-latihan dasar yang akrab dalam kehidupan berteater.
• Tahap Pemahaman
Sebelum melakukan pendekatan ini, siswa diharuskan untuk mencari puisi yang akan dibacakan. Siswa boleh memilih satu puisi dari berbagai macam sumber.
• Membaca berulang-ulang
Tahap ini merupakan tahap mengenali bentuk puisi. Dengan membaca berulang-ulang, akan diketahui bentuk puisi berikut makna yang hendak disampaikan penyair. Tipografi puisi dapat digali hingga menemukan maksud penyair.
• Memahami makna secara insentif
Setelah melakukan tahapan di atas, tahapan terakhir adalah tahapan yang memerlukan waktu cukup lama untuk menafsirkan kembali makna puisi. Penafsiran ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Proses perenungan banyak terjadi di sini. Tidak cukup 10-20 menit untuk mencari “nyawa” dari puisi yang dipilih, melainkan bisa memakan waktu 2-3 hari. Pada awal tahap ini harus dilakukan secara serius, kemudian boleh dilakukan di sela-sela aktivitas sehari-hari, misal sambil makan.
• Pemanasan
Latihan pemahasan diperlukan untuk membuat kondisi tubuh yang lelah menjadi bugar. Senam pemanasan ini bisa dimulai dengan
1. gerakan kepala; menoleh kanan kiri, atas bawah, dan berputa
2. senam mimik: ekspresi menangis, tertawa, melongo, sinis, kejam, dan lain-lain.
3. gerakan tangan: membentuk huruf S, lengan dibuka dan ditutup, dan lain-lain.
4. gerakan kaki; diangkat ke depan, ke kanan, ke kiri, dan lain-lain. bergantian dari kaki kanan dan kiri
5. ditutup dengan berlari-lari kecil
Senam ini dapat dikreatifitaskan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki fasilitator, dalam hal ini guru.
• Olah napas
Dalam pernapasan, dikenal pernapasan dada dan perut. Kedua jenis pernapasan ini harus dipadukan untuk memperoleh kualitas vokal dan penghayatan yang memerlukan perpaduan lagi dengan detak jantung dan imajinasi. Siswa diminta untuk mengambil napas kecil, kemudian mengeluarkannya. Setelah dirasa cukup, siswa diminta untuk menarik napas dan menyimpannya dalam dada, kemudian mengeluarkannya dengan pelan-pelan.
• Olah vokal
1. Siswa diminta berbisik dengan mengucapakan beberapa larik puisi\
2. Setelah itu, diminta berteriak hingga artikulasi dan intonasinya tepat dan terdengar dalam jarak sesuai dengan ukuran proporsional. Misal aula, suara siswa harus terdengar hingga di sust belakang aula
3. Siswa kemudian diminta untuk menilai satuan suara (desible) milik temannya ketika berbisik maupun berteriak dengan dua pilihan, yaitu sama atau berbeda desible-nya. Setiap siswa berpasangan dan melakukannya secara bergiliran
4. Setelah mengetahui kapasitas desible temannya, setiap siswa diwajibkan untuk dapat mengetahui berapa keras, lantang, dan lembut suaranya agar terdengar sesuai dengan kapasitas proporsi ruang (jika dilakukan dalam ruangan)
5. Siswa diminta untuk mengucapkan beberapa larik dalam bait-bait puisi di dalam ruang dan di luar ruang.
Latihan olah napas dapat melibatkan kelompok silat olah pernapasan. Sedangkan latihan vokal dapat melibatkan kelompok paduan suara yang lebih memahami tentang olah vokal yang baik. Paling tidak, teknik dan materinya tidak menyimpang jauh dan usefull.
• Konsentrasi
Pada tahap ini, konsentrasi merupakan salah satu latihan dasar dalam membacakan puisi. Hal ini akan sangat bermanfaat ketika performansi nantinya. Membacakan puisi bukan membaca puisi untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain. Jadi proses membacakan puisi dilakukan di hadapan orang lain. Untuk itulah, dibutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk mengatasi segala rangsangan yang bisa mengganggu proses pembacaan puisi.
Adapun langkah-langkah untuk melakukan latihan dasar konsentrasi adalah:
1. siswa diminta untuk menanggalakn semua aksesori yang mengikat di tubuh, seperti arloji, gelang, dan lain-lain. Upayakan mereka juga mengendurkan ikat pinggang. Jika mereka memakai sepatu, sebaiknya dilepas berikut kaos kakinya
2. semua siswa diminta untuk mencari posisi yang sangat rileks. Hal ini dilakukan agar aliran darah yang mengalir dari jantung berjalan sangat lancar dan membuat tubuh bugar. Siswa diperbolehkan untuk duduk hingga merebahkan diri. Namun siswa harus diingatkan agar jangan sampai tertidur karena terbawa oleh hawa. Konsentrasi bukan mengosongkan pikiran, tetapi memusatkan perhatian pada satu titik. Pikiran jangan sampai kosong sebab akan sangat rawan dimasuki oleh “roh ghaib”, terlebih dilakukan di tempat yang rawan.
3. siswa diajak untuk memejam mata agar lebih mudah melakukan konsentrasi
4. siswa diajak untuk memusatkan pikiran dengan cara mendengarkan suara-suara yang paling jauh
5. jika dirasa bahwa siswa sudah dapat memusatkan pikiran pada pikiran yang jauh, siswa diajak untuk mencari dan memusatkan pikiran dengan mendengarkan suara-suara yang jauh dengan cara mengidentifikasi bunyi dan mengakrabinya
6. setelah itu, siswa diajak untuk mencari dan memusatkan perhatian pada suara-suara yang dekat dengan mereka. Biarkan mereka mengidentifikasinya dan mengakrabinya
7. setelah dirasa cukup, ajaklah siswa untuk mencari, mendengarkan, dan memusatkan perhatian pada suara yang sangat dekat, yaitu detak jantungnya. Biarkan mereka berkonsentrasi pada detak jantungnya. Ajaklah mereka untuk benar-benar merasakan detak jantungnya mulai dari gejala berdenyut, berdenyut hingga efek yang ditinggalkan setelah denyut itu selesai dan menuju ke denyut selanjutnya. Biarkan mereka mengakrabinya Usahakan agar aliran darah mengalir dengan lancar. Jika ada salah satu bagian tubuh, misalnya siku atau lutut, ditekuk, maka akan menyebabkan aliran darah tidak lancar dan menyebabkan kejang (Jawa: keram)
• Imajinasi (Penghayatan)
1. Memberikan kesadaran bahwa denyut jantung sesungguhnya memompa darah ke seluruh tubuh.
2. Memberikan kesadaran bahwa dengan mengendalikan detak jantung yang dipadukan dengan napas mampu membawa pada suasana yang diinginkan
3. Mengajak siswa berkonsentrasi pada area kepala dengan fokus mata. Bahwa mata yang dimiliki memiliki potensi untuk melirik, melotot, terpejam, dan lain-lain. Siswa diajak berimajinasi tentang apa yang terjadi di dalam puisi yang telah dipilih. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana gerakan bola mata yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi.
4. Setelah dirasa cukup, siswa diajak untuk berkonsentrasi pada mulut. Sama dengan mata, mulut juga memiliki potensi untuk bisa maksimal. Mulut bisa untuk melongo, menguap, tertutup, dan lain-lain. Siswa diajak berimajinasi tentang apa yang terjadi di dalam puisi yang telah dipilih. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana gerakan bibir yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Bibir memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik.
5. Setelah dirasa cukup, siswa diajak untuk memadukannya dengan gerak wajah (mimik). Siswa diminta berkonsentrasi pada bentuk mimik. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana bentuk mimik yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Mimik memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik.
6. Setelah dirasa cukup, siswa diajak untuk memadukannya dengan gerak kepala. Siswa diminta berkonsentrasi pada gerakan kepala. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana gerakan kepala yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Kepala memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik.
7. Siswa kembali diminta untuk berkonsentrasi pada bagian tengah dari tubuh, khusnya bagian atas punggung. Bagaimana gerakan punggung yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Punggung memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik.
8. siswa diajak berkonsentrasi dan berimajinasi pada bagian tangan. Siswa diminta untuk tetap berimajinasi pada puisi yang telah dipilih. Bagaimana gerakan punggung yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Tangan memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik.
• Ekspresi
1. Siswa diminta untuk membayangkan jika seandainya mereka benar-benar menyaksikan peristiwa tersebut bahkan mengalaminya sendiri
2. “Lepas” dalam menghayati. Biarkan mereka menangis bahkan tertawa. Usahakan agar tidak mengeluarkan kata-kata terlebih dulu.
3. Siswa larut dan mengekspresikannya dengan larik-larik dalam puisi yang diingat
4. Jika siswa sudah lepas, minta mereka perlahan-lahan mengendalikan ekspresi itu
5. Siswa diminta untuk mengambil nafas pelan-pelan kemudian mengeluarkannya.
6. Siswa diminta untuk menggerakkan jari-jemari tangan dengan pelan-pelan dan merasakannya dari kondisi sebelum digerakkan, bergerak, hingga sudah digerakkan. Siswa diminta untuk merasakan angin yang melewati tangan.
7. Siswa diminta untuk membuka mata perlahan-lahan dan menyadari bahwa tubuhnya masih terdapat di tempat yang menjadi latihan tadi, misalnya aula, tempat parkir, kelas, dan lain-lain.

• Teknik Memberi Isi
Teknik memberi isi adalah teknik untuk memberi isi pengucapan dialog-dialog untuk menonjolkan emosi dan pikiran-pikiran yang terkandung dalam dialog tersebut. Menurut W.S. Rendra (1982), teknik memberi isi adalah cara untuk menonjolkan emosi dan pikiran di balik kalimat-kalimat yang diucapkan dan di balik perbuatan-perbuatan yang dilakukan di dalam sandiwara. Teknik memberi isi berhubungan dengan penonjolan perasaan pada bagian-bagian dialog yang diucapkan, dibalik akting yang dibawakan selama pertunjukkan. Dialog-dialog harus diberi isi, sehingga hidup, berwatak sesuai dengan lakon kehidupan yang sesungguhnya. Sebuah kalimat akan terasa mempunyai kesan apabila di beri isi ataupun tekanan, dalam istilah bahasa inggris di namakan: The Technique of phrasing. Adapun teknik memberi isi, dapat dengan hal-hal berikut.
1) Kalimat (dengan memberi tekanan dinamik, tekanan nada, dan tekanan tempo)
a) tekanan dinamik adalah memberi tekanan ucapan pada salah satu kata pada kalimat. Fungsi dari tekanan ini adalah untuk membedakan antara kata yang dianggap penting dengan kata-kata yang kurang penting. Tekanan dinamik ini berguna untuk menjelaskan isi pikiran dari kata dan kalimat yang kita ucapkan.
b) tekanan nada adalah pengucapan kalimat atau kata dengan menggunakan nada atau melodi. Kalimat atau kata yang kita ucapkan dengan bernada akan mencerminkan perasaan kita ketika mengucapkan kata atau kalimat tersebut.
c) tekanan tempo adalah memberi tekanan terhadap kata dengan cara memperlambat pengucapan kata tersebut. Tekanan ini efeknya hampir sama dengan tekanan dinamik yaitu untuk menjelaskan isi pikiran dari kata yang diberi tekanan.
2) Gerakan (gerakan muka atau mimik maupun gerakan tangan, kaki, kepala, dan sebagainya).
Dalam suatu dialog terdapat kata atau kalimat yang bernada sedih maka seorang aktor juga harus menyesuaikan gerakan (gestur) mereka menuju ke arah suasana sedih, suatu dialog terdapat kalimat yang bernada senang maka seorang aktor juga harus menyesuaikan gerakan (gestur) mereka ke arah suasana senang atau riang.
Euis Sulastri, dkk. (2008: 131) mengungkapkan bahwa drama memiliki bentuk yang bermacam-macam, yaitu:
1. Tragedi ialah drama duka yang menampilkan pelakunya terlibat dalam pertikaian serius yang menimpanya sehingga menimbulkan takut, ngeri, menyedihkan sehingga menimbulkan tumpuan rasa kasihan penonton.
2. Melodrama ialah lakon yang sangat sentimental dengan pementasan yang mendebarkan dan mengharukan penggarapan alur dan lakon yang berlebihan sehingga sering penokohan kurang diperhatikan.
3. Komedi ialah lakon ringan untuk menghibur namun berisikan sindiran halus. Para pelaku berusaha menciptakan situasi yang menggelikan.
4. Force ialah pertunjukan jenaka yang mengutamakan kelucuan. Namun, di dalamnya tidak terdapat unsur sindiran. Para pelakunya berusaha berbuat kejenakaan tentang diri mereka masing-masing.
5. Satire, kelucuan dalam hidup yang ditanggapi dengan kesungguhan biasanya digunakan untuk melakukan kecaman/kritik terselubung.
Dengan mencermati beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa drama merupakan imitasi dari kehidupan atau perilaku manusia yang dipentaskan dengan suatu penampilan gerak, dialog, mimik, dan gesture yang dapat dinikmati dalam pementasan (Andriw, 2007: 14).
1. Drama sebagai Teks Sastra
Drama sebagai karya sastra sebenarnya bersifat sementara karena naskah drama ditulis untuk dipentaskan. Akan tetapi, tidak semua naskah drama itu disusun untuk selalu dipentaskan. Ada bebarapa naskah yang dapat dinikmati dengan membacanya. Hal ini dikarenakan ada dua aspek yang menyangkut sebuah naskah drama, yaitu aspek cerita sebagai bagian dari sastra dan aspek pementasan yang berhubungan erat dengan seni lakon atau seni teater. Dalam naskah tersebut, dilukiskan segala perbuatan yang dilakukan oleh para pelaku cerita untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam usahanya untuk mencapai tujuan tersebut, ia diharapkan pada sebuah hambatan yang dipertunjukkan lewat gerak dan dialog. Dialog yang ditulis harus mempunyai daya tarik sehingga dapat mempengaruhi emosi penonton dan pembaca.
Pada umumnya, naskah drama dibagi dalam babak-babak. Babak adalah bagian dari naskah yang merangkum setiap peristiwa dalam adegan. Adegan adalah bagian dari babak yang batasnya ditentukan oleh perubahan berhubung datangnya atau perginya seorang atau lebih tokoh cerita. Drama yang terdiri dari tiga atau lima babak disebut drama panjang (full long play), sedangkan drama yang hanya terdiri dari satu babak disebut drama pendek atau srama satu babak (Jacob Sumardjo dan Saini, 1997:32).
Setiap jenis karya sastra terdiri dari unsur-unsur yang membentuk suatu susunan atau struktur sehingga menjadi wujud yang bulat dan utuh. Unsur-unsur karya sastra bersifat umum dan khusus. Artinya, karya sastra mempunyai unsur yang khas tetapi juga mempunyai unsur-unsur yang sama dengan jenis karya sastra yang lain. Unsur yang membangun drama juga mempunyai kesamaan dengan unsur jenis karya sastra lainnya. Akan tetapi, drama memiliki unsur yang khas, yaitu adanya dialog dan gerak (move).
Unsur yang paling penting dan yang membedakan drama dengan karya sastra lain adalah adanya dialog. Begitu pentingnya diaog dalam drama sehingga tanpa kehadirannya, suatu karya sastra tidak dapat digolongkan sebagai drama (Jacob Sumardjo dan Saini, 1997:136). Wiyatmi (2009:47) dalam bukunya menjelaskan bahwa di samping dialog, unsur lain sastra drama lebih mirip dengan unsur fiksi, yaitu adanya alur, tokoh dan karakternya, latar, gaya bahasa, dan tema. Selain diaog, juga terdapat teks samping yang biasanya sebai petunjuk dari pengarang yang dimaksudkan segala gerak tubuh dan mimik tokohnya. Petunjuk tersebut biasanya ditulis dengan cetak miring/tebal. Teks samping memaparkan suatu uraian mengenai sebuah keadaan, suasana, peristiwa atau perbuatan, dan sifat tokoh cerita (Jacob Sumardjo dan Saini, 1997:137). Hal di atas merupakan pembeda dari drama dengan jenis karya sastra yang lain.

2. Unsur-unsur Naskah Drama
Dalam penulisan naskah drama, perlu diperhatikan hal-hal yang menjadi karakteristik drama. Pengungkapan tokoh, penyampaian gagasan dengan alur yang logis, dan penggambaran seting yang jelas akan menciptakan naskah benar-benar hidup. Penulis harus bisa mengolah suatu konflik menjadi permainan yang menarik, dengan mengekspresikannya melalui jalinan peristiwa dan susunan kata yang mewakili gerak. Bakdi Soemanto (2001: 346) membagi unsur drama dalam tema, plot atau alur, tokoh, pertunjukan waktu, dan tempat konflik.
a. Plot atau Alur
Alur merupakan konstruksi yang dibuat mengenai sebuah deretan peristiwa secara logik dan kronologik saling berkaitan dan diakibatkan atau dialami oleh para pelaku. Peristiwa di sini diartikan sebagai peralihan dari keadaan yang satu ke keadaan yang lain (Luxemburg, dkk, 1986:149). Artinya, dari peristiwa yang satu menyebabkan terjadinya peristiwa kedua. Dari situ, kemudian berkembang menjadi konflik dan klimaks yang pada dasarnya ditentukan oleh peristiwa pertama. Penyajian alur dalam drama diwujudkan dalam urutan babak dan adegan. Babak adalah bagian terbesar dari lakon. Pergantian babak ditandai dengan layar yang membuka dan menutup atau padamnya lampu panggung. Pergantian babak menandai pergantian latar. Adegan bagian dari babak. Suatu babak terdiri dari beberapa adegan (Wiyatmi, 2009:49)

b. Tokoh dan Perwatakan
Pelukisan watak tokoh dalam drama dapat dilukiskan oleh pelaku lain. Seorang tokoh juga dapat melukiskan perwatakannya sendiri melalui monolog. Selain itu, dalam teks samping diberi petunjuk mengenai watak para pelaku. Analisis tokoh dalam drama dapat dinilai menurut analisis tokoh dalam teks naratif (Luxemburg, dkk, 1986:171-172). Tokoh dalam drama mengacu pada watak atau sifat pribadi pelaku dan aktor mengacu pada peran yang bertindak dan berbicara (Wiyatmi, 2009:50).

c. Dialog
Ciri khas drama adalah naskah tersebut berupa dialog. Dalam menyusun dialog, penmgarang harus memperhatikan pembicaraan tokoh. Ragam bahasa dalam dialog tokoh drama adalah bahasa lisan yang komunikatif dan bukan ragam bahasa tulis maka diksi hendaknya dipilih sesuai dengan dramatic-action dari plot yang ada. Dialog harus bersifat estetis, artinya harus memiliki keindahan bahasa, bersifat filosofi dan mampu mempengaruhi keindahan (Herman J. Waluyo, 2002:20-21).
Menurut Luxemburg (1986:164), dialog berhubungan dengan latar dan perbuatan. Sebuah latar dapat dilihat dari munculnya dialog-dialog para tokoh serta segala gerak-gerik diperlihatkan secara langsung maupun tidak langsung yang biasanya berupa teks samping. Dalam dialog tidak hanya terjadi pembicaraan mengenai suatu kejadian, melainkan suatu kejadian itu sendiri dan berarti telah menggerakkan roda-roda peristiwa atau disebut dengan alur.

d. Latar atau Setting
Seting biasanya meliputi tiga dimensi, yaitu tempat, ruang, dan waktu. Seting tempat tidak berdiri sendiri tapi berhubungan dengan waktu dan ruang. Pengarang/penulis dapat membayangkan tempat kejadian denagn hidup. Hal ini berhubungan dengan kostum, tata pentas, make up, dan perlengkapan lain jika naskah tersebut dipentaskan. Waktu juga harus disesuaikan dengan ruang dan tempat. Waktu merupakan jaman atau masa terjadinya lakon (Herman J. Waluyo, 2002:23-224). Lakon yang wujudnya adalah deretan kata, tidak menceritakan, tetapi menyajikan perbuatan dalam bentuk dialog. Peristiwa, perbuatan watak terwujud dalam kata sehingga terjadi peristiwa gramatikal (Bakdi Soemanto, 2001: 323-333).

e. Tema
Tema merupakan gagasan pokok yang dikandung dalam drama dan berhubungan dengan nada dasar dari sebuah drama dan sudut pandangan yang dikemukakan pengarang. Dalam drama, tema akan dikembangkan melalui struktur dramatik dalam plot melalui tokoh-tokoh protagonis dan antagonis dengan perwatakan yang memungkinkan konflik dan diformulasikan dalam bentuk dialog (Herman J. Waluyo, 2002:24).
Teks drama adalah wacana dialog yang berbeda-beda dengan teks prosa pada umumnya. Dalam wacana dialog akan lebih sulit dibaca atau dipahami karena dialog tokoh yang satu dilengkapi tokoh-tokoh lain. Wacana dialog seorang tokoh belum tentu berupa kalimat lengkap dan efektif yang terstruktur. Demikian juga jawaban dialog oleh tokoh-tokoh yang lainnya bukan merupakan kalimat lengkap (Herman J. Waluyo, 2003:159).
Selain itu, Herman J. Waluyo (2002:158) menambahkan bahwa latihan membaca drama dengan artikulasi yang tepat, suara yang jelas, intonasi dan ucapan yang baik, secara tidak langsung membantu ucapan dan cara membaca siswa. Membaca naskah drama dapat memperkaya kemampuan pembaca dengan memahami jalan cerita, tema, problema dalam cerita drama tersebut.
Pendapat serupa juga dipaparkan oleh Anwar Efendi (2002:38) bahwa pemahaman tersebut dapat berupa pemahaman perihal unsur pembentuk drama sebagai suatu struktur yang dibentuk oleh pelaku, latar, rangkaian cerita maupun tema. Secara konseptual pemahaman butir-butir tersebut juga bermanfaat dalam rangka memahami unsur pembentuk drama pada umumnya.
Menurut Anwar Efendi (2002:38), pembelajaran apresiasi drama di sekolah lazimnya menjadi salah satu bagian pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dalam hal ini, pembelajaran drama di sekolah selain dapat digarap secara integratif dengan pembelajaran apresiasi sastra juga dapat diintegrasikan dengan keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Oleh karena itu, guru dapat menyusun rencana pembelajaran yang integratif.
Berdasarkan uraian mengenai kemampuan apresiasi sastra secara umum maka dapat diambil pengertian mengenai kemampuan apresiasi drama, yaitu kemampuan untuk melakukan pengamatan, penilaian, dan penghargaan pada drama secara sungguh-sungguh dan berulang kali. Untuk itu, perlu ditumbuhkan pemahaman terhadap drama itu sendiri. Dengan meresepsi drama, diharapkan akan bisa menghayati karakter tokoh drama, perasaan, pikiran ketika terlibat dalam konflik yang dihadapi, dan perjalanan nasib tokoh (Anwar Efendi, 2002:4).
Dengan pemahaman seperti itu, sang apresiator dapat memberikan penghargaan terhadap drama yang telah dibaca atau yang ditontonnya dan pemahaman perihal unsur pembentuk drama sebagai suatu struktur yang dibentuk oleh pelaku, latar, rangkaian cerita maupun tema. Pemahaman butir-butir tersebut juga bermanfaat dalam rangka memahami unsur pembentuk drama secara keseluruhan.

B. Menyimak Drama
Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang lisan-lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang tidak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan”. (Tarigan: 1983)
Menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasikan, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya” (Sabarti –at all: 1992).
Istilah mendengar, mendengarkan, dan menyimak adalah tiga istilah dalam pengajaran keterampilan berbahasa yang diperhatikan. Ketiga istilah tersebut mempunyai arti berbeda. Mendengar berarti kegiatan yang terjadi secara kebetulan, tiba – tiba tidak direncanakan sebelumnya atau tidak ada unsur kesengajaan.
Mendengarkan berarti mendengar akan sesuatu bunyi yang dibarengi dengan adanya unsur kesengajaan, bahkan ada kemungkinan kegiatan tersebut direncanakan dalam hal ini mendengarkan singkat lebih tinggi dari aktifitas mendengar. Namun, dalam kegiatan mendengarkan aktifitas – aktifitas seperti menganalisis, menginterpretasi, menilai, menanggapi, dan memutuskan sesuatu setelah mendengar tidak dilakukan. Sedangkan menyimak adalah mendengarkan baik – baik dengan penuh perhatian akan apa yang diucapkan oleh seseorang taupun orang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat dalam buku Program Mengajar Komponen Bidang Studi Bahasa Indonesia (1984/1985:8) “Menyimak adalah mendengarkan baik – baik dengan penuh perhatian akan apa yang diucapkan seseorang, mampu menangkap, memahami, mengingat, makna pesan – pesan yang terkandung dalam bunyi”.
Pendapat tersebut diatas didukung pula oleh pendapat Muhtar dan Anilawati (2006:2) “Menyimak adalah mendengarkan dengan penuh pemahaman, perhatian, apresiasi, dengan interpretasi untuk memperoleh informasi, mencakup ide atau pesan serta memahami makna komunikasi yang disampaikan pembicara mulai ujaran atau bahasa lisan”. Pernyataan ini mengingatkan kita untuk memahami makna komunikasi yang disampaikan pembicara, kita harus mendengarkan baik – baik dengan penuh perhatian.
Peristiwa menyimak selalu diawali dengan mendengarkan bunyi bahasa baik secara langsung atau melalui rekaman. Bunyi bahasa yang ditangkap oleh telinga didefinisikan bunyinya. Menurut Tarigan (1991:4) Menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung didalamnya.
Berdasakan pendapat – pendapat terdahulu, dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah proses pemahaman informasi mulai alat pendengaran sehingga mampu mengingat, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai, baik memerlukan segenap kemampuan menyimak dari mendengar sampai dengan mereaksi bahasa simakan.
Keterampilan menyimak yang baik menyangkut sikap, ingatan persepsi, kemampuan, inteligensi, perhatian, motivasi, emosi yang harus dikerjakan secara integral dalam tindakan yang optimal pada saat menyimakan berlangsung. Menyimak memadai yang merupakan basis kemampuan berbicara yang sangat penting dan juga merupakan keberhasilan membaca dan menulis. Depdikbud UT (1984/1985:9).
Pernyataan tersebut didukung oleh pendapat para ahli yang lain yakni Tarigan (1991:39 – 40) mengemukakan lebih lanjut bahwa penyimak yang baik memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
1. Kondisi fisik dan mental yang stabil.
2. Konsentrasi yaitu memusatkan pikiran pada bahan simakan.
3. bertujuan dalam menyimak
4. Mempunyai kemampuan linguistic dan non linguistik.
5. Berpengalaman dan berpengetahuan sehingga mudah menerima, mencerna, dan memahami isi bacaan.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan penyimak yang baik memiliki cirri –ciri sebagai berikut: 1) Siap fisik mental (kondisi stabil), 2) Konsentrasi, 3) Motivasi yang penuh, 4) Tidak mudah terganggu, 5) menghargai pembicara, 6) Bersikap objektif, 7) bersikap kritis, 8) memiliki kemampuan merangkum, 9) memiliki kemampuan menilai, 10) siap menanggapi pembicaraan, 11) bertujuan dalam menyimak, 12) mempunyai kemampuan linguistic, 13) berpengalaman dan berpengetahuan sehingga mudah menerima, mencerna, dan memahami isi bacaan atau bahan simakan.
Menyimak merupakan suatu proses. Sebagai sebuah proses, peristiwa menyimak diawali dengan kegiatan mendengarkan bunyi bahasa secara langsung atau tidak langsung. Bunyi bahasa yang ditangkap oleh telinga diidentifikasi jenis dan pengelompokannya menjadi suku kata, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Jeda dan intonasi juga ikut diperhatikan oleh penyimak. Bunyi bahasa yang diterima kemudian ditafsirkan maknanya dan dinilai kebenarannya agar dapat diputuskan diterima tidaknya. Dengan kata lain, menyimak merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menafsirkan, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalam wacana lisan (Tim LPMP, 2007:2).
Tujuan utama menyimak antara lain untuk mendapatkan fakta, menganalisis fakta, mengevaluasi fakta, mendapatkan inspirasi, mendapatkan hiburan, dan memperbaiki kemampuan berbicara. Secara garis besar menyimak dibagi menjadi dua jenis, yakni menyimak ekstensif dan menyimak intensif. Menyimak ekstensif ialah proses menyimak yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari seperti menyimak radio, televisi, percakapan orang di pasar, dan menyimak pengumuman.
Jenis-jenis menyimak ekstensif meliputi (1) menyimak sekunder, yaitu menyimak yang terjadi secara kebetulan, misalnya, sambil memasak mendengarkan siaran berita, (2) menyimak sosial, yaitu menyimak yang berlangsung dalam situasi-situasi sosial seperti di pasar atau terminal, (3) menyimak apresiatif, yaitu menyimak untuk menghayati dan menikmati sesuatu, misalnya menyimak pembacaan puisi, atau menyimak drama, dan (4) menyimak pasif, yaitu menyimak yang dilakukan tanpa upaya sadar Jenis-jenis menyimak ini lebih banyak digunakan secara alamiah.
Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh konsentrasi agar dapat menangkap makna yang dikehendaki. Menyimak intensif diakhiri dengan kegiatan mengungkapkan kembali sesuatu yang dipahami secara lisan maupun tulis.
Jenis-jenis menyimak intensif adalah (1) menyimak kritis, yaitu kegiatan menyimak untuk memberikan penilaian secara objektif mengenai kebenaran informasi yang disimak; (2) menyimak konsentratif, yaitu menyimak dengan dengan penuh perhatian untuk memperoleh pemahaman yang baik tentang informasi yang disimak; (3) menyimak eksploratif, yaitu kegiatan menyimak yang dilakukan untuk menemukan informasi baru; (4) menyimak kreatif, yaitu kegiatan menyimak yang bertujuan mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas penyimak, misalnya dengan cara mengemukakan kembali gagasan pembicara; (5) menyimak interogatif, yaitu kegiatan menyimak yang bertujuan memperoleh informasi dengan cara mengajukan pertanyaan yang diarahkan kepada pemerolehan informasi tersebut; (6) menyimak selektif, yaitu kegiatan menyimak yang memusatkan perhatian pada hal tertentu yang sudah dipilih.
Agar dapat menyimak secara efektif, penyimak harus menyimak dengan penuh konsentrasi, menelaah materi simakan, menyimak dengan kritis, dan apabila bahan simakan cukup panjang dapat diikuti dengan kegiatan mencatat. Di samping itu, penyimak hendaknya siap fisik dan mental, bermotivasi, objektif, menyeluruh, selektif, tidak mudah terganggu, menghargai pembicara, cepat menyesuaikan diri, tidak mudah emosi, kontak dengan pembicara, dan responsif.
Pada saat menyimak, perlu dihindari beberapa kebiasaan yang kurang menguntungkan, antara lain keegosentrisan, keengganan ikut terlibat, ketakutan akan perubahan, keinginan menghindari pertanyaan, puas terhadap penampilan eksternal, menghindari penjelasan yang sulit, penolakan terhadap pembicara, mengritik penampilan/cara berbicara pembicara, perhatian pura-pura, mencatat detil pembicaraan, dan menyerah pada gangguan.
Demikianlah beberapa konsep menyimak yang perlu diketahui guru untuk mengembangkan keterampilan menyimaknya, yang pada gilirannya akan dapat mengelola pembelajaran dengan sebaik-baiknya.

C. Membaca Pemahaman Teks Drama
1. Pengertian Membaca
Menurut Hodgoson yang dikutip oleh Tarigan (1987:7), membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta depergunakan pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media bahasa tulis. Dijelaskan pula bahwa membaca dapat dianggap sebagai proses untuk memahami hal tersirat dan melibatkan pikiran yang terkandung dalam kata-kata yang tertulis. Oleh sebab itu, pesan yang tersurat ataupun yang tersirat akan dipahami serta proses membaca dapat terlaksana dengan baik.
Saat melakukan kegiatan membaca diperlukan kejelian pembaca untuk mengetahui isi yang tersurat ataupun yang tersirat. Finochiaro dan Bonomo seperti dikutip oleh Tarigan, (1987:8) secara singkat menjelaskan bahwa reading adalah bringing meaning and getting meaning from printed or written material, memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahasa tertulis. Pendapat lain yang dikemukakan oleh Lado dalam tulisan Tarigan (1987:9) bahwa membaca adalah memahami pola-pola bahasa dari gambaran tertulisnya.
Di lain pihak, Sugirin (1997:3) menyatakan bahwa membaca adalah memahami isi buku sesuai dengan yang dimaksud oleh penulisnya. Pemahaman akan suatu isi buku atau bacaan merupakan hasil dari proses membaca, yaitu proses interaksi antara pembaca dan penulis. Paham akan suatu isi bacaan merupakan indikator kemampuan pembaca dalam memahami teks. Dengan demikian, kemampuan membaca pada dasarnya berkaitan dengan tingkat pemahaman dalam membaca sedangkan pemahaman terhadap suatu bacaan sangat dipengaruhi oleh faktor kebiasaan membaca.
Menurut William seperti dikutip Harras dan Sulistianingsih (1997:6) membaca adalah pemahaman/understanding. Selain itu, membaca adalah proses kegiatan mencocokkan huruf atau melafalkan lambang-lambang bahasa tulis (Anderson yang dikutip oleh Harras dan Sulistianingsih, 1997:6). Pengertian lain dijelaskan oleh Bonomo yang dikutip oleh Harras dan Sulistianingsih (1997:6) bahwa membaca merupakan proses memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung dalam bahasa tulis. Selain itu, membaca ialah kegiatan memetik makna atau pengertian, bukan hanya deretan kata yang tersurat saja, melainkan juga makna yang terdapat diantara baris, bahkan makna yang terdapat dibalik baris tersebut (Goodman yang dikutip Harras dan Sulistianingsih, 1997:7).
Sementara itu, Adler (1986:3) menambahkan bahwa membaca ialah proses memperoleh pemahaman serta bagian terbesar dari pengetahuan dan informasi. Selain itu ditekankan juga oleh Adler, menurutnya tidak ada kegiatan membaca yang sama sekali tidak memerlukan keaktifan/aktivitas (menggerakkan mata dan menggunakan pikiran).
Berdasarkan kutipan dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh informasi yang terdapat di dalam tulisan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis.


2. Tujuan Membaca
Tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, dan memahami makna bacaan (Tarigan, 1987:9). Selanjutnya, Anderson lewat Tarigan (1987:9-10) mengemukakan tujuan membaca adalah untuk: memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details facts), memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas), mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization), menyimpulkan (reading for inference), mengklasifikasikan (reading to classiy), mengevaluasi (reading to evaluate), membandingkan (reading to compare or contrast).
Menurut Suchad (1997: 5-6) tujuan membaca adalah untuk meningkatkan pengetahuan, belajar melakukan sesuatu, hiburan, pembentukan budi pekerti, dan IMTAQ. Anderson lewat Tarigan (1987: 9-10) mengemukakan tujuan membaca adalah untuk: memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details facts), memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas), mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization), menyimpulkan (reading for inference), mengklasifikasikan (reading to classiy), mengevaluasi (reading to evaluate), dan membandingkan (reading to compare or contrast). Dengan demikian, tujuan utama membaca adalah untuk memperoleh makna yang tepat dari bacaan yang dibacanya.

3. Tingkat Pemahaman Membaca
Menurut Nurgiyantoro (2001:232), dalam tingkat pemahaman membaca terdapat taksonomi Bloom yang meliputi pengetahuan, pemahaman, apresiasi, analisis, sintetis, dan evaluasi. Taksonomi ini kemudian diadaptasi oleh barret yang diciptakan khusus untuk tes kemampuan membaca. Sedangkan menurut Hafni (1982:33-37), tingkatan dalam membaca pemahaman dirinci sebagai berikut.
1. Pemahaman harfiah
Pemahaman harfiah memberikan tekanan pada pokok pikiran dan informasi yang secara langsung diungkapkan dalam wacana. Ini berarti pembaca hanya menagkap makna secara eksplisit yang terdapat dalam bacaan. Tujuan membaca dan pertanyaan guru yang dirancang untuk memancing jawaban berkisar antara pertanyaan sederahana ke pertanyaan kompleks. Tugas sederhana dalam pemahaman harfiah adalah untuk mengenal dan mengingat kembali fakta atau serangkaian kejadian yang berurutan sebagaimana diceritakan dalam bacaan.
2. Pemahaman inferensial
Pemahaman inferensial ditujukan kepada siswa bila ia menggunakan buah pikiran atau informasi secara gamblang dikemukakan dalam wacana, intusi, dan pengalaman hidup pribadi. Pemahaman inferensial tersebut pada umumnya dirangsang oleh tujuan membaca dan pertanyaan-pertanyaan guru yang menghendaki permikiran dan imajinasi pembaca.

3. Pemahaman mereorganisasi
Pemahaman mereorganisasi menghendaki siswa menganalisis, mensistesis, dan mengorganisasi buah pikiran atau informasi yang dikemukakan secara eksplisit dalam wacana. Hal ini dapat dilakukan dengan memparafrasekan atau menerjemahkan ucapan penulis.
4. Pemahaman evaluasi
Pemahaman evaluasi menanti respon siswa yang telah mengevaluasi dengan membandingkan buah pikiran yang disajikan dalam wacana dengan kriteria luar yang berasal dari pengalaman dan pengetahuan siswa atau nilai-nilai dari siswa. Pada dasarnya, evaluasi dihubungkan dengan tilikan judgement dan menekankan pada sifat ketepatan, kberterimaan, nilai, atau kemungkinan suatu kejadian.
5. Apresiasi
Apresiasi melibatkan seluruh dimensi kognitif karena berhubungan dengan dampak psikologis dan estetis terhadap pembaca. Apresiasi menghendaki supaya pembaca secara emosional mereaksi nilai dan kekayaan unsur psikologis dan artistik yang ada dalam karya tersebut. Apresiasi mencakup pengetahuan tentang respon emosional terhadap teknik-teknik, bentuk, gaya serta struktur suatu karya. Taksonomi inilah yang kemudian akan digunakan sebagai landasan penyusunan indikator tes membaca pemahaman dalam penelitian ini.

4. Membaca Karya Sastra
Membaca karya sastra akan berbeda jika dibandingkan dengan membaca karya ilmiah. Dalam membaca karya sastra pembaca akan menemukan keindahan-keindahaan yang tercermin dari keserasian, keharmonisan antara keindahaan bentuk, dan keindahaan isi (Tarigan, 1987: 138). Aminuddin (2002: 20) menyatakan bahwa membaca sastra dapat juga meningkat menjadi kegiatan membaca kritis, yakni bila melalui teks sastra yang dibaca. Dalam kegiatan membaca karya sastra, pembaca bukan hanya bertujuan memahami, menikmati dan menghayati, melainkan juga bertujuan memberi penilaian. Kegiatan membaca sastra menggunakan pikiran dan perasaan secara krtis untuk menemukan dan mengembangkan suatu konsep dengan membandingkan isi teks sastra yang dibaca dengan pengetahuan, pengalaman, serta realitas lain yang diketahui pembaca untuk memberikan identifikasi, perbandingan, penyimpulan, dan penilaian. Lebih lanjut, membaca sastra juga dapat ditautkan dengan kegiatan membaca kreatif, yaitu kegiatan membaca yang dilatari tujuan menerapkan perolehan pemahaman dari membaca untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang bersifat aplikatif. Dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa membaca karya sastra merupakan kegiatan membaca yang berbeda jika dibandingakan dengan membaca karya ilmiah.

Menurut Abdi yang mengutip gagasan Leech & Lubis (2000:45) menganggap bahwa membaca pemahaman haruslah dipandang sebagai proses kreatif dan konstruktif. Proses kreatif berupa memanfaatkan pengetahuan dan wawasan pembaca untuk mendapatkan pemahaman dari bahan bacaan. Proses konstruktif berupa penyusunan kembali struktur linguistik dan struktur makna, dari kata, frasa, ungkapan, kalimat, dan teks secara menyeluruh berdasarkan pengetahuan dan wawasan pembaca sehingga nantinya akan terjalin kesatuan makna, yaitu makna kontekstual dan situasional.
Membaca pemahaman bertujuan untuk memberikan evaluasi terhadap bahan bacaan atau menemukan kreativitas melalui teks bacaan. Melalui bahan bacaan tersebut ditargetkan pada akhir kegiatan membaca dapat terjalin komunikasi pikiran dan perasaan antara penulis. Wujud dari komunikasi tersebut adalah berupa pemahaman mengenai bacaan sebagai suatu teks sehingga untuk dapat mencapai hal tersebut pembaca harus mampu mendayagunakan pengetahuannya saat membaca (Abdi, 2000:45).
Teks drama adalah wacana dialog yang berbeda-beda dengan teks prosa pada umumnya. Dalam wacana dialog akan lebih sulit dibaca atau dipahami karena dialog tokoh yang satu dilengkapi tokoh-tokoh lain. Wacana dialog seorang tokoh belum tentu berupa kalimat lengkap dan efektif yang terstruktur. Demikian juga jawaban dialog oleh tokoh-tokoh yang lainnya bukan merupakan kalimat lengkap (Waluyo, 2003:159).
Selain itu, Waluyo (2003:158) menambahkan bahwa latihan membaca drama dengan artikulasi yang tepat, suara yang jelas, intonasi dan ucapan yang baik, secara tidak langsung membantu ucapan dan cara membaca siswa. Membaca naskah drama dapat memperkaya kemampuan pembaca dengan memahami jalan cerita, tema, problema dalam cerita drama tersebut.
Pendapat serupa juga dipaparkan oleh Efendi (2002:38) bahwa pemahaman tersebut dapat berupa pemahaman perihal unsur pembentuk drama sebagai suatu struktur yang dibentuk oleh pelaku, latar, rangkaian cerita maupun tema. Secara konseptual pemahaman butir-butir tersebut juga bermanfaat dalam rangka memahami unsur pembentuk drama pada umumnya.
Menurut Efendi (2002:38), pembelajaran apresiasi drama di sekolah lazimnya menjadi salah satu bagian pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dalam hal ini, pembelajaran drama di sekolah selain dapat digarap secara integratif dengan pembelajaran apresiasi sastra juga dapat diintegrasikan dengan keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Oleh karena itu, guru dapat menyusun rencana pembelajaran yang integratif.
Berdasarkan uraian mengenai kemampuan apresiasi sastra secara umum maka dapat diambil pengertian mengenai kemampuan apresiasi drama, yaitu kemampuan untuk melakukan pengamatan, penilaian, dan penghargaan pada drama secara sungguh-sungguh dan berulang kali. Untuk itu, perlu ditumbuhkan pemahaman terhadap drama itu sendiri. Dengan meresepsi drama, diharapkan akan bisa menghayati karakter tokoh drama, perasaan, pikiran ketika terlibat dalam konflik yang dihadapi, dan perjalanan nasib tokoh (Efendi, 2002:4).
Dengan pemahaman seperti itu, sang apresiator dapat memberikan penghargaan terhadap drama yang telah dibaca atau yang ditontonnya dan pemahaman perihal unsur pembentuk drama sebagai suatu struktur yang dibentuk oleh pelaku, latar, rangkaian cerita maupun tema. Pemahaman butir-butir tersebut juga bermanfaat dalam rangka memahami unsur pembentuk drama secara keseluruhan.

D. Keterampilan Berbicara/Memerankan Drama
1. Pengertian Keterampilan Berbicara
Menurut King (2005) berbicara merupakan bentuk komunikasi manusia yang essensial, yang membedakan kita sebagai suatu spesies. Selanjutnya Hendrikus (1991: 14) mengemukakan bahwa berbicara merupakan titik tolak dari retorika, yang berarti mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai suatu tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi atau memberi motivasi). Dengan kata lain, berbicara adalah salah satu kemampuan khusus pada manusia. Oleh karena itu, pembicaraan itu setua umur bangsa manusia. Bahasa dan pembicaraan itu muncul, ketika manusia mengungkapkan dan menyampaikan pikirannya kepada orang lain.
Tarigan, dkk (1997: 37) menyatakan bahwa, berbicara merupakan keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan Berbicara diartikan sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, dan menyampaikan pikiran, gagasan, serta perasaan (Tarigan, 1997: 15). Berbicara juga merupakan suatu aktivitas berbahasa kedua yang dilakukan dalam kehidupan berbahasa yaitu setelah aktivitas mendengarkan. Berdasarkan dari bunyi-bunyi yang didengar itu, kemudian manusia belajar untuk mengucapkan dan akhirnya terampil berbicara (Nurgiyantoro, 1995: 155).
Keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan yang harus dikembangkan agar orang tersebut dapat berkomunikasi dengan orang lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 148) berbicara adalah suatu kegiatan berkata, bercakap, berbahasa, dan melahirkan pendapat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berbicara merupakan keterampilan yang dimiliki manusia untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan gagasan dan perasaan melalui kata-kata maupun kalimat-kalimat yang diucapkan.

2. Tujuan Berbicara
Setiap kegiatan berbicara yang dilakukan manusia selalu mempunyai maksud dan tujuan. Menurut Tarigan (1997: 16), tujuan berbicara yang utama adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka seyogjanyalah sang pembicara memahami segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan, dan harus mengevaluasi efek komunikasinya terhadap (para) pendengar, serta harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi, baik secara umum maupun perorangan. Tarigan (1997: 16) mengemukakan bahwa pada dasarnya berbicara memiliki tiga maksud umum, yaitu: (1) menyampaikan informasi, melaporkan, (2) menjamu, menghibur, (3) membujuk, mengajak, mendesak, meyakinkan.
Gabungan dari campuran maksud-maksud itu pun mungkin saja terjadi dalam suatu pembicaraan. Selanjutnya perlu kita pahami beberapa prinsip-prinsip yang mendasari kegiatan berbicara sebagai berikut.
1) Membutuhkan paling sedikit dua orang.
2) Mempergunakan suatu sandi linguistik yang dipahami bersama.
3) Menerima referensi atau mengakui suatu daerah referensi umum.
4) Merupakan suatu pertukaran partisipan.
5) Menghubungkan setiap pembicara dengan yang lainnya dan kepada lingkungan yang lainnya dengan segera.
6) Berhubungan atau berkaitan dengan masa kini.
7) Hanya melibatkan aparat atau perlengkapan yang berhubungan dengan suara atau bunyi bahasa dan pendengaran.
8) Secara tidak pandang bulu menghadapi serta memperlakukan apa yang nyata dan apa yang diterima sebagai dalil (Brooks dalam Tarigan, 1998: 16-17).
Selanjutnya Tarigan, dkk (1997: 37) membedakakan tujuan pembicara menjadi lima golongan, yaitu: (1) menghibur, (2) menginformasikan, (3) menstimulasi, (4) meyakinkan, (5) menggerakkan.
Berdasarkan uraian di atas selanjutnya dapat disimpulkan bahwa seseorang melukan kegiatan berbicara selain untuk berkomunikasi juga bertujuan untuk mempengaruhi orang lain dengan maksud apa yang dibicarakan dapat diterima dengan baik oleh lawan bicara. Adanya hubungan timbal balik secara aktif dalam kegiatan berbicara yaitu antar pembicara dengan pendengar akan membentuk kegiatan berkomunikasi menjadi lebih efektif dan efisien.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kegiatan Berbicara
Menurut Arsyad dan Mukti (1988: 24-25) faktor-faktor yang menentukan keefektifan berbicara adalah: (1) pembicara, (2) pendengar, dan (3) pokok permasalahan yang dipilih. Selain itu faktor bahasa juga sangat menentukan berhasil tidaknya kegiatan berbicara. Si pembicara harus memperhitungkan siapa pendengarnya dan menyesuaikan bahasanya dengan pendengarnya, baik diksi maupun stuktur kalimatnya.
Berdasarkan pembelajaran yang berfokus berbicara yang tertera dalam GBPP Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SLTP Kurikulum 1994 dalam Tarigan, dkk (1997: 10), daerah cakupan berbicara meliputi kegiatan komunikasi lisan, yaitu: (1) berceramah, (2) berdebat, (3) bercakap-cakap, (4) berkhotbah, (5) bertelepon, (6) bercerita, (7) berpidato, (8) bertukar pikiran, (8) bertanya, (9) bermain peran, (10) berwawancara, (11) berdiskusi,(12) berkampanye, (13) menyampaikan sambutan, selamat, pesan, (14) melaporkan, (15) menanggapi, (16) menyanggah pendapat, (17) menolak permintaan, tawaran, ajakan, (18) menyatakan sikap, (19) menyatakan sikap, (20) menginformasikan, (21) membahas, (22) melisankan (isi drama, cerpen, puisi, bacaan), (23) menguraikan cara membuat sesuatu, (23) menawarkan sesuatu, (24) meminta maaf, (25) memberi petunjuk, (26) memperkenalkan diri, (27) menyapa, (28) mengajak, (29) mengundang, (30) memperingatkan, mengoreksi, (31) tanya-jawab.
Berhubungan dengan kemampuan berbicara dengan kemampuan berbicara, pengajaran berbahasa hendaknya memperhatikan beberapa kemampuan yang diperlukan agar siswa dapat berbicara dengan baik. Kemampuan tersebut tidak saja berasal dari ilmu pengetahuan dan bahasa tetapi dapat pula beberapa faktor penunjang.
Santoso dalam Mulyaningsih (2003: 10) mengatakan bahwa dalam berbicara diperlukan hal-hal di luar kemampuan berbahasa dan ilmu pengetahuan. Pada saat berbicara diperlukan (1) penguasaan bahan, (2) bahasa, (3) keberanian dan ketenangan, (4) kesanggupan menyampaikan ide dengan lancara dan teratur.unsur kegiatan berbicara disampaikan Nurhadi dalam Mulyaningsih (2003: 10), yaitu: (1) lafal, (2) tata bahasa, (3) kosakata, (4) jeda dan tempo, (5) kefasihan, (6) ketenangan, dan (7) pemahaman.
Arsyad dan Mukti (1988: 17-22) mengatakan faktor-faktor yang menunjang keterampilan berbicara adalah sebagai berikut.
1) Faktor kebahasaan, meliputi:
a) pengucapan vokal
b) pengucapan konsonan
c) penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai,
d) pilihan kata
e) pilihan ungkapan
f) variasi kata
g) tata bentukan
h) stuktur kalimat, dan
i) ragam kalimat



2) Faktor nonkebahasaan, meliputi:
a) keberanian dan semangat
b) kelancaran
c) kenyaringan suara
d) pandangan mata
e) gerak-gerik dan mimik
f) keterbukaan
g) penalaran
h) penguasaan topik
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi kegiatan berbicara adalah faktor kebahasaan (linguistik) dan faktor nonkebahasaan (nonlinguistik).

4. Faktor Penghambat dalam Kegiatan Berbicara
Ada kalanya proses komunikasi mengalami gangguan yang mengakibatkan pesan yang diterima oleh pendengar tidak sama dengan apa yang dimaksud oleh pembicara. Ada tiga faktor penyebab gangguan dalam kegiatan berbicara, yaitu:
a) faktor fisik, yaitu yang ada pada partisipan sendiri dan faktor yang berasal dari luar partisipan,
b) faktor media, yaitu faktor linguistik dan faktor nonlinguistik, misalnya tekanan, lagu, irama, ucapan, dan isyarat gerak bagian tubuh, dan
c) faktor psikologis, yaitu kondisi kejiwaan partisipan komunikasi, misalnya dalam marah , nangis, dan sakit (Sujanto, 1988; 192).

e. Metode Pengajaran Berbicara
Metode pengajaran berfungsi sebagai sarana mewujudkan pengalaman belajar yang telah dirancang menjadi kenyataan dalam pelaksanaan pengajaran pokok bahasan tertentu.metode pengajaran berbicara yang baik selalu memenuhi berbagai kriteria. Kriteria itu berkaitan dengan tujuan, bahan, pembinaan keterampilan, dan pengalaman belajar. Kriteria yang harus dipenuhi oleh pengajaran berbicara, antara lain, adalah sebagai berikut.
1) Relevan dengan tujuan pengajaran.
2) Memudahkan siswa memahami materi pengajaran.
3) Mengmbangakan butir-butir keterampilan proses.
4) Dapat mewujudkan pengalaman belajar yang telah dirancang.
5) Merangsang siswa untuk belajar.
6) Mengembangkan penampilan siswa.
7) Mengembangkan kreatifitas siswa.
8) Tidak menuntut peralatan yang rumit.
9) Mudah dilaksanaan.
10) Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan (Tarigan, dkk, 1997: 152).
Guru keterampilan berbicara hendaknya jangan sampai tenggelam dalam penyakit lama, yakni mengajar secara rutin, monoton, tanpa variasi. Di samping kuat dalam penguasaan materi pelajaran guru juga harus kaya pengalaman dengan beranekaragam metode pengajaran atau tehnik pengajaran. Guru berbicara harus mahir tentang seluk-beluk berbicara dan kaya pengalaman dengan teknik pengajaran berbicara. Beberapa metode pengajaran berbicara, adalah sebagai berikut: (1) ulang-ucap, (2) lihat-ucap, (3) memerikan, (4) menjawab pertanyaan, (5) bertanya, (6) pertanyaan menggali, (7) melanjutkan cerita, (8) menceritakan kembali, (9) percakapan, (10) paraphrase, (11) reka cerita gambar, (12) bercerita, (13) memberi petunjuk, (14) melaporkan, (15) bermain peran, (16) wawancara, (17) diskusi, (18) bertelepon, (19) dramatisasi (Tarigan, dkk, 1997: 155-179)
Keterampilan berbicara merupakan suatu keterampilan yang memerlukan banyak berlatih berbicara maka keterampilan itu akan semakin dikuasai. Saat ini para siswa dituntut memiliki keterampilan berbicara yang tinggi dalam proses pendidikannya. Mereka harus mengekspresikan pengetahuan yang mereka miliki secara lisan. Mereka pun harus terampil mengajukan pertanyaan untuk menggali dan mendapatkan informasi, baik dalam kegiatan seminar, diskusi, dan rapat-rapat lainnya. Di samping itu, mereka dituntut harus terampil adu argumentasi, terampil menjelaskan persoalan dan cara pemecahannya, terampil menarik simpati para pendengar, dan terampil dalam kemampuan berbicara lainnya.Untuk berbicara dengan baik diperlukan adanya keberanian, sikap tubuh, kesiapan mental dan penguasaan kosakata yang baik, yaitu meliputi artikulasi, tekanan, dan intonasi.
Teater merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas. Dalam teater terdapat tiga metode latihan yaitu: olah vokal, olah tubuh, dan olah rasa atau olah sukma, yang dalam pelaksanaannya ketiga bentuk latihan tersebut saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Latihan olah vokal atau latihan suara di dalam teater merupakan bentuk latihan mengucapkan suara secara jelas dan nyaring, atau dapat diartikan sebagai penjiwaan suara. Selain itu olah vokal juga merupakan salah satu teknik produksi suara yang berhubungan erat dengan pengolahan alat-alat produksi suara dan pembentukan suara yang mencakup pernapasan, fonasi, gema suara, resonansi, pengucapan (artikulasi), dan proyeksi. Olah tubuh atau latihan tubuh adalah latihan ekspresi secara fisik, yaitu berusaha agar fisik dapat bergerak luwes, disiplin, dan ekspresif. Olah rasa atau olah sukma (konsentrasi dan relaksasi) di dalam teater merupakan bentuk latihan yang diarahkan untuk melatih aktor dalam membenamkan dirinya sendiri ke dalam watak dan pribadi tokoh yang dibawakan. Jika pikirannya terganggu akan hal lain, maka dengan kekuatan konsentrasilah seorang aktor dapat kembali memusatkan diri kembali di dalam pentas.
Berdasarkan uraian di atas, metode-metode latihan dasar ekstrakurikuler teater merupakan kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan siswa, khususnya keterampilan berbicara. Hal tersebut terkait dengan bentuk latihan (olah vokal, olah tubuh, olah rasa atau olah sukma) di dalam teater, secara tidak langsung atau perlahan-lahan dapat meningkatkan penguasaan kosakata yang baik, yaitu meliputi artikulasi, tekanan, dan intonasi, keberanian, sikap tubuh, kesiapan mental siswa dalam berbicara di muka umum atau berdiskusi di depan kelas. Pemberian latihan dasar teater diharapkan dapat melatih keterampilan siswa, khususnya berbicara.


E. Kemampuan Menulis Naskah Drama
Dalam pengajaran menulis, guru dapat menggunakan teknik pengajaran menulis naskah drama. Teknik pengajaran tersebut berupa tugas kemampuan menulis naskah drama. Bentuk tugas kemampuan menulis meliputi: tugas menyusun alinea yang berupa tes objektif, menulis berdasarkan rangsang visual berupa gambar atau film, menulis berdasarkan rangsang suara langsung maupun dengan media lainnya, menulis dengan rangsang buku, menulis laporan, menulis surat, dan menulis berdasarkan tema (Burhan Nurgiyantoro, 2001:274-277). Ketika menulis sebuah naskah lakon harus memperhatikan kekuatan dialog karena dari dialog ini akan tergambar berbagai unsur-unsur yang dikehendaki oleh penulis. Apakah itu karakter tokoh, perkembangan cerita, perkembangan suasana dan lain-lain. Dari dialog ini akan dirasakan kedalaman naskah lakon dan berbagai informasi emosi yang terkandung di dalam naskah lakon. Kekuatan dialog itu akan tercermin dengan ketepatan pemilihan kata. Dari naskah lakon itu akan bisa dirasakan apakah naskah itu komunikatif atau tidak, menarik atau tidak, dan sebagainya.
Nano Riantiarno (2005) mengemukakan bahwa ada tiga syarat utama bagi para calon penulis naskah drama, yaitu:
1. Memiliki kebutuhan berekspresi melalui tulisan, menulis yang dirasa harus ditulis dan tak bosan belajar dan terus menulis.
2. Sifat moralitas penulisan, yang sering dianggap `kuno'.Naskah drama/opera/operet, selalu berhubungan erat dengan perilaku manusia dan sering disebut sebagai cermin kehidupan atau saripati kehidupan. Selalu ada hubungan sebab dan akibat. Bermula dari sebab, berujung pada akibat. Misal, ‘yang baik menerima ganjaran/ hadiah/anugerah’ ‘yang jahat menerima kutuk atau hukuman setimpal’.
3. Setelah tema dipatok lalu menuliskan sinopsis dan membuat sebuah struktur, kerangka, atau bagan dramatik yang paling sederhana.
a. Pembuka/Pengantar/Prolog (sebab)
b. Isi, pemaparan-konftik-klimaks-antiklimaks/resolusi (permasalahan)
c. Penutup/penyelesaian/epilog/solusi/keputusan (akibat)
Jabrohim, dkk. (2003: 122) mengemukakan bahwa penulisan teks drama merupakan suatu proses yang utuh, yang mempunyai keseluruhan. Ada berbagai aspek yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam menulis sebuah teks drama, yaitu: 1) penciptaan latar (creatting setting), 2) penciptaan tokoh yang hidup (freshing out character), 3) penciptaan konflik-konflik (working with konflik), 4) penulisan adegan. Dan uraiannya adalah sebagai berikut.
1. Penciptaan latar (creating setting)
Lingkungan fisik tempat penulis drama menempatkan aksi (action) para tokoh ciptaannya disebut setting. Biasanya para penulis drama yang sudah berpengalaman seringkali menggunakan suatu lingkungan yang aktual (nyata), yaitu dengan observasi sebagai dasar setting drama yang akan ditulis dengan memodifikasi hasil observasi agar menjadi setting yang paling baik untuk sebuah drama. Karena dengan observasi terhadap lingkungan yang aktual menyediakan begitu banyak detail yang bermanfaat untuk penulis drama sendiri, bahkan juga dapat menyuburkan imaji penulis, dalam arti bukan hanya diimpikan semata. Inspirasi untuk menyusun setting berada dalam drama itu sendiri, yaitu penulis dapat menemukan indikasi-indikasi setting dalam serangkaian dialog para tokoh, dalam konflik-konflik, dan elemen-elemen lain yang ada dalam drama itu sendiri.

2. Penciptaan tokoh yang hidup (freshing out character)
Deskripsi tokoh utama dalam drama biasanya ditulis seperti deskripsi setting. Penulis drama melukiskannya seringkas dan setepat mungkin. Informasi yang biasa termasuk di dalamnya, yaitu (1) Nama tokoh; (2) Usia tokoh; (3) Deskripsi tokoh secukupnya; (4) Hubungan tokoh utama dengan tokoh-tokoh lainnya. Para penulis drama mendasarkan karakter tokoh drama mereka pada orang-orang yang dikenal secara akrab. Mereka menggunakan orang-orang yang secara nyata ada di tengah-tengah masyarakat sebagai model yang mereka sediakan segi-segi permukaan karakter tokoh dan menggali wawasan kehidupan yang tidak hanya tersedia jika mereka hanya bergantung pada semata-mata pada imajinasi.

3. Penciptaan konflik-konflik (working with konflik)
Dalam konflik seorang tokoh menginginkan sesuatu, sedangkan tokoh yang lain berusaha mencegah keinginan itu. Definisi konflik adalah seorang tokoh ingin (mempunyai motivasi) mencapai tujuan (goal) tertentu, tetapi seorang (sesuatu) merintangi (mencegah) keberhasilan tokoh pertama tadi. Jika motivasi tokoh pertama tadi cukup kuat, maka tokoh itu berusaha kuat mengatasi rintangan-rintangan itu dengan taktik-taktik agar ia berhasil mencapai tujuannya.

4. Pengadeganan
Seorang penulis drama yang sudah berpengalaman sebelum menulis adegan lengkap dengan dialog, terlebih dahulu memetakan konflik berupa naratif yang belum ada dialognya. Adegan ditulis sebagai sebuah cerita. Dengan menghidupkan tokoh-tokoh terntu dengan mengembangkan karakternya dan menempatkan tokoh-tokoh pada setting kehidupan mereka serta menemukan situasi-situasi yang bisa menimbulkan konflik, kemudian dituangkan ke dalam skenario dasar berupa sebuah adegan pendek, maka penulisan sebuah drama sebagian sudah terselesaikan.
Jabrohim, dkk. menjelaskan tentang cara menulis teks drama dengan memperhatikan beberapa aspek yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam penulisan sebuah teks drama seperti: penciptaan latar (creating setting), penciptaan tokoh yang hidup (freshing out character), penciptaan konflik (working with konflik), dan penulisan adegan. Di dalam teori tersebut ada beberapa aspek yang menurut Jabrohim, sebelum seorang menulis memulai menciptakan sebuah teks drama telebih dahulu mengadakan observasi terhadap tempat yang akan dijadikan sebagai setting dalam drama tersebut agar dapat mengasilkan karya drama sesuai dengan situasi yang akan diceritakan. Begitu juga dengan krakter tokoh yang akan diciptakan, seorang penulis biasanya mengamati orang-orang sebagai model untuk memperoleh gambaran karakter seorang tokoh yang nyata dengan menggali wawasan dari masing-masing tokoh tersebut.
Dengan demikian, berdasarkan teori ini drama yang akan dihasilkan oleh seorang penulis dapat membangkitkan daya imaji pembaca seolah-olah pembaca dapat menikmati drama tersebut seperti berada di dalam kehidupan yang nyata atau dapat memberi kesan yang menarik dan menyenangkan bagi para pembaca, jadi teori ini lebih mengemukakan tentang cara atau penerapan dalam menulis sebuah teks drama dan teori ini dapat dijadikan sebagai landasan ketika akan menulis sebuah teks drama. Sedangkan kelemahan yang terdapat di dalam teori tersebut untuk dapat menciptakan sebuah teks drama, seorang penulis membutuhkan waktu yang cukup lama karena penulis harus benar-benar megamati beberapa aspek dasar secara langsung.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis drama merupakan kemampuan untuk mengungkapkan gagasan, pikiran, dan pengalaman-pengalaman kehidupan yang dapat melukiskan sifat dan sikap manusia dengan action dan perilaku yang ditulis dalam bentuk dialog dengan berdasarkan atas konflik yang tajam dan jelas sehingga pembaca dapat merasakan suasana dan peristiwa yang terdapat di dalam cerita drama tersebut.
Dalam pengajaran drama, selain siswa diberikan pengetahuan terhadap drama, melakukan produksi pementasan drama sendiri atau diajak langsung menyaksikan sebuah pementasan drama, siswa juga dituntut dapat mencipta atau menyusun sebuah naskah drama. Kegiatan ini tidak semudah menyusun sebuah cerita narasi. Siswa dituntut mengembangkan unsur lain yang menjadi kekuatan naskah sehingga menjadi lebih mantap dan hidup, baik dari segi aktualitas tema, alur, penggambaran tokoh maupun seting dan penyusunan dialog.
Pemilihan bahan naskah drama yang diajarkan harus memenuhi kriteria tertentu. Herman J. Waluyo (2002:199) mengemukakan pemilihan bahan naskah drama untuk diajarkan harus memenuhi kriteria sebagai berikut.
1. Sesuai dan menarik bagi tingkat kematangan jiwa murid.
2. Tingkat kesulitan bahasanya sesuai dengan tingkat kemampuan bahasa yang akan menggunakannya. Jika bahasanya terlalu sulit, maka apresiasi tidak mungkin akan dapat dibina.
3. Bahasanya sedapat mungkin menggunakan bahasa yang standard, kecuali jika cerita memang memasalahkan penggunaan dialek. Penggunaan dialek sedikit mungkin tidakklah begitu jelek, tetapi jika dapat dihindarkan sebaiknya dihindari.
4. Isinya tidak bertentangan dengan haluan Negara kita
5. Naskah hendaknya mempunyai cirri-ciri yaitu adanya masalah yang jelas, adanya tema yang jelas, adanya perwatakan peranan, adanya penggunakan kejutan yang tepat, bertolak dari gagasan murni penulis, dan menggunakan bahasa yang baik.

F. Kriteria Penilaian Menulis Naskah Drama
Aspek Kriteria
Dialog, Kreativitas dalam menyusun dan mengem-bangkan dialog
Tokoh/ Perwata-kan Ekspresi penokohan
dan kesesuaian karakter tokoh
Latar, Teks samping Nada dan suasana Kreativitas dalam menggambar-kan latar, teks samping, mengem-bangkan nada dan suasana
Alur atau jalan cerita Alur cerita, kronologi struktur dramatik
Amanat Penyampaian amanat

Sistem penilaian yang digunakan dalam pembelajaran menulis teks drama ini adalah penilaian proses dan hasil. Hal ini, diharapkan dapat menciptakan pembelajaran dengan hasil yang memuaskan atau berkualitas. Sesuai dengan pendapat Mulyasa (2002:102) yang menyatakan bahwa kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental atau sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan yang tinggi semangat yang besar, dan rasa percaya diri sendiri. Dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berhasil jika terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri pserta didik seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) lebih lanjut pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas jika masukan merata, menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, sesuai dengan kebutuhan/perkembangan masyarakat dan pembangunan. Penilaian proses dilakukan dengan menilai perilaku siswa pada saat pembelajaran berlangsung, yang dapat diambil melalui data observasi, jurnal, dan wawancara. Penilaian hasil dilakukan dengan menilai teks drama yang ditulis oleh siswa dengan menitikberatkan pada aspek tema, aspek setting atau latar, aspek konflik, aspek penokohan, dan aspek bahasa. Berikut ini adalah kriteria yang digunakan dalam penilain teks drama siswa.
1. Tema
Tema merupakan ide dasar yang melandasi pemaparan suatu cerita. Dalam hal ini, tema yang diangkat harus selaras dengan pengembangan dari berbagai pokok permasalahan yeng terdapat di dalam cerita tersebut.

2. Setting
Termasuk dalam setting atau latar adalah latar berupa peristiwa, benda, objek, suasana, maupun situasi tertentu. Untuk setting atau lattar kriteria penilaian menitikberatkan pada penggambaran setting secara ringkas, jelas, dan hidup. Karena setting dalam drama selain berfungsi untuk menghidupkan cerita, juga dimanfaatkan untuk menggambarkan gagasan tertentu secara tidak langsung.

3. Konflik
Dasar teks drama adalah konflik manusia yang digali dari kehidupan. Konflik manusia biasanya muncul akibat dari adanya pertentangan antara tokoh yang satu dengan yang lainnya. Untuk itu kriteria penilaian konflik menitikberatkan pada terciptanya konflik yang tajam dan jelas. Konflik dikatakan tajam dan jelas apabila konflik yang diciptakan semakin lama semakin meningkat sampai klimaks. Jadi di dalam cerita tersebut konflik diciptakan tahap demi tahap mulai dari tahap pengenalan kemudian muncul peristiwa awal, kemudian ditengah cerita terjadi kerumitan sampai klimaks. Dengan munculnya klimaks tersebut konflik yang terjadi akan mulai reda dengan adanya peleraian yang akhirnya sampai pada penyelesaian.

4. Penokohan atau perwatakan
Unsur utama dalam karya drama adalah pelaku yang berfungsi untuk (1) menggambarkan peristiwa melalui lakuan, dialog, dan monolog, (2) menampilkan gagasan penulis naskah secara tidak langsung, (3) membentuk rangkaian cerita sejalan dengan peristiwa yang ditampilkan, dan (4) menggambarkan tema yang dipaparkan penulis naskah melalui cerita yang ditampilkan. Fungsi tersebut dapat memberikan gambaran bahwa untuk memahami peristiwa, gagasan pengarang, rangkaian cerita, dan tema dalam suatu naskah drama, maupun karya pementas drama terlebih dahulu memahami lakuan, dialog, pikiran, suasana batin, dan hal lain yang berhubungan dengan pelaku.
Berdasarkan fungsi tersebut kriteria penilaian untuk penokohan atau perwatakan difokuskan pada karakter tokoh yang digambarkan secara jelas agar pelaku yang ditampilkan dapat memberikan efek yang nyata dan menarik. Penggambaran pelaku dapat dilakukan melalui penggambaran pikiran, sikap, suasana batin, perilaku, cara berhubungan dengan orang lain, dialog, monolog, komentar atau penjelasan langsung dengan bahasa yang sesuai dengan karakter masing-masing tokoh.

5. Bahasa
Dalam karya drama, penggunaan gaya bahasa berfungsi untuk (1) memaparkan gagasan secara lebih hidup dan menarik, (2) menggambarkan suasana lebih hidup dan menarik, (3) untuk menekankan suatu gagasan, (4) untuk menyampaikan gagasan secara tidak langsung. Oleh karena itu, kriteria penilaian untuk penggunaan gaya bahasa menitikberatkan pada pengguaan gaya bahasa yang dapat menggambarkan setiap karakter tokoh yang berbeda.
Kegiatan menulis pada hakikatnya merupakan kegiatan kreatif dan produktif. Guru mengupayakan model pembelajaran menulis yang menarik, hidup, dan kreatif sehingga siswa mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam berbagai ragam tulisan. Guru berperan sebagai motivator sekaligus fasilitator yang mengelola kelas menjadi “lebih hidup” dan siswa menjadi lebih aktif. Salah satu cara membuat kelas lebih hidup dan siswa lebih aktif untuk menulis kreatif dilakukan dengan memberikan tema-tema yang bersifat umum agar dapat dikembangkan sendiri oleh para siswa, berdasarkan pengamatan dan pengalaman mereka. Tema yang diberikan dapat diambil dari karya-karya sastra yang pernah dibaca oleh siswa atau dapat diambil dari berbagai masalah kehidupan yang pernah dialaminya.
Tiap bagian naskah drama memberikan saham penting untuk menggerakkan cerita, mengungkapkan watak tokoh, dan melukiskan suasana. Hal-hal berikut dapat dijadikan pengarah bagi siswa agar mau dan mampu menulis naskah drama.
Pertama, siswa diarahkan untuk dapat menemukan ide cerita dan merumuskannya menjadi sebuah tema. Ide cerita dapat diperoleh dari pengalaman dan kehidupan para siswa sendiri. Untuk memperoleh ide cerita diperlukan pengetahuan yang cukup tentang kehidupan dan ketajaman observasi.
Kedua, membuat garis besar atau outline dari jalan cerita. Dalam outline tersebut terdapat bagian awal, tengah, dan akhir cerita. Outline berfungsi untuk menyusuri jalan cerita, sehingga tidak banyak yang menyimpang.
Ketiga, setelah garis besar dibuat, biarkan siswa bermain dengan imajinasinya untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya (Suwandi, 2005). Siswa menentukan siapa tokoh utamanya, apa masalahnya, siapa antagonisnya, bagaimana latar belakang ceritanya, watak tokoh-tokoh, plot, klimaks, sudut pandang yang dipakai, cerita berawal, dan cerita ditutup.
Pada periode ini, diperlukan kemampuan berpikir yang penuh konsentrasi, logika yang tajam, dan nalar yang kritis. Jika sudah mampu dikuasai siswa, siswa tersebut memiliki potensi besar untuk berkreasi secara produktif guna mencipta sebuah naskah drama. Untuk penulisan naskah drama, siswa diberikan kesempatan untuk menciptakan kondisi ideal untuk dapat menghasilkan karya terbaiknya.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian
Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan studi kasus. Hal ini dimaksudkan agar peneliti dapat mendeskripsikan secara jelas dan rinci serta serta mendapatan data yang mendalam tentang penanaman disiplin dalam mentaati peraturan dan tata tertib pada siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta. Kualitatif dianggap sesuai untuk mengkaji permasalahan dalam penelitian ini.
Menurut Creswell (Hamid Patilima, 2005:3) mendefinisikan pendekatan kualitatif sebuah proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial atau masalah manusia, berdasarkan penciptakan gambar yang dibentuk oleh kata-kata, melaporkan pandangan informan secara terperinci, dan disusun dalam sebuah latar ilmiah. Penelitian ini menggunakan studi kasus, inti studi kasus yaitu kecendrungan utama diatara semua ragam studi kasus adalah bahwa studi ini berusaha untuk menyoroti suatu keputusan atau seperangkat keputusan: Mengapa keputusan itu diambil, Bagaimana diterapkan dan Apakah hasilnya?
Scarman (dalam Yin, dalam Agus Salim 200:93). Inti penelitian ini yaitu menyoroti suatu keputusan: Mengapa penanaman disiplin itu itu diambil; Bagaimana penanaman disiplin dilaksanakan; Apakah hasil dari pelaksanakan penanaman disiplin di Pondok Pesantren Darul Fallah III. Penelitian ini bersifat deskrptif, mementingkan proses dari pada hasil, adanya “batas” yang ditentukan oleh fokus, adanya kriteria khusus untuk keabsahan data, dasain yang bersifat sementara, hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama.

B. Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini yaitu pada siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta. Alasan peneliti mengambil lokasi penelitian tersebut karena di kenal dengan pembelajaran yang baik dan berkualitas dan juga adanya kedisiplinannya tinggi.

C. Subyek Penelitian
Subjek penelitian merupakan keseluruhan badan atau elemen yang akan diteliti. Adapun yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru. Keseluruhan siswa yang ada di SMAN 8 Yogyakarta yaitu 180 siswa. Peserta didik di Darul Falah ini ber pembelajaran terakhir yang rata-rata aliyah / SMA atau Sanawiyah/ SMP dan ada juga belum lulus sekolah dasar dari kecil di pondokkan orang tuanya, ada yang masih sekolah dan kuliah. Pengambilan subjek ini dimaksudkan agar peneliti mendapatkan data yang bervariasi karena dengan latar pembelajaran terakhir yang berbeda, tapi didalam penelitian ini peneliti tidak membedakan status pembelajaran.
Pemilihan subyek penelitian di laksanakan pada tujuan penelitian, dengan harapan dapat memperoleh informasi secara lengkap dan rinci, dengan demikian peneliti mengobservasi terlebih dahulu situasi lokasi penelitian. Adapun yang di lakukan adalah mengumpulkan data melalui wawancara mendalam terhadap subyek penelitian dan dokumentasi. Subyek penelitian yang lain adalah 5 orang untuk siswa.

D. Fokus Penelitian
Fokus dalam penelitian ini pada dasarnya adalah masalah yang bersumber pada peneliti atau melalui pengetahuan yang diperolehnya melalui keputusan lainnya (Moleong, 2000: 65). Rumusan masalah atau focus dalam penelitian kualitatif bersifat tentative artinya penyempurnakan focus atau masalah tetap dilakukan sewaktu penelitian sudah berada di latar penelitian.
Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan penelitian pada:
1. Sistem pembelajaran Pesantren di Darul Falah III Desa Kauman Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus.
2. Pelaksanakan penanaman disiplin lingkungan di Pondok Pesantren Putri Darul Falah III Desa Kauman Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus.



E. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi.
1. Metode Wawancara
Wawancara merupakan salah satu tehnik pengumpulan data, dimana terjadi komunikasi secara verbal antara pewawancara dengan subjek wawancara. Menurut Moleong (2000:135), wawancara ialah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan itu di lakukan oleh dua pihak atau lebih secara langsung. Dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara, karena dengan metode ini penelti dapat menggali informasi langsung secara mendalam dari subyek tentang bagaimana pembelajaran pesantren di Darul Falah dan pelaksanakan penanaman
disiplin dalam tata tertib di Pondok Pesantren Putri Darul Falah III.

2. Metode Observasi Partisipan
Observasi partisipan adalah suatu bentuk observasi khusus dimana peneliti tidak hanya menjadi pengamat yang pasif, melainkan juga mengambil berbagai peran dalam situasi tertentu dan berpartisipasi dalam peristiwa-peristiwa yang akan di teliti (Robert K. Yin, 2004:114). Tujuan penggunakan teknik ini adalah memperoleh data tentang perilaku seseorang sebagaimana perilaku itu terjadi dalam kenyatakan sebenarnya dan mendeskripsikan kehidupan sosial yang sebenarnya.

3. Metode Dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian. Dalam penelitian ini dokumentasi dimaksudkan untuk melengkapi data hasil wawancara dan observasi. Dokumen digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber observasi. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber non insani, dimana sumber ini terdiri dari rekamana dan dokumen. Ada beberapa alasan penggunakan dokumentasi sebagaimana dikemukakan oleh lincoln (Moleong, 2000: 161) antara lain:
a. Dokumentasi dan record digunakan karena merupakan sumber yang stabil, kaya dan mendorong.
b. Berguna sebagai bukti untuk sustu pengujian
c. Sesuai dengan penelitian kualitatif karena siatnya alamiah dan sesuai dengan konteks.
d. Relatif murah dan tidak sukar diperoleh
e. Tidak reaktif sehingga tidak ditemukan dengan teknik kajian isi.
f. Membuka kesempatan untuk lebih memperluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.
Alasan peneliti menggunakan metode dokumen yaitu untuk memperkuat data-data yang sudah ada yang didapat peneliti dengan menggunakan metode observasi dan wawancara.
Langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam penggunakan metode dalam penelitian ini, yaitu: pertama peneliti melakukan survei mengenai lokasi penelitian dan ijin untuk melakukan observasi penelitian.

F. Keabsahan Data
Pada penelitian ini untuk menjamin validitas dan data temuan yang diperoleh, peneliti melakukan beberapa upaya disamping menanyakan langsung kepada subyek, peneliti juga berupaya mencari jawaban dari sumber lain, yaitu guru, karyawan, dan kepala sekolah. Keabsahan data dilakukan untuk meneliti kreadibilitasnya menggunakan teknik Triangulasi adalah teknik pemeriksa keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecakan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2000: 178). Denzin (dalam Moleong, 2000:178) membedakan dalam 4 (empat) Triangulasi, yaitu:
1. Triangulasi sumber, berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayakan suatu informasi yang dieroleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal ini dapat di capai dengan jalan:
a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
b. Membandingkan apa yang diketahuinya
c. Membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.
d. Membandingkan keadakan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang
e. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
2. Triangulasi metode, menurut Patton (dalam Moleong, 2000: 178) terdapat 2 (dua) strategi, yaitu:
a. Pengecekan derajat kepercayakan penemuan hasil penelitian dengan beberapa teknik pengumpulan.
b. Pengecekan derajat kepercayakan beberapa sumber data dengan metode yang sama
3. Triangulasi peneliti ialah dengan jalan memanfaatkan peneliti untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaakan data. Memanfaatan penamatan lainnya ialah dapat membantu mengurangi ”kemencengan” data.
4. Triangulasi teori adalah membandingkan teori yang ditemukan berdasarkan kajian lapangan dengan teori-teori yang telah ditemukan oleh pakar ilmu sosial sebagai mana yang telah diuraikan dalam bab landasan teori yang ditemukan.
Untuk membuktikan keabsahan data dalam penelitian ini peneliti hanya menggunakan triangulasi sumber. Keabsahan data dilakukan dengan cara mebandingkan antara jawaban dari pertanyaakan-pertanyakan yang diajukan kepada siswa, guru, kepala sekolah.

G. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan proses mencari dan mengatur secara sistematik transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan yang telah dihimpun untuk menambah pemahaman untuk dilaporkan (Bogdan dan Biklen,1982). Dalam penelitian, analisis data penelitian mempunyai kedudukan yang sangat penting. Metode analisis data menurut Patton adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, katagori dan satuan uraian dasar (Moleong, 2002:103). Analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber dari wawancara, hasil observasi dan sebagainya (Moleong, 2002:190). Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menganalisis dalam penelitian kualitatif yaitu (1). Analisis data lapangan. (2). Analisis data setelah pengumpulan data selesai. Cara yang pertama dilakukan pada waktu kegiatan pengumpulan data di lapangan sedang berlangsung, cara ini dilakukan berulang-ulang dan hasilnya harus diuji kembali, sedangkan cara kedua dilakukan setelah proses pengumpulan data. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan cara yang kedua dengan alasan bahwa analisisnya akan lebih lengkap. Hal ini dikarenakan data yang diperoleh di lapangan sudah lengkap, dengan demikian tidak perlu diulang-ulang. Agar hasil penelitian dapat terwujud sesuai dengan tujuan yang diharapkan, maka dalam menganalisis data penelitian menggunakan analisa model interaktif Milles dan Huberman. Kegiatan pokok analisa ini meliputi; pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles dan Huberman, 2000:20). Adapun rincian model tersebut dapat
diuraikan sebagai berikut.
1. Pengumpulan Data
Peneliti melakukan pengumpulan data di lapangan yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan. Dalam melakukan pengumpulan data harus dengan cermat dan teliti agar mendapatkan data yang valid dan reliabel sesuai dengan yang kita butuhkan. Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi.
2. Reduksi Data
Data-data penelitian yang telah dikumpulkan selanjutnya direduksi. Reduksi data merupakan proses pemilihan data, pemusatan pada penyederhanakan data, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan (Milles, 1992:16). Dengan analisis ini memudahkan peneliti dalam menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak perlu dan mengorganisasikan data. Dengan cara seperti ini maka kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat diverifikasi. Dalam reduksi data ini peneliti memanfaatkan catatan lapangan untuk mempermudah data mana yang diperlukan dan data mana yang harus dibuang sehingga menghasilkan kesimpulan final.
3. Penyajian Data
Setelah data direduksi, langkah selanjutnya yaitu diadakan penyajian data. Penyajian data sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan (Miles, 1992:17). Data yang disajikan dalam penelitian ini antara lain berkenakan dengan; sistem pembelajaran di pondok pesantren Darul Fallah, pelaksanakan penanaman disiplin di pondok pesantren Darul Fallah. Dengan melihat data-data tersebut kita akan dapat mengerti sekaligus memahami bagaimana penanaman disiplin dalam mentaati peraturan dan tata tertib di pondok pesantren Darul Fallah.
4. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi
Data-data hasil penelitian setelah direduksi, disajikan langkah yang terakhir yaitu penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil dari data-data yang telah didapatkan dari laporan penelitian selanjutnya digabungkan dan disimpulkan serta diuji kebenarannya. Penarikan kesimpulan merupakan bagian dari suatu kegiatan, sehingga kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Penarikan kesimpulan hanyalah sebagai suatu bagian konfigurasi yang utuh (Miles, 1992:17). Dalam penarikan kesimpulan ini peneliti menggunakan dasar kecermatan dalam penggunakan setiap data.
Dalam hal ini peneliti meninjau kembali hasil penelitian dengan catatan lapangan selama penelitian apakah sudah sesuai atau belum kemudian menarik kesimpulan dari setiap item tersebut. Berdasarkan uraian di atas maka pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi sebagai suatu yang saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Kegiatan pengumpulan data itu sendiri merupakan proses siklus dan interaktif. Peneliti harus siap bergerak diantara empat sumbu kumparan itu selama pengumpulan data, selanjutnya bergerak bolak-balik di antara kegiatan reduksi penyajian dan penarikan kesimpulan selama sisa waktu penelitian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar